Impian Tak Sampai

Cerpen Moses Lama Aluk

TAK pernah aku bermimpi indah tentang cinta, namun akhirnya datang juga. Aku menyibak tirai merah adalah kenangan masa silam kala itu di tanah rantau. Perlahan awan menyapu rembulan yang baru terbit membuat bumi puasa kegelapan. Tibalah sosok wajah ayu di depanku di sebuah pertokoan. Dengan senyum ia menyapaku. Aku tersentak sadar dari lamunanku yang jauh di ujung nusa bunga. Spontan ia meminta kesediaanku mengatarnya ke alamat Papa dan Mamanya. Dalam perjalanan, ia menceritakan bahwa sebenarnya dia ikut bersama orangtuanya sewaktu mutasi, namun mumpung studinya belum selesai maka dia baru menyusul sekarang

Ia lalu menyodorkan kartu namanya ketika sampai di depan halaman rumah permanen. Ternyata, ayahnya seorang Kepala Bank Labuan Malaysia. Aku tertegun mendengar penuturannya dan menyaksikan sendiri isi rumah itu yang memang lengkap dengan segala fasilitasnya. Seperti aku tak percaya penglihatanku. Aku lalu disuguhkan minuman dan diajak makan bersama di rumahnya. Perasaanku dirasuki takut yang tiba-tiba datang. Aku takut pamit pulang.
Keesokan harinya aku menghubungi via telepon, bahwa kami berjumpa di Paksonria sebuah bangunan bertingkat yang dikunjungi pengunjung silih berganti. Kami memilih sebuah tempat di taman bunga. Di sana percikan cinta mulai tertanda dalam relung hatiku, cinta tumbuh dari empat mata dua senyum yang berpapasan. Pertemuan inilah yang membuat impianku semakin menerawang jauh di alam khayal, menghayal segala- galanya. Sungguh indah dunia bagai milik kami berdua. Kadang ia menjemputku dengan mobil mewah dan membawaku menikmati indahnya Kota Labuan. Hubungan kami kian erat, bahkan bertambah intim dan tak dipisahkan. Misteri cinta yang terpatri erat dalam sanubari, tak setitik mata insan lain yang mengetahui keintiman kami. Hanya kami berdua saja yang boleh menyingkap rahasia ini. Keluarganya tak pernah menghalangi pergaulan kami, walau dengan cara sekecil apa pun. Masih teringat jelas dalam hatiku, di suatu kesempatan indah yang tak dapat kulupakan, walau ditelan waktu dan selaksa musim.
Nurhayati adalah sebuah nama yang kukenang dalam impian dan tersimpan dalam kotak batinku yang tak akan dimakan rayap walau digilas sejuta zaman. Hari berganti hari, bulan silih berganti, begitu pula tahun terasa cepat sekali berlalu. Tanpa terasa hubungan kami sudah sangat jauh dalam sebuah petualangan cinta. Tibalah kami di sebuh tikungan jalan yang membuat kami harus berpisah.
Dalam perjalanan menuju sebuah arti rumah tangga, tiba-tiba langkah kami tersendat, aku tersentak sadar ketika seorang laki- laki mudah bertubuh kekar mencegatku. Pemuda itu menghinaku dan mengancamku, sambil mengaku dirinya adalah abangnya Nur satu-satunya.
Amarahnya tak dapat diredam oleh orang-orang di seputarku, hanya adiknya yang mampu membelaku dengan mengancam.
"Kalau kau berani melukai calon suamiku, akan kau lihat mayatku berbujur kaku di hadapanmu." Sembari memegang botol minuman yang sudah dipecahkannya sedikit dan tajam sekali. Aku cuma kaku menatap adegan ini, tak sadar kubisik pada Nur.
"Pergilah bersama abangmu. Tolonglah aku tak sanggup menerima kenyataan ini, tapi aku akan bertanggung jawab atas bayi dalam kandunganmu." Dengan mengendarai Both meluncur pergi dan menghilang dari padanganku. Aku terpaku, malu menatap sekelilingku. Hanya tangisku yang terpendam bergelora dalam sukma berkecamuk dasyat menghancurkan hatiku.
Dengan sisa tenaga yang ada aku bangkit pulang. Ingin rasanya menguburkan diriku sebelum ajal, namun aku sadar akan janji yang telah kuucapkan sebelum kami berpisah. Tubuhku lemah tak berdaya dililit dilema yang mencekam. Kutegarkan hatiku. Kuhirup embun kerinduan, kukumpulkan kembali diary biru yang tercecer adalah lembaran kepingan cintaku. Di sana kutemukan sebuah lukisan wajah seorang gadis yang aku cintai. Bila rindu datang menggebu dan mataku terbentur figur wajah Nurhayati, hatiku jadi hampa dan ini semua membuat aku hampir mati dan gila.
Sebulan kemudian aku dikabari Nur bahwa mereka akan kembali ke kota kelahiran ayahnya, Kuala Lumpur, maka aku diharapkan datang ke rumah besoknya, apa pun risikonya. Begitulah ucapan yang kudengar dari teleponnya. Nasibku ibarat telur diujung tanduk, aku justru berpikir panjang sampai di sinikah riwayatku.
Haruskah aku ke sana melihat wajahnya buat terakhir kalinya, atau aku membatalkan saja permintaannya. Aku pada jalur bingung yang menyuruhku harus berhati-hati. Tapi bukankah cinta musti harus berkorban. Aku kembali bertanya pada segenap jagat, tak satu pun mengatakan dengan pasti. Hanya suara hatiku yang mampu memutuskan semua ini.
"Demi cinta sucimu yang telah kau ikrarkan padanya seumur hidupmu hanya Nur di hatimu maka penuhilah undangannya walau apa pun yang akan terjadi."
Jawaban sudah pasti, kubulatkan tekadku untuk bertemu untuk kali terakhir, biar berakhirlah segalanya. Agar sirna musnah dan terlupakan. Aku bergegas ke rumahnya setelah berkeramas seadanya, tibalah aku di pintu gerbang Bangto yang indah. Taksi lalu bergeser pulang setelah menerima beberapa uang logam dariku. Terlihat olehku sebuah pemandangan indah di depan teras rumah itu. Wajah seorang gadis ceria keluar menyambutku. Dengan senyum khasnya dan tangan mengembang sedang mukanya tertutup cadar. Namun, aku tak salah duga. Dia adalah calon istriku. Aku lalu disambut masuk, setelah dipersilahkan duduk, ibunya lalu angkat bicara.
"Dengarlah anakku, walaupun engkau telah mengandung dan sekarang janin berusia tujuh bulan, tapi apa boleh buat. Ibu tak merestui pernikahanmu. Aku tetap bersikeras, walau ayahmu mengiyakan semua ini dan karena itu, kita sekarang pulang ke Kuala Lumpur. Mak kulunakan hatiku biar kau jumpa untuk terakhir kalinya," kata ibunya.
Aku bagai tersambar petir pagi itu. Tangis dengan sendirinya meledak tak terhalang. Aku hanya bisa menangis dan menangis terus. Lalu suara bergema lagi.
"Aku tak mau kau kawin dengan adikku. Apalagi, kau keturunan Timor." Aku tak bisa mengangkat kepalaku, kutunduk memandang lantai hingga tembus lapisan bumi yang ketujuh. Biar aku pergi membawa duka. Terdengar cetusan nada sang ayah. "Kau boleh ikut mengantar anakku, hanya sampai di lapangan terbang. Mari kita beranjak dari sini." Sesampainya di sana di ruang tunggu, kami berdua diperbolehkan berbincang apa saja. Kesempatan ini sungguh berarti. Dalam perbincangan, Nur mengatakan kalau ibu mau menggugurkan bayi ini, namun dia tetap menolaknya.
"Akan kupiara anak ini walau tanpa ayah. Bagiku itu jalan dosa. Aku sudah mencoba menasehati ibu. Aku tetap menyayangi dan membesarkan dengan penuh rasa tanggung jawab, agar ia menjadi teman hidupku, pengganti kamu. Dan apabila rindu tiba nomor HP yang kuberikan ini adalah jembatan untuk kita dalam hubungan suami istri. Karena bagiku jarak dan waktu telah melerai kita. Percayalah walau tubuhku tak kau jamah lagi, namun batinku adalah milikmu. Oleh karena itu, biar kukorbankan sehingga luar dalam kupersembahkan untukmu," katanya.
"Nur, pertemuan pasti ada perpisahan, awal tentu ada akhirnya dan kelahiran pasti pula ada kematian. Aku memaklumi tutur katamu dan jika bayi lahir nanti kabarkan padaku serta jagalah dia sebaik mungkin."
Ia merebahkan tubuhnya di atas pangkuanku dan menangis sekuatnya, biar berakhirlah segalanya. Waktu keberangkatan pun tiba. Ia melambaikan tangannya sembari diapit ketat ia hanya menatap penuh pasrah sampai menghilang di balik ruangan dan terus menghilang entah ke mana. (*)

Pos Kupang Minggu, 27 April 2008, halaman 6


Lanjut...

Puisi-puisi Pion Ratulolly

Rasa

Karena suatu rasa yang intens dan vulgar
Manusia telah berani mendemonstrasikan tingkah Tuhan
Rasa itu membentang kokoh dalam sulbi jiwa
Mengakar pada ruas-ruas saraf
Berkuncupan pada dahan-dahan fikir
Lantas mengembang elok pada pepucukan resah

Karena suatu rasa yang intens dan vulgar
Semua karakter insani terimplikasi
Rasa itu mengkristal tak berneraca
Mengalir gumpal pada desir-desir darah
Berkejar badai pada detak-detak jantung
Dan bermuara pasang pada oase rindu



Oh.........
Itulah makhluk yang namanya cinta
Cerminan tingkah Tuhan lewat karakter insani
Keras tak berwujud
Lembut tak bersentuh

Oh........
Amboinya cinta
Sembunyikan misteri di balik rasa
Namun
Kenapa rasa enggan berdefenisi
Dan kenapa rasa tak sudi berteori
Kenapa juga rasa sembunyi di balik kata
Apa yang kurasa


Naluri vs akal, rasa vs rasio

Adalah masalah punya jadi
Hadir dalam rupa yang ambigu
Naluri hendak punya peran
Akal berbalas dengan agresif
Rasa berpagut dalam imaji
Rasio mulai mencari jalan

Naluri menyerang dalam rasa
Akal berbalas dengan rasio
Naluri vs akal
Rasa vs rasio
Naluri berakal
Rasa berasio
Hasilnya

Hati mulai punya nyali
Ini masalah pasti punya jalan
Hati menimbang naluri berakal
Hati menakar rasa berasio
Hasilnya
Keputusan telah jadi
Ini masalah punya solusi
Ini solusi ada di hati


Puisi Remigius A Barek
--------------------------
Buku

Bentukmu persegi panjang
Dari kertas tipis atau tebal
Dibawa dengan hati senang
Pasti bermanfaat sebagai bekal

Berisi ilmu pengetahuan
Membuka buku membawa isinya
Membimbing cendekiawan
Mendapat ilmu dasar penelitian

Bagi pemalas kau tersia-sia
Manfaatmu tidak terlihat mata
Kau selalu beban baginya
Padahal nilaimu tidak terkira

Bila tahu manfaat baikmu
Menambah ilmu menyongsong hari tua
Sejak kecil biasakan membawa buku
Pasti tercapai harapan dan cita-cita


Puisi-puisi Felixianus Ali
------------------------------------

Harga Terasa Sakit

Saat kau pergi
Menuruni anak tangga
Banyak kehidupan
Terhampar luas di sana

Pohon-pohon menghijau
Segarkan suasana
Alirkan kebebasan
Satukan tekad
Bumikan cita-cita

Tapi, saat kau
Datang kembali
Kemarau menggigit
Mengganjal ranah ini

Di sana, di sini
Ceceran keringat
Membasahi pelupuk
Jari tak bisa
Merangkak bukit keemasan

Sebatang dahan melintang
Menutupi pori-pori kulit
Harga terasa gatal
Langkah tak bisa
Menyembuhkan sakitnya


Kemarau Menggigit

Siang ini kemilau udara
Tak enak untuk
Dipetik syairnya, biarpun
Gitar turut temani
Dalam rahim kata-kata

Rahim kandungan
Sungguh panas, luar biasa panasnya
Membakar anak-anak bumi
Di saat dunia berduka

Kemarau menggigit
Habis-habisan sampai menjalar
Ke seluruh tubuh ibarat menanak nasi
Di atas tungku yang bernyala-nyala

Racunnya bisa diobati
Bila apotek-apotek menyediakan ember
Untuk menanam, menyiram
Anak-anak kehidupan
Sebanyak pasir di laut
Di kamarnya masing-masing

Pos Kupang Minggu, 27 April 2008, halaman 6
Lanjut...

Membaca Peringatan Gerson Poyk

Oleh Tony Kleden

COBA tanyakan kepada pelajar di NTT sekarang ini siapa itu Gerson Poyk. Banyak yang sangat boleh jadi belum pernah mendengar namanya. Kalau pun sudah kenal nama ini mungkin hanya mendengarnya dari orang lain, atau guru di bangku sekolah. Dan bukan mengenalnya dari buah karya sastra gemilangnya. Padahal karya cerpen dan roman sastrawan kelahiran Rote 16 Juni 1931 ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Anehnya banyak yang belum mengenal nama ini. Kalau Gerson Poyk mengetahui ini, dia mungkin cuma mengurut dada.

Kenyataan seperti ini juga dialami Pramoedya Ananta Toer. Karya sastra Pram, demikian pengarang ini biasa disapa, sudah diterjemahkan ke dalam belasan bahasa asing. Tetapi sungguh sayang anak-anak negeri sendiri jarang membaca karya sastranya. Dalam terminologi ini baik Gerson Poyk maupun Pram, boleh dibilang "menggenapkan" apa yang telah dikatakan Yesus dua ribu tahun silam, "Seorang nabi memang tidak dikenal di tempat asalnya." Sampai dengan saat menulis coret-moret ini, raut wajah Gerson Poyk belum kukenal. Tetapi sosok pemenang dua kali penghargaan Adinonegoro ini sudah kukenal dari buah penanya yang bernilai sastra ketika masih di bangku sekolah menengah pertama. Semasa di bangku sekolah menengah atas, nun di lembah Hokeng yang sejuk, di taman persemaian (seminarium) San Dominggo, nama ini terus melekat erat. Karya cerpennya Oleng Kemoleng memang terlalu menarik untuk tidak dibaca.

Nama Gerson Poyk selanjutnya semakin intens melekat erat dalam sanubariku. Tetapi di awal tahun macan ini, nama ini membuat jiwa siapa saja yang peduli dengan nasib warga Flobamora ini jadi berontak. Apa pasal? Seperti diberitakan Pos Kupang, Rabu (14/1), di hadapan peserta pelatihan wartawan baru Harian Umum Pos Kupang, Gerson Poyk melontarkan suatu warning (peringatan) bahwa sudah banyak orang NTT teralienasi dari budaya aslinya.

"Saya sangat kecewa dan prihatin terhadap apa yang saya lihat. Banyak orang hidup dalam kondisi teralienasi, tercabut dari akar budaya aslinya. Mereka menjadi asing di tengah-tengah denyut kehidupan sekitar," tegasnya.

Mungkin kurang representatif untuk tiba pada kesimpulan demikian, tetapi Gerson tidak asal semprot. Asal tahu saja, sejak kurang lebih dua bulan terakhir ini Gerson Poyk "mudik" dan mengadakan perjalanan nostalgia di beberapa tempat di NTT. Di Manggarai, misalnya, dia mengamati cara bertani lodok. Malah model ini, menurutnya, layak ditiru (Pos Kupang, 26/1). Di Kota karang Kupang, Gerson Poyk saban hari menyusuri jalan dan lorong dengan sepeda tua mau melihat dan merasakan dari dekat denyut kehidupan warga kota ini.

Buat orang yang saban hari bersibuk diri menguber uang, apa yang dikatakan mantan wartawan ini mungkin kurang menggema. Tetapi buat setiap orang yang memiliki sedikit kepedulian terhadap yang namanya proses perubahan suatu masyarakat dengan segala implikasi praktisnya, niscaya awasan Gerson Poyk punya resonansi yang kuat. Dan karena itu tidak bisa dianggap sepele.

Hal terakhir ini pun kualami. Sebagai orang yang masih dalam perjalanan mencari diri, peringatan Gerson Poyk membuatku berpikir dua kali. Memang tema yang digugatnya ini sudah sering kami diskusikan (semasa masih di bangku kuliah di STFK Ledalero, Maumere). Kecuali itu tema yang sama juga sering kutemukan di buku-buku. Dan semuanya menjadi lumrah untuk suatu dinamika.

Tetapi ketika awasan seperti ini kudengar di Kota Kupang, dia menjadi sangat lain. Resonansinya seakan menembus dinding basic trust pribadi yang pernah kubangun. Pertanyaan gelisah kemudian menghentak di ambang kesadaranku. Akankah di Kota Kupang ini akar budayaku juga tercerabut?

Meminjam judul cerpennya sendiri, apakah aku pun hanyut dalam ketidakpastian dan menjadi oleng kemoleng di tengah hempasan perubahan Kota Karang ini? Ketakutan akan kehilangan sense of direction ketika nilai dan norma moral begitu gampang direduksi, juga menjadi demikian menghantui nuraniku. Dalam keadaan seperti itu, akankah aku hanyut dalam proses mimesis tanpa sadar?

***
TEMA alienasi niscaya menjadi semakin relevan ketika orang membicarakan tentang globalisasi, kemajuan arus informasi, laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, hentakan arus sekularisme di hampir semua aras hidup manusia.

Peringatan yang dilontarkan Gerson Poyk mungkin terlalu dini. Alienasi dalam konteks kebudayaan, memang melewati suatu proses panjang. Bagaimana di Kupang? Dengan letaknya yang strategis di persimpangan utara dan selatan, barat dan timur, Kupang akan berkembang menjadi kawasan yang sangat prospektif di Asia Pacific. Dan karena itu Kupang menjadi fokus bidikan teropong para pialang uang. Sebagai kota yang tengah berdandan merias diri, Kupang tak dapat tidak dipengaruhi arus perubahan. Sekarang pun, "aram temaram" kota ini menampak dalam hampir semua bidang kehidupan manusia. Dari selera makan, mode pakaian, irama musik, potongan rambut, gaya rumah hingga goyang tarian.

Hasil, atau lebih tepat akibat, perubahan seperti ini tak dapat dielak. Pengaruh dari luar dengan sekian banyak implikasinya tak mungkin dibendung. Sebagai barometer propinsi 566 pulau, Kupang akan menentukan wajah Flobamora ini di era keterbukaan.

Dalam konteks seperti ini, peringatan Gerson Poyk harus menjadi "tanda zaman" yang terlalu penting untuk diabaikan. Gerson tentu mengingatkan banyak hal terkait dengan penghayatan (dan juga apresiasi terhadap) kebudayaan sendiri.

Alienasi merupakan suatu fenomena kebudayaan yang sangat kentara terlihat di kota-kota. Di Kupang yang nampak kian urban, gejala ini sangat transparan dan dialami merata oleh hampir semua orang. Mahasiswa yang menuntut ilmu di bangku kuliah, pendatang dari kampung dan desa yang mencoba mengais rejeki, petualang yang hendak menambah pengalaman. Wisatawan asing yang harus transit, dan lain-lain. Dengan latar budaya masing-masing semua mereka ini membaur menjadi satu.

Dengan sedikit gambaran seperti ini, tak sukar membayangkan apa akibat yang bakal muncul. Dalam konteks penghayatan kebudayaan situasi seperti ini langsung mengakibatkan benturan budaya yang hebat. Dalam benturan ini sekurang-kurangnya ada empat kemungkinan yang bisa terjadi (Lihat, Dr. Leo Kleden, dalam Majalah Vox, Seri 35/3-4 1990).

Pertama, orang bisa menutup diri dan hidup dalam ghetto kultural. Apa yang asing dianggap haram, sedangkan kebudayaan sendiri diagung-agungkan dalam romantisme naif. Kedua, orang bisa menyerap secara mentah-mentah kebudayaan asing sambil melupakan akar kebudayaan sendiri. Ketiga, bisa juga terjadi semacam schizophrenia sosial, yaitu keadaan kepribadian dan kejiwaan yang terpecah antara beberapa pilihan yang semuanya saling tumpang tindih.

Keempat, transformasi kebudayaan secara kreatif. Kemungkinan keempat ini adalah yang paling baik. Tetapi transformasi kebudayaan secara kreatif mensyaratkan banyak hal. Antara lain, orang harus mengenal akar kebudayaan sendiri dengan segala sisi positip dan negatipnya. Orang juga perlu mengenal dengan baik kebudayaan asing. Selain itu dibutuhkan keberanian dan daya cipta untuk memadukan nilai-nilai terbaik dalam diri sendiri dan dalam masyarakat di mana orang berada.

Pikiran-pikiran seperti inilah yang mungkin ditulis oleh Gerson Poyk dalam peringatannya. Masing-masing orang bisa membaca dengan kacamata berbeda. Yang jelas idiom yang dipakai Gerson Poyk dalam peringatannya cuma satu: alienasi dan transformasi. (* Penulis, wartawan Pos Kupang)
Sumber http://www.indomedia.com/poskup/9801/27/OPINI/27pini2.htm

Lanjut...

Oleh Marsel Robot

PERSIS kala cuaca di Kota Kupang lagi cuek lantaran mendung melulu, ternyata tidak jadi turun hujan; sebentar-sebentar udara cerah dan teramat panas, ternyata hujan turun dengan lebatnya. Para petani tak putus dirundung gelisah karena ulah alam seperti itu; para buruh tak putus dirundung malang lantaran bencana PHK kian memajang di pelupuk mata sebagai hasil sah dari krisis moneter. Dan barangkali buat mereka, moneter lebih dilihat sebagai monster yang mencekam atau monster moneter yang menakutkan.

Saat Kota Kupang lagi pilek seperti itu, dan rakyat lagi murung, para peminat seni dan beberapa seniman membikin ritus kecil yang mempercakapkan hal besar yakni ingin membangun Dewan Kesenian Daerah NTT. Ritus seni ini dilangsungkan tanggal 14 Desember 1997 di Taman Ria Kupang. Sebuah tempat yang cukup intuitif dan representatif untuk menggelar ritus langkah seperti itu. Di bawah atap alang, berdinding karang, ada angin laut berhembus meramba aula seolah melembabkan jiwa para seniman yang sedang mencari cinta di sana. Di sana hadir Gerson Poyk, ada Gubernur Herman Musakabe, ada Pieter Rohi, ada Abraham Gampar, ada ibu Len Ga.

Gerson Poyk cerpenis kondang asal Namodale (Rote) mengawali percakapannya dengan suara terbata-bata dan berkata patah-patah. Ini bukan ekspresi seni seorang aktor, melainkan ekspresi alamiah seorang anak rantau yang jauh meninggalkan pulau: "Aaaa....., saya ulangi; Aaa.....saya kagum pada gubernur muda dari kampung saya ini." Ia melanjutkan ucapannya dengan begitu puitis sambil menunjukkan dadanya: "Meski saya jauh, tapi nusa ini ada di sini, batu karangnya ada di sini, air sungainya ada di sini."

Pertemuan Taman Ria
Bagi saya, pertemuan Taman Ria itu menyenangkan dan menyedihkan sekaligus. Menyenangkan oleh karena pertemuan itu merupakan tanda biru dalam album sejarah kesenian di NTT. Betapapun, pertemuan Taman Ria merupakan embrio lahirnya Dewan Kesenian Daerah NTT. Ada harapan yang menumpuk, ada kerinduan yang membukit akan perlunya Dewan Kesenian. Sebab, siapa tahu, Dewan Kesenian akan menjadi ufuk yang menerbitkan dan mengorbitkan arah berolah seni di NTT. Minimal Dewan Kesenian memberikan semacam assesoris seni dalam skala makro dan menjadi investasi kultural dalam skala makro. Dan bagi semiman, Dewan Kesenian akan menjadi ladang untuk berekspresi, atau menjadi tanah sawah untuk mengolah seni yang mungkin selama ini tumbuh dan berkembang sendiri-sendiri, berkreasi sendiri-sendiri, dan terima honor yang biasanya kecil sendiri-sendiri pula. Di samping itu, pada suatu saat tertentu Dewan Kesenian menjadi sungai Yordan tempat pembabtisan bagi seniman potensial tanpa melalui Taman Ismail Marzuki (TIM), atau tanpa melalui hegemoni horison (baca Majalah Horison).

Sebaliknya, pertemuan Taman Ria, terutama dari rasa dan tesa sebagai seniman mengandung kesedihan. Kesedihan permulaan dimulai ketika pertemuan Taman Ria justeru lebih banyak dihadiri oleh penikmat seni dan birokrat yang berhubung dengan urusan kesenian. Pertemuan menjadi tak seni, bahkan tanpa bintik-bintik acara kesenian guna melenturkan suasana. Saya sungguh tidak tahu persis kenapa seniman yang begitu banyak tidak sempat hadir di Taman Ria? Meski di sana hadir Gerson, Peter Rohi, toh sesungguhnya saya tidak merindukan mereka itu. Saya benar-benar merindukan seniman NTT yang berkarya tanpa melalui Jawa, tanpa melalui Jakarta. Saya merindukan seniman-seniman yang sambil menunggu masak gula menulis cerpen, seniman yang bersajak sambil menggembala sapi, yang melukis sambil rebus jagung. Karena itu, saya tidak pernah memuja Gerson Poyk, Peter Rohi, Umbu Landu Paranggi, Yulius Siyaranamual. Mereka cuma seniman yang kampung halamannya di NTT, tetapi sawah dan humanya di Jawa. Saya lebih senang pada John Dami Mukese yang bersajak dari Ende, meski hampir saja saya kurang percaya pada moment kreatif Dami yang menulis dan menerbitkan sajak setiap minggu. Saya lebih mengagum kepada Piet Riki Tukan yang menggubah lagu-lagu gereja dari bukit Noemuti (Tarus), Len Ga menulis Novel dari Pasir Panjang.

Kesedihan berikutnya ialah keraguan saya terhadap peran Dewan Kesenian nanti. Diktum ad hoc yang saya kemukakan sehubungan hal tersebut bahwa Dewan Kesenian bukan dewa penyelamat kesenian di NTT. Sebab, kadang-kadang sebagai lembaga lebih mengutamakan kepentingan lembaga daripada apa yang diperjuangkan dan apa yang harus diwadahkan oleh lembaga tersebut.

Terus terang, saya angkat topi di hadapan Peter Rohi, Jeck Adam, Len Ga dan kawan-kawan yang ekstra sibuk mengurus seniman yang susah diurus itu. Mereka membuat pertemuan, membentuk formatur pemilihan anggota dewan dan tetek bengek lainnya. Pekerjaan mereka yang demikian berat tentu tidak cukup dengan senyum tipis sambil mengucapkan terima kasih, tetapi harus dipenuhi dengan makna dan arti dalam konteks sejarah perjalanan pembentukan Dewan Kesenian Daerah di NTT. Pekerjaan Jeck Adam dkk ibarat usaha mengirimkan gerimis di atas ladang-ladang kesenian di NTT yang telah lama dilanda kemarau panjang. Pun bagi seniman laksana rusa merindukan sumber air.

Ada kata menarik, ada wacana memikat ketika Jeck Adam menyampaikan aransemen percakapan pada pertemuan Taman Ria. "Bahwa Dewan Kesenian diperlukan guna mewadahi kreativitas seniman di daerah ini." Yang mungkin selama ini berlangsung liar. Tetapi benarkah Dewan Kesenian berfungsi sebagai lembaga ekspresi yang lugas dan bebas? Atau ada pengkondisian eksternal? Karena itu, saya menyikapi Dewan Kesenian mulai dengan keraguan. Sesekali kita harus percaya pada keraguan. Oe Omnibus dubitandum (segala harus diragukan) kata Rene Descartes.

Tesa dasar yang mendasari keraguan saya terhadap Dewan Kesenian ialah bahwa kehidupan kreativitas seniman di NTT justeru terletak pada seni hidupnya. Dengan kata lain, yang lebih asyik dinikmati dari tampilan kesenian di NTT justeru hidupnya yang merana dan liar itu. Di bidang teater misalnya, begitu sulit menebak gerak-gerik perkembangannya.

Sebentar-sebentar (terutama pada musim lomba) bermunculan teater dengan kesegaran-kesegaran mempesona, ternyata sekaligus siap untuk mampus. Sebentar-sebentar ia redup dan tenggelam begitu lama, ternyata sekaligus siap untuk muncul menjamur teater musiman. Gairah hidupnya singkat. Dan lazimnya sesudah perlombaan, teater mulai sekarat sampai karatan di bengkelnya. Hidupnya bagai pohon pisang, sekali berubah sesudah itu mati, sekali pentas sesudah itu mampus.

Salah satu gejala khas yang merongrong Dewan Kesenian Daerah NTT ialah jiwa yang gundah dan hati mendua. Benarkah lembaga ini sebagai wadah murni untuk memberikan tempat kepada seniman berekspresi bebas dan lugas? Tetapi bisa dituduh kiri lalu kantingnya kere karena pihak eksternal tidak mau mengulurkan tangannya? Atau demi kantong tebal biarlah pihak eksternal yang menentukan ritmik langkah Dewan Kesenian, lalu dipedomani, diarahi, dan yang pasti harus menerima risiko artistik. Ya...semacam kebangkrutan artistik. Tetapi, pilahan terakhir ini mungkin dapat diterima, karena sampai saat ini begitu sulit seniman memasarkan dan menyeponsori kegiatan tanpa bantuan dana dari pihak luar. Contoh soal, setelah saya mementaskan Opera Cermin Surga di Undana dan di GOR para penonton yang datang cuma-cuma itu berkomentar. "Ah.....opera Anda terlalu singkat, kami tidak puas." Balik saya berkomentar: Ya...saya membuat opera supaya Anda tidak puas. Sebab saya tidak menjual karcis. Betapa sulit dibayangkan sebuah pementasan tanpa sponsor. Hampir tidak ada pementasan yang hanya mengharapkan kerelaan penonton untuk membeli karcis.

Dengan jiwa yang gundah dan hati mendua itu, Dewan Kesenian mengharuskan semacam sikap hati-hati, toleransi dan solider dengan pihak eksternal yang tidak lain pihak resmi itulah. Lebih sial lagi, kalau Dewan Kesenian hanya merupakan ajang untuk mempertegas main mata dengan pihak resmi. Kemudian menjadikan Dewan Kesenian sebagai tempat bermanja-manja kepada pihak pemerintah. Karena itu Gubernur Herman Musakabe pagi-pagi menyarankan agar jangan menjadikan Dewan Kesenian sebagai tempat untuk mencari makan. Tentu saja saran gubernur perlu dikaji lebih jauh tentang Dewan Kesenian yang bagaimana agar seniman tidak memposisikannya sebagai tempat untuk mencari makan. Sebab, terkadang kemiskinan finansial berakibat pula pada kemiskinan artistik. Itulah pula sebabnya, di NTT seniman sulit hidup hanya dengan mengarang sajak, tidak bisa menghidupkan keluarga hanya dengan mengarang cerpen, atau mementaskan drama yang hanya merupakan proyek rugi. Meski banyak seniman NTT sekaliber Gerson Poyk atau Umbu Landu, tetapi mereka lebih memilih judul hidup sebagai guru, sebagai sastrawan, sebagai dosen, sebagai sopir atau jenis pekerjaan lain yang memberikannya nafkah.

Dewan Kesenian Daerah NTT dengan ciri jiwa yang gundah hati yang mendua sekalian memposisikan dirinya di daerah perbatasan; perbatasan antara "keinginan untuk berekspresi secara bebas dan lugas dan keharusan untuk memperpanjang hidup sambil menunggu uluran tangan eksternal." Dan...Ini sebuah episod di antara trumbu dan karang/ dan menulis mimpi di album lontar/ atau mengumpul siul burung dan di tepi jurang/ di Nusa Sabana ada bunga ada korona. (* Penulis adalah seniman)
Lanjut...

Kuda Lumping

Cerpen Gerson Poyk


Rumah makan Papacili didatangi seorang anak berusia empat belas tahun yang hanya memakai celana tanpa baju.

"Mau makan, Nak?" tanya Papacili.

"Mau, Pak, tapi tidak punya uang."

"Siapa namamu?"

"Lumping, Pak."

"Tidak punya uang kok masuk warung," kata Papacili.

"Sudah berapa hari tak makan?" tanya Papacili.

"Kemarin pagi, sarapan nasi aking karena lagi paceklik di musim banjir. Jarang ada order menari. Terakhir, kebetulan ada hajatan setelah lama menganggur. Habis sarapan nasi aking, bertukas makan beling. Siang hari nasi aking lagi, dan pepaya matang setengah buah. Sehabis makan siang saya lari dengan pakaian di badan. Tadi malam saya jual baju untuk makan malam lalu tidur di emperan toko."

"Nanti dulu, kau bilang bertugas makan beling? Makan roti beling saudaranya sotomi?"

"Bukan roti Pak. Beling kaca."

"Ah, jangan bohong."

"Betul Pak, saya penari kuda lumping. Bosan makan beling dan kupas sabut kelapa dengan gigi, saya lari. Tentu bos saya sedang mengejar saya. Jangan bilang kalau bos mencari saya di sini, Pak," kata si Lumping.

Papacili menarik nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala."

"Perutmu tidak berdarah disilet beling?" tanya Papacili.

"Tidak, Pak. Saya kunyah sampai hancur kemudian makan papaya, dan kelapa tua. Kata bos dalam kelapa tua ada obatnya. Itulah yang menyebabkan saya bertahan lama, tidak sakit tidak mati tapi akhirnya capek dan bosan lalu beginilah. Saya lari meninggalkan bos dengan rombongan penari kuda lumpingnya."

"Nama sebenarnya siapa?"

"Lumping. Nama pemberian kakak mantan penari kuda lumping. Karena nama itu saya diterima menjadi penari kuda lumping. Sejak berumur dua belas tahun, berkeliling dari kota ke kota."

"Kau pernah bersekolah?"

"Tamat SD, tidak mampu meneruskan sekolah karena ayah tidak mampu beli sepatu dan pakaian seragam."

Papacili memanggil istrinya. Setelah mendengar cerita si Lumping, hatinya terharu lalu berkata kepada suaminya. "Dia perlu makan, jangan banyak tanya dan bercanda sadis melihat orang susah," istri Papacili memperingatkan kekurangan suaminya.

Papacili memanggil gadis pelayan.

"Tolong sediakan makanan yang banyak."

"Buat siapa, Pak?" tanya pelayan.

"Buat seekor kuda muda belia!"

Si gadis tersenyum, melangkah meninggalkan Papacili. Ia sudah terbiasa dengan candanya Papacili, bosnya.

"E, eh, jangan pergi, ini namanya Kuda Lumping ... hehe!" Perut Papacili bergerak-gerak karena terkekeh. Dia tidak peduli pada teguran istrinya. "Sekarang namamu bertambah menjadi Kuda Lumping, ya."

Sehabis makan si Lumping disuruh duduk sebentar kemudian Papacili bertanya, "Kuda Lumping mau bekerja di warung ini sebagai pesuruh?"

"Mau saja, Pak. Terima kasih banyak, sudah dapat makan dapat kerja pula. Asalkan Bapak jangan suruh saya makan beling, nasi aking dan cabut kulit sabut kelapa tua dengan gigi," pinta si Lumping.

"Beres. Cuma saya mau supaya di warung ini ada kuda lumping naik kuda besi mengantar makanan kotak ke para langganan. Bisa?"

Si Lumping heran, "Kuda besi?"

"Sepeda, maksud saya, ha ha," kata Papacili.

Papacili menyuruh seorang karyawan lelaki yang bertugas melayani fotokopi untuk mengambil sepeda.

"Maaf, Pak. Saya bisa buang air?"

"O, bisa, bisa. Bagus, tapi jangan buang ampas badanmu di WC. Ambil cangkul, larilah ke kebun sayur di belakang, di balik rimbunnya kacang panjang. Bikin lobang di tanah lalu buang air di sana. Sudah itu jangan ditutup dulu sebelum saya periksa, apakah ususmu ke luar bersama beling-beling. Kalau ususnya ke luar, kita segera ke dokter."

Papacili mengantar si Lumping ke kebun sayur yang cukup luas di belakang rumah makan lalu menunjukkan titik di mana akan ke luar beling-beling dan sabut kelapa. Benar, setelah Papacili memeriksa. Ternyata banyak beling dan sabut kelapa! Setelah ampas badannya itu dikuburkan, keduanya kembali lalu Papacili menyuruhnya mandi dan mengganti pakaian baru yang buru-buru disuruh beli oleh seorang karyawan di toko pakaian seberang jalan di depan rumah makan.

Si Lumping memang cerdas dan rajin. Setiap hari ia mencuci piring dan alat masak sampai bersih. Waktu rumah makan tutup tengah malam, ia mengepel lantai dan melap meja kursi, lemari dan sebagainya. Bangun pagi-pagi ia menyiram sayur di kebun. Waktu istri Papacili masak ia menolong mengiris bawang, mencuci sayur, memasak nasi sambil memperhatikan resep makanan yang dibuat Bu Cili. Bu Cili memang juara masak. Makanannya enak sekali. Suatu hari ketika Bu Cili dan pelayan seniornya sakit, si Lumping yang masak.

Hanya saja setiap ada rombongan sirkus monyet dan para banci bermain di depan rumah makan, si Lumping ketakutan, keringat dingin. Ia bersembunyi ke kebun sayur sampai rombongan banci sirkus monyet itu pergi. Hal ini diketahui ketika pada suatu hari, ada rombongan sirkus monyet kecil kurang gisi bermain di depan rumah makan Papacili. Karena bukan rombongan kuda lumping maka Papacili yang sangat sayang binatang menyuruh si Lumping membawa sesisir pisang untuk monyet kurus kering dijajah oleh manusia. Ternyata si Lumping takut pada semua rombongan pertunjukan keliling. Ia hanya melemparkan pisang ke tengah arena lalu berlari ke rumah makan, keringat dingin. Sejak itu kalau ada rombongan sirkus monyet kecil ia lari bersembunyi ke kebun sayur di belakang rumah makan. Papacili membiarkannya.

Rumah makan Papacili makin ramai saja, karena semua karyawannya, termasuk si Lumping sangat merasa bahwa usaha itu adalah milik mereka sendiri. Memang, Papacili orang yang punya insting, kecerdasan dan intuisi dalam usaha kuliner. Kalau ada turis-turis yang datang makan, ia ngobrol dengan mereka dalam bahasa Inggris dan kalau mereka mau membayar. Papacili menolak dengan alasan bahwa mereka adalah tamunya. Benar, beberapa lama kemudian tamu-tamu itu mengirim uang dari negeri mereka, luar negeri nun jauh di sna. Karena rumah makan itu punya sambal cabe atau cili maka ia disebut Papacili.

Melihat si Lumping cepat menangkap bahasa Inggris dari para turis, Papacili menyekolahkannya. Ia masuk SMP Swasta, kemudian SMA, juga swasta dan lulus ujian nasional tetapi si Lumping tak mau mencari kerja lain selain mengembangkan usaha rumah makan Papacili. Papacili dan Mamacili sudah dianggap lebih dari ayah dan ibu kandungnya. Mamacili sangat sayang padanya. Anak angkatnya diajari masak kemudian tugasnya meningkat menjadi kasir.

Akan tetapi suatu malam, si Lumping bertengkar dengan Papacili karena ayah angkatnya itu punya pacar dan ingin berpoligami.

"Papa," kata si Lumping.

"Apa?" tanya Papacili.

"Kasihan, Mama. Dia curhat kepada semua karyawan, termasuk saya," kata si Lumping pada suatu malam larut.

Papacili membentak si Lumping, "Pergi sana, tidur!"

"Mana bisa tidur, Papa, kalau saya sedih memikirkan sejarah perjuangan Mama yang sejak semula mulai dengan menjual nasi bungkus jalan kaki berkeliling."

"Tapi modalnya dari saya. Bukan saja modal tapi ide dan tenaga saya juga termasuk. Saya yang menanam pisang, menanam sawi, terong, cabe, dan sebagainya, mencuci piring, memasak, ngepel, mencuci, menyapu halaman."

"Alangkah indahnya masa-masa itu, Papa, ketika Papa dan Mama sehati, selangkah walaupun uangnya sedikit," kata si Lumping.

Papacili hanya bangun berdiri, melangkah meninggalkan si Lumping.

Beberapa hari kemudian Papacili memanggil Lumping dan berkata, "Dulu kau naik kuda lumping, kemudian kuda besi. Sekarang saya perintahkan kau naik kapal!"

"Kapal apa Papa?" tanya Lumping.

"Kapal Pelni. Seorang saudara sepupu saya, nakhoda kapal Pelni, datang makan di sini dan dia perlu seorang karyawan yang bekerja di atas kapal."

"Sebagai apa, Papa?"

"Sebagai cook, tukang masak."

Begitulah, maka si Lumping naik kapal laut -- kapal Pelni -- tapi kali ini bukan makan beling melainkan makan enak ikan laut setiap hari. Karena ia terlalu sayang kepada Mamacili, ibu angkatnya yang dimadu, maka sering ia ajak naik kapal, berlayar menglipur lara. Setiap ia menerima gaji, ia berikan sebagian kepada ibu angkatnya.

Beberapa tahun kemudian ia pindah kerja ke kapal yang berlayar ke luar negeri. Setelah lima tahun bekerja, ia mengajak kedua orangtuanya berlayar mengarungi samudra. Ketika tiba di Los Angeles mereka diajak makan di sebuah restoran mungil. Mereka terkejut karena membaca Papachili Restaurant.

"Papa, Mama, saya punya saham di restoran ini," kata Lumping. "Menurut para pakar, orang Indonesia rajin tapi tidak pandai, tidak disiplin dan tidak jujur dalam berorganisasi sehingga makanan Indonesia tidak bisa mendunia. Saya buktikan bahwa bukan saja McDonald yang merambah dunia tetapi juga Papachili."

Tiba-tiba manajer restoran muncul. "Haaaa, Papachili, Mamachili," lalu dipeluk dan diciumnya kedua orang tua itu. "Lupa sama saya? Saya makan gratis di Indonesia Papachili bilang tak usah bayar, tak usah bayar, Anda tamu saya. Ingat?"

Papachili memeluk bule manajer itu. "Di mana yang lain?" "Di kota-kota lain di seluruh dunia. Mereka sudah membuka retoran Papachili, makanan Indonesia dengan slogan you are whta you eat."

* * *
Di kamar tidur si Lumping di darat dan di kapal terpampang sebuah poster mungil bertulis:

Ketika aku lapar

Papacili Mamacili membriku kenyang

Ketika aku telanjang

Papacili Mamacili membriku sandang

Ketika aku tidur di emper-emper

Papacili Mamacili bri kamar bri kasur

Ketika aku dungu

Papacili Mamacili membriku ilmu

Maka Tuhan akan memberi mereka surga

Depok 1 Mei 2007
Sumber http://www.suarakarya-online.com/news.htm?id=179101



Gerson Poyk

Dilahirkan di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931.Gerson Poyk lahir 16 Juni 1931 di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. MulaA¬-mula ia bekerja sebagai guru, kemudian menjadi wartawan Sinar Harapan (sampai 1970). Sekarang ia menjadi wartawan freelance dan kolumnis beberapa majalah dan surat kabar. Peserta angkatan pertama dari Indonesia pada International Writing Program di Iowa University Amerika Serikat ini, memenangkan Hadiah Adinegoro pada 1985 dan 1986, dan SEA Write Award pada 1989. Novel dan kumpulan cerita pendeknya, antara lain: Hari-hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Matias Ankari (1975), Oleng-kemoleng & Surat-surat Cinta Rajaguguk (1975), Nostalgia Nusatenggara (1976), Jerat (1978), Cumbuan Sabana (1979), Seutas Benang Cinta (1982), Giring-giring (1982), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requiem untuk Seorang Perempuan (1983), Mutiara di Tengah Sawah (1984), Anak Karang (1985), Doa Perkabungan (1987), Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), Poti Wolo (1988).

Lanjut...

Berlayar ke Miangas

Cerpen Gerson Poyk


Di atas pesawat yang terbang dari Bandara Sukarno-Hatta menuju Manado, tidak ada yang unik. Rasanya biasa-biasa saja. Sebelum transit sebentar di Makassar, penumpang diberi aqua gelas plastik dan sepotong lemper lebih besar sedikit dari ibu jari. Akan tetapi yang menarik adalah tetangga dudukku. Di sebelah kananku jendela dan di sebelah kiriku seorang wanita muda yang memperkenalkan dirinya sebagai dokter gigi. Ah, gigi lagi, gigi lagi, aku benci gigiku, gigiku pernah diperkosa habis-habisan oleh perempuan dokter seperti yang duduk di sebelah kiriku.

Aku tercenung mengenang pengalamanku dengan perempuan dokter gigi yang pernah mencabut gigiku yang pecah sendiri dan setengahnya tertancap di gusi atas mulutku. Ia mengatakan bahwa sepenggal gigi yang tertinggal di gusi atasku harus dikeluarkan dengan operasi, bukan dicabut. Maka sang dokter gigi itu mengoperasi gigiku. Namun walaupun tinggal setengahnya, kerasnya luar biasa sehingga ia berkeringat dingin mengomel sendiri, begini, "Kalau obat anti nyerinya hilang tenaganya, waduh, akan sakit. Apalagi umur Bapak sudah berkepala empat."

Walaupun mulutku tak boleh berbicara, aku ikut mengomel, "Walaupun sudah tua aku masih mencangkul kebun dan naik sepeda sepuluh kilometer sehari dari kebun ke rumah. Pulang pergi dua puluh kilometer sehari!"

"Wah, Pak Tua kita ini superman. Cuma gigi yang kalah. Wah bagaimana nih, sukar sekali menemukan kepingan gigi yang kecil dalam gusi Bapak. Bagaimana nih?" gerutu sang dokter gigi.

Mendengar itu, rasanya aku mau bangun dan menggigitnya.

Coba suntik lagi obat anti nyeri.

Sang dokter menyuntik lalu alat pencabutnya mengorek-ngorek lubang gusiku.

"Tolong telepon anakku. Bilang aku dalam bahaya," kataku kepadanya.

Ia menyuruh perawatnya menelepon anakku.

Begitu anakku tiba, gigiku telah tercabut!

Aku begitu senang, dengan keberhasilannya sehingga aku berterima kasih kepadanya. Mestinya aku marah tetapi aku tidak sampai hati mengomelinya.

Ada lagi pengalaman buruk dengan dokter gigi di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Dokter gigi yang cantik itu ketika mengebor gigiku, asyik berbicara dengan temannya. Ketika ia mengeluarkan bor gigi, benda berbahaya itu menyerempet bibirku. Hampir saja aku sumbing. Semenjak itu aku tak pernah lagi berobat kepadanya.

"Bapak tinggal di Manado?" tanya dia, sang dokter gigi di sebelah kiriku.

"Tidak," kataku. "Saya akan meneruskan perjalanan ke Miangas," kataku.

"Bapak orang Miangas?" tanya sang dokter gigi.

"Tidak," jawabku.

"Tinggal di Jakarta tapi saya berasal dari pulau Ndana."

"Di mana pulau itu?" tanya dia.

"Pulau paling selatan di peta Indonesia."

"Kawin dengan orang dari pulau paling utara," katanya.

"Mengapa sendirian ke Miangas, tidak dengan nyonya?" sambungnya.

"Nyonya saya tinggal di Miangas, sekarang," kataku.

"Ini namanya pisah pulau," katanya.

"Ya, karena keadaan. Keadaan isteriku meminta ia harus tinggal di pulau kecil, pulau yang dikelilingi ombak samudra."

"Mengapa harus demikian?"

"Dia menderita penyakit jiwa. Lupa pada semua orang, bahkan anak dan suaminya. Lebih celaka lagi ia suka lari dari rumah, mengembara tak tentu arah. Pernah naik mobil sampai Cianjur, Karawang. Untung ada nomor telepon di bajunya sehingga polisi dan satpam serta preman yang menemukannya menelepon kami lalu kami jemput. Akan tetapi suatu hari, sehabis saya mandikan dia, dia berpakaian bagus dan tiba-tiba, walaupun dijaga ketat, dia bisa lari dari rumah tanpa nomor telepon di baju dan hilang selama beberapa bulan. Saya menemukannya secara kebetulan ketika saya ke kebun raya Bogor. Dia duduk di pintu gerbang sambil meminta-minta. Dia lupa bahwa dia masih punya suami dan anak. Semenjak itu keluarga sepakat untuk mengirimnya pulang ke Miangas."

Mengapa tidak masukkan dia ke rumah sakit jiwa?"

Sudah, tetapi anehnya, dia bisa lari dari sana. Di rumah ia sering lari melompati tembok setinggi tiga meter, di rumah sakit jiwa ia bisa lari menembus pagar kawat berduri. Aneh, lecetnya segera sembuh sendiri tanpa obat," tuturku. "Sudah beberapa kali dia ditabrak kendaraan bermotor dan digotong ke klinik dan rumah sakit tetapi kami dapat menemukannya kembali karena ada nomor telepon di bajunya. Sudah beberapa kali pula ia dibuang dari kendaraan umum."

"Tragis sekali," kata sang dokter gigi sambil menggigit bibir bawahnya. "Mengapa tidak tinggal di Pulau Ndana dirawat oleh keluarga pihak suami?" tanya sang dokter.

"Nenek moyang saya memang berasal dari Pulau Ndana tetapi kini pulau itu kosong melompong. Karena takut akan seringnya kapal asing, terutama kapal turis Australia ke sana maka kini ditempati oleh beberapa orang marinir secara bergiliran. Tiap enam bulan ganti orang, seperti juga di Miangas," kataku.

"Saya juga akan bertugas ke Miangas selama enam bulan."

"Seperti para marinir?" tanyaku.

"Ya. Saya perwira TNI Angkatan Laut."

"Wau, mengapa tidak pakai seragam? Lagi menyamar untuk mencari dan menjebak teroris?" kataku.

Dia tertawa.

Aku juga tertawa.

"Kembali ke isteri Anda. Apa kata dokter tentang penyakitnya?"

"Dementia," kataku.

* * *

Kapal bertolak dari Pelabuhan Bitung menuju Miangas melalui pelabuhan di beberapa pulau kecil di utara Sulawesi. Ketika kapal bersandar di dermaga Miangas di pagi hari, aku terkejut melihat istriku berdiri di atas timbunan karung-karung ikan asin dan kopra, menari-nari, melompat-lompat, bernyanyi dan berpidato. Aku tak dapat menahan air mataku ketika bersandar di geladak paling atas menunggu pintu kapal dibuka.

Tiba-tiba ada tangan halus menyorongkan tisu kepadaku. Aku memandang wajahnya, wajah dokter gigi perwira TNI Angkatan Laut itu.

Setelah minum obat yang kubawa dari Jakarta, isteriku tenang kembali. Ia tinggal di rumah saja dan makan teratur, tidur teratur selama sebulan tetapi bulan berikutnya ketika obatnya habis dan mesti mengambilnya ke Jakarta, isteriku kumat lagi. Namun ia tak bisa ke mana-mana lagi. Keluarga merasa aman, kecuali semua nahkoda kapal yang bersandar karena istriku selalu masuk ke kapal dengan tas lalu berceloteh bahwa ia ingin naik kendaraan laut untuk mengurus keuangan. Mereka sedikit repot menggotong istriku keluar dan menyuruhnya pulang.

* * *
Selama tiga bulan di Miangas, aku memasang kincir angin di beberapa titik pantai yang anginnya keras untuk memperoleh tenaga listrik. Listrik yang diperoleh dari kincir-kincir anginku membuat Miangas, pulau kecil yang berbatasan dengan Samudra Pasifik dan Filipina itu terang benderang.

Kerajinan rakyat berkembang. Tukang-tukang membuat rumah knock down dari batang kelapa tua, rumah yang indah memenuhi permintaan beberapa Negara terutama Jepang, Eropa dan Amerika. Pabrik ikan kaleng beberapa buah. Berton-ton ikan asin diekspor ke Afrika yang selalu kekurangan gizi itu.

Orang-orang Sangir-Talaud pria dan wanita sangat musikal. Berlatih di terang listrik di malam hari menghasilkan koor yang mendapat penghargaan internasional di luar negeri. Hanya akulah yang masih tetap murung dalam kabut perkawinanku.

Akan tetapi lambat laun Miangas menghilangkan duka nestapa perkawinan kelabuku. Akan tetapi hal itu untuk sementara saja. Pada suatu hari istriku menarik sebuah sampan kecil dan berdayung ke tengah laut untuk mengurus keuangan - katanya kepada seorang anak kecil pemilik sampan kecil pula. Maka hilanglah dia ditelan laut untuk selamanya.

Tidak lama kemudian, ketika kincir anginku sedang membawa cahaya dan tenaga untuk kegiatan industri di pulau itu aku dan dokter gigi itu menikah di sebuah gereja kecil di pulau yang kecil itu. ***
Sabtu, 13 Januari 2007
Lanjut...

Tentang Fantasi

(Sebuah Tanggapan untuk AG Netti)

Oleh Marsel Robot
Dosen FKIP Undana, mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi Unpad Bandung


SETIAP tulisan yang sudah ditaruh di meja publik berarti pula memberikan kebebasan kepada siapa pun untuk menanggapi tulisan tersebut tanpa harus mengetahui niat awal penulis artikel tersebut. Semakin banyak tanggapan terhadap tulisan itu semakin teruji keunggulan dan keoriginalan opini tersebut. Itulah yang menghasratkan saya untuk menanggapi tulisan saudara AG Netti.
Akan tetapi, menggelikan sekali tanggapan Netti melalui tulisannya berjudul: "Beberapa catatan atas opini Marsel Robot Tentang Fantasi : Sebuah Pertengkaran yang Menyembuhkan" yang dimuat Pos Kupang 14 Maret 2008 lalu terhadap tulisan saya berjudul sebagaimana dikutip Netti (Pos Kupang, 26 Februari 2008). Sumber kegelian saya terutama oleh karena seluruh argumentasi Netti belepotan (berlumuran) emosi sambil mengobok-obok wilayah profesi, bahkan privasi saya.

Terkesan polemik dikerutkan menjadi sekadar eksploitasi kehebatan dia.
Coba baca kutipan berikut ini: "Dia (maksudnya Marsel Robot) juga tidak tahu, bahwa antara tahun 1991 dan tahun 2000, dua kali saya diundang untuk menyajikan makalah dalam seminar sastra (29 April 1991 dan 6 Mei 2000); satu kali menjadi anggota dewan juri lomba karya tulis cerpen dan pusi bersama-ama Drs. Hayon G Nico dan Drs. H Jehane pada seleksi daerah Badan Seni Mahasiswa Indonesia Tingkat Daerah Propinsi NTT yang akan diikutsertakan pada Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional Tahun 1991 di Surakarta; satu kali menjadi ketua dewan juri puisi pada Festival Seni Kampus Tahun 1992 FKIP Undana Kupang, dan satu kali menjadi narasumber dalam diskusi panel sastra dalam rangka memperingati hari Chairil Anwar pada 29 April 1998, banyak mahasiswa FKIP Undana Kupang Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia telah memungut manfaat dari saya yang setia berkontemplasi dalam bilik kontemplasi sastra."
Setelah ia memamerkan kehebatannya itu ia mengolok saya dengan kalimat ini: "Sangat disayangkan bahwa selama beberapa kali saya dilibatkan dalam kegiatan seni sastra di kampus Undana sebagaimana telah dikemukakan di atas, panitia tidak pernah melibatkan Marsel Robot untuk bersanding dengan saya, kecuali hanya Drs. Hayon G Nico dan Drs. H. Jehane." Dan masih banyak kalimat-kalimat Netti yang tidak pantas untuk dikutip kembali dalam tulisan ini.
Apa sih hubungan dengan tema polemik (tentang fantasi) dengan memamerkan kehebatan Netti di atas? Itulah, kalau sudah kelewat emosi persis orang kesurupan lantas segalanya menjadi sangat ceroboh. Karena itu, saya perlu meluruskan pernyataan Netti agar sembuh dari kesurupannya. Pertama, sekadar Netti tahu bahwa tahun 1991 saya baru PNS percobaan alias PNS 80 persen sebagai dosen di Undana. Belum menjadi dosen penuh. Jatah saya dalam mengajar dan kegiatan ekstra pun masih sangat terbatas. Bagaimana kita bersanding bersama pada tahun-tahun itu? Kemudian, sepanjang tahun 1998 saya pulang-pergi Kupang-Bandung untuk mengikuti Program Magister di Universitas Padjadjaran hingga tahun 2002. Tahun 2002 kembali ke Kupang, dan tahun 2003 kembali ke Bandung melanjutkan studi program doktor hingga sekarang.
Toh, kalau dengan sekian kegiatan di FKIP Undana itu lantas Netti merasa lebih superior dari saya. Silahkan Anda bersolek dengan kehebatan itu. Tetapi, jangan gunakan kehebatan itu untuk mengolok orang lain seakan Anda lebih berkelas. Kalaupun saya pernah bersanding dengan Bill Derck pengamat sastra Indonesia asal Leiden dan beberapa dari Australia, dari Brunai Darussalam dan Uni Soviet sebagai pembicara dalam seminar Internasional Sastra Lisan Nusantara di Depok UI tahun 1996, itu tidak perlu Anda tahu. Kalau orang biasa seperti saya ini ditunjuk sebagai pengamat dalam Festival Teater Nasional di STSI Bandung juga pada tahun 1996, itu tidak perlu Anda tahu. Saya hanya bersyukur kepada Tuhan bahwa saya ini diundang dalam rangka setengah abad Antropologi UI di Depok untuk membawa makalah di depan sejumlah punggawa antropolog UI Desember 2007. Terus terang, saya malah merasa tak punya apa-apa kalau menyebutkan hal-hal yang gituan. Sebab, banyak orang yang lebih hebat. Bahkan beberapa mantan mahasiswa saya kini jauh lebih hebat dari saya. Saya sangat bangga dengan mereka. Tetapi yang lebih hebat dari mereka karena mereka tidak pernah merasa hebat.
Kedua, siapa sih Anda buat saya? Anda tidak perlu tahu apa yang saya lakukan untuk FKIP dan Undana umumnya selama periode itu. Kalau Rektor Undana Prof. Agus Benu dan sejumlah pejabat NTT pernah suntukan menonton Opera Cermin Surga di GOR Oepoi Kupang dalam rangka Natal bersama Undana Desember 1997 setelah sukses dalam acara yang sama di FKIP Undana yang saya garap dan pentaskan, itu tidak perlu saya laporkan kepada Anda. Gubernur NTT, Herman Musakabe dan Wagub Piet A.Tallo, Gerson Poyk dan sejumlah pejabat NTT suntukan menonton Angin Kebebasan yang saya pentaskan atas permintaan panitia Dewan Kesenian Kupang pada pertengahan tahun 1998 sebelum saya berangkat ke Bandung, dan itu tidak perlu saya bersanding dengan Anda.
Padahal, saya sudah menyarankan Anda untuk berpolemik di luar lokus profesi dan privasi seseorang. Dan hindari cara berpikir generatif yang merendahkan mutu dalam polemik seperti ini. Sedangkan tanggung jawab sosial seorang penulis terletak pada mutu argumentasi, bukan pada perihal merendahkan profesi dan privasi seseorang. Mari kita berpolemik secara etis, attackting everybody, agonizing nobody, kata Ignas Kleden dalam buku 'Indonesia Sebagai Utopia' (2001:160).

Tentang Fantasi
Kembali ke substansi. Netti menanggapi tulisan saya dimulai dengan kesimpulan bahwa apa yang saya tulis tentang fantasi mendukung argumentasi atau pernyataannya. Tetapi aneh, pada detil-detil penjelasannya malah menolak seluruh argumentasi saya. Netti tidak sadar bahwa ia menafikan argumentasinya sendiri. Saya pun maklum, kala seseorang sedang emosi, maka cenderung sulit mengontrol hulu-hilir argumentasinya.
Saya menandaskan bahwa fantasi sebagai metabolisme pikiran, merupakan proses mental paling inti dan paling kreatif dalam pikiran manusia, dan fantasi adalah khas manusia. Manusia hidup dalam lingkungan fantasi, dan setiap manusia mampu berfantasi baik tingkat fantasi rendah (low fantasy) maupun fantasi tinggi (high fantasy). Pada point terakhir di atas, di mana perbedaan tingkat fantasi seseorang lebih banyak ditentukan oleh susunan kimiawi pada otak manusia. Karena itu, pada kasus tertentu, derajat fantasi seseorang dapat diubah dengan mengubah susunan kimiawi otaknya misalnya melalui obat-obat tertentu, atau menggunakan aliran listrik pada bagian tertentu pada otak manusia.
Kemampuan manusia berfantasi yang membedakannya dengan binatang. Untuk menegaskan hal itu saya mencotohkan kasus herder, anjing kesayangan Anda diajari cara tertentu untuk merespon. Katakan, setiap kali hendak memberikan makan kepadanya Anda akan mengeluarkan bunyi: 'ooo.... h', lalu di susul dengan menyodorkan piring yang berisikan makanan. Herder pun datang mendekati Anda. Kemudian ia melahap makanan yang Anda berikan. Setiap kali bunyi 'ooo... h', maka herder selalu memberikan respon yang sama. Perilaku anjing itu adalah bentuk respon dari stimulus kata 'ooo....h' yang selalu disertai dengan tindakan memberikan makanan kepadanya.
Contoh ini saya ajukan untuk menegaskan bahwa manusia berfantasi dan binatang tidak. Kemudian ditegaskan pula oleh sosiolog Kenneth Burke penganjur teori Draturgi yang membedakan tindakan manusia dan binatang. Menurut Burke, manusia beraksi, sedangkan binatang bergerak. Beraksi berarti melibatkan fantasi, sengaja dan mempunyai maksud. Sedangkan gerakan bisa juga bermakna, bisa juga tidak, dan seringkali tidak bertujuan. Berfantasi adalah proses mental yang sengaja, kreatif, bertujuan dan bermakna.
Tetapi Netti menanggapinya secara salah. Pengajuan contoh tentang cara herder (anjing) merespon tidak berpretensi menanyakan, apakah Netti sudah membaca penelitian Pavlov, dan kapan Anda membaca penelitian Pavlov? Contoh herder dibutuhkan untuk menjelaskan bahwa fantasi memang khas manusia. Saya ingin menegaskan bahwa fantasi atau dalam rumusan kata kerja 'berfantasi' adalah salah satu keunikan manusia sebagai makhluk berpikir. Fantasi sebagai energi kreativitas, sebagai salah satu bentuk pikir dalam diri manusia. Akan tetapi, fantasi mempunyai unsur ketidakmasuakalan. Itulah pula sebabnya, sering fantasi disorot sebagai bentuk deviasi dari pikiran rasional. Si tukang madu yang malas ingin menjadi kaya sebagaimana dicontohkan Maria Matildis Banda adalah sebuah fantasi. Disebut fantasi oleh karena ada unsur ketidakmasukakalan. Bagaimana si tukang madu, 'malas' lagi menjadi orang kaya?
Meski fantasi si tukang madu pemalas ingin menjadi kaya dianggap tidak berguna, sia-sia dan percuma, tetapi fantasi itu lahir dari pergumulan pikiran kreatif, proses mental yang sangat intens, dibentuk melalui kesadaran yang mendalam dan kepekaan atas realitas. Fantasi tentang si tukang madu yang malas ingin menjadi kaya setidaknya memberikan afirmasi kepada kita bahwa menjadi kaya tidak bisa dengan bermalasan. Karena itu, saya mengajukan sejumlah contoh, terutama dalam bentuk karya sastara sebuah medan garapan yang banyak menggunakan fantasi. Selain untuk meluaskan horison tentang konsep fantasi (bukan teori fantasi), tetapi juga untuk mengetahui peran dan manfaat fantasi, sekaligus memperlihatkan bagaimana kekuatan fantasi memberikan energi esensial terhadap pikiran kreatif manusia.
Saya mengajukan beberapa contoh fantasi baik dalam kisah makhluk Poti Wolo yang difantasikan sebagai makhluk berkaki kuda berwajah monster, berbuluh lebat-hitam adalah makhluk yang hanya ada dalam fantasi orang Manggarai sebagai makhluk yang berurusan dengan mencabut nyawa manusia secara acak. Dalam kenyataannya makhluk Poti Wolo itu tak ada. Tetapi, fantasi makhluk Poti Wolo sangat berpengaruh terhadap kepercayaan orang Manggarai sehingga pada jam tertentu tidak boleh keluar rumah karena makhluk itu akan lewat. Ini sebuah fantasi yang dikonstruksi oleh pikiran kreatif nenek moyang orang Manggarai. Demikian pula kisah Batu Badaon di Larantuka (Flores Timur). Selain itu, saya senagaja tampilkan peran dan kegunaan fantasi dalam satra tertulis, seperti kisah Ramayana, Mahabrata, kisah Seribu Satu Malam, juga dalam film seperti film The Lord of the Rings yang disutradarai oleh Peter Jackson mencapai rating tertinggi di dunia. Kisah film itu bersumber dari buku-buku Harry Potter karya JK Rowling dan menjadi wanita terkaya dunia karena fantasinya itu.
Lagi-lagi Netti membantah dengan mengatakan bahwa contoh yang saya ajukan tidak ada sangkut pautnya. Sebab, yang diperdebatkan menurut Netti adalah fantasi yang diteruskan dalam pikiran. Lagi-lagi Netti bingung. Bukankah berfantasi adalah juga kegiatan mental atau proses berpikir itu sendiri? Netti tidak mampu mensangkutpautkan konteks perdebatan dengan sejumlah contoh yang saya ajukan. Bagaimana Anda mengetahui manfaat dan peran fantasi jika tidak diperlihatkan dengan contoh. Ataukah Anda mampu melihat proses fantasi dalam pikiran seseorang. Dan fantasi hanya dapat didekontruksi oleh penikmat apabila dia telah berwujud biak dalam bentuk hasil karya sastra, film, lukisan, musik, atau bentuk karya lainnya.
Pada bagian lain, lagi-lagi dengan arogan Netti mengatakan: "Tetapi dengan ini saya ingin memberitahukan kepada Robot bahwa sumber (referensi) yang paling tepat untuk menjelaskan "genre" (aliran/gaya sastra) yang Robot kutip dari Eksiklopedi Wikipedia itu ada di dalam Chambers Twentieth Century Dictonary. Dalam Chambers Terntieth Century Dictonary (London 1972:473) disebutkan bahwa fantasia: a story, film, etc, not based ond realistic characters or setting (fantasi: suatu cerita, film dan lain-lain yang tidak didasarkan pada karakter-karakter atau setting yang realistis atau menurut keadaan yang sesungguhnya)". Maaf Netti, mau tanya. Tulisan yang benar antara kata based dan realistic on atau and? Ya, salah ketik itu lumrah, tetapi jangan menggunakan kesalahan itu untuk merendahkan orang. Sebelum saya lanjutkan. Maaf Netti, sekadar tanya: tulisan yang benar Twentieth atau Terntieth? Ya, kesalahan ketik itu lumrah. Tapi tak usah dieksploitir untuk merendahkan orang lain. Kata orang Jawa, 'boro-boro' mengoreksi orang lain, padahal kesalahan sendiri lebih banyak.
Berkuranglah kebiasaan berlagak hebat lantas mengatakan bahwa definisi fantasi dalam kamus lebih tepat daripada ensiklopedi. Bukankah justru sebaliknya? Sengaja saya mengambil pengertian fantasi dari ensiklopedi, karena yang dijelaskan dalam ensiklopedi lebih khusus dan yang didefinisikan adalah sebuah konsep atau sebuah konstruk. Sebuah konsep dan konstruk digunakan sebagai bangunan dasar sebuah teori. Fantasi diperluas dalam berbagai ranah, disertai tokoh penganjurnya, ciri sejarah dan contoh dalam berbagai lokus. Tentu saja, saya tidak bisa memuat dalam kolom pendek seperti ini. Sedangkan arti kamus lazimnya menitikberatkan pada defini nominal dan pencarian sinonim terhadapnya. James Ablack dan Dean J Champion (1992:58) mengatakan: "Definisi nominal adalah definisi yang seringkali ditemukan dalam kamus. Berbagai istilah yang didefinisikan secara nominal seringkali merupakan pernyataan atau kata-kata lain yang sinonim dengan istilah itu. Hal ini menyebabkan pengulangan istilah, sehingga mengganggu, sebab istilah tersebut jarang didefinisikan dalam bentuk yang utuh (uniform fashion) mengenai sesuatu hal atau sesuatu makna tertentu". Karena itu, dalam tulisan ilmiah (khusus), orang cenderung menganjurkan agar menggunakan ensiklopedi daripada kamus.
Pada ujung artikelnya Netti menganjurkan agar saya berargumen dengan metode berpikir secara dialektika ala Hegel. Saya pikir Netti dalam keadaan tersesat mengarungi dialektika Hegel. Hegel justru menekankan dialektika yang mendialogkan dua ujung spektrum yang berbeda. Hegel menekankan bahwa 'negativitas hendaknya dipandang secara positif jika kita mau memahami rasionalitas realitas. Pemikiran Hegel sebagai ajakan untuk memperdamaikan kita dengan segala-galanya. Dan yang masuk akal dan nyata bagi Hegel justru dalam kontradiksi realitas yang tidak masuk akal' (Magnis Suseno, 2005).
Jangan pula Anda bayangkan bahwa cara berpikir hermeneutis begitu sengit dan rumit sehingga Anda menganjurkan kepada saya berpikir 'stick to the point' dalam membahas fantasi ini. Cara berpikir hermeneutis juga sederhana. Haluan utama hermeneutika pada kerja pikir menginterpretasi, memahami dan merefleksikan. Sekali lagi saya menyarankan kepada Anda, hindarilah cara berpikir 'stick to the point'. Itu hanya berlaku bagi orang yang sudah kekurangan stok argumen sehingga yang muncul justeru lahar emosi yang menggenang kolom opini Pos Kupang yang bergengsi ini. Atau karena Anda penganut Hegel secara sesat menjadikan pikiran sebagai instrumen untuk memaksa argumentasi Anda sebagai kebenaran tunggal? Dan inilah salah satu bentuk kecelakaan dalam berpikir ilmiah. * Pos Kupang, Senin 21 April 2008, halaman 14.

Catatan Redaksi :
Polemik tentang tulisan Maria Matildis Banda dalam buku '15 Tahun Pos Kupang' telah keluar dari koridor, jauh dari substansi dan argumentasi yang dibangun cenderung menyerang pribadi. Redaksi sesungguhnya mengharapkan sebuah polemik yang bergengsi, berkelas dengan bangunan argumentasi yang jernih, cerdas, dan kokoh menuju penyempurnaan gagasan tentang fantasi yang menjadi inti masalahnya. Karena harapan itu melenceng jauh dan polemik cenderung menyerang pribadi, maka dengan ini redaksi menghentikan dan tidak melayani lagi tulisan tentang fantasi. Redaksi mengucapkan banyak terima kasih kepada semua mereka yang terlibat dalam polemik ini. Terima kasih.

Lanjut...

Ina Soli

Cerpen Yayang Sutomo

JARI-jemarinya yang keriput menari dengan lincah, memintal benang dikeremangan sinar lampu pelita yang terbuat dari botol minuman suplemen penambah tenaga malam itu. Sudah menjadi kebiasaannya mengisi waktu dengan menggulung benang menggunakan pepaka saat magrib atau petang tiba hingga rasa kantuk menyerang. Saat itu, ia baru beranjak ke pembaringannya melepas lelah setelah seharian bekerja.
Dia dikenal dengan nama Ina Soli. Tak ada yang tahu hari kelahirannya dengan tepat.

Menurut cerita darinya bahwa ia dilahirkan pada waktu perang kemerdekaan tahun 1945 saat orang tuanya mengungsi dari Waikabubak (ibukota Kabupaten Sumba Barat saat itu) ke Wone, daerah perbatasan antara Kecamatan Loli dan Waijewa Timur. Tanggal, bulan, apa lagi hari tak diketahuinya. Ia bersekolah hanya sampai di bangku kelas dua SR, sebab orang tuanya tidak memiliki biaya yang cukup. Ketika dirinya berusia dua belas tahun, orang tuanya menjodohkannya dengan orang kaya di kampung itu. Belis atau mahar perkawinannya berupa kuda, kerbau, dan mamoli. Ia menikah saat berusia empat belas tahun. Tak ada sanggahan ataupun bantahan terlontar dari mulutnya meski sesuatu bergolak di hatinya. Patuh pada perkataan orang tua itu yang terpenting pikirnya. Ketika belis telah lunas diberikan atau dibayar oleh pihak laki-laki, ia dipindahkan atau diantar ke rumah suaminya dengan pakallak dan payawou. Di rumah sang mertua, ia akan membaktikan seluruh hidupnya sampai ia dan suaminya memiliki rumah dan pindah untuk tinggal sendiri. Pekerjaan rutin dilakukannya setiap hari seperti menimba air, mencuci, menumbuk padi, memasak bahkan berkebun. Tak satupun keahlian dimilikinya kecuali menenun.
Aku menatapnya dari kejauhan. Dirinya asyik menusuk-nusuk benang berwarna-warni dengan bambu yang telah diraut atau dihaluskan (Lirra) untuk membentuk motif pada tenunannya. Di atas bale-bale bambu, sesekali terdengar suara malirra. Dengan perlahan aku berjalan mendekatinya. Merasa ada seseorang yang tengah mendekat, dia menoleh dan sejenak memandangku.
"Selamat sore Ina," sapaku lembut.
"Selamat sore, Nona. Dari mana?," balasnya. "Silahkah naik! Maaf, kami punya rumah begini saja," sambungnya sambil berusaha melepaskan bedo dan bangkit lalu keluar dari alat tenunnya. Silahkan duduk!," lanjutnya seraya menggelar selembar tikar pandan. Terlihat keramahannya dengan berusaha menggunakan bahasa Indonesia dialek Loli (Sumba Barat) yang kalau kupikir agak lucu kedengarannya.
"Terima kasih Ina," jawabku sambil melangkah naik ke atas bale-bale bambu dekat seperangkat alat tenun yang terlihat begitu lama, usang dan tua karena termakan usia.
"Ina Soli tinggal sendiri di sini?," tanyaku memulai pembicaraan dan tanpa sepengetahuannya tape recorder kecil kesayanganku telah ku tekan tombol playnya pertanda rekaman telah dimulai.
"Betul Nona, saya punya anak ada enam orang, semua sudah kawin. Anak perempuan ada empat orang. Sekarang mereka tinggal dengan mereka punya suami di kampong laen. Kalau yang laki-laki sudah ada rumah sendiri, jadi saya tinggal sendiri di sini," jawabnya polos dengan aksen Lolinya yang sangat kental.
Pertanyaan demi pertanyaan satu per satu bergulir dari mulutku. Dan setiap jawaban yang muncul selalu membuatku termangu-mangu. Betapa tidak, di usianya yang renta Ina Soli masih memikirkan nasib remaja puteri dan kaum wanita di kampungnya. Tak sabar mendengar ceritanya, kukeluarkan notes kecil dan pena dari ranselku dengan cepat. "Aku harus mendapatkan data yang akurat," kataku dalam hati.
"Jadi, adi Nona ini wartawan?," tanyanya dengan nada penuh selidik.
"Iya, Ina! Maaf! saya tidak berterus terang sebelumnya karena saya takut Ina nanti tidak mau bicara dengan saya," jawabku agak ragu-ragu.
"Tidak apa-apa," balasnya sambil tertawa lepas seolah tantangan kehidupan tak pernah ia rasakan.
***
Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, namun matahari belum juga beranjak dari tempatnya. Kabut menyelimuti sang surya hingga sinarnya tak tampak menyapa ramah dedaunan yang sedang menanti kedatangannya. Tetes-tetes embun bak kristal bening bergulir perlahan jatuh ke bumi setelah semalaman bermukim di dedaunan. Hawa dingin menusuk tajam menembus pori-pori kulitku. Kurapatkan jaketku sambil melangkah agak cepat menuju Kampung Tarung yang hanya sekitar beberapa ratus meter dari Hotel Manandang tempat aku menginap. Waikabubak, memang kota yang eksotik dan unik. Mengapa? Karena memiliki kampung-kampung tradisional yang berada di tengah-tengah kota tersebut dan masih terlihat asli, yakni rumah panggung tradisionalnya yang dibangun secara berkelompok. Di depan rumah-rumah tersebut berjajar batu-batu kubur yang besar (Megalith) yang proses keberadaan dan pengadaannya dilakukan oleh orang sekampung lewat sebuah pesta adat yang dinamakan tarek batu kubur.
Nafasku tersengal-sengal menaiki kampung ini, terburu-buru karena ingin segera bertemu Ina Soli dan penasaran akan ceritanya.
"Sekarang sudah jam 10.30 Wita, mari kita turun, saya mau menunjukan sesuatu kepada Nona," katanya dengan serius. Aku ingin membantah omongannya karena kelelahanku saat mendaki tadi namun kuurung niatku demi sebuah kejutan yang menanti di depan.
"Kampung ini sudah banyak berubah. Lihat saja, sekarang sudah ada jalan setapak yang permanen, ada listrik, anak muda di sini banyak yang pergi ke Malaysia untuk jadi TKI/TKW," ceritanya agak lesu sambil menggandeng tanganku menuruni kampung lewat jalanan yang sama ketika aku mendaki tadi.
"Ina, senang kan? Kampungnya menjadi bagus dan tidak ketinggalan jaman," jawabku sengaja memancing reaksinya.
Nona salah, saya sebenarnya tidak suka karena banyak orang turis (tourist) yang bilang ini kampung tidak asli lagi. Belum sempat kutanggapi pembicaraannya, Ina Soli sudah menyapa ibu-ibu dan remaja putri di sebuah rumah alang di depan kami. Kuikuti langkahnya danàmataku terbelalak! Bagaikan sebuah sanggar, para ibu dan remaja putri sedang menenun beramai-ramai. Ada yang memintal benang sambil makan sirih pinang, ada yang mencelupkan benang dengan pewarna alami, ada yang menggulung benang dan banyak lagi kegiatan yang mereka lakukan. Pantas aku mendengar suara gaduh ketika mendaki jalanan menuju ke kampung tadi namun tak kuketahui dari mana asal bebunyian tersebut. Ternyata itu suara alat-alat tenun yang berirama membangunkan sang Surya, menguak kabut, meluruhkan embun, menepis awan, dan mengusik dingin ætuk menyongsong hari cerah.
"Ibu-ibu dan anak-anak semua, ini nona wartawan. Dia datang untuk lihat kita tenun. Maaf Nona, saya punya bahasa Indonesia tidak bagus," katanya tersipu-sipu.
Aku tersenyum. Semua yang hadir pun tersenyum mengganguk. Ku amati kain-kain tenun yang beraneka motif sungguh indah tak terkatakan. Hanya yang memiliki bakat dan keahlian khusus dan berjiwa seni yang tinggi yang mampu melakukannya. Sesekali aku memotret. Terlihat wajah-wajah polos mereka dengan pakaian seadanya diliputi kebahagiaan yang tak mampu kuuraikan dengan kata. dan kalimat. Semangat kerja yang tinggi, rasa kebersamaan, solidaritas, kekeluargaan tergurat di wajah mereka menyimpan berjuta makna yang tak kumengerti, membuatku tak sanggup menatap lama.
"Kami berkumpul di tempat ini setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu jam sepuluh pagi untuk tenun sama-sama. Saya ajar mereka bagaimana tenun yang baik, bagaimana cara membuat motif yang lurus atau simetris, tidak bengkok supaya hasil tenunannya atau kainnya bagus . Kalau ada orang toris atau bukan orang Sumba Barat yang beli mereka tidak anggap enteng orang Sumba Barat, apalagi perempuan yang bikin ini kain, Dorang juga bisa cerita ini kain sama orang lain lagi dan orang lain itu bisa datang ke sini untuk beli ini kain,"lanjutnya dengan bahasa Indonesia yang kaku dan tak sempurna namun kumengerti dengan baik.
Aku terperangah mendengarnya. Ina Soli, dalam kesederhanaannya, masih ingin memajukan kaumnya, memperhatikan lingkungan sekitarnya, mempedulikan kehidupan dan perekonomian para perempuan di kampungnya. Dia juga memikirkan cara sederhana untuk mempromosikan daerah tempat tinggalnya lewat jemari lincah kaumnya dalam keterbatasan hidup dan ekonomi di dunia sekarang yang serba sulit ini. Tanpa disadarinya dia telah mampu mempertahankan dan melestarikan budaya daerah yang juga merupakan aset budaya nasional. Yang membuatku benar-benar tak percaya adalah satu keinginannya sebelum tutup usia, yakni bertemu Bapak Bupati Sumba-Barat lewat dinas P&K untuk memasukan "TENUN" sebagai mata pelajaran mulok dan kegiatan ekstrakurikuler di SD. Hal ini dimaksud agar tenun dapat dikenal, dicintai, dipelajari sejak dini dan merubah pola pikir bahwa menenun ini bukan saja milik perempuan kampung tetapi juga perempuan kota sehingga tradisi dan budaya menenun dapat dipelihara dan tidak punah dari generasi ke generasi atau terkikis oleh waktu.
Aku tercengang-cengang dibuatnya hingga mulutku terkatup rapat tak ada waktu untuk berbantah-bantah. Pemikiran yang dimiliki Ina Soli melampaui penampilannya yang teramat sederhana, bahkan membahasakannya pun ia terbata-bata. "Luar biasa," hanya kata ini yang terlontar dari bibirku.
***
Dua hari bersama Ina Soli membuatku merenung, mungkin masih banyak Ina Soli-Ina Soli lain yang belum terekspos. Sebagai wartawati lepas (freelance) yang baru, aku memulai tulisan pertamaku tentang Ina Soli dan semua hal yang telah ia lakukan, tentang sisi kehidupannya yang dikungkung oleh adat-istiadat yang keras, tentang keberanian dan pergolakan bathinnya yang ingin berontak dan keluar dari kepahitan hidup, tentang kepeduliannya terhadap kaumnya, tentang kerinduannya memelihara tradisi menenun, tentang kebanggaannya akan hasil karya cipta dan seni dari tangan-tangan terampil milik kaumnya dan kecintaannya terhadap budaya daerahnya. Aku tersenyum memikirkannya. Jiwa dan semangat ibu Kartini tergambar jelas dalam diri Ina Soli. Tulisanku menjadi berita utama surat kabar tempatku bekerja. Wajah Ina Soli terpampang besar dan tersenyum menyimpan berbagai rahasia hidup. Aku sungguh berterima kasih kepada Ina Soli yang dengan ceritanya aku dapat menemukan arti hidup yang sesungguhnya dan menemukan jati diriku sebagai seorang jurnalis yang mampu mengungkapkan kebenaran yang nyata dalam masyarakat. Sosok Ina Soli adalah sosok Kartini masa kini yang mengajarkan aku untuk selalu berusaha dan berjuang demi kepentingan banyak orang, dan juga diri sendiri dengan sedikit keahlian yang aku miliki. Ku raih koran lokal edisi hari ini kembali, ku pandangi wajah Ina Soli sekali lagi, ku amati senyumannya, senyuman yang menyiratkan keberanian, kebanggaan, ketulusan, keinginan dan harapan. *
Catatan:
Bahasa daerah Loli (Sumba Barat):
Pepaka =alat penggulung benang untuk ditenun.
Mamoli =Perhiasan wanita dari perak/emas untuk telinga/leher
Pakallak =Suara sorak bersama yang melambangkan sukacita (wanita)
Payawou =Sama seperti pakallak namun bagi pria yang didahului/dipimpin oleh seseorang
Lirra =Kayu kecil/lidi/bambu halus dipakai untuk membentuk motif pada kain
Malirra =Alat pemukul benang/kayu panjang saat menenun.
Bedo =Alat tenun yang letaknya dibagian pinggang/belakang terbuat dari kayu.

Pos Kupang Minggu, 20 April 2008, halaman 6.

Lanjut...

Kipas Cendana

Cerpen Gerson Poyk

Hidupku sebatang kara. Akan tetapi, aku masih bisa hidup berkecukupan dalam arti tidak tergantung pada siapa-siapa, bisa makan tiga kali sehari dan bisa tinggal di sebuah kamar sewaan. Di kamar itu ada sebuah dipan dan kamar mandi dan dapur. Di emperan belakang atapnya agak menonjol jauh dari tembok sehingga kompor dan rak piring, ember dan sepeda bisa ditaruh di situ. Di kamarku ada sebuah televisi bekas yang menghiburku setiap hari.


Kalau saja anak perempuanku tidak kawin dengan seorang pria yang bekerja di Timur Tengah mungkin aku tidak sendiri karena anakku bisa mengurusku dan dua cucuku bisa menghibur aku. Akan tetapi syukurlah anakku bisa membantu kehidupan ekonomiku. Sejak lama ketika istriku masih ada, hidup kami pas-pasan. Istriku masak di emperan belakang untuk dijual. Ada ikan pepes, ada nasi uduk, sambal goreng tempe, ada ikan bakar, terung bakar, dan sambal yang kuberi nama "Sambal Inul Cili-cili".

Setiap hari aku berkeliling menjual makanan dengan sepeda. Aku mendayung sepedaku mulai dari pagi subuh sampai kadang siang kadang sore. Target penjualanku adalah pasar tradisional dan proyek-proyek bertingkat di mana para buruh sedang bekerja.

Akan tetapi, setelah istriku meninggal, semuanya berantakan. Anak gadisku terpaksa putus sekolah di kelas satu SMA karena harus membantu aku. Setiap malam aku harus masak meneruskan apa yang sudah dididik oleh istriku. Akan tetapi, sehabis masak aku harus beristirahat setengah hari sehingga makanan tidak utuh dijual dalam sehari penuh. Untunglah anakku berkenalan dengan seorang gadis Madura penjual kue cucur.

"Pak, aku ingin seperti gadis Madura itu," kata anakku.

"Dia putus sekolah di SD, tetapi bisa menjadi direktris," kata anakku.

"Ah, jangan bercanda," kataku.

"Modalnya cuma satu kompor kecil dan satu panci adonan tepung beras. Dia pengusaha kue cucur. Laris sekali, Pak," kata anakku. "Aku ingin berdagang kue cucur seperti dia," sambungnya.

"Tetapi bagaimana dengan usaha makanan warisan ibumu? Harus ditinggalkan? Apakah penghasilannya cukup untuk makan minum kita berdua?" tanyaku.

"Gampang. Modalnya cuma satu meja. Di atas meja itu makanan masakan Bapak sebagian ditaruh di atasnya dan sebagian Bapak bawa keliling dengan sepeda. Setuju?"

Maka, tiga hari kemudian ada sebuah lapak meja berisi makanan di pasar tradisional dan di pinggir meja ada sebuah kompor yang mendesir-desir menghamburkan aroma kue cucur. Gadis Madura, "dosen" kue cucur anakku berjualan tidak jauh di samping lapak anakku. Setiap pagi dini hari anakku berjualan sendiri di pasar tradisional itu tanpa aku temani. Setelah tidur sampai jam sebelas siang aku menggenjot sepedaku menuju pasar dan mengambil sebagian dari makanan yang anakku jual itu. Aku berkeliling ke bangunan yang sedang sibuk, ke pagar di luar pabrik dan sebagainya.

Pada suatu dini hari seorang wartawan muda dari tabloid Suara Pasar, raja begadang malam, jongkok di depan kompor kue cucur anakku. Wartawan muda itu jatuh cinta kepada anakku. Dia memuat foto anakku dan foto gadis Madura itu, besar-besar di tabloidnya. Ceritanya panjang lebar dan menyinggung program candak kulak, yaitu kemudahan memperoleh modal kecil di masa Orde Baru, program yang tenggelam tak tentu rimbanya.

Selanjutnya anakku menikah dengan wartawan Suara Pasar itu, pasar tradisional itu.

Temannya gadis Madura itu murung sampai dengan suatu saat beberapa bulan kemudian sopir angkot melamarnya.

Tidak lama kemudian menantuku pindah ke Timur Tengah dan bekerja sebagai wartawan majalah OIL, yang bekerja di perusahaan minyak pula.

Namun, keduanya tak banyak membantu aku karena di sana mereka bekerja sambil belajar. Menantuku kuliah dan anakku melanjutkan pendidikan SMA kemudian ikut kuliah.

Akan tetapi, keduanya tidak lupa memikirkan kehidupan ekonomiku. Anakku mengirimkan uang kepadaku untuk modal membeli kipas cendana dan gahara untuk dijual di Timur Tengah. Selain kipas cendana juga kalung yang terdiri dari butir-butir kayu cendana dan gahara. Kemudian mereka juga meminta tetelan kayu cendana dan gahara untuk dibakar di anglo para hartawan timur tengah.

Dengan demikian aku sibuk dengan usaha baru sebagai pedagang kipas cendana. Setiap bulan aku mengirim komoditas dagang yang harum itu. Untuk kegiatan itu aku menyewa sebuah kotak pos. Semuanya serba kecil. Kotak pos kecil, sebuah kamar tidur yang kecil, tetapi dengan yang kecil itu aku berhubungan dengan dunia yang luas dan besar! Walaupun penjualan kipas cendana itu cukup lancar sehingga aku bisa membeli sebidang tanah kapling di Jakarta, anakku suami istri melarang aku membeli tanah untuk membangun rumah di kota, yang menurut anakku akan musnah oleh banjir air dan banjir manusia.

Cukup aneh pikiran mereka, buatku.

Setiap kali aku ke kantor pos untuk mengirim barang, aku mampir ke sebuah warung kecil yang terletak di halaman depan kantor itu. Untuk minum kopi atau makan.

Ibu Agus, pemilik warung itu, dibantu oleh anak gadisnya yang mempunyai adik lelaki yang belum disunat. Mula-mula aku hanya sarapan kemudian aku datang setiap hari untuk makan siang dan makan malam. Si Agus anak lelaki yang belum disunat itu sangat gembira kalau aku datang. Biasanya kalau ada uang receh aku hadiahkan kepadanya. Tiba-tiba pada suatu hari ia memperlihatkan sebuah celengan yang berat karena penuh dengan uang logam. Sungguh suatu kejutan bagiku melihat seorang anak yang ternyata ditinggal meninggal oleh ayahnya. Si Juli, kakak perempuan Agus adalah seorang gadis yang cukup berbakti kepada ibunya. Hampir setiap hari ia bekerja di warung kecil itu, kecuali kalau ia harus mencuci pakaian di rumah, menyapu, dan menjemur.

"Bapak bekerja di mana?" tanya Juli pada suatu hari. "Sibuk benar selalu kirim bungkusan karton lewat kantor pos."

"Saya bekerja di rumah," jawabku.

"Kantornya di mana?" tanya Juli.

"Kantornya kecil sebesar kotak, kotak pos!"

Juli tertawa, "Kalau masuk kantor, bapak jadi semut dulu ya!"

"Ah, bisa saja Juli," kataku.

"Eh jangan anggap enteng, semut itu guru bagi manusia. Bergotong royong tanpa marah-marah, darah tinggi seperti.."

"Lu nyindir gue, ya!" kata ibunya,

"Oh Ibu darah tinggi?" tanyaku.

"Tidak ibu saya berdarah bangsawan tinggi dari Jawa, tetapi sekarang merendah di warung kotak ini," kata Juli.

"Tidak apa-apa biar kotak asal uang bisa berputar meraup sedikit keuntungan. Untuk mengembangkan kotak ini menjadi gedung. Warung ini lebih besar daripada kotak pos saya. Itulah warung saya. Hasilnya sedikit, tetapi untunglah saya semut sehingga makannya sedikit saja," kataku. "Orang kecil seperti kita harus mulai dari kotak."

"Kotak pos tidak bisa digusur tetapi warung ini biar ada setorannya, terancam gusur. Orang bilang usaha kaki lima akan digusur dan direlokasi, tetapi nyatanya hanya barang-barang yang diangkut dengan truk dan ditumpuk di halaman wali kota," kata sang ibu.

Pada suatu hari ketika aku datang ke kantor pos di pagi hari, aku melihat warung Ibu Agus berantakan. Ada dua lelaki kekar mengangkat piring, panci, kuali, dandang dan sebagainya ke atas pikap. Tanya punya tanya, Ibu Agus punya utang pada bank liar. Ibu Agus hanya duduk diam dengan mata balalak, merah menyala. Darah tingginya kumat. Juli tak dapat berbuat banyak, hanya memegang tangan memantau urat nadinya yang dikuatirkan pecah. Pecah saraf mata pecah saraf otak.

Walaupun bukan urusanku tetapi terasa ada perintah dalam diri untuk bertanya, "Berapa utangnya?"

"Cuma tiga ratus ribu kok, sampai hati orang itu. Lagi pula persetujuannya tiap hari bayar seribu. Tiba-tiba dia minta dilunasi semua karena rumahnya kebanjiran," kata Juli. "Mana duitnya.."

"Sebenarnya ada tetapi kemarin bayar dokter dan obat darah tinggi," kata Ibu Agus.

Aku tidak lagi rasional. Tiba-tiba aku memanggil, "Bang! Masukkan kembali barang-barang itu ke warung. Ini saya bayar utangnya Ibu Agus," lalu aku mengeluarkan tiga ratus ribu dari dompet.

"Lha, tiga ratus, cuma, mana bunganya? Sudah tiga tahun uang kami terpendam di warung ini. Lima ratus dah.."

"Tidak.."

"Mengapa tidak?"

"Tidak ada uang lagi. Cuma tiga ratus."

"Yaaa, oke, sini uangnya."

"Ya, sini kembalikan barang -barang Ibu," kataku.

Setelah penagih utang itu pergi, beberapa lama kemudian si Agus pulang dari sekolah. Anak yang baru duduk di kelas satu itu heran, terutama karena tidak ada makanan. Aku menyuruh dia membeli nasi bungkus untuk empat orang, lalu ikut membereskan warung agar tidak seperti kapal pecah.

Semenjak itu, Juli selalu datang ke kamar sewaanku membawa makanan, membersihkan segala yang kotor, mencuci pakaianku, dan menolongku mengepak kipas cendana, gaharu dan memotong kayu gahari menjadi tetelan. Lalu setelah rapi, dalam kardus ia menulis alamat si penerima dan si pengirim, lalu membawanya ke kantor pos. Ia juga selalu membuka kotak pos untuk mengambil surat-surat dari anakku.

Juli telah menjadi asistenku. Walau ia hanya tamatan SMP, tulisannya bagus, otaknya cerdas dalam perkara hitung-menghitung.

Setelah enam bulan datang bencana. Juli yang tidak mempunyai ayah tiba-tiba menemukan ayah dalam diriku sekaligus mencintai aku. Aku pun terapung dalam konflik. Umurku sudah lima puluh lima tahun. Juli baru dua puluh tahun. Ah, tidak, tidak kasihan Juli, tetapi Juli tetap ngotot mau menjadi istriku. Bagiku ini bukan cinta yang normal, ini gara-gara kipas cendana, kipas gaharu yang aromanya adalah uang. Kalau aku tak punya uang, maka seorang gadis tak akan mau. Ah, kipas cendana, kipas gaharu yang aromanya harum telah mengawetkan seorang lelaki tua yang telah berbau tanah. Juli tidak pantas menikah dengan mumi Fir'aun Jakarta ini! Juli memeluk aku, bergelantung di dadaku sambil berkata, "Saya akan mengurus Bapak sampai sudah memakai tongkat. Bapak akan hidup kembali, muda kembali melalui anak kita."

Aku jadi lemas, terpelanting ke kasur.

Tiba-tiba pintu diketuk karena tidak dikunci ia menerobos masuk. Matanya merah. Penyakit darah tingginya mungkin kumat. Tetapi, dia tampak telah bersolek dan merasa dirinya cantik akan tetapi karena bibirnya telah jadi merah karena gincu, aku merasa kedatangan harimau.

"Juli tidak pantas menjadi istrimu," katanya. "Aku yang pantas," sambungnya lalu bergerak ke arah Juli dan menamparnya.

Setelah Juli berlari keluar, aku segera lari ke pintu belakang lalu masuk ke kamar mandi, bersembunyi sampai satu jam. Ketika aku kembali ke kamarku, Ibu Agus telah tiada. Syukur.

Semenjak itu aku tidak muncul di warung Ibu Agus. Nomor kotak posku aku hanguskan dan pindah ke kantor pos lain.

Kira-kira tiga bulan kemudian, Juli datang ke kamarku, duduk sambil menyorong dot botol susu ke bibir bayinya. Aku agak tertegun. Jangan-jangan akan dimulai suatu pemerasan. Jangan-jangan ia akan ke kantor polisi melaporkan bahwa bayi ini anakku, anak seorang pedagang kipas cendana.

"Saya sudah kumpul kebo dengan seorang sopir angkot," kata Juli.

"Lalu langsung punya anak?" tanyaku.

"Tidak istrinya minggat, menyerahkan bayi ini kepadaku. Terima saja. Habis, mau ke mana lagi. Punya ibu darah tinggi. Yang penting punya suami," kata Juli sambil menggendong bayinya.

Aku terdiam. Bola mataku basah.

Setahun kemudian ketika aku sedang mendayung sepedaku, aku melihat Ibu Agus berjalan kaki terseok-seok dengan sebuah karung yang setengah berisi. Aku berhenti, ia lupa padaku sehingga batinku terpukul. Ketika aku memeriksa karungnya, oh, hanya berisi botol akua dan koran bekas. Ibu Agus telah menjadi pemulung. Jakarta hanya memberinya sampah.

"Di mana Juli sekarang?" tanyaku.

"Juli sudah meninggal," katanya.

"Agus di mana?" tanyaku lagi

"Di perempatan, jual akua botol," jawabnya.

"Ibu tinggal di mana?"

"Di emperan. Banyak emperan, tinggal tidur saja."

Aku terpukul

"Bapak siapa?"

"Saya pedagang kipas cendana."

"Oo, mantu saya, mantu saya. Sudah, bonceng saya!"

Aku segera memboncengnya ke kamarku setelah membuang karung pemulungnya. Aku menyuruh dia mandi dan membelikan dia makanan.

Besoknya aku bawa dia ke rumah sakit jiwa kemudian memasukkannya ke sebuah panti jompo.

Depok, 10 Februari 2008
Sumber http://cerpenkompas.wordpress.com/2008/03/30/kipas-cendana/

Lanjut...

Alexandra

Cerpen Christo Ngasi


PURNAMA mau mengisyaratkan akan keindahan malam yang berpadu cahaya bintang. Hening dan tenang hanya mampu menangkap suara angin. Bunyi petasan mengagetkan penghuni alam. Kakekku hampir mati karena bunyi itu. Petasan itu bersumber dari rumah tetangga. Suasanapun menjadi tenang. Ibuku menjerit kesakitan. Ibu hendak melahirkanku. Ayah meraih tangan ibu dan dengan cekatan membaringkan ibu pada tempat tidur. Tak dapat ditunda lagi. Itulah kata yang keluar dari mulut bibiku. Ini saatnya ibu harus melahirkanku. Inginnya aku dilahirkan di rumah, tapi rumah sakit lebih menjamin untuk keselamatan aku dan ibuku.
"Dok...tolong istri saya hendak melahirkan." Permohonan ayah kepada dokter dengan suasana batin yang tak tenang.
"Baik, Pak...sabar sebentar.'' Dokter menyuruh ayah untuk tenang. "Suster tolong siapkan peralatannya," pinta dokter.
"Pak, istri Anda harus segera dioperasi," ungkap dokter melihat kondisi tak mengijinkan untuk melahirkan dengan normal.

Penantian dan kegelisahan. Itulah dua kata yang sedang dialami ayahku saat itu. Menantikan kelahiranku dan gelisah apakah aku selamat atau tidak. Suasana sedikit ada kesan saat keluarga berdatangan, baik keluarga ayah juga ibu. Satu jam telah berlalu, sementara suara ibu menjerit masih terdengar. Ibu masih sadarkan diri. Ibuku belum terkena bius dari dokter. Ibu memanggil ayah untuk menemani. Mungkin karena ayah memberi kekuatan untuk ibu. Pintu ruang persalinan ditutup. Gorden penutup jendela ditarik. Ayahku keluar. Ibu tak sadarkan diri karena bius. Berbagai cara ditempuh dokter guna membantu ibuku. Ayah tak tahu lagi harus berbuat apa. Paman mengajak ayah untuk berdoa. Waktu berselang, aku pun dilahirkan tetapi lahir bukan dengan tangisan, aku pasti tidak selamat. Panik gelisah dan gaduh dalam ruang persalinan. Tampak keluargaku ada yang menangis. Apakah aku atau ibu yang harus diselamatkan. Pikiran hanya sebatas yang mereka pikirkan. Suara tangisan kehidupan terdengar dari mulutku. Dokter lega, perawat puas. Ayah senang dan keluarga mengusap air mata lega dan bahagia. Aku lahir sebagai bayi perempuan yang murni dan suci lagi lemah dan tak berdaya. Aku pun dididik untuk menjadi perempuan yang sukses di kemudian hari. Itulah impian dan cita-cita ayahku sekalipun aku tidak diinginkan untuk lahir sebagai anak putri ke dua dari tiga bersaudara. Bukannya aku ingin mengungkit masa lalu yang terjadi, tapi memang seperti itu yang terjadi. Saat sekaranglah aku ketahui sejarah siapa aku. Tidak terbayang olehku, kini telah menjadi kenyataan. Semua kisahku aku peroleh dari kakekku yang dulunya hampir tewas karena bunyi petasan itu. Kini aku harus jujur tentang siapa aku.
***
Namaku adalah Alexsandra Estella. Sebuah nama yang diberikan oleh ayah. Nama yang adalah nama kota lama Mesir. Panas, kering, namun ada kehidupan dan keajaiban dunia. Sedangkan estella artinya bintang. Memang cocok dengan karakterku. Ayahku adalah seorang pegawai negeri sipil yang memiliki jabatan tertinggi di kantornya. Sedangkan ibuku adalah seorang pegawai bank. Aku sering di panggil Alexy. Nama antara laki- laki dan perempuan. Aku hanya ingin berbagi kepada kamu tentang aku. Tahukah kamu bahwa aku lahir pada tanggal 29 Februari 1988. Tahukah kamu bahwa aku dijuluki Tomboy? Oh... sebaiknya kamu dengarkan kisahku.
Mengenangkan kembali pada tanggal 29 Februari 1988 sungguh menyakitkan untuk saat ini. Aku dilahirkan tapi tidak atas keinginan orang tuaku. Tidak ada rencana bagi ayah dan ibu untuk menambah anak lagi. Ayah terus merindukan ibu, begitu juga sebaliknya ibu. Tiga tahun berpisah tak sekamar. Ayah pergi menuntut ilmu di negeri Paman Sam. Gelar doktor adalah yang ayahku cari, sedangkan ibuku hanya mengurusi kedua kakakku Francis dan Ingren. Maklum saat itu ibu masih tenaga honor. Penantian dan kerinduan selama tiga tahun terjawab sudah. Hubungan layaknya suami isteri terjalin. Ini hanya sebagai pelepas kerinduan tidak untuk menambah anak lagi. Memang benar kata penyair "tidak semua yang diinginkan dapat terjadi." Saat itu ibuku sedang mengalami masa subur maka terpaksa aku dikandung. Untung tidak terpikir untuk digugurkan. Toh aku juga anak mereka. Jadi kandungan ibu betul-betul dijaga. Sekalipun ayah dan ibuku tak ingin kehadiranku di tengah mereka. Bukan saja saat itu tetapi sekarang juga.
Tak terduga waktu terus berlari mengejar zaman yang menuntut. Hari, minggu, bulan dan tahun bagai petir menyambar pada permukaan laut. Cepat tanpa ada tanda selain bunyi. Begitu pula aku bertumbuh dalam keluarga yang kurang memperdulikanku. Tapi aku senang karena lingkungan mau menerimaku. Untuk pertama kalinya aku mendapat julukan tomboy. Aku senang dengan julukan itu, karena mereka menerima aku. Julukan ini semua karena sifat dan sikapku seperti laki-laki. Aku bertumbuh dalam lingkungan yang serba berantakan. Banyak pemabuk, peminum, penganggur dan tak luput juga kebanyakan dari mereka yang putus sekolah. Dari lingkungan ini aku bertumbuh menjadi perempuan nakal. Tapi bukan yang sebenarnya. Nakal karena tak pernah turut kata orang tua. Aku selalu membantah apa yang mereka katakan. Kalaupun aku turuti itu karena ada maunya. Bagiku kawan adalah segalanya. Tanpa kawan aku pasti tak berbuat apa-apa. Aku juga terasa begitu akrab kepada laki-laki dari pada perempuan. Hal ini bukan berarti aku tak senang kepada sesama jenisku. Tapi.....aku kurang simpati kepada mereka karena terlalu banyak mencari perhatian dari sang arjuna. Tak heran lagi kalau aku dijuluki tomboy. Nama di luar akta kelahiranku yang sebenarnya. Alexandra Estella atau artinya bintang kering.
***
Pagi yang indah di bulan Juni, ayah dan ibuku mengajakku untuk berlibur di Pulau Dewata. Itu adalah keinginanku sejak dulu untuk menikmati panorama Tanah Lot. Aku senang. Merasa sungguh diperhatikan oleh mereka dan inilah yang kudambakan dari mereka. Aku tahu ini semua mereka lakukan karena kedua kakakku telah berkuliah di tanah seberang. Kak France kuliah di Yogya sebagai mahasiswa hukum. Sedangkan Ingren kuliah di Kota Malang sebagai seorang mahasiswi Sastra Inggris sesuai dengan namanya.
Ajakan orang tuaku untuk berlibur hanyalah kesia-siaan. Keinginanku tertunda untuk melihat Pulau Dewata. Ayahku tiba-tiba jatuh sakit. Ini semua karenaku. Aku sadar bahwa gadis seusiaku tidak layak untuk begadang bersama sang Adam. Mulai saat itu aku berjanji untuk senantiasa mencintai kedua orang tuaku. Aku terus berdoa kepada Sang Khalik supaya ayah dan ibu serta kedua kakakku selalu dilindungi Tuhan. Aku hanya terkurung di rumah saja. Sekolah membuat aku memiliki kegiatan di luar rumah. Memang berat rasanya kebebasanku harus terkurung karena sadarku. Janji tingal janji aku tidak bisa menepati diriku sendiri. Orang tua sudah tidak memperhatikanku lagi. Marah dan marah. Itulah kata yang kurasakan selama mendekam di rumah sendiri. Aku mencoba bertahan dalam sadarku ini namun tak bisa. Ini memang salahku atau salah bunda yang melahirkanku?
Ayah dan ibuku selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Aku merasa sungguh diterlantarkan. Aku hendak mengungsi ke rumah kakek, tapi aku takut dan malu. Terpaksa berdiam di rumah sendiri meski hati serasa diiris. Terpikir olehku untuk lari dari rumah, tapi apalah daya aku hanyalah seorang perempuan yang selama ini menggunakan gaya laki-laki. Inilah hari baik dalam hidupku yang sempat aku catat dalam buku harianku. Aku diajak oleh kedua orang tuaku untuk menemui seorang psikolog. Awalnya aku tak mau tapi ini juga demi masa depanku. Ini untuk pertama kalinya aku ke psikolog. Bingung. Itulah yang aku alami. Pertanyaan demi pertanyaan ditujukan kepadaku. Aku menjawab dengan jujur karena tidak ada kepalsuan bagiku. Hari kedua aku menemui psikolog yang sama, tapi saat ini aku sendiri tanpa ditemani oleh kedua orang tuaku. Saat inilah baru aku sadari siapa diriku sebenarnya. Pertanyaan membuat aku harus membuka kembali memori lama yang selama ini aku pendam.
"Alexsandra. Terima kasih kamu mau datang untuk kedua kalinya. Apa yang kamu inginkan dari pertemuan ini, nak." Tanya psikolog itu kepadaku yang lagi tersenyum memandang lukisan Putri Diana yang terpajang di tembok.
"Maaf ya, Pa... yang aku inginkan yaitu supaya kedua orang tuaku dapat menerima aku sebagai anak mereka. Itu saja bapa...!" Pintaku dengan kepolosan seorang anak Kelas 2 SLTA.
"Apa saat ini Anda merasa bahagia?" Tanya Psikolog itu lebih serius lagi menatapiku.
"Ya...aku bahagia tapi dalam diriku sendiri." Jawabku semangat tak tahu bahwa itu adalah pertanyaan menjebak.
"Apakah Anda sungguh-sungguh bahagia dalam hidup Anda?" Tanya untuk kedua kalinya.
Aku tak dapat menjawab melainkan tertunduk dan malu pada diriku sendiri. Tapi aku bangkit dari kursi dan berkeliling sekitar ruangan itu. Aku melepaskan semua persoalan yang selama ini aku alami. Cukup singkat ceritaku tapi psikolog itu sudah mengetahui masalahku yang sebenarnya. Aku diberi suatu metode untuk dapat mengatasi persoalan hidupku.
"Terima kasih karena bapa sudah mau membantuku. Tapi ada satu permintaanku kepada bapa," pintaku
"Apa itu nak!" Suara kebijaksanaan keluar dari sang psikolog itu.
Tanpa sungkan aku menunjuk gambar Putri Diana itu. Cukup berat bagi sang psikolog untuk melepas pergi gambar kesayangannya itu. Tapi hari ini lebih memihak kepadaku. Aku mendapatkan lukisan itu. Aku berlalu dari hadapannya dengan membawa lukisan Putri Diana itu.
***
Setiap saat suasana pasti berubah. Aku tetaplah aku sebagai seorang Alexandra. Julukan tomboy tak dapat lepas dariku. Sebentar lagi usiaku 16 tahun. Tepat saat itu 29 Februari 2004. Waktu terus bergulir. Aku tak dapat melawan rasa ini. Rasa yang baru kualami saat usiaku ini. Rasa jatuh cinta. Aku mencoba dan mencoba untuk melawan tapi tak bisa. Kagelisahan terus kurasakan. Jujur aku tak dapat mengatasi rasa ini sendiri. Aku coba berbagi kepada teman dekatku. Tapi yang kudapat hanyalah tawa dari mereka.
"Lucu, kalau kamu jatuh cinta, Lex." Pikiranku buntu. Ingin berbagi kepada teman cewek tapi aku sudah terlanjur membenci mereka. Ini semua karena mereka terlalu feminin yang berlebihan. Tapi sebenarnya aku salah. Keberanian memaksaku untuk mengungkapkan ini kapada dia. Dia yang selama ini membuat aku tak bisa tidur nyenyak. Bumi, itulah namanya. Waktu yang tepat bagiku yaitu saat acara Valentine Day nanti, 14 Februari 2005.
Dengan pakaian harianku. Baju kaus oblong warna hitam, bertuliskan Stone dengan lipatan pada tangan kiri, itu adalah bajuku. Celana panjang levis dengan sobekan pada lutut dan bokong, itulah celanaku. Anting, gelang, cincin dan rantai dengan salib besar itulah assesorisku. Aku hadir dalam acara itu. Tapi aku tak punya nyali untuk mengungkapkan itu. Terpaksa perasaan ini kupendam. Aku tak menyangka seorang Bumi yang pendiam dan kalem mendekatiku. Aku gugup hingga sirup di tanganku tumpah. Ia mendekat dan memberi salam kepadaku. Aku hanya tersenyum tanpa kata. Lain dari hari lainnya aku selalu berani menghadapi laki-laki. Kamipun bercerita. Tapi sungguh, Bumi memberiku perhatian. Ia banyak menasehatiku. Malam itu menjadikanku sadar akan artiku sebenarnya yang adalah seorang perempuan. Tidak sepantasnya aku harus bergaya laki-laki. Tidak ada yang lebih darinya. Sepintas aku menatap dan ia berhasil meluluhkan hatiku. Aku jatuh cinta pada Bumi. Itulah kalimat pada judul buku harianku. Tetapi aku tak punya kekuataan untuk mengatakan. Tanggal 29 Februari 2004 aku genap berusia 16 tahun. Tidak ada acara yang dibuat. Cuma doa keluarga dengan ujud supaya aku lebih dewasa. Memang betul, aku mulai menyadari akan aku. Ini semua buka karena orang tuaku tetapi karena Bumi yang memberiku semuanya. Terima kasih Bumi, aku mendukung jalan yang telah engkau pilih. Bumi hanyalah kenangan bagiku yang tak sempat kuungkapkan namun kini ia telah dipilih Tuhan.
***
Waktulah yang telah membentuk aku untuk menjadi seorang perempuan yang asli. Aku sendiri kaget ketika harus mengenakan rok panjang saat menghadiri pesta. Aku mencoba untuk menerima orang tuaku. Memang awalnya sulit tetapi saat ini semuanya berjalan lancar. Kini tugas mereka untuk menemaniku. Kuharap kasih sayang mereka yang merata. Aku, ka'Francis dan ka' Ingren. Aku tak ingin mengingat lagi kejadian yang dulu kualami itu hanya menambah luka. Kini aku bukan lagi seorang Tomboy. Tapi kini aku adalah Alexandra. Hanya satu ungkapan terima kasihku kepada Bumi yang sudah menyadarkanku. Terima kasih karena kamu sudah menggoreskan kisahku ini. Sekarang aku sudah di kota pelajar Jogjakarta. Aku kuliah bagian psikologi bimbingan konseling. Tolong doakan aku supaya berhasil. Adikmu Alexandra.* Penfui, 1 Januari 2008. Diterbitkan Pos Kupang Minggu, 13 April 2008, halaman 6.


Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda