Saya dan Pacar Saya Beda Agama

Dokter Valens, Yth,

SALAM
kenal, nama saya Deasy, gadis belum menikah dengan latar belakang pendidikan diploma, sudah bekerja sebagai pegawai swasta. Saya bersyukur karena dengan bekerja saya bisa membiayai hidup saya dan membantu orang tua. Oh ya, untuk diketahui Pak Dokter, umur saya sekarang 24 tahun. Saya dari keluarga yang taat beragama, kami sekeluarga beragama Protestan.

Selama perjalanan hidup saya, sudah beberapa kali pernah saya rasakan pacaran putus sambung dan putus ganti. Kadang pahit dan getir terasa, namun ada kalanya juga melegakan lantaran bisa bebas dari tekanan cowok.

Itulah riwayat cinta saya terdahulu. Saat ini sudah dua tahun lamanya menjalin cinta dengan Karlo. Pemuda ganteng berusia 28 tahun, pegawai swasta juga, yang menurut saya sangat cocok untuk dijadikan temah hidup. Karlo baik hati, baik budi pekertinya, baik penghasilannya dan baik masa depannya deh dan cowok yang baik ini adalah pacarku. Hebatkan Dok? Tapi itu bukan berarti kami tidak punya masalah.

Justru masalah kami berat nih. Persoalannya kami beda agama. Karlo itu berasal dari keluarga Katolik yang taat dan fanatik. Karlo tak mungkin lepas agamanya untuk ikut saya dan dari saya juga orang tua tidak mau kalau saya mesti pindah ke Katolik. Itulah sebabnya kenapa sudah dua tahun kami pacaran, tapi belum ada titik terang untuk menikah. Apa yang harus saya lakukan dokter? Kami terpaksa harus pisahkah? Atau lanjut, sampai kapan? Dan bagaimana caranya supaya kami bisa akhirnya menikah? Dokter bisa bantu kami kah? Mohon dijawab di Pos Kupang edisi Minggu ya. Saya ingin kami dua membacanya bersama. Terima kasih dokter.
Salam, Deasy-Belu.

Saudari Deasy yang baik,
SALAM kenal juga. Terima kasih bila Anda selalu membaca Pos Kupang edisi Minggu dan khususnya rubrik Jendela Hati. Beberapa surat senada pernah saya terima, namun belum setajam surat Anda, sehingga jawaban saya kali ini mudah-mudahan dapat menjadi informasi bagi pembaca lain yang memiliki persoalan yang kurang lebih sama.

Idealnya, ketika dua orang muda sedang berpacaran dan serius ingin membangun suatu rumah tangga, maka mereka berdua harus punya cita-cita yang sama tentang keluarga macam apa yang ingin mereka bentuk. Hal ini sangat penting sebagai
The way of life' dan 'the way of hope' dari semua tindakan mereka berdua.

Untuk itu, hal pertama yang saya anjurkan adalah manakala kalian berdua dalam suasana santai bersama ambilah masing-masing satu buku dan masing-masing menulis daftar detail keinginan-keinginan Anda, sebanyak mungkin sesuai keinginan bebas Anda. Kemudian Anda duduk bersama dan menghitung berapa banyak keinginan Anda berdua yang sama dan yang tidak sama.

Bila ternyata sebagian besarnya sama, ada harapan kalian berdua bisa sinergi dan harmonis dalam melangkah. Apabila sebagian sudah sinergi dan yang berbeda paling kurang hanya perbedaan agama saja, di sana juga masih ada harapan untuk berhasil. Albert Einstein, fisikawan Yahudi mengatakan,"Do not solve the present problems with yesterday logic' (Jangan Menyelesaikan Masalah Hari Ini dengan Logika Kemarin). Selanjutnya saya berasumsi bahwa kalian sudah sangat cocok dan satu-satunya kendala adalah beda agama (Protestan dan Katolik). Saya punya pengalaman, pada suatu kesempatan di Atambua, Uskup Emiritus Mgr.

Anton Pain Ratu, SVD, pernah menyinggung kalau perkawinan antara seorang Protestan dan seorang yang Katolik, bukanlah perkawinan beda agama, tetapi itu perkawinan beda gereja. Pernyataan ini semestinya mampu melunakkan suasana hati Anda yang tidak terkompromikan sebelumnya.

Dengan pernyataan ini pula Anda tak perlu memperbesar perbedaan yang sebenarnya kecil saja.
Saudari Deasy,

Seorang penulis bernama Les Parrot, Ph.D, dalam bukunya 'High- Maintenance Relationship' menulis tentang orang-orang yang berpikir optimis dalam memandang sebuah kue donat. Dia mengatakan bahwa orang yang optimis melihat donatnya, sedangkan yang pesimis melihat lubangnya.

Saya tidak ingin menyuruh Anda melihat lubang donat sebagai suatu 'gap' yang mengosongkan hubungan Anda dengan Karlo. Lihatlah lingkaran donatnya sebagai suatu yang utuh dan 'unending' sebagai gambaran cinta Anda yang mengikat hati Anda berdua. Tentang bagaimana menghadapi orang tua dan keluarga yang 'tetap bertahan', anjuran saya adalah tunjukanlah hasil (output), bukanlah sodoran bahan mentah (input).

Perlihatkanlah, yakinlah mereka bahwa kalian berdua sangat bahagia kalau bersama. Hasil optimal dari cinta adalah kebahagiaan. Siapakah orang tua di dunia ini yang tak ingin anaknya bahagia? Demikianlah jawaban saya, semoga Anda lebih berani melangkah.
Dokter Valens Sili Tupen, MKM.


Pos Kupang Minggu 7 Desember 2008, halaman 13

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda