58 Tahun SMPK Giovanni Kupang


Foto Pos Kupang/Apolonia Dhiu
SMPK GIOVANNI--Suasana SMPK Giovanni Kupang saat ini.
Gambar diambil Jumat (1/8/2008)


Unggul Dalam Prestasi Satu Dalam Karya

'UNGGUL dalam prestasi satu dalam karya berdasarkan iman dan budaya bangsa'. Itulah sepenggal visi dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) Katolik Giovanni Kupang yang hari ini merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-58. Usia 58 tahun memang tidak mudah lagi, karena sudah melewati masa keemasan.

Namun, mengapa pihak sekolah baru merayakanya yang pertama kali. Apakah pihak sekolah atau alumni dari sekolah ini lupa akan sejarah pendirian sekolah ini. Tentu saja mereka pasti mempunyai alasan yang kuat kenapa tidak dirayakan pada usia perak 25 tahun dan usia emas 50 tahun.

Tapi, apapun alasannya, Jumat (1/8/2008) SMPK Giovanni Kupang merayakan HUT ke-58. Patut diacungkan jempol karena sejak berdirinya sekolah ini sudah memberikan andil besar bagi perkembangan dan pertumbuhan pendidikan di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT).


Para alumni sekolah ini sudah menyebar di masyarakat, mereka sudah ada yang menjadi pengusaha sukses di Kota Kupang dan NTT pada umumnya, pejabat dil ingkungan birokrasi di kantor gubernur dan di berbagai instansi lainnya. Bahkan ada yang pernah menjabat sebagai Gubernur NTT. Sebut saja, mantan Gubernur NTT, dr. Hendrikus Fernandez, Herman Musakabe, Ketua DPRD Kabupaten Kupang, Tabais Kefan, Tius Natun, Jos Mamulak, Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Daniel Banunaek, pimpinan Trigana Air, Alein, dan ribuan alumni lainnya.

Sejak berdiri tanggal 1 Agustus 1950, sekolah ini sudah meluluskan 7.114 orang yang saat ini duduk di instansi pemerintah dan swasta di daerah dan nasional, bahkan di luar negeri.

Sepeti HUT sekolah lainnya, tentu diwarnai dengan berbagai hingar bingar musik dan kemeriahan lainnya. Namun berbeda dengan SMPK Giovanni Kupang. Walau tercatat baru pertama kali merayakan HUT, kepala sekolah dan semua elemen di sekolah ini sepakat hanya melakukannya secara sederhana. Mereka hanya akan melakukan apel pagi dilanjutkan dengan sepatah kata dari kepala sekolah dan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan belajar mengajar (KBM) seperti biasa. HUT ini pun hanya diikuti oleh guru-guru, siswa, orang tua/wali murid, para alumni.

Sebelumnya mereka menggelar jalan santai bersama guru, siswa, orang tua yang dimulai dari depan rumah jabatan Gubernur NTT, Jalan El Tari 1 Kupang, Jalan Soeharto, Jalan Sudirman, Jalan Muhamad Hatta, Jalan Tompelo, Jalan Urip Sumohardjo, Jalan A Yani dan berakhir di halaman sekolah tersebut.
Kepala Sekolah SMPK Giovanni Kupang, Drs. Urbanus Boli Duhan, kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Kamis (31/7/2008), mengatakan, pemberian nama SMPK Giovanni baru tahun 2005. Karena sekolah ini dikelolah langsung oleh Yayasan Swastisari (Yaswari) Kupang. Sebelumnya, pada awal berdirinya, sekolah ini diberi nama SMPK Frater Kupang.

Nama ini, kata Urbanus, pertama kali diberikan oleh Kongregasi Bunda Hati Kudus (BHK) sama seperti SMPK Frater Ndao-Ende dengan kepala sekolah pertama pada waktu itu, Fr. Alberitus, BHK, (1950-1960).
Pembangunan pertama dimulai dengan bangunan berdinding bebak dengan tiga ruang kelas. Namun setelah berkembang, oleh para frater BHK, sekolah ini kemudian perlahan-lahan dibangun tembok dengan sepuluh ruang kelas sampai saat ini. Kini, sudah 10 kepala sekolah yang dipercayakan untuk memimpin sekolah ini. Kepala sekolah kedua, Fr. M Achiles Seoradji, BHK, (1960-1969), Petrus Kia Hipir (1969-1978), Sr. Maria Dolorosa, S.Sp.S, (1978-1987), Sr. Dra. MD Lusi Mulyani, CB, (1987-1988), Fr. Yasintus, BHK, (1988-1989), Drs. Petrus Lobo (1990-1992), PS Korebima (1989-1990 dan (1992-1999), Yoseph Lewar (1999-2005) dan Drs. Urbanus Boli Duhan (2005-sekarang).

Menurut Urbanus, HUT ini perlu dilakukan untuk mengingatkan kembali para pendahulu, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup akan upaya dan karya mereka membesarkan sekolah ini. HUT SMPK Giovanni, katanya, akan berlangsung terus setiap tahun, dan saat ini sudah ada Ikatan Alumni SMPK Giovanni yang diharapkan semua alumni bisa bergabung dalam ikatan ini untuk senantiasa membangun dan mengembangkan sekolah ini.

SMPK Giovanni adalah sekolah swasta yang sangat membutuhkan dukungan dana dari orang tua dan alumni, karena hanya itulah satu-satunya sumber dana yang diperoleh. Para alumni saat ini juga sedang mempersiapkan HUT ke-60 yang akan dibuat secara besar-besaran dan melibatkan semua alumni.

"Saat ini kami sedang melisting semua alumni per tahun
akademik, sehingga lebih mudah untuk koordinasi," katanya.
Ia menjelaskan, usia 58 tahun dan terus bergantinya kepala sekolah, maka ke depan perlu dipikirkan apa yang dibuat untuk meningkatkan mutu pendidikan di NTT.

Dengan misi yang diemban oleh SMPK Giovanni Kupang, bahwa bukan saja menciptakan generasi muda yang pintar tetapi harus diimbangi dengan budi pekerti dan sopan santun. Karena perkembangan globalisasi saat ini sangat berpengaruh terhadap
pengaruh-pengaruh negatif terhadap generasi muda.

Selain, para siswa diperhatikan dan dibina dalam bingkai iman, para guru juga selalu dibekali dengan pelatihan dan workshop interenal sekolah yang mendatangkan nara sumber dari luar. Hal ini dilakukan agar guru juga perlu terus dimotivasi untuk mencapai profesionalitas dalam mengajar. Dengan demikian, apa yang dicita-citakan, yakni menghasilkan out put yang bermutu dapat terwujud.

Menurut Duhan, setiap tahun perkembangan siswa di sekolah ini terus mengalami peningkatan yang signifikan sehingga sekolah terus berupaya menekankan pada mutu. "Anak-anak yang mendaftar di SMPK Giovanni kami tes ulang dan disaring. Bukannya kami tidak percaya dengan NEM, tetapi kami ingin anak-anak yang benar-benar berkualitas," kata Urbanus. (apolonia matilde dhiu)

Pos Kupang Minggu 3 Agustus 2008, halaman 11

Lanjut...

Ryan Jombang

APA hubungan Ryan Jombang dengan calon bupati? Demikian pertanyaan yang akan diajukan Nona Mia kepada para calon bupati yang bernama Rara, Jaki dan Benza.

Ketiga sahabat karib ini, tampak karib di depan umum, karib dalam ramah tamah keluarga, karib dalam saling bertegur sapa, karib di hadapan politikus maupun yang baru belajar ikut-ikutan jadi politikus. Pokoknya di hadapan publik, jangan ditanya lagi bagaimana tingkah laku yang diupayakan sedemikian rupa biar tampak pantas. Apalagi yang namanya Rara.

Jangan ditanya juga kalau lagi di belakang layar.Yang namanya sikut sana sini, omong nama jelek Jaki dan Benza, atur strategi untuk menjatuhkan sahabat sendiri, pokoknya jangan ditanya deh! Lihat saja kata-kata Rara berikut ini.


"Saya ingin jadi bupati karena mau rombak ini kabupaten biar jadi lebih baik dari bupati sebelumnya," demikian Rara. "Pokoknya yang pertama-tama yang pasti saya lakukan adalah tangkap para koruptor sekalian dengan mantan bupatinya dan jebloskan ke dalam hotel prodeo! Pokoknya yang namanya Jaki dan Benza saya tangkap lebih dulu! Dua itu pejabat korup tetapi mau-maunya calonkan diri jadi bupati. Lupa bercermin barangkali ya," Rara kian menjadi-jadi.
***
Lucu benar si Rara ini. Programnya tanggap koruptor, memusuhi mantan bupati, pada hal dirinya sendiri diam-diam lempar batu sembunyi tangan. Lucunya lagi, mau-maunya jadi pejabat, ya semacam tangan kiri kanannya bupati. Lucunya lagi, jadi tukang kritik nomor satu. Semua orang, terutama Jaki dan Benza jelek di matanya. Hebatnya lagi si Rara ini punya dua tiga orang pendukung dalam setiap upayanya menjatuhkan Jaki dan Benza. Bagi Rara Cs berlaku benar ilmu selumbar di mata orang jelas terlihat tetapi balok di matanya sendiri tiada dilihat.

"Benar! Yang namanya Jaki dan Benza itu bodohnya setengah mati. Tidak pantas jadi bupati. Orangnya gampang diatur, hobinya KKN dan satu lagi, kedua calon bupati ini termasuk orang dekatnya gedung putih! Jadi, jangan pilih keduanya ya!" Rara tetap dengan jurus manipulasinya. Nona Mia yang mendengar semua celotehan Rara terpaksa pasang muka masam.

"Kenapa mukamu masam Nona Mia yang cantik?" Tanya Rara dengan mimik rayuan gombal. "Bukankah kamu mau menjadi tokoh perempuan utama dalam kampanye nanti? Soal bayarannya beres deh, kalau saya sudah jadi bupati!" Janji Rara.
***
"Tiap malam kamu nonton Ryan si tukang jagal di Jombang ya? Sudah menghabiskan 11 orang dan mungkin bertambah lagi daftar orang yang jadi korban?" Tanya Nona Mia dengan serius.
"Jelas dong! Saya kan paling rajin nonton tivi! Sebagai cabup bukankah saya harus mengikuti semua informasi?" Sambung Rara cepat. "Memangnya apa hubungan antara Ryan Jombang dengan saya sebagai calon bupati?" Rara penasaran bukan main.
"Kamu mirip Ryan. Manis di wajah tetapi hatimu penuh sembilu. Baik dengan Jaki dan Benza saudara dan sahabatmu sendiri hanya di bibir tetapi di kepalamu, di hatimu, benar-benar Ryan Jombang!" Nona Mia berkata dengan tenangnya.

"Aduh! Nona Mia..., begitukah tega-teganya kamu menilai saya?" Rara terbelalak. "Justru yang mirip Ryan Jombang itu Jaki dan Benza. Kalau salah satu dari keduanya sampai jadi bupati, pasti hancur dunia ini! Semua kita, termasuk Nona Mia dan Rara, akan diselesaikan!" Rara benar-benar gugup menatap wajah Nona Mia.
***
"Halo Jaki dan Benza temanku yang baik hati. Apa khabar?" Rara langsung putar seratus delapan puluh derajat begitu melihat Jaki dan Benza muncul di depan pintu. "Bagaimana khabar calon bupati kita yang baik hati ini? Wah, sepertinya saya sulit bersaing di lapangan. Karena di lapangan nama kalian berdua di atas angin. Kalau tidak Jaki pasti Benza yang jadi bupati. Jamin! Saya pun siap kalah, sebab saya tahu kapasitas dan kapabilitas kalian berdua," Begitulah Rara berubah rupa dalam sekejab.

"Kabupaten kita ini pasti sejahtera lahir batin kalau dipimpin oleh salah satu dari kalian berdua!" Rara mengatupkan tangannya di dada.
"Halo Jaki, halo Benza," Nona Mia menjabat erat-erat tangan Jaki dan Benza bergantian. "Coba perhatikan baik-baik wajahnya Rara. Mirip siapa yang lagi buat geger tanah air tercinta!"

"Oooooh kamu mirip Ryan Jombang!" Jaki dan Benza bicara hampir bersamaan. "Wajahmu saja yang mirip. Tetapi pikiran dan hatimu, entahlah!" Sambung Benza karena terkejut melihat Rara terkejut.

"Ryan Jombang! Bukankah penglihatan saya cukup cermat? Hai calon bupati bernama Rara?" Kata Nona Mia yang senyumnya memang manis. (maria matildis banda)


Pos Kupang Minggu 3 Agustus 2008, halaman 1

Lanjut...

Gunawan Satya Dharma


Foto Pos Kupang/Alfred Dama
Gunawan Satya Dharma

10 Ton Setiap Bulan

SUDAH empat tahun tujuh bulan atau 55 bulan Makanan Dari Tuhan (MDT) Ministry, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM), menjalankan misi sosial membantu orang tidak mampu di beberapa wilayah di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Bantuan yang diberikan adalah membagi-bagikan dua kg beras ditambah satu bungkus mie instan bagi kalangan tidak mampu tersebut.

Setiap bulan dalam 55 bulan sejak tahun 2004 lembaga ini memberikan bantuan kepada 5.000 orang. Bantuan ini akan terus berlanjut hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Sosok di balik MDT Ministry ini adalah Gunawan Satya Dharma.

Pria berdarah Tionghoa, kelahiran Surabaya dan kini menetap di Perth-Australia ini setiap akhir bulan datang ke Kota Kupang dan Kabupaten Kupang untuk menyerahkan bantuan 10 ribu ton beras dan lima ribu bungkus mie instan kepada masyarakat yang membutuhkan. Pria yang sudah memilih menjadi seorang pendeta ini bukan cuma memberikan makanan jasmani, tetapi juga menggelar Kebaktian Kebangkitan Rohani (KKR) di beberapa tempat.


Siapa sosok pria ini? Pos Kupang berkesempatan berbincang-bincang dengan Pdt. Gunawan di Sekertariat MDT Ministry di Kelurahan Oesapa Barat belum lama ini. Berikut petikannya.

MDT Ministry selalu memberikan bantuan untuk masyarakat yang tidak mampu. Anda adalah sumber dana lembaga ini. Bisa Anda jelaskan maksud Anda?
Makanan Dari Tuhan Ministry ini didirikan pada tanggal 22 Januari 2004, dengan visi yang saya yakin Tuhan berikan melalui saya, yaitu menjadikan Kota Kupang dan sekitarnya sebagai kota teladan, di mana kota ini bebas dari kelaparan, bebas dari kriminal. Jadi, kita sama-sama tahu kriminalitas itu meningkat karena terjadi kekurangan makan. Oleh karena itu misinya adalah memberi makanan jasmani maupun rohani kepada mereka yang membutuhkan, orang-orang yang miskin yang disalurkan melalui gereja-gereja, melalui hamba-hamba Tuhan seperti pendeta-pendera, para pastor dan yang sudah Tuhan pilih. Mereka menyalurkan ke orang-orang yang membutuhkan makanan jasmani dan rohani.

Dan, setelah selama lima tahun ini, tepatnya empat tahun 7 bulan, setiap bulannya kita menyediakan 5.000 paket berupa beras 2 kg bersama satu bungkus mie instan dan kita salurkan lewat 94 gereja yang terbagi dalam 17 wilayah. Dan, gereja-gereja ini adalah berdenominasi yang berlainan, ada 17 denominasi gereja yang bersatu dalam pelayanan ini. Jadi satu kerja yang sangat indah di mana kita tidak saling memandang dari denominasi apa, tapi kita semua bergandengan tangan bekerja buat Tuhan, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah untuk melayani orang-orang yang ada di Kota Kupang dan beberapa wilayah di Kabupaten Kupang. Dan, kami yakin karena di setiap gereja itu tidak hanya ada pendetanya satu, ada dua pendeta dan majelis maka diperkirakan dari 94 gereja itu ada sekitar 200 orang hamba Tuhan yang bekerja sama dalam pelayanan MDT Minsitry ini. Jadi, Tuhan menjadikan MDT ini suatu pekerjaan yang indah, bukan hanya membagi makanan pada orang miskin, tapi juga mempersatukan hubungan antara gereja dan gereja, hubungan antara denominasi dan denominasi.

Mengapa Anda memilih Kupang?
Itu yang saya sendiri yang saya sulit menjawab. Pada tahun 2003 bulan Desember, saya diundang untuk menjadi pembicara dari suatu KKR. Waktu itu yang minta saya datang adalah Pendeta Kurniawan. Jadi saya datang untuk pertama kali saat itu dan pada saat diminta membawakan firman, saya membawa firman dan saya membawakan kotbah tentang Tuhan Yesus memberi makan 5.000 orang. Saya yakin, siapa yang memberikan dan menolong orang yang lemah, yang miskin, yang kurang makan, Tuhan juga akan membalas dengan berlimpah-limpah dengan perbuatannya. Itulah dimulainya MDT Ministry ini.

Sejak kapan Anda mulai melakukan pelayanan?
Tahun 2002 dari koordinator di sebuah gereja di Pert, Australia diminta untuk diangkat menjadi pendeta, tapi saya tidak datang ke Kupang dengan bendera dari gereja, tapi datang di sini sebagai pengusaha dalam Tuhan. Itu kalau disingkat pdt juga, saya yakin kalau itu tidak dikendaki oleh Tuhan dan kalau saya datang membawa dengan membawa bendera dari full gospel bisnisman fund internasional dengan semangat full gospel bisnismen internasional dengan interdenominasi, saya sendiri menjabat sebagai region director untuk Australia. Makanya pelayanan saya bisa interdenominasi. Saya punya back ground selain sebagai pengusaha saya juga mengimani apa yang diyakini oleh organisasi gospel bisniman internasional.

Mengenai memberi makan 5.000 orang, tiap bulan Anda harus menyediakan beras 10 ton. Dari mana beras itu?
Saya yakin bagi saya Tuhan sudah memberkati saya terlebih dahulu sehingga saya bisa menyalurkan bekat dari Tuhan itu, ya melalui usaha-usaha tentunya dan saya yakin perlu kita imani bahwa kita melayani Tuhan karena kita sudah diberikati. Itu yang perlu saya tegaskan pada semua hamba Tuhan dan pekerja-pekerja Allah, supaya jangan ada pemikiran bahwa melayani Tuhan supaya diberkati, tetapi kita melayani Tuhan karena kita sudah diberikati. Dengan demikian pelayanan kita menjadi pelayanan yang murni, tidak bisnis didalam melayani Tuhan.

Sampai kapan anda melakukan pekerjaan ini?
Sampai Tuhan Yesus datang kembali, jadi ini adalah janji iman dan saya yakin itu bukan kehendak saya, saya yakin itu akan berlangsung sampai dengan Tuhan Yesus datang kembali di Bumi. 10 ton ini tidak akan habis, kalau Tuhan yang mensuplay. Itulah bedanya dunia rohani dan dunia jasmani.

Kalau boleh tahu, Anda di bisnis bergerak dalam bidang apa?
Selalu Tuhan membuat apa namanya bisnis yang saya tidak rencanakan, banyak bisnis yang sampai saat ini saya kerjakan sejak tahun 1979 adalah bisnis dalam bidang bahan peledak untuk pertambangan. Bukan bahan peledak untuk militer, tapi bahan peledak komersil untuk pertambangan untuk menambang batubara, emas, untuk sesmik untuk pertambangan minyak dan itu masih berjalan sampai sekarang.

Anda sudah aktif di pelayanan. Bisnis itu siapa yang dijalankan?
Tentunya Tuhan sudah kirim orang-orang yang bantu saya, teman satu kelas dulu di SMP dan SMA juga anak-anak mantu saya yang sudah terjun membantu dalam bisnis ini termasuk anak-anak rohani. Jadi saya pernah diminta kotbah bagaimana Anda membagi waktu untuk bisnis, harta dan pelayanan supaya lebih maksimal dan efektif. Setelah saya renungkan dan jawabannya hanya satu, Markus 10:28-30. Di sana dikatakan Petrus datang kepada Tuhan Yesus dan katakan saya sudah meninggalkan semuanya untuk mengikuti Engkau. Dalam arti kata, siapa yang mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, keuangan dan perasaan untuk melayani Tuhan. Dan, karena injil kita di sini juga kita mengabarkan Injil maka Tuhan juga memberkati kita sewaktu kita hidup, tapi tidak sampai sana saja janji Tuhan. Jadi kalau kita menghabiskan waktu untuk melayani Tuhan, penginjilan dan mengasisi sesama manusia walaupun kita meninggalkan usaha kita, Tuhan akan memberkati kita belimpah-limpah, 100 kali lipat. Apa pun yang saya kerjakan baik saya supir, bisnis itu untuk Tuhan.

Dalam berbisnis, apakah ada godaan untuk memanfaatkan kekayaan Anda?
Banyak.... dan itu terjadi di mana pun kita berada karena pada waktu kita mau melayani Tuhan pasti iblis tidak senang dengan kita dan memasang macam-macam perangkat dan godaan-godaan agar kita kembali ke kehidupan duniawi lagi untuk memuaskan hawa nafsu kita. Tetapi kita selalu ingat, kita sebagai hamba Tuhan justru harus sebagai teladan bagi banyak orang. Jadi dengan kekuatan dari Roh Kudus, saya tidak mungkin ke night club, ke disko atau ke tempat yang mesum, tempat-tempat gelap atau kasino. Saya tidak menghindar itu karena itu akan menjadi batu sandungan buat orang-orang yang melihat kita berkeluyuran di tempat itu.

Ada tidak perkataan sinis dari orang lain atau sesama pebisnis?
Mereka tidak sampai mengatakan begitu. Cuma mereka mengatakan, Gunawan bisa melakukan itu karena dia sudah kaya. Itu salah. Karena dahulu saya tidak memiliki apa-apa. Saya cuma punya sepeda, setelah tamat SMP saya dikasih sebuah skuter. Setelah orangtua saya tahu saya pacaran lalu orangtua saya bilang kamu sudah dewasa, maka kamu cari uang sendiri tanpa memberikan modal apa pun. Pada waktu itu saya merasa bapak saya ini kurang fair, tapi saat ini saya berterima kasih karena kalau saya tidak dilepaskan begitu maka saya tidak akan berdiri sendiri, mengandalkan diri sendiri pada waktu itu saya sudah Terima Yesus sebagai juru selamat dan saya tahu ada Bapak saya di Surga yang maha kaya dan maha kuasa yang akan mencukupi segala kebutuhan kita. Lalu karena itu saya tahu pasti, bukan karena kepintaran saya, bukan karena kekuatran saya, tapi karena kasih karunia Tuhan sehingga saya menyalurkan berkat. Ada satu hal yang menjadi nasehat, jangan memberikan bantuan pada perseorangan karena itu akan menimbulkan ekses-ekses yang mengecewakan dirinya sendiri. Karena kalau kita membantu orang-orang perorangan lalu kita mengharapkan ada imbalan maka kita akan kecewa, tapi kalau kita membantu, maka bantulah pada sekelompok orang termasuk untuk yatim piatu, janda-janda dan bukan satu janda tentunya atau duda-duda supaya jangan ada ekses yang tidak baik. Dan, pelayanan MDT ini juga kita melayani anak-anak yatim piatu yang ada di SoE yang bernama Ume Lais Manekan yang dipimpin oleh Pak Kristian.

Bagaimna kehidupan warga yang Anda bantu?
Secara ekonomi banyak mereka masih hidup di bawah garis kemiskinan, artinya pendepatan mereka itu dibawa US $ 1 kalau ukuran dunia. Jadi mereka termasuk golongan yang miskin dan saya tahu, mereka perlu dibantu dan saya tahu juga bahwa Tuhan sangat mengasihi NTT karena saya tahu hamba Tuhan kaliber internasional dan nasional selalu datang ke Kupang untuk membuat KKR, kalau kita mau kita di lapangan Polda itu satu tahun berapa kali itu kegiatan KKR itu. Dan, dalam alam pikiran Rohani kenapa di suatu wialayah bisa terjadi kelaparan, kemisikinan salah satu sebab mungkin ada yang menyembah berhala. Dan, walau mereka menyandang orang kristen tapi masih ke dukun-dukun, masih pegang jimat-jimat. Artinya masih berkecimpung di dunia alkutisme. Salah satu yang paling santer adalah sunat sifon. Sifon itu adalah suatu perzinahan yang ditradisikan. Oleh karena itu saya tidak menuduh dan tidak menghakimi, Tuhan marah karena anak-anaknya sudah menerima Tuhan Yesus tapi masih menyembah berhala dan melakukan perzinahan dalam tradisi sifon ini.

Apa yang Anda harapkan tentang Kota Kupang?
Saya menginginkan Kota Kupang menjadi kota yang bersih dari semua jenis kejahatan atau tindak kriminal. Dan, biarkan penjara itu menjadi museum saja karena karena sudah tidak ada orang berbuat jahat. Ini bisa terjadi. Contohnya salah satu kota di Amerika Selatan sudah bisa mewujudkan itu. Sudah tidak ada lagi kejahatan karena semua orang hidup dalam iman.

Anda masih kelihatan sehat dan kuat, apa resep Anda?
Anda, lebih seperti anak muda. Memang satu hal yang menjadi saya sendiri juga aneh, saya tidak pernah membatasi makanan saya. Apa pun yang disajikan saya makan tapi saya dikasihis berkat kesehatan yang luar biasa. Saya dikasih berkat segala macam makanan tanpa saya harus kena kolesterol tinggim tekanan darah dan sebagainya. Saya saya yakin masih menempati janjinya seperti dalam kitab Mazmur. (alfred dama)



Hobi Main Golf

MENJADI seorang atheis pernah dijalani oleh Gunawan. Namun hidup dalam ketidakpastian itu membuatnya gelisah dan menjadi pelayan Tuhan telah membawa ayah empat anak dan kakek delapan cucu ini menemukan kebahagiaan. Kehidupan Gunawanpun dipenuhi dengan aksi pelayanan bukan saja mabarkan injil, tetapi juga membantu orang yang hidup dalam kesusahan.
"Saya merasa itu bimbingan dari Tuhan, saya semua dari orang yang atheis, kemudian pada umur 20 tahun saya mulai terpanggil pergi dan masuk ke gereja dan selama usaha saya mengimani betul doa bapak kami yang Tuhan Yesus ajarkan, saya terapkan dalam hidup saya dengan doa Bapak Kami. Doa itu menurut saya paling sederhana tapi paling sempurna karena dalam doa itu kita menyerahkan diri pada Tuhan Yesus, minta makanan yang secukupnya, minta diampuni dosa-dosa kita, minta dilindungi dan dijauhkan dari yang jahat dan yang penting dari doa itu adalah mengampuni orang yang bersala pada kita," jelasnya.
Di tengah-tengah kesibukannya sebagai pendeta dan pengusaha, Gunawan juga selalu menyisihkan waktu untuk olahraga golf, gemerannya. Hobi lainnya juga masih selalu dijalani. "Hobi, saya paling dalam seni olahraga suka main golf, sekali-sekali mancing dan anak rohani dan cucu," jelasnya.
Perhatian suami dari Yeti dan ayah dari Linda, Yudhi, Deni dan Kristin pada generasi muda juga cukup tinggi. Ia selalu berusaha menghadirkan generasi muda dalam setiap pelayanannya. Bahkan, anak muda dari Perth pun terkadang diajak ke Kupang untuk memberikan pelayanan rohani bagi warga Kota Kupang. (alf)

Pos Kupang Minggu, 3 Agustus 2008, halaman 3

Lanjut...

Anak-anak Beres, Baru ke Kantor


Foto ist
Ny.Chica Manafe bersama suami dan anak-anak

Laporan Alfred Dama/Wartawan Pos Kupang

TIDAK mudah menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga dan karyawan, apalagi bekerja pada perusahaan swasta. Membagi waktu agar tugas-tugas di kantor bisa dikerjakan dengan baik, namun anak-anak juga mendapatkan perhatian yang layak dari seorang ibu menjadi keinginan semua ibu rumah tangga yang juga memilih berkarier di luar rumah. Ini pula yang menjadi keinginan Ny.Chica Manafe.

Ibu muda yang menikah dengan Pieter Tobe, 14 Juni 2002 ini sudah dikarunai dua anak yang cantik-cantik, Anggita Tobe, berusia lima tahun dan Angelika Tobe, berusia satu tahun delapan bulan. Putri sulungnya kini duduk di bangku TK Nusa Cendana Internasional Plus School (NCIPS).

Usai anak-anak yang masih balita ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Chica dan suaminya. Apalagi, sang suami memiliki kesibukan pekerjaan. Meski demikian, keduanya selalu berusaha untuk tetap memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka.


Chica yang ditemui di kediamannya di Jalan Kenari-Kelurahan Naikoten I Kupang, Jumat (1/8/2008) sore mengatakan, sebagai seorang ibu, ia harus mengutamakan keperluan anak-anak di pagi hari. Putri sulungnya yang kini duduk di bangku TK tentu harus mendapat perhatian sejak bangun pagi, menyiapkan seragam sekolah, sarapan hingga anaknya berangkat ke sekolah.
"Setiap hari, saya harus menyiapkan anak mulai dari bangun hingga sarapan dan ke sekolah. Biasanya saya menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan anak saya ini, setelah anak-anak beres barulah saya bersiap diri berangkat ke kantor. Biasanya saya beranglat lewat jam 08.00 wita," jelas karyawan di PT Citra Bina Tenaga Mandiri Kupang ini.

Chica akan merasa lebih nyaman bila anak-anaknya sudah mendapat pelayanan yang baik darinya. Apalagi, jam kantornya mulai pagi hingga sore dan anaknya sulung hanya ingin diurus oleh ibunya. "Anak saya yang sulung ini paling manja dengan saya, dia tidak mau dengan orang lain, apalagi pembantu. Maunya hanya dengan saya," ujarnya.

Usia balita membuatnya juga harus berpikir untuk menitip anak dan pilihanya adalah pada neneknya. "Kalau anak kedua saya ini dititip ke omanya saja," jelas Chica.
Perhatian terhadap anak-anaknya tidak sebatas itu saja, saat di kantor pun ia selalu menyempatkan memberi perhatian pada dua anaknya tersebut. Biasanya, Chica menelepon pengasuh anak-anaknya hanya sekadar mengecek, apakah anak-anaknya sudah makan atau belum. Atau telepon sekadar ingin tahu kabar anak-anaknya. "Biasanya saya telepon dari kantor, kalau makan atau harus minum susu sudah ada jadwalnya. Saya biasanya tanya tentang makan atau minum," jelasnya. Mengecek anak- anaknya biasanya dilakukan terus hingga jelang pulang.

Naluri keibuan Chica ingin selalu melindungi agar anak-anaknya tetap sehat, sehingga pola makan dan upaya perlindungan lainnya dilakukan. Dan, bila anak-anaknya terserang penyakit, langka cepatpun dilakukan dengan memberikan obat agar cepat sembuah. Namun bila sakit berlanjut maka anak-anak langsung diantar ke dokter untuk menjalani pemeriksaan. "Kalau hanya sekedar sakit seperti batuk pilek, biasanya langsung diberi obat. Tentu kita tidak berharap lebih pada anak-anak," katanya.

Perkembangan anaknya di sekolah juga tidak lepas dari pengamatannya. Komunikasi dengan para guru selalu dilakukan untuk mengetahui tahap perkembangan, apalagi anaknya masuk di sekolah yang membiasakan anak-anak berbicara dalam bahasa Inggris. "Gurunya sering memberitahukan perkembangan anak saya, dan katanya anak saya sudah bisa melafalkan ejaan dalam bahasa Inggris. Anak ini juga suka mewarnai. itu perkembangan yang sering saya ikuti dari anak saya," jelas Chica.

Meski lebih sibuk mengurusi anak-anaknya, bukan berarti sang ayah luput dari tugas- tugas menangani anak. Biasanya sang ayah membantu menyiapkan susu buat anak- anaknya pada malam hari.
Membangun komunikasi antara ayah, ibu dan anak-anak sudah menjadi bagian dari kelarga ini. Biasanya, keluarga ini menghabiskan waktu luang dengan berjalan-jalan bersama ke tempat-tempat hiburan atau mall. "Sudah menjadi kebiasaan kami jalan sama- sama. Ini sudah kami jalani sehingga di antara kami sangat akrab," kata Chica. (*)


Pos Kupang Minggu 3 Agustus 2008, halaman 12


Lanjut...



Pos Kupang/Reddy Ngera

SAMPAH BASAH-
Sampah
dari bekas
tanaman
yang
ditebang ini
mestinya
bisa diolah
lagi
menjadi
pupuk atau
kompos, tapi sampah ini dibuang oleh petugas kebersihan ke TPA.


Laporan Alfred Dama/Wartawan Pos Kupang

SEORANG gadis berusia belasan tahun berjalan terbungkuk- bungkuk sambil kedua tangannya memegang ember yang penuh dengan sampah rumah tangga. Di dalam ember yang sudah kelihatan kotor tersebut terdapat berbagai bahan sisa yang merupakan limbah rumah tangga, mulai dari bekas kemasan plastik, botol-botol plastik bekas, tempat minyak goreng, sisa potongan sayur dan kulit buah-buahan, bahkan makanan sisa.


Sampah tersebut dibawa dan dibuang ke tempat pembuangan sampah yang tidak jauh dari kediamannya.
Di bagian lain dari tempat itu, seorang wanita yang membawa dua kantong penuh berisi sampah juga dibuang di tempat sampah (bak sampah). Kantong tersebut juga berisi berbagai macam jenis limbah mulai dari daun-daunan, sisa kemasan plastik bahkan terpal berbahan karet.


Semua benda tersebut dikumpul menjadi satu. Di tempat sampah yang berada di Jalan Manafe-Kelurahan Kayu Putih tersebut juga sudah menumpuk berbagai bekas atau sisa kebutuhan rumah tangga. Bahkan ada juga bekas ban mobil dan kain-kain yang sudah tidak dipakai lagi.

Deniaty yang ditemui saat membuang sampah tersebut mengatakan, kebiasaan membuang sampah tersebut dilakukan hampir setiap hari. Dan, bahan-bahan yang dibuang memang tidak dipisahkan. Alasannya, karena membuang sampah dengan cara demikian lebih cepat. Selain itu, ia juga tahu manfaat membuang sampah organik dan anorganik tersebut.

Kebiasaan masyarakat membuang sampah di Kota Kupang pada umumnya sama yakni tidak memisahkan sampah basah (organik) dari sampah kering (kering). Bagi masyarakat, menyingkirkan sampah apa pun jenisnya merupakan hal yang harus dilakukan tanpa kerja tambahan, memisahkan sampah basah atau kering.

Kebiasaan ini juga diakui oleh Kepala Dinas Kebersihan Kota Kupang, Adrianus Lusi, saat ditemui di Kantor Walikota Kupang, Jumat (1/8/2008).
Adrianus mengatakan, sejauh ini masyarakat belum tahu dan belum bisa membedakan antara sampah basah dan sampah kering. Sampah basah dan sampah kering ini sering dicampur dan dibuang secara bersama, padahal cara demikian tidak membantu dalam proses penguraian di tempat pembuangan akhir (TPA).

"Kami belum sampai pada tahap memberikan pengetahuan atau pengertian pada masyarakat tentang sampah kering dan sampah basah. Sebenarnya bukan masyarakat tidak sadar, tetapi belum tahu saja tentang sampah ini. Jadi, sampah yang dibuang itu masih dalam bentuk campuran," jelasnya.

Pemahaman masyarakat tentang manajemen pengelolaan sampah sepatutnya mulai dari rumah tangga. Ke depan Dinas Kebersihan Kota Kupang akan merekrut tenaga sukarela peduli lingkungan.

"Kami berencana untuk merekrut tenaga di tingkat kelurahan. Mereka akan menjadi pioner dalam menciptakan kebersihan di tingkat kelurahan. Tugas mereka juga adalah memberikan penyuluhan tentang pengolahan sampah ini," jelas Adrianus.
Bukan saja masyarakat yang belum tahu sampah basah dan sampah kering. Petugas dinas kebersihan pun pada umumnya belum tahu dua jenis sampah ini.

Menurut Adrianus, biasanya petugas sampah membawa sampah yang sudah dikumpulkan, baik sampah basah maupun sampah kering ke TPA. "Teman-teman kita hanya kumpul saja, mereka juga tidak mengerti. Mereka hanya menjalankan tugas membuang sampah," jelasnya.

Program Dinas Kebersihan dalam manajemen pengelolaan sampah ke depan adalah 3 R, yakni reduce atau mengurangi sampah, reuse memanfaatkan kembali sampah dan recycle atau mendaur ulang sampah.

Pelaksanaan 3 R ini tentu sangat dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat dalam membuang sampah, sehingga sampah yang masih bisa dimanfaatkan bisa dipisahkan dengan sampah yang harus dimusnakan atau dibuang. Pelaksaan 3 R ini memang sulit, namun bila ini dilaksanakan maka limba rumah tangga atau sampah bisa dimanfaatkan lagi untuk perekonomian keluarga.

Menurut Lusi, rata-rata sampah campuran kering dan basah yang dihasilkan warga Kota Kupang baik sampah rumah tanggah, sampah tempat usaha seperti tokoh dan sampah rumah makan sekitar 312 meter kubik perhari. Sampah-sampah itu diangkut oleh 26 unit truk sampah dengan melibatkan 140 orang tenaga petugas kebersihan ditambah 26 pengemudi truk sampah yang beroperasi di semua sudut Kota Kupang.

Rata-rata setiap truk sampah mengangkut 6 meter kubik sampah yang diangkut satu hingga tiga kali sehari atau rata-rata dua kali jalan. "Sampah ini mulai diangkut jam 05.00 Wita, pagi. Jadi, kita berharap masyarakat membuang sampah pada jam 17.00 Wita sampai jam 05.00 Wita. Saat siang, Kota Kupang sudah terlihat bersih," jelasnya.

Diakui, sebenarnya masyarakat ingin hidup dalam lingkungan yang bersih atau bebas sampah, tetapi lupa kalau orang lain juga membutuhkan hal yang sama. Tidaklah heran bila, tempat-tempat yang sudah bersih dari sampah, malah menjadi tempat pembuangan sampah. "Ada sampah yang sudah kita angkut, tetapi masyarakat masih mebuang sampah di tempat itu," jelasnya. (*)


Pos Kupang Minggu 3 Agustus 2008, Halaman 14

Lanjut...

Hidupku Tak Lama Lagi

Cerpen Jeane A.C. Wolagole
(Siswa SMPN I Waingapu)

NAMAKU Gerard. Kulitku berwarna coklat. Umurku 15 tahun. Aku bersekolah di SMP Harapan. Temanku tak banyak hanya beberapa saja yang mau berteman dengan aku yang cacat ini. Sejak umurku 5 tahun hidupku hanya bergantung pada ayah dan ibuku serta sebuah kursi roda yang selalu menemaniku. Kakiku sudah tak berfungsi lagi karena kecelakaan yang menimpaku saat didalam bus yang menjemput & mengantarku pulang saatku masih duduk di bangku TK.

Pagi itu, aku bangun dari mimpiku lalu segera kuturun dari ranjang kemudian kumandi dan bersiap kesekolah. Aku terbilang anak yang cukup cerdas dan tanpa bantuan orang tuaku aku sudah bisa menyiapkan diriku untuk ke sekolah, walaupun umurku baru lima tahun. Umur yang masih sangat kanak-kanak bagiku untuk bersiap ke sekolah sendiri, seperti mandi, memakai baju seragam seorang diri. Entahlah, tapi aku berfirasat tak enak saat itu, namun waktu itu aku tak mengerti apa-apa.

Seperti biasanya aku naik bus yang menjemputku setelah sarapan dan melambaikan tangan pada kedua orang tuaku, buspun bergerak meninggalkan rumahku. Tiba-tiba bus yang aku tumpangi menabrak trotoar. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Tak berapa lama kemudian saatku sadar ternyata aku berada dalam sebuah ruangan yang asing bagiku. Ku amati di sekelilingku namun nampaknya hanya aku saja yang di dalam ruangan itu. Saat akan ku gerakan badan namun sakit melanda sekujur tubuhku. Dengan rasa sakit ditubuhku, aku mencoba bangun dari tempat yang sudah dari tadi aku tempati.

Dalam hati aku berpikir untuk mencari sesuatu, namun ku tak menemukan apa-apa. Pikiranku mulai memikirkan apa yang terjadi pada diriku. Aku mulai ingat akan kejadian pagi tadi saat bus yang aku tumpangi menabrak trotoar dan aku tak ingat apa-apa lagi setelah sudah kejadian yang menimpa aku dan teman-temanku. Peristiwa itu begitu cepat dalam hitungan detik dan aku tak ingat lagi. Orang tuaku yang datang untuk menjemputku mulai menangisi keadaanku.

Kupikir tak ada yang perlu ditangisi oleh kedua orang tuaku. Ibuku yang langsung memelukku membuatku bertambah heran. Apa gerangan yang terjadi padaku? Kutanyakan pada ayahku apa yang terjadi dengan diriku. Dengan berat ia berkata bahwa aku lumpuh namun, hanya kakiku yang tak berfungsi lagi tapi tanganku masih bisa kugunakan.

Aku senang karena bila aku sudah berumur 10 tahun aku akan dioperasi dan aku bisa berjalan serta berlari kembali. Kuingat akan teman-temanku dan segera saja kutanyakan pada ayahku bagaimana keadaan mereka. Ia bilang kalau teman-temanku ada yang selamat namun tiga orang temanku meninggal dunia.

Setelah dua hari aku dirawat, aku dibolehkan pulang oleh dokter. Setelah itu aku mulai kembali bersekolah dengan sebuah kursi roda yang selalu menemaniku. Saat aku melihat teman-temanku yang lain bermain sambil berlari-lari, aku mulai merasa iri dengan mereka. Kupikir bahwa aku tak berguna lagi. Namun sempat terlintas dibenakku untuk bermain bersama teman-temanku bila aku sudah berumur 10 tahun dan akan menjalani operasi agar dapat berlari lagi seperti dahulu.

Umurku sudah 10 tahun dan sudah saatnya aku menjalani operasi. Didalam sebuah ruangan aku terbaring dan siap untuk menjalani operasi. Saat aku hendak dioperasi aku sangat takut dan ketakutan itu membuat aku pingsan lalu aku tak tahu lagi apa yang terjadi. Tanpa sadar aku sudah berada didalam ruangan tempatku dahulu dirawat. Ternyata operasinya gagal karena ada sebuah masalah yang mengakibatkan kakiku sudah tak berfungsi untuk selama-lamanya. Ternyata saat itu dokter salah menganalisa penyakitku. Aku seharusnya dioperasi saat aku berumur tujuh tahun. Penyesalan terpancar dari wajah orang tuaku. Kekecewaan tentu sangat mereka rasakan tetapi mereka mau menyalahkan siapa dan apa yang harus disesalkan? Apakah mereka akan menyesali nasibku?

Aku kembali bersekolah dan aku terus ditemani kursi rodaku. Kupikir hidupku tak lama lagi tetapi aku yakin Tuhan selalu ada untuk orang-orang yang nasibnya tak beruntung. Sebenarnya nasibku bukannya tak beruntung namun sangat beruntung karena hanya kakiku yang tak bisa kugunakan. Bagaimana jika semua organ tubuhku juga tak bisa? Aku bersyukur karena diberikan orang tua yang menyayangiku dan aku memiliki Tuhan yang selalu ada untukku serta selalu menjaga dan melindungi aku.

Sejak saat itu aku mulai bertekad untuk menjalani hidupku apa adanya. Aku ingin selalu berpikir positif dan selalu optimis dengan apa yang aku kerjakan. Aku ingin menjadi orang yang berguna walaupun tanpa sepasang kaki yang mengantarku kemana saja hati mengingini namun, sudah cukup bagiku sebuah kursi roda. Tak pernah kusesali nasibku yang sekarang kujalani, karena kutahu bahwa Tuhan tidak pernah memberi cobaan kepada hamba-Nya yang tak ada jalan keluarnya dan cobaan itu tak melebihi kekuatan hamba-Nya.

Mungkin ini bukan akhir dari hidupku tetapi aku mau seluruh makhluk di dunia ini dapat berguna dan menjadi sosok yang pantang menyerah. Walaupun cacat, tapi aku masih memiliki Tuhan yang selalu menopang diriku. Oleh karena itu, kita sebagai manusia seharusnya memiliki tekad agar menjadi makhluk Tuhan yang bermanfaat bagi bangsa, negara, dan agama. Bagi mereka yang senasib denganku hendaklah selalu optimis dan selalu bersemangat. Yang terjadi dengan diriku hendaknya menjadi pelajaran atau menjadi guru bagi kita agar lebih berhati-hati lagi dalam menjalani hidup ini. Aku selalu ingin mengatakan pada semua orang bahwa " Tuhan Itu Baik " . (*)

Pos Kupang Minggu, 3 Agustus 2008, halaman 6

Lanjut...

Puisi-puisi Dian Hartati

Di Atrium Braga CityWalk

Tiba-tiba saja langkahku sampai di tempat ini
Hati jadi denah dan mewujud di mataku
Hujan terus saja menderas basahi celana biru milikmu
untuk apa aku terburu?
Sedang percik air mendarat sempurna di pelipis

Kumasuki sebuah kota
Penuh dinamika keterasingan
Eskalator begitu lambat memapah tubuhku

Kota dalam kota
Pertama kali kudatangi seorang diri
Dirimu tentu saja mewujud dalam warna celana yang kupakai

Senyum ramah menyapa mengabarkan Natal yang Damai
Tampak langit-langit berhiaskan lampion
Sulur-sulur akar menjuntai
Menggapai semesta berlampukan matahari

Mataku di sambut cemara
Memaku kisah para kijang
Kotak-kotak bingkisan serta bintang di puncaknya

Entah di lantai berapa aku hentikan langkah
Kota ini menjelma dunia kurcaci
Istana dalam kungkungan apartemen
Uap sauna yang melimpah
Gemerlap kota metropolitan
Hanya saja ada yang hilang, ada yang kurang
Salju tak turun di Paris van Java

Kudengar dentang dari sebuah gereja
Setiap gugur cemara kuartikan sebagai sembab cuaca
Kucermati koor di ujung jalan ini
Serombongan kidung-kidung dinyanyikan
Adakah dirimu menyata saat ini
Sekadar mengenangkan natal tahun lalu

Hujan belum juga reda
Gerbang kota kutinggalkan
Memupuskan segala harapan
Bahwa kau tiada lagi bersamaku
SudutBumi, Desember 2006


Pos Kupang Minggu, 3 Agustus 2008, halaman 6


Lanjut...

Puisi-Puisi Dicker Senda

Di Jalan

Sore yang padat meleleh di sisi
Roti bakar bandung berselubung nanas. Manis kecut.
Sepotongnya mendarat terguncang di sela gigi-gigi berkawat
Sore yang padat melumatkan gula-gula nikmat lalu jadi darah!


Seorang anak tewas. Di trotoar pun
Motor-motor bisa menjadi garang
Kasihan anak malang itu.
Sore yang berlagukan kematian.
Selamat jalan!
Yogyakarta, Juli 2008


Kapan

Ke bibir kabut
Taburkan rekahan senyummu
Cukup lima menit, rasakan ia mampu menyengat
Julur-julur syarafmu. Tanpa ampun.
Ia melumat sampai ragamu biru-ungu.
Ah...
Itu dulu kawan, sekarang bukit-bukit
Nyaris botak permanen
Kau tahu kan ulah siapa?
Yogyakarta, Juli 2008

Pos Kupang, Minggu 3 Agustus 2008, halaman 6

Lanjut...

Catatan Ziarah dari Israel (3)


ISTIMEWA
DI YERUSALEM--Rombongan peziarah Capriasi Indonesia pose
bersama di Kota Yerusalem

Selamat Tinggal Yerusalem


Oleh: Joshenone Jodjana

SEMILIR angin senja tidak meredakan cuaca panas di Kota Yerusalem. Masih terbawa perasaan haru, Minggu 15 Juni 2008, rombongan peziarah Capriasi Indonesia meninggalkan Kota Yerusalem. Dalam temaram senja, kami menyusuri jalan keluar Kota Mulia itu untuk melanjutkan ziarah ke Jericho. Dari Jerico kami menuju Qumran, tempat ditemukan gulungan Kitab Suci Nabi Yesaya oleh anak penggembala suku Bedouin. Siang sudah tiba, kami pun mengisi kampung tengah (perut) yang mulai lapar. Usai makam siang kaki berendam di Laut Mati.

Laut Mati terletak 1.300 kaki di bawah permukaan laut, merupakan titik terendah di permukaan bumi. Dinamakan Laut Mati karena tidak ada satu pun hewan yang bisa hidup di dalamnya. Kandungan garamnya sangat tinggi, sekitar 28 persen. Oleh karena itu, tubuh setiap peziarah yang mandi di laut itu mengambang di air tanpa harus melakukan banyak gerakan. Rombongan kami tidak ketinggalan ikut berendam dan melumuri badan dengan lumpur Laut Mati. Ini dengan harapan bisa awet muda atau yang kulitnya sering gatal-gatal dipercaya bisa hilang penyakit gatalnya kalau diolesi dengan lumpur Laut Mati.


Keesokkan harinya, Senin (16/6/2008), semua peserta sudah pada cantik dan awet muda berkat lumpur Laut Mati. Selanjutnya kami mengunjungi Gereja Segala Bangsa dan Taman Gethsemani. Taman Gethsemani terletak di kaki Bukit Zaitun. Menurut Santu Yohanes, tempat ini sangat disukai Yesus (Lukas 22;39). Di dalam taman ini ada pohon zaitun dan bunga-bunga yang indah. Juga ada satu pohon zaitun yang diperkirakan berumur sejak zaman Yesus Kristus, karena memang pohon zaitun bisa bertahan beribu-ribu tahun. Kami memgambil foto pada pohon zaitun itu. Di dekat Taman Gethsemani ada sebuah gereja, yakni Gereja Gethsemani.

Ketika tiba di gereja ini umat setempat sedang misa, dan kami pun ikut misa suci. Gereja Gethsemani yang asli dihancurkan oleh bangsa Persia, kemudian dibangun kembali dan dihancurkan lagi. Dan, pada tahun 1919-1924 ada 16 negara yang mendanai pembangunan kembali gereja ini. Maka gereja itu disebut Gereja Segala Bangsa.

Dari Gereja Segala Bangsa, rombongan Capriasi Indonesia menuju Pater Noster Church. Gereja ini dibangun di atas tempat di mana Yesus biasa mengajar murid- muridnya Doa Bapak Kami. Pada dinding serambi geraja tertulis dalam 62 bahasa Doa Bapak Kami, termasuk Doa Bapak Kami dalam bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Batak dan bahasa Sunda.

Banyak tempat bersejarah yang kami kunjungi, semua terdapat dalam Injil, yaitu Caesarea, kota pelabuhan Haifa, Gereja Dominikus Flevit, Kapel Kenaikan, Einkarem tempat pertemuan Maria dan Elizabeth sepupunya yang lagi mengandung. Sebelum makan siang, kami mampir ke tempat bersejarah di Gunung Carmel, yang terkenal di Haifa. Di Gunung Carmel, Nabi Ellia menantang imam-imam dewa Baal dan mengalahkan 450 imam Baal. Di kaki Gunung Carmel ada gua suci tempat perlindungan Nabi Ellia selama pelarian dari raja Ahab. Dan, di atas gua didirikan Gereja Stella Maris yang merupakan biara pusat Carmel.

Bagi umat kristiani, Capernaum bukan nama baru. Kota itu merupakan bagian dari kisah perjalanan Yesus. Di Capernaum itulah Yesus banyak melakukan mujizat (Lukas 4:31- 41). Capernaum juga dicatat dalam sejarah gereja sebagai tempat tinggal Petrus. Di tempat itu Yesus melakukan mujizat menyembuhkan mertua Petrus yang sakit demam. Mujizat lainnya di Tabgha, tempat Tuhan Yesus melipatgandakan roti dan ikan (Markus 6:36-44). Ini terlihat pada mosaik yang menggambarkan keranjang roti dan dua ekor ikan.

Perjalanan selanjutnya ke Kota Kana. Dalam catatan sejarah gereja, Kota Kana terkenal karena di situlah Yerus pertama kali membuat mujizat dengan mengubah air menjadi anggur (Yohanes 2:1-11). Kami pun mengunjungi Gereja Kana. Pada kesempatan itu bagi pasangan suami-istri yang ingin mengukuhkan ikatan pernikahan ada upacara pengukuhan di gerja tersebut. Di antara anggota rombongan kami ada empat pasang yang dikukuhkan kembali ikatan pernikahannya. Setelah acara pengukuhan, empat pasanagn itu mendapat sertifikat. Selesai upacara ada sedikit acara bebas bisa beli anggur yang asli dan paling terkenal di Kana.

Baptis Ulang di Yordan
Selasa, 17 Juni 2008, awan pagi menyelimuti Kota Capernaum. Kami naik perahu menyusuri Sungai Tiberias nan teduh. Sungai Tiberias bentuknya seperti harpa. Nama Tiberias diambil dari bahasa Ibrani, Tiberias Konneret, yang artinya harpa. Di sungai inilah Yesus dan murid-muridNya naik perahu dan mengalami badai yang luar biasa. Namun, Tuhan Yesus dengan tenang membuat mujizat dengan sekali berkata badai pun langsung tenang (Mat 8: 23-27). Kami pun berkeliling dengan perahu di Sungai Tiberias.

Setelah menyusuri Sungai Tiberias, kami menjejak Nazaret. Sejarah gereja mencatat, Nazaret adalah tempat tinggal Yusuf, Maria dan Yesus. Kami menyusuri jalan-jalan di Nazaret. Tidak ketinggalan kaki kami pun melangkah ke Gunung Tabor. Di tempat inilah Yesus dimuliakan (Lukas 9:28-36).

Hari beranjak siang, kami pun mengisi perut yang mulai 'keroncong'. Kami makan di mozaik ikan Petrus. Menikmati 'ikan petrus' yang lezat, padahal kami sudah berangan- angan menikmati makanan ala Indonesia. Namun, ketika menikmati makan 'ikan petrus' kerinduan akan masakan Indonesia seakan hilang.

Pada Rabu, 18 Juni 2008), ziarah kami dilanjutkan ke Sungai Yordan. Di kalangan orang kristiani, Sungai Yordan dikenal sebagai tempat Yesus dipermandikan oleh Yohanes pembaptis. Oleh karena itu, ada peziarah yang ke Sungai Yordan untuk melakukan baptis atau baptis ulang dengan memakai jubah putih. Dalam rombongan kami banyak yang melakukan baptis pertama dan baptis ulang, rededikasià.

Berkunjung ke Sungai Yordan merupakan perjalanan terakhir ziarah kami di Israel. Kami pun akhirnya harus meninggalkan Tanah Perjanjian dengan penuh haru. Dalam perjalanan pulang dari Sungai Yordan kami singgah di Malaba dan Gunung Nebo. Dalam kisah perjalanan panjang selama 40 tahun bangsa Israel dari Mesir ke Tanah Perjanjian, pemimpin bangsa Israel, Musa hanya melihat Tanah Perjanjian dari kejauhan di Gunung Nebo. Sebagai bukti sejarah, di Gunung Nebo kini ada tongkat Musa. Kami sempat melihat tugu tongkat Musa. Di sini, di tempat ini akhir dari ziarah kami di Tanah Perjanjian, Israel. Keesokan harinya, Kamis, 19 Juni 2008, kami kembali ke Indonesia melalui Dubai-Singapura - Jakarta.
Tak ada kata yang paling indah kami ucapkan, kecuali bersyukur kepada Tuhan atas penyelengaaraanNya sehingga kami berkenan menjejak Gunung Sinai, Yerusalem, Bethlehem, Nazaret, Tiberias, Yericho, Laut Mati, Sungai Yordan, Tembok Ratapan,Via Dolorosa, Capernaum, Laut Mati, Gunung Carmel, dan tempat lainnya di Israel. Saya sungguh terkenang Yerusalem. Jika Tuhan berkenan, suatu waktu nanti saya akan kembali berziarah ke Tanah Perjanjian, Israel. (habis)

Pos Kupang Minggu, 27 Juli 2008 halaman 11
Lanjut...

Tentara pun Peduli Lingkungan

Foto POS KUPANG/ALFRED DAMA
SIRAM TANAMAN--Anggota TNI AD dari Korem 161 Wira Sakti Kupang ini sedang menyiram tanaman sengon di sisi barat Jalan El Tari 2 Kupang Kamis (16/7/2008) lalu.

Laporan Alfred Dama dan Beni Djahang/Wartawan Pos Kupang

ANGIN tenggara yang bertiup cukup kencang tidak menghentikan langka Kopral Dua (Kopda) Yohannes menyirami deretan tanaman sengon di sisi utara ruas Jalan El Tari 11, Kamis (17/6/2008) pagi. Sambil menentang dua jerigen berisi air, masing-masing ukuran lima liter, prajurit TNI dari Komando Resor Militer (Korem) 161 Wirasakti Kupang ini menyirami satu-persatu tanaman sengon.

Sambil membungkukkan badan, pria berkulit gelap itu menyirami tiap-tiap anakan pohon. Matanya yang tajampun menatap dengan seksama setiap anakan saat ia menyiram, sehingga tumpahan air dari mulut jerigen tidak membuat anakan pohon yang baru berumur dua bulan itu tidak terganggu. Meski sangat hati-hati, wajahnya nampak begitu ceria saat menyiram. Sesekali jari-jarinya memperbaiki pagar kecil yang mengelilingi tanaman tersebut. Pagar itu bertujuan untuk melindungi tanaman tersebut dari hewan peliaraan warga seperti kambing yang masih berkeliaran bebas di tempat itu.


Tidak nampak sikap kerasnya ketika menghadapi tanaman itu, bahkan kelembutan tangannya saat menyiram tanaman tersebut. Deru mesin kendaraan baik roda empat maupun roda dua yang melintasi ruas jalan protokol itu sama sekali tidak dihiharukannya. Ia asyik dengan tanam-tanaman yang disiraminya itu.

Bukan Kopda Yohanes saja yang ada di tempat itu. Ada sekitar lima orang anggota TNI yang ada di tempat itu. Mereka pun baru selesai menghabiskan air yang mereka bawa dari rumah masing-masing untuk menyiram tanaman-tanaman untuk penghijauan tersebut. Usai menyiram, mereka tidak langsung "balik kanan", tetapi memperhatikan tanaman yang baru saja disiram. Merekapun menyiangi tanaman dan memperbaiki pagar-pagar. Sambil bercengkrama mereka melakukannya.

"Kami juga peduli lingkungan, makanya kami senang bisa siram tanaman ini. Kalau ini sudah besar, kami senang juga," kata salah satu dari anggota TNI di tempat itu saat ditemui Pos Kupang.

Para prajurit TNI itu mengaku, mereka menyiram tanam-tanaman itu dua kali dalam seminggu. Sementara air yang mereka gunakan dibawa sendiri dari rumah masing- masing. Menurut mereka, dua jerigen air masing-masing ukuran lima liter yang harus dibawa setiap orang, bukanlah pekerjaan yang berat.
Mereka biasa menyiram tanaman di jalan itu antara pukul 06.00-09.00 Wita. Bahkan mereka masih betah memperhatikan tanaman di sana sampai sekitar pukul 10.00 Wita.

Komandan Korem (Danrem) 161 Wirasakti (WS) Kupang, Kolonel (Inf) Winston Pardamean Simanjuntak melalui Kepala Penerangan (Kapenrem), Kapten (Inf) Paulus dan Asisten Teritoral (Asiter), Mayor (Kav) Fatchur R yang ditemui di Makorem 161 Wirasaksi-Kupang, Kamis (24/7/2008), mengatakan, di sepanjang sekitar dua km di Jalan El Tari 2-Liliba ditanam sekitar 1.500 anakan pohon mahoni dan sengon. Jumlah tersebut merupakan bagian dari 2.270 anakan pohon yang ditanam jajaran Korem di Liliba dan komples Kampus Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang beberapa waktu lalu.

Kapten Paulus menjelaskan, setiap anggota Korem yang menanam pohon tersebut diperintahkan untuk menjaga dan merawat, termasuk mengganti kalau ada yang mati. Dan, tugas ini harus dilaksanakan dengan baik oleh tiap personil. Artinya, tiap anggota bertugas menjaga dan merawat tanaman tersebut hingga tanaman itu tumbuh menjadi besar.

Asiter, Mayor (Kav) Fatchur R menjelaskan, aktivitas tanam menanam tersebut mulai dilaksanakan pada 5 Juni 2008 lalu atau bertepatan dengan hari lingkungan hidup. Sebanyak 200 personil dikerahkan untuk menanam dan menjaga tanaman tersebut. "Pesan komandan (danrem) adalah tanaman itu jangan sampai mati," jelas Fatchur.

Pesan tersebut langsung dijabarkan anggota dengan membuat pagar tanaman agar terlindung dari ternak warga yang masih dibiarkan berkeliaran di tempat itu dan melakukan penyiraman dua kali dalam seminggu. "Sementara ini, penyiraman dilakukan oleh personil yang airnya diupayakan sendiri," jelasnya.

Tapi, mulai Agustus nanti, pihaknya berencana menata kembali proses penyiraman tersebut. Dan, Korem akan meyediakan air dua tangki setiap kali penyiraman. Proses penyiraman tetap dilakukan seminggu dua kali. "Proses perawatan tanaman ini juga akan dikoordinir langsung oleh perwira Korem," jelasnya.

Aksi cinta lingkungan tersebut merupakan inisiatif Danrem Winston Simanjuntak bersama Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe dan Rektor Undana, Prof. Ir. Frans Umbu Datta. Ini juga merupakan wujud kepedulian TNI pada lingkungan. Selain kepentingan menghijaukan Kota Kupang, aksi penanaman pohon yang melibatkan 200 personil TNI tersebut bertujuan menciptakan medan juang yang kondusif dan mendukung pelaksanaan tugas TNI. "Tapi yang jelas ini juga bentuk kepedulian TNI terhadap pemanasan global serta menciptakan lingkungan yang hijau," jelasnya.

Terlepas dari perintah sang komandan, aktivitas para anggota TNI AD tersebut telah memberikan sumbangsi pada penyelematan lingkungan. Padahal, tugas mereka adalah mempertahankan negara dari ancaman secara militer baik dari dalam dan luar negeri. Para anggota TNI tersebut juga sudah mengajarkan arti cinta lingkungan dan sadar atau tidak, anggota TNI ini sudah ikut menyelamatkan bumi dari ancaman pemanasan global. (*)

Pos Kupang Minggu 27 Juli 2008, halaman 14


Lanjut...

Tak Sangka dan Tersangka

ASYIK juga mengikuti alur kisah Jaksa Urip Tri Gunawan yang lagi naik daun gara-gara kasus PTT alias Pemerasan Tingkat Tinggi. Kasus ini membuat banyak orang terkenal jadi tambah terkenal. Catat saja nama Artalyta Suryani, kolega konglomerat Sjamsul Nursalim pemilik Bank BDNI, Glenn Yusuf mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional.

Sungguh tak disangka bahwa yang jadi tersangka orang-orang besar semua. Perpendidikan tinggi, status sosial tinggi, hidup di kalangan kelas tinggi, pokoknya semuanya tinggi. Tetapi siapa sangka kalau perilakunya membuatnya menjadi tersangka? Ada yang takut dijadikan tersangka, ada yang namanya dihapus dari golongan tersangka, sesuai keinginan oknum penegak hukum, yang penting doku alias duit alias doi masuk kantong.


Apa benar Jaksa Urip menjadi aktor utama? Kalau dilihat dari tampangnya di tivi, koran, dan media masa lain, sepertinya tidak mungkin.

Apalagi yang namanya Artalyta benar-benar si cantik yang menjanjikan duit. Benar-benar kelas kakap. Coba saja perhatikan kesaksian Reno Iskandarsyah pengacaranya Glenn Yusuf yang percakapannya termuat di koran, di tivi, di radio dan lain-lain. Ketika itu Reno memberikan uang Rp 110 juta.
"Urip minta digenapin. Reno tanya genapin berapa Pak? Urip langsung tembak 1 M. Reno terkejut bukan main dan tidak yakin kalau kliennya bisa siapkan uang satu gudang untuk Urip.

Tetapi Urip malas tahu dan memaksa supaya Glen melalui Reno minta duit 1 M di Syamsul Nursalim. Sambung sinambung cukup alot, akhirnya pemerasan 1 M jadi juga," jelas Rara. "Kalau tidak percaya baca saja sendiri atau nonton berita tivi tiap malam. Benar-benar tak sangka," komentar Benza.
***
"Cukup!" Potong Benza. "Jangan dilanjutkan."
"Satu lagi nih! Reno kirim SMS kalau kliennya sanggup bayar 1 M dalam bentuk dolar dan Urip langsung telepon dan marah-marah katanya nggak usah SMS begitu, kampungan sekali, telpon saja! Mungkin takut SMS-nya kebaca orang lain. Eh, tak tahunya rekaman suaranya diperdengarkan penyidik. Apes benar!"

"Sudahlah, jangan ngomong serbuk di mata orang!" Kata Benza.
"Ini bukan serbuk tetapi balok!" Potong Jaki.
"Ya, jangan bahas balok di mata orang, balok di matamu sendiri lebih besar lagi! Kalau Urip dkk itu gaya Jakarta. Bukankah kamu pakai gaya kampung kita?"

"Satu lagi nih." Rara tidak peduli "Belum tahu kamu rekaman pembicaraan oknum anggota Dewan di Jakarta sana. Sudah ngemis minta duit, minta disiapkan perempuan penghibur lagi! Hancur bukan? Jadi bagaimana mungkin engkau meminta kami berdua jangan ngomong?"

"Sama dengan kamu kan? Jadi tidak usah banyak bicaralah! Status kalian sama, suka peras, manipulasi dengan gaya berdasi. Sungguh tak sangka kalau satu saat nanti kamu berdua benar-benar jadi tersangka."

"Jangan maen tuduh begitu, teman! Ibarat rumah, lantai rumah kami selalu bersih. Jadi kita wajib memberi peringatan kepada para orang besar - yang tak sangka sudah jadi tersangka itu - mereka yang tinggalnya di loteng dan di atap jauh di pusat sana. Supaya jangan malu-maluin,kalau mau korupsi pakailah teknik terhormat begitulah!"

***
"He he he teknik terhormat katamu? Pencuri berdasi ya? Pantas saja. Kamu berupaya menyapu lantai bersih-bersih tetapi lotengnya kotor, ya lantai lebih kotorlah kejatuhan sampah dari loteng. Sekali tiga uang alias sami mawon alias sama saja." Kata Benza sambil tertawa.

"Tetapi kamu cuma kelas teri, tentu beda dengan kelas kakap!" Rara membela diri. "Yang penting kami bukan tersangka. Kamu juga tak sangka kalau teman seperjuangan kami di Jakarta jadi tersangka," Rara meminta persetujuan Jaki.
"Teri dan kakap rasanya saja berbeda. Besarnya juga berbeda. Harganya juga berbeda. Nol di belakang angka satu sampai sembilan juga beda. Kalau kakap nolnya sembilan sampai dua belas, kalau teri nolnya enam. Bagaimana mungkin dituduh sama?' Kata Jaki.

"Kakap atau teri tergantung situasi kondisi bukan? Ada teri berdaging kakap ada kakap berpura-pura jadi teri," Rara menjebak dirinya sendiri.
"Dalam hal ini tampaknya tidak ada bedanya kelas teri dan kelas kakap," komentar Benza. "Tak adanya bedanya juga Urip atau Rara, Urip atau Jaki. Semuanya sama dengan. Tak ada bedanya juga tak sangka dan tersangka!" (maria matildis banda)

Pos Kupang, Minggu 27 Juli 2008, halaman 1
Lanjut...

Inche DP Sayuna, S.H, M.Hum

Berpolitik dengan Perspektif Gender

Oleh Alfons Nedabang/Wartawan Pos Kupang


PADA
Tahun 2009 mendatang, masa tugas Inche DP Sayuna, S.H, M.Hum sebagai anggota DPRD NTT akan berakhir. Hingga waktu itu, sepuluh tahun sudah ia mengabdi untuk masyarakat dan daerah. Ia pun menegaskan bahwa tidak mau berhenti berkiblat di dunia politik. "Saya menikmati politik," ujar Inche Sayuna.

Ditemui di kediamannya di Liliba, Kota Kupang, beberapa waktu lalu, istri dari Hengki Famdale dan ibu dari Grace Natalia Putri Hengki Famdale ini banyak berceritra tentang dunia akademik yang sudah ia tinggalkan, awal mula meniti karier politik, kehidupan keluarganya, tentang predikat barunya sebagai Miss Gender dan obsesinya. Berikut petikan wawancara wartawan Pos Kupang, Alfons K Nedabang, dengan wanita pengagum Margareth Teacher ini.


Bisa ceritrakan awal mulanya Anda berpolitik? Saya tidak pernah punya cita-cita sebagai anggota DPRD. Awalnya saya seorang akademisi, dosen di Unkris (Universitas Kristen Arta Wacana Kupang). Setelah lulus dari Unkris, saya angkatan pertama, langsung mengajar. Mengajar selama 1989 - 1996. Selama kuliah saya pernah menjadi mahasiswa teladan. Lalu diutus sekolah di Universitas Gajah Mada. Kami ada tiga orang ikut tes rebut satu beasiswa, dan saya yang dapat. Beasiswa sampai S3, karena saya punya cita-cita menjadi dosen yang terkenal. Tahun 1999 gelombang reformasi, ada tawaran dari Partai Golkar untuk menjadi anggota DPRD NTT mewakili Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Pada saat itu saya masih mengikuti pendadaran tesis di Gajah Mada. Saya bingung karena cita-cita jadi dosen terkenal belum tercapai. Namun karena saya ingin mencoba sesuatu yang baru maka saya putuskan untuk menerima tawaran itu. Saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari kampus. Selesai pendidikan di Gajah Mada saya terjun politik. Pada pemilu 1999, saya menjadi anggota Dewan. Pada Pemilu 2004, saya kembali terpilih menjadi anggota Dewan.

Kenapa tertarik pada politik? Waktu disuruh pilih untuk terjun ke politik, saya melihat bahwa saya punya minat ke politik ada. Sebelum ngajar di Unkris, saya sangat aktif di organisasi dari tahun 1985. Masuk AMPI (Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia), di HWK (Himpunan Wanita Karya), KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia). Tahun 1999 masuk menjadi pengurus Partai Golkar. Aktif di organisasi ini membuat saya mengenal banyak hal, termasuk politik. Saya juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Karena itu ketika ada tawaran saya coba dulu sesuatu yang baru. Saya sudah sepuluh tahun jadi akademisi, karena itu memulai sesuatu yang baru, dunia baru. Ternyata di politik, tidak saja berpikir tentang pendidikan tapi tentang semua hal. Saya berpikir harus berada dalam sistim agar bisa membantu pemerintah dan masyarakat yang lebih luas.

Bukan karena penghasilan seorang dosen swasta saat itu masih minim? Dunia kampus menarik buat saya. Sudah sangat saya suka. Penghasilan bukan jadi alasan karena menjadi dosen adalah cita- cita saya. Pertimbangan paling utama waktu itu ketika mereka hubungi saya, mereka bilang tidak ada kader perempuan yang mau direkomendasikan untuk duduk di DPRD. Semua kader perempuan waktu itu ada di lembaga eksekutif, menjadi pegawai negeri sipil. Sehingga tawaran itu saya terima.

Pandangan Anda tentang politik? Kalau kita omong soal politik, sesuatu yang berkaitan dengan kekuasan, pengambilan keputusan, dalam pengertian yang formal. Karena itu, bagi saya politik itu adalah suatu seni untuk mengelola kekuasaan dan bagaimana mengelola strategi mengambil keputusan yang berdampak pada orang banyak. Ini yang membuat saya berpikir lebih luas lagi dan bisa menjangkau orang lebih banyak lagi. Bagaimana pergunakan potensi yang saya punya, tidak saja berpikir tentang dunia pendidikan tapi dalam berbagai aspek merambah ke situ. Selama ini praktek politik yang dimainkan pelaku-pelaku politik, baik dalam parpol maupun struktural birokrasi memberi kesan kepada publik bahwa politik itu sesuatu yang kotor, saling sikut menyikut, penuh intrik dan orang bisa menghalalkan segala cara untuk mengambil keputusan, orang bisa menghalalkan cara untuk mencapai kekuasaan.

Kondisi itu Anda rasakan? Saat pertama itu penuh dengan keterkejutan. Saya orang akademisi, apa yang ada dalam benak saya adalah sebuah idealisme yang lurus. Ketika ada di dalam itu ternyata apa yang saya pikirkan sendiri belum tentu bisa diterima orang lain. Saya berupaya mengkolaborasi pikiran saya dengan pikiran orang lain. Saya menyadari bahwa tidak ada orang yang sekolah khusus menjadi anggota DPRD. Saya dulu ngajar di Fakultas Hukum, tentu saya lebih banyak tahu tentang hukum. Persoalan kemasyarakatan hanya sedikit saya tahu, itu pun ketika berada dalam organisasi kemasyarakatan. Saya dituntut mengetahui banyak hal, misalnya belajar tentang menyusun pemandangan umum. Belajar membaca anggaran. Tahun pertama di DPRD saya pake belajar untuk memperdalam keterampilan- keterampilan yang dibutuhkan dalam lembaga. Saya tidak mau berada dalam lembaga hanya untuk dipakai pada saat voting dan minta baca pemandangan. Saya ingin memperjuangan misi perempuan. Kehadiran saya memberi warna untuk melakukan sebuah perubahan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang lebih ramah terhadap perempuan. Kebijakan yang responsif gender. Saya tidak ingin negara bayar saya dengan fasilitas yang luar biasa, lalu saya hanya duduk diam dan tidak berfungsi di lembaga itu.

Bagaimana cara Anda mengkolaborasikan pikiran? Memang tidak mudah bagi perempuan untuk diterima dengan baik dalam lembaga itu. Karena sistim yang dibentuk sudah sangat patriarkat. Pola pikir juga sangat patriarkat sehingga semua proses dan pengambilan keputusan itu juga sangat patriakat. Dan karena itu, perlu membangun sinergi dengan sesama teman-teman agar memberi ruang kepada perempuan untuk berekspresi sesuai dengan kapasitas yang dia punya. Tidak semua laki-laki menerima itu dengan positif. Jadi, sesuatu yang tidak mudah. Saya punya prinsip adalah saya harus berfungsi dengan baik, jaga moral saya supaya jangan bersentuhan dengan hal-hal yang dapat mencederai karya politik saya. Saya berusaha untuk menjaga sikap agar bisa diterima baik oleh orang lain. Jujur saja, setiap orang ingin menonjol. Saya berusaha untuk menempatkan diri saya dalam kapasitas yang baik, saya juga tidak ingin memaksa orang untuk memberi penilaian yang baik atau tidak baik kepada saya. Saya berusaha untuk melakukan tugas dan tanggung jawab secara baik. Membangun relasi positif dengan sesama teman-teman, saya berusaha untuk positive thingking, dan menganggap semua orang baik. Itu yang kemudian tidak ada beban bagi saya untuk berinteraksi dengan orang lain.

Anda berusaha mempengaruhi kebijakan pemerintah yang responsif gender. Apa yang Anda lakukan? Sebelum saya, sudah ada juga perempuan yang melakukan perjuangan yang sama. Artinya, ketika saya masuk, perjuangan saya sudah tidak seberat seperti apa yang dilakukan sebelumnya. Harus diakui bahwa tidak semua anggota Dewan paham dan sensitif gender. Oleh karena itu saya berusaha untuk berjejaring dengan teman anggota Dewan - laki dan perempuan. Juga berjejaring dengan orang-orang di luar DPRD, di eksekutif dan yudikatif. Semua organisasi perempuan yang konsen terhadap isu perempuan dan anak, kami berjejaring dalam sebuah jaringan yang difasilitasi oleh Biro Pemberdayaan Perempuan. Mereka menjadi sumber informasi dan motivator, membantu saya untuk berjuang di DPRD. Saya membangun komunikasi agar teman-teman Dewan bisa membantu minimal tidak menolak ketika menawarkan kebijakan. Yang belum paham tentang gender, kita undang sebagai narasumber dalam kegiatan. Dengan begitu mereka kita ikat secara moral. Di setiap kesempatan, saya juga mensosialisasi gender. Setiap percakapan, apa yang saya ungkapkan pasti bertolak dari isu gender, seperti susun pendapat komisi, pemandangan fraksi, bicara dalam forum diskusi dan seminar. Bagi saya itu media kampanye yang positif. Karena selalu sering omong tentang gender, teman-teman memanggil saya Miss Gender. Ibu gender, ha....ha...ha. Akhirnya, teman-teman komisi, fraksi memperhatikan hal ini. Saya senang karena sudah mulai berperspektif gender. Walaupun masih dalam tanda petik, karena ini juga jualan politik. Apakah komitmen itu diberikan secara jujur atau tidak, pasti dapat terlihat.

Jejaring perempuan, seperti apa itu? Bentuk organisasinya macam-macam. Ada jaringan perempuan yang konsern dengan isu politik, yang dinamakan Jaringan Perempuan dan Politik. Tugasnya bagaimana membuat perempuan memahami hak dan kewajibannya dalam politik. Ada jaringan yang bekerja di sektor kesehatan. Ada jaringan yang konsern dengan isu ekonomi. Ada juga jaringan yang konsern dengan isu agama. Semua jaringan yang bekerja itu kita himpun dalam satu wadah dan selalu berdiskusi. Saat bertemu itu kita omong tentang agenda bersama, yang disesuaikan dengan kebijakan pembangunan daerah..

Dalam perjuangan gender itu, adakah hal yang dirasakan membanggakan? Dan, apa yang mengecewakan? Oh...banyak hal. Yang membanggakan, pertama, kehadiran saya di DPRD, menjadi Ibu gender itu juga sebuah reward untuk saya. Lepas dari mereka suka atau tidak suka, itu sebuah pengakuan. Bahwa ketika bicara tentang isu gender, ada orang yang vokal membicarakannya di Dewan. Kedua, dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah isu itu sudah menjadi komitmen. Itu tidak terlepas dari perjuangan saya dan teman-teman. Ketiga, bagi saya adalah berhasil membangun sebuah jaringan yang kuat di antara sesama organisasi perempuan. Lepas dari solidaritas itu masih belepotan, bagi saya NTT sebagai contoh di mana perempuan-perempuan NTT bersatu dalam sebuah jaringan untuk mem-back up yang satu dengan yang lain dalam langkah perjuangan. Sebelum membahas anggaran, saya sudah kumpul teman-teman jaringan, membicarakan apa agenda kita tahun depan. Lalu bagaimana kebutuhan dana? Kami bagi peran, saya punya tugas adalah memperjuangkan agar kebijakan ini masuk dan anggaran ada. Ini pembagian peran yang sangat bagus, antara saya dan jaringan perempuan. Saya kira ini sebuah prestasi yang membanggakan. Sedangkan yang mengecewakan, saya lihat parpol belum mempersiapkan kadernya secara optimal untuk duduk di DPRD. Dan karena itu saya bilang teman-teman, bicara tentang hak, perempuan harus dipersiapkan secara baik untuk masuk dalam sistim. Jadi kita perlu dorong parpol untuk mempersiapkan kader perempuannya dengan baik. Kekecewaan dalam pengertian lain, saya berpikir begini, mengubah sesuatu yang tidak biasa menjadi biasa itu butuh proses dan membutuhkan waktu. Kami berjuang dengan sebuah paradigma berpikir, membutuhkan waktu untuk bisa berubah dan diterima dengan baik. Hal lainnya adalah banyak hal baik yang sudah dibuat oleh lembaga Dewan, dalam bentuk kebijakan dan rekomendasi pikiran, cuma eksekusi kebijakan di tingkat pemerintah itu yang lambat. Banyak pikiran-pikiran baik yang ternyata hanya sampai pada tataran konsep, sedangkan implementasi kecil sekali.

Berdasarkan pencermatan Anda, apa letak persoalan gender? Pola pikir patriarkat masih sangat dominan. Karena itu, walaupun sekarang ini begitu banyak organisasi perempuan yang turun melakukan sosialisasi, walaupun begitu banyak aturan yang sudah dihasilkan baik pada tataran nasional dan lokal yang memungkinkan untuk membuka isolasi itu, bagi saya sampai dengan saat ini, perjuangan untuk mengubah pola pikir itu masih cukup panjang. Tetapi kita bersyukur karena dari waktu ke waktu, isolasi itu makin tipis. Sekat itu makin tipis. Adanya aturan yang repsonsif gender, itu juga sebuah indikasi yang baik. Sehingga banyak orang mulai bicara tentang gender, termasuk media. Walaupun masih panjang untuk sampai pada titik yang setara, tetapi kemajuan yang dicapai sampai dengan saat ini, itu sesuatu yang menggembirakan. Bukan angin surga tapi angin segar. Perjuangan kita kan untuk mencapai kesetaraan, bagaimana laki-laki dan perempuan secara berimbang setara memiliki pengakuan terhadap hak masing- masing yang sama. Berjalan secara bersama-sama bergandengan tangan dalam kesetaraan untuk mengisi pembangunan.

Faktor utama yang menghambat? Yang utama itu budaya. Saya punya orang Timor. Walaupun kami sudah omong soal perempuan jadi pemimpin, bagi mereka itu sesuatu yang aneh. Ketika ada perempuan yang berani menyampaikan secara terbuka menjadi bupati, bagi dia ini sesuatu yang menakjubkan. Mereka yang di kampung-kampung sulit terima. Agak berbeda dengan perempuan kota, sudah tidak sulit untuk membicarakan tentang kesetaraan. Walaupun tidak semua orang tulus memberi pengakuan seperti itu. Saya akan merasa sangat bahagia kalau antara masyarakat kota dan akar rumput sudah memiliki pemahaman yang benar.

Salah satu indikasi kebijakan yang responsif gender adalah penetapan 30 persen kuota perempuan. Menurut Anda, apa pesan dari aturan itu? Kuota 30 persen adalah kebijakan sementara yang diberi pengakuan dan dilegitimasi oleh undang-undang pemilu. Dan parpol diminta untuk mengimplementasikan kebijakan itu dalam internal parpol. Memang tidak mudah. Partai Golkar juga sebagai penggagas aturan itu dan dalam aturan organisasi juga memberi ruang kepada perempuan. Tapi dalam implementasinya, sangat tergantung pada political will pimpinan parpol. Walaupun ada aspirasi dari bawah, tapi dalam rapat pimpinan parpol untuk menentukan rekruitmen kader dalam jabatan itu dalam rapat pimpinan khusus. Dan itu terbatas. Kuota 30 persen ini kebijakan yang menggembirakan perempuan. Tetapi karena kuota tidak memuat sanksi yang tegas bagi parpol, maka itu akan sangat bergantung pada kemauan baik pimpinan parpol dalam merekrut kader-kader perempuan untuk jabatan politik. Karena itu maka yang dilakukan Jaringan Perempuan dan Politik adalah membangun relasi lobi dengan pimpinan parpol supaya kader perempuan yang diinventarisir, sesuai pilihan politik perempuan itu sendiri. Kita serahkan kepada parpol dan parpol merekrut mereka dengan menggunakan aturan internalnya. Bagi saya sebuah upaya positif untuk kontrol yang dibangun Jaringan Perempuan terhadap parpol supaya parpol komit dengan undang-undang. Mudah-mudahan, dengan cara ini, bisa membantu menambah jumlah perempuan yang berpolitik. Agar kuota 30 persen terwujud, Jaringan Perempuan akan sebagai kekuatan penekan. Kita harapkan juga KPU melakukan sebuah imbauan yang bersifat menekan sehingga parpol bisa memberi peluang kepada perempuan. Berdasarkan inventarisasi yang dilakukan Jaringan Perempuan, sejak tahun 1999 dan sampai dengan saat ini, ternyata banyak perempuan yang sudah mempersiapkan diri untuk terjun dalam politik.

Dalam kaitannya dengan mempersiapkan diri, apa yang Anda lakukan? Saya banyak membaca. Banyak permintaan seminar, dialog dan diskusi itu membuat saya harus terus membaca. Itu sangat menolong menjaga kapasitas diri. Selain itu mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan yang menurut saya baik untuk peningkatan diri. Rata-rata semua pelatihan dan kursus-kursus di tingkat nasional. Saya juga berlangganan media cetak dan majalah, cukup banyak.

Berpolitik banyak menguras waktu dan energi. Bagaimana Anda menjaga harmonisasi keluarga? Saya punya suami yang sangat memberi dukungan buat saya. Dia sangat mensuport saya untuk optimal di bidang saya. Kami dikaruniai satu anak. Karena itu yang dikembangkan untuk menjaga keharmonisan keluarga adalah pertama, komunikasi yang sehat. Kedua itu, kepercayaan. Suami memberi kepercayaan kepada saya dan saya sangat menjaga kepercayaan itu. Sebaliknya suami pun seperti itu. Kepercayaan itu harus ditumbuhkembangkan secara baik dalam kehidupan keluarga. Jika tidak maka akan menjadi ancaman.

Meski sibuk Anda masih terlihat energik. Apa rahasianya? Saya paling malas olahraga. Cuma saya bantu dengan suplemen. Macam-macam suplemen. Ada suplemen yang membantu aktivitas. Setiap bulan juga saya doping dengan vitamin C. Dan, minum air putih.

Obsesi Anda? Saya sudah sepuluh tahun di DPRD. Saya punya mimpi untuk kalau mungkin sudah tidak lagi di DPRD NTT. Bagi saya waktu sepuluh tahun itu sudah cukup lama. Saya ingin mengenal waktu yang baru lagi dan juga tidak menutup pintu bagi kader- kader yang lain. Saya punya cita-cita, kalau tidak masuk ke eksekutif maka masuk ke lembaga legislatif yang jenjangnya lebih tinggi. Saya punya mimpi ke DPR RI. Saya sadar itu sesuatu yang sangat tidak mudah, karena banyak orang yang mau. Dan, keputusan untuk berada di sana itu sangat tergantung pada DPP (Partai Golkar). Kalau memang tidak bisa masuk ke DPR RI, maka ke mana saja kaki melangkah ya itu. Saya punya prinsip, setiap langkahku diatur oleh Tuhan. Dan karena itu, saya punya keiginan besar tapi tentu keinginan saya belum tentu direstui Tuhan. Saya berdoa, serahkan. Yang jelas saya tetap berada di jalur politik. Saya belum mau berhenti berpolitik. *



DOK. KELUARGA Inche DP Sayuna beserta keluarga BIODATA Nama : Inche DP Sayuna, SH, M.Hum Lahir : 11 Desember 1966 Suami : Hengki Famdale (Notaris PPAT/pengusaha) Anak : Grace Natalia Putri Hengki Famdale (Kelas 4 SD) Hobi : Membaca Tokoh idola : Margareth Teacher Pendidikan : - Menyelesaikan SD - SMA di SoE - S1 Fakultas Hukum UKAW Kupang 1989 - S2 Hukum Agraria Universitas Gajah Mada Yogyakarta 1999 Pengalaman Kerja : - Dosen Fakultas Hukum UKAW Hukum (1989 - 1999) - Anggota DPRD NTT (1999 - 2004) - Anggota DPRD NTT (2004 - 2009) - Wakil Ketua Fraksi Golkar DPRD NTT - Mantan Ketua Komisi C DPRD NTT - Menjadi narasumber/fasilitator berbagai seminar nasional dan daerah (*)

Pos Kupang Minggu, 27 Juli 2008, halaman 03
Lanjut...

Foto POS KUPANG/
APOLONIA MATILDE DHIU

Stanis Ngawang
dan istri bersama
anak-anaknya









Disiplin pada Anak, Harus...

Laporan Apolonia Dhiu/Wartawati Pos Kupang

BERPROFESI sebagai seorang guru membuat pasangan Stanilaus Ngawang dan Regina Jemita selalu tertib dalam memanfaatkan waktu. Sehingga dengan sendirinya tibul sikap disiplin dalam keseharian pasangan ini, dan sikap disipilin ini pula selalu ditanamkan pada anak-anak mereka. Pasangan ini memiliki motto: "Kalau anak orang lain bisa dididik sampai sukses, kenapa anak kandung tidak?" Itulah motivasi pasangan ini dalam mendidik dan membesarkan ketiga anaknya. Tak heran apabila disiplin bagi anak-anaknya adalah keharusan agar bisa mencapai masa depan yang diharapkan.

Dengan disiplin, ketiga anaknya memiliki prestasi yang relatif baik di sekolah serta terbiasa dengan pekerjan-pekerjan di rumah.
Pasangan ini memiliki tiga anak, yakni Frumensius Lalong Putra Ngawang, lahir di Kupang, 28 Januari 1989, saat ini Semester III Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Jurusan Ekonomi, Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Anak kedua, Elisabeth Eka Putri Ngawang, lahir di Manggarai, 22 Desember 1994 (kelas II, SMP Negeri 3 Kupang) dan putri bungsunya, Sekolastika Try Noviani Witut Putri Ngawang, lahir di Kupang, 17 Januari 2001. Selain anak kandung, ia juga memiliki tiga anak dari keluarganya yang kini berada di bawah asuhan keluarga ini.

Kepada Pos Kupang di kediamannya, Senin (21/7/2008), Stanilaus Ngawang dan Regina Jemita mengatakan, kedisiplinan yang ditanamkan kepada anaknya dilakukan agar anak-anak bisa mandiri saat sudah besar nanti. Kedisiplinan yang ditanamkan pada segala macam aspek dan dimulai dari hal-hal kecil di rumah hingga hal-hal yang menuntut tanggung jawab yang lebih serius.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Propinsi NTT ini, menceritakan, sejak kecil anak-anak dibiasakan dengan pekerjaan rumah. Keduanya tidak pernah membedakan antara anak kandung dan anak keluarga jika melakukan pekerjaan rumah. Tidak heran bila jadwal pekerjaan rumah ditulis dan ditempelkan di dinding rumah. Pekerjaan ini bisanya dilakukan usai sekolah, tentunya setiap anak- anaknya sudah tahu apa yang harus dilakukan sesuai jadwal yang sudah ada.

Walau pasangan ini mampu secara ekonomi, tapi tak ada pembantu di rumah mereka. Ini dilakukan agar anak-anak terbiasa mandiri. Tidak heran bila kebiasaan bekerja di rumah membuat anak-anak mereka mahir memasak. "Semua anak di rumah ini, tahu jam berapa dia bangun pagi, kerja apa, dan harus buat apa. Kami berdua tidak perlu lagi menyuruh ini dan itu," kata Stanis, begitu akrabnya, yang didampingi isterinya, Ny. Regina Jemita.

Pembantu Ketua (Puket) II bidang Administrasi Umum di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Oemathonis Kupang ini, mengatakan, pengalaman masa lalu selalu diceritrakan ke anak-anaknya. Dengan harapan, pengalaman masa lalu yang harus dimulai dari nol tersebut bisa menjadi motivasi bagi anak-anak mereka. Kunci disiplin itulah yang membuat keadaan secara ekonomi sudah lebih baik. Dengan menceritakan hal-hal seperti ini, keduanya yakin anak-anaknya termotivasi untuk melakukan apa pun selalu dari dalam hati. "Kami dua ini sama-sama latar belakang dari keluarga petani. Kami memulai bentuk keluarga dari nol. Kami mau supaya anak-anak ini harus lebih dari kami. Saya lihat anak-anak ini tidak pernah protes. Mereka mengerjakan segala sesuatu apa adanya. Kalau tidak bisa, mereka baru membutuhkan bantuan kami," kata alumnus S1 dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Jurusan Ilmu Pemerintahan, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang tahun 1992 ini.

Dikatakanya, kebiasaan lain yang dilalakukan di rumah adalah keduanya sepakat untuk tidak melakukan pembelaan kalau anak-anak melakukan kesalahan. Sehingga anak-anak tidak berpikir kalau ada perbedaan dari ayah dan ibu. "Kami sepakat kalau anak-anak melakukan kesalahan suami marah anak, istri tidak boleh bela dan sebaliknya. Latar belakang saya sebagai dosena atau guru, saya memiliki obsesi kenapa anak orang bisa saya didik menjadi berhasil dan kenapa anak saya tidak," katanya sambil tertawa lebar.

Pria hitam manis yang menyelesaikan S2-nya di Universitas Widya Gama Malang ini mengatakan, keduanya juga membentuk anaknya dengan menanamkan iman pada anak. Mendekatkan diri pada Tuhan merupakan pendidikan dasar yang dilakukan dalam keluarga ini.
Dal hal pendidikan, Pengutus Komite Sekolah SD Naikoten II Kupang ini mengatakan, jadwal belajar di rumah sudah jelas dibagi pada anak-anak. Keduanya memberlakukan satu jam belajar wajib bagi anak di rumah setiap malam, yakni pukul 19.00-20.00 Wita. Setelah belajar, anak-anak baru diperbolehkan untuk menonton ataupun langsung tidur. Karena, di rumahnya anak-anak diwajibkan tidur tidak beloh lebih dari pukul 22.00 Wita. Jam belajar ini dilakukan selama enam hari, kecuali malam minggu, karena malam minggu bebas bagi semua anak.
Bagi kelurga ini, seseorang bisa jadi sukses karena pendidikan. Untuk bisa mencapai apa yang diinginkan orang harus belajar sehingga anak- anak dididik untuk tahu tugas dan kewajiban sebagai seorang anak sekolah.
Ditengah kesibukannya bekerja dan kebiasaan yang diterapkan di rumah, keduanya tidak lupa membawa anak-anaknya untuk melakukan refresing. "Kebiasaan refresing ke luar kami lakukan sebulan sekali. Biasanya saya bawa mereka ke gua monyet. Karena hanya itulah kemampuan saya. Tetapi kalau tidak sempat, biasanya kami memilih hari minggu sebagai hari santai di rumah bersama anak dan keluarga," kata pria asal Manggarai ini. (*)


Pos Kupang, Minggu 27 Juli 2008, halaman 12
Lanjut...

Aku Terlanjur Mencintai Dia

Cerpen Jose Andrade

KALA itu, hari Sabtu dan hari telah sore, merah mentari kian meremang dan mengayunkan langkahnya perlahan menuju tempat peraduannya. Angin petang berhembus tanpa henti sembari membelai rambut kelam panjang Si Ria yang sedang bersandar pada sebuah kursi kayu tua. Keningnya terus digoda, kaos putih saljunya terus menyengati dia akibat hembusan angin.

Namun Ria tetap dalam kebisuannya, ia diam tanpa kata terlontar dari bibirnya yang manis,Tangannya menopang dagu, keningnya kian mengerut dan alisnya membayang, nampak Ria sedang memikirkan seribu satu macam duka lara kehidupan yang ia jalani demi hari demi hari yang tak kunjung usai.

Fajar sudah membuyar, gulita malam pun datang menghampiri Ria yang duduk termenung sendirian. Entah mengapa mata Ria yang berkedip-edip berkaca, pipiya lembab karena air kesedihannya tak tertahankan lagi. Senyumnya pun menjadi hambar, bibirnya yang mengatup erat menggetar sedih, "Aku benci.... dan sangat membenci diriku, mengapa nuraniku menderita?


Dulu Kobe yang memanahkan cintanya di hatiku telah pergi, Ibnu yang sangat sayang padaku mengkhianatiku, Rick yang aku cintai telah dirampas oleh teman sekelasku, dan sekarang Boy yang sangat memperhatikanku sudah tidak peduli lagi denganku. Ah... aku malu dengan diriku sendiri, muak melihat diriku...". Sesaat kemudian suara itu menghampa dan berada dalam kesenyapaan lagi.

Tiba-tiba Ria terjaga dari lamunannya karena hembusan angin malam semakin kencang dan desah dedaunan mengusiknya serta desuh pintu karena diketok, namun ia berusaha mengatasinya dan kembali pada permenungannya. Lalu Ria mulai membayangkan Boy di kejauhan yang tak kunjung datang sembari berkata, "Aku yakin boy sangat mencintaiku, ia tidak akan meninggalkan aku . Aku.. yakin seandainya malam ini dia bersamaku, aku tak mungkin termenung sendirian di tengah kesepian malam yang sangat menyakitkan ini.

Boy pasti akan membawaku berjelajah jauh ke angkasa yang nan jauh, di sana aku bisa menyentuh bintang dan bulan yang terang-benderang dan aku tidak akan kedinginan seperti ini karena aku berada dalam pelukannya, ah...".

Desah-desuh pintu kian menguat, Ria akhirnya tersadarkan dari khayalan, ia segera bergegas menuju pintu rumahnya yang berangka kayu dan beratapkan seng yang berada di sampingnya dan disertai rasa penasaran. Ria mulai mendekapkan tangan kanannya pada gagang pintu lalu membukanya, ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah Boy, orang kesayangannya. Ria tercegang melihat suatu keistimewaan pada kepribadian Boy.

"Selamat bertemu sayang", tandas Boy. Betapa senangnya Ria karena kerinduannya terpecahkan, harapannya tercapai, kedalaman rindunya terobati dan ia tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Ia merasa dirinya seperti suatu yang selalu dikunjungi dan dielus-elus oleh seokor kupu-kupu yang warnanya menghidupkan. Sehingga ia mendekap erat tangan Boy tanpa berkata dan menarik Boy masuk. Air mata Ria kering seketika, senyumnya kembali manis, matanya memancarkan kehangatan cinta pada Boy dan aurora hati yang terpadam bersinar lagi.

Keduanya saling memandang dengan penuh kemesraan. Kelihatannya mereka sedang merajut kembali benang cinta yang hampir putus. Kemudian Ria menggoda, "Ayo jujur !kamu mau mengajakku jalan-jalan malam khan? tidak usah bohong, karena kamu berpakaian rapi sekali, tapi.. aku belum siap sayang... jadi kamu harus menunggu". Boy mulai mengelus sepatu katsnya karena ia semakin bingung dan pikirannya terpecah-belah.

"Kemana saja selama ini, sayang ? Aku sangat rindu akan kehadiranmu...". Boy diam.. Nampaknya suara Boy telah disergap oleh keheningan sehingga tidak ada lagi deru nada suara.

Sembari menahan kesedihan dan air mata yang hampir menetas, Boy memecahkan keraguannya dengan desah suara," Maafkan aku Ria. Aku sangat mengerti dan tahu bahwa engkau sangat mencintaiku, cintamu padaku tak bersyarat dan memang aku lahir untuk dicinta kamu, sayang..., tapi...". "Tapi apa?" sambar Ria. "Tapi cinta menghendaki lain, ia menghendaki aku membagikan diriku untuk aku lain. Dan ada orang jatuh cinta padaku bahkan cinta-Nya melebihi cinta, cinta-Nya melampaui kedalaman cintaku. Aku sangat merasakan besar sukacita akan cinta-Nya. Aku terlanjur mencintai Dia.


Bukan hanya aku tetapi banyak orang jatuh cinta pada-Nya. Cinta-Nya telah mengikat hatiku sehingga aku tak mampu berbuat apa-apa . Terus terang aku telah terjerat tali cinta-Nya".

Mendengar perkataan itu, hati Ria terbalut kabut sedih yang menyakitkan. Ia merasa seperti seorang yang terdampar di tengah samudera luas. Dalam kesedihan yang tak tertahan ia berseru, "Terima kasih... Boy.

Padahal kamu tidak mencintai aku lagi. Lantas kamu beralih pada wanita lain. Apa salahku? Apa kekuranganku, apakah aku tidak baik padamu? Atau sangkamu bahwa aku tidak mencitaimu lagi sehingga kamu tidak memperhatikanku seperti dulu. Ternyata kamu itu pendusta, kamu hanya mempermainkan aku dengan panah cintamu, kamu... memenjarakan hatiku Boy. Setelah itu kamu membiarkan kau sendiri yang memikul berat ini, kamu..." Ria berhenti berbicara karena iringan tangis dan air mata terus menetes serta kehabisan bahasa.

Boy mencoba untuk menenangkan Ria dengan kata-kata. "Ria, aku sangat mencintaimu dan aku tahu kamu juga mencintaiku. Cintaku padamu bukan karena selama ini kamu mencintaiku. Tetapi karena aku yang memcintaimu. Aku aku sadar bahwa kau hadir dan ada di jagat ini untuk mencintai dan dicinta. Namun perlu cintaku bebas. Ria sayang, mencinta seseorang tidak berarti memiliki melainkan memberi kebebasan cinta pada orang yang dicintai. Itulah cinta sejati. Cinta itu tidak bisa dimiliki sendiri, ia hanya bisa dimiliki dengan mencintai semua orang tanpa batas. Cinta akan selalu memberi kebebasan kepada kita untuk memilah dan memilih jalan kehidupan kita masing-masing.

Apabila mencinta, ada prinsip senang dan bersyarat, itu bukan cinta. Ria kalau kamu sungguh mencintaiku, biarkanlah aku mengembangkan cintaku untuk mencintai kehidupan ini, sebab hidup ini hanyalah pinjaman dari Allah, supaya kita mengembangkan cinta untuk mencintai semua orang. Sayang ... maafkanlah aku! Aku terlanjur mencintai Dia. Aku mencintai orang itu bukan karena apa-apa, tetapi Dia telah mencintaiku sebelum kamu mencintaiku. Cinta-Nya tulus, dan betapa luas dan dalamnya, tinggi dan lebarnya cinta-Nya, sehingga melampaui aku. Sayang... karena itu aku buka jatuh cinta pada wanita lain, tetapi aku mau menjawab cinta Kristus yang telah ada dalam diriku semenjak aku ada di dunia. Dan cinta-Nya tanpa batas padakuö. Dengan halus Ria mendesah, ô Kamu ingin menjadi pasrtor...?"

"Ya... sayang. Benar yang kamu katakana. Maka lepaskanlah aku pergi menjalani hidup baru dengan cintaku", balas Boy.

Ria amat sedih. Duka seribu duka terus bertambah, saat mendengar itu. Ia masuk lagi ke dalam kesepian senyapa dan tak ada lagi kata yang keluar dari bibirnya. Boy menambah bicara, "Aku datang kesini ingin mengucapkan terimah kasih yang berlimpah kepada sekaligus selamat berpisah kepada orang yang baik dan pernah aku lihat, kenal dan terlebih pernah hadir dalam saban sanubariku, terima kasih. Aku yakin bukan aku saja bisa membahagiakan kamu, tetapi masih ada orang lain yang lebih membahagiakan kamu. Selamat jalan sayang...!" Setelah itu, Boy keluar dari rumah Ria dan pergi.

Alangkah sedih hati Ria, kerinduan tinggal kerinduan. Dengan kebisuannya ia hanya bisa menatap kepergian Boy dengan iringan air mata. Kesedihan Ria tak diketahui oleh siapa-siapa mungkin hanyalah malam mencekam yang tahu dan sapu tangannya menjadi saksi bisu atas rasanya. Dalam hati kecil Ria beruntai "Mungkin aku ditakdirkan untuk bersedih". (*)


Pos Kupang Minggu 27 Juli 2008, halaman 6 Lanjut...

Puisi-puisi Siprianus Atok

Goyang Patah-Patah

Dalam goyang patah-patah ,
Aroma birahi merias kedalam waktu kita.
Kegugupan merintangi diri
Sementara keterbatasan manusiawi nyata dalam liukan
Lantaran kericuhan jiwa terlalu ganas mencengkram diri.
Memang di antara putaran waktu,
Bukan hanya ada aku tersenyum manja
Pada birahi yang tak mampu dipendam jiwa
Dimana senyum jiwa hilang diterpa kericuhan jiwa kita
Namun seharusnya senyum kita bisa merias kehidupan abadi,
Melampaui gemuruh gairah kini
Gisting-Lampung Agustus, 2006,


Atas-Bawah Hanya Kau

Minggu lalu aku aku hadir dalam dekapmu di sebuah kamar tidur
Sebelumnya aku meliuk-liuk di atas pentas diskotik, sebelum kau menuntunku ke sana, ke kamar itu
Yang datang bukan hanya tukang ojek, buruh bangunan,
Tapi juga para pejabat pemerintahan
Aku tak punya banyak waktu untuk berkata-kata dengan mereka
Sebab waktu terlalu singkat
Untuk melayani begitu banyak orang
Yang datang dan pergi.
Uang memang cukup untuk hari ini
Karena mereka datang untuk menikmati aku,
Bukan mencintai aku.
Jakarta , 5 Juli 2007


Pos Kupang, Minggu 27 Juli 2008, halaman 6
Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda