POS KUPANG/APOLONIA MATILDE DHIU
Yosua Anarato dan istrinya ketika foto bersama di kediaman mereka

Sukses Berawal dari Keluarga

SEGALA sesuatu yang dilakukan di luar rumah, baik di kantor maupun di masyarakat berhasil dan sukses berawal dari dalam keluarga. Bagaimana bisa memberikan contoh yang baik kepada masyarakat atau lingkungan sekitar, jika tidak didukung dengan situasi kondusif dari dalam rumah?

Demikian pandangan hidup pasangan Yosua B Anarato dan Maria Bernadeta Anarato-Afoan. Pasangan yang menikah tiga belas tahun silam ini mengatakan, segala sesuatu bisa berhasil jika didukung penuh oleh keluarga dalam hal ini suami, istri dan anak. Bagi pasangan ini, komunikasi yang baik antaranggota keluarga membawa mereka sukses di luar rumah.

Kepada Pos Kupang di kediaman mereka di Kelurahan Sikumana, Kupang belum lama, Yosua yang bekerja sebagai asisten teknik pada satuan kerja (Satker) pembangunan jalan dan jembatan Dinas Permukiman Sarana dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Propinsi NTT ini mengisahkan tentang tips-tips agar bisa membina rumah tangga yang baik dan bisa mendidik anak-anak menjadi berhasil di masa depan. Istrinya adalah ibu rumah tangga, namun aktif di berbagai organisasi gereja dan sosial kemasyarakatan.


Pasangan ini memiliki empat orang anak. Putri sulung bernama Sanca E Kristin Anarato, kini siswi SMA Katolik Giovani Kupang. Anak kedua, Sania Carolina Anarato, saat ini duduk di bangku kelas III, SMP Katolik Sta. Theresia Kupang. Ketiga, Sandi Juan Anarato, saat ini duduk di bangku SD Don Bosco I Kupang, dan si bungsu, Santika Anarato, masih berusia tiga tahun.

Alumnus Akademi Teknik Kupang (ATK) dan S1 di Institut Teknologi Surabaya tahun 2002 ini mengatakan, latar belakang sebagai seorang pegawai negeri yang bekerja di Kimpraswil memang sangat sibuk. Mengurus jalan dan jembatan, apalagi pada musim hujan dan bencana, memang sangat menyita waktu di lapangan. Mau tidak mau ia harus meninggalkan istri dan anak-anak dalam waktu yang lama. Namun, di sela-sela kesibukan seperti itu, dia selalu menyempatkan waktu untuk berkomunikasi dengan anak dan istrinya walau hanya menanyakan sudah makan atau sudah tidur.

Menurutnya, situasi dan kondisi yang diciptakan oleh orangtua di dalam rumah dinilai bisa membantu anak-anak sukses di luar. "Kami selalu berdiskusi dan menciptakan suasana penuh keakraban dan kehangatan antara orangtua dan anak. Misalnya, setelah istirahat siang, anak-anak mulai belajar sekitar satu setengah jam. Kemudian makan malam. Sebelum tidur malam biasanya kami berkesempatan duduk-duduk sambil nonton berdiskusi tentang apa saja. Ini yang membuat kami saling membuka wawasan, kecuali anak yang paling kecil belum bisa apa-apa," kata Yosua dan dibenarkan istrinya.



Menurutnya, kesuksesan anak-anak dan dirinya juga tidak terlepas dari kepiawaian istrinya mengatur rumah tangga dan mengurus anak-anaknya. "Mamanya yang paling berperan banyak dalam mendidik dan membesarkan anak-anak. Namun demikian bukan berarti tugas tersebut diserahkan sepenuhnya kepada istri. Kami sama-sama membentuk anak-anak agar kelak menjadi anak yang baik dan memiliki masa depan yang baik," katanya.

Kedua anaknya yang sudah memasuki masa remaja tidak membuatnya khawatir karena telah dasar yang ditanamkan. Bagi keduanya, pendidikan iman sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosional anak. Makanya, kedua anaknya selalu disibukkan dengan berbagai kegiatan sekolah minggu atau kegiatan pemuda di gereja, di samping belajar.

Selain itu, keduanya juga selalu mengontrol anak-anak di mana pun berada. Kalau pulang ke rumah keduanya pasti menanyakan belajar apa di sekolah dan bagaimana keadaaan di sekolah. Hal ini dilakukan agar keduanya selalu mengetahui perkembangan anak-anaknya. Selain itu, keduanya juga selalu memberikan nasihat agar anak-anaknya selalu berhati-hati dalam pergaulan.

Keduanya juga mengajarkan anak-anaknya untuk takut akan Tuhan. "Percuma mereka hanya takut orangtua tetapi tidak takut pada Tuhan. Makanya kami melibatkan anak-anak dengan berbagai kegiatan di gereja sehingga meminimalisir anak untuk melakukan kegiatan yang negatif di luar rumah. Saya rasa dengan dasar yang kuat anak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik," kata keduanya.

Dikatakannya, keduanya selalu memberikan kebebasan kepada anaknya untuk memilih dan membuat keputusan yang terbaik. Jika kebebasan anak dikekang, anak akan semakin mencoba dan kalau sudah coba-coba pasti hasilnya akan fatal. Sebagai orangtua, keduanya hanya bisa mengarahkan, sehingga tidak keluar dari tujuan sebenarnya. "Kami berusaha memberi pengertian agar anak tidak merasa kebebasannya dikekang," kata keduanya.

Dalam hal pendidikan, selain belajar di sekolah, keduanya juga memberikan les tambahan kepada anak di rumah dengan mendatangkan guru privat untuk mata pelajaran IPA, Matematika dan bahasa Inggris. (nia)


Pos Kupang Minggu 14 Desember 2008, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda