Oleh COEN HUSAIN PONTOH

DI kawasan Palmerah Selatan, Jakarta, ada sebuah gedung megah, terletak dekat pasar dan sebuah apartemen. Halaman parkirnya luas. Di seberang gedung itu dibangun sebuah rumah tradisional Kudus ukuran besar, berupa ukiran kayu yang indah. Inilah markas Kelompok Kompas-Gramedia, tempat harian Kompas, suratkabar paling berpengaruh di Indonesia, diterbitkan.

Di salah satu ruangan dalam gedung tersebut, ada ruang rapat, cukup untuk 20 orang, dengan pengatur suhu yang canggih sehingga dinginnya melebihi suhu Jakarta bila diguyur hujan deras sekali pun. Di ruang itulah, Suryopratomo biasa menemui tamu atau mengadakan rapat. Pembawaannya yang ramah membuat setiap pembicaraan ibarat pertemuan kawan lama. Lelaki yang murah senyum, berperawakan sedang, dan berambut pendek itu, adalah pemimpin redaksi Kompas.

Suryopratomo atau Tommy adalah bintang baru jagad industri pers di Indonesia. Ia dilahirkan di Bandung, pada 12 Mei 1961, anak kedua dari lima bersaudara dan anak lelaki tertua. Ayahnya, mendiang Soeharno Tjokroprawiro, bekas mahasiswa Institut Teknologi Bandung, awalnya seorang guru sekolah menengah di Bandung yang kemudian alih profesi menjadi seorang kontraktor. Ibunya, Siti Sofiah, seorang ibu rumah tangga.

Tjokroprawiro adalah figur ayah yang dikagumi isteri dan anak-anaknya. Ia juga sangat mempengaruhi sikap dan pilihan hidup Tommy. Tjokroprawiro menekankan pentingnya prinsip kejujuran, konservatisme, sikap rendah hati, dan tidak mengejar materi. Satu saat Tjokroprawiro mengelola perkebunan karet di Pelabuhan Ratu. Tanah perkebunan itu dibeli melalui proses lelang resmi. Tapi, tanah itu ternyata bermasalah, sehingga suatu hari pemilik tanah protes.

Oleh Tjokroprawiro, tanah tersebut diserahkan kepada pemilik semula dengan ganti rugi yang harus dilunasi dalam jangka waktu tertentu. Ini kejadian pada 1980-an. Namun, sampai batas waktu yang disepakati, ganti rugi tidak bisa dilunasi dan sesuai dengan akta perjanjian, mestinya tanah itu segera menjadi milik Tjokroprawiro. Sepuluh tahun berlalu, pemilik tanah tadi datang lagi, minta Tjokroprawiro membayar tanah tersebut dengan harga terakhir.

"Oleh ayah, permintaan itu dipenuhi. Ayah mengatakan kalau hak kamu, di mana pun akan kembali, kalau bukan hakmu ya sudah biarin, kamu kan hanya numpang hidup," ujar Tommy mengenang. Prinsip itu dipegangnya hingga saat ini.

Risiko dari ayah yang bekerja sebagai kontraktor, menyebabkan keluarga ini sering berpindah-pindah tempat. Mereka pernah tinggal di Surabaya, Bandung, Jember, Sukabumi, dan terakhir, di Bogor. Namun keuangan keluarga juga baik sehingga mereka terkadang berlibur ke luar negeri. Tommy pernah diajak ke Singapura dan Jepang. Selama masa itu, Sofiah tekun menjaga keutuhan keluarganya.

Sofiah di mata anak-anaknya adalah ibu yang tegar dan mandiri. Sofiah mengagumi suaminya. Sofiah juga dianggap kawan semua orang dalam rumah tangga. Sifatnya lembut, yang mungkin muncul karena Sofiah dibesarkan dalam tradisi Sunda, atau mungkin karena Sofiah harus mengimbangi Tjokroprawiro yang keras. Pendidikan anak-anak adalah tanggungjawab Sofiah karena Tjokroprawiro sering kerja luar.

Suryopratomo kecil merenda hari-harinya layaknya anak-anak lain. Ia suka bola dan bercita-cita jadi pemain sepakbola. Harsi Muharram, anak tertua dan kakak perempuan Tommy, ingat kegilaan adiknya terhadap bola, "Kalau disuruh ngaji, dia bilang, 'Kamu aja yang duluan, nanti saya nyusul,' sebab dia mau bermain bola."

Usai pendidikan menengah, Tommy diterima kuliah di Institut Pertanian Bogor. Di kampus inilah Tommy satu saat diajak mengelola majalah mahasiswa. Tapi ia agak ogah-ogahan, walau lama-lama ia jatuh cinta pada jurnalisme.

Pada 1986 Tommy menyelesaikan studi pasca sarjananya di IPB. Ia punya dua pilihan: menjadi dosen dan kelak melanjutkan studi atau bekerja. Tommy memilih bekerja -sebuah keputusan yang ditentang Tjokroprawiro. Sang ayah menghendaki Tommy melanjutkan studinya hingga S-3 karena IPB menawarinya beasiswa dan kemudian jadi dosen di sana.

Keputusannya untuk bekerja didorong perasaan tertentu, "Saya punya feeling sesuatu akan terjadi pada ayah dan saya harus mempersiapkan segala sesuatunya. Saya harus melakukan sesuatu karena saat itu adik-adik masih kecil." Tak lama kemudian Tjokroprawiro kena stroke. Kesehatannya merosot dan setelah 2,5 tahun menderita, Tjokroprawiro berpulang pada 1989.

Tommy melamar pekerjaaan di empat perusahaan. Semula ia tergiur menjadi bankir. Kebetulan saat itu sedang terjadi boom industri perbankan. Namun, hanya sebuah bank yang ia kirimi surat lamaran, tiga lainnya industri media: harian Kompas dan Suara Pembaruan serta mingguan Tempo. Hanya Kompas yang memanggilnya. Februari 1987 ia mulai bekerja di harian Kompas tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan lagi. "Saya belajar dari ayah saya, kalau sudah menentukan pilihan, ya sudah. Jangan serakah," tutur Tommy.

Tahun itu pula, saat usianya 26 tahun, Tommy memutuskan menikah dengan Nuri Widowati, teman kuliahnya. Di mata Tommy, Nuri adalah istri yang nrimo, yang mau mengerti pekerjaan suaminya: wartawan yang tak kenal waktu. Pernikahan mereka dikaruniai dua putri, Retno Anindita dan Asri Dwi Hapsari, yang kini mulai beranjak remaja. Pengertian mendalam dari Nuri membuat Tommy makin yakin dengan pilihannya sebagai wartawan.


BUDIARTO Danudjaja, salah seorang mantan redaktur pelaksana Kompas, dan satu dari sekian wartawan yang dianggap dekat dengan Jakob Oetama, pendiri dan chief executive officer Kelompok Kompas Gramedia, mengingat Tommy sebagai "anak baik" ketika Tommy mulai bergabung di Kompas.

Sebagai reporter baru, Tommy dipindah-pindah, dari desk satu ke desk lain. Istilah wartawan adalah rolling atau diputar-putar. Budiarto ikut menentukan perputaran itu. Pada September 1991 Tommy mulai diberi tanggungjawab struktural sebagai wakil kepala desk olah raga.

Pilihan ini tak lepas dari kegemarannya main bola. Ini juga katakanlah semacam obat mengobati rasa kecewa karena gagal sebagai pemain bola. Tommy bangga jadi wartawan olah raga. Pekerjaan itu ditekuninya sepenuh hati, tanpa mengenal lelah. Satu saat ia harus berpacu antara berita yang harus dikirimnya ke Jakarta dengan gemuruh puluhan ribu penonton yang memadati stadion Olimpiade Roma, saat pemain bola legendaris Diego Armando Maradona dari Argentina mendemonstrasikan keperkasaannya di tengah lapangan. Desk olah raga mengantarnya bukan saja bersua dengan Maradona tapi juga bintang bola Belanda Marco Van Basten dan Ruud Gullit.

Kecintaan pada pekerjaan dan bola pula yang membuat pengagum berat Franz Beckenbauer, bintang sepakbola Jerman, ini "menipu" petugas stadion ketika berlangsung Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Tanpa ID Card, ia menonton secara langsung dan gratis 13 pertandingan. "Teman-teman saya dari Bangkok, sampai geleng-geleng kepala," katanya.

Di tanah air, dunia sepak bola juga tak kalah menarik. Tommy satu saat dicaci-maki Acub Zainal, ketua Liga Sepakbola Utama, karena mengungkap kasus pelecehan pemain Eli Idris terhadap mantan pelatih nasional Bertje Matulapelwa. Ini terjadi saat berlangsung pertandingan antara klub Pelita Jaya melawan Petro Kimia, di mana Eli Idris bermain untuk Pelita Jaya dan Matulapelwa melatih Petro Kimia. Setelah mencetak gol, Eli Idris berlari kegirangan, menyusuri lapangan dan tepat di depan Matulapelwa melorotkan celana dalamnya. Tujuannya menghina Matulapelwa. Menyaksikan peristiwa itu, Tommy tidak tinggal diam. Kasus pelecehan itu ditulisnya.

"Saya mengkritik keras ulah Eli Idris. Perilaku seperti itu mencoreng dunia sepakbola," tuturnya penuh semangat.

Tommy tak peduli bahwa saat itu kesebelasan Pelita Jaya dipimpin Nirwan Bakrie, seorang pengusaha ternama dari kelompok Bakrie yang suka bola. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia tak bersedia menghukum Eli Idris karena kuatir membuat Nirwan Bakrie tak senang. Kelompok Bakrie salah satu donatur terbesar organisaisi sepakbola nasional itu.

Tapi Tommy tak menyerah, ia terus menulis agar Eli Idris dihukum dan karena pemberitaan yang gencar Acub Zainal marah. "Kamu pikir Eli Idris benar-benar melorotkan celana dalamnya, hah? Apa kamu bisa melihat barangnya Eli?" ujar Tommy meniru Zainal.

Eli Idris akhirnya dihukum PSSI. Tidak jera dengan kasus itu, Tommy pernah mendesak ketua PSSI Kardono agar mundur karena tak becus.

Pada 16 Agustus 1992, Tommy dipindahkan ke desk ekonomi sebagai wakil kepala desk. Jabatan ini digenggamnya tiga tahun, sebelum ia dipromosikan kembali ke desk olah raga sebagai kepala desk. Menurut Tommy, sebenarnya ia dipromosikan menangani rubrik nasional pada 1997, tapi entah kenapa batal, yang rupanya mengandung hikmah tersendiri baginya.

Pada 3 Agustus 1998, Tommy dipromosikan sebagai wakil redaktur pelaksana. Tak sampai setahun, atau dua minggu menjelang jatuhnya Presiden Soeharto dari kekuasaannya, Tommy dipromosikan sebagai redaktur pelaksana. Nasib baik terus mendampinginya, tepat sembilan bulan sesudahnya, 1 Februari 2000, Tommy ditunjuk oleh Oetama menggantikan jabatan Oetama sebagai pemimpin redaksi harian dengan tiras sekitar 500,000 itu.

Ini pertama kalinya terjadi suksesi kepemimpinan redaksi Kompas sejak suratkabar itu berdiri pada 1965. Oetama menyerahkan urusan redaksi Kompas pada Tommy walau Oetama tetap menjaga sebagai pemimpin umum Kompas yang membawahi baik urusan redaksi maupun bisnis harian itu. Oetama juga tetap jadi chief executive officer Kelompok Kompas Gramedia yang memiliki puluhan perusahaan, baik di bidang media, maupun perhotelan, toko buku dan sebagainya.

Pergantian ini terjadi ketika suasana politik Indonesia berubah secara besar-besarnya. Mundurnya Soeharto pada 21 Mei 1998, setelah berkuasa sejak 1965 sebagai orang nomor satu Indonesia, membuat perubahan besar-besaran di bidang politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, militer dan juga media. Cara pandang media dan pekerjaan mereka kelihatannya harus berubah. Kelompok media besar, satu demi satu mulai melakukan regenerasi. Goenawan Mohamad menyerahkan kepemimpinan redaksi Tempo kepada Bambang Harymurti. Perubahan juga terjadi di jajaran redaksi Jawa Pos, RCTI, SCTV dan lainnya ketika media baru juga bermunculan di mana-mana.

Maria Hartiningsih, salah satu wartawan Kompas, berpendapat bagaimana pun juga Kompas perlu segera berbenah diri. Menurutnya perubahan dalam tubuh redaksi Kompas, termasuk pergantian Oetama dan pengangkatan Tommy, tak bisa dilepaskan dari perubahan yang terjadi di Indonesia secara keseluruhan.

Jakob Oetama dan kawan-kawannya pada manajemen Kompas, memutuskan generasi yang lebih muda perlu mulai memimpin Kompas. Pergantian Tommy, yang sekaligus membawa perubahan redaktur-redaktur lain dalam struktur organisasi Kompas, termasuk pemilihan Bambang Sukartiono sebagai wakil pemimpin redaksi, adalah bagian dari proses regenerasi itu. Menurut August Parengkuan, salah satu letnan Oetama, yang juga pernah dibicarakan sebagai calon pengganti Oetama pada 1990-an, regenerasi inilah yang mendasari mengapa Tommy dipilih. "Pak Jakob ketika pertama kali memimpin Kompas, usianya baru 35 tahun," tutur Parengkuan.

Perjalanan karier Tommy ibarat anak panah. Tommy mengaku ia tak punya ambisi menjadi editor harian terbesar di Indonesia ini. Ia juga tak merancang strategi khusus untuk jadi orang nomor satu Kompas. Tapi hanya dalam 13 tahun ia mencapai posisi itu, menyisihkan banyak orang hebat lainnya di Kompas. Lalu, dalam dua tahun terakhir ia naik tiga pangkat dari wakil redaktur pelaksana, redaktur pelaksana, dan akhirnya, pemimpin redaksi.

Budiarto Danudjaja, yang kini bekerja buat Lippostar.com, berpendapat bahwa Kompas ibarat "Indonesia mini" di mana ada orang macam Letnan Jenderal Prabowo Subianto atau Abdurrahman Wahid, yang masing-masing punya loncatan karier yang mengejutkan. Prabowo butuh waktu dua tahun dari kolonel ke letnan jenderal. Wahid menjadi presiden Indonesia setelah memenangkan pergulatan di parlemen di mana partainya hanya memenangkan sedikit kursi.

Tapi Budiarto cepat menambahkan bahwa ungkapan itu tak berarti Tommy juga bakal punya nasib macam Prabowo yang dipecat dari ketentaraan karena melakukan penculikan terhadap aktivis hak asasi manusia.

Cita-cita Tommy ketika melamar kerja Kompas, semata-mata karena ingin jadi penulis, tidak lebih. Karena itu, ketika majalah Tempo menulis Tommy sejak awal mengincar jabatan bergengsi itu, Tommy sewot. Sebagai wartawan Kompas, ia merasa jam terbangnya masih rendah untuk menduduki posisi bergengsi itu. Dibandingkan redaktur-redaktur Kompas senior, misalnya Parengkuan, St. Sularto atau Ninok Leksono, pengalaman kerja dan kapasitas intelektualnya tak istimewa. Dari segi usia ia terbilang muda, 39 tahun, sehingga jika harus berlomba ia tak sanggup.

Tommy memandang pekerjaan barunya sebagai penugasan. Kalau penugasan, Tommy sudah banyak makan asam garam. Baginya, penugasan hal yang biasa dan setiap wartawan Kompas harus siaga 24 jam. Penugasan sebagai pemimpin redaksi, di matanya, sama dengan penugasan sebagai wartawan olah raga. Menurut Parengkuan, untuk hal ini kinerja Tommy tidak perlu diragukan. Parengkuan bangga dengan hasil kerja Tommy selama ini, "Kalau saya dan Pak Jakob pensiun atau apa pun yang terjadi, kami sudah plong."


PENGANGKATAN Tommy tak bisa menampik kesan bahwa kemunculannya agak mengagetkan. Mengapa bukan Parengkuan, Leksono, Sularto, atau Ace Suhaedy Madsupi, yang dipilih Jakob Oetama sebagai ahli warisnya? Apa sebenarnya yang sedang terjadi di Kompas sehingga Tommy yang relatif muda yang dipilih?

Pertanyaan lumrah. Sebagai figur tidak banyak yang mengenal Tommy, kecuali kalangan wartawan dan handai taulannya. Ia bukan public figure yang laris manis diundang sebagai pembicara dalam berbagai forum. Ia juga bukan orator seperti Oetama, yang memukau audiens. Seperti wartawan Kompas umumnya, Tommy adalah wartawan profesional, yang berusaha keras menyajikan berita seakurat mungkin untuk memenuhi kebutuhan pembaca akan informasi yang benar.

"Dalam hal kerja," kata Tommy, "nomor satu saya senang dengan pekerjaan itu, yang kedua saya kerja untuk keluarga saya, baru untuk hasilnya mudah-mudahan bermanfaat buat perusahaan saya."

Tommy adalah prototype profesional yang andal, yang bekerja berdasarkan prestasi dan memimpikan kesuksesan karya. Juga tak mengherankan bahwa wartawan yang dikaguminya adalah Jakob Oetama dan Goenawan Mohamad, penyair-cum-editor pendiri majalah Tempo. Tak ada yang istimewa. Tak istimewa pula jika Tommy yakin kebersihan dan ketenangan batin adalah modal utama untuk menghasilkan karya gemilang. Ia menolak tegas jika kesuksesan seseorang ditentukan jumlah kekayaan yang dimiliki.

Tapi apa karya Tommy yang memungkinkannya layak menjadi pemimpin redaksi? Kecuali sebagai wartawan olah raga yang memukau, dan diam-diam dikagumi pembacanya, tak banyak yang bisa dijadikan referensi. Kasak-kusuk berkembang di kalangan media. Yang paling santer, Tommy dipilih untuk menghindari pertarungan faksional yang semakin menajam di dalam tubuh Kompas.

Majalah Tempo, 13 Februari 2000, melaporkan bahwa menjelang Oetama menyerahkan kedudukan pemimpin redaksi, para awak Kompas terbagi dalam tiga kubu: kubu August Parengkuan, kubu Ninok Leksono, dan kubu St. Sularto. Masing-masing lengkap dengan pendukung setianya yang jika dibiarkan terus pasti akan menghancurkan kinerja Kompas. Jadi, Oetama memilih Tommy demi keutuhan Kompas.

Namun, kasak-kusuk ini agak sulit dibuktikan. Hampir seluruh wartawan dan bekas wartawan Kompas meragukan ada kubu-kubu. "Memang di Tempo, saya baca di Kompas seolah-olah ada klik, kadang-kadang kita ketawa juga, klik di mana itu?" tutur Tommy.

Begitu pula kata Leksono, "Di Kompas tidak ada faksi-faksian. Semuanya berjalan secara egaliter." Menurut Leksono, diangkatnya Tommy bukan pilihan main-main, karena masa depan Kompas adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk dijadikan taruhan.

"Kalau benar bahwa di Kompas ada faksi-faksian," demikian Edy Lahengko, mantan wartawan olah raga Suara Pembaruan, seorang teman akrab Tommy, "ia sama sekali netral. Ia tidak berkelompok dan saya kira itu yang menjadi pertimbangan utama mengapa ia dipilih sebagai pemimpin redaksi."

Sang maestro, Jakob Oetama kepada majalah Swa mengatakan, "Memang sebelumnya ada dua calon, Suryopratomo dan Bambang Sukartiono. Tapi, Sukartiono menolak dengan alasan agak pemalu dan lebih suka di bagian lain." Sukartiono akhirnya diberi jabatan wakil pemimpin redaksi.

Mungkin benar bahwa tidak terjadi perkubuan, terlebih dengan adanya Oetama yang sangat dominan. Lebih tepat, jika dalam proses pemilihan pemimpin redaksi itu muncul suara-suara sumbang dan kritis. Sebab, seperti dituturkan Bambang Wisudo, seorang wartawan Kompas, yang aktif dalam masalah perburuhan bersama Aliansi Jurnalis Independen, penunjukan Tommy adalah "hak prerogatif" Oetama. Hal sama dikatakan rekan Wisudo, Salomo Simanungkalit bahwa sesungguhnya tidak ada proses demokratis untuk menjadikan Tommy sebagai pemimpin redaksi.

Tidak ada pemilihan yang terbuka sampai diketahui seluruh anggota redaksi. "Saya tidak tahu apakah ada proses pemilihan di tingkat pimpinan. Saya juga tidak tahu apakah Jakob ketika memilih Tommy berkonsultasi dulu dengan para pemilik saham," ujar Simanungkalit. Ketika saya tanyakan, mengapa bukan Ninok Leksono, August Parengkuan atau Ace Madsupi yang dipilih, Simanungkalit malah bertanya, "Apakah mereka lebih pantas daripada Tommy?"

Suryopratomo sendiri tak ingat pasti mengapa ia dipilih. Yang ia tahu, awal tahun 2000, Oetama memangggilnya ke ruang rapat yang dingin milik Kompas di kawasan Palmerah Selatan. Di ruang itu, ada Parengkuan dan Sukartiono. Oetama minta Tommy jadi pemimpin redaksi. Spontan ia menolak permintaan Oetama, dengan alasan jam terbangnya masih minim. Lagipula, ia masih ingin jadi reporter lapangan. Tommy menyodorkan nama Parengkuan dan Sukartiono. Tapi, Parengkuan dan Sukartiono, yang duduk bersama Oetama, menolak mengambil jabatan itu, sehingga Tommy merasa tak punya pilihan lain selain menganggapnya sebagai penugasan.

Tetapi, menurut Parengkuan, Tommy dipilih karena ia merupakan yang terbaik di antara yang baik.EKata Parengkuan, proses penentuan Tommy cukup demokratis dan lama. "Dalam rapat-rapat redaksi nama Tommy sudah mulai disebut-sebut, dan kami kemudian memberitahu seluruh wartawan tentang siapa yang menjadi kandidat pemimpin redaksi. Memang ada yang kritis, tapi kemudian akhirnya setuju. Apakah itu tidak demokratis?" kata Parengkuan.

Maria Hartiningsih, wartawan senior Kompas mendukung pendapat Parengkuan. Menurut Hartiningsih, suatu ketika ia ditanya Parengkuan mengenai siapa yang lebih layak menjadi pemimpin redaksi: Suryopratomo atau Sukartiono. Hartiningsih memilih Suryopratomo.

Parengkuan menuturkan riwayat pemilihan Tommy. Sejak 1990, Oetama meminta Parengkuan memimpin Kompas. Tapi, Parengkuan menolak tawaran itu. "Saya nggak bisa membayangkan kalau Pak Jakob tidak lagi menjadi pemimpin redaksi," katanya. Ia juga merasa tak disukai Harmoko yang saat itu menjabat menteri penerangan, sebuah jabatan yang sangat menentukan naik-turunnya media dalam pemerintahan rezim Soeharto. Dalam perjalanan waktu ketika usia terus bertambah, Parengkuan merasa peluangnya menjadi pemimpin redaksi semakin tipis. "Tongkat estafet kepemimpinan harus segera dialihkan kepada generasi yang lebih muda," katanya, bersemangat.

Bagi Parengkuan dan Oetama, situasi politik Indonesia yang berubah cepat dan munculnya peristiwa-peristiwa penting, menuntut kemampuan ekstra, baik dari segi mobilitas kerja maupun profesionalisme. Kemampuan itu tak lagi mereka miliki. Keduanya merasa lelah untuk terus berpacu.

Faktor kemudaan Tommy dan rombongannya hanya merupakan salah satu variabel saja. Profesionalisme, idealisme, dan leadership merupakan variabel yang tidak bisa diabaikan. Untungnya, sistem kerja, corporate culture dan mekanisme Kompas, sudah relatif mapan. Siapa saja yang memimpin Kompas tak menjadi masalah, apalagi banyak wartawan senior bersedia membantu pemimpin yang baru. Ini artinya, kriteria yang diajukan Parengkuan bukan hal yang tipikal melekat pada diri Tommy. Banyak wartawan Kompas memenuhi persyaratan itu. Tetapi, mengapa Tommy yang dipilih?


SEKARANG industri media tak hanya berhubungan dengan soal produksi informasi. Media juga bukan berkutat di antara wartawan dan teknologi percetakan. Media sarat muatan politik dan ekonomi. Melalui media, kesadaran manusia direkayasa dan persepsi manusia mengenai realitas dibentuk dan diarahkan. Terlebih dalam suasana demokratis, peran dan fungsi media sangat vital. Credo yang laris diucapkan adalah, "Siapa yang menguasai media, dialah yang paling hegemonik."

Rasanya, pernyataan Parengkuan terlalu simplistis jika meletakkan kriteria profesional, leadership, dan kemampuan intelektual sebagai basis utama penunjukan Tommy. Subyektivitas memang penting, tapi tidak mesti relevan. Kepentingan subyektivitas menjadi relevan ketika sanggup dikompromikan dengan kepentingan pemilik modal dan penguasa politik. Oleh karena itu, kriteria utama seorang pemimpin redaksi dari sebuah media besar semacam Kompas, adalah bagaimana menjaga agar Kompas tetap mapan.

Untuk mencari jawaban itu saya mewawancarai Satrio Arismunandar, mantan wartawan Kompas, yang diminta mundur dari Kompas (dengan golden shake hand) setelah ia pada 1994 ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Indepeden, yang tak disukai pemerintahan Soeharto dan Menteri Penerangan Harmoko. "Untuk menjadi pemimpin Kompas, harus figur yang non ideologis. Kalau ideologis pasti tersingkir," kata Arismunandar, sekarang bekerja di bagian penelitian dan pengembangan harian Media Indonesia.

Menurut Arismunandar, Tommy memang jauh dari hiruk-pikuk pergulatan politik yang jatuh bangun, apalagi terlibat dalam perkubuan dan konspirasi politik tingkat tinggi, baik di dalam maupun di luar Kompas. Tommy, misalnya, tak tertarik masuk Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia, seperti yang dilakukan sejumlah seniornya ketika organisasi pimpinan Menteri Riset dan Teknologi BJ Habibie itu memiliki dominasi politik Indonesia pada 1990-an. Tommy juga tak dekat dengan para jenderal, seperti kedekatan beberapa rekannya dengan Jenderal Benny Moerdani saat Moerdani menjadi orang kuat militer pada 1980-an.

Dunia Tommy adalah tulis-menulis dan ia sangat menikmatinya. Olah raga membuatnya relatif tak tersentuh dengan kepentingan politik Indonesia yang centang perentang. Ia cinta bola, ia menulis bola, ia terkadang juga masih main bola. "Tak ada yang lebih bahagia selain dari membaca tulisan sendiri," kata Tommy. Bagi Tommy, profesionalisme dalam kerja jurnalistik adalah harga mati, dan ia percaya koran yang baik adalah koran yang non partisan. "Yang benar adalah fakta, bukan opini," ujarnya. Jalan lurus yang ditapaki Tommy itulah, menurut pengakuan Parengkuan, yang menyebabkan dirinya dan Jakob Oetama menjatuhkan kepercayaan padanya.

Sekarang apa yang bakal dilakukan pemimpin redaksi Kompas Suryopratomo?

Diam-diam, dalam pembicaraan dengan berbagai wartawan Kompas, saya menangkap kesan mereka menunggu apakah Tommy bisa melepaskan diri dari bayang-bayang sang magister Jakob Oetama?

Tommy sendiri tak antusias mengejar popularitas dan kewibawaan Oetama. Ia tak ingin menjadi Jakob Oetama, walau mengakui bahwa Oetama adalah guru dan idolanya. "Untuk menjadi seorang Jakob Oetama tidak mudah," ujar Tommy.

Untuk keluar dari bayang-bayang Oetama, terlebih jika hendak membuat perubahan drastis, jelas membutuhkan waktu yang panjang. "Setahu saya," demikian penuturan Arismunandar, "Kompas adalah koran yang paling konservatif. Untuk sebuah perubahan kecil saja, membutuhkan waktu yang lama."

Tapi harapan perubahan pada Tommy ditangkis Hartiningsih. "Tidak fair menilai kinerja Tommy hanya dalam sepuluh bulan ia menahkodai Kompas. Tidak benar Tommy hanya juru bicara Pak Jakob," kata Hartiningsih.

Karena itu, yang lebih bernilai adalah bagaimana melihat reaksi Tommy berhadapan dengan perubahan situasi ekonomi politik global dan nasional. Tommy bagaimanapun, tak mengabaikan sisi negatif dari menjamurnya industri media di Indonesia. Dengan iklim persaingan ketat, tak jarang banyak media kurang mengindahkan kaidah-kaidah jurnalisme yang benar. Semua berlomba menjadi yang terdepan dengan kualitas seadanya. Kekuatiran Tommy bukan pada pertumbuhan jumlah media yang pesat, dan persaingannya yang ketat, tapi pada mutu sumber daya manusianya. Ia mencontohkan, di Indonesia laporan investigasi belum dilakukan, atau kalau sudah dilakukan tidak berkualitas.

"Saya khawatir industri pers akan sama nasibnya dengan nasib industri perbankan. Ketika Paket Oktober 1988 (kebijakan pelonggaran syarat pendirian bank) diluncurkan, dalam waktu singkat terjadi boom sektor perbankan, di mana-mana bermunculan bank-bank baru. Tetapi, karena sumberdaya manusianya tidak dipersiapkan yang ada sebenarnya hanyalah bank-bank yang sebetulnya tidak kredibel, keropos, dan akhirnya tumbang. Kini, hampir seluruh bank-bank tersebut dilikuidasi atau di-take over pemerintah melalui Badan Penyehatan Perbankan Nasional," katanya. Ledakan itu pula yang secara tak langsung mendorong terjadinya krisis ekonomi Indonesia pada 1997-1998 di mana nilai rupiah jatuh hingga 70 persen terhadap dollar Amerika.

Tommy berpendapat, dalam iklim persaingan bebas ada dua hal yang menentukan independen tidaknya pers: fakta dan keserasian antara bisnis dan idealisme. Ia berpegang pada dua pedoman itu. Contoh. Satu ketika Kompas menurunkan feature yang berisi kritik arsitektur bangunan di kawasan Puncak, Bogor. Di terbitan yang sama, Kompas memuat iklan produk real estate pengembang dari bangunan yang arsitekturnya dikritik itu. Akibatnya, pengembang tadi berang dan memutuskan kontrak iklan senilai Rp 800 juta. Tommy tak gusar, fakta adalah fakta dan tidak boleh dikalahkan uang berapa pun besarnya.

Kiat Tommy mempertahankan keserasian antara bisnis dan idealisme adalah memisahkan secara tegas pekerjaan keredaksian dengan pekerjaan bisnis. Pemisahan antara redaksi dan bisnis adalah gagasan yang ditanamkan oleh pendiri Kompas PK Ojong. Dengan memisahkan redaksi dari bisnis, maka pembaca bakal tahu bahwa informasi yang dibacanya bisa dipercaya karena tak dinodai kepentingan bisnis suratkabar bersangkutan.

Kenyataan itu mendorong Tommy untuk bersikukuh bahwa ia tidak mau turut campur soal bisnis, bahkan ia tak bersedia mengikuti rapat umum pemegang saham. Ia ingin independen. "Bisnis saya larang keras mengintervensi redaksi. Jumlah iklan tidak boleh lebih dari lima puluh persen. Lebih dari itu saya gunting," ujarnya.

Bagaimana dengan advertorial yang semakin banyak menyita ruang Kompas? Kata Tommy, advertorial tidak dikerjakan redaksi, namun oleh bagian iklan yang belajar cara menulis dari redaksi.

Tommy hanya mengikuti rapat besar antara redaksi dan usaha untuk menentukan anggaran redaksi Kompas. Bisnis Kompas dan anak perusahaan yang tergabung dalam Kelompok Kompas Gramedia ditangani sepenuhnya oleh Jakob Oetama.

OMMY punya keinginan mulia. Ia ingin jabatan pemimpin redaksi tak jadi monopoli satu orang selama bertahun-tahun. "Cukup Pak Jakob yang menjadi pemimpin redaksi selama 35 tahun. Saya sendiri hanya ingin menjabat selama lima tahun dan boleh dipilih kembali selama satu periode. Setelah itu, saya ingin kembali ke lapangan, meliput dan menulis berita, seperti wartawan-wartawan asing yang sudah tua-tua itu," katanya.

Sebagai wartawan olah raga, ia menimba pelajaran berharga dari dunia itu. Tommy mengibaratkan pergantian pemimpin redaksi dengan perlombaan balap sepeda. Dalam lomba sepuluh putaran, setiap pembalap bergantian menjadi pemimpin, sehingga passing-nya bisa tinggi karena selalu ada tenaga baru. "Jika narik sepuluh putaran jelas tidak mungkin, karena itu setiap satu putaran, yang berada di belakang ganti memimpin, putaran berikutnya juga demikian. Sehingga makin lama makin cepat, karena tenaga yang di belakang lebih cepat daripada yang di depan, mengikuti aerodinamisnya."

Gagasan pergantian editor yang cepat itu juga terinspirasi model kepemimpinan di perguruan tinggi. Di perguruan tinggi, setiap orang yang memenuhi kualifikasi bisa menjadi rektor, tetapi ketika masa jabatannya berakhir, tidak otomatis kehilangan jabatan. Dia bisa menjadi guru besar dan harganya sebagai seorang guru besar dan sebagai seorang rektor sama, bahkan kadang-kadang harga seorang guru besar bisa lebih tinggi. "Saya ingin Kompas menggunakan pola seperti itu, sehingga jabatan pemimpin redaksi tidak dilihat sebagai jabatan paling bergengsi," tutur Tommy dengan mimik muka serius.

Terkadang Tommy merasa jabatan pemimpin redaksi sebuah musibah. Ayah dua anak ini sekarang lebih banyak berurusan dengan pekerjaan yang sifatnya seremonial. Tugasnya beragam, dari membangun relasi Kompas, memimpin rapat redaksi hingga menghadapi protes dari pembaca.

"Hingga saat ini, saya sudah tiga kali diprotes," katanya. "Dan yang paling lucu, ketika Kompas diprotes karena memuat iklan nikah tamasya," katanya pada saya.

"Ceritanya begini," demikian Tommy berkisah. "Ada sepasang suami istri yang menikah tamasya, kemudian pasang iklan di Kompas. Ternyata sang suami masih memiliki hubungan dengan istri tuanya. Membaca iklan tersebut, istri tua menuntut Kompas sebagai tergugat dua, karena memuat iklan itu. Saya terkejut. Saya katakan, kami memuat iklan karena dia punya surat menikah tamasya, bukan karena bersekongkol dengannya. Gila apa?"

Protes banyak datang ke mejanya. Ini bikin pusing kepala. "Pokoknya saya hanya satu periode, hanya satu termin saja," katanya jengkel.

Tommy juga kehilangan waktu menyaksikan siaran langsung sepakbola yang biasa disiarkan televisi pukul dua pagi dari daratan Eropa. Pada jam selarut itu, Tommy harus tidur kalau ingin tak terlambat masuk kantor esok harinya. Sebagai pemimpin redaksi, ia harus tiba di kantor pukul delapan pagi, memimpin rapat perencanaan.

Tetapi, apapun lakon yang dipentaskannya saat ini, ia merasa sangat bersyukur. "Saya mengerjakan semuanya dengan senang hati," katanya. Kini, hari-harinya diisi dengan rutinitas. "Saya ke kantor pukul delapan pagi dan baru pulang larut malam. Dalam sehari saya dua kali rapat, pukul sembilan pagi rapat perencanaan dan pukul enam sore rapat budgeting berita".

Apa yang hendak dikerjakannya saat ini, hanyalah membawa Kompas keluar dari mitos, bahwa ketika sebuah perusahaan keluarga dipimpin oleh generasi ketiga, pasti ambruk. Tommy ingin Kompas seperti The New York Times atau The Washington Post, dua koran kenamaan dari Amerika, yang bisa bertahan hingga satu abad, dan itu tanggung jawabnya kini.

Suryopratomo bertekad menjadikan Kompas media yang mampu memberikan perspektif kepada pembacanya. Ia juga berharap Indonesia masa depan yang demokratis dan menghargai pluralitas. Baginya, itu tugas dan tanggung jawabnya sebagai wartawan yang kebetulan menjadi pemimpin redaksi dari harian terbesar dan terkuat di Indonesia. Kompas. ( )

Majalah Pantau, edisi Maret 2001
Sumber: http://chasani.blogspot.com/2005/03/suryopratomo-anak-baik-bernasib-baik.html
Lanjut...

Peter A Rohi, Wartawan Pejuang

Di balik kegersangannya, tanah Nusatenggara Timur melahirkan cukup banyak wartawan hebat. Salah satunya PETER APOLLONIUS ROHI, lebih dikenal dengan PETER A ROHI. Pria kelahiran Pulau Sabu 14 November 1942 ini [nama Sabu-nya KORE ROHI) dikenal sebagai salah satu guru wartawan-wartawan muda di Indonesia.

Bagaimana meliput peristiwa secara mendalam. Bikin investigasi. Menulis feature yang hidup. Menggali sisi lain dari seorang tokoh meskipun orang biasa, wong cilik. Berani menghadapi risiko. Vivere pericoloso. Mengelola surat kabar dengan pendekatan idealisme.

Peter A. Rohi selalu berpesan:

"Ingat, wartawan itu bukan buruh, tapi intelektual. Pakailah otakmu. Banyak baca. Analisis. Bergaul sebanyak mungkin. Cari sumber sebanyak-banyaknya. Jangan lekas percaya pada informasi apa pun. Cek dan ricek."

Peter A. Rohi tak asal bicara. Selama berkarier sebagai wartawan sejak 1970, dia menghasilkan banyak liputan panjang dan mendalam. Istilah sekarang: investigative reporting. Berkat kejeliannya, mengungkap banyak kasus yang justru tidak dirasakan warga dan pejabat setempat. Tumpukan harta karun di Riau. Air Danau Toba menyusut. Sisa tentara Jepang di hutan Morotai. Kelaparan di Sumba Timur. Fakta di balik penembakan misterius.

"Saya wartawan pertama yang menyusup ke Timor Portugis dan wartawan terakhir yang meninggalkan Timor Timur setelah kerusuhan jajak pendapat 1999," ujar Peter A Rohi kepada saya.

Tulisan-tulisannya tentang Timor Timur [sekarang Republik Timor Leste] dimuat di sejumlah media tempatnya bekerja. Paling banyak di SINAR HARAPAN [yang diberedel rezim Soeharto] serta MUTIARA, tabloid milik Grup SINAR HARAPAN.

Peter yang keturunan raja lokal di Timor Barat memang sangat intensif mengikuti isu Timor Timur pada 1976-1999 menjadi provinsi ke-27 Indonesia. Saya melihat sendiri betapa dia sangat emosional saat bicara dalam sebuah diskusi tentang pro dan anti-integrasi di kampus Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Peter menguraikan pandangannya tentang apa sebetulnya yang terjadi di Timor Timur. Begitu kompleksnya persoalan Timor Timur, sehingga Peter mengingatkan anak-anak muda Timtim, yang waktu itu hampir semuanya berjuang untuk `memerdekakan' daerahnya dari Indonesia, tentang untung ruginya Timtim menjadi negara sendiri.

Menurut Peter A. Rohi, wilayah Nusatenggara Timur, Timor Leste, dan Sumbawa [sekarang] dulunya masuk Karesidenan Timor. Raja-raja, para intelektual, tokoh masyarakat dulunya ingin mendirikan negara sendiri, KERAJAAN TIMOR RAYA. "Mereka sudah punya wadah bernama TIMOR VERBOND. Ini langkah menuju kemerdekaan Kerajaan Timor Raya sebagaimana sebelum kedatangan Portugal dan Belanda," tulis Peter A. Rohi dalam bukunya KAKO LAMI ANGALAI.

Rencana kemerdekaan ini buyar setelah Bung Karno dibuang ke Flores pada 1934-1938. Bung Karno, kata Peter, berhasil memengaruhi Timor Verbond sehingga pada 1935 partai nasionalis Timor itu berfusi dengan Partai Indonesia Raya. "Jadi, kita, orang Nusatenggara Timur, sebenarnya punya sumbangan besar dalam perjuangan mencapai Indonesia merdeka," kata Peter A Rohi dalam berbagai kesempatan.

Peter Apollonius Rohi sejatinya tentara. Dia sempat menjadi staf message center di Pasukan Induk Korps Komando [Marinir] pada masa Trikomando Rakyat [Trikora]. Ini istilah Bung Karno dalam kaitan dengan operasi pembebasan Irian Barat, 1962-63.

Peter juga pernah terlibat di Detasemen Amfibi yang dipimpin Kolonel Muhammad Jusuf dan Letkol Solichin GP di Sulawesi. Kemudian menjadi komandan peleton Panser Intai Amphibi pada masa Dwikomando Rakyat [Dwikora], operasi di Kalimantan Utara, 1964.
Ternyata, karier bagus di TNI Angkatan Laut tak membuat Peter puas.

Pada 1970, suami WELMINTJE GIRI ini bikin kejutan. Dia mengembalikan mobil dan pistol inventaris kepada kesatuannya, Batalyon Tank Amfibi KKO. "Besoknya, saya berada di jalan-jalan melakukan peliputan untuk majalah sketsmassa [Surabaya]. Saya berada di tengah-tengah rakyat yang tertindas," paparnya.

Latar belakang ini bisa menjelaskan mengapa Peter A. Rohi senantiasa menjadi orang lapangan selama karier jurnalistiknya. Kalaupun menjadi redaktur, redaktur pelaksana, hingga pemimpin redaksi, Peter A. Rohi tetap saja turun ke lapangan. Peter itu benar-benar wartawan kaki, orang lapangan, bukan orang kantoran. Dia mengandalkan bahan-bahan, data, yang digali dari lapangan, bukan meminta berita, fotokopi, atau kloning dari wartawan lain.

[BANYAK WARTAWAN SEKARANG SUKA MENG-COPY BERITA DARI TEMAN, INTERNET, RADIO, TELEVISI, DAN MALAS WAWANCARA LANGSUNG DENGAN SUMBER. BUDAYA COPY-PASTE INI MEMBUAT WARTAWAN-WARTAWAN KITA MENJADI SANGAT MANJA. MUTU JURNALISME AKHIRNYA MELOROT KE TITIK NADIR. SUDAH MENJADI RAHASIA UMUM, BANYAK WARTAWAN KITA TERNYATA TIDAK BISA MELIPUT DAN MENULIS BERITA DENGAN BAIK.]

Nah, setelah SKETSMASSA [Surabaya], Peter A Rohi diminta menjadi wartawan SINAR HARAPAN [Jakarta], PIKIRAN RAKYAT [Bandung], SUARA INDONESIA [Malang], JAYAKARTA [Jakarta], SURYA [Surabaya], SUARA BANGSA [Jakarta]. Kemudian merintis MEMORANDUM [Surabaya], SUARA PEMBARUAN [Jakarta], lalu merintis lahir kembalinya SINAR HARAPAN [Jakarta] pasca-Reformasi 1998. Terakhir Peter A. Rohi menjadi pemimpin redaksi sekaligus manajer umum KORAN INDONESIA di Jakarta.

Kutu loncatkah Peter A. Rohi di pers? Banyak teman wartawan yang bilang begitu. Tapi, saya kira, ini tak lepas dari tabiat Peter yang antikemapanan, idealis, suka tantangan. Begitu surat kabar eksis, manajemen redaksi jalan... maka Peter A Rohi keluar mencari tantangan lain. Bikin koran baru atau menghidupkan media-media yang sekarat. Begitu seterusnya.

"Om juga tidak suka dengan pemilik modal yang maunya mendikte terus. Ingat, wartawan bukan buruh atau kuli yang bisa diatur-atur semaunya," ujar Peter A. Rohi. Karena itu, dia memutuskan eksit dari sebuah surat kabar terkenal di Jakarta.

Sejumlah bekas wartawan SUARA INDONESIA [seperti Abdul Wachid, Toto Sonata, Bambang Sukoco] memberi komentar positif untuk Peter A. Rohi. Pada 1980-an Peter dipercaya sebagai redaktur pelaksana sekaligus pemimpin redaksi de facto SUARA INDONESIA.

"Wartawan diberi kebebasan untuk berkreasi. Menulis apa saja asalkan akurat dan objektif," ujar Abdul Wachid. "Sekarang sulit menemukan wartawan Indonesia seperti Peter A. Rohi," puji Toto Sonata di kesempatan terpisah.

Meski diberi kekuasan penuh oleh Grup SINAR HARAPAN, kata Bambang Sukoco, Peter A Rohi bukanlah tipe atasan yang otoriter. "Pak Peter itu selalu bertindak sebagai guru, teman belajar. Wartawan muda dibimbing, diarahkan, sampai detail. Kami benar-benar bisa belajar banyak dari dia," ujar Bambang Sukoco kepada saya.

Pada 1980-an perangkat telekomunikasi seperti telepon seluler, pager, belum ada. Sambungan telepon tetap pun langka. Dalam kondisi itu, tutur Bambang, Peter A. Rohi selalu memandu reporternya yang melakukan liputan di tempat jauh. Sampai si reporter menemui sumber atau tempat kejadian.

"Dia tanya apa saja kesulitan di lapangan dan memberikan bimbingan. Nggak marah-marah atau main perintah harus begini-begitu," kenang Bambang Sukoco.

Saat mengelola SUARA INDONESIA, koran berpengaruh di Jawa Timur pada 1980-an, Peter A Rohi bikin liputan investigasi tentang pembunuhan misterius, biasa disingkat `petrus'. Sebagai wartawan humanis, Peter tidak bisa menerima kebijakan rezim Orde Baru yang menghabisi nyawa manusia tanpa proses pengadilan. Manusia diperlakukan layaknya binatang. Tulisan-tulisan tentang `petrus' rupanya kurang disukai penguasa.

"Tiba-tiba Peter A. Rohi dikirimi paket kepala manusia," tutur Bambang Sukoco.

Toh, teror kepala manusia itu tidak membuat Peter takut. Dia terus menggali berbagai peristiwa di masyarakat dan menyusunnya sebagai reportase yang memikat. Saat semua wartawan buru-buru meninggalkan Timor Timur yang sedang dilanda kerusuhan pascajajak pendapat, Peter A. Rohi justru memilih bertahan.

"Saya percaya Tuhan selalu melindungi saya dalam setiap tugas saya sebagai wartawan," katanya.

Darah perjuang dan aktivis Peter A. Rohi rupanya menurun ke salah satu anaknya, Engelbert Johannes Rohi alias Jojo Rohi. Jojo pernah aktif di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) di Surabaya. Jojo pun berbakat menulis seperti ayahnya, tapi rupanya enggan berkarier di dunia jurnalistik.

Benar kata Toto Sonata, wartawan senior di Surabaya, tidak mudah melahirkan wartawan sekaliber Peter A. Rohi, apalagi di era pers industri. Wartawan sekarang cepat masuk, cepat keluar. Sangat sedikit yang meninggalkan jejak di jagat jurnalistik.

"Sekarang mana ada investigative reporting? Mana ada features yang hidup? Wartawan-wartawan sekarang ini, menurut saya, hanya sekadar karyawan bagian peliputan [reporter] dan karyawan bagian penyuntingan [redaktur]. Sistemnya tidak memungkinkan lahirnya wartawan sekelas Peter A. Rohi," ujar Toto Sonata, bekas anak buah Peter A. Rohi, yang kini kembali ke komunitas seniman Surabaya dan menjadi pengamat media massa. (Posted by Lambertus L. Hurek at 11:28 AM)

Sumber http://hurek.blogspot.com/2007/03/peter-rohi-wartawan-pejuang.html

Lanjut...


POS KUPANG MUCHLIS AL ALAWI Wanita Boti diharapkan terampil memintal benang dan menenun.

SELAMA
ini kita hanya mengenal berbagai upacara siklus kehidupan orang Jawa. Padahal, di NTT khususnya daratan Timor, juga mengenal berbagai upacara dalam siklus kehidupan. Pada masyarakat Dawan atau Atoni yang meliputi Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Timor Tengah Selatan (TTS) serta Kabupaten Kupang (daratan) di masa lampau melaksanakan siklus kehidupan manusia dengan tata cara yang sama.

Namun, dalam perkembangan atau setelah masuknya agama Kristen (Protestan dan Katolik), berbagai upacara tersebut mulai mengalami perubahan. Bahkan di beberapa suku besar Dawan sudah tidak melaksanakan upacara tersebut. Namun upacara siklus kehidupan masih dipegang teguh dan terus dilaksanakan oleh Suku Boti di Kabupaten TTS.

Dalam buku Laporan Hasil Kajian Upacara Siklus Kehidupan Masyarakat Suku Boti- Kabupaten TTS yang diterbitkan oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Arkeologi, Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional-Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebutkan, tidak semua warga Suku Boti melaksanakan berbagai upacara tersebut, hanya sebagian kecil saja yang masih melaksanakan upacara peninggalan leluhur tersebut. Suku yang masih melaksanakan upacara siklus kehidupan sebagian kecil adalah masyarakat Boti Dalam.

Penamaan Boti Dalam berkaitan dengan penganut kepercayaan asli (agama suku). Suku Boti Dalam adalah masyarakat yang masih berpegang teguh pada kepercayaan asli suku yang percaya pada tiga wujud kekuatan supranatura (Uis Neno, Uis Pah dan arwah leluhur). Data statistik jumlah penduduk Boti yang masih menganut aliran kepercayaan hingga tahun 2003 sebanyak 264 orang (70 KK), sementara jumlah penduduk Desa Boti sebanyak 1.761 jiwa.

Meski jumlah penduduk Boti Dalam makin berkurang, namun mereka masih survive tetap melaksanakan upacara-upacara peninggalan nenek moyang mereka. Fase upacara siklus kehidupan masyarakat Boti dimulai dengan upacara kelahiran atau lais mahont.

Upacara Kelahiran atau Lais Mahonit
Ada kepercayaan bahwa di setiap tempat di alam terbuka seperti pohon besar, gunung atau batu besar, sungai dan kampung ada penjanga atau penunggu. Ritus upacara yang dilakukan masyarakat Boti pada tahap ini adalah upaya untuk melindungi sang ibu yang sedang hamil serta meramal jenis kelamin bayi yang sedang dikandung oleh sang ibu.

Upacara ini dikenal dengan nama Ta Pe Fenu (pemecahan buah kemiri). Ritual ini dilakukan saat usia kandungan tujuh bulan. Hadir dalam upacara ini hanya hanya orangtua kandung dari pasangan suami istri beserta bayi yang disebut A mama fenu secara harafiah berarti pengunya kemiri namun secara gramatikal sebenarnya penyebutan kepada sang dukun bayi.

Pada upacara ini yang berperan adalah A mama fenu, melakukan pembakaran buah kemiri kira-kira setengah matang, kemudian kemiri tersebut dibungkus dengan sepotong kain dan dibenturkan hingga kemiri pecah. Pada saat kemiri pecah, diperhatikan dengan cermat bila daging buah kemiri tetap utuh, maka sang ibu sedang mengandung anak laki- laki. Tetapi bila daging kemiri terbelah maka anak yang sedang dikandung itu berjenis kelamin perempuan.

Setelah tahap pemecahan buah kemiri, upacara dilanjutkan dengan A mama fenu mengunyah daging kemiri yang sudah dipecahkan untuk digosok ke perut ibu yang sedang mengandung sambil membaca doa sesuai ajaran kepercayaan untuk memohon supra natural melindungi sang ibu dari gangguan makluk gaib serta memohon agar sang ibu bisa melahirkan dengan selamat.

Masa Persalinan (Mahonit)
Pada masyarakat Boti, menyambut kelahiran seorang bayi, terlebih dahulu dipersiapkan seorang dukun bayi yang akan bertanggung jawab untuk mengurus proses persalinan seorang ibu yang akan melahirkan. Dukun bayi tersebut sudah dikenal dan tahu akan kemampuannya.
Saat melahirkan; ketika tiba saat melahirkan yang mendampingi adalah A mama fenu dan ibu kandung dari wanita yang akan melahirkan (bila ada). Tugas A mama fenu adalah menyiapkan serta melaksanakan seluruh proses persalinan mulai dari pemotongan tali pusar dan menguru ari-ari (plasenta).

Ada kebisaan unik masyarakat sukun Dawan/Atoni dalam proses persalinan ini yakni cara pemberlakuan terhadap ari-ari atau plasenta. Ini diketahui dari cara menamakan yang disebut Li an Olif (adik dari bayi). Tata cara penyimpanan plasenta yakni plasenta anak perempuan akan digantung atau disimpan diatas pohon kapas, dengan harapan agar sang bayi dewasa nanti, bisa menjadi penyulam benang yang terampil dan penenun yang mahir. Sedangkan plasenta anak laki-laki digantung di atas pohon enau atau lontar dengan harapan agar saat dewasa nanti pandai menyadap nira.

Ada juga yang meggantung plasenta di pohon kusambi atau pohon beringin yang disebut oleh masyarakat Usaip Usuf atau Nun Usaf. Ini dengan maksud agar bayi tersebut nantinya menjadi pemberani (kusambi) dan menjadi pelindung atau pengayom (beringin). Pohon jenis ini juga jarang di tebang oleh masyarakat yang mempercayai hal tersebut. Masyarakat Boti percaya ada hubungan emosional antara bayi dan plasentanya, sehingga plasenta tersebut harus diperlakukan sebaik mungkin.

Selanjutnya bayi yang telah dilahirkan ini akan ditangani oleh A mama fenu dan mereka tinggal di dalam rumah bulat (ume khubu) selama empat hari dan empat malam. Selama itu pula, ibu dan bayi berada di atas tempat tidur dengan bara api di bawanya. Masyarakat Boti percaya kehangatan bara api itu untuk memberikan kekuatan, memulihkan tenaga, memberikan semangat hidup.
Empat hari merupakan kesempatan ibu untuk mengembalikan ketegangan saat masa krisis dalam hidupnya, sementara bagi sang bayi merupakan kesempatan pertama menikmati dunia baru dimana ia mendapat kekuaatan dari air susu ibu, saat bayo bebas menangis dan meronta di alam bebas.

Upacara pengenalan anak dengan dunia luar (Napoitan Liana)
Upacara ini dimaksudkan untuk memperkenalkan anak pada masyarakat sekaligus mengumkan bahwa masa krisis yang dijalani oleh bayi dan ibu telah berlalu. Pelaksanaan upacaya ini diperlukan persiapan yakni berbagai macam kebutuhan selayaknya, melaksanakan suatu pesta syukuran, yakni satu ekor babi, beras dan lain-lain terutama siri pinang. Pihak yang terlibat dalam upacara ini adalah keluarga inti ibu dan bapak dari suami-istri yang melahirkan dan turut serta tokoh adat dan atoin amaf (saudara laki-laki) dari ibu yang melahirkan.

Pelaksanaan acara ini sesuai kesepakatan antara kedua keluarga dari pihak suami istri. Ketika tiba waktu pelaksanaan upacara ini peserta terbagi atas dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari ibu dan bayi bersama A mama fenu, berada di dalam rumah bulan, sedangkan kelompok kedua terdiri dari tokoh adat bersama keluarga dan undangan berada di luar rumah.

Dalam upacara ini terjadi percakapan atau tegur sapa antara kelompok pertama dan kedua. Pembicaraan ini dalam bahasa adat yang dipenuhi kiasan. Bunyi percakapan terdiri dari pertanyaan dan jawaban. Pertanyaan biasanya datang dari kelompok di luar rumah yakni tua-tua adat dan yang menjawab dari kelompok dalam rumah bulat yakni ibu bayi dan dukun bersalin. Setelah sesi dialog, ibu bersama bayi keluar dari rumah bulat dan menyalami tua adat bersama hadirin di luar sambil menikmati siri pinang yang disuguhkan.

Selanjutnya ibu dan bayi dihantar menuju sungai atau mata air. Di tempat itu, sang ibu mencelupkan dua kakinya diikuti dengan membasu kedua kaki bayi. Setelah selesai, ibu dan bayi bersama rombongan kembali ke rumah dan disambut dengan keloneng gong dan tambur menggenta bertalu-talu. Bunyi-bunyian ini merupakan simbol bahwa seluruh warga ikut bersuka ria karena bertambah satu jiwa penduduk Boti.

Pada kesempatan itu pula, pergelangan kaki dan tangan sang bayi diikutkan seutas benang berupa gelang sebagai simbo bahwa bayi tersebut belum mempunyai nama. Hal ini juga merupakan suatu fase siklus kehidupan yang harus dijalani. (*/alf/bersambung)

Pos Kupang Minggu 22 Juni 2008, halaman 11
Lanjut...

Adriana dan Pilkada

ANTARA Pilkada dan UN, apa hubungannya? Pilkada! Untung, tidak ada yang bunuh diri karena pilihannya masuk kotak. Untung tidak ada yang frustrasi akibat calon pilihannya tidak berhasil menjadi juara. Sedangkan UN? Oh, nasibmu UN, sampai ada yang menyongsong ajal karena tida beruntung. Siapa dia?

Mudah-mudahan berita ini mendapat perhatian serius dari gubernur dan wagub yang baru. Agar lebih serius menangani pendidikan. Sebab kebijakan pendidikan apapun yang kalian putuskan, ujung-ujungnya untuk anak. Perencanaan, program dan kegiatan apa pun yang dijalankan, ujung-ujungnya demi masa depan anak-anak NTT. Jangan sampai ada Adriana baru pada masa yang akan datang.
***
"Aduh, Adriana siapakah engkau gadis Sumba yang mati muda? Apa yang membuat hatimu begitu hancur sehingga mesti mengakhiri hidupmu dan masa mudamu yang cemerlang dengan cara mengenaskan? Mengapa mesti bunuh diri gara-gara tidak lulus UN? Pantaskah hidupmu mesti berakhir karena UN? Aduh Adriana, ketika setiap orang melewati masa remaja, masa yang terindah, engkau justru membeku berkalang tanah.

Apa yang terjadi dengan UN? Apakah UN yang telah membunuhmu?" Benza terpekur memikirkan Adriana, siswi SMU Negeri 1 Waingapu yang bunuh diri beberapa saat setelah pengumuman UN.
Masih berduka karena UN? Masih tidak setuju dengan UN? Rara bicara hati-hati karena sejak kemarin dilihatnya Benza berduka, tidak hanya karena Adriana, tetapi benar-benar karena UN.
"Jadi kami tidak setuju dengan UN?

Benza menjelaskan dengan tenang bahwa dia setuju dengan UN, sangat setuju! Tetapi tidak tidak setuju kalau UN dijadikan satu-satunya penentuan kelulusan. Bagaimana mungkin menentukan kelulusan anak hanya dengan otaknya, hanya dengan empat-lima mata pelajaran. Sebagai guru Benza merasa peran dirinya telah dimarginalkan.

Telah bertahun-tahun dia jadi guru, dia amati satu persatu anak-anaknya. Semua dilaksanakan sesuai kurikulum yang memperhatikan secara optimal tingkat kecerdasan anak, baik intelektual, emosional, maupun spiritual. Tetapi apa daya ketika kenyataan mengabaikan perannya?
"Oh begitu?" Sambung Rara. "Jadi guna apa UN dibuat kalau bukan untuk menentukan kelulusan anak? Kalau tidak ada UN pasti sekolah-sekolah kita seratus persen semua. Biar KBM alias Kegiatan Belajar Mengajar asal jadi, yang penting lulus! Gengsi dong!"

UN tetap dilaksanakan demi kepentingan akreditasi sekolah UN menjadi ukuran mutu sekolah, kompetensi dan kemampuan bersaing. Sekolah-sekolah yang hasil UN-nya bagus akan memperoleh nilai akreditas dan dukungan finansial yang lebih bagus. Sertifikasi sekolah, guru, kepala sekolah juga dapat ditentukan oleh UN. Tetapi sekali lagi jangan sampai UN menjadi satu-satunya penentu!
***
"Jadi kelulusan ditentukan sekolah?"
"Ya! Bagi saya wajah sekolah adalah wajah guru-gurunya, kepala sekolahnya, dan wajah kepala dinas pendidikannya! Kalau ada sekolah yang maen curang meluluskan anak karena gengsi, biar dia bertanggung jawab sendiri, dia ukur sendiri tanggung jawab moralnya. Biar dia nilai sendiri kualitas intelektual, emosional dan spiritualnya. Saya pikir harus dipikirkan matang-matang satu sistem yang menyakinkan untuk UN dan sistem untuk menentukan kelulusan. Intinya jangan sampai anak jadi korban," begitulah Benza berkata.

"Kenapa buang waktu pikir UN?" Jaki langsung beri komentar yang menyakitkan Benza. "Pemerintah tidak akan peduli dengan duka citamu! Lebih baik kita pesta sukses Pilkada sampai pagi!"

"Tentu saja kita perlu bersyukur, tetapi lebih syukur lagi kalau pesta sukses pilkada disertai dengan renungan introspektif mengapa ada ruang dalam sistem pendidikan yang luput dari perhatian dan akhirnya mengorbankan anak-anak. (maria matildis banda)

Pos Kupang Edisi 22 Juni 2008, halaman 1
Lanjut...


Foto Ist Ir. Ansgerius Takalapeta menerima Kalpataru Pembina Lingkungan dari Presiden RI, Soesilo Bambang Yudhoyono, 5 Juni 2008.

Lingkungan Urat Nadi Kehidupan Manusia

MELIHAT ke depan dari masa lalu adalah prinsip hidupnya. Menjalani masa kecil di desa saban hari memanjat pohon-pohon tinggi, bersahabat dengan ular berbisa, kalajengking dan hewan-hewan beracun lainnya. Dia dan rekan-rekannya berani mengambil risiko bukan hanya mau mendapatkan buah untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga, tapi bagaimana belajar mengalahkan alam secara alami, belajar mencintai alam ala anak-anak desa nan lugu dan belajar mandiri, ulet dan tidak cepat putus asa.
Pola hidup inilah yang menghantar Ir. Ansgerius Takalapeta meraih sukses dalam karier, baik sebagai pegawai negeri sipil (PNS) maupun politik hingga menjadi orang nomor satu di Kabupaten Alor selama dua periode sejak 1999. Pengalaman hidup sebagai anak desa yang bergelut dengan alam, menjadikannya tetap peduli dan mencintai alam, baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Bagi Ans --begitu sapaan akrabnya--memelihara tanah, air, bebatuan dan segala sesuatu yang berdiam di atas alam merupakan amanah Tuhan, agar manusia hidup damai, aman dan sejahtera. Saling mengasihi satu sama lain di atas bumi Nusa Kenari yang tak berkekurangan.

Keberhasilan seseorang tidak terlepas dari etos kerja. Sistem inilah yang mendasari Ans Takalapeta membangun Kabupaten Alor, terutama lingkungan hidup. Tak heran, Ans Takalapeta mencetak prestasi meraih Kalpataru Pembina Lingkungan yang diberikan Presiden RI, Soesilo Bambang Yudhoyono, 5 Juni 2008. Bagaimanan suka duka meraih sukses dan perasaan hati seorang Ans Takalapeta? Ikuti perbincangan dengan wartawan Pos Kupang, Gerardus Manyella, di Kupang pekan lalu, sekembalinya dari Istana Negara

Apa yang mendorong Anda memberi perhatian penuh terhadap lingkungan hidup?
Ya, saya belajar dari masa kecil di desa. Waktu itu lingkungan alam betul-betul bersahabat dan memberikan kontribusi yang luar biasa bagi kegidupan manusia. Banyak pohon yang tumbuh liar di hutan belantara, memiliki buah yang lezat dan bergizi, banyak rumput liar yang bermanfaat menyembuhkan manusia yang sakit. Pada hutan belantara juga berkembang burung-burung dan habitat kehidupan lainnya. Pada hutan itu juga muncul sumber air yang bermanfaat bagi manusia dan hewan. Bagi saya, Tuhan menciptakan alam sempurna, saling melengkapi sehingga kita yang menghuni di atasnya harus memelihara, melestarikan untuk kesejahteraan manusia. Konsep ini yang saya kembangkan dalam program Gerbadestan (Gerakan Kembali ke Desa dan Pertanian).

Apa konsep Anda tentang Gerbadestan dan latar belakangnya?
Gerbadestan itu saya canangkan menyikapi krisis multidimensi dan gerakan reformasi bangsa. Program itu lahir berdasarkan potensi dan permasalahan di Kabupaten Alor. Sejak dicanangkan 1 April 1999, dampaknya cukup baik bagi masyarakat sehingga pada masa jabatan kedua 2004-2009, konsep pembangunan ini saya perluas mencakup sektor kelautan sehingga menjadi Gerakan Kembali ke Desa, Pertanian dan Kelautan. Gerbadestan adalah upaya membangun Kabupaten Alor dalam rangka mendaulatkan rakyat, memberdayakan masyarakat dan merekatkan hubungan sosial budaya mulai dari desa sebagai basis kehidupan masyarakat. Komponennya mencakup pemerintah daerah, swadaya masyarakat dan pembangunan kemitraan mencakup pemberdayaan ekonomi masyarakat, peningkatan kualitas SDM, pembangunan sarana dan prasarana dan penguatan kelembagaan.

Bagimanan implementasi dan keterkaitan dengan lingkungan hidup?
Ada lima prinsip pelaksanaannya, yakni serentak (massal) di sini gerakan yang dilaksanakan, termasuk pelestarian lingkungan hidup dilaksanakan oleh seluruh komponen masyarakat dan aparatur pemeritnah dengan semangat gotong royong. Selektif, yakni gerakan yang pelaksanaannya disesuaikan dengan potensi wilayah, iklim dan kondisi sosial budaya masyarakat. Sederhana, yakni gerakan yang dimulai dengan apa yang diketahui dan dimiliki masyarakat. Serius artinya gerakan yang dilaksanakan dengan penunh tanggung jawab dan diwujudnyatakan melalui kerja keras, ulet dan disiplin. Saya berusaha agar semua program itu sukses, artinya gerakan yang berorientasi pada pencapaian sasaran optimal dan final meliputi sasaran fisik, fungsional, skala ekonomi, nilai tambah, multiplier dan hemat.

Seperti apa praktek pengelolaan lingkungan hidup di Kabupaten Alor?
Saya mengawali dengan membangun hutan nostalgia. Areal hutan ini letaknya kurang lebih dua kilometer dari Bandara Mali. Areal ini merupakan tempat usaha masyarakat, tapi dibebaskan oleh pemerintah dan dijadikan hutan wisata nostalgia. Walau dibebaskan oleh pemerintah tapi masyarakat setempat tetap terlibat dalam pengelolaannya. Luasnya semua lima hektar (ha) tapi kemudian dikembangkan menjadi 10 ha. Pembangunan hutan wisata nostalgia ini kami canangkan 2 Mei 2002. Saya memilih hari yang punya nilai sejarah, sebagai hari pendidikan nasional. Kegiatan itu dilakukan bersamaan dengan Expo Alor pertama.

Kenapa dinamakan hutan nostagia?
Oh ya, kalau di daerah wisata lainnya pengunjung hanya menikmati panorama khas hutan yang tersedia, maka di hutan nostalgia semua pengunjung diharapkan mendapat kenikmatan ganda. Selain kesyahduhan hawa hutan, juga terlibat langsung dalam urusan pelestarian dan perlindungan hutan. Setiap pengunjung wajib menanam satu bibit pohon dan memberinya nama. Di sini pengunjung memiliki kesempatan mendatangi, memahami, dan merasakan denyut kehidupan hutan. Melalui hutan nostalgia, pesona alam bukan hanya dinikmati, tetapi juga dihargai. Jenis tanaman dan bibit yang ditanam di kawasan hutan nostalgia ini, antara lain kemiri, cendana, mahoni, mangga, kelapa, jati, gamalina, saga pohon dan gaharu. Kepada pengunjung kami menyediakan anakan dan telah disiapkan lubang untuk menanam. Satu anakan pohon yang ditanam pengunjung menjadi peringatan dan kenangan tentang kehadiran atau kunjungan ke Alor dan apabila ada kesempatan berkunjung lagi dapat meninjau pertumbuhannya, merawat dan memberi pupuk organik yang disediakan.

Siapa saja yang telah menanam di kawasan hutan wisata nostalgia?
Hampir semua tokoh nasional, regional dan lokal yang berkunjung ke Alor. Jika tidak sempat menanam sendiri dapat memilih jenis pohon dan lokasinya lalu ditanam oleh petugas yang dipercayakan pemerintah. Yang bersangkutan punya hak untuk memantau perkembangannya dan jika berkunjung lagi ke Alor bisa melihatnya dan memberikan pupuk. Ini yang dinamankan kawasan hutan nostalgia. Setiap orang yang berkunjung ke Alor menciptakan nostalgia dengan menanam pohon, karena usianya panjang sehingga bisa dilihat lagi apabila sempat berkunjung kembali ke Alor. Hutan nostalgia ini juga mendapat apresiasi dari Bank Dunia dan melalui sharing dana proyek inovasi manajemen perkotaan tahun 2003 dan APBD Alor 2003-2005 dibuat desain pengembangan hutan nostalgia dan pembangunannya mencakup pengadaan bibit tanaman, jalan setapak, rumah payung dan rumah penjaga. Kemudian dengan dana APVD terus dilanjutkan pengelolaan dengan pembangunan sarana perpipaan (sarana air bersih), MCK dan penangkaran rusa.

Apa yang Anda harapkan dari hutan nostalgia?
Harapan saya, hutan nostalgia ini bermanfaat bagi kelestarian lingkungan, pemeliharaan mata air, ajang keretan sosial budaya, sarana pendidikan dan obyek wisata.

Anda juga berbicara tentang kearifan lokal atau spesifik lokal, apa maksudnya?
Memang sejak dulu masyarakat Kabupaten Alor mempunyai konsep dan perlindungan hutan yang disebut "hutantani mamar" dan 'hutan pamali'. Hutantani mamar adalah suatu areal yang diusahakan dengan menanam aneka tanaman kehutanan, tanaman perkebunan dan tanaman buah-buahan di sekitar mata air atau sumber air sehingga memperoleh hasil yang beraneka ragam dan terus menerus. Sedangkan hutan pamali adalah areal hutan yang menurut kepercayaan turun temurun memiliki kekuatan alam sehingga tidak boleh sembarang orang memasuki, meramu hasil-hasil hutan yang ada, apalagi menjadikan tempat usaha sebagai ladang/kebun. Dipercaya bahwa apabila meramu, merambah hutan tersebut akan mendatangkan bencana alam bagi masyarakat setempat. Penjagaan areal hutan pamali dilakukan oleh kepala suku atau tua adat setempat.

Anda juga dikenal sebagai bupati yang getol mengkampanyekan taman laut. Apa saja kebijakan yang Anda keluarkan?
Saya melihat perairan laut di Kabupaten Alor, antara lain Selat Pantar dan sekitarnya kaya dan unik dengan variasi habitat dan jenis karang, ikan, sehingga perlu dikembangkan agar bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat. Setelah melalui survai yang matang perairan laut itu perlu dikembangkan menjadi obyek wisata bahari yang berkelanjutan. Maka saya mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Bupati Alor Nomor 5 Tahun 2002 tentang Penetapan Selat Pantar dan sekitarnya sebagai Taman Laut. Kebijakan ini mendapat respon dari Departemen Kelautan dan Perikanan RI. Melalui Direktorat Kelautan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil melakukan survai lapangan kegiatan inventarisasi dan penilaian potensi calon kawasan konservasi laut daerah di kabupaten Alor serta melakukan penyusunan rencana tata ruang dalam rangka penataan kawasan konservasi laut daerah di Selat Pantar. Dari hasil survai dan tata ruang ditetapkan tujuh zona baik pemanfaatan maupun perlingdungan yang termasuk dalam konservasi laut. Hasilnya menjadi acuan penetapan Kebijakan Daerah melalui Peraturan Bupati Alor Nomor 12 Tahun 2006 tentang Penetapan kawasan Selat Pantar menjadi Kawasan Konservasi Laut Daerah. Pengelolaannya lebih menitikberatkan pada integritas ekologi dari suatu ekosistem secara keseluruhan dengan tetap mempertimbangkan aspek pemanfaatan.

Sarana dan prasarana apa saja yang disiapkan mengoptimalkan taman laut itu?
Tahun 2002 kami menyediakan 10 unit alat diving lengkap dan pelatihan pemandu diving dengan membangun pola kerjasama dengan Dinas pariwisata dan pihak swasta. Hal ini mendorong berkembangnya peranan swasta dalam usaha diving di Alor yang hingga tahun 2008 ada tiga pengusaha diving, yakni Alor Divers, Alor Dive dan Laptite Kepa.

Anda memperdayakan ekonomi masyarakat berbasis lingkungan hidup. Seperti apa implementasinya?
Masyarakat mengembangkan komoditi perkebunan unggulan daerah (kemiri, jambu mete, pinang, cengkeh, vanili dan kopi). Kami juga bangga karena hasil penilaian Balai Penelitian Bogor vanili Alor direkomendasikan menjadi sumber bibit di NTT. Saya juga mencanangkan gerakan menanam satu juta jambu mete di 100 desa pesisir, gerakan Indonesia Menanam untuk NTT dicanangkan di Alor yang dihadiri Menteri Kehutanaan yang ditandai dengan penanaman cendana. Cendana Alor juga direkomendasikan sebagai sumber bibit di NTT. Masyarakat juga saya ajak berpartisipasi menanam melalaui gerakan penghijauan berbasis masyarakat yang dilaksanakan setiap tahun menyongsong hari lingkungan hidup. Kami di Alor juga mengembangkan tanaman kusambi sebagai tumbuhan inang kutulak yang memproduksi seedlack (bahan baku pembuatan lak, pernis, sat pewarna, pengawet, kosmetik dan isolasi bahan elektronik). Terobosan ini sangat membantu petani dalam meningkatkan pendapatan keluarga karena harganya lumayan. Terakhir kami mengembangkan mangga kelapa yang huga dijadikan varietas unggul NTT.

Apa saja yang menjadi dasar penilaian Dewan Pertimbangan Kalpataru?
Untuk tahun 2008 tim menjaring 166 calon terdiri dari perintis 57 orang, pengabdi lingkungan 34 orang, penyelamat lingkungan 39 kelompok, pengabdi lingkungan 34 orang dan pembina lingkungan 36 orang. Berdasarkan hasil sidang Dewan Pertimbangan Kalpataru tahun 2008, ditetapkan enam orang perintis lingkungan, lima orang pengabdi lingkungan, empat kelompok penyelamat lingkungan dan lima orang pembina lingkungan. Tim meneliti prestasi melalui beberapa tahap. Sidang pertama untuk menentukan nominasi yang ditinjau ke lapangan, peninjau lapangan serta siudang kedua untuk menentukan penerima penghargaan kalpataru. Melalui sidang kedua ini Dewan Pertimbangan Kalpataru yang berlangsung 23 Mei 2008 yang dipimpin Prof. Dr. Didin Sastrapradja diputuskan 12 orang atau kelompok penerima kalpataru masing-masing lima orang sebagai perintis lingkungan, 3 orang sebagai pengadi lingkungan, tiga kelompok sebagai penyelamat lingkungan dan satu orang sebagai pembina lingkungan yaitu saya sendiri.

Apa yang menjadi tanggung jawab Anda setelah menerima kalpataru?
Kami telah mendeklarasikan keseriusan, bertekad mencegah meningkatnya perusakan lingkungan, dengan menuntut para pelaku sesuai hukum yang berlaku dengan memberdayakan masyarakat dalam pengawasan. Kami juga telah menyatakan memelopori upaya pelestarian fungsi lingkungan, demi pembangunan berkelanjutan, mendorong agar seluruh komponen bangsa menempatkan lingkungan sebagai isu sentral dalam menghadapi berbagai tantangan global, membangun aliansi strategis antar para pohak yang mempunyai kepentingan dalam pengelolaan lingkungan untuk menyatukan visi, misi dan strategi melalui sistem informasi, pendidikan dan tindak nyata, menjadikan dimensi lingkungan sebagai wahana pemersatu bangsa Indonesia. Di sini kalian pers sangat kami butuhkan dan saya di Alor akan menggandeng semua komponen termasuk pers dalam melestarikan lingkungan. (*)

Membayar Warga yang Membudidayakan Rusa

MUNGKIN karena latar belakang pendidikannya sebagai sarjana peternakan, Ir. Ansgerius Takalapeta sangat menyukai rusa. Saking sukanya, dia mencanangkan gerakan budidaya rusa oleh perorangan dan kelompok masyarakat serta penangkaran oleh Pemerintah Daerah. Harapannya akan mendatangkan manfaat ekonomi, pelestarian sumber daya alam, obyek wisata dan kepentingan ilmu pengetahuan. Gerakan ini dimulai 1999 dan pendataan serta evaluasi tahunan untuk memperoleh penghargaan dan insentif dimulai tahun 2001.
Setiap tahun penangkar maupun pembudidaya rusa baik perorangan maupun lembaga/kelompok diberikan piagam penghargaan dan uang tunai. Untuk setiap pemelihara tiga ekor rusa diberikan insentif uang tunai Rp 250.000 dan setiap tambahan satu ekor diberikan Rp 50.000. Insentif itu mendorong warga berlomba- lomba memelihara rusa sehingga syaratnya lebih diperketat. Penangkar dan pembudidaya lima ekor dan atau lebih baru mendapat insentif.
Dengan gebrakan itu, pertumbuhan populasi ternak rusa terus meningkat menjadi 121 ekor tahun 2001, tahun 2002 sebanyak 147 ekor, tahun 2003 sebanyak 186 ekor, tahun 2004 meningkat menjadi 214 ekor, tahun 2005 sebanyak 242 ekor, tahun 2006 sebanyak 281 ekor dan tahun 2007 menjadi 329 ekor. Jumlah itu belum termasuk populasi yang hidup di alam bebas.
Terobosan ini juga mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Ans diundang untuk memaparkan pola penangkaran rusa oleh Menteri Pertanian dan Kehutanan. Perguruan tingg juga memberi perhatian khusus tentang penangkaran, budidaya dan pemanfaatan satwa rusa yang terus berkembang dengan regulasi tentang pengembangan dan pemanfaatan rusa. Ans menjadi pembicara pada seminar nasional itu. (gem)



Data Diri :

Nama : Ir. Ansgerius Takalapeta
Nama Panggilan : Ans
TTL : Kalabahi, 13 Desember 1954
Jabatan : Bupati Alor
Pendidikan : SD GMIT Taramana 1967
SMPN Kalabahi 1970
SMAN Kalabahi 1973
Sarjana Muda Fakultas Peternakan Undana Kupang, 1978
Sarjana Fakultas Peternakan Undana Kupang, 1982
Riwayat Jabatan : Kabid Ekonomi dan Keuangan Bappeda Alor 1980-1985
Kasie Pengairan Bappeda Alor 1985-1987
Kabid Ekonomi dan Sosial Budaya Bappeda Alor 1987-1996
Kepala kantor Pembangunan Masyarakat Desa 1996-1999
Bupati Alor periode 1999-2004 dan tahun 2004-sekarang
Istri : Dina M Takalapeta-Meler, S.Th
Anak : 1. Theodora Takalapeta
2. Anita Takalapeta
3. Teguh Lamentur Takalapeta
4. Andayani Takalapeta


Pos Kupang Edisi 22 Juni 2008, halaman 3

Lanjut...


Foto Pos Kupang/alfred dama RAYAKAN--Para siswa SMA merayalan kelulusan dengan saling membubuhkan tanda tangan pada pakain seragam mereka. Nampak para siswa membubuhkan tanda tangan pada seragam teman mereka di Jalan Urip Sumoharjo-Kupang, Selasa (17/6/2008)
Oleh Alfred Dama

SUARA gelak tawa para para remaja wanita dan pria menyatu dengan deru mesin dan suara klakson kendaraan bermotor di Jalan Cak Doko, tepatnya di depan kompleks Sekolah Menegah Atas Negeri (SMAN) I Kupang, Selasa (17/6/2008). Baju seragam putih dan abu-abu yang tiap hari mereka kenakan ke sekolah, sudah berubah warga dengan aksi coret tanda tangan dan semprot. Bukan saja baju, rok atau celana sekolah tetapi rambut merekapun sudah berubah dari hitam menjadi warna-warna yang tak jelas.

Para remaja ini adalah siswa-siswi yang baru saja merayakan kelulusan ujian nasional (UN) 2008 . Kegembiraan mereka luapkan dengan melakukan aksi coret-coret baju seragam, selain saling menyalami. Ada juga aksi unjuk kreativitas pada baju mereka, meski terkesan hanya merusak seragam.


Bukan saja SMAN I Kupang yang merayakan kelulusan dengan aksi itu, hampir semua SMA dan SMK di Kota Kupang melakukan hal yang sama. Saling memberikan selamat dengan ciuman hingga mencoret baju para lulusan UN di Kota Kupang sudah menjadi pemandangan setiap tahun. Bahkan sudah menjadi tradisi para siswa SMA/SMK yang baru saja mendengar pengumuman hasil UN. Saling memberikan salaman bukan saja pada teman-teman sekelas atau satu sekolah, namun saling mengucapkan selamat juga diberikan pada teman-teman dari sekolah lainnya.

Para remaja dengan muda bisa memberikan selamat karena pada umumnya mereka yang bergembira karena baru saja dinyatakan lulus UN sekaligus lulus sekolah lanjutan atas tersebut bisa melihatnya dari seragam yang sudah dipenuhi dengan cat atau tulisan serta tanda tangan. Biasanya mereka saling salaman dan membiarkan baju mereka ditulis dengan tanda tangan. Kebiasaan ini seakan menjadi tradisi yang diwariskan oleh para senior ke yuniornya dan seterusnya kebiasaan ini menjadi pemandangan setiap tahun.

Tidak diketahui pasti sejak kapan kebiasaan ini mulai dilakukan para lulusan. Namun kebiasaan corat-coret baju berawal pembubuhan tanda tangan sesama lulusan dari satu sekolah atau kelas yang sama. Teman-teman saling membubuhkan tanda tangan pada baju sesama teman dengan maksud baju tersebut nantinya akan menjadi kenang- kenangan.

Seiring perkembangan zaman, bukan hanya tanda tangan yang dibubuhi, tetapi memberikan nuansa lain seperti gambar-gambar dengan cat semprot. Inilah kemungkinan yang menjadi cikal bakal dimulainya tradisi menggunakan cat semprot pada baju seragam saat perayaan kelulusan UN. Kini, bukan lagi sekadar baju, tetapi sudah mengecat juga wajah mereka.

Selaian aksi saling memberikan tanda tangan, para remaja berkumpul di sepanjang jalan Urip Sumoharjo dan Jalan A. Yani. Kebiasanya ini sudah berlangsung lama. Tidak diketahui pasti alasan para siswa ini berkumpul di tempat yang diberi nama halte (meskipun tak ada halte), padahal halte teramai di Kota Kupang itu sudah dicabut sejak tahun 2004 lalu.

Pastinya, letak halte berada di pusat jalur kendaraan umum dalam Kota Kupang sehingga siswa dari berbagai penjuru sekolah akan memilih tempat itu sebagai transit sambil mencari kendaraan umum ke tujuan pulang ke tempat tingga. Dan, tanpa disadari tempat itu menjadi berkumpul para siswa sehingga kawasan itu menjadi ramai. Aparat polisi-pun setiap tahun selalu dikonsentrasikan di tempat itu untuk tetap menjaga keamanan dan ketertiban lalulintas di tempat itu.

Aksi remaja tersebut terkesan hura-hura tersebut bisanya berlangsung sejak pukul 08.30 Wita atau sejak hasil UN diumumkan dan akan berlangsung hingga sekitar pukul 17.00 Wita. Setelah itu, para remaja akan kembali ke rumah masing-masing namun ada yang merasakan kelulusan tersebut hingga malam.

Beberapa remaja yang ditemui mengaku, aksi mencoret baju hingga semprot dilakukan hanya untuk meluapkan rasa gembira. Ketengan sejak hari pelaksanaan UN hingga jelang pengumuman dilepaskan seketika setelah mengetahui diri mereka lulus.
Kristin, salah satu siswa yang merayakan kelulusan saat ditemui di jalan Cak Doko- Kupang, mengatakan, aksi tanda tangan itu ia lakukan hanya untuk bersenang-senang saja. Apalagi, teman-temannya juga melakukan hal yang sama. "Kita semua tanda tangan baju, ini kan hanya sekali dalam seumur hidup. Apalagi kita mau berpisa," ujar gadis berparas manis ini. (*)


Pos Kupang Edisi 22 Juni 2008, halaman 13

Lanjut...


foto ist.
Warga TTU kembali hijaukan lahan kritis

BUKIT Haumeni di Desa Haumeni, Kecamatan Miomafo Timur di pedalaman Pulau Timor, suatu hari di bulan Oktober 2007. Matahari telah meninggi, asap membubung tinggi. Bunyi ledakan terdengar bertubi-tubi pertanda api telah menjalari kawasan hutan bambu. Hamparan padang rumput dan perbukitan yang ditumbuhi pohon kemiri, ampupu dan semak belukar juga tidak luput dari amukan api yang disulut para petani.

Enam pria bertelanjang dada mengumpulkan batang-batang bambu dan kayu yang terbakar menggunakan galah bambu yang diberi besi pada ujungnya. Wajah mereka tampak menghitam akibat sengatan sinar matahari dan panas api. Pemandangan orang membakar lahan untuk membuka kebun bisa disaksikan tiap tahun di Timor pada awal hingga pertengahan bulan Oktober, hari-hari akhir musim kemarau.

Bulan November biasanya hujan mulai membasahi bumi Timor yang kering kerontang sejak April hingga Oktober. Orang Timor membakar lahan di bulan Oktober untuk menyambut datangnya hujan menghidupi tanaman pertanian. Tapi tibanya musim hujan tidak selalu menggembirakan. Kerap hujan hanya turun beberapa hari kemudian lebih sering matahari menyengat. Tanaman padi, jagung dan turis ( Cajanus cajan) yang baru tumbuh pun merana, layu dan akhirnya mati. Iklim Timor memang kering, musim hujan pendek dengan intensitas curah hujan rendah. ( Curah hujan di Timor 1.300 -1.500 mm per tahun, sangat rendah dibanding curah hujan di Jawa, misalnya, yang rata-rata 3.000 - 4.200 mm per tahun.}

Tebas & Bakar
Dari generasi ke generasi, orang-orang Timor menebas dan membakar hutan atau semak belukar untuk berkebun dan juga membakar padang untuk menumbuhkan pucuk rumput bagi ternak. Mereka yakin, lahan harus dibakar agar menjadi subur untuk ditanami jagung, turis, kacang panjang, ubikayu dan juga padi ladang.
Di musim kemarau, padang rumput yang kuning mengering juga harus dibakar agar setelah dibasahi embun malam beberapa hari muncul pucuk hijau yang akan menjadi makanan sapi, kambing dan kuda. "Kami harus bekerja seperti ini untuk bisa bertahan hidup. Tebas dan bakar kami lakukan tiap tahun. Sebagai petani di Timor kami sengsara, tapi lebih baik sengsara daripada mati kelaparan," ujar Yosef Kefi, seorang pria ubanan.

Pernyataan Yosef terdengar polos. Dia tidak tampak menyadari dampak membakar lahan dan hutan terhadap lingkungan hidup. Yang ada dalam benaknya adalah hasil jangka pendek, bagaimana kebun harus segera ditanami, tanaman bertahan hidup menghasilkan panen sebelum kemarau memanggang bumi Timor. Yosef dan petani-petani Timor masih terus main tebas dan bakar setiap penghujung musim kemarau.

Sumur Mengering
Tidak jauh dari lokasi tebas bakar milik Yosef dan beberapa warga lainnya, terdapat sebuah sumur tua yang airnya hanya setinggi sekitar 10 cm. Air sumur itu menjadi rebutan warga desa itu yang berjumlah 320 KK. Tidak heran, sering kali mereka terlibat adu mulut bahkan tak jarang terjadi perkelahian karena ada yang menyerobot giliran. Di siang hari lokasi itu ramai seperti pasar. Di malam hari warga terus berdatangan membawa obor, pelita bahkan lampu gas. Sumur itu selalu ramai siang maupun malam.

Kendati tempat itu oleh sebagian warga dinilai angker, tetapi daripada mati kehausan, warga akhirnya melawan rasa takut dan menanti giliran timba sejak malam hingga pagi hari. Di sekitar sumur itu hanya terdapat tiga pohon beringin dan sebatang pohon jambu air yang mungkin sudah berumur ratusan tahun. Empat pohon itulah yang tetap kokoh berdiri, akar-akarnya menangkap air hujan untuk sumur tua. Pohon-pohon lain sudah lenyap ditebang, atau tinggal sisa-sisa batang yang menghitam akibat dibakar warga.

Sumur itu peninggalan bangsa Belanda sejak tahun 1920. Dulu air sumur dapat ditimba langsung dengan ember atau tabung bambu. Namun sejak 15 tahun lalu ketika kawasan hutan di sekitar daerah ini dibabat warga, air sumur tiba-tiba menyusut. Pada bulan-bulan seperti ini kita harus turun ke dasar sumur sedalam empat meter dan menimba dengan menggunakan gayung karena airnya tidak dalam lagi. "Kami sering berkelahi karena berebut air," tutur Ny. Lake.

Praktek tebas bakar untuk mempersiapkan kebun ini telah menjerumuskan warga dalam beragam bencana. Mereka menginginkan hasil jagung, padi, ubikayu, tetapi menyepelekan sumber-sumber air yang terus merosot debitnya. Akibat langsungnya, anak-anak sekitar wilayah itu menderita berbagai penyakit kulit karena jarang mandi. Diare atau muntaber juga menjadi langganan ratusan balita di desa itu lantaran sanitasi lingkungan yang buruk.

Desa Haumeni, Kecamatan Miomafo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini adalah contoh potret buram dari 163 desa/kelurahan di kabupaten itu. Kabupaten TTU yang terletak di tengah-tengah Pulau Timor, menjadi indikator dalam setiap pembicaraan publik terkait lingkungan hidup di pulau Timor.

Kalau tebas bakar rutin terjadi di wilayah ini maka pulau Timor akan alami kekeringan panjang dan atau sebaliknya muncul banjir besar seperti yang pernah menenggelamkan puluhan desa di kabupaten tetangga, Belu dan Timor Tengah Selatan (TTS). (Yan Meko/NTT Online.com)

Tulisan ini berhasil meraih juara harapan I, Lomba Tulisan Artikel tentang Lingkungan yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan PBB)

Pos Kupang Edisi Minggu 22 Juni 2008, halaman 14



Lanjut...


DUA pria dewasa berlari-lari kecil mendekati Pos Kupang yang kebetulan melewati Jalan Perintis Kemerdekaan, samping Kantor Walikota Kupang, Sabtu (14/6/2008). Mereka awak truk tangki yang saban hari mangkal di tempat itu. Dua pria ini menawarkan jasa angkutan tangki air dengan harga Rp 55 ribu hingga Rp 100 ribu/tangki. Harga ini tergantung jarak antar dari tempat pengisian air ke rumah pelanggan.

Sementara dua pria lainnya sedang mengisi air pada truk tangki yang disalurkan dari selang pipa milik Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Air Bersih Kota Kupang. Beberapa pria lainnya duduk santai di bawa pohon di tepi jalan sambil menunggu warga yang membutuhkan air minum. Enam unit truk tangki masing-masing berkapasitas 5.000 liter sedang parkir di tempat itu untuk mendapat giliran mengisi air.


Di Kota Kupang, kebutuhan air bersih relatif tinggi, sementara penyediaan air dari PDAM Kabupaten Kupang belum cukup mampu memenuhi kebutuhan air minum warga Kota Kupang dan sekitarnya. Tidak heran bila pada musim kemarau seperti sekarang ini warga selalu mengelu kekurangan air.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih atau air minum, warga Kota Kupang membeli air pada sejumlah sumur bor, termasuk air dari UPTD Air Bersih Kota Kupang. Untuk pengadaan air bersih, warga memanfaatkan jasa tangki yang setiap hari parkir di sejumlah sumur bor dan di UPTD Air Bersih Kota Kupang. Untuk menampung air dari mobil tangki tersebut, warga sudah membangun bak penampung di rumah mereka masing-masing. Kondisi ini menggambarkan betapa sulitnya memperoleh air bagi warga Kota Kupang.

Pertanyaan muncul, benarkah Kota Kupang tidak memiliki deposit air dalam jumlah banyak? Adalah Noni Banunaek, S.T, M.T, Ahli Geologi Daerah Karst telah melakukan penelitian potensi air tanah di Kota Kupang.

Dosen di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, dalam orasi ilmia pada acara wisuda mahasiswa lulusan sarjana dan diploma Undana Kupang tahun 2003 lalu menyebutkan, di Kota Kupang memiliki sumberdaya air tanah yang cukup besar. Contoh, di kawasan Kecamatan Alak-Tenau yang tidak memiliki potensi air permukaan dan masyarakat harus berjalan beberapa kilometer untuk mendapat air bersih, padahal daerah ini memiliki sumber daya air tanah yang cukup besar. Sumur bor di tempat ini berkapasitas 20 liter per detik (1.728 meter kubik/hari pompaan). Menurut Noni, bila sumber daya air ini dimanfaatkan maksimal dapat memenuhi kebutuhan 21.600 orang.

Potensi air tanah hasil penelitian Noni adalah air tanah di Kota Kupang yang terdapat pada rekahan, rongga dan gua cekungan air tanah, sehingga tidak semua lokasi berpotensi air tanah.

Di Kota Kupang terdapat enam cekungan air tanah, Infiltrasi efektif (air hujan yang masuk ke dalam tanah) rata-rata setiap tahun 10,6 x 10 meter kubik hingga 39 x 10 meter kubik, atau hanya sekitar tujuh persen sampai 29 persen.

Jumlah air yang masuk ke dalam tanah sebesar 21,21 x 10 meter kubik per tahun. Meski demikian, diperkirahkan lima hingga delapan persen air tanah keluar dari sistem. Sebaiknya jumlah air tanah tidak diambil guna pengaman akuifer sehingga potensi air tanah yang dapat diambil sebesar 62 persen dari jumlah tersebut atau sebesar 13,68 x 10 meter kubik.

Air tanah di Kota Kupang tersebar di lima titik. Pertama, cekungan Bolok-Tenau- Alak-Namosain. Cekungan ini memiliki potensi sebanyak 2,87 x 10 meter kubik per tahun. Cekungan ini berhubungan langsung dengat laut sehingga memungkinkan terjadi penyusupan airlaut jika pengambilan airtanah melebihi jumlah tersebut di atas.
Kedua, cekungan Tabun-Bakunase-Haukoto-Sikumana.

Potensi air tanah di wilayah ini mencapai 1,8 x 10 meter kubik per tahun. Adanya tinggian lapisan impermeabel di bawa permukaan di selatan Air Sagu hingga selatan Oepura, menyebabkan cekungan ini terpisah menjadi dua bagian yaitu subcekungan Bakunase dan sub cekungan Tabun-Haukoto-Sikumana.

Tinggian lapisan impermeabeal ini juga menyebabkan munculnya mata air di bagian utara. Ketebalan mata air mencapai satu meter hingga 25 meter. Pengambilan air tanah secara berlebihan berpotensi keringnya mata air permukaan di daerah ini dan penurunan muka air tanah.
Ketiga, cekungan Kupang-Oesapa-Tarus. Potensi air di cekungan ini sebanyak 3,93 x 10 meter kubik per tahun. Cekungan ini berhubungan langsung dengan laut sehingga memungkinkan terjadi penyusupan air laut jika pengambilan air tanah melebihi jumlah tersebut.

Keempat, cekungan Penfui. Potensi air tanah yang dapat diambil dari cekungan ini mencapai 2,32 x 10 meter kubik per tahun. Ketebalan air tanah berkisar satu hingga 30 meter. Pengambilan air tanah di wilayah yang berlebihan dapat menyebabkan kekeringan di mata air daerah Tarus-Oesapa dan penurunan muka air tanah.

Kelima, cekungan Baumata. Potensi air tanah di wilayah ini sebanyak 2,74 x 10 meter kubik per tahun. Potensi air tanah di wilayah itu belum dimanfaatkan maksimal. Namun, kalau dimanfaatkan berlebihan berpotensi keringnya mata air Baumata dan penutupan muka air tanah.

Hasil penelitiannya, Noni juga menyebutkan risiko pencemaran air tanah di Kota Kupang sangat besar dan dapat terjadi dengan cepat karena air tanah mengalir melalui rekahan, rongga dan celahan. Hasil penelitian juga membuktikan bahwa kandungan bakteri e-coli pada air tanah di Kota Kupang cukup tinggi. Ini menggambarkan, masyarakat Kota Kupang bukan saja sulit mendapatkan air permukaan, tetapi air yang ada di dalam tanah pun sudah tercemar.

Materi orasi ilmiah itu juga menyebutkan, masalah pencemaran air tanah karena kebijakan tata ruang Kota Kupang.

Misalnya, sumber daya air tanah sebanyak 2,87 x 10 meter kubik per tahun di daerah Alak-Tenau dipastikan tercemar oleh sampah pada tempat pembuangan akhir (TPA) Alak. TPA Alak berada persis di atas jalur rekahan yang besar dan panjang yang berperan sebagai akuifer.

Masalah air bersih di Kota Kupang sebenarnya dapat diatasi melalui suplesi air tanah dari daerah yang berpotensi air tanah. Ini dengan catatan pengambilan air tanah tidak boleh melebihi jumlah pengisian akuifer dan manajemen pemanfaatan air tanah secara optimal.

Proyeksi kebutuhan air tanah perlu dirancang sedini mungkin mulai dari rencana jangka satu tahun dan lima tahun hingga 25 tahun. Ini agar pemanfaatan air tanah tidak sampai mengganggu persediaan air tanah, atau tidak merusak kualitas air yang sudah disediakan oleh alam. Jadi, potensi sumber daya air tanah di Kota Kupang cukup untuk memenuhi kebutuhan warga kota ini. (alf)

Pos Kupang Edisi Minggu 15 Juni 2006, halaman 16

Lanjut...

Gadis Masa Lalu

Cerpen Roni Antonius Sitanggang

SEBAGAI seorang analis politik dan konsultan pada sebuah LSM yang bergerak di bidang sosial, Didi disibukkan dengan pekerjaannya sampai-sampai ia lupa akan masa lalunya, yaitu masa-masa kuliahnya dulu bersama dengan Nita, kekasihnya. Semenjak Didi pindah ke Jakarta, ia tinggal bersama kakaknya, Desi, yang bekerja sebagai kepala personalia pada salah satu perusahaan Korea di Jakarta.

Desi terkadang kasihan melihat Didi yang begitu sibuk mengurusi pekerjaannya demi memperoleh sedikit uang untuk membiayai hidup mereka di Jakarta dan demi membantu biaya kuliah si Dedek, adik bungsunya. Desi pun merasa kasihan kepada Didi karena selama empat tahun hidup di Jakarta, ia belum membuka pintu hatinya untuk gadis-gadis lain, padahal ada banyak cewek yang ingin menjadi pacarnya, di samping karena Didi memiliki tampang yang lumayan, juga karena Didi telah memiliki pekerjaan yang cukup mantap. Desi pun telah berusaha untuk memperkenalkan Didi dengan beberapa cewek yang juga memiliki perkerjaan yang mantap, namun Didi tetap saja menutup pintu hatinya itu.


Desi telah berulang kali berbicara dengan Didi tentang kehidupan mereka di Jakarta dan tentang cewek-cewek yang dikenalkan itu. Didi hanya menjawab "Kak, aku masih memfokuskan diri untuk biaya kuliah si Dedek"

"Tapi, Di. Kamu tidak bisa begini terus. Kamu harus segera mencari seorang gadis untuk menjadi calon pendamping hidupmu" kata Desi.
"Iya, Kak. Nanti aja sehabis kuliah si Dedek", jawab Didi.
"Di, kalau urusan biaya kuliah si Dedek, nanti Kakak bantu" jelas Desi.
"Tidak, Kak. Ketika kita kuliah dulu, kita berdua dah dibiayai oleh Bang Man. Sehabis

kuliah, kakak masih bantu biaya kuliah si Andre sampai sekarang. Kini, si Dedek adalah tanggung jawabku. Kakak, tenang aja. Kakak harus fokuskan diri untuk menghabiskan biaya kuliah si Andre dan biaya pernikahan Kakak kelak" jelas Didi.
Desi hanya diam merenungkan perkataan adiknya itu.

Memang benar apa yang dikatakan oleh Didi. Selama ini di antara mereka bersaudara, mereka telah saling membantu agar dapat menanggung biaya sesama saudara. Ayah mereka sakit-sakitan, sementara ibu mereka hanya bisa menanggung keperluan rumah sehari-hari.
Walaupun dua bersaudara itu telah hidup bersama selama empat tahun, namun bagi Desi, adiknya itu tetap misterius apalagi tentang masa lalu. Sampai hari itu, Desi tidak pernah mengetahui siapa kira-kira gadis yang pernah singgah di pelabuhan hati adiknya itu.

Sampai pada suatu malam, ketika Didi pulang dalam keadaan mabuk karena baru habis berpesta bersama rekan-rekan kantornya yang merayakan HUT LSM mereka, Desi melihat Didi langsung menuju mejanya dan mengambil diary-nya, lalu menulis sesuatu di dalam diary itu walaupun gerak tangan dalam keadaan tak menentu. Akhirnya, Didi tertidur di atas mejanya dengan berbantalkan diary-nya sendiri. Selama ini Desi belum pernah membaca diary adiknya itu. Malam itu, Desi penasaran tentang isi diary itu dan ia berniat untuk mengambil diary itu.

Dengan perlahan-lahan, Desi mengambil diary itu dari jepitan kepala Didi yang ada di atas meja supaya tidak membangunkan Didi. Kini, diary itu sudah berada di tangan Desi. Ia membuka lembar demi lembar diary itu dan membacanya. "Diary ini sepertinya telah diisi sejak di bangku kuliah dulu" pikir Desi. Desi merasa bingung karena diary itu disapa dengan nama "Nita" seolah-olah pada saat mengisi diary itu, Didi berbicara dengan Nita. "Siapa itu Nita" pikir Desi. Desi mencoba untuk mencari tahu tentang nama itu.

Tapi sepertinya nama itu belum terdaftar dalam memorynya. Akhirnya ia mencoba untuk mengecek nama itu di box phone number hp-nya Didi yang ada di atas meja. Nama "Nita" masih tersimpan. "Nomor ini sepertinya berada di luar Jawa. Iya, ini pasti nomor Kupang, tempat kuliah Didi dulu" pikir Desi. Desi segera memasukkan nomor Nita ke box phone number hp-nya. Tapi Susi belum berani memanggil nomor itu. "Lebih baik besok aja" pikirnya.
***
Ketika di kantor, Desi memberanikan untuk memanggil nomor yang tadi malam ia simpan itu. Desi agak gugup memegang hp-nya "Jangan-jangan nomor ini tidak aktif lagi" pikirnya. Tut...tut...tut...Setelah tiga kali berdering, panggilan itu akhirnya diangkat juga oleh seorang gadis.
"Halo, mat pagi. Apa betul ini dengan Nita" tanya Desi

"Iya, betul. Ini dengan siapa ya?" balas Nita
"Apa kamu masih kenal dengan Didi?" tanya Desi lagi
"Iya. Kenapa ya?" tanya Nita
"Namaku Desi. Aku adalah kakaknya Didi" jawab Desi
"Kak, bagaimana kabar Didi sekarang?" tanya Nita
"Dia baik-baik aja. Hanya selama tinggal di Jakarta, dia masih manjadi misteri bagiku" jawab Desi

"Emangnya kenapa dengan Didi, Kak?" tanya Nita dengan nada penasaran
"Begini ceritanya..." Desi menceritakan semua yang telah terjadi dengan Didi selama ini. Semua yang telah ia lakukan untuk mancarikan seorang pacar bagi Didi. Tapi hati Didi tetap tertutup bagi gadis lain. Desi juga menceritakan tentang kejadian malam itu, ketika dia menemukan nama 'Nita' di dalam diary Didi dan di hp-nya.
"Nit, apa betul kalian dulu pacaran?" tanya Desi

"Iya, Kak. Tapi semenjak lulus kuliah Didi hilang begitu saja. Yang kudengar dari teman-temannya kalau Didi berangkat ke Jakarta. Aku pun dah beberapa kali memanggil nomornya yang lama, tapi tidak aktif lagi" jelas Nita
"Kak, Didi masih baik-baik aja khan?" lanjut Nita
"Iya. Tapi persoalannya seperti yang aku telah ceritakan tadi bahwa dia masih menutup hatinya bagi gadis-gadis lain. Nit, apa kamu mau ketemu ma Didi ya?" tanya Desi
"Iya, Kak. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana" jawab Nita
"Okey. Begini saja...kalau kamu ada waktu, kamu bisa ke Jakarta. Bagaimana?" tanya Desi
"Kak, bagaimana kalau dua minggu lagi karena ketika itu akan ada liburan anak sekolah karena sekarang aku masih ngajar nih" jawab Nita
"Aku setuju. Dua minggu lagi kamu akan ke Jakarta. Kalau mengenai biaya transportmu, nanti aku kirim dari Jakarta" pinta Desi
"Tidak usah kak" balas Nita
"Nit, tiket pesawat di musim liburan itu mahal. Jadi biar aku bantu biayamu sedikit. Kalau mengenai biaya kepulanganmu, nanti kita bisa atur di Jakarta" pinta Desi sekali lagi
"Baik Kak. Aku setuju. Nanti aku akan hubungi kakak kalo dah ada kepastian mengenai tanggal keberangkatanku" jelas Nita
"Okey. Nanti aku akan jemput kamu di Bandara. Sampai jumpa dua minggu lagi ya"
Akhirnya Desi menutup panggilan itu. Ia merasa bahagia karena ia telah berhasil mengundang Nita ke Jakarta. "Tidak lama lagi adikku akan ketemu dengan gadis masa lalunya. Aku tidak akan memberitahu Didi tentang kedatangan Nita. Aku ingin buat kejutan untuk dia" pikir Desi.
***
Dua minggu telah berlalu, Desi telah mendapat kepastian mengenai tanggal keberangkatan Nita ke Jakarta. Sabtu siang Nita akan tiba di Jakarta dengan pesawat Merpati dan Nita akan mengenai pakaian berwarna pink, warna kesukaannya.
Pukul 14.45 WIB pesawat telah tiba di Bandara. Desi membawa selembar kertas kardus yang tertulis nama "NITA" agar ia tidak keliru menemukan Nita walaupun ia masih ingat ciri-ciri yang diberitahu Nita sebelum berangkat ke Jakarta.
"Nita!" teriak Desi ketika ia melihat seorang gadis yang sesuai dengan ciri-ciri Nita melewati anjungan penjemputan. Nita mengarahkan pandangannya ke arah orang yang memanggilnya. "Tak salah lagi. Itu pasti kak Desi" pikirnya sambil melihat namanya tertera di kertas kardus yang dipegang Desi.
"Desi" sambil menjabat tangan Nita
"Nita" balas jabatan tangan Nita
"Bagaimana perjalanan tadi?" tanya Desi untuk membuka percakapan di antara mereka.
"Ya, lumayan lama Kak" jawab Nita
"Gimana. Kita langsung berangkat aja ya?" tanya Desi
"Oh. Baik Kak" jawab Nita

Desi pun segera memanggil taksi yang banyak mangkal di lapangan parkir bandara itu. Sepanjang perjalanan, Desi masih kagum dengan kecantikan Nita. "Ia pasti memiliki kepribadian yang baik. Tidak salah kalau Didi mencintainya", pikir Desi. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam tanpa ada yang mulai percakapan sampai akhirnya Desi berkata:
"Nit, nanti kita singgah di suatu tempat ya karena biasanya hari Sabtu gini Didi masih di tempat itu"
"Iya, Kak" jawab Nita
Nita bingung setelah tahu bahwa mereka singgah di satu lapangan mini di tengah kota. "Apa Didi menjadi pemain bola kaki sekarang?" pikir Nita
"Nit, hari Sabtu sore gini biasanya, sehabis pulang dari kantor, Didi bermain bola kaki bersama teman-temannya di lapangan ini" jelas Desi
"Lihat tuh yang sedang ngocek bola" sambil menunjuk ke arah Didi.
"Itu Didi" lanjutnya
"Didi!" teriak Desi dari kejauhan

"Iya, Kak!. Ntar lagi!" balas teriak dari Didi sambil melihat kakaknya itu tapi belum begitu jelas melihat Nita yang berada di samping Desi. Nita merasa gugup keika dilihat Didi. Tapi sepertinya Didi tidak mengenal dirinya
"Nit, mari kita tunggu Didi di mobilnya aja" tawar Desi
"Dia pasti belum begitu jelas melihat kamu" lanjut Desi

Nita masih saja gugup mau ketemu dengan Didi. Sudah lebih dari empat tahun mereka tidak ketemu dan tanpa kontak sama sekali. Masih ada perasaan cinta di hatinya dan ia pun berharap Didi masih menyimpan perasaan cinta yang pernah mereka bina semasa kuliah dulu. Setelah tiba di tempat parkir mobil Didi, Desi banyak bercerita tentang kebiasaan Didi yang membawa pakaian olahraga dan sepatu olahraga ke kantor setiap hari Sabtu supaya sehabis kerja Didi bisa langsung ganti pakaian kantor dan segera bermain bola kaki, olah raga kegemarannya.
"Nit, lihat pakaiannya yang terbuang aja di dalam mobil tuh" sambil menunjuk ke dalam mobil

"Iya Kak. Didi memang begitu. Ia kurang bisa merapikan pakaian di kamarnya juga. Tapi kalau berpakaian, Didi adalah orang yang paling rapi di dunia" sambil tertawa. Mereka berdua sama-sama tertawa
Tidak lama lagi Didi akan segera tiba di tempat parkir mobil, Desi pun meminta Nita supaya bersembunyi di belakang mobil. Ia ingin membuat kejutan untuk adiknya.
"Mat Sore Kak. Sorry ya kalo kakak nunggu lama" sapa Didi
"Mat sore juga Di. Nggak apa-apa kok" balas Desi
"Ada apa Kak. Tumben jemput aku di tempat ini. Jangan-jangan, tidak dijemput calon abang ipar nih"tanya Didi sambil tertawa
"Ledek kamu Di" balas Desi
"Kak, sepertinya tadi aku lihat kakak nggak sendirian ke tempat ini" tanya Didi
"Iya Di. Aku tadi dengan seorang cewek" jawab Desi dengan cara masa bodoh
"Ah...jangan-jangan cewek itu mo dikenalkan lagi ma aku lagi ya" tanya Didi
"Iya, Di. Kalau melihat cewek ini, pasti kamu mau deh" jawab Nita
"Hahaha" Didi tertawa "Bisa jadi" lanjut Didi sambil tetap tertawa
Sementara itu di belakang mobil, Nita masih diam dan gugup dengan pertemuan yang akan terjadi.
"Nita" panggil Desi

Ketika mendengar nama itu sepertinya Didi kembali ke masa lalunya. Nama itu sudah lama ia rindukan untuk hadir di hadapannya.

Dari belakang mobil, Nita muncul sambil tertunduk. Didi melihat gadis masa lalunya kini melangkah menuju dirinya. Dengan segera Didi bergerak cepat dan merangkul Nita. Sepasang kekasih itu berpelukan erat sekali seolah-olah mereka tak ingin berpisah lagi. Kedua insan itu hanya bisa menangis sebagai ungkapan bahagia mereka. Desi pun ikut menangis melihat pemandangan itu. Ia merasa bahagia karena ia telah berhasil mempertemukan adiknya dengan gadis masa lalunya.

"Di, kenapa kamu hilang tiba-tiba?"tanya Nita sambil tetap menangis
"Nit, aku harus lakukan itu karena aku memiliki tanggung jawab terhadap adik bungsuku. Aku tidak mau kamu ikut ambil bagian dalam tanggung jawabku itu" jelas Didi
"Lalu, kenapa kamu masih menutup hatimu bagi gadis-gadis lain?" tanya Nita lagi
"Nit, pintu hatiku ini hanya bisa dibuka oleh seorang saja dan hanya orang itu saja yang bisa memasuki hatiku itu. Orang itu adalah kamu" sambil melihat ke wajah Nita. Mereka berpelukan lagi.
"Kak, makasih ya atas kejutannya. Kita harus merayakan pertemuan ini" ungkap Didi kepada kakaknya
"Nggak apa-apa, kok. Kakak bahagia melihat kalian berdua" balas Desi
"Di, bukan 'kita' yang merayakannya tetapi 'kalian'" lanjut Desi

Sehabis merangkul kakaknya, Didi mengundang Desi dan Nita untuk masuk ke dalam mobil. Akhirnya mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan Didi segera mengemudikan mobilnya menuju rumah mereka melintasi gedung-gedung pencakar langit kota Jakarta. Mereka bertiga bahagia, terutama Desi karena ia telah berhasil mempertemukan adiknya dengan gadis masa lalunya, gadis yang selama ini memegang kunci pintu hati adiknya itu.(*)

Pos Kupang Edisi Minggu 22 Juni 2008, halaman 6

Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda