Mengapa Detikcom Unggul?

Mengapa detikcom Mengalahkan Kompas dan Okezone
Diskusi menarik tentang detikcom. Apa keunggulannya, mengapa ia tetap eksis. Tidak sedikit yang mencela (soal teknologinya, desainnya, iklannya yang mengganggu, archivenya yang katanya tak bisa diakses setelah dua pekan).Di balik seluruh kelemahannya, kompas.com dan lainnya dianggap belum bisa mengikuti detikcom.
Simak saja:
http://www.virtual.co.id/blog/index.php?p=320#comment-77705


Mengapa Tidak Ada Media Online yang Mengalahkan Detikcom?
Itulah pertanyaan yang dilontarkan Okto Silaban tiga hari lalu di blog-nya. Mahasiswa yang baru saja selesai KKN (Kuliah Kerja Nyata) itu melihatnya dari sisi iklan saja. Saya justru tertarik memperdalam pertanyaan itu di sini. Mengapa tidak (belum) ada media online (baik yang murni maupun yang datang dari media tradisional) yang mampu menyaingi Detikcom?
Koran Kompas yang begitu hebat brand awareness-nya di cetak, ketika masuk ke online melalui Kompas.com/Kompas.co.id, tak mampu menyaingi Detikcom. Baik dari sisi trafik maupun income, saat ini Kompas.com masih kalah jauh dibanding Detikcom. Apa kurangnya Kompas? Nama besar, ia punya. Reporter dan tim redaksi yang handal, mereka ada. Manajemen yang tangguh, mereka pasti punya. Bahkan uang untuk investasi pun mestinya jauh berlimpah ketimbang Detikcom. Lantas, mengapa hingga kini pun mereka tidak mampu mendekati, apalagi menyaingi Detikcom?
Dulu, di awal tahun 2.000 sempat ada persaingan yang menarik antara pendatang baru, Astaga.com dengan Detikcom. Sayangnya, badai bisnis dotcom internasional ikut menghanyutkan Astaga.com yang saat itu didanai investor dari luar.
Kini, Okezone yang dilahirkan oleh grup MNC — pemilik RCTI, TPI dan koran Sindo — ikut meramaikan bisnis berita online. Beberapa media online murni kini juga mulai bermunculan. Namun tampaknya, Detikcom masih saja tidak goyah.
Mengapa fenomena ini terjadi?
Sampai kapan Detikcom tak tertandingi?
DIPOSTING OLEH Nukman Luthfie PADA 11.26.07 8:25 pm
73 Responses to “Mengapa Tidak Ada Media Online yang Mengalahkan Detikcom?”
galih Says: November 26th, 2007 at 9:00 pm Mungkin sampai ada media yang menawarkan fasilitas RSS Feed. Hal yang paling menjengkelkan dari situs berita online lokal adalah resistansinya terhadap fasilitas ini. Saya sendiri harus “mencuri” agar tetap bisa menikmati detikcom dari rss reader.

ang Says: November 26th, 2007 at 9:14 pm pertanyaan menarik. saya sendiri masih beranggapan bahwa dana terbanyak lebih berasal dari corebusiness agrakom daripada detikcom-nya. sama halnya dengan tidak semua media di gramedia menguntungkan.
Indra Says: November 26th, 2007 at 9:24 pm Sampai kapan detik.com tak tertandingi? Sampai munculnya milidetik.com
Berita baru setiap detiknya. Siapa nolak? Saat ini baru de***.com yang mampu memberikannya plus namanya pas banget dengan selling proposition (maaf nggak tahu bahasa Indonesianya yang pas) yang dibangun. Andai saja ada yang mampu memberikan berita terbaru setiap milidetiknya….pasti deh orang berbondong pindah.
Jujur saja saya paling ogah nengok de***.com Boleh dibilang kalau bener-bener ada berita paling hot yang saya sangat ingin ketahui. Bukan sok anti. Saya takut sakit mata gara-gara lihat warna-warni penuh kelap-kelip flash yang menaburi setiap halamannya.

Sunaryo Kusumo Says: November 26th, 2007 at 9:58 pm Untuk skala nasional, media berita online memang tidak dapat dipungkiri telah dikuasai oleh detik.com. Oleh karena itu, kita bisa mulai menguasai pangsa pasar media online lokal saja yang masih lowong dan terbuka lebar dengan segala fasilitas yang lengkap dan bermanfaat bagi pembacanya.
Lalu bentuk juga sebuah komunitas pembaca lokal yang setia mengikuti media lokal tersebut. Bisa lewat mailing list, member card, gathering, friendster dan sebagainya. Trafiknya memang tidak akan bisa menyamai detik.com, tetapi untuk media lokal, sudah cukup apabila dia memiliki banyak pengunjung yang loyal dan beritanya dirujuk oleh media nasional, radio, tv, dsb.
ndoro kakung Says: November 26th, 2007 at 10:25 pm sebagai mantan “orang detik”, kenapa sampean ndak memberi jawaban itu? atau untuk posting berikutnya?

Surya Says: November 26th, 2007 at 11:08 pm Hmm,hanya ada 2 cara mengalahkan sang pelopor.Pertama, kesalahan dari pihak si pelopor sendiri yang tidak merawat apa yang sudah mereka miliki; situs, komunitas, pengguna situs, dan teknologi.Kedua, ada pemain yang mengejar ketertinggalan mereka dengan kecepatan sangat tinggi dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar saat itu.Gitu sih klo nurut aku

Pogung177 Says: November 26th, 2007 at 11:54 pm #5…. HooH harus nya lebih tahu, lah mantan Marketingnya.. ujung tombak duit Detik masuk !
bangsari Says: November 27th, 2007 at 12:27 am mungkin mas kw punya jawabannya pak…
hyde Says: November 27th, 2007 at 2:05 am wah materi yang menarik untuk dibahas… terus terang saya sebenarnya juga bukan pengunjung setia detik.com. tapi memang detik saya lihat masih menjadi yang nomer 1 di indo. sebabnya mungkin saya kira adalah sbb:
1. nama detik sudah “mendarah daging”2. fitur iklan yang tidak mengganggu pembaca.3. dan tentu saja berita yang selalu update.
tapi coba klo ada pesaing yang membuat berita ataupun situs berita mereka mirip dengan www.cnn.com atau wired.com ataupun juga www.techcrunch.com mungkin bisa menjadi pesaing besar detik. intinya sih klo saya liat di detik, beritanya masih kurang berbau “multimedia ( rss, podcast, dsb )” bandwith jangan dikuatirkan … sudah broadband world gitu lho…
Dongeng Geologi Says: November 27th, 2007 at 2:49 am kayaknya dah terlanjur sihaku sndiri ndak suka dengan tampilannya yg culun, dan bikin pusing
catur pw Says: November 27th, 2007 at 3:00 am #5 & #7 sabaar sabaar… bentar lagi dipaparkan jawabannya dari sesepuh detik.com
#9 Justru menurut saya, iklan detik.com sudah sangat mengganggu pembaca , designnya ‘audubillah deh. Tapi justru itulah uniknya detik.com , dibenci tapi sekaligus dikangenin juga.
Detik.com sulit disaingi, karena dia setia dengan komitmennya untuk menyajikan berita terupdate terkini ter-detik sekarang. gaya beritanya pun unik dan mudah dipahami pembacanya.
Selama ini media online yg berupaya menyaingi detik.com masih “Me Too”, dan terkesan meniru detik.com (mungkin karena saking kuatnya brand detik.com itu sendiri),jadi selama belum ada suatu media online lainnya yg dengan ciri khasnya sendiri, yg setia mengabdikan komitmennya utk menyajikan berita akuran tajam terpercaya dan terkini sekelas detik.com saya rasa detik.com tidak akan bisa disaingi oleh media berita online lainnya.
Mungkin kalo ada media berita online kayak “Lampu merah Online” bakalan menarik dan dia bakal punya penggemarnya sendiri hehe..

Rama - Think.Web Says: November 27th, 2007 at 4:38 am Kalau menurut saya sih hanya masalah waktu. Masa-masa ini adalah masa dimana Detik.com dapat memanen jerih payahnya atas bertahan dari terpaan jatuh nya bisnis dotcom beberapa tahun lalu.
Saya ingat sekali Detik.com menjadi benar-benar booming adalah disaat untuk pertama kalinya Jakarta banjir besar. Semua orang stuck di kantor karena kebanjiran atau menunggu macet, dan akhirnya lihat2 detik untuk update situasi terkini. Karena disini yang bisa lihat foto keadaan terbaru dalam hitungan detik.Saat itu, orang yang awam dengan dunia internet pun jadi ikutan masuk. Ini salah satu modal Detik.com karena menjadi first experience nya beberapa orang.
Kembali ke pernyataan awal, Tinggal tunggu waktu, ini maksudnya tunggu waktu netters sudah bisa memilah mana website yang dia butuhkan. Kalau sudah ada beberapa pilihan dengan content yang sama update nya kan tinggal hal2 diluar content yang berpengaruh. Kenyamanan dibaca, feature tambahan yang dibutuhkan, dan lainnya.Atau tunggu waktu juga Detik.com mengeluarkan hal-hal baru untuk tetap mempertahankan user nya.
Tapi tetep aja, kalo menurut Alexa.com Kaskus lebih tinggi dari Detik. Mungkin emang orang lebih doyan nge-gosip dari pada baca fakta

Nukman Luthfie Says: November 27th, 2007 at 4:49 am Yang saya maksud berhasil bukan hanya dari sisi trafik saja, tetapi keberhasilannya menjadikannya sebagai sebuah bisnis, baik dari sisi menghasilkan income, maupun sebagai fondasi dan brand untuk mendapatkan kapitalisasi.
Mengenai trafik detikcom yang kalah dari Kaskus (versi Alexa.com), data tersebut mesti diuji lagi. Cara menilai Alexa adalah dari user (mereka yang memaki toolbar atau pernah ke alexa dan komputernya terpasangi cookies alexa). Saya yakin, berdasarkan data statistik di server masing-masing, trafik Detikcom masih lebih tinggi ketimbang Kaskus, unique usernya pun pasti jauuh lebih besar detikcom.
Namun, untuk pembahasan kali ini sebaiknya fokus di bisnisnya.


aafyn Says: November 27th, 2007 at 5:31 am ini komentar pertama saya di blog ini sebelumnya cuma baca2 doang…dari sebaian isi blog yang saya baca, kebanyakan pak nukman hanya melontarkan isu saja, kemudian dibahas di komemtar.
saya sepakat dengan rekan yg lain bahwa keunggulan detik.com terletak pada isi beritanya yang selalu update.
#5 dan #7 setuju…

Yaser Says: November 27th, 2007 at 7:49 am Yang bisa mengalahkan Detik ya “Detik” itu sendiri. Artinya, pertama, orang Detik yang membikin portal sejenis. Kedua, begitu “semangat”nya Detik dalam melahap kue iklan, yang saya rasa tidak memperhatikan pembacanya lagi. Ketiga, tidak ada yang abadi di dunia (maya) ini…:)
Danang Says: November 27th, 2007 at 7:53 am Kenapa detik susah untuk menyainginya?
1. Detik.Com, merupakan pioner media berita online di Indonesia.2. Berawal dari media cetak yang sempat dibrendel, justru menjadikan nama detik semakin populer.3. Berita yang disajikan, up to date.
Mungkin itu beberapa hal yang menjadikan detik.com top 1 in news media online. So, jika kita mau beriringan dengan detik.com, jadilah follower yang bisa mencari celah untuk menjadi nomer 1. Good Luck…
Danangwww.iklananda.com

Joe Says: November 27th, 2007 at 8:39 am Saya sendiri sebetulnya sudah bosen sama detik.com. tapi alternatif yg lain belum ada yg bagus.
Tadinya sempet beralih ke okezone, sayang sekarang okezone sudah dihilangkan fasilitas rss feed-nya, lagian design okezone lebih parah dari detik.com..kekeke
Pogung177 Says: November 27th, 2007 at 8:52 am Sejarah memang selalu berubah, teknologi per-Websitan berjalan sangat cepat. Tapi kenapa design Detik githu2 aja, cenderung seperti portal Iklan dibanding berita.
#9 Fitur iklan tidak menggangu..? Berarti anda blom pernah mengujungi situs2 berita luar kaya CNN, NY Times, Businessweek. Mereka selalu mere-design situsnya kurang dari 2 tahun sekali. Terlihat “nice and clear” meskipun disetiap berita artikle disisipi iklan. Bandingkan dengan DETIK, ber-hati2lah meng-mouseover pointer mouse, alih2 bukan title berita yg anda klik tapi malah “Trapping” ato jebakkan Javascript Ads yg ter klik. Detik menjebak user agar CTR (Clicktrough) Ads yg ada di atas title berita tinggi, laporan CTR inilah yg diberikan ke pihak pemasang banner Ads kalo Ads CTR nya tinggi, padahal bisa dikatakan sebagian besar CTR itu adalah “Click accident” ato tidak sengaja ter-klik akibat mouseover javascript.
Misalkan, ada kenal web design luar apalagi webdesign situs berita, apa yg akan mereka katakan?. Situs jadul gitu dibanggakan, iklan “pating grandul” ngalor ngidul…. mereka pasti akan tertawa terbahak2. Dan bertanya, siapa seh webdesignnya..?
ginanjar Says: November 27th, 2007 at 9:54 am Kenapa detik.com unggul, simple aja.. karena detik punya keunikan… ya dari namanya yang nggak “umum”..ya dari tampilan warnanya yang norak, memang dari pandangan seorang webdesigner detik itu designnya nggak ok banget deh, but hey.. its work, pengunjung jadi lebih kenal bahwa itu adalah tampilan nya detik.com, walaupun nggak oke lama2 pengunjung jadi terbiasa dan suka (sama dengan saya yang anti kangen band tapi setelah dengerin beberapa kali jadi suka juga sama musinya…halah… hehehe..) …. kompas.com…okezone.com mungkin bisa bangga bahwa tampilannya lebih bersih dari detik tapi mereka nggak punya keunikan dan ciri khas… putih bersih… ahh.. kayanya semua website berita juga sama seperti itu ….
Happy Hanantoputro Says: November 27th, 2007 at 10:40 am Terlepas dari apakah media online yang baru muncul selalu “harus” bisa mengalahkan existing (online) media, untuk membuat sebuah online (news) media, sering melupakan 3 aspek utama:
- Jurnalisme, kaidah jurnalistik yang digunakan kebanyakan masih menggunakan pola lama (yang diterapkan di “media konvensional”).- Komunikasi, “mengingkari” teori-teori dasar komunikasi, bahwa pesan adalah media itu sendiri, artinya media dibuat memang untuk publik, bukan untuk (selera dan ego) pengelolanya.- Teknologi, menempatkan teknologi sebagai pembawa pesan, bukan penyampai pesan. Artinya teknologi hanya dipandang sebagai carrier.
Faktor lain adalah faktor “masa”. Membuat media yang relevan dengan masa ketika media itu dibuat, adalah titik tolak untuk keberhasilan media tersebut. Titik lontar berikutnya adalah kemampuan visioner untuk “membaca” masa selanjutnya.
Selama ini (IMHO), masih banyak online (news) media yang dibuat seperti halnya detikcom dibuat 5-6 tahun lalu.
Faktor terakhir adalah keinginan publik: apakah sekarang sudah membutuhkan online (news) media lebih dari satu? Jika jawabnya BELUM, maka detikcom akan tetap berkibar.
Cah Jogja Says: November 27th, 2007 at 11:42 am Saya membayangkan petinggi detik sedang membaca komentar-komentar ini sambil tersenyum-senyum dan mangut-mangut.
Ya ya ya…
* saya jadi sungkan untuk berkomentar, belum cukup ilmu

Nukman Luthfie Says: November 27th, 2007 at 1:58 pm #15.Pendapat yang menarik mas Yaser. Detikcom hanya bisa dikalahkan oleh Detikcom. Pendapat seperti ini diyakini oleh banyak pengusaha/investor. Kalau ingin membuat bisnis yang berhasil seperti sang pionir, maka gerogoti tim intinya, bikin usaha baru dengan tim inti tersebut. Ini berlaku umum, bukan hanya Detikcom. Bahkan ketika para pengusaha berlomba-lomba membuat bank pada tahun 1990-an, Citibank Indonesia sempat kelimpungan karena eksekutifnya banyak yang jebol desa. Robby Djohan yang berhasil mengerek bendera Bank Niaga itu mantan Citibank.Maka tidak mengherankan jika orang-orang Detikcom juga jadi buruan mereka yang mau mengembangkan media online. Tapi sejauh ini belum ada online yang menggunakan awak Detikcom menunjukkan tanda-tanda untuk bersaing. Mungkin perlu dilihat 2-3 tahun lagi

Nukman Luthfie Says: November 27th, 2007 at 2:03 pm Dari banyak pendapat di atas, terlihat bahwa teknologi detikcom ketinggalan jaman dan belum mengadopsi pendekatan-pendekatan baru sebuah portal (termasuk tidak mengadopsi konsep iklan yang tidak mengganggu user).Meski demikian, sejauh ini, “kelemahan teknologi dan kelemahan pendekatan iklan” tersebut tidak (atau belum?) bisa dijadikan senjata oleh pesaing untuk menempel Detikcom.
Bahkan ada kecenderungan pemain-pemain baru, seperti disampaikan mas Catur (#11), justru mengadopsi kelemahan tersebut. Layout dan desain pertama Okezone misalnya, mirip pola Detikcom. Kompas.com pun, yang sudah menerapkan pendekatan desain baru, kini malah terjerumus ke model iklan ala Detikcom: semuanya ditumpuk di halaman depan.

Yeni Setiawan Says: November 27th, 2007 at 3:19 pm Satu hal yang SANGAT menyebalkan dari Detik, kita ga bisa ngakses lagi berita yang umurnya lebih dari dua minggu dan tentu saja struktur URL yang sangat jelek

Bambang Wahyu Harsono Says: November 27th, 2007 at 6:03 pm IMHOIni masalah domain, yang udah lengket di lidah, seperti orang dulu bilang “ho*da” itu adalah segala jenis sepeda motor.
Apa begitu ya?

hyde Says: November 27th, 2007 at 6:30 pm mungkin pikiran orang2 detik, mengganti layout webnya sama seperti “pindah agama”, hehehehe butuh pemikiran dan kebijakan2 ekstra.

Indra Says: November 27th, 2007 at 7:56 pm #23Pak Nukman, soal pendekatan iklan, sepertinya detikcom tidak terlalu peduli dengan user. Iklan tentang event yang kadaluarsapun tetap mereka pasang asal pemasang iklannya masih mau bayar dan tidak peduli dengan uang yang terbuang…
Barangkali Pak Nukman berkenan memberikan hitung-hitungan kasar konversi iklan di detikcom? Saya hanya bisa menduga bahwa sebagian besar belanja iklan di detikcom terbuang percuma….
Sekedar contoh, ada iklan soal event yang sudah kadaluarsa masing terpasang hari ini. Ada iklan yang 25jutaan tiap minggunya tidak melakukan apa-apa terhadap pengunjung yang hadir….
Jadi, keberhasilan bisnis detikcom menurut saya lebih karena masih banyak pemasang iklan yang 1) Punya banyak sekali uang 2) Tidak tahu bagaimana memanfaatkan uang untuk beriklan
eh…sepertinya Pak Nukman lagi ancang-ancang bikin tandingan detikcom, nih?

adtorial - ARTIC Says: November 27th, 2007 at 9:36 pm Kalau dari pandangan saya, ada beberapa hal yang membuat detik.com tidak dapat ditandingi.
Bahkan awal tahun 2000 pesaing seperti astaga.com dan kompas.com dengan dana super kuat mempromosikan portal mereka juga tidak bisa merebut pasar detik.
Faktor pertama, adalah strategy detik.com dengan positioning statementnya : Detik ini juga!
Kedua, dulu waktu saya membuat demografi pasar pengguna internet, saya sempat mendapatkan bahwa masyarakat kita ini doyan dijejelin informasi2 tergres, gosip dan infotainment. Nga peduli info itu beneran atau nga, yang penting di makan dulu.
Ketiga, detik.com berhasil mem posisikan diri sebagai pioner dalam ini. Kalau kita lihat perbandingan tampilan web tahun 2000 antara detik dan pesaing2nya di: http://web.archive.org/web/*/http://detik.comkelihatan mengapa pengunjung lebih memilih detik daripada portal serupa lainnya.
Terakhir, investasi infrastuktur server detik sangat kuat. Loading halamannya cepat.
Jadi, bila Anda ingin membangun bisnis online, jangan lupa ke-4 faktor diatas: 1. Positioning statement yang kuat. 2. Pahami kebutuhan market Anda. 3. Tampilan visual yang menarik, komplit dan navigasi mudah. 4. Server yang mendukung aksesibilitas lebih baik.

Nukman Luthfie Says: November 28th, 2007 at 1:43 am #25.Betul mas Bambang, brand image Detikcom memang sdh menancap kuat di benak usernya. Ini termasuk salah satu faktor yang mempersulit pesaing masuk ke wilayahnya.
#26.Saya kira tidak seperti itu mas Sabri. Secara perlahan, desain-desain dalam Detikcom sudah mulai berubah.
#27.Tanpa data, saya tidak bisa menghitung konversinya mas Indra.Mau bikin tandingan Detikcom? Hahahaha enggaklah. Fokus kami di sektor bisnis, seperti PortalHR.com yang menarget pasar para praktisi human resource, Niriah.com (pasar ekonomi dan bisnis syariah), bisnis.com (bisnis,perdagangan, finance dan ekonomi mikro), serta SWA.co.id (bisnis dan manajemen). Belum kepikir masuk ke horisontal portal.
#28.Analisa yang menarik mas Andry.Keempat hal itu juga sudah dilakukan pesaing detikcom. Tapi kelihatannya tak mempan untuk mendekati Detikcom tuh.Jadi, adakah faktor lain?

Penuliskita.com Says: November 28th, 2007 at 2:44 am Menurut saya, ada satu faktor yang tidak atau belum dimiliki pesaing Detikcom. Yakni saat peristiwa besar revolusi politik 1998 (semoga tidak terjadi lagi), kebetulan saat itu Detikcom berkibar sendirian (cmiiw).
Jika pesaing Detikcom cerdas memanfaatkan momentum lain (semoga momentum yang baik tentunya), mungkin kita akan menemui penantang serius Detikcom.

Okto Silaban Says: November 28th, 2007 at 2:46 am Lho.., baru tau postinganku nyasar juga disini..
Nah liat komentar - komentar diatas, berarti orang - orang (*selain ex orang Detik) udah pada ngerti dong apa aja celahnya..
Kalo dah sebegitu banyak orang yg ngerti, apa ya OkeZone dan Kompas gak tau hal itu? Saya rasa mereka pasti tau.. (seperti dipostingan saya..). OkeZone sendiri bahkan sampe beriklan di media cetak dan elektronik, Detik setahu saya tidak pernah beriklan.. Kalo branding iya.. (lewat sponsorship).
Lalu kalo memang kelemahannya sudah terpampang jelas di depan mata, kok gak ada yang bisa ngalahin?
*kepanjangan kayaknya disini.. lanjut di blog saya aja kali ya..

Tuhu Nugraha Dewanto Says: November 28th, 2007 at 3:51 am kalo menurut aku untuk menyaingi detik.com dari segi trafik, harus sesuatu yang berbeda dan mengambil ceruk khusus yang tidak dipunyai detik.com.

Nukman Luthfie Says: November 28th, 2007 at 5:42 am #30.
Ya, itu faktor keberuntungan Detikcom. Tapi saya rasa itu sulit dibahas dan dijadikan tolok ukur.
#31.Okto bertanya: “Lalu kalo memang kelemahannya sudah terpampang jelas di depan mata, kok gak ada yang bisa ngalahin?”
Saya menjawab: ada beberapa kemungkinan.
Pertama, pesaing keliru mendeteksi kelemahan Detikcom. Yang selama ini diwacanakan sebagai kelemahan (termasuk yang banyak disampaikan di komentar ini), bisa jadi bukan kelemahan. Lha kalau sudah keliru mendeteksi kelemahan, sudah pasti akan salah mengantisipasi.
Kedua, asumsikan pesaing sudah benar mendeteksi kelemahan detikcom, namun karena strategi dan eksekusi mereka kurang tepat maka mereka tidak juga mampu mengejar detikcom.
Masih ada kemungkinan lain yang bisa dikembangkan. Tapi dua kemungkinan yang saya sampaikan, saya duga amat dominan menjadi penyebab pesaing detikcom jalan di tempat.
Verdinand Says: November 28th, 2007 at 6:09 am perdebatan yang menarik antara blog Okto SIlaban dengan blog Nukma Luthfie. Lanjutkan..

avianto Says: November 28th, 2007 at 8:02 am Karena semuanya berlomba menjadi ‘pesaing’ detikcom. Sederhana ya?
Coba lihat contoh lainnya. Amazon tidak tergoyahkan dengan bisnis bukunya. Yahoo masih berjaya walaupun digerogoti Google yang notabene tidak pernah ditargetkan untuk jadi ‘pesaing’ Yahoo. eBay masih kuat dengan online auctionnya.
Di era Web 2.0 pun begitu, Friendster, Facebook dan MySpace walaupun terkesan ’saingan’ tapi punya pasar masing-masing (Friendster dengan pasar terbatas Asia saja, Facebook dengan aplikasi2nya yang heboh dan MySpace dengan… er, apa ya? Hype?).
Visinya harus jelas. Sekarang rata2nya visinya “merebut kue iklan detikcom” dan bukan “menciptakan portal berita yang akurat, terpercaya, berkualitas dan memudahkan pengguna”. Ya, susah kalau begini - mendingan uang investasinya dipakai untuk modal dagang kain atau bikin restoran, lebih pasti revenuenya.
Detikcom berangkatnya bukan dari ‘jualan space iklan’ - tapi semua pesaingnya berangkatnya dari situ, ya jelas sudah salah menaruh kaki…

Fauzan Abu Ramza Says: November 28th, 2007 at 11:02 am hehehe…. rame nih.
setuju sama pak Avianto, karena semua berlomba untuk jadi pesaing detikcom.
Kalo dari saya pribadi, kekalahan detik tinggal tunggu waktu, seperti kata banyak rekan disini. Dari sisi teknologi, desain, dan konsep sudah mulai ketinggalan. Kecuali detik berubah, sudah pasti lama kelamaan akan ditinggalkan.
Poin kuatnya hanya satu, update berita paling cepat.
Kedepannya, semuanya pasti berubah, tapi kalo hanya karena RSS aja sih saya kok kurang sreg ya karena setau saya orang malah enggan make RSS (baca research dari luar lo ini, bukan dari indo). Mereka masih lebih suka email. Dan karena semakin hari informasi semakin banyak, manusia jadi semakin selektif milih berita.
Ini yang jadi trend kedepan. sistem ‘langganan berita’ semacam RSS (tapi yang via email subscription) mungkin akan lebih dilirik saat jumlah informasi sudah jauh lebih banyak daripada yang mampu dicerna manusia.
Toh lama lama pengiklan juga sadar dan akan lebih memilih untuk beriklan di media yang targeted, daripada media global semacam detik. Kan perusahaan konsutasi online macam Virtual juga ngasih saran dong ke calon pengiklan diinternet.
Sering saya berpikir, kok yang gede duitnya cuma bisnis iklan aja ya di internet ini. Padahal orang ngiklan tujuannya kan ‘jualan’ juga. hmmm…. kapan ya e-commerce di indo bisa serame di negara yang micro paymentnya jalan?

shearyadi Says: November 28th, 2007 at 12:48 pm Loh…masih rame ngomongin det*k?
Rizky Says: November 28th, 2007 at 1:06 pm idem sama mas Avianto. Why waste time en money, sedangkan masi banyak lahan subur diluar sana. Biar dikit tapi targetnya jelas.
Kebetulan Itu juga yang lagi coba dibidik sama ClearAfterHours.com –website e-magazine en soon-to-be social networking website– yang target pasarnya adalah profesional muda yang modern en dinamis.
Statusnya sih masi Beta, tapi tanggal 30 November ini kita ada acara di Hard Rock Cafe Jakarta, with Glenn Fredly en friends, 7 PM onwards. Yang sekaligus dijadiin acara launching ClearAfterHours.com.
Dijamin bikin bikin banyak kepala nengok kemari (terutama para profesional muda), Glenn gitu lohh!
Detail acara bisa diliat di sini:http://www.clearafterhours.com/events/
Kalo pak Nukman dan para sesepuh disini ada yang mau mampir, saya bisa usahakan untuk dapetin invitation. Kontek aja via YM, ID: br4inwash3r

Nukman Luthfie Says: November 28th, 2007 at 4:14 pm #35.Benar mas Avi, sejauh yang saya amati, kebanyakan investor dan mereka yang ingin menyaingi detikcom, memandang detikcom dari sisi income. Maka ketika mereka ingin besar, segala langkah detikcom dipakai. Jurus yang sama dipraktikkan. Padahal jurus yang terlihat itu hanya gerakan luarnya. Jauh di dalamnya ada visi.
Namun yang jelas, kue income yang besar, RoI yang bagus (meski tidak banyak bisnis dotcom yang menunjukkan RoI bagus) serta masa depan yang cerah, selalu menarik minat investor. Amazon.com misalnya, sebenarnya mendapat banyak pesaing, termasuk dari toko buku terbesar dunia Barnes&Noble. Maka pengusaha Indonesia yang berani menyiapkan modal puluhan miliar rupiah lebih tertantang masuk ke bisnis dotcom dengan meniru model bisnis yang sudah terbukti berhasil. Dan yang mereka lihat ya cuma satu: apa lagi kalau bukan breaking news ala Detikom.
Social Networking juga saling berebut menjadi nomor satu.Mengenai facebook, friendster dan myspace segera akan saya bahas sendiri, karena ini juga tak kalah menariknya. Dalam hal ini saya punya pandangan yang beda dengan mas Avi.
#36.Mas Fauzan ada bakat kuat di ecommerce. Coba kembangkan PernikMuslim.com menjadi ecommerce yang berhasil di Indonesia.
#37.Saya sudah lihat Clearafterhours.com. Konsepnya bagus. Tapi untuk menjadi “dijamin bikin kepala nengok kemari (terutama profesional muda)” masih panjang jalannya. Sebagai profesional muda , saya pingin datang nih mas Rizky.

Pujiono Says: November 28th, 2007 at 6:14 pm Detikcom pintar memainkan emosi pembaca. Berita secuil saja bisa tampil di halaman depan. Padahal esensinya mungkin sedikit, hanya update dari berita sebelumnya. Lihat saja judul-judul detikcom yang bombastis…
Mengapa pageviewnya tinggi? Karena editor detikcom juga pinter mainan headline. Berita dari detikhot, misalnya, tampil di halaman detikcom. Tapi ketika di-klik, yang terbuka bukan berita itu, melainkan halaman depan detikhot. Dengan cara seperti ini detikcon bisa melipatgandakan pageviews. Ini dilakukan utk semua berita yang ada di detikinet dan detikhot. bayangkan berapa jumlah pageviews yang diciptakan dari cara seperti ini. Juga jangan lupa detikforum yang judul-judulnya juga tampil di bagian bawah berita. namun ketika diklik yang terbuka bukan thread dari judul itu. yang terbuka adalah sub-section. Pintar juga cara detikcom menaikkan pageviews.
cara-cara di atas belum dipakai oleh kompas.com dan okezone.

Pitra Says: November 28th, 2007 at 6:23 pm ato jangan2, justru ada segmen yg menyukai detik karena ia ingin melihat iklannya? toh, masih ada juga pembeli koran Pos Kota kan?
Nukman Luthfie Says: November 28th, 2007 at 6:24 pm Pendapat menarik mas Puji. Tapi itu sih menurut saya relaif tak banyak mendongkrak pageviews detikcom. Yang terjadi di detikcom itu bukan hanya pageviewsnya yang luar biasa, tetapi juga jumlah pengunjungnya.
Joe Says: November 28th, 2007 at 6:51 pm pesaing baru sudah muncul www.koraninternet.com, nah sekarang tinggal menunggu sampai berapa lama sang pesaing bisa bertahan.
Jadi..inget dengan website www.newscaptain.com, ternyata hanya bertahan kurang dari 1 tahun. semoga aja yang baru ini bisa lebih lama
tsani Says: November 28th, 2007 at 7:17 pm ya, bertahannya detikcom menurutku tidak lepas dari income yang masuk dari para pengiklan. Tapi detik menurutku masih mengedepankan content-nya, berita yang update. Baik berita yang ga mutu sampai berita yang mutu (lha emang adanya berita2 seperti itu). Yang penting informasi sampai ke user. Toh user kebanyakan juga cuma cari beritanya aja, bukan untuk liat iklannya.Aku sendiri sering buka detikcom (sekarang juga buka) cuma buat liat beritanya aja. Dan menurutku-untuk masalah iklan, asalkan si pengiklan mbayar, mungkin detikcom menerima (dan menampilkannya).(bener ga ya pendapatku?hehe…)udah ah…

esa Says: November 28th, 2007 at 9:24 pm Numpang lagi Pak Nukman,
Ramai ya ngomongin detik baik keberhasilan mereka sampai kelemahannya , sebagai user jujur saja saya suka mencari berita ke detik.
Ada pengalaman unik waktu saya ketemu pak Budi ( detik ) , ada yang bertanya ke beliau pak kok detik iklannya rame banget jadi malas bukanya ( kata si penanya ) dan dengan berwibawa pak Budi ngomong kalo nggak mau liat iklan di detik, jadi aja member di DETIK Portal dengan subscribe sejumlah uang…..
Bener juga sih yang pak Budi katakan, lah wong beritanya aja udah gratis, kok masih komplain iklannya kebanyakan… hehehe
itu semua hanya bahan masukan buat rekan sekalian, jangan kita pikirkan masalah desain, teknologi dan bla bla bla yang lainnya, toh mereka masih nomor satu.
Yang paling penting buat kita pikirkan adalah apakah kita semua yakin bahwa saat ini dengan popularitas detik yang nomor wahid , detik masih untung?? antara pemasukan dan pengeluaran detik masih dapat profit?? Apakah semua iklan yang ada di detik itu semuanya bayar tanpa ada co-branding?
hehehe itu aja sih yang kepikiran, benar atau tidaknya saya tidak tau.
Makasih pak nukman

Rizky Says: November 28th, 2007 at 10:43 pm #39.Emberrr, jalan emang masi panjang. Tapi untuk kedepan promo-nya juga akan terus digencarkan. Untungnya Citibank sebagai partner juga sangat mendukung website ini.
Kalo pak Nukman mo dateng silahkan aja. Acara bebas kok. Malah kalo pak Nukman pemegang kartu kredit Citibank Clear Card bisa dapet free entry. Diluar itu cukup bayar 50 ribu, dan temen-temen udah bisa nikmatin suara merdu Glenn Fredly en friends.
#45.Di tempat gue ada programmer ex-detik yang kasi bocoran tentang detik. Katanya staff-staff IT detik udah banyak yang cabut ke okezone. jadi mungkin aja situ ada benernya juga.
gosip abisss….

Nukman Luthfie Says: November 29th, 2007 at 12:46 am #45.Statement Mas Esa sangat menarik: “Yang paling penting buat kita pikirkan adalah apakah kita semua yakin bahwa saat ini dengan popularitas detik yang nomor wahid , detik masih untung?? antara pemasukan dan pengeluaran detik masih dapat profit?? Apakah semua iklan yang ada di detik itu semuanya bayar tanpa ada co-branding?”
Ada yang bisa membantu menjawab?

Okto Silaban Says: November 29th, 2007 at 1:36 am #33 : Hmmm…., ini dia nih yang bikin Pak Nukman tetap luar biasa. Ya..ya.., “Jangan - jangan para pesaing dan bahkan para ex-Detik pun salah melihat celah dari Detik..” Ini baru kepikiran oleh saya..
Lalu, bagaimana dengan “usul” jika tidak usah terlalu membandingkan/membuat mee-too nya Detik? Tapi, buat yang bener - bener baru.. Mengacu pada kebutuhan (tercakup didalamnya kemudahan), teknologi, dan trend media online? Bukan mengacu pada kelemahan Detik (yang mungkin saja kita salah kira).
#47 : Eitts.. Kalo dari Pak Nukman sendiri yang bercerita gimana? He..he.. Business ethics yah.. Kayaknya sih profitnya masih ada. Tapi dari Detik.com nya sendiri sudah tidak se-signifikan dulu sepertinya. Makanya Detik pun mulai mengembangkan macem - macem. AdPoint, DetikLelang, DetikForum, dll.*Perkiraan saya sih..

Nukman Luthfie Says: November 29th, 2007 at 12:58 pm Membuat mee-to bukan bisnis yang menarik. Sulit mencari studi kasus mee-to yang berhasil.
Pertanyaannya, mungkinkah membuat media online yang bukan seperti Detikcom? Menurut saya mungkin. Sayangnya, ini yang belum bisa diterjemahkan oleh banyak pebisnis online yang masuk ke terjun ke media online.

Warsito Says: November 29th, 2007 at 8:42 pm Bagaimana dengan koran online lokal, seperti Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Waspada, Suara Merdeka, Sinar Harapan, Republika, mereka juga konsisten dalam menyampaikan berita, tampilannyapun juga bagus menarik, tapi koq iya tetap saja banyak orang yang lebih memilih detik, Why? pak Nuk?
esa Says: November 29th, 2007 at 10:52 pm #49 Membuat media online yang bukan seperti Detik sangatlah memungkinkan, tetapi kalau semuanya langsung berpikiran profit oriented dan mau menyaingi detik itu yang salah…..:P , kalo menurut saya alangkah lebih baiknya kita mengedukasi masyarakat terlebih dahulu tentang keunggulan sebuah website atau portal daripada hanya berebutan pasar yang sangat kecil di dunia website / portal ( Khususnya di Indonesia )saat ini.hehehe sok bijak

esa Says: November 29th, 2007 at 11:12 pm #50 Memang banyak koran online lokal seperti yang pak Warsito katakan, tapi perlu kita cermati juga apakah mereka benar benar konsisten menjaga media onlinenya, karena hampir dari semua koran online yang bapak katakan diatas pernah saya temui dan hampir semua dari koran online itu hanyalah kepanjangan tangan dari media korannya, maksudnya mereka hanya melakukan update berita di website mereka mengikuti isi berita dari korannya, tanpa memikirkan pengembangan dari website mereka.
Sebagai contoh Koran online SH , saat ini di tempat mereka yang meng update koran onlinenya hanya 2 orang dari team IT yang juga merangkap sebagai networking di koran tsb itupun kalau sempat kata mereka dan kalau ada waktu lowong.Kalau mau dilihat lebih detail lagi koran online mereka tidak ada advertiser tapi kalo melihat jumlah hit pengunjungnya mungkin kita akan kaget , kalo tidak salah alexa mereka sekitar 49.000 an rangkingnya, itu menunjukkan pengunjung website mereka lumayan banyak perharinya, walaupun mungkin alexa belum bisa dijadikan patokan resminya , namun setelah saya melihat dari google analyticsnya website tsb ( saya diperkenankan melihatnya ) pengunjungnya lumayan banyak meski jarang di update.
Itulah yang saya maksudkan di comment saya sebelumnya bahwa sudah waktunya bagi kita mengedukasi masyarakat pentingnya sebuah website / portal atau media online daripada berebutan mencari profit di dunia maya yang sangat kecil porsinya saat ini.
Maaf ya kalo aku sok bijak dan sok tau , tapi demi perkembangan dunia perinternetan kita hehehe
Makasih

K Says: November 30th, 2007 at 5:10 am Kenapa belum ada situs local yg bisa megalahkan detik?1. Karena mereka terlalu memirkan income daripada community. We are in a web2.0 era. Focus on community and the money will follow. Dont put too many ads on one page. There is such a thing called as cpm advertising. Use one space for 3-4 ads rotating every time a page refreshes instead of using one space for one ad.
2. They do a poor job designing their site and often copying detik.com and making the page too complicated for visitors to navigate. Simplicity is key here. Make your site as simple as possible for visitors to navigate around. If a user cannot fins what hes looking for withing 10seconds he is sure to leave and never return to the site.
3. They try to put alot of features all at once often confusing the visitors. Having a website is a learning process. You build as you go. You have to keep adding features as you go depending on the community not throw everything all at once.
4. They try to report the same news as detik. If you cannot find fresh news, why should people come to your site for news. You have to find your own identity. Report on news that will benefit the visitors of your site instead of reporting on news that they have already read in detik. You can report on the same news but make sure u add your own identity to it.

K Says: November 30th, 2007 at 5:27 am Internet is a huge space there is alway room for everything but make sure you find your own identity instead of just copying other people. Internet users are fickle minded they will always keep finding new sites if they are already bored with the old site. Example: Friendster. People were so into friendster then it became slow and people shifted to myspace then myspace became too spammy and people shifted to facebook. Thats the way the internet is. nobody can rule for too long. you have to keep developing your site and introduce new features as you go. Example: google. They are a search company but they keep developing new projects. now they have become a leader not only in search but in other areas as well such as feed reader, email, maps, blogging platform, calender and video. But they still haven’t forgotten their roots which is Search. Their search engine is still the best and their advertising program is still the most widely used advertising program on the internet. So my suggestions to all the local sites getting crushed by detik is: Find your own identity! Do it your way not the detik way! Start small then keep introducing features and never forget your roots.

Arham Says: November 30th, 2007 at 10:50 am kalo sampai kapan/…kira2 sampai mereka ngak aktif ato sampe mereka tidak ada semangat lagi…umm tapi mungkin ngak sih?….heheh
kalo kenapa mereka lebih unggul, itu karena dia yang pertama ato the first sementara yang laen cuman ikut2-an, trus dia lebih learn by doing darpipada learing by the script. oh ya kalo yang jadi pertama itu (be the first) penting lho, kalo ngak bisa ya jadi yang terbaik, kalo ngak bisa juga jadi yang berbeda. nah yang laen kayak kompas cuman ikutan aja tanpa ada ke dua hal sequence tersebut, singkatnya ngak ada entrepreeurshipnya…
Arhamhttp://road-entrepreneur.com
Arif Haliman Says: December 2nd, 2007 at 7:27 am Saya hanya nimbrung dengan melihat ‘kekurangan’ yang ada di Detikcom. Yaitu kalau bisa lebar websitenya semakin diperlebar agar kita membacanya semakin lega.
Website-website modern sekarang walaupun tidak semuanya, apalagi yang berbasis portal lebih suka dengan tampilan ‘layar lebar’ sehingga akan lebih banyak space yang mungkin akan lebih gampang kedepannya apabila ada penambahan fitur rubrik baru.
Anyway, saya pribadi uga menginginkan adanya pemain baru yang bisa menyaingi Detikcom agar lebih bervariasi.

Fauzan Abu Ramza Says: December 2nd, 2007 at 7:35 am #39
makasih banyak atas doanya pak Nuk insya Allah PernikMuslim.com bakalan jadi e-commerce sukses di indonesia. Banyak yang masih harus dilakukan. Tapi kalo konsisten semua tinggal tunggu waktu

abawr-abawr Says: December 2nd, 2007 at 8:24 am Sampai kapan Detikcom tak tertandingi?
Tidak ada keharusan sebuah koran maupun majalah (”medium tradisonal”)yang hebat seperti Kompas ataupun Tempo (di Indonesia) ketika mereka meluncurkan situs musti berhasil (baik dalam jumlah pengunjung maupun iklan) sebagaimana induknya.
Tidak ada satu pun koran dan majalah internasional sekalipun (New York Times, the Economist etc) mengembangkan situs dirinya untuk menandingi keberhasilan “medium tradisional” mereka. Memangnya mereka mau kayak majalah Tempo yang nekat menerbitkan koran Tempo. Sekalian saja bikin radio Tempo, tv Tempo, film Tempo.
Buat sejumlah “medium tradisional” pembuatan situs hanyalah kepanjangan tangan guna pelayanan konsumen (sekaligus menjaga ketaatan -loyalitas bahasa kerennya), promosi dan pemasaran. Sebuah ketololan membiarkan medium baru memakan “sapi” yang selama ini berhasil memberikan pemilik media limpahan “susu”.
Kan persis sebagaimana detik.com juga yang coba-coba bikin medium lain. Apa juga lantas mereka berhasil?
Penyandang dana Sindo boleh saja berpikir koran mereka bisa menandingi Kompas. Tapi, bisnis utama koran itu bisnis kepercayaan. Begitu pula okezone.com. Sah-sah aja mereka akan menandingi Detik.com. Tapi seperti yang sudah-sudah, misalkan, Astaga.com.
Bisnis kepercayaan tidak semudah itu. Perlu kecintaan dan ketulusan dalam membangun bisnis bukan hanya gerojokan dana melimpah. Detik.com menang karena dibangun berdasar dua hal tadi.
Yang pasti: Sampai kapan Detikcom tak tertandingi?Sampai aku meluncurkan situs sejenis yang dibangun oleh Cinta dan Tukul, eh, Tulus. Tunggu aja. He he he
Avihttp://aviandewanto.multiply.com

Mia Says: December 3rd, 2007 at 2:35 am Salam,Dari pengamatan sepintas ,kalau kebetulan mampir ke warnet tetangga ,juga kalau ke Mall didepan internet ,pasti aja ada yang buka detik kom.Jangan salah lho yang buka itu banyak yang ABG ,kalau warnet yang buka orang kantoran ,soo kelihatannya detik kom itu merata marketnya ,nggak muda ,dewasa dan berumur mengenal detik kom , saya sendiri kalau cari berita teringatnya detik kom ,nggak yang lain tuh !Salam ,Mia ,http://www.nusashop.com

Indra Says: December 3rd, 2007 at 4:13 am #59Oleh karena itulah (”…banyak yang ABG…”, “…merata marketnya..”) saya akan berfikir ribuan kali untuk memasang iklan di detikcom. Menurut saya, sukses bisnis detikcom lebih karena iming-iming trafik (yang sangat tidak tertarget) buat pemasang iklan yang tidak terlalu memperhitungkan rupiah yang didapat dari setiap rupiah yang dikeluarkan.

abawr-abawr Says: December 3rd, 2007 at 10:59 pm #60Waduh bisa-bisa pemilik detik.com ketar-ketir mendengar kritik Bung Indra ini. Tapi, susah juga menentukan sebuah ukuran bagi perusahaan untuk memasang atau tidak memasang iklan di suatu .com.
Persis kayak tayangan sinetron kita ya. Apa ukuran sebuah perusahaan menempatkan iklan di sebuah medium: Apa dari hasil peringkat pemirsa (audience rating, market share? Apa dari isi sinetron (idealism)? Atau, dari blink-blink para pelakon yang tampil?
Nah, apalagi kalau sudah punya pelahap berita macam Jeng Mia, yang bilang, “saya sendiri kalau cari berita teringatnya detik kom ,nggak yang lain tuh!” Mudah-mudahan saja Mbak Mia ini tidak terafiliasi dengan detik.com.
Satu hal yang paling berat dalam melansir sebuah produk -termasuk juga medium baru apa pun mediumnya: koran, majalah, situs berita internet- meruntuhkan fanatisme yang melekat (inheren) pada sebuah produk.
Barangkali menarik juga mencermati hal yang dilakukan Yamaha terhadap Honda dalam kampanye on air. Bukan soal irit bahan bakar ataupun teknologi tapi Yamaha “gak cuma untuk bencong geto looh.” Alhasil penjualan Yamaha sejak -kalau gak salah - April tahun ini terus-menerus di atas Honda. Anehnya, Honda malah mengikuti hal yang sudah dimainkan Yamaha. Kok ceritanya ke mana-mana.
Menurut saya, kalau mau menandingi situs detik.com, tidak cukup hanya guyuran modal. Juga tidak cukup dengan menggempur iklan di tempat saudara sendiri. Perlu sesuatu yang beda sekali. Saya melihat tidak ada perbedaan mencolok antara deik.com dan okezone.com kecuali penampilan luar saja. Beda dengan katakan saja www.digg.com yang memberontak terhadap pakem berita.
Tapi tak tahulah. Namanya juga bagi-bagi pendapat. Yang lebih baik, sih, sebetulnya Pak Nukman ini bagi-bagi pendapatan. He he he
Mia Says: December 4th, 2007 at 8:22 am Salam, nah justru disitu letak ke unggulan detik dot kom ,karena setiap pemasang iklan nggak usah mikir lagi tepat nggak yaa saya masang disini maksudnya detik dot kom , bukan maksud promosi nih tapi kenyataannya memang begitu ,pangalaman sendiri ,saya pasang iklan sms aja hnya dalam hitungan menit hotline HP saya sudah berdering order .. .begitulah kenyataannya Salam
GPSMAP 76CSx Says: December 4th, 2007 at 11:16 am salam kenal, informasi yang menarik, Trims.

abawr-abawr Says: December 5th, 2007 at 5:43 am Salam kenal juga. Untuk semuanya.
Ben Says: December 8th, 2007 at 8:05 am secara konten dan teknologi, menurut saya, yang (sempat) bisa jadi calon kuat penggusur detikcom adalah satunet.com. sayangnya, setelah dibeli grup astaga justru dimatikan

Anggun Says: December 10th, 2007 at 12:21 am Kekuatan terbesar detikcom yang mungkin tidak disadari para kompetitornya adalah faktor IKHLAS dan CINTA. Dua faktor yang menurut ESQ165 sangat dahsyat kekuatannya. Ikhlas dalam konteks detikcom bukan berarti awaknya tidak dibayar, tapi terkait mentalitas awaknya yang berdedikasi tinggi. Yang saya maksud adalah awak intinya. Dengan kualifikasi seperti itu, mereka siap berkorban dan berdarah-darah untuk fight jika kapal mereka terancam lawan. Adapun awak detikcom yang hengkang ke media lain, menurut saya itu adalah seleksi alamiah. Kemudian faktor CINTA. Mereka saya lihat mencintai pekerjaannya, perusahaannya dan identitasnya sebagai orang detikcom. Itulah saya kira yang jarang dipunyai kompetitor detikcom. Menciptakan SDM seperti itu tidak bisa dengan mengandalkan uang. Mengandalkan kekuatan uang malah kadang bisa jadi bumerang. Anda bisa merekrut awak siap pakai dari kiri-kanan, tapi ibarat anggur: diberi secawan, orang bisa ketagihan dan minta lagi, lagi dan lagi. Dan rekrutmen semacam ini biaya investasinya sangat mahal. Satunet.com, Astaga.com telah membuktikan. Jadi kalau mau mengalahkan kapal detikcom, mulailah dengan IKHLAS dan CINTA. Begitu saya kira.

Eko Says: December 10th, 2007 at 12:41 am Salam kenal semuanya.. Kalau menurut saya,secara design,Detik dgn warna warninya yg ngejreng,secara alamiah tentunya akan lebih catchy dibanding kompas atau okezone yg putih&terkesan kaku.. Lalu yg kedua, adanya sub-brand dari detik seperti detiksport,detikhot,dll yg memiliki domain sendiri..tentu lebih menarik dibanding kompas atau okezone yg membuatnya dgn nama-nama seperti “ilmu”,”teknologi”..
Jaka Says: December 12th, 2007 at 6:13 am Salam jumpa buat anda semua……sebetulnya banyak yang berpikir kesana akan tetapi belum waktunya untuk mereka muncul,saya yakin mereka pasti akan datang……untuk menyamai detik memang butuh waktu panjang karena mereka yg pertama dan berpengalaman serta punya potensi.kalo boleh saran……seharusnya kompas mencoba itu…!
Detik.com life is a journey…and this is mine.. Says: December 12th, 2007 at 8:25 am […] Tadi saya browsing di internet dan membaca salah satu artikel mengenai detik.com di blog Pak Nukman yang berjudul “Mengapa tidak ada media online yang mengalahkan detik.com“. Setelah membaca artikel tersebut saya juga baru tersadar bahwa saya sendiri hampir setiap hari mencari berita di detik.com atau paling tidak membuka link tersebut sekedar melihat - lihat saja apakah ada berita menarik. Malah saya lebih sering membaca berita di detik daripada membaca koran. Hehe secara saya sendiri tinggal di kos sehingga tidak ada koran. […]

Mulky Says: December 12th, 2007 at 8:11 pm Saya ingin menanggapi komentar tentang template detikcom yang dari dulu tidak pernah berubah. Menurut saya, di situlah juga kekuatan lain detikcom: kuat identitasnya, langsung dan mudah dikenal. Saya jadi ingat gaya rambut ratu-ratu kerajaan di Eropa. Ratu Inggris Elizabeth dan Ratu Belanda Beatrix misalnya. Mereka gaya rambutnya dari dulu itu-itu melulu. Gaya rambut Beatrix tidak pernah berubah dari sejak resmi naik tahta. Ternyata itu terkait dengan identitas dan imej. Gaya dan tata letak detikcom yang tidak berubah saya yakini sebagai keputusan yang diperhitungkan matang. Kalau mau, saya kira detikcom cukup punya uang untuk membayar disainer (jika timnya sendiri tidak cukup kreatif merancang template). Analisis penonton di tribun memang belum tentu mendekati apa yang sesungguhnya menjadi strategi tim yang bertarung di lapangan. Disain yg tetap, juga membantu pengunjung at home, tahu di mana mereka harus mencari apa.

Lusi Says: December 23rd, 2007 at 11:37 pm Dulu aku juga sempet nyalahin warna detikcom yg bikin mata sakit. Sekarang setelah ganti monitor, ternyata nggak sakit lagi di mata. Kata temen monitor dan video card yg kualitas jelek bisa bikin sakit mata, apapun warnanya, kecuali warna putih atau hitam.

ajeng Says: January 5th, 2008 at 9:06 am #66
dibesarkan dengan cinta? hahaha…. saya dulu keluar dari detikcom karena tidak ada cinta di sana… semuanya saling menjatuhkan… dengki dan iri hati sangat terasa di sana…. hal yang sama dirasakan beberapa pendahulu saya yang sudah keluar…
soal iklan, pendapatan terbesar detik bukan dari iklan… pendapatan terbesarnya dari value added service semisal SMS. besarnya mencapai 70%…
soal tingginya rating di alexa, jangan percaya sepenuhnya… fakta yang sebenarnya tidak sebesar itu… rating detik di alexa tinggi karena setiap kita membuka satu halaman, maka akan dikalikan beberapa kali untuk setiap frame yang ada di halaman itu. dan detik menggunakan angka pengali 6 kali.
untuk mengecek angka pengali ini mudah, bisa dilihat dari page source yang tersedia di masing-masing browser. misal di mozilla menggunakan crtl+U. belum lagi adanya pageview kotor yang itu sengaja dimark-up tim IT di detik, lebih dari 10 persen per harinya.
semoga bisa membuka mata…

Amir Says: January 7th, 2008 at 11:11 pm Mengapa tidak ada yg mengalahkan detikcom? Sederhana jawabannya: karena publik percaya detikcom. Trustnya tinggi, kukira begitu. Kalau ngga ada trust, publik ngga akan kembali mengklik. Penjelasan mengenai faktor2 lain menjadi kurang relevan bobotnya. Soal cinta atau malah cemburu itu bumbu-bumbu saja, yang merupakan manifestasi loyalitas, persaingan dan bahkan pengkhianatan dari dalam maupun luar, watak jamak manusia. Tapi bahwa detikcom dipercaya publik dan dijadikan referensi itu fakta tak terbantahkan. Okezone misalnya, yang dilahirkan dgn genderang bertalu-talu dan promosi besar-besaran, ternyata capaiannya setelah setahun cuma selevel detiksurabaya.com. Setahun itu waktu yg sangat lebih dari cukup, tapi publik kurang mau ke sana. Rangking Okezone bahkan turun sepuluh tingkat dari 64 ke 74. Artinya kuda hitam MNC ini masih sangat jauh dari mampu menyaingi detikcom. Teratas dan rujukan utama tetap detikcom dan kompas. Karena publik lebih percaya. Lanjut...

Sekilas sejarah jurnalisme

JURNALISME memiliki sejarah yang sangat panjang. Dalam situs ensiklopedia, www.questia.com tertulis, jurnalisme yang pertama kali tercatat adalah di masa kekaisaran Romawi kuno, ketika informasi harian dikirimkan dan dipasang di tempat-tempat publik untuk menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan isu negara dan berita lokal. Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai mengembangkan berbagai metode untuk memublikasikan berita atau informasi.
Pada awalnya, publikasi informasi itu hanya diciptakan untuk kalangan terbatas, terutama para pejabat pemerintah. Baru pada sekira abad 17-18 surat kabar dan majalah untuk publik diterbitkan untuk pertama kalinya di wilayah Eropa Barat, Inggris, dan Amerika Serikat. Surat kabar untuk umum ini sering mendapat tentangan dan sensor dari penguasa setempat. Iklim yang lebih baik untuk penerbitan surat kabar generasi pertama ini baru muncul pada pertengahan abad 18, ketika beberapa negara, semisal Swedia dan AS, mengesahkan undang-undang kebebasan pers.
Industri surat kabar mulai menunjukkan geliatnya yang luar biasa ketika budaya membaca di masyarakat semakin meluas. Terlebih ketika memasuki masa Revolusi Industri, di mana industri surat kabar diuntungkan dengan adanya mesin cetak tenaga uap, yang bisa menggenjot oplah untuk memenuhi permintaan publik akan berita.
Seiring dengan semakin majunya bisnis berita, pada pertengahan 1800-an mulai berkembang organisasi kantor berita yang berfungsi mengumpulkan berbagai berita dan tulisan untuk didistribusikan ke berbagai penerbit surat kabar dan majalah.
Kantor berita bisa meraih kepopuleran dalam waktu sangat cepat. Pasalnya, para pengusaha surat kabar dapat lebih menghemat pengeluarannya dengan berlangganan berita kepada kantor-kantor berita itu daripada harus membayar wartawan untuk pergi atau ditempatkan di berbagai wilayah. Kantor berita lawas yang masih beroperasi hingga hari ini antara lain Associated Press (AS), Reuters (Inggris), dan Agence-France Presse (Prancis).
Tahun 1800-an juga ditandai dengan munculnya istilah yellow journalisme (jurnalisme kuning), sebuah istilah untuk "pertempuran headline" antara dua koran besar di Kota New York. Satu dimiliki oleh Joseph Pulitzer dan satu lagi dimiliki oleh William Randolph Hearst.
Ciri khas jurnalisme kuning adalah pemberitaannya yang bombastis, sensasional, dan pemuatan judul utama yang menarik perhatian publik. Tujuannya hanya satu: meningkatkan penjualan!
Jurnalisme kuning tidak bertahan lama, seiring dengan munculnya kesadaran jurnalisme sebagai profesi.
Sebagai catatan, surat kabar generasi pertama di AS awalnya memang partisan, serta dengan mudah menyerang politisi dan presiden, tanpa pemberitaan yang objektif dan berimbang. Namun para wartawannya kemudian memiliki kesadaran bahwa berita yang mereka tulis untuk publik haruslah memiliki pertanggungjawaban sosial.
Kesadaran akan jurnalisme yang profesional mendorong para wartawan untuk membentuk organisasi profesi mereka sendiri. Organisasi profesi wartawan pertama kali didirikan di Inggris pada 1883, yang diikuti oleh wartawan di negara-negara lain pada masa berikutnya. Kursus-kursus jurnalisme pun mulai banyak diselenggarakan di berbagai universitas, yang kemudian melahirkan konsep-konsep seperti pemberitaan yang tidak bias dan dapat dipertanggungjawabkan, sebagai standar kualitas bagi jurnalisme profesional.
**
BAGAIMANA dengan di Indonesia? Tokoh pers nasional, Soebagijo Ilham Notodidjojo dalam bukunya "PWI di Arena Masa" (1998) menulis, Tirtohadisoerjo atau Raden Djokomono (1875-1918), pendiri mingguan Medan Priyayi yang sejak 1910 berkembang jadi harian, sebagai pemrakarsa pers nasional. Artinya, dialah yang pertama kali mendirikan penerbitan yang dimodali modal nasional dan pemimpinnya orang Indonesia.
Dalam perkembangan selanjutnya, pers Indonesia menjadi salah satu alat perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Haryadi Suadi menyebutkan, salah satu fasilitas yang pertama kali direbut pada masa awal kemerdekaan adalah fasilitas percetakan milik perusahaan koran Jepang seperti Soeara Asia (Surabaya), Tjahaja (Bandung), dan Sinar Baroe (Semarang) ("PR", 23 Agustus 2004).
Menurut Haryadi, kondisi pers Indonesia semakin menguat pada akhir 1945 dengan terbitnya beberapa koran yang mempropagandakan kemerdekaan Indonesia seperti, Soeara Merdeka (Bandung), Berita Indonesia (Jakarta), dan The Voice of Free Indonesia.
Seperti juga di belahan dunia lain, pers Indonesia diwarnai dengan aksi pembungkaman hingga pembredelan. Haryadi Suadi mencatat, pemberedelan pertama sejak kemerdekaan terjadi pada akhir 1940-an. Tercatat beberapa koran dari pihak Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang dianggap berhaluan kiri seperti Patriot, Buruh, dan Suara Ibu Kota dibredel pemerintah. Sebaliknya, pihak FDR membalas dengan membungkam koran Api Rakjat yang menyuarakan kepentingan Front Nasional. Sementara itu pihak militer pun telah memberedel Suara Rakjat dengan alasan terlalu banyak mengkritik pihaknya.
Jurnalisme kuning pun sempat mewarnai dunia pers Indonesia, terutama setelah Soeharto lengser dari kursi presiden. Judul dan berita yang bombastis mewarnai halaman-halaman muka koran-koran dan majalah-majalah baru. Namun tampaknya, jurnalisme kuning di Indonesia belum sepenuhnya pudar. Terbukti hingga saat ini masih ada koran-koran yang masih menyuguhkan pemberitaan sensasional semacam itu.
Teknologi dalam jurnalisme
Kegiatan jurnalisme terkait erat dengan perkembangan teknologi publikasi dan informasi. Pada masa antara tahun 1880-1900, terdapat berbagai kemajuan dalam publikasi jurnalistik. Yang paling menonjol adalah mulai digunakannya mesin cetak cepat, sehingga deadline penulisan berita bisa ditunda hingga malam hari dan mulai munculnya foto di surat kabar.
Pada 1893 untuk pertama kalinya surat-surat kabar di AS menggunakan tinta warna untuk komik dan beberapa bagian di koran edisi Minggu. Pada 1899 mulai digunakan teknologi merekam ke dalam pita, walaupun belum banyak digunakan oleh kalangan jurnalis saat itu.
Pada 1920-an, surat kabar dan majalah mendapatkan pesaing baru dalam pemberitaan, dengan maraknya radio berita. Namun demikian, media cetak tidak sampai kehilangan pembacanya, karena berita yang disiarkan radio lebih singkat dan sifatnya sekilas. Baru pada 1950-an perhatian masyarakat sedikit teralihkan dengan munculnya televisi.
Perkembangan teknologi komputer yang sangat pesat pada era 1970-1980 juga ikut mengubah cara dan proses produksi berita. Selain deadline bisa diundur sepanjang mungkin, proses cetak, copy cetak yang bisa dilakukan secara massif, perwajahan, hingga iklan, dan marketing mengalami perubahan sangat besar dengan penggunaan komputer di industri media massa.
Memasuki era 1990-an, penggunaan teknologi komputer tidak terbatas di ruang redaksi saja. Semakin canggihnya teknologi komputer notebook yang sudah dilengkapi modem dan teknologi wireless, serta akses pengiriman berita teks, foto, dan video melalui internet atau via satelit, telah memudahkan wartawan yang meliput di medan paling sulit sekalipun.
Selain itu, pada era ini juga muncul media jurnalistik multimedia. Perusahaan-perusahaan media raksasa sudah merambah berbagai segmen pasar dan pembaca berita. Tidak hanya bisnis media cetak, radio, dan televisi yang mereka jalankan, tapi juga dunia internet, dengan space iklan yang tak kalah luasnya.
Setiap pengusaha media dan kantor berita juga dituntut untuk juga memiliki media internet ini agar tidak kalah bersaing dan demi menyebarluaskan beritanya ke berbagai kalangan. Setiap media cetak atau elektronik ternama pasti memiliki situs berita di internet, yang updating datanya bisa dalam hitungan menit. Ada juga yang masih menyajikan edisi internetnya sama persis dengan edisi cetak.
Sedangkan pada tahun 2000-an muncul situs-situs pribadi yang juga memuat laporan jurnalistik pemiliknya. Istilah untuk situs pribadi ini adalah weblog dan sering disingkat menjadi blog saja.
Memang tidak semua blog berisikan laporan jurnalistik. Tapi banyak yang memang berisi laporan jurnalistik bermutu. Senior Editor Online Journalism Review, J.D Lasica pernah menulis bahwa blog merupakan salah satu bentuk jurnalisme dan bisa dijadikan sumber untuk berita.
Dalam penggunaan teknologi, Indonesia mungkin agak terlambat dibanding dengan media massa dari negara maju seperti AS, Prancis, dan Inggris. Tetapi untuk saat ini penggunaan teknologi di Indonesia --terutama untuk media televisi-- sudah sangat maju. Lihat saja bagaimana Metro TV melakukan laporan live dari Banda Aceh, selang sehari setelah tsunami melanda wilayah itu. Padahal saat itu aliran listrik dan telefon belum tersambung. (Zaky/"PR")***
Sumber:http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0205/07/lapsus01.htm
Lanjut...

Oleh: Andreas Harsono

Istilah jurnalisme sastra adalah salah satu dari sekian banyak nama buat genre tertentu dalam jurnalisme. Wartawan Amerika Tom Wolfe pada 1974 memperkenalkannya dengan nama “jurnalisme baru.” Ada juga yang memakai nama “narrative reporting”. Ada juga yang pakai nama “passionate journalism.” Tapi ada yang secara sederhana mengatakannya “tulisan panjang.”
Tapi intinya, genre ini menukik lebih dalam daripada apa yang kita kenal sebagai “in-depth reporting.” Ia bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa. Tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal tersebut. Tulisannya biasanya panjang. Majalah The New Yorker bahkan pernah hanya menerbitkan laporan John Hersey berjudul “Hiroshima” dalam satu edisi majalah.
Wawancara untuk sebuah laporan bisa dilakukan dengan puluhan, bahkan ratusan, nara sumber. Risetnya juga tidak main-main. Waktu bekerjanya juga tidak seminggu atau dua. Tapi bisa berbulan-bulan. Di Indonesia, ada beberapa penulis yang punya kegemaran menulis panjang. Saya menikmati sekali buku Bondan Winarno, “Sebongkah Emas di Kaki Pelangi” atau artikel-artikel panjang George J. Aditjondro, misalnya, soal Arnold C. Ap, cendekiawan Papua yang mati ditembak tentara Indonesia pada April 1984. Atau kisah bertutur dengan ungkapan “saya” yang digunakan Goenawan Mohamad dalam laporan “Peristiwa `Manikebu’: Kesusastraan Indonesia dan Politik di tahun 1960-an.”
Memang reportase adalah bagian yang melekat dengan jurnalisme ini. Data-data diperoleh dari liputan di lapangan dengan tangguh. Menembus sumber dengan gigih. Pagi hingga malam. Riset yang makan keringat. Wawancara yang berjibun. Ia menukik tajam hingga mampu menterjemahkan, misalnya, sesosok kepribadian manusia dengan segala kerumitannya ke dalam kata-kata.
Bahasanya tidak harus mendayu-dayu. Bahasa bisa lugas. Dari segi struktur karangan, genre ini bentuknya model gelombang sinus. Naik turun. Liar. Tapi ia juga cantik dan memikat. Rasanya pembaca tidak bisa melepaskan karangan itu sebelum tuntas membaca.
Saya sering ditanya apakah karya Seno Gumira Ajidarma “Saksi Mata” masuk dalam kategori jurnalisme? Saya akui karya itu sangat memukau.Tapi karya itu adalah fiksi. Seno tidak menyampaikan fakta yang nyata. Nama-nama diganti. Tempat juga tidak disebutkan jelas. “Saksi Mata” adalah karya fiksi yang memakai data-data pembantaian Dili pada November 1991 sebagai ide cerita.
Ketika mendalami jurnalisme sastra di Amerika, saya selalu diberitahu adanya tujuh pertimbangan bagi seorang wartawan bila hendak membuat laporan dalam genre ini.
Fakta. Jurnalisme selalu mensakralkan fakta. Walaupun genre ini memakai kata “sastra” tapi ia tetap jurnalisme Setiap detail seyogyanya berupa kenyataan. Nama-nama orang adalah nama-nama sebenarnya. Tempat juga memang nyata. Kejadian benar-benar kejadian.
Apabila ada dua orang bertemu dan mengadakan pembicaraan. Seorang wartawan seyogyanya mengecek kepada keduanya apakah benar si A mengatakan ini dan si B mengatakan itu.
Orang mungkin bisa lupa. Orang mungkin bisa berubah persepsi bersamaan dengan perjalanan waktu. Tapi minimal, esensi dari pembicaraan itu harus disetujui A dan B bila hendak dilaporkan dalam jurnalisme.
Kalau berbeda? Ada dua pilihan. Tidak dipakai sama sekali. Atau kalau pembicaraan itu penting, dilaporkan saja dari dua sudut yang berbeda. Si A bilang ini tapi si B bilang lain lagi.
Tapi perbedaan bisa tidak terletak pada esensi. Biasanya ia terletak pada detail. Warna jas, warna dinding, bau minyak wangi, permukaan papan yang kasar atau jenis sepatu bisa diingat secara berbeda oleh orang yang berbeda. Tidak ada salahnya untuk pergi ke situs di mana suatu kejadian terlaksana, untuk mencatat detail di lapangan.
Konflik. Sebuah tulisan panjang lebih mudah dipertahankan daya pikatnya bila ada konflik. Bila Anda berminat membuat laporan panjang, Anda seyogyanya berpikir berapa besar pertikaian yang ada? Mohamad bercerita soal konflik antara para penandatangan Manifes Kebudayaan dengan para pendukung Lekra. Pertikaian ini termasuk besar. Ada polemik di surat kabar. Menteri ini bicara, tokoh partai itu membantah. Akhirnya, Mohamad dan para penandatangan Manikebu dikalahkan dan dilarang menulis.
Tapi konflik bisa berupa pertikaian satu orang dengan orang lain. Ia juga bisa berupa pertikaian antar kelompok. Misalnya, upaya Arnold Ap mengembangkan kesenian Papua berbuntut ketegangan dengan pejabat militer dari Jawa yang dikirim ke Jayapura. Ap ditahan dan ditembak mati.
Konflik juga bisa berupa pertentangan seseorang dengan hati nuraninya. Konflik juga bisa berupa pertentangan seseorang dengan nilai-nilai di masyarakatnya. Pendek kata, pertikaian adalah unsur penting dalam suatu laporan panjang.
Karakter. Jurnalisme sastra mensyaratkan adanya karakter-karakter. Karakter membantu terikatnya suatu laporan. Ada karakter utama. Ada karakter pembantu. Karakter utama seyogyanya orang yang terlibat dalam pertikaian. Karakter utama seyogyanya juga kepribadian yang menarik. Tidak datar dan tidak menyerah dengan mudah (Orang yang mudah menyerah biasanya juga tidak mau dituliskan riwayatnya).
Winarno bicara soal beberapa karakter dalam buku “Sebongkah Emas di Kaki Pelangi.” Ada karakter geologis Michael de Guzman. Ada juga rekan-rekannya dari perusahaan Bre-X. Namun ada juga orang penting Indonesia macam Bob Hasan dan Siti Hardiyanti Rukmana.Winarno menganggap De Guzman, “meracuni” sample hasil pemboran sumur emas dan melakukan kejahatan untuk memperkaya diri sendiri. Winarno memperkirakan bahwa de Guzman masih hidup, tidak mati bunuh diri seperti diberitakan. Winarno melaporkan bahwa mayat yang diklaim sebagai mayat de Guzman tidak memiliki gigi palsu di rahang atasnya seperti dalam rekaman gigi de Guzman.
Mohamad menggunakan dirinya sendiri, lewat penggunaan kata “saya,” sebagai karakter untuk mengikat eseinya. Aditjondro tidak menggunakan kata saya sebanyak Mohamad. Tapi kata itu muncul beberapa kali sesuai gaya Aditjondro.
Akses. Anda seyogyanya punya akses kepada karakter utama atau orang-orang yang mengenal karakter utama. Akses bisa berupa dokumen, korespondensi, album foto, buku harian, wawancara dan sebagainya. Winarno tentu tidak memiliki akses terhadap De Guzman. Orang Filipino itu dinyatakan mati atau menyembunyikan diri. Winarno menengok makamnya, mencari dokumen dan mewawancarai orang yang mengenal De Guzman.
Namun Aditjondro berhubungan dengan almarhum Arnold Ap. Aditjondro mengenal Ap dengan dekat. Mohamad juga kenal dengan orang-orang yang menandatangani Manikebu maupun mereka yang melawannya. Saya sering mengibaratkan akses kepada karakter utama ini dengan akses yang dimiliki oleh seorang penulis biografi. Aksesnya luar biasa. Bisa masuk ke masalah-masalah pribadi karakter utama. Soal percintaan, soal skandal, soal kejahatan dan sebagainya.
Emosi. Jurnalisme sastra membutuhkan emosi dari karakter-karakternya. Emosi bisa berupa cinta. Bisa berupa pengkhianatan. Bisa berupa kebencian. Loyalitas. Kekaguman. Sikap menjilat. Oportunisme dan sebagainya. Emosi menjadikan cerita kita seakan-akan hidup.Emosi karakter juga bisa berubah-ubah bersama perjalanan waktu. Mulanya si karakter menghormati mentornya. Suatu kejadian besar menguji apakah ia perlu tetap menghormati mentornya atau tidak. Di sini mungkin ada pergulatan batin. Mungkin ada perdebatan intelektual. Ini seyogyanya memberikan ruang buat emosi. Apa emosi si karakter ketika tahu ia memenangkan pertarungannya? Apa perasaan si karakter ketika tahu ia dikhianati istri atau suaminya?
Perjalanan Waktu. Mungkin perbedaan antara jurnalisme sehari-hari dengan jurnalisme sastra adalah keterkaitannya dengan waktu. Saya mengibaratkan laporan suratkabar “hari ini” dengan sebuah potret. Snap shot. Sedangkan laporan panjang adalah sebuah film yang berputar. Video.
Robert Vare, mantan editor The New Yorker, menyebutnya “series of time.” Peristiwa berjalan bersama waktu. Ini memiliki konsekuensi penyusunan kerangka karangan. Mau bersifat kronologis, dari awal hingga akhir. Atau mau membuat flashback. Dari akhir mundur ke belakang? Atau kalau mau bolak-balik apa benang merahnya supaya pembaca tidak bingung?
Panjangnya waktu tergantung kebutuhan. Sebuah laporan tentang kehamilan bisa dibuat dalam kerangka waktu sembilan bulan. Tapi bisa juga dibuat dalam kerangka waktu dua tahun, tiga tahun dan sebagainya. Tapi bisa juga sekian menit ketika si ibu bergulat hidup dan mati di ruang operasi.
Kebaruan. Ada unsur kebaruan yang harus Anda pertimbangkan bila hendak membuat laporan panjang. Tidak ada gunanya mengulang-ulang lagu lama. Kalau Anda hendak menulis cerita panjang soal pembunuhan G30S atau kerusuhan Mei 1998, sebaiknya berpikirlah dua atau tiga kali sebelum menjalankan ide ini.
Cukup banyak fakta yang sudah diungkap oleh orang lain soal G30S atau kerusuhan Mei 1998. Ini tidak berarti tidak ada yang masih tersembunyi. Saya percaya masih banyak hal yang belum terungkap dari dua peristiwa besar itu. Tapi bersiaplah untuk mencari fakta-fakta baru. Bersiaplah untuk menembus sumber-sumber yang paling sulit yang belum ditembus orang lain.
Mungkin lebih mudah mengungkapkan kebaruan itu dari kacamata orang-orang biasa yang menjadi saksi mata peristiwa besar. Hersey mewawancarai seorang dokter, seorang pendeta, seorang sekretaris dan seorang pastor Jerman, untuk merekonstruksi pemboman Hiroshima.Secara detail, Hersey menceritakan dahsyatnya bom itu. Ada kulit terkelupas, ada desas-desus soal bom rahasia, ada kematian yang menyeramkan, ada perasaan dendam, ada perasaan rendah diri. Semua campur aduk ketika Hersey merekamnya dan menjadikannya salah satu artikel termahsyur dalam sejarah jurnalisme Amerika. Hersey mempublikasikan karyanya setahun setelah bom nuklir dijatuhkan di Hiroshima.
Konon fisikawan nuklir Albert Eistein tidak bisa mendapatkan edisi The New Yorker pada Agustus 1946 tersebut. Einstein membaca laporan itu karena ia berlangganan. Tapi Eistein ingin membeli enam buah lagi buat teman-temannya. Tapi majalah itu laku habis. Einstein kehabisan.
Apa artinya? Sederhana saja. Einstein menemukan teori baru. Hersey juga menemukan sesuatu yang baru. Hersey menemukan sisi bengis dari bom nuklir! Itu saja. Sumber:
Lanjut...

Belajar pada kasus Tempo

Oleh : Oleh S. Sinansari ecip

Sudah satu minggu lebih kasus Tomy Winata versus Majalah Tempo bergulir dan menghangat. Pada hari kejadian (8/3/2003) kedua pihak sepakat memilih jalur hukum. Satu hari sebelum pendemo datang ke kantor Tempo, pengacara Tomy, Desmond Mahesa mengajukan somasi (teguran) kepada Tempo tentang laporan yang dimuat Tempo terbaru. Tempo diminta mengaku salah, minta maaf, dan meluruskan beritanya.
Waktu tenggat yang diberikan 14 hari.Tempo menggunakan waktu tenggat dari Desmond, tidak buru-buru menjawab somasi. Apalagi akhir minggu adalah waktu tenggat juga buat penerbitan rutinnya. Namun, pengacara Tomy kurang sabar menunggu jawaban dan tampak agak gusar.Di luar, masalah membengkak.
Kedatangan rombongan anak buah Tomy selaku pendemo ke kantor Tempo dianggap sementara orang sebagai premanisme yang berhadapan dengan kebebasan pers, kebebasan menyatakan pendapat, dan bahkan demokrasi. Banyak orang berkomentar, termasuk Amien Rais, yang setuju menghapuskan premanisme. Desmond menganggap ini sudah pembunuhan karakter Tomy. Komisi I DPR akan mengundang kedua belah pihak.Sabtu itu, bersamaan dengan Desmond menggelar jumpa pers tentang somasinya, kantor Tempo di Jl. Proklamasi, Jakarta Pusat, didatangi oleh ratusan orang.
Mereka dari Grup Artha Graha dan Banteng Muda Indonesia, mengancam dan menggebrak meja karena bos mereka konglomerat Tomy Winata merasa disangka Tempo sebagai pembakar Pasar Tanah Abang baru-baru ini.Gagal berunding di kantor Tempo, kedua pihak kemudian berunding lagi di Markas Polres Jakarta Pusat, Jl. Kramat Raya. Mengapa harus berunding di kantor polisi? Apa kesalahan para pendatang ramai-ramai tersebut? Pelajaran apa pula yang dapat ditarik dari jurnalisme Tempo?
Beginilah Mulainya
Menurut sumber Tempo, tiga bulan sebelum kebakaran, Tomy mengajukan proposal pembangunan kembali Pasar Tanah Abang senilai Rp 53 miliard. Dengan menyebutkan dan menguraikannya, sebagian pembaca bisa mengambil kesan atau menafsirkan, Tomy berada di balik pembakaran pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara ini.Pemimpin Redaksi Tempo Bambang Harymurti menepis, Tempo tidak menuduh Tomy pembakar pasar. Tempo tidak mempunyai datanya.
Tomy juga membantahnya dengan mengatakan, tidak mencari makan di Tanah Abang, ingin membantu mereka yang sedang menderita. Menurut Tempo, Tomy bahkan menjanjikan separo kekayaannya akan diberikan siapa yang punya buktinya. Dia merasa terancam oleh sejumlah penelepon gelap setelah pemberitaan Tempo.
Tentang proposal tersebut, Tempo menyebut sumbernya sebagai ''seorang kontraktor arsitektur.'' Dalam pertemuan perwakilan demonstran dengan awak Tempo, soal sumber ini diminta agar dibuka. Demonstran tidak tahu, membuka sumber informasi adalah sangat tabu bagi wartawan. Inilah yang disebut Hak Ingkar/Tolak, yang diakui oleh kode etik jurnalisme dan bahkan dilindungi oleh UU No. 40/1999 tentang Pers.
Perundingan PanasMenarik memperhatikan kronologi peristiwa yang dibuat Ahmad Taufik, wartawan Tempo dan laporan detik.com. Tulisan Taufik disebarkan ke mana-mana melalui e-mail, agar diketahui bagaimana duduk perkara yang sebenarnya. Wakil demonstran kurang lebih 10 orang diterima oleh awak Tempo di kantornya. Begitu perundingan dimulai, serangan keras datang dari tamu.
Mereka mengancam dan menggebrak meja. Awak Tempo dalam posisi bertahan. Sebuah tempat kertas tisu yang dibuat dari kayu dilemparkan seseorang hingga mengenai kepala wartawan Tempo hingga berdarah. Kesepakatan tidak didapat. Digambarkan, seorang wakil demonstran tersebut dengan enaknya menghubungi beberapa petinggi Polda Metro Jaya lewat telepon genggamnya. Dengan ringan dia marah dan mengancam polisi. Sayang tidak digambarkan secara rinci kata-kata yang dikeluarkan dan apakah si oknum benar-benar berbicara dengan polisi atau orang lain di seberang sana.Tiga awak Tempo, Bambang Harymurti (pemimpin redaksi), Ahmad Taufik, dan Karaniya Dharmasaputra menyetujui ajakan perundingan dilanjutkan di markas Polres Jakarta Pusat.
Terjadi pemukulan atas Bambang di halaman dan di kantor polisi. Di televisi terlihat jelas kepala Bambang dijorokkan dari belakang oleh seseorang lebih satu kali. Dalam keterangannya di televisi Bambang meyebut ketegangan lebih besar bisa terjadi bila perundingan tetap dilakukan di kantornya. Pemukulan menurut dia karena yang bersangkutan sedang emosional. Bambang teruji sebagai bukan penaik darah. Akhirnya, kesepakatan didapat, keduanya menempuh jalur hukum.Dalam kesepakatan, David salah seorang pimpinan demonstran, jelas-jelas dituliskan sebagai ''Wakil Tomy Winata.'' Tomy mengakui kenal dengan sebagian para penyerbu ke Tempo karena sebagian adalah karyawannya. Namun, dia menyesal dan tidak menyuruh mereka beraksi. ''Kalau mereka melanggar hukum, usut secara hukum pula,'' katanya kurang lebih.
Agak janggal kalau tindakan seorang wakil tidak diketahui oleh orang yang diwakilinya. Tindakan wakil gubernur, misalnya, tentulah diketahui dan sangat boleh jadi direstui oleh gubernur.
Pelajaran Jurnalisme
Majalah Tempo adalah majalah berita yang bermoto Enak Dibaca dan Perlu. ''Enak Dibaca'' karena 'Tempo menerapkan Jurnalisme Sastra secara konsisten sejak awal. ''Perlu'' karena Tempo sarat dengan informasi.Terhadap informasi yang masih agak meragukan atau yang masih akan dicarikan kejelasannya, Tempo sering menggunakan kata ''konon.''
Laporan Pasar Tanah Abang yang berjudul ''Ada Tomy di 'Tenabang'?'' dibukanya dengan lead, ''Konon, Tomy Winata mendapat proyek renovasi Pasar Tanah Abang senilai Rp 53 miliard. Proposalnya sudah diajukan sebelum kebakaran.'' Pembuka memang harus provokatif tapi tetap harus mengandung fakta kuat.
''Konon'' di sini bisa berarti benar bila informasi berikutnya mendukung, tidak benar bila tidak didapat pembenaran. ''Mendapat proyek renovasi'' adalah simpulan atau opini.Di dalam tatanan, tidak dibenarkan opini wartawan masuk ke dalam fakta. Jurusnya ada, yakni show it, don''t tell it. Tunjukkan faktanya, jangan diceritakan. Jika Tempo hanya menunjukkan faktanya, ada proposal diajukan tiga bulan sebelum kebarakan, mungkin kemarahan demonstran agak berkurang.
Dalam praktik Jurnalisme Sastra, penulis kadang tergelincir dalam penilaian dan penyimpulan atas fakta tersebut.Sebutan ''pemulung besar,'' membuat Tomy tersinggung. Di kalangan redaksi media massa, acap digunakan tanda petik/kutip. Kata yang berada di dalam tanda petik tidak berarti yang sebenarnya.
Tentu Tempo tidak bermaksud menyebut Tomy sebagai benar-benar pemulung besar. Di dalamnya ada sindiran. Di pihak Tomy, tidak peduli dengan tanda kutip itu, istilah pemulung besar dengan atau tanpa tanda kutip diartikan sama.Sumber informasi yang disembunyikan sering dipakai oleh Tempo. Karena kredibelitas Tempo tinggi, orang percaya bahwa sumbernya memang benar-benar ada, pembaca tidak ragu. Tapi karena ingin melindungi sumbernya maka Tempo hanya menulis ''seorang kontraktor arsitektur.''Bagaimana hubungan Tempo dan sumbernya setelah demo?
Itu sama sekali urusan Tempo. Kalau sumbernya memang kuat, hubungannya makin kuat, percaya diri Tempo makin tinggi. Bila sumbernya sembarangan, Tempo perlu lebih hati-hati.Secara jurnalisme, Tempo berkewajiban untuk mengusut ''proposal perbaikan Pasar Tanah Abang'' yang diperolehnya. Ini adalah wilayah publik yang harus dibuka untuk semua orang. Mungkin proposal yang di tangan Tempo kurang meyakinkan, karena itu dilakukan pengecekan kepada Tomy, pimpinan Pasar Jaya, dan lain-lain.
Dari segi ini, Tempo sudah benar. Tidak diperoleh kejelasan dari Tempo, apakah proposal tersebut benar-benar bernilai ataukah sekadar foto kopi yang tidak jelas juntrungannya.Jalan KeluarSudahlah benar pertikaian mengambil jalan hukum. Prosesnya akan panjang dan melelahkan tapi inilah jalan terbaik. Jika ada sengketa dengan pers, gunakan Hak Jawab (perbaikan) dan mengadu ke Dewan Pers.
Bila korban tidak puas, mengadulah ke polisi. Tindakan yang salah dan perlu diusut polisi, biasanya berupa mendatangi kantor media, marah, mengancam, berkelahi, dan merusak. Ini tindakan pidana yang lain.Kepada semua pihak perlu disadarkan, wartawan mempunyai Hak Ingkar/Tolak, tidak mau menyebutkan sumber informasinya. Yang bisa membongkar Hak Ingkar hanyalah hakim yang mengadakan persidangan khusus untuk itu. Alasan yang dipakai haruslah adanya gangguan pada ketertiban umum dan kepentingan nasional. Bila dalam pengadilan wartawan tetap tidak mau membuka sumbernya maka risikonya adalah dia akan dihukum.
Rata-rata wartawan yang kesatria, akan memilih risiko ini.Pimpinan media menurut UU No. 40/1999, hanyalah Penanggung Jawab, yang bertanggung jawab atas semua kegiatan media. Tapi, secara praktik, media masih menggunakan aturan lama, yakni ada pemimpin umum, pemimpin redaksi, dan pemimpin perusahaan. Dalam kaitan berita, maka menurut UU No. 21/1982 penanggung jawabnya adalah pemimpin redaksi. Tindak pidana pers dewasa ini tunduk pada UU No. 40/1999, yang memberlakukan undang-undang yang sudah ada. Itu yang dimaksud adalah KUHP.
Di dalam KUHP, dia yang berbuatlah yang akan diadili. Di Tempo yang menggunakan sistem editing yang kuat, maka yang akan disangkakan sebagai pelaku deliknya ialah redaktur, bukan reporter. Reporter, redpel, pemred berada dalam jajaran pelaku pembantu/peserta, bukan pelaku utama.Kehati-hatian memang diperlukan. Tempo perlu lebih cermat dalam menjalankan fungsi kontrol yang dilindungi undang-undang. Massa atau pendomo juga perlu belajar, pers adalah pilar sangat penting dalam berdemokrasi, tidak sekadar untuk kebebasan pers ataupun kebebasan menyatakan pendapat. Menghalangi proses informasi pers, melanggar UU No. 40/1999 Pasal 4 dan 18 dengan ancaman penjara dua tahun atau denda Rp 500 juta. Mungkin ancaman itu kecil bagi pihak tertentu. Apa pun, kasus ini membuat sebagian besar kita siuman, kita masih berada dalam taraf belajar.
Lanjut...

BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Aksi penganiayaan kepada wartawan kembali terjadi. Dua wartawan Lampung Mega Televisi mengalami luka memar setelah dipukuli oleh puluhan preman saat meliput proses tender di Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji-Sekampung.
Informasi yang diperoleh Kompas, Jumat (18/1) petang ini dari Firman Seponada, Deputi Pemberitaan Lampung Mega Televisi atau L-TV menyebutkan, dua wartawan L-TV yang dianiaya itu kameramen Hariadi dan reporter Sri Hastuti.
Kejadian bermula ketika Hariadi meliput proses tender di Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji-Sekampung pukul 12.00. Sesampainya Hariadi di lokasi, ia melihat banyak orang berkumpul dan berkerumun. Kemudian ia langsung mengeluarkan kamera dan mengambil gambar kerumunan tersebut.
Di saat Hariadi tengah mengambil gambar, seorang pria tidak dikenal mendatangi Hariadi. Ia mempertanyakan izin pengambilan gambar itu. Karena tidak memiliki izin, Hariadi menjawab, ”Tidak ada yang memberi izin. Saya di sini meliput,” Hariadi.
Pria tidak dikenal itu lantas mengancam Hariadi dan memaksa Hariadi memberikan kaset rekamannya. Merasa diintimidasi dan diancam, Hariadi menyerahkan kaset tersebut. Namun Hariadi kemudian menelepon redaksi L-TV dan melaporkan intimidasi tersebut.
Redaksi L-TV memutuskan mengirim perwakilan untuk mengklarifikasi kejadian tersebut. Pukul 15.00 enam wartawan L-TV dan tiga kontributor televisi nasional untuk Lampung segera mendatangi Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji-Sekampung untuk mengklarifikasi.
Di kantor balai besar itu, perwakilan L-TV dan tiga kontributor televisi tidak dapat menemui siapapun termasuk Kepala Kantor Balai Besar. Namun perwakilan L-TV sempat menemui pria tak dikenal yang mengintimidasi Hariadi dan mengklarifikasi, wartawan tetap diperbolehkan meliput proses tender. ”Karena itu proses terbuka,” jelas Firman.
Belum selesai perwakilan L-TV mengklarifikasi, puluhan pria tidak dikenal malah mengerubungi dan mendorong-dorong sembilan wartawan itu. Sri Hastuti yang ingin melerai justru mendapat tamparan di pipi kanan. Sementara Hariadi mendapat bogem mentah dan membuat pelipis mata kiri Hariadi lebam.
Beruntung pihak L-TV segera melapor kepada polisi sehingga satu mobil patroli dikerahkan menuju ke kantor Balai Besar Wilayah Sungai. Dua butir peluru sempat ditembakkan untuk mengakhiri kerusuhan itu.
Tiga preman sudah diamankan di Polsek Telukbetung Selatan, yaitu Patrik Hopa, Yen El, dan Lanang Gunawan (salah seorang diantaranya adalah PNS di Dinas Pengairan—Red). Proses verbal atas penganiayaan itu selesai pukul 19.00 ini. Sri dan Hariadi sekarang masih di RS Bumi Waras untuk mendapatkan visum.(HLN ). Sumber: http://www.kompas.com/
Lanjut...

JAKARTA - Bersihar Lubis, penulis kolom yang sedang dituntut ke pengadilan, mengaku khawatir kasus yang dialaminya akan membunuh pemikiran kreatif para penulis lainnya. Padahal pemikiran mereka berguna untuk mencerdaskan bangsa.
Kekhawatiran Bersihar didasari karena proses hukum yang dijalaninya dianggap berlebihan dan tidak ada nilai prestasi untuk dibanggakan bagi bangsa. “Adakah gunanya memenjarakan saya?” katanya. Meski demikian ia mengaku siap menghadapi kasusnya.
Pernyataan tersebut dikemukakan Bersihar ketika menjadi pembicara dialog “Dewan Pers Menjawab” yang disiarkan stasiun TVRI, Rabu, 5 Desember lalu. Hadir juga sebagai pembicara dialog ini pengamat pers, Nono Anwar Makarim, dan Wakil Ketua Dewan Pers, Leo Batubara. Dialog bertema “Menggugat Opini di Media Massa” ini dipandu Anggota Dewan Pers, Wina Armada Sukardi.
DunguKasus yang dialami Bersihar bermula dari tulisannya yang dimuat harian Koran Tempo, 17 Maret 2007, berjudul “Kisah Interogator yang Dungu”. Dalam tulisannnya Bersihar mengkritik pelarangan buku sejarah oleh Kejaksaan Agung. Untuk bahan pendukung tulisan, ia mengutip perkataan Joesoef Ishak yang isinya: "Saya telah disiksa oleh kedunguan interogator, dan interogator telah disiksa oleh atasan mereka yang lebih tinggi tingkat kedunguannya." Interogator yang dimaksud Joesoef adalah seorang staf Kejaksaan yang sedang menginterogasinya karena ia menerbitkan novel Pramoedya Ananta Toer pada masa Orde Baru.
Tulisan Bersihar membuat staf Kejaksaan Negeri Depok merasa terhina. Bersihar pun dituntut ke pengadilan karena dianggap telah menghina Kejaksaan Agung, melanggar Pasal 207, 316, 310 KUHP. “Saya ingin urun-rembuk mengenai pelarangan buku sejarah,” cerita Bersihar tentang tulisannya. Tulisan itu, menurutnya, adalah bentuk dari kririk atas kondisi yang ada.
Nono Anwar Makarim mengatakan kasus yang dialami Bersihar unik. Sebab biasanya prinsip dasar dalam penghinaan, sesuai Pasal 207 KUHP, terkait dengan pribadi. Tapi, dalam kasus ini, yang merasa dihina adalah institusi atau lembaga yaitu Kejaksaan. “Dalam kasus ini yang tersinggung adalah lembaga,” katanya.
Pemberlakuan Pasal 207 yang dikenakan kepada Bersihar, lanjut Makarim, pada zaman penjajahan dulu diberlakukan dengan prinsip tidak ada kedaulatan bagi rakyat yang dijajah. Hanya ada kedaulatan bagi Ratu negara penjajah.
Makarim mengakui masih ada sejumlah pasal dalam KUHP yang tidak lagi sesuai dengan peradaban yang baik, misalnya pasal tentang pencemaran nama. “Kita harus mengumpulkan daya untuk memisahkan beberapa pasal (dalam KUHP) dan mengajukan ke Mahkamah Konstitusi,” ungkapnya.
Sementara itu Leo Batubara menyesalkan upaya pemidanaan terhadap tulisan Bersihar. Menurutnya, pihak yang tidak setuju dengan pendapat Bersihar seharusnya mengimbangi dengan membuat tulisan lain, sebagai Hak Jawab, yang juga dimuat di koran. Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menurut Leo, sudah memberi pelajaran yang baik mengenai hal ini dengan menggunakan Hak Jawab ketika merasa dirugikan oleh pers.
Peran pers dalam pembangunan bangsa sekarang ini, Leo berpendapat, adalah dengan mengatakan salah kalau salah dan begitu juga sebaliknya. “Kalau ada penyakit harus katakan ada penyakit,” katanya. “Temuan pers yang negatif bukan bermaksud menghina institusi itu tapi mari kita perbaiki.” Sumber: http://www.dewanpers.org/
Lanjut...

Anggota Dewan Pers, Bambang Harymurti, mengkhawatirkan tingkat kemerdekaan pers Indonesia tahun depan akan turun. Sebab selama tahun 2007 terjadi beberapa kasus eksekusi dan pengadilan terhadap wartawan.Ia mencontohkan kasus hukuman penjara setahun terhadap Dahri Uhum Nasution, wartawan tabloid Oposisi, Medan. Kasus lainnya yaitu eksekusi enam bulan penjara terhadap Risang Bima Wijaya, wartawan dan mantan Pimpinan Umum Radar Yogya. “Ada lagi penulis yang dituntut delapan bulan penjara karena menulis opini,” katanya saat menjadi pembicara dialog “Dewan Pers Menjawab” yang disiarkan stasiun TVRI, Rabu, 19 Desember lalu.
Menurut Bambang, Dewan Pers baru saja mengeluarkan pernyataan terbuka untuk mengingatkan aparat hukum agar ikut melindungi kemerdekaan pers. “Pemerintah bertanggung jawab melindungi kemerdekaan pers,” tegasnya.
Sampai sekarang ancaman terhadap wartawan, saat melakukan kegiatan jurnalistik, masih sering terjadi. Ancaman dari negara memang relatif berkurang dibanding masa Orde Baru namun ancaman lain datang dalam bentuk konglomerasi.
Selama tahun 2007 praktik penyalahgunaan profesi wartawan juga banyak muncul. Menanggapi hal ini Dewan Pers telah resmi mengeluarkan pernyataan agar masyarakat melapor ke polisi jika ada wartawan melakukan kegiatan di luar jurnalistik, seperti memeras. “Dalam tugas jurnalistik tidak ada pengancaman,” tegas Bambang. Di samping itu Dewan Pers terus menyosialisasikan Kode Etik Jurnalistk tidak hanya kepada wartawan tetapi juga ke berbagai kalangan.
Belum Beranjak
Dalam acara yang sama Direktur Komunikasi The Habibie Center, Makmur Makka, menilai pada tahun 2007 profesionalisme pers belum banyak beranjak dibanding tahun sebelumnya. Masih banyak suratkabar yang digunakan untuk hal negatif.
Dalam pilkada, misalnya, pers “berselingkuh” dengan para calon. Menurutnya citra wartawan menjadi rusak karena praktik semacam itu. “Mereka merugikan publik karena berita bias, tidak fair karena berkolaborasi dengan sumber berita. Sebagian bahkan mau menghakimi pejabat tertentu dengan imbalan,” katanya.
Sementara pembicara lainnya, wartawan NNChannels, Mega Simarmata, menilai citra buruk pers muncul karena ada oknum yang mengaku wartawan. Mereka memanfaatkan profesi wartawan untuk kepentingan pribadi dan memeras. “Kita harus obyektif melihat wartawan karena ada orang-orang yang mengaku wartawan,” katanya.**
SMS PENONTON
“Pers Indonesia sekarang ini menurut saya beda-beda tipis dengan pers Orde Baru. Juga pers sekarang ini banyak yang tidak mengerti jurnalistik” (0813.15367xxx)
“Pers sebenarnya harus melihat keterbukaan globalisasi dan perkembangan masyarakat sehingga pers dirasakan sangat diperlukan oleh masyarakat” (0852.43632xxx)
“Pada dasarnya saya sebagai masyarakat awam tetap membela pers tetapi banyak berita yang tidak diberitakan lagi kelanjutannya. Saya sangat kecewa” (0813.62031xxx)
“Pers di daerah memang berselingkuh dengan aparat hukum. Mana berani pers membuka aib aparat hukum. Terutama apa yang telah dilakukan polisi dan jaksa di daerah” (0812.6696xxx)
“Saya membaca Koran. Di sini terlihat bila wartawan sudah masuk dalam sistem pemerintahan maka mereka tidak kritis lagi malah jadi corong penguasa” (0852.60343xxx)
“Kekuatan media itu ada pada independensinya. Jadi media yang tidak independen pasti mati” (0813.43160xxx)
“Apakah tidak ada aturan atau syarat pendidikan bagi wartawan. Sebab banyak wartawan yang pendidikannya sangat rendah sehingga perilaku dan etikanya juga rendah” (0815.41455xxx)
“Sebenarnya wartawan selalu dianggap musuh orang yang berkelakuan tidak jujur dan tidak mau menerima kiritikan, khususnya melakukan penyelewengan” (Sumber: http://www.dewanpers.org/
Lanjut...

1.Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)
Ketua: Tarman Azzam wakil: Bambang Sadono alamat: Gedung Dewan Pers Lt. III.Jl. Kebon Sirih 32-34 Jakarta.Telp. (021) 3453131, 3862041.Fax. (021) 3453175.Homepage:.E-mail : asiancaj@mega.net.id.

2.Sekretariat Wartawan Independen Indonesia (SWII).
Ketua : KRMH Gunarso G.Kusumadiningrat.Wakil : Abdullah AZ Lestaluhu.Alamat : Jl. Salemba Tengah No. 24.Jakarta Pusat.Telp. (021) 31901854.Fax. (021) 31901856.Homepage:.E-mail :.

3.Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI).
Ketua : R. Priyo M. Ismail, SH.Wakil : Sakata Barus.Alamat : Gd. Dewan Pers Lantai IX.Jl. Kebon Sirih 32-34.Jakarta Pusat.Telp. (021) 385 3064.Homepage:.E-mail :.

4.Himpunan Wartawan Muslim Indonesia (HIWAMI).
Ketua : H. Erwin Amril.Wakil : H. Murjani, BA.Alamat : Jl. Cempaka II/16,Duren Sawit, Jakarta Timur.Telp. (021) 8605173, 8612363.Fax. (021) 8605173.Homepage:.E-mail :.

5.Himpunan Insan Pers Seluruh Indonesia (HIPSI)
Ketua : Drs. M.A. Nasution,SHWakil : Achdar Syunany SAlamat : Jl. Berlian Raya II Kav. 664Sumur Batu, Cempaka Putih Jakarta Pusat,Telp. (021) 9141651, 4201167Fax. (021) 4223179, 4264930Homepage:E-mail :
6.Himpunan Insan Penulis dan Wartawan Indonesia (HIPWI)
Ketua : Drs. R.E. Hermawan. S. BSc.Wakil : Drs. Himat R.J. SoeganjarAlamat : Miramar Building Lt. IIIJl. Alun-alun Timur No. 1 Bandung.Telp. (022)4215166Homepage:E-mail :

7.Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI)
Ketua : Darwin HulalataWakil : Robin R. PurbaAlamat : Jl. Ikan Krapu Kolombo No. 8 B, Surabaya.Telp. (031) 3544405HP. 0818327467Homepage:E-mail :

8.Komite Wartawan Indonesia (KWI)
Ketua : Herwan SagamWakil : H. HutagalungAlamat : Jl. Ikan Pari No. 72, Teluk Betung,Bandar Lampung.Telp. (0721) 485863Homepage:E-mail :

9.Aliansi Jurnalistik Indonesia (ALJI)
Ketua : Rendy SoekamtoWakil : M. Sokran HarisAlamat : Griyo Mapan Santosa C.A No. 14, Waru, SurabayaTelp. (031) 867 9970, 868 4321HP. Rendi 081 23203235Homepage:E-mail :

10.Kesatuan Wartawan Demokrasi Indonesia (KEWADI)
Ketua : M. Suprapto S, SosWakil : OK. Syahlan, BAAlamat : Jl. Balap Sepeda IV No. 22 Jakarta Timur.Telp & Fax. (021) 4703777Homepage:E-mail :

11.Asosiasi Wartawan Muslim (AWAM) Indonesia
Ketua : S. Satya DarmaWakil : Drs. WS. KoencoroAlamat : Jl. Raya Ceger No. 29 Jakarta TimurTelp. (021) 844 4913Homepage:E-mail :

12.Ikatan Wartawan Republik Indonesia (IWARI)
Ketua : Drs. Robby S RumbayanWakil : Andi Ichwan AzisAlamat : Jl. Kepu Dalam II No. 49 Jakarta Pusat.Telp. (021) 4203136Fax. (021) 3150851HP. 08129173082Homepage:E-mail :

13.Persatuan Wartawan Foto Indonesia (PWFI)
Ketua : H.M. Sampelan, SHWakil : Bambang TrimulyonoAlamat : Jl. Ngagel Jaya Selatan 14 Surabaya.Telp. (031) 5614358Fax. (031) 5014382.Homepage:E-mail :

14.Persatuan Wartawan Pelacak Indonesia (PEWARPI)
Ketua : Andi Amiruddin Mallarangan, DPWakil : LasmiAlamat : Jl. Salak V No.6. Dpk Tim.Telp. (021) 7703957Homepage:E-mail :

15.Aliansi Jurnalis Independen(AJI)
Sekjen : Didik SupriyantoManajer Kantor: Puthut YuliantoAlamat : Jl. LAN I No. 12 A Pejompongan Jakarta PusatTelp. (021)571 1044Fax. (021)571 1063Homepage : www.aji.or.idE-mail : ajioffice@aji-indonesia.or.id

16.Serikat Pekerja Kewartawanan Indonesia Serikat Pekerja Seluruh Indonesia(SERIKAT PEWARTA)
Ketua :
MaspendiWakil : Yatim KelanaAlamat : Jl. Raya Pasar Minggu Km 17 No. 9Jakarta Selatan.Telp. (021) 7974359, 7988242Fax. (021)7974361Homepage:E-mail :

17.Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI)
Ketua : Haris JauhariWakil : Nugroho S. YudoAlamat : Jl. Danau Poso D 1 No.18 Pejompongan, Jakarta PusatTelp. (021) 5707918,Fax. (021) 5732911.Homepage:E-mail : mohfireman@yahoo.com

18.Himpunan Praktisi Penyiaran Indonesia (HPPI)
Ketua : Dr. H. Sutomo ParasthoWakil : Drs. Samoel PardedeAlamat : Jl. Raya Pondok Gede No.96 Jakarta TimurTelp. (021) 8414311 – 13Fax. (021) 8414314.Homepage: www.prssni.or.idE-mail : ppjkt@indosat.net.id

19.Serikat Pers Reformasi Nasional(SEPERNAS)
Ketua : Drs. G. RuslyWakil : Drs. Laode HazirunAlamat : BTP. Blok C – 40 Ujung PandangHomepage:E-mail :

20.Asosiasi Wartawan Ekonomi (AWE)
Ketua : Firdaus BaderiWakil : Edo KuntadiAlamat : Jl. Kalibata Raya Rajawali Timur II No. 11, Jak-SelTelp. (021) 7984579, 7901978Fax. (021) 7901040Homepage:E-mail:

21.Korps Wartawan Republik Indonesia (KOWRI)
Ketua : H. Lahmudin Bakry Nasution. (almarhum 19/04/01)Wakil : A.F. Tahir SamAlamat : Jl. Kereta Api No. 1 Lt. II Gedung Stasiun Besar Kereta Api,MedanTelp. (061) 847 4180Fax. (061) 415 8297Homepage:E-mail :

22.Ikatan Pers dan Penulis Indonesia (IPPI)
Ketua : H. Amir Hamzah Tamin, BAWakil : Amran Effendy Ritonga,BAAlamat : Jl. H.M Joni Gg Asli No. 4 Medan.Telp. (061) 7350881Homepage:E-mail :

23.Silaturahmi Wartawan Muslim Indonesia (SWAMI)
Ketua : H. Ramlan MardjonedWakil : Drs. HM. LutfieAlamat : Jl. Salemba Tengah No. 19 Jakarta PusatTelp. (021) 3908679, 3154057Fax. (021) 3153928Homepage:E-mail :

24.Ikatan Wartawati Indonesia (IWI)
Ketua : Rosihan Sinulingga, SHWakil : Dra. Rachel, SMAlamat : Jl. Pahlawan Revolusi, Pondok Bambu Maesonette No. 4,Jakarta Timur.Homepage:E-mail :

25.Komite Wartawan Pelacak Profesional Indonesia(KO-WAPPI)
Ketua : Ida Faridah Lubis SHWakil :Alamat : Jl. Yaktapena Raya Blok K-8 No. A 21, Komplek PertaminaPondok Ranji Ciputat 15412Telp. (021) 740 8717Homepage:E-mail :

26.Persatuan Wartawan Reaksi Cepat Pelacak Kasus (PWRCPK)
Ketua : Jaja Supardja RamliWakil : H. Zeid Arifin, SHAlamat : Jl.Kapten Tendean Rt.010/01 No. 45 Mampang Prapatan,Jakarta 12790Telp. (021) 791 96124, 791 80132Fax. (021) 791 98836Homepage:E-mail :

27.Asosiasi Solidaritas Wartawan Indonesia, Gerakan Moral Peduli AmanatRakyat (ASWARI GEMPAR)
Ketua : Drs. Achmad MurdjokoWakil : A.S. NasutionAlamat : Jl. Cut Meutiah No. 14 Cikini, Jakarta PusatTelp. (021) 314 5304Homepage:E-mail :

28.Persatuan Wartawan Nasional Indonesia (PWNI)
Ketua : Endang Z BahrudinWakil : M. AritonangAlamat : Jl. Petojo VIY 1 No. 40 Jakarta Pusat.Telp. (021) 3500644Homepage:E-mail :

29.Persatuan Pers Nasional Indonesia (PPNI)
Ketua : Robin R. PurbaWakil : Drs. Amir CandraAlamat : Jl. Wiyung Indah Perumahan Taman Pondok Indah Blok G.10,SurabayaTelp. (031) 766 7785Jl.Tipar Tengah No. 54 , RT 001/09, Mekarsari, Cimanggis,Depok.Telp. (021) 873 2731Homepage:E-mail :

30.Komite Wartawan Independen Indonesia (KWII)
Ketua : Ir. Arsyid Silajim, SH, MBA, MSc,MMWakil :Alamat : Jl. Gajah Mada No. 88 Bandar LampungTelp. (0721) 252080, 8732731Homepage:E-mail :

31.Serikat Pers Republik Indonesia (SPRI)
Ketua : Drs. Laxy Rumengan, MBAWakil :Alamat : Gedung Wira Purusa LVRI DKI Jaya,Jl. Raden Inten II/2, Jakarta TimurTelp. (021) 9195680, 29143207Fax. (021) 8651953.Homepage:E-mail :

32.Persatuan Wartawan Independen Indonesia (PWII)
Ketua : H. HermansyahWakil :Alamat : Jl. Dakota II-b No. 102-104 Bandar Kemayoran JakartaTelp. (021) 650 03770, 428 77066HP 081 8920152Homepage:E-mail :

33.Komite Perlindungan Wartawan Indonesia (KPWI)
Ketua : Haris JauhariWakil :Alamat : Jl. Danau Poso 18, Bendungan Hilir, Jak. Pus.Telp. (021) 5707918Fax. (021) 5732911Homepage:E-mail :

34.Komite Jurnalis Indonesia (KJI)(Tidak ada kegiatan sejak 08/00 mnr si pemilikrumah)
Ketua : Argo PratomanugrohoWakil : Wadie Maharief Z.AAlamat : Jl. Lowanu No. 60 Sorosutan Umbulharjo, Yogyakarta 55162.Telp. (0274) 371141Fax. (0274) 375183Homepage:E-mail :

35.Komite Nasional Wartawan Indonesia (KOMNAS-WI)
Ketua : TM. Fauzie MSWakil : H. Hasan IlyasAlamat : Jl. Budi RT 01/08 No. 8 Cawang III – Jakarta TimurTelp & Fax (021) 8006414Homepage:E-mail :

36.Ikatan Penulis dan Jurnalis Indonesia (IPJI)
Ketua : Taufiq Rahman, SHWakil : Titus HutabaratAlamat : Jl. Salemba Tengah No. 78 Jakarta PusatTelp. (021) 3912247, 3156085Fax. (021) 3908595.Homepage:E-mail :

37.Gabungan Wartawan Indonesia (GAWANI)
Ketua : Fowa’a HiaWakil : Posma HutapeaAlamat : Jl. H. Amsir No. 5, Sunter Jakarta Utara.Telp. (021) 6506979.Homepage:E-mail :

38.Federasi Wartawan Independent Indonesia Baru (FWIIB)
Ketua : CNO Haznan A. TanjungWakil : Eka Mediely, S.HAlamat : Jl. Karunia No. 14 Rt. 08/03 Kelurahan Umban Sari KecamatanRumbai Pekanbaru, RiauTelp. (0761) 555 146, 555 149HP. 081 1769627Homepage:E-mail :

39.Persekutuan Oikumene Jurnalis Kristen Indonesia (PROJUSTISIA)
Ketua : Prof. Dr. Willy Karamoy M.A, APUWakil : Ev. Robinson Togap Siagian DSTPAlamat : Wisma KORANDOJl. Swadaya VII No. 25 Depok.Telp. (021) 772 01304Fax. (021) 776 4887Homepage:E-mail :

40.Persatuan Wartawan Indonesia Reformasi (PWI-REFORMASI)
Ketua : Budiman S. HartoyoWakil : Edy MulyadiAlamat : Jl. Mangga II/45, Jatibening II, Pondokgede Bekasi 17412Telp. (021) 847 8587Pager 13022 ID 72351HP: 0812 9909269Homepage:E-mail :pwiref-kornas@journalist.com

41.Aliansi Wartawan Indonesia (AWI)
Ketua : R. Mustapa, BScWakil : Marihot Sitompul, BAAlamat : Jl. PrAmuka Jati No. 5 Jakarta 10440 Jakarta PusatTelp/fax. (021) 924 9132Homepage:E-mail :

42.Komite Jurnalis Indonesia (KJI)
Ketua : Antarini Adam MalikWakil : Helmi MarpaungAlamat : Jl. Diponegoro No. 17 JakartaTelp/fax. (021) 390 8588, 310 0495Pager 13038-390 2828 pes. 17354HP 0812 9927390Homepage:E-mail :yasogama@indosat.net.id

43.Ikatan Jurnalis Penegak Harkat dan Martabat Bangsa (IJAP HAMBA)
Ketua : Boyke M. Nainggolan, MBAWakil : Drs. M.K.P SinurayaAlamat : A1-15, Bukit Utara Road-Bukit Modern Estate Pondok CabeTelp. (021) 912 9714Fax. (021) 747 04690Jl.Bungur Besar Raya No. 40Telp. (021) 420 8440Homepage:E-mail :pembahar@jakarta.wasantara.net.id Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda