Catatan Ziarah dari Israel (3)


ISTIMEWA
DI YERUSALEM--Rombongan peziarah Capriasi Indonesia pose
bersama di Kota Yerusalem

Selamat Tinggal Yerusalem


Oleh: Joshenone Jodjana

SEMILIR angin senja tidak meredakan cuaca panas di Kota Yerusalem. Masih terbawa perasaan haru, Minggu 15 Juni 2008, rombongan peziarah Capriasi Indonesia meninggalkan Kota Yerusalem. Dalam temaram senja, kami menyusuri jalan keluar Kota Mulia itu untuk melanjutkan ziarah ke Jericho. Dari Jerico kami menuju Qumran, tempat ditemukan gulungan Kitab Suci Nabi Yesaya oleh anak penggembala suku Bedouin. Siang sudah tiba, kami pun mengisi kampung tengah (perut) yang mulai lapar. Usai makam siang kaki berendam di Laut Mati.

Laut Mati terletak 1.300 kaki di bawah permukaan laut, merupakan titik terendah di permukaan bumi. Dinamakan Laut Mati karena tidak ada satu pun hewan yang bisa hidup di dalamnya. Kandungan garamnya sangat tinggi, sekitar 28 persen. Oleh karena itu, tubuh setiap peziarah yang mandi di laut itu mengambang di air tanpa harus melakukan banyak gerakan. Rombongan kami tidak ketinggalan ikut berendam dan melumuri badan dengan lumpur Laut Mati. Ini dengan harapan bisa awet muda atau yang kulitnya sering gatal-gatal dipercaya bisa hilang penyakit gatalnya kalau diolesi dengan lumpur Laut Mati.


Keesokkan harinya, Senin (16/6/2008), semua peserta sudah pada cantik dan awet muda berkat lumpur Laut Mati. Selanjutnya kami mengunjungi Gereja Segala Bangsa dan Taman Gethsemani. Taman Gethsemani terletak di kaki Bukit Zaitun. Menurut Santu Yohanes, tempat ini sangat disukai Yesus (Lukas 22;39). Di dalam taman ini ada pohon zaitun dan bunga-bunga yang indah. Juga ada satu pohon zaitun yang diperkirakan berumur sejak zaman Yesus Kristus, karena memang pohon zaitun bisa bertahan beribu-ribu tahun. Kami memgambil foto pada pohon zaitun itu. Di dekat Taman Gethsemani ada sebuah gereja, yakni Gereja Gethsemani.

Ketika tiba di gereja ini umat setempat sedang misa, dan kami pun ikut misa suci. Gereja Gethsemani yang asli dihancurkan oleh bangsa Persia, kemudian dibangun kembali dan dihancurkan lagi. Dan, pada tahun 1919-1924 ada 16 negara yang mendanai pembangunan kembali gereja ini. Maka gereja itu disebut Gereja Segala Bangsa.

Dari Gereja Segala Bangsa, rombongan Capriasi Indonesia menuju Pater Noster Church. Gereja ini dibangun di atas tempat di mana Yesus biasa mengajar murid- muridnya Doa Bapak Kami. Pada dinding serambi geraja tertulis dalam 62 bahasa Doa Bapak Kami, termasuk Doa Bapak Kami dalam bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Batak dan bahasa Sunda.

Banyak tempat bersejarah yang kami kunjungi, semua terdapat dalam Injil, yaitu Caesarea, kota pelabuhan Haifa, Gereja Dominikus Flevit, Kapel Kenaikan, Einkarem tempat pertemuan Maria dan Elizabeth sepupunya yang lagi mengandung. Sebelum makan siang, kami mampir ke tempat bersejarah di Gunung Carmel, yang terkenal di Haifa. Di Gunung Carmel, Nabi Ellia menantang imam-imam dewa Baal dan mengalahkan 450 imam Baal. Di kaki Gunung Carmel ada gua suci tempat perlindungan Nabi Ellia selama pelarian dari raja Ahab. Dan, di atas gua didirikan Gereja Stella Maris yang merupakan biara pusat Carmel.

Bagi umat kristiani, Capernaum bukan nama baru. Kota itu merupakan bagian dari kisah perjalanan Yesus. Di Capernaum itulah Yesus banyak melakukan mujizat (Lukas 4:31- 41). Capernaum juga dicatat dalam sejarah gereja sebagai tempat tinggal Petrus. Di tempat itu Yesus melakukan mujizat menyembuhkan mertua Petrus yang sakit demam. Mujizat lainnya di Tabgha, tempat Tuhan Yesus melipatgandakan roti dan ikan (Markus 6:36-44). Ini terlihat pada mosaik yang menggambarkan keranjang roti dan dua ekor ikan.

Perjalanan selanjutnya ke Kota Kana. Dalam catatan sejarah gereja, Kota Kana terkenal karena di situlah Yerus pertama kali membuat mujizat dengan mengubah air menjadi anggur (Yohanes 2:1-11). Kami pun mengunjungi Gereja Kana. Pada kesempatan itu bagi pasangan suami-istri yang ingin mengukuhkan ikatan pernikahan ada upacara pengukuhan di gerja tersebut. Di antara anggota rombongan kami ada empat pasang yang dikukuhkan kembali ikatan pernikahannya. Setelah acara pengukuhan, empat pasanagn itu mendapat sertifikat. Selesai upacara ada sedikit acara bebas bisa beli anggur yang asli dan paling terkenal di Kana.

Baptis Ulang di Yordan
Selasa, 17 Juni 2008, awan pagi menyelimuti Kota Capernaum. Kami naik perahu menyusuri Sungai Tiberias nan teduh. Sungai Tiberias bentuknya seperti harpa. Nama Tiberias diambil dari bahasa Ibrani, Tiberias Konneret, yang artinya harpa. Di sungai inilah Yesus dan murid-muridNya naik perahu dan mengalami badai yang luar biasa. Namun, Tuhan Yesus dengan tenang membuat mujizat dengan sekali berkata badai pun langsung tenang (Mat 8: 23-27). Kami pun berkeliling dengan perahu di Sungai Tiberias.

Setelah menyusuri Sungai Tiberias, kami menjejak Nazaret. Sejarah gereja mencatat, Nazaret adalah tempat tinggal Yusuf, Maria dan Yesus. Kami menyusuri jalan-jalan di Nazaret. Tidak ketinggalan kaki kami pun melangkah ke Gunung Tabor. Di tempat inilah Yesus dimuliakan (Lukas 9:28-36).

Hari beranjak siang, kami pun mengisi perut yang mulai 'keroncong'. Kami makan di mozaik ikan Petrus. Menikmati 'ikan petrus' yang lezat, padahal kami sudah berangan- angan menikmati makanan ala Indonesia. Namun, ketika menikmati makan 'ikan petrus' kerinduan akan masakan Indonesia seakan hilang.

Pada Rabu, 18 Juni 2008), ziarah kami dilanjutkan ke Sungai Yordan. Di kalangan orang kristiani, Sungai Yordan dikenal sebagai tempat Yesus dipermandikan oleh Yohanes pembaptis. Oleh karena itu, ada peziarah yang ke Sungai Yordan untuk melakukan baptis atau baptis ulang dengan memakai jubah putih. Dalam rombongan kami banyak yang melakukan baptis pertama dan baptis ulang, rededikasià.

Berkunjung ke Sungai Yordan merupakan perjalanan terakhir ziarah kami di Israel. Kami pun akhirnya harus meninggalkan Tanah Perjanjian dengan penuh haru. Dalam perjalanan pulang dari Sungai Yordan kami singgah di Malaba dan Gunung Nebo. Dalam kisah perjalanan panjang selama 40 tahun bangsa Israel dari Mesir ke Tanah Perjanjian, pemimpin bangsa Israel, Musa hanya melihat Tanah Perjanjian dari kejauhan di Gunung Nebo. Sebagai bukti sejarah, di Gunung Nebo kini ada tongkat Musa. Kami sempat melihat tugu tongkat Musa. Di sini, di tempat ini akhir dari ziarah kami di Tanah Perjanjian, Israel. Keesokan harinya, Kamis, 19 Juni 2008, kami kembali ke Indonesia melalui Dubai-Singapura - Jakarta.
Tak ada kata yang paling indah kami ucapkan, kecuali bersyukur kepada Tuhan atas penyelengaaraanNya sehingga kami berkenan menjejak Gunung Sinai, Yerusalem, Bethlehem, Nazaret, Tiberias, Yericho, Laut Mati, Sungai Yordan, Tembok Ratapan,Via Dolorosa, Capernaum, Laut Mati, Gunung Carmel, dan tempat lainnya di Israel. Saya sungguh terkenang Yerusalem. Jika Tuhan berkenan, suatu waktu nanti saya akan kembali berziarah ke Tanah Perjanjian, Israel. (habis)

Pos Kupang Minggu, 27 Juli 2008 halaman 11
Lanjut...

Tentara pun Peduli Lingkungan

Foto POS KUPANG/ALFRED DAMA
SIRAM TANAMAN--Anggota TNI AD dari Korem 161 Wira Sakti Kupang ini sedang menyiram tanaman sengon di sisi barat Jalan El Tari 2 Kupang Kamis (16/7/2008) lalu.

Laporan Alfred Dama dan Beni Djahang/Wartawan Pos Kupang

ANGIN tenggara yang bertiup cukup kencang tidak menghentikan langka Kopral Dua (Kopda) Yohannes menyirami deretan tanaman sengon di sisi utara ruas Jalan El Tari 11, Kamis (17/6/2008) pagi. Sambil menentang dua jerigen berisi air, masing-masing ukuran lima liter, prajurit TNI dari Komando Resor Militer (Korem) 161 Wirasakti Kupang ini menyirami satu-persatu tanaman sengon.

Sambil membungkukkan badan, pria berkulit gelap itu menyirami tiap-tiap anakan pohon. Matanya yang tajampun menatap dengan seksama setiap anakan saat ia menyiram, sehingga tumpahan air dari mulut jerigen tidak membuat anakan pohon yang baru berumur dua bulan itu tidak terganggu. Meski sangat hati-hati, wajahnya nampak begitu ceria saat menyiram. Sesekali jari-jarinya memperbaiki pagar kecil yang mengelilingi tanaman tersebut. Pagar itu bertujuan untuk melindungi tanaman tersebut dari hewan peliaraan warga seperti kambing yang masih berkeliaran bebas di tempat itu.


Tidak nampak sikap kerasnya ketika menghadapi tanaman itu, bahkan kelembutan tangannya saat menyiram tanaman tersebut. Deru mesin kendaraan baik roda empat maupun roda dua yang melintasi ruas jalan protokol itu sama sekali tidak dihiharukannya. Ia asyik dengan tanam-tanaman yang disiraminya itu.

Bukan Kopda Yohanes saja yang ada di tempat itu. Ada sekitar lima orang anggota TNI yang ada di tempat itu. Mereka pun baru selesai menghabiskan air yang mereka bawa dari rumah masing-masing untuk menyiram tanaman-tanaman untuk penghijauan tersebut. Usai menyiram, mereka tidak langsung "balik kanan", tetapi memperhatikan tanaman yang baru saja disiram. Merekapun menyiangi tanaman dan memperbaiki pagar-pagar. Sambil bercengkrama mereka melakukannya.

"Kami juga peduli lingkungan, makanya kami senang bisa siram tanaman ini. Kalau ini sudah besar, kami senang juga," kata salah satu dari anggota TNI di tempat itu saat ditemui Pos Kupang.

Para prajurit TNI itu mengaku, mereka menyiram tanam-tanaman itu dua kali dalam seminggu. Sementara air yang mereka gunakan dibawa sendiri dari rumah masing- masing. Menurut mereka, dua jerigen air masing-masing ukuran lima liter yang harus dibawa setiap orang, bukanlah pekerjaan yang berat.
Mereka biasa menyiram tanaman di jalan itu antara pukul 06.00-09.00 Wita. Bahkan mereka masih betah memperhatikan tanaman di sana sampai sekitar pukul 10.00 Wita.

Komandan Korem (Danrem) 161 Wirasakti (WS) Kupang, Kolonel (Inf) Winston Pardamean Simanjuntak melalui Kepala Penerangan (Kapenrem), Kapten (Inf) Paulus dan Asisten Teritoral (Asiter), Mayor (Kav) Fatchur R yang ditemui di Makorem 161 Wirasaksi-Kupang, Kamis (24/7/2008), mengatakan, di sepanjang sekitar dua km di Jalan El Tari 2-Liliba ditanam sekitar 1.500 anakan pohon mahoni dan sengon. Jumlah tersebut merupakan bagian dari 2.270 anakan pohon yang ditanam jajaran Korem di Liliba dan komples Kampus Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang beberapa waktu lalu.

Kapten Paulus menjelaskan, setiap anggota Korem yang menanam pohon tersebut diperintahkan untuk menjaga dan merawat, termasuk mengganti kalau ada yang mati. Dan, tugas ini harus dilaksanakan dengan baik oleh tiap personil. Artinya, tiap anggota bertugas menjaga dan merawat tanaman tersebut hingga tanaman itu tumbuh menjadi besar.

Asiter, Mayor (Kav) Fatchur R menjelaskan, aktivitas tanam menanam tersebut mulai dilaksanakan pada 5 Juni 2008 lalu atau bertepatan dengan hari lingkungan hidup. Sebanyak 200 personil dikerahkan untuk menanam dan menjaga tanaman tersebut. "Pesan komandan (danrem) adalah tanaman itu jangan sampai mati," jelas Fatchur.

Pesan tersebut langsung dijabarkan anggota dengan membuat pagar tanaman agar terlindung dari ternak warga yang masih dibiarkan berkeliaran di tempat itu dan melakukan penyiraman dua kali dalam seminggu. "Sementara ini, penyiraman dilakukan oleh personil yang airnya diupayakan sendiri," jelasnya.

Tapi, mulai Agustus nanti, pihaknya berencana menata kembali proses penyiraman tersebut. Dan, Korem akan meyediakan air dua tangki setiap kali penyiraman. Proses penyiraman tetap dilakukan seminggu dua kali. "Proses perawatan tanaman ini juga akan dikoordinir langsung oleh perwira Korem," jelasnya.

Aksi cinta lingkungan tersebut merupakan inisiatif Danrem Winston Simanjuntak bersama Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe dan Rektor Undana, Prof. Ir. Frans Umbu Datta. Ini juga merupakan wujud kepedulian TNI pada lingkungan. Selain kepentingan menghijaukan Kota Kupang, aksi penanaman pohon yang melibatkan 200 personil TNI tersebut bertujuan menciptakan medan juang yang kondusif dan mendukung pelaksanaan tugas TNI. "Tapi yang jelas ini juga bentuk kepedulian TNI terhadap pemanasan global serta menciptakan lingkungan yang hijau," jelasnya.

Terlepas dari perintah sang komandan, aktivitas para anggota TNI AD tersebut telah memberikan sumbangsi pada penyelematan lingkungan. Padahal, tugas mereka adalah mempertahankan negara dari ancaman secara militer baik dari dalam dan luar negeri. Para anggota TNI tersebut juga sudah mengajarkan arti cinta lingkungan dan sadar atau tidak, anggota TNI ini sudah ikut menyelamatkan bumi dari ancaman pemanasan global. (*)

Pos Kupang Minggu 27 Juli 2008, halaman 14


Lanjut...

Tak Sangka dan Tersangka

ASYIK juga mengikuti alur kisah Jaksa Urip Tri Gunawan yang lagi naik daun gara-gara kasus PTT alias Pemerasan Tingkat Tinggi. Kasus ini membuat banyak orang terkenal jadi tambah terkenal. Catat saja nama Artalyta Suryani, kolega konglomerat Sjamsul Nursalim pemilik Bank BDNI, Glenn Yusuf mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional.

Sungguh tak disangka bahwa yang jadi tersangka orang-orang besar semua. Perpendidikan tinggi, status sosial tinggi, hidup di kalangan kelas tinggi, pokoknya semuanya tinggi. Tetapi siapa sangka kalau perilakunya membuatnya menjadi tersangka? Ada yang takut dijadikan tersangka, ada yang namanya dihapus dari golongan tersangka, sesuai keinginan oknum penegak hukum, yang penting doku alias duit alias doi masuk kantong.


Apa benar Jaksa Urip menjadi aktor utama? Kalau dilihat dari tampangnya di tivi, koran, dan media masa lain, sepertinya tidak mungkin.

Apalagi yang namanya Artalyta benar-benar si cantik yang menjanjikan duit. Benar-benar kelas kakap. Coba saja perhatikan kesaksian Reno Iskandarsyah pengacaranya Glenn Yusuf yang percakapannya termuat di koran, di tivi, di radio dan lain-lain. Ketika itu Reno memberikan uang Rp 110 juta.
"Urip minta digenapin. Reno tanya genapin berapa Pak? Urip langsung tembak 1 M. Reno terkejut bukan main dan tidak yakin kalau kliennya bisa siapkan uang satu gudang untuk Urip.

Tetapi Urip malas tahu dan memaksa supaya Glen melalui Reno minta duit 1 M di Syamsul Nursalim. Sambung sinambung cukup alot, akhirnya pemerasan 1 M jadi juga," jelas Rara. "Kalau tidak percaya baca saja sendiri atau nonton berita tivi tiap malam. Benar-benar tak sangka," komentar Benza.
***
"Cukup!" Potong Benza. "Jangan dilanjutkan."
"Satu lagi nih! Reno kirim SMS kalau kliennya sanggup bayar 1 M dalam bentuk dolar dan Urip langsung telepon dan marah-marah katanya nggak usah SMS begitu, kampungan sekali, telpon saja! Mungkin takut SMS-nya kebaca orang lain. Eh, tak tahunya rekaman suaranya diperdengarkan penyidik. Apes benar!"

"Sudahlah, jangan ngomong serbuk di mata orang!" Kata Benza.
"Ini bukan serbuk tetapi balok!" Potong Jaki.
"Ya, jangan bahas balok di mata orang, balok di matamu sendiri lebih besar lagi! Kalau Urip dkk itu gaya Jakarta. Bukankah kamu pakai gaya kampung kita?"

"Satu lagi nih." Rara tidak peduli "Belum tahu kamu rekaman pembicaraan oknum anggota Dewan di Jakarta sana. Sudah ngemis minta duit, minta disiapkan perempuan penghibur lagi! Hancur bukan? Jadi bagaimana mungkin engkau meminta kami berdua jangan ngomong?"

"Sama dengan kamu kan? Jadi tidak usah banyak bicaralah! Status kalian sama, suka peras, manipulasi dengan gaya berdasi. Sungguh tak sangka kalau satu saat nanti kamu berdua benar-benar jadi tersangka."

"Jangan maen tuduh begitu, teman! Ibarat rumah, lantai rumah kami selalu bersih. Jadi kita wajib memberi peringatan kepada para orang besar - yang tak sangka sudah jadi tersangka itu - mereka yang tinggalnya di loteng dan di atap jauh di pusat sana. Supaya jangan malu-maluin,kalau mau korupsi pakailah teknik terhormat begitulah!"

***
"He he he teknik terhormat katamu? Pencuri berdasi ya? Pantas saja. Kamu berupaya menyapu lantai bersih-bersih tetapi lotengnya kotor, ya lantai lebih kotorlah kejatuhan sampah dari loteng. Sekali tiga uang alias sami mawon alias sama saja." Kata Benza sambil tertawa.

"Tetapi kamu cuma kelas teri, tentu beda dengan kelas kakap!" Rara membela diri. "Yang penting kami bukan tersangka. Kamu juga tak sangka kalau teman seperjuangan kami di Jakarta jadi tersangka," Rara meminta persetujuan Jaki.
"Teri dan kakap rasanya saja berbeda. Besarnya juga berbeda. Harganya juga berbeda. Nol di belakang angka satu sampai sembilan juga beda. Kalau kakap nolnya sembilan sampai dua belas, kalau teri nolnya enam. Bagaimana mungkin dituduh sama?' Kata Jaki.

"Kakap atau teri tergantung situasi kondisi bukan? Ada teri berdaging kakap ada kakap berpura-pura jadi teri," Rara menjebak dirinya sendiri.
"Dalam hal ini tampaknya tidak ada bedanya kelas teri dan kelas kakap," komentar Benza. "Tak adanya bedanya juga Urip atau Rara, Urip atau Jaki. Semuanya sama dengan. Tak ada bedanya juga tak sangka dan tersangka!" (maria matildis banda)

Pos Kupang, Minggu 27 Juli 2008, halaman 1
Lanjut...

Inche DP Sayuna, S.H, M.Hum

Berpolitik dengan Perspektif Gender

Oleh Alfons Nedabang/Wartawan Pos Kupang


PADA
Tahun 2009 mendatang, masa tugas Inche DP Sayuna, S.H, M.Hum sebagai anggota DPRD NTT akan berakhir. Hingga waktu itu, sepuluh tahun sudah ia mengabdi untuk masyarakat dan daerah. Ia pun menegaskan bahwa tidak mau berhenti berkiblat di dunia politik. "Saya menikmati politik," ujar Inche Sayuna.

Ditemui di kediamannya di Liliba, Kota Kupang, beberapa waktu lalu, istri dari Hengki Famdale dan ibu dari Grace Natalia Putri Hengki Famdale ini banyak berceritra tentang dunia akademik yang sudah ia tinggalkan, awal mula meniti karier politik, kehidupan keluarganya, tentang predikat barunya sebagai Miss Gender dan obsesinya. Berikut petikan wawancara wartawan Pos Kupang, Alfons K Nedabang, dengan wanita pengagum Margareth Teacher ini.


Bisa ceritrakan awal mulanya Anda berpolitik? Saya tidak pernah punya cita-cita sebagai anggota DPRD. Awalnya saya seorang akademisi, dosen di Unkris (Universitas Kristen Arta Wacana Kupang). Setelah lulus dari Unkris, saya angkatan pertama, langsung mengajar. Mengajar selama 1989 - 1996. Selama kuliah saya pernah menjadi mahasiswa teladan. Lalu diutus sekolah di Universitas Gajah Mada. Kami ada tiga orang ikut tes rebut satu beasiswa, dan saya yang dapat. Beasiswa sampai S3, karena saya punya cita-cita menjadi dosen yang terkenal. Tahun 1999 gelombang reformasi, ada tawaran dari Partai Golkar untuk menjadi anggota DPRD NTT mewakili Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Pada saat itu saya masih mengikuti pendadaran tesis di Gajah Mada. Saya bingung karena cita-cita jadi dosen terkenal belum tercapai. Namun karena saya ingin mencoba sesuatu yang baru maka saya putuskan untuk menerima tawaran itu. Saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari kampus. Selesai pendidikan di Gajah Mada saya terjun politik. Pada pemilu 1999, saya menjadi anggota Dewan. Pada Pemilu 2004, saya kembali terpilih menjadi anggota Dewan.

Kenapa tertarik pada politik? Waktu disuruh pilih untuk terjun ke politik, saya melihat bahwa saya punya minat ke politik ada. Sebelum ngajar di Unkris, saya sangat aktif di organisasi dari tahun 1985. Masuk AMPI (Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia), di HWK (Himpunan Wanita Karya), KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia). Tahun 1999 masuk menjadi pengurus Partai Golkar. Aktif di organisasi ini membuat saya mengenal banyak hal, termasuk politik. Saya juga aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Karena itu ketika ada tawaran saya coba dulu sesuatu yang baru. Saya sudah sepuluh tahun jadi akademisi, karena itu memulai sesuatu yang baru, dunia baru. Ternyata di politik, tidak saja berpikir tentang pendidikan tapi tentang semua hal. Saya berpikir harus berada dalam sistim agar bisa membantu pemerintah dan masyarakat yang lebih luas.

Bukan karena penghasilan seorang dosen swasta saat itu masih minim? Dunia kampus menarik buat saya. Sudah sangat saya suka. Penghasilan bukan jadi alasan karena menjadi dosen adalah cita- cita saya. Pertimbangan paling utama waktu itu ketika mereka hubungi saya, mereka bilang tidak ada kader perempuan yang mau direkomendasikan untuk duduk di DPRD. Semua kader perempuan waktu itu ada di lembaga eksekutif, menjadi pegawai negeri sipil. Sehingga tawaran itu saya terima.

Pandangan Anda tentang politik? Kalau kita omong soal politik, sesuatu yang berkaitan dengan kekuasan, pengambilan keputusan, dalam pengertian yang formal. Karena itu, bagi saya politik itu adalah suatu seni untuk mengelola kekuasaan dan bagaimana mengelola strategi mengambil keputusan yang berdampak pada orang banyak. Ini yang membuat saya berpikir lebih luas lagi dan bisa menjangkau orang lebih banyak lagi. Bagaimana pergunakan potensi yang saya punya, tidak saja berpikir tentang dunia pendidikan tapi dalam berbagai aspek merambah ke situ. Selama ini praktek politik yang dimainkan pelaku-pelaku politik, baik dalam parpol maupun struktural birokrasi memberi kesan kepada publik bahwa politik itu sesuatu yang kotor, saling sikut menyikut, penuh intrik dan orang bisa menghalalkan segala cara untuk mengambil keputusan, orang bisa menghalalkan cara untuk mencapai kekuasaan.

Kondisi itu Anda rasakan? Saat pertama itu penuh dengan keterkejutan. Saya orang akademisi, apa yang ada dalam benak saya adalah sebuah idealisme yang lurus. Ketika ada di dalam itu ternyata apa yang saya pikirkan sendiri belum tentu bisa diterima orang lain. Saya berupaya mengkolaborasi pikiran saya dengan pikiran orang lain. Saya menyadari bahwa tidak ada orang yang sekolah khusus menjadi anggota DPRD. Saya dulu ngajar di Fakultas Hukum, tentu saya lebih banyak tahu tentang hukum. Persoalan kemasyarakatan hanya sedikit saya tahu, itu pun ketika berada dalam organisasi kemasyarakatan. Saya dituntut mengetahui banyak hal, misalnya belajar tentang menyusun pemandangan umum. Belajar membaca anggaran. Tahun pertama di DPRD saya pake belajar untuk memperdalam keterampilan- keterampilan yang dibutuhkan dalam lembaga. Saya tidak mau berada dalam lembaga hanya untuk dipakai pada saat voting dan minta baca pemandangan. Saya ingin memperjuangan misi perempuan. Kehadiran saya memberi warna untuk melakukan sebuah perubahan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang lebih ramah terhadap perempuan. Kebijakan yang responsif gender. Saya tidak ingin negara bayar saya dengan fasilitas yang luar biasa, lalu saya hanya duduk diam dan tidak berfungsi di lembaga itu.

Bagaimana cara Anda mengkolaborasikan pikiran? Memang tidak mudah bagi perempuan untuk diterima dengan baik dalam lembaga itu. Karena sistim yang dibentuk sudah sangat patriarkat. Pola pikir juga sangat patriarkat sehingga semua proses dan pengambilan keputusan itu juga sangat patriakat. Dan karena itu, perlu membangun sinergi dengan sesama teman-teman agar memberi ruang kepada perempuan untuk berekspresi sesuai dengan kapasitas yang dia punya. Tidak semua laki-laki menerima itu dengan positif. Jadi, sesuatu yang tidak mudah. Saya punya prinsip adalah saya harus berfungsi dengan baik, jaga moral saya supaya jangan bersentuhan dengan hal-hal yang dapat mencederai karya politik saya. Saya berusaha untuk menjaga sikap agar bisa diterima baik oleh orang lain. Jujur saja, setiap orang ingin menonjol. Saya berusaha untuk menempatkan diri saya dalam kapasitas yang baik, saya juga tidak ingin memaksa orang untuk memberi penilaian yang baik atau tidak baik kepada saya. Saya berusaha untuk melakukan tugas dan tanggung jawab secara baik. Membangun relasi positif dengan sesama teman-teman, saya berusaha untuk positive thingking, dan menganggap semua orang baik. Itu yang kemudian tidak ada beban bagi saya untuk berinteraksi dengan orang lain.

Anda berusaha mempengaruhi kebijakan pemerintah yang responsif gender. Apa yang Anda lakukan? Sebelum saya, sudah ada juga perempuan yang melakukan perjuangan yang sama. Artinya, ketika saya masuk, perjuangan saya sudah tidak seberat seperti apa yang dilakukan sebelumnya. Harus diakui bahwa tidak semua anggota Dewan paham dan sensitif gender. Oleh karena itu saya berusaha untuk berjejaring dengan teman anggota Dewan - laki dan perempuan. Juga berjejaring dengan orang-orang di luar DPRD, di eksekutif dan yudikatif. Semua organisasi perempuan yang konsen terhadap isu perempuan dan anak, kami berjejaring dalam sebuah jaringan yang difasilitasi oleh Biro Pemberdayaan Perempuan. Mereka menjadi sumber informasi dan motivator, membantu saya untuk berjuang di DPRD. Saya membangun komunikasi agar teman-teman Dewan bisa membantu minimal tidak menolak ketika menawarkan kebijakan. Yang belum paham tentang gender, kita undang sebagai narasumber dalam kegiatan. Dengan begitu mereka kita ikat secara moral. Di setiap kesempatan, saya juga mensosialisasi gender. Setiap percakapan, apa yang saya ungkapkan pasti bertolak dari isu gender, seperti susun pendapat komisi, pemandangan fraksi, bicara dalam forum diskusi dan seminar. Bagi saya itu media kampanye yang positif. Karena selalu sering omong tentang gender, teman-teman memanggil saya Miss Gender. Ibu gender, ha....ha...ha. Akhirnya, teman-teman komisi, fraksi memperhatikan hal ini. Saya senang karena sudah mulai berperspektif gender. Walaupun masih dalam tanda petik, karena ini juga jualan politik. Apakah komitmen itu diberikan secara jujur atau tidak, pasti dapat terlihat.

Jejaring perempuan, seperti apa itu? Bentuk organisasinya macam-macam. Ada jaringan perempuan yang konsern dengan isu politik, yang dinamakan Jaringan Perempuan dan Politik. Tugasnya bagaimana membuat perempuan memahami hak dan kewajibannya dalam politik. Ada jaringan yang bekerja di sektor kesehatan. Ada jaringan yang konsern dengan isu ekonomi. Ada juga jaringan yang konsern dengan isu agama. Semua jaringan yang bekerja itu kita himpun dalam satu wadah dan selalu berdiskusi. Saat bertemu itu kita omong tentang agenda bersama, yang disesuaikan dengan kebijakan pembangunan daerah..

Dalam perjuangan gender itu, adakah hal yang dirasakan membanggakan? Dan, apa yang mengecewakan? Oh...banyak hal. Yang membanggakan, pertama, kehadiran saya di DPRD, menjadi Ibu gender itu juga sebuah reward untuk saya. Lepas dari mereka suka atau tidak suka, itu sebuah pengakuan. Bahwa ketika bicara tentang isu gender, ada orang yang vokal membicarakannya di Dewan. Kedua, dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah isu itu sudah menjadi komitmen. Itu tidak terlepas dari perjuangan saya dan teman-teman. Ketiga, bagi saya adalah berhasil membangun sebuah jaringan yang kuat di antara sesama organisasi perempuan. Lepas dari solidaritas itu masih belepotan, bagi saya NTT sebagai contoh di mana perempuan-perempuan NTT bersatu dalam sebuah jaringan untuk mem-back up yang satu dengan yang lain dalam langkah perjuangan. Sebelum membahas anggaran, saya sudah kumpul teman-teman jaringan, membicarakan apa agenda kita tahun depan. Lalu bagaimana kebutuhan dana? Kami bagi peran, saya punya tugas adalah memperjuangkan agar kebijakan ini masuk dan anggaran ada. Ini pembagian peran yang sangat bagus, antara saya dan jaringan perempuan. Saya kira ini sebuah prestasi yang membanggakan. Sedangkan yang mengecewakan, saya lihat parpol belum mempersiapkan kadernya secara optimal untuk duduk di DPRD. Dan karena itu saya bilang teman-teman, bicara tentang hak, perempuan harus dipersiapkan secara baik untuk masuk dalam sistim. Jadi kita perlu dorong parpol untuk mempersiapkan kader perempuannya dengan baik. Kekecewaan dalam pengertian lain, saya berpikir begini, mengubah sesuatu yang tidak biasa menjadi biasa itu butuh proses dan membutuhkan waktu. Kami berjuang dengan sebuah paradigma berpikir, membutuhkan waktu untuk bisa berubah dan diterima dengan baik. Hal lainnya adalah banyak hal baik yang sudah dibuat oleh lembaga Dewan, dalam bentuk kebijakan dan rekomendasi pikiran, cuma eksekusi kebijakan di tingkat pemerintah itu yang lambat. Banyak pikiran-pikiran baik yang ternyata hanya sampai pada tataran konsep, sedangkan implementasi kecil sekali.

Berdasarkan pencermatan Anda, apa letak persoalan gender? Pola pikir patriarkat masih sangat dominan. Karena itu, walaupun sekarang ini begitu banyak organisasi perempuan yang turun melakukan sosialisasi, walaupun begitu banyak aturan yang sudah dihasilkan baik pada tataran nasional dan lokal yang memungkinkan untuk membuka isolasi itu, bagi saya sampai dengan saat ini, perjuangan untuk mengubah pola pikir itu masih cukup panjang. Tetapi kita bersyukur karena dari waktu ke waktu, isolasi itu makin tipis. Sekat itu makin tipis. Adanya aturan yang repsonsif gender, itu juga sebuah indikasi yang baik. Sehingga banyak orang mulai bicara tentang gender, termasuk media. Walaupun masih panjang untuk sampai pada titik yang setara, tetapi kemajuan yang dicapai sampai dengan saat ini, itu sesuatu yang menggembirakan. Bukan angin surga tapi angin segar. Perjuangan kita kan untuk mencapai kesetaraan, bagaimana laki-laki dan perempuan secara berimbang setara memiliki pengakuan terhadap hak masing- masing yang sama. Berjalan secara bersama-sama bergandengan tangan dalam kesetaraan untuk mengisi pembangunan.

Faktor utama yang menghambat? Yang utama itu budaya. Saya punya orang Timor. Walaupun kami sudah omong soal perempuan jadi pemimpin, bagi mereka itu sesuatu yang aneh. Ketika ada perempuan yang berani menyampaikan secara terbuka menjadi bupati, bagi dia ini sesuatu yang menakjubkan. Mereka yang di kampung-kampung sulit terima. Agak berbeda dengan perempuan kota, sudah tidak sulit untuk membicarakan tentang kesetaraan. Walaupun tidak semua orang tulus memberi pengakuan seperti itu. Saya akan merasa sangat bahagia kalau antara masyarakat kota dan akar rumput sudah memiliki pemahaman yang benar.

Salah satu indikasi kebijakan yang responsif gender adalah penetapan 30 persen kuota perempuan. Menurut Anda, apa pesan dari aturan itu? Kuota 30 persen adalah kebijakan sementara yang diberi pengakuan dan dilegitimasi oleh undang-undang pemilu. Dan parpol diminta untuk mengimplementasikan kebijakan itu dalam internal parpol. Memang tidak mudah. Partai Golkar juga sebagai penggagas aturan itu dan dalam aturan organisasi juga memberi ruang kepada perempuan. Tapi dalam implementasinya, sangat tergantung pada political will pimpinan parpol. Walaupun ada aspirasi dari bawah, tapi dalam rapat pimpinan parpol untuk menentukan rekruitmen kader dalam jabatan itu dalam rapat pimpinan khusus. Dan itu terbatas. Kuota 30 persen ini kebijakan yang menggembirakan perempuan. Tetapi karena kuota tidak memuat sanksi yang tegas bagi parpol, maka itu akan sangat bergantung pada kemauan baik pimpinan parpol dalam merekrut kader-kader perempuan untuk jabatan politik. Karena itu maka yang dilakukan Jaringan Perempuan dan Politik adalah membangun relasi lobi dengan pimpinan parpol supaya kader perempuan yang diinventarisir, sesuai pilihan politik perempuan itu sendiri. Kita serahkan kepada parpol dan parpol merekrut mereka dengan menggunakan aturan internalnya. Bagi saya sebuah upaya positif untuk kontrol yang dibangun Jaringan Perempuan terhadap parpol supaya parpol komit dengan undang-undang. Mudah-mudahan, dengan cara ini, bisa membantu menambah jumlah perempuan yang berpolitik. Agar kuota 30 persen terwujud, Jaringan Perempuan akan sebagai kekuatan penekan. Kita harapkan juga KPU melakukan sebuah imbauan yang bersifat menekan sehingga parpol bisa memberi peluang kepada perempuan. Berdasarkan inventarisasi yang dilakukan Jaringan Perempuan, sejak tahun 1999 dan sampai dengan saat ini, ternyata banyak perempuan yang sudah mempersiapkan diri untuk terjun dalam politik.

Dalam kaitannya dengan mempersiapkan diri, apa yang Anda lakukan? Saya banyak membaca. Banyak permintaan seminar, dialog dan diskusi itu membuat saya harus terus membaca. Itu sangat menolong menjaga kapasitas diri. Selain itu mengikuti berbagai pelatihan-pelatihan yang menurut saya baik untuk peningkatan diri. Rata-rata semua pelatihan dan kursus-kursus di tingkat nasional. Saya juga berlangganan media cetak dan majalah, cukup banyak.

Berpolitik banyak menguras waktu dan energi. Bagaimana Anda menjaga harmonisasi keluarga? Saya punya suami yang sangat memberi dukungan buat saya. Dia sangat mensuport saya untuk optimal di bidang saya. Kami dikaruniai satu anak. Karena itu yang dikembangkan untuk menjaga keharmonisan keluarga adalah pertama, komunikasi yang sehat. Kedua itu, kepercayaan. Suami memberi kepercayaan kepada saya dan saya sangat menjaga kepercayaan itu. Sebaliknya suami pun seperti itu. Kepercayaan itu harus ditumbuhkembangkan secara baik dalam kehidupan keluarga. Jika tidak maka akan menjadi ancaman.

Meski sibuk Anda masih terlihat energik. Apa rahasianya? Saya paling malas olahraga. Cuma saya bantu dengan suplemen. Macam-macam suplemen. Ada suplemen yang membantu aktivitas. Setiap bulan juga saya doping dengan vitamin C. Dan, minum air putih.

Obsesi Anda? Saya sudah sepuluh tahun di DPRD. Saya punya mimpi untuk kalau mungkin sudah tidak lagi di DPRD NTT. Bagi saya waktu sepuluh tahun itu sudah cukup lama. Saya ingin mengenal waktu yang baru lagi dan juga tidak menutup pintu bagi kader- kader yang lain. Saya punya cita-cita, kalau tidak masuk ke eksekutif maka masuk ke lembaga legislatif yang jenjangnya lebih tinggi. Saya punya mimpi ke DPR RI. Saya sadar itu sesuatu yang sangat tidak mudah, karena banyak orang yang mau. Dan, keputusan untuk berada di sana itu sangat tergantung pada DPP (Partai Golkar). Kalau memang tidak bisa masuk ke DPR RI, maka ke mana saja kaki melangkah ya itu. Saya punya prinsip, setiap langkahku diatur oleh Tuhan. Dan karena itu, saya punya keiginan besar tapi tentu keinginan saya belum tentu direstui Tuhan. Saya berdoa, serahkan. Yang jelas saya tetap berada di jalur politik. Saya belum mau berhenti berpolitik. *



DOK. KELUARGA Inche DP Sayuna beserta keluarga BIODATA Nama : Inche DP Sayuna, SH, M.Hum Lahir : 11 Desember 1966 Suami : Hengki Famdale (Notaris PPAT/pengusaha) Anak : Grace Natalia Putri Hengki Famdale (Kelas 4 SD) Hobi : Membaca Tokoh idola : Margareth Teacher Pendidikan : - Menyelesaikan SD - SMA di SoE - S1 Fakultas Hukum UKAW Kupang 1989 - S2 Hukum Agraria Universitas Gajah Mada Yogyakarta 1999 Pengalaman Kerja : - Dosen Fakultas Hukum UKAW Hukum (1989 - 1999) - Anggota DPRD NTT (1999 - 2004) - Anggota DPRD NTT (2004 - 2009) - Wakil Ketua Fraksi Golkar DPRD NTT - Mantan Ketua Komisi C DPRD NTT - Menjadi narasumber/fasilitator berbagai seminar nasional dan daerah (*)

Pos Kupang Minggu, 27 Juli 2008, halaman 03
Lanjut...

Foto POS KUPANG/
APOLONIA MATILDE DHIU

Stanis Ngawang
dan istri bersama
anak-anaknya









Disiplin pada Anak, Harus...

Laporan Apolonia Dhiu/Wartawati Pos Kupang

BERPROFESI sebagai seorang guru membuat pasangan Stanilaus Ngawang dan Regina Jemita selalu tertib dalam memanfaatkan waktu. Sehingga dengan sendirinya tibul sikap disiplin dalam keseharian pasangan ini, dan sikap disipilin ini pula selalu ditanamkan pada anak-anak mereka. Pasangan ini memiliki motto: "Kalau anak orang lain bisa dididik sampai sukses, kenapa anak kandung tidak?" Itulah motivasi pasangan ini dalam mendidik dan membesarkan ketiga anaknya. Tak heran apabila disiplin bagi anak-anaknya adalah keharusan agar bisa mencapai masa depan yang diharapkan.

Dengan disiplin, ketiga anaknya memiliki prestasi yang relatif baik di sekolah serta terbiasa dengan pekerjan-pekerjan di rumah.
Pasangan ini memiliki tiga anak, yakni Frumensius Lalong Putra Ngawang, lahir di Kupang, 28 Januari 1989, saat ini Semester III Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Jurusan Ekonomi, Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Anak kedua, Elisabeth Eka Putri Ngawang, lahir di Manggarai, 22 Desember 1994 (kelas II, SMP Negeri 3 Kupang) dan putri bungsunya, Sekolastika Try Noviani Witut Putri Ngawang, lahir di Kupang, 17 Januari 2001. Selain anak kandung, ia juga memiliki tiga anak dari keluarganya yang kini berada di bawah asuhan keluarga ini.

Kepada Pos Kupang di kediamannya, Senin (21/7/2008), Stanilaus Ngawang dan Regina Jemita mengatakan, kedisiplinan yang ditanamkan kepada anaknya dilakukan agar anak-anak bisa mandiri saat sudah besar nanti. Kedisiplinan yang ditanamkan pada segala macam aspek dan dimulai dari hal-hal kecil di rumah hingga hal-hal yang menuntut tanggung jawab yang lebih serius.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Propinsi NTT ini, menceritakan, sejak kecil anak-anak dibiasakan dengan pekerjaan rumah. Keduanya tidak pernah membedakan antara anak kandung dan anak keluarga jika melakukan pekerjaan rumah. Tidak heran bila jadwal pekerjaan rumah ditulis dan ditempelkan di dinding rumah. Pekerjaan ini bisanya dilakukan usai sekolah, tentunya setiap anak- anaknya sudah tahu apa yang harus dilakukan sesuai jadwal yang sudah ada.

Walau pasangan ini mampu secara ekonomi, tapi tak ada pembantu di rumah mereka. Ini dilakukan agar anak-anak terbiasa mandiri. Tidak heran bila kebiasaan bekerja di rumah membuat anak-anak mereka mahir memasak. "Semua anak di rumah ini, tahu jam berapa dia bangun pagi, kerja apa, dan harus buat apa. Kami berdua tidak perlu lagi menyuruh ini dan itu," kata Stanis, begitu akrabnya, yang didampingi isterinya, Ny. Regina Jemita.

Pembantu Ketua (Puket) II bidang Administrasi Umum di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Oemathonis Kupang ini, mengatakan, pengalaman masa lalu selalu diceritrakan ke anak-anaknya. Dengan harapan, pengalaman masa lalu yang harus dimulai dari nol tersebut bisa menjadi motivasi bagi anak-anak mereka. Kunci disiplin itulah yang membuat keadaan secara ekonomi sudah lebih baik. Dengan menceritakan hal-hal seperti ini, keduanya yakin anak-anaknya termotivasi untuk melakukan apa pun selalu dari dalam hati. "Kami dua ini sama-sama latar belakang dari keluarga petani. Kami memulai bentuk keluarga dari nol. Kami mau supaya anak-anak ini harus lebih dari kami. Saya lihat anak-anak ini tidak pernah protes. Mereka mengerjakan segala sesuatu apa adanya. Kalau tidak bisa, mereka baru membutuhkan bantuan kami," kata alumnus S1 dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Jurusan Ilmu Pemerintahan, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang tahun 1992 ini.

Dikatakanya, kebiasaan lain yang dilalakukan di rumah adalah keduanya sepakat untuk tidak melakukan pembelaan kalau anak-anak melakukan kesalahan. Sehingga anak-anak tidak berpikir kalau ada perbedaan dari ayah dan ibu. "Kami sepakat kalau anak-anak melakukan kesalahan suami marah anak, istri tidak boleh bela dan sebaliknya. Latar belakang saya sebagai dosena atau guru, saya memiliki obsesi kenapa anak orang bisa saya didik menjadi berhasil dan kenapa anak saya tidak," katanya sambil tertawa lebar.

Pria hitam manis yang menyelesaikan S2-nya di Universitas Widya Gama Malang ini mengatakan, keduanya juga membentuk anaknya dengan menanamkan iman pada anak. Mendekatkan diri pada Tuhan merupakan pendidikan dasar yang dilakukan dalam keluarga ini.
Dal hal pendidikan, Pengutus Komite Sekolah SD Naikoten II Kupang ini mengatakan, jadwal belajar di rumah sudah jelas dibagi pada anak-anak. Keduanya memberlakukan satu jam belajar wajib bagi anak di rumah setiap malam, yakni pukul 19.00-20.00 Wita. Setelah belajar, anak-anak baru diperbolehkan untuk menonton ataupun langsung tidur. Karena, di rumahnya anak-anak diwajibkan tidur tidak beloh lebih dari pukul 22.00 Wita. Jam belajar ini dilakukan selama enam hari, kecuali malam minggu, karena malam minggu bebas bagi semua anak.
Bagi kelurga ini, seseorang bisa jadi sukses karena pendidikan. Untuk bisa mencapai apa yang diinginkan orang harus belajar sehingga anak- anak dididik untuk tahu tugas dan kewajiban sebagai seorang anak sekolah.
Ditengah kesibukannya bekerja dan kebiasaan yang diterapkan di rumah, keduanya tidak lupa membawa anak-anaknya untuk melakukan refresing. "Kebiasaan refresing ke luar kami lakukan sebulan sekali. Biasanya saya bawa mereka ke gua monyet. Karena hanya itulah kemampuan saya. Tetapi kalau tidak sempat, biasanya kami memilih hari minggu sebagai hari santai di rumah bersama anak dan keluarga," kata pria asal Manggarai ini. (*)


Pos Kupang, Minggu 27 Juli 2008, halaman 12
Lanjut...

Aku Terlanjur Mencintai Dia

Cerpen Jose Andrade

KALA itu, hari Sabtu dan hari telah sore, merah mentari kian meremang dan mengayunkan langkahnya perlahan menuju tempat peraduannya. Angin petang berhembus tanpa henti sembari membelai rambut kelam panjang Si Ria yang sedang bersandar pada sebuah kursi kayu tua. Keningnya terus digoda, kaos putih saljunya terus menyengati dia akibat hembusan angin.

Namun Ria tetap dalam kebisuannya, ia diam tanpa kata terlontar dari bibirnya yang manis,Tangannya menopang dagu, keningnya kian mengerut dan alisnya membayang, nampak Ria sedang memikirkan seribu satu macam duka lara kehidupan yang ia jalani demi hari demi hari yang tak kunjung usai.

Fajar sudah membuyar, gulita malam pun datang menghampiri Ria yang duduk termenung sendirian. Entah mengapa mata Ria yang berkedip-edip berkaca, pipiya lembab karena air kesedihannya tak tertahankan lagi. Senyumnya pun menjadi hambar, bibirnya yang mengatup erat menggetar sedih, "Aku benci.... dan sangat membenci diriku, mengapa nuraniku menderita?


Dulu Kobe yang memanahkan cintanya di hatiku telah pergi, Ibnu yang sangat sayang padaku mengkhianatiku, Rick yang aku cintai telah dirampas oleh teman sekelasku, dan sekarang Boy yang sangat memperhatikanku sudah tidak peduli lagi denganku. Ah... aku malu dengan diriku sendiri, muak melihat diriku...". Sesaat kemudian suara itu menghampa dan berada dalam kesenyapaan lagi.

Tiba-tiba Ria terjaga dari lamunannya karena hembusan angin malam semakin kencang dan desah dedaunan mengusiknya serta desuh pintu karena diketok, namun ia berusaha mengatasinya dan kembali pada permenungannya. Lalu Ria mulai membayangkan Boy di kejauhan yang tak kunjung datang sembari berkata, "Aku yakin boy sangat mencintaiku, ia tidak akan meninggalkan aku . Aku.. yakin seandainya malam ini dia bersamaku, aku tak mungkin termenung sendirian di tengah kesepian malam yang sangat menyakitkan ini.

Boy pasti akan membawaku berjelajah jauh ke angkasa yang nan jauh, di sana aku bisa menyentuh bintang dan bulan yang terang-benderang dan aku tidak akan kedinginan seperti ini karena aku berada dalam pelukannya, ah...".

Desah-desuh pintu kian menguat, Ria akhirnya tersadarkan dari khayalan, ia segera bergegas menuju pintu rumahnya yang berangka kayu dan beratapkan seng yang berada di sampingnya dan disertai rasa penasaran. Ria mulai mendekapkan tangan kanannya pada gagang pintu lalu membukanya, ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah Boy, orang kesayangannya. Ria tercegang melihat suatu keistimewaan pada kepribadian Boy.

"Selamat bertemu sayang", tandas Boy. Betapa senangnya Ria karena kerinduannya terpecahkan, harapannya tercapai, kedalaman rindunya terobati dan ia tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Ia merasa dirinya seperti suatu yang selalu dikunjungi dan dielus-elus oleh seokor kupu-kupu yang warnanya menghidupkan. Sehingga ia mendekap erat tangan Boy tanpa berkata dan menarik Boy masuk. Air mata Ria kering seketika, senyumnya kembali manis, matanya memancarkan kehangatan cinta pada Boy dan aurora hati yang terpadam bersinar lagi.

Keduanya saling memandang dengan penuh kemesraan. Kelihatannya mereka sedang merajut kembali benang cinta yang hampir putus. Kemudian Ria menggoda, "Ayo jujur !kamu mau mengajakku jalan-jalan malam khan? tidak usah bohong, karena kamu berpakaian rapi sekali, tapi.. aku belum siap sayang... jadi kamu harus menunggu". Boy mulai mengelus sepatu katsnya karena ia semakin bingung dan pikirannya terpecah-belah.

"Kemana saja selama ini, sayang ? Aku sangat rindu akan kehadiranmu...". Boy diam.. Nampaknya suara Boy telah disergap oleh keheningan sehingga tidak ada lagi deru nada suara.

Sembari menahan kesedihan dan air mata yang hampir menetas, Boy memecahkan keraguannya dengan desah suara," Maafkan aku Ria. Aku sangat mengerti dan tahu bahwa engkau sangat mencintaiku, cintamu padaku tak bersyarat dan memang aku lahir untuk dicinta kamu, sayang..., tapi...". "Tapi apa?" sambar Ria. "Tapi cinta menghendaki lain, ia menghendaki aku membagikan diriku untuk aku lain. Dan ada orang jatuh cinta padaku bahkan cinta-Nya melebihi cinta, cinta-Nya melampaui kedalaman cintaku. Aku sangat merasakan besar sukacita akan cinta-Nya. Aku terlanjur mencintai Dia.


Bukan hanya aku tetapi banyak orang jatuh cinta pada-Nya. Cinta-Nya telah mengikat hatiku sehingga aku tak mampu berbuat apa-apa . Terus terang aku telah terjerat tali cinta-Nya".

Mendengar perkataan itu, hati Ria terbalut kabut sedih yang menyakitkan. Ia merasa seperti seorang yang terdampar di tengah samudera luas. Dalam kesedihan yang tak tertahan ia berseru, "Terima kasih... Boy.

Padahal kamu tidak mencintai aku lagi. Lantas kamu beralih pada wanita lain. Apa salahku? Apa kekuranganku, apakah aku tidak baik padamu? Atau sangkamu bahwa aku tidak mencitaimu lagi sehingga kamu tidak memperhatikanku seperti dulu. Ternyata kamu itu pendusta, kamu hanya mempermainkan aku dengan panah cintamu, kamu... memenjarakan hatiku Boy. Setelah itu kamu membiarkan kau sendiri yang memikul berat ini, kamu..." Ria berhenti berbicara karena iringan tangis dan air mata terus menetes serta kehabisan bahasa.

Boy mencoba untuk menenangkan Ria dengan kata-kata. "Ria, aku sangat mencintaimu dan aku tahu kamu juga mencintaiku. Cintaku padamu bukan karena selama ini kamu mencintaiku. Tetapi karena aku yang memcintaimu. Aku aku sadar bahwa kau hadir dan ada di jagat ini untuk mencintai dan dicinta. Namun perlu cintaku bebas. Ria sayang, mencinta seseorang tidak berarti memiliki melainkan memberi kebebasan cinta pada orang yang dicintai. Itulah cinta sejati. Cinta itu tidak bisa dimiliki sendiri, ia hanya bisa dimiliki dengan mencintai semua orang tanpa batas. Cinta akan selalu memberi kebebasan kepada kita untuk memilah dan memilih jalan kehidupan kita masing-masing.

Apabila mencinta, ada prinsip senang dan bersyarat, itu bukan cinta. Ria kalau kamu sungguh mencintaiku, biarkanlah aku mengembangkan cintaku untuk mencintai kehidupan ini, sebab hidup ini hanyalah pinjaman dari Allah, supaya kita mengembangkan cinta untuk mencintai semua orang. Sayang ... maafkanlah aku! Aku terlanjur mencintai Dia. Aku mencintai orang itu bukan karena apa-apa, tetapi Dia telah mencintaiku sebelum kamu mencintaiku. Cinta-Nya tulus, dan betapa luas dan dalamnya, tinggi dan lebarnya cinta-Nya, sehingga melampaui aku. Sayang... karena itu aku buka jatuh cinta pada wanita lain, tetapi aku mau menjawab cinta Kristus yang telah ada dalam diriku semenjak aku ada di dunia. Dan cinta-Nya tanpa batas padakuö. Dengan halus Ria mendesah, ô Kamu ingin menjadi pasrtor...?"

"Ya... sayang. Benar yang kamu katakana. Maka lepaskanlah aku pergi menjalani hidup baru dengan cintaku", balas Boy.

Ria amat sedih. Duka seribu duka terus bertambah, saat mendengar itu. Ia masuk lagi ke dalam kesepian senyapa dan tak ada lagi kata yang keluar dari bibirnya. Boy menambah bicara, "Aku datang kesini ingin mengucapkan terimah kasih yang berlimpah kepada sekaligus selamat berpisah kepada orang yang baik dan pernah aku lihat, kenal dan terlebih pernah hadir dalam saban sanubariku, terima kasih. Aku yakin bukan aku saja bisa membahagiakan kamu, tetapi masih ada orang lain yang lebih membahagiakan kamu. Selamat jalan sayang...!" Setelah itu, Boy keluar dari rumah Ria dan pergi.

Alangkah sedih hati Ria, kerinduan tinggal kerinduan. Dengan kebisuannya ia hanya bisa menatap kepergian Boy dengan iringan air mata. Kesedihan Ria tak diketahui oleh siapa-siapa mungkin hanyalah malam mencekam yang tahu dan sapu tangannya menjadi saksi bisu atas rasanya. Dalam hati kecil Ria beruntai "Mungkin aku ditakdirkan untuk bersedih". (*)


Pos Kupang Minggu 27 Juli 2008, halaman 6 Lanjut...

Puisi-puisi Siprianus Atok

Goyang Patah-Patah

Dalam goyang patah-patah ,
Aroma birahi merias kedalam waktu kita.
Kegugupan merintangi diri
Sementara keterbatasan manusiawi nyata dalam liukan
Lantaran kericuhan jiwa terlalu ganas mencengkram diri.
Memang di antara putaran waktu,
Bukan hanya ada aku tersenyum manja
Pada birahi yang tak mampu dipendam jiwa
Dimana senyum jiwa hilang diterpa kericuhan jiwa kita
Namun seharusnya senyum kita bisa merias kehidupan abadi,
Melampaui gemuruh gairah kini
Gisting-Lampung Agustus, 2006,


Atas-Bawah Hanya Kau

Minggu lalu aku aku hadir dalam dekapmu di sebuah kamar tidur
Sebelumnya aku meliuk-liuk di atas pentas diskotik, sebelum kau menuntunku ke sana, ke kamar itu
Yang datang bukan hanya tukang ojek, buruh bangunan,
Tapi juga para pejabat pemerintahan
Aku tak punya banyak waktu untuk berkata-kata dengan mereka
Sebab waktu terlalu singkat
Untuk melayani begitu banyak orang
Yang datang dan pergi.
Uang memang cukup untuk hari ini
Karena mereka datang untuk menikmati aku,
Bukan mencintai aku.
Jakarta , 5 Juli 2007


Pos Kupang, Minggu 27 Juli 2008, halaman 6
Lanjut...

Puisi-puisi Dian Hartati

Tubuhmu adalah Aroma Rokok

Di sampingku adalah sosokmu
Berbalut asap rokok yang mengepul dari bibir hitam
Tiada henti dari waktu ke waktu
Gingga aku mengenali tekstur wajah
Hingga aku hafal kata-kata yang kau ucapkan

Di kananku adalah tubuhmu
Yang haus akan sebatang rokok
Sebelum pekerjaan dimulai
Setelah kita mencoba makan siang bersama

Tubuhmu adalah aroma rokok
Yang kuhirup setiap detik
Karena aku begitu bersetia
Pada asap-asap yang menggangu hidungku

Dan aroma tanganku adalah aroma tubuhmu
Yang setia menemani di segenap siang
Bahkan menjelang malam sempurna
Mencipta mimpi bagi masing-masing diri

Bersamamu adalah menumbuhkan kembali cinta
Pada masa lalu yang muram
Sudut Bumi, Februari 2008



Hati yang Berbeda
: dan lagi untukmu, b

Selalu saja pertemuan-pertemuan berulang
Cerita di balik layar monitor
Kisah yang hampir berakhir

Diam-diam mata ini mengangkan masa lalu
berdiam diri di selasar
Menanti setiap langkah yang tak menahu akhir
Berdiam diri menanti senja datang
Dan kau tetap di sampingku

Hari ini
Aku merasakan getar yang berbeda
Suasana yang berbeda dan mata yang berbeda

Apakah genap hari berakhir?
Sementara aku masih menginginkan kebersamaan

Kita duduk berdampingan
Di sofa yang membulat
Ruangan penuh dengan orangorang tak dikenal
Dan tibalah saatnya
Ketika kedatangan meredam gairah
Suasana menyesak membuat gundah

Kita meninggalkan ruangan
Dan kau mengantarkan aku ke sebuah
Pusat perbelanjaan

Etalase dipenuhi wajahmu
Sementara kau telah pergi
Meninggalkan jalanan yang ramai
Dan aku hanya mengucapkan
Terima kasih
Sudut Bumi, Februari 2008

Pos Kupang Minggu, 27 Juli 2008, halaman 6

Lanjut...

Foto Dokumen Pos Kupang
Simon Hayon

Siapa Saja Harus Bening

SIAPAKAH bupati yang paling fenomenal saat ini? Siap lagi kalau bukan Bupati Flores Timur, Drs. Simon Hayon. Setelah heboh dengan gebrakan perampingan struktur yang membuat banyak orang di Flotim kehilangan jabatan, kini Simon membuat heboh dengan perilaku dan pernyataan-pernyataannya menyangkut nilai adat-istiadat.

Apa maksud pernyataan-pernyataannya itu, wartawan Pos Kupang, Agus Sape, mewawancarai Simon Hayon di rumah pribadinya di Kuanino-Kupang pada hari Rabu (16/7/2008) malam. Berikut petikan wawancaranya.

Sejak awal menjadi Bupati Flores Timur, Anda ingin membangun Flores Timur dengan paradigma budaya. Tolong jelaskan gagasan ini.
Pembangunan berbasis budaya itu sebenarnya pembangunan yang menempatkan manusia sebagai titik sentral. Kalau kita bicara tentang manusia, maka kita bicara tentang jiwa dan raga. Kalau kita bicara tentang jiwa dan raga, maka sesungguhnya, sesuai dengan keyakinan, saya kira dalam semua agama, termasuk agama Katolik, bahwa kita berupaya melalui pembangunan itu, kita menjaga, merawat supaya manusia itu tetap secitra dengan Allah. Artinya bahwa Allah itu mahabaik, mahakasih, maka hidup manusia dalam satu kesatuan jiwa dan raga harus memantulkan kasih. Konsekuensinya, kita tidak hanya bicara tentang pembangunan fisik, tapi juga bicara tentang pembangunan jiwa. Dalam konkretisasinya, kita berupaya mendorong tumbuhnya nilai-nilai persaudaraan, kasih, solidaritas, kejujuran.

Dari paradigma budaya ini mengalirlah visi kita, visi pembangunan: terwujudnya manusia dan masyarakat Flores Timur yang maju, sejahtera, bermartabat dan berdaya saing. Untuk mewujudkan visi ini, ada dua misi penting. Pertama, berkaitan dengan manusia yang menjadi subyek pembangunan sekaligus manusia dan masyarakat yang mampu memiliki jati diri. Itu misi pertama yang harus dikerjakan secara all out untuk terwujudnya visi.
Misi kedua, mewujudkan tata pemerintahan yang baik, yang berintikan prinsip-prinsip penegakan hukum, transparansi, partisipasi, dan di dalamnya juga otomatis terkait dengan terbentuknya pemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Kedua misi ini sebenarnya saling mendukung, yang dalam awal tiga tahun ini saya mengistilahkan dengan kembali ke fitrah, kembali ke kebeningan, kembali ke yang murni.
Saya melihat misi pertama mengenai jati diri itu mulai mencapai titik klimaksnya. Bicara jati diri berarti, pertama, bicara tentang ajaran-ajaran leluhur, baik dalam konteks masyarakat adat, masyarakat budaya maupun dalam konteks masyarakat agama. Nilai-nilai itu kita temukan dalam ketiga hal itu. Dan hukum adat itulah yang kita sebut hukum Maya-Pada.

Apa yang Anda maksud dengan hukum Maya-Pada?
Maya-Pada itu istilah Jawa yang dalam bahasa kita disebut hukum adat. Maya artinya alam roh, Pada artinya alam kasar, alam fisik, alam nyata. Nah, kalau kita bicara ajaran leluhur, kita tidak bisa mengarang hal yang baru, karena ajaran itu sudah final. Tapi, kalau kita sudah mengetahui ajaran leluhur, maka kita masuk ke wilayah berikutnya, siapa leluhur kita? Yang jelas kita mengakui Tuhan, tapi juga ada pendahulu-pendahulu kita, yang menerima ajaran itu dari kekuatan tunggal. Dan kalau begitu, kita juga masuk dalam wilayah pertanyaan, siapa leluhur kita? Itu masuk dalam wilayah sejarah. Sejarah masih berevolusi untuk mencapai titik kepenuhan, dan ajaran itu sudah final. Jadi kita tidak bisa mengarang baru. Saya lebih khusus misalnya pada kita yang Katolik, dengan Yesus itu sudah final. Jadi jangan bilang, setelah Yesus, kita yang di Katolik, ada lagi ajaran. Tidak ada lagi. Yesus itu sudah memenuhi Perjanjian Lama, menyempurnakannya, karena itu disebut Perjanjian Baru. Perjanjian Lama itu intinya pada Nabi Musa, kemudian dijabarkan oleh para nabi, kemudian Yesus datang menyempurnakan. Karena itu dalam Alkitab dikatakan, Yesus lebih tinggi dari Musa.
Sehingga dalam perjalanan itu (masa kepemimpinan, Red), saya terus terang saja, di samping program pembangunan fisik, seperti jalan dan macam-macam kebutuhan fisik, juga kebutuhan jiwa, dengan mendorong tumbuhnya kembali nilai-nilai yang mulai hilang di tengah masyarakat. Jangan manusia itu diukur dari nilai- nilai kebendaan saja, tetapi juga nilai-nilai rohaniah. Karena itulah juga lagu Indonesia Raya: bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.

Tapi, situasi di Flores Timur akhir-akhir ini kan heboh sekali. Ada yang menilai pembicaraan dan perilaku Anda sudah banyak yang keluar dari visi-misi tadi itu.
Loh, justru (visi misi) itu yang saya optimalkan. Jadi, masalahnya karena orang terlalu melihat pada pembangunan fisik. Ketika kita bicara nilai, orang sepertinya merasa, loh kok tidak menyentuh kebutuhan raga. Raga kan sementara berjalan. Yang namanya pembangunan, ya untuk mencapai manusia seutuhnya. Kita tidak bisa hanya membangun raga.
Yang kedua, karena orang tidak memahami hukum alam, hukum adat, hukum Maya-Pada tadi. Kalau hukum Maya-Pada bicara alam maya, alam roh dan alam nyata, sulit (ditangkap, Red) kalau orang tidak bening, kalau orang sudah terikat pada dunia material, yang disebut bumi itu, maka sulit punya kebeningan untuk melihat secara jernih.
Yang berikut, kalau kita cermati hukum alam, maka, menurut saya, sebenarnya dalam kurun atau rentang waktu tertentu, bumi yang juga disebut buana agung, mengalami proses kilas balik.
Kalau kita di Katolik misalnya, ada istilah rekoleksi, retret, itu kan untuk mencari titik bening. Istilah umumnya, refleksi. Ini juga sama, kembali mencari titik bening. Kita (manusia) ini disebut buana kecil, buana alit. Dalam perjalanan kita ke depan, kita juga kembali akan melihat itu. Bumi yang besar ini akan kembali mencari titik bening. Ketika bumi yang besar ini (buana agung), kembali mencari titik bening, maka kita yang disebut buana alit di atasnya, kalau tidak bening, ya memang terganggu. Kenapa? Karena terjadi pertentangan di dalam diri kita, antara hakikat penciptaan "baik adanya" dengan keterikatan pada dunia material. Jadi konflik antara dua unsur itu terjadi dalam diri orang.

Ini antara lain yang membuat heboh di Flores Timur, yaitu pernyataan Anda yang menyebut Lamaholot sebagai pusat peradaban dunia. Tolong dijelaskan.
Itu kan asumsi saya, dengan memperhatikan (apa yang ada dalam masyarakat Flores Timur, Red). Kan saya keliling dari desa ke desa. Saya memperhatikan nama-nama, simbol-simbol. Nama itu misalnya Solor, masih ada secara fisik. Ada jagung Solot, ada orang yang namanya Solot. Dan saya mempunyai asumsi bahwa ada sebuah benua yang hilang, yang disebut Benua Solot. Benua Solot itulah benua awal. Sekarang kita mencari Benua Solot itu ada di mana? Ya, tentu dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia, yang juga sebenarnya dalam penguasaan Tuhan, kemudian bisa dikaji, di mana itu Benua Solot?
Yang kedua, para ilmuwan pun berpendapat bahwa peradaban bermula di Timur. Pertanyaan kita, Timur itu yang mana? Setiap kelompok, setiap orang boleh mencari. Apakah Timur itu di Sulawesi, di Irian, di Timur Tengah, kan bisa saja. Dan, sebagai orang yang menggali akar budaya Lamaholot, saya juga bisa mempunyai asumsi seperti itu. Tinggal saja nanti dikaji, seperti apa? Nah kalau di dalam perkembangan peradaban dunia, ternyata terjadi pencemaran-pencemaran, kontaminasi yang tidak sesuai dengan ajaran leluhur, maka perubahan pun harus dimulai dari Timur. Secara teoretik para ilmuwan berpendapat begitu.

Anda mulai omong begini, katanya, sejak bertemu dengan Albert Pito (seorang paranormal asal Lembata).
Oh, ndak. Albert Pito atau siapa pun dia, apakah itu perorangan atau kelompok, bagi saya, kalau dia mempunyai bahan untuk melengkapi, silakan datang, supaya kita merajut, untuk menemukan suatu kebulatan, suatu keutuhan. Jadi siapa saja.

Jadi, ini memang hasil olah pikir Anda sendiri?
Ya, olah pikir, dan memang ada tambahan dari Pak Albert Pito. Tapi itu kan baru dia. Siapa saja, dan saya akan mengundang tokoh-tokoh adat, mereka sudah bersedia untuk bicara. Jadi, jangan berpikir Albert Pito itu mempengaruhi saya, karena misi ini secara resmi saya sudah letakkan. Misi tadi itu loh, dan itu di dalam dokumen pembangunan, ditetapkan dengan Peraturan Bupati (Flores Timur) Nomor 8 Tahun 2006. Jadi Albert Pito atau siapa pun, dia hanya boleh datang melengkapi. Dia tidak boleh mempengaruhi saya.

Sejak memimpin Flores Timur, Anda rajin ke desa-desa. Satu hal yang unik, setiap kali ke desa-desa, Anda datang ke kubur- kubur tua, menghormati kubur-kubur itu, dan juga rumah- rumah adat.
Bukan kubur tua, tapi menyinggahi rumah-rumah adat. Dan, itu bukan saya punya mau. Masyarakat, tua-tua adat di kampung- kampung itu yang minta, dan saya menghormati, karena di situ awal mula kehidupan. Kalau kita bicara leluhur, ya kita menghormati warisan mereka, termasuk rumah-rumah adat. Karena di situlah hukum adat dibicarakan.

Termasuk pernah menghadiri seremoni di kuburan Suku Temaluru di lereng Ile Mandiri baru-baru ini.
Oh, saya pergi bakar lilin. Bakar lilin itu kan siapa saja boleh. Dia (Temaluru) pernah menjadi raja di sana, ya wajar saya pergi. Orang biasa saja saya pergi kok, kenapa seorang yang pernah menjadi raja di sana, saya tidak boleh pergi. Kok kuburan umum juga kita pergi. Kenapa kuburan leluhur yang mendahului kita, yang pernah mempunyai jasa, kita tidak boleh pergi? Kenapa jadi soal?

Ini yang lebih heboh lagi. Pada tanggal 17 April 2008, Anda didampingi sejumlah pejabat dan anggota TNI menggelar seremoni adat dengan menyembelih tiga ekor sapi dan satu ekor kerbau di Desa Nobo Gayak dan Pantai Wora Mea, Kecamatan Ileng Boleng. Dalam seremoni itu Anda membungkus kepala kerbau dengan kain putih lalu dikubur di tepi pantai dengan kepala menghadap ke Lembata. Bagaimana sebenarnya?
Masalah Nobo itu bukan konteks desa (lewo). Nobo itu fakta. Nobo itu nuba, yaitu takhta. Jadi kita bicara Nobo berarti kita bicara kerajaan. Kita bicara Kerajaan Awololong. Nah kalau kita bicara Kerajaan Awololong, itu kita bicara konteks lewotana (bumi), bukan konteks lewo (desa). Jadi pantas kalau kita bikin upacara itu, potong kerbau, potong sapi, itu wajar.

Korban kerbau itu maksudnya apa?
Ya, memang kerbau kenapa? Tidak boleh kerbau? Kerbau, memang yang terbaik. Harus cari yang terbaik. Karena itu konteks kerajaan. Tidak ada masalah.

Tapi, katanya, korban kerbau itu untuk memindahkan emas dari Lembata ke Nobo Gayak.
Itu kan katanya. Yesus juga pernah kritik murid-muridnya. Ketika Yesus bertanya, "Menurut kamu siapakah Aku ini?" Lalu murid- murid itu mulai bilang, menurut si ini begini, menurut si ini begini. Yesus kembali bertanya, "Tidak, menurut kamu, bukan menurut orang. Bukan katanya, tapi menurut kamu. Dan, semua informasi ini, katanya.
Jadi upacara itu tidak dimaksudkan untuk memindahkan emas dari Lembata?
Oh, tidak! Tidak ada urusan. Tidak ada hubungan dengan emas. Itu hubungan dengan leluhur, konteks kerajaan itu, ada pendahulu-pendahulu. Dan kita hormati itu. Tidak ada hubungan dengan emas.

Tapi herannya cerita seperti ini bisa beredar. Saya juga tidak ngerti. Ya, karena orang tidak paham lalu bicara. Orang tidak bening lalu bicara, kan jadi repot.

Pada bulan Maret 2008, kebetulan ada acara Forkom P2HP di Kelurahan Sarotari yang dihadiri Ketua Forkom P2HP NTT, Ny.Mien Patty Mangoe, Anda berpidato bahwa emas di Lembata itu bukan tambang, tapi pusaka leluhur Lamaholot.
Loh, yang namanya bumi dan segala isinya, itu ciptaan siapa? Ya, Tuhan. Sekarang, yang namanya leluhur itu ada di mana? Ya, di alam maya. Mungkin yang namanya leluhur adalah para kudus. Le itu jiwa, lu itu yang dikebumikan, hur itu yang di ketinggian. Orang mati yang sudah dikebumikan, tapi karena saleh dia diangkat ke tempat yang tinggi, bercahaya. Tuhan menciptakan itu, dan Menugaskan yang namanya leluhur untuk menjaga. Jadi kalau konteks Lembata, orang berdebat dengan saya, bilang emas di Lembata tidak ada, loh saya bukan ahli tambang, saya bukan ahli emas. Kita berdebat tujuh hari tujuh malam tidak akan selesai. Untuk membuktikan itu, cari orang yang punya teknologi untuk mengecek. Itu lebih pas daripada berdebat dengan saya. Tapi kalau saya mempunyai keyakinan, itu hak saya. Kalau saya mengatakan bahwa itu diciptakan Tuhan, dijaga oleh leluhur, dan itu untuk kepentingan banyak orang, maka ketika orang mau mengambil itu untuk kepentingan diri atau kelompok, dan tidak untuk kepentingan umum, saya kira sulit. Itu menurut saya. Tapi, bisa saja menurut orang lain tidak begitu. Ya, silakan pergi cek di Lembata.

Tapi, kok para pastor dan masyarakat Flores Timur sepertinya tidak bisa menangkap pikiran Anda. Bahkan sekitar 200 orang yang tergabung dalam Dewan Pastoral Paroki pernah datang ke DPRD Flotim minta Anda menjelaskan semua pernyataan ini.
Ya, siapa saja harus dengan bening. Kalau tidak bening ya tidak bisa mengerti. Kalau orang masih memelihara dirinya sebagai hakikat penciptaan 'baik adanya', dia bening dan bisa menangkap. Tapi kalau dalam dirinya sudah terikat dengan dunia material, alam pada, maka sulit.

Bahkan mereka menganggap pikiran Anda sesat dan mengganggu ajaran Gereja.
Kalau ajaran sesat, silakan lapor saya di kejaksaan. Bukan bawa saya ke DPRD, karena di sana (DPRD) tidak ada fungsi untuk menilai ajaran sesat atau tidak. Institusi yang sudah dihadirkan di negara ini adalah kejaksaan. Di situ diteliti mana ajaran, mana sesat dan mana ajaran sesat. Apakah saya pernah mengumpulkan orang dan berdoa dengan cara saya? Yang kedua, institusi agama bertugas untuk merawat ajaran leluhur. Jadi yang menyelamatkan kita adalah iman sesuai dengan ajaran.

Dalam kaitan dengan pusat peradaban, Anda pernah mengatakan bahwa cepat atau lambat para petinggi dunia akan datang ke Flotim untuk mencari asal-usulnya (pukeng). Apa maksud pernyataan Anda?
Asumsinya, kalau kemudian pengkajian itu membuktikan bahwa peradaban bermula di Timur, dan Timur itu adalah kita, maka tentu orang berdatangan toh, untuk melihat, menyaksikan. Kan wajar saja kalau orang datang untuk menyaksikan. Misalnya, kalau kita bicara tentang Kerajaan Awololong sebagai yang awal mula, maka ada sejumlah benda purbakala, ada bendera, kain sutera (tapi sudah sobek-sobek), simbolnya itu serigala, ada mahkota dan ada sejumlah yang lain. Kan itu bisa ditafsir. Bahasa bisa ditafsir. Dan itu nanti ada lembaga yang namanya La Rose (dari Perancis) yang meneliti. Saya misalnya, Hayon, biasa disapa dalam adat La atau Lao, apakah mempunyai kesamaan dari aspek linguistik? Apakah La Rose itu simbolik dari Maria? Apakah La Hayon itu sekadar nama suku atau nama simbolik dari seorang leluhur yang terkenal? Nah itu harus dikaji. Itu sebagai contoh.Tapi kan bukan La Hayon saja. La Werang, mungkin ada La Bethan, kan kita belum tahu. Nanti lembaga itu (La Rose) yang kaji karena ada ahli linguistiknya.

Anda juga pernah menyebut bahwa di Nobo Gayak ada kuburan Firaun.
Itu saya belum pernah sampaikan melalui forum resmi (publik), tapi kalau sharing dua tiga orang, iya. Tapi, biarlah nanti lembaga itu (La Rose) yang membuktikan. Menurut saya sih, intinya pada Benua Solot itu. Kalau Benua Solot itu terbukti ada, maka peradabannya mulai dari situ. Termasuk di dalamnya Firaun atau Mesir.

Anda juga pernah mengatakan Yesus lahir di Wureh (Adonara Barat).
Oh, itu tidak pernah di publik.

Meski sharing dengan dua tiga orang saja, apakah yang Anda katakan itu lahir dari suatu keyakinan? Ya, pengalaman iman saja. Sharing iman kan boleh. Kita di Gereja Katolik kan boleh (sharing iman).

Tapi, kira-kira maknanya apa? Misalnya, Anda katakan Yesus lahir di Wureh.
Tidak, Yesus lahir di Wureh itu tidak pernah saya omong. Yang jelas bahwa saya punya pengalaman yang saya sharing-kan yaitu ketika prosesi laut hari Jumat (Agung), prosesi Tuan Menino. Sudah tiga tahun saya diminta mengantar itu (Tuan Menino). Itu hujan mulai sepuluh menit setelah berangkat. Hujan berhenti sepuluh menit sebelum turun. Air laut bergelora. Setelah dua pertiga perjalanan, saya ketemu sampah dan air keruh. Ya, saya waktu itu terganggu, batin saya terganggu. Saya pikir sampah itu terus sampai mendarat, ternyata kan tidak. Di depannya kan bersih lagi. Besoknya saya ke Wureh. Saya masuk di Kapela Tuan Berdiri. Bagi saya satu pertanyaan, kenapa di kapela ini patung (Yesus) dewasa? Kenapa di Kota Rwido itu patung kecil, bayi? Itu bagi saya menarik. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus, saya bertanya kenapa? Tapi saya tidak pernah mengatakan Yesus lahir di situ.

Gara-gara pernyataan-pernyataan tadi, sejumlah kalangan di Flores Timur menilai Anda sudah tidak sehat lagi. Apa tanggapan Anda?
Saya sebagai bupati tidak ingin hanya mengurus hal-hal lahiriah saja. Saya bertanggung jawab terhadap pembangunan lahir batin. Saya juga bertanggung jawab menggali nilai-nilai, yang memang sudah tenggelam. Ketika kita menggali yang sudah tenggelam, termasuk sejarah dan nilai-nilai yang hilang, jadi memang orang merasa aneh, karena sudah jauh dari hakikatnya. Tapi, saya memaknai (penilaian ini, Red) secara positif saja. Bahwa riak ini adalah pergerakan jiwa menyatu dengan raga. Supaya ada daya, ada kehidupan. *


Pos Kupang Minggu 20 Juli 2008, halaman 3

Lanjut...

Keringat

ANEH, setiap kali kampanye, pasti keluar banyak keringat. Benar! Selama musim kampanye, tidak ada waktu bagi orang lain. Kerjanya hanya jalan dari satu wilayah ke wilayah lain untuk berbicara dan bicara jual visi misi, jual program, dan terutama jual janji. Maklum dirinya harus berjuang keras agar calon unggulannya sukses meraup suara terbanyak. Makanya biar nampak selalu berkeringat, dia santai saja. Prinsipnya berjuang untuk menang bukan untuk kalah. Soal setelah menang mau buat apa, penuhi janji atau tidak, itu soal lain.
"Tetapi keringatmu itu, sungguh-sungguh mengganggu!" Protes Jaki. "Sebaiknya setelah kampanye kamu langsung mandi, supaya aromamu tidak membuat kepalaku pusing."

"Syukur, saya keringat waktu kampanye!" Rara tersinggung. "Daripada kamu selalu keringat pada waktu makan! Makan apa saja kamu pasti keringat. Apalagi kalau makan daging tambah moke alias sopi, oh jangan ditanya keringatmu seperti banjir!"

"Betul juga ya," Jaki yang lagi melahap sate satu piring mengakui kenyataan. Dengan sapu tangan besar dia hapus keringat di dahi, di leher, di tangan, dan selanjutnya makan lagi. "Bagaimana ya caranya biar tidak keringat?"


***
"Ada sepenggal kisah yang berkembang dari sebuah khotbah di Gereja St. Antonius Muntilan Yogyakarta. Konon, orang India berkeringat saat bicara hal-hal penting menyangkut janji yang pasti ditepati. Orang Cina berkeringat kalau bekerja. Orang Amerika berkeringat kalau sedang merancang strategi ekonomi untuk penguasaan pasar dunia dan strategi militer untuk menampilkan kekuatannya sebagai negara super power. Orang Eropah berkeringat kalau main bola kaki. Sedangkan orang Indonesia berkeringat hanya kalau kampanye dan makan," demikian Benza memberi penjelasan panjang soal keringat.

"Oooh begitu ya?" Rara bengong tidak mengerti harus menjawab bagaimana.
"Kamu orang Indonesia kan?" Tanya Jaki yang dijawab Rara dengan anggukan. "Jadi wajarlah kalau kamu berkeringat pada saat kampanye, dan saya berkeringat pada saat makan. Apa salahnya kalau memang benar demikian?"
"Ya, kalau memang orang Indonesia berkeringat hanya pada waktu kampanye dan makan, ya tidak apa-apa. Saya kan orang Indonesia. Saya harus bangga sebagai orang Indonesia bukan?"
***
"Benza! Kamu juga orang Indonesia. Jadi sama dong keringat hanya waktu kampanye dan makan! Apalagi kalau makan kenyang sekenyang-kenyangnya dan minum mabuk semabuk-mabuknya!" Komentar Jaki.

"Orang Indonesia asli," jawab Benza. "Berkeringat waktu kampanye dan makan. Tetapi saya berupaya untuk lebih berkeringat waktu kerja seperti orang Cina, pada waktu menepati janji seperti orang India, pada saat atur strategi ekonomi dan militer seperti Amerika, main bola seperti orang Eropah, dan terutama saya pun mau berkeringat untuk pemberantasan korupsi seperti yang lagi gencar-gencarnya dilakukan KPK sekarang. Tetapi apa boleh buat keringat saya hanya untuk makan dan kampanye!"

"Bukan hanya itu!" Potong Jaki. "Berkeringat ketika minta dihadiahi perempuan? Seperti yang dilakukan oknum wakil rakyat yang sudah dipecat dari induk organisasinya?" Tanya Rara. "Ada wakil rakyat model begitu ya? Makan uang, minta hadiah perempuan, dan maen atur turut suka. Para birokrat di tubuh eksekutif juga maen-maen saja dengan uang dan ikut saja maunya pemeras. Apakah mereka keluar keringat juga?"

"Satu lagi ciri orang Indonesia. Keringat waktu mencuri dan menghitung uang rakyat," sambung Benza dengan tenang. "Keringat waktu ambil kebijakan bongkar hutan, hancurkan lahan, gundulkan tanah lalu pontang panting cari dukungan DPR, dan keringat bercucuran cari perempuan untuk dipakai hadiah!"
***
"Kamu juga orang Indonesia kan?" Jaki dan Rara serentak bicara. "Jadi kalau soal keringat jangan ditanya lagi. Sudah sama-sama tahu bukan?"
"Ya, apa boleh buat!" Jawab Benza.
"Sepertinya orang Indonesia hanya kita bertiga ya? Mudah-mudahan hanya kita bertiga. Orang Indonesia lainnya jangan sampai tiru ciri Indonesia yang ada pada kita bertiga," kata Jaki.
"Ya, apa boleh buat!" Jawab Benza.
"Mudah-mudahan kita berkeringat terus ya. Apalagi untuk urusan korupsi dan minta hadiah," sambung Rara. "Mari makan dulu biar keringat tambah banyak..." (maria matildis banda)

Pos Kupang Minggu 20 Juli 2008, halaman 1

Lanjut...

*A Mild Live Campus Music Box

Laporan Wartawan Pos Kupang/Alfred Dama


HENTAKAN
dan dentuman drum diiringi distorsi gitar listrik yang menyengat dari grup band A Per B membuat suasana halaman kampus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)Universitas Nusa Cendana, Sabtu (12/7/2008), tak ubahnya lokasi konser band-band papan atas di Kota Kupang.

Kerlap-kerlip lampu-lampu yang berwarna-warni pun menghiasi panggung dan sekitarnya membuat suasana makin menarik. Para penonton yang sebagian mahasiswa kampus tersebut yang sebelumnya hanya melihat dari jauh panggung tersebut, secara perlahan mulai mendekati panggung tersebut untuk menyaksikan dari dekat.

A Per B band yang mengawali pesta musik kampus A Mild Live Campus Music Box di kampus yang terletak di Jalan Soeharto-Kupang tersebut. Grup musik yang pernah menjuarai A Mild Live Wanted Kupang-NTT 2007 dan 2008 serta juara tiga regional Bali dan Nusa Tenggara tahun 2008 tampil menghentak dengan lagu-lagu yang sedang populer saat ini. Aroma hiburan segar pun langsung terpancar dari panggung yang persis berada di pintu timur jalan masuk ke kampus tersebut.


Udara malam Kota Kupang pada pertengahan bulan Juli ini yang dingin tidak menghalangi anak-anak kampus untuk melihat dari dekat aksi anak-anak muda kota Kupang tersebut, apalagi A Per B tampil kolaborasi bersama DJ Usac.

Setelah A Per B, giliran D' East, 99ers Band yang memainkan lagu-lagu top 40. Bahkan lagu-lagu bebahasa Inggris pun cukup mendapat sambutan. Penampilan seksi dancer juga membuat aroma kampus berubah menjadi arena hiburan yang memikat. Band-band ini cukup memukau dan memberikan ekspresi musik untuk anak-anak kampus.

Beberapa mahasiswa yang ditemui di tempat usai acara di kampus lama Undana tersebut mengatakan cukup senang dengan acara hiburan di kampus tersebut. Menurut mereka, selama ini dunia kampus lebih banyak disibukkan dengan acara- acara yang bersifat penalaran dan ilmia. Padahal, acara musik seperti ini juga dibutuhkan oleh mahasiswa.

A Mild Live Campus Music Box yang digelar 99 Production dan A Mild Live Production tersebut sebelumnya juga digelar di kampus Universitas Kristen Artha Wacana-Kupang, Kamis (10/7/2008), pada jam yang sama. Bahkan menurut rencana, acara serupa juga akan digelar di beberapa kampus pendidikan tinggi di Kota Kupang.

Area Manager PT HM Sampoerna yang merupakan sponsor acara tersebut, Danang Pamungkas, yang ditemui di sela-sela penampilan band-band, grup dancer dan disck jokey tersebut mengatakan, ajang musik kampus tersebut akan terus dilakukan di Kota Kupang. "Ini tahap awal kita dengan konsep ini. Dan, ke depan ajang ini akan terus kita lakukan di Kupang dengan konsep yang lebih baik," jelasnya.

Danang menjelaskan, ke depan kegiatan yang akan dilaksanakan diupayakan lebih melibatkan mahasiwa dalam kegiatan tersebut. "Kita sedang menyiapkan konsep yang pas untuk anak kampus dengan melibatkan para mahasiswa dalam ajang ini," jelasnya.
Iwan Karsidin dari 99 Production sebagai event organizer yang dihubungi, Rabu (9/7/2008), menjelaskan, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan hiburan dengan konsep baru secara khusus untuk para mahasiswa di Kota Kupang.

Dijelaskannya, acara kali ini adalah pertama kalinya dilakukan di kampus-kampus dan diharapkan ke depan acara serupa bisa memberikan kesempatan buat band-band kampus untuk tampil pada acara nanti.

"Acara seperti ini tidak hanya akan dilaksanakan sekali ini saja, tetapi akan berlanjut pada kesempatan selanjutnya dengan konsep yang selalu inovatif dan kreatif, yang tentunya dengan melibatkan para mahasiswa di kampus-kampus di kota Kupang," jelas Iwan. (*)

Pos Kupang Minggu 20 Juli 2008, halaman 13
Lanjut...

Catatan Ziarah dari Israel (2)


ISTIMEWA
BERDOA--Orang Yahudi di Bethlehem berdoa di Tembok Ratapan
Berlutut di Bethlehem

Oleh: Joshenone Jodjana

PAGI masih sunyi, suasana di Kota Yerusalem hari Jumat, 13 Juni 2008 terasa sejuk dan cukup tenang. Sambil menikmati udara segar di pagi itu, kami bersiap-siap untuk berziarah ke Bethlehem. Di kota tempat Yesus dilahirkan. Sebelum ke Bethlehem, pukul 07.00 waktu Yerusalem kami mendapat siraman rohani dari Pendeta Andi Yosef Panggabean. Lalu, dilanjutkan sarapan pagi ala western di holyland.

Setelah sarapan pagi kami melanjutkan ziarah ke Bethlehem. Di sana kami mengunjungi Gereja Nativity, tempat kelahiran Yesus (Lukas 2:1-7). Kami memasuki gereja tersebut dan mulai turun ke dalam gua. Kami antre karena banyak pengunjung. Setelah menuruni anak tangga ada satu tempat dengan tanda bintang perak besar bertuliskan; "Hic de Maria Virgie Jesus Christus Natus est" (Di sini Kristus dilahirkan).


Di tanda bintang itu banyak peziarah (pengunjung) berlutut. Ada yang berlutut dan menciumnya. Ada yang memotret. Saya pun berlutut di tempat itu. Tempat itu dipercaya sebagai tempat kelahiran Yesus. Dan, bintang perak merupakan lambang kedatangan orang Majus ke Bethlehem (Surat Matius). Di sebelah kanan bintang perak itu ada palungan tempat bayi Yesus diletakkan.

Sesudah itu kami kembali naik ke atas. Di sebelah atas gereja itu ada Gereja Ortodoks yang luar biasa besar dan indahnya. Gereja Ortodoks itu dibangun oleh Ratu Helena. Bersebelahan dengan Gereja Ortodoks, ada Gereja Katolik yang besar dan sangat ramai pada perayaan- perayaan besar seperti Natal dam Paskah.

Selanjutnya kami ke Makam Raja Daud. Di Israel, Makam Raja Daud merupakan tempat kedua paling disucikan, setelah Tembok Ratapan/Tembok Barat. Makam Raja Daud terbuat dari batu dilapisi kain sulaman dan dihiasi mahkota perak dari Torah. Kami ke Makam Raja Daud bertepatan dengan hari Sabbat (Sabtu). Karena pada hari Sabbat, maka kami tidak boleh mengambil gambar atau memotret makam tersebut . Orang Yahudi sangat menghormati hari Sabbat dan mentaati Perjanjian Lama. Di tempat itu pada hari Sabbat berlaku larangan no electricity.

Waktu masuk ke tempat Makam Raja Daud pun pintu masuk kaum wanita tidak bersamaan dengan kaum pria. Tempat masuknya berbeda. Setelah di dalam ruangan, Makam Raja Daud bisa dilihat dari tempat pria dan wanita. Kami tidak bisa melihat para lelaki karena dipisahkan oleh dinding, tapi masih bisa terdengar suara para lelaki di seberang dinding.

613 Perintah Allah Mengenai orang Yahudi dan hari Sabbat. Orang Yahudi sangat taat pada Hukum Taurat sehingga mereka selalu berpakaian rapi, stelan jas hitam, topi cowboy hitam dan janggut panjang. Di tiap bajunya ada benang-benang panjang yang bergantung berjumlah 613 benang. Benang-benang ini merupakan hukum Allah yang harus mereka patuhi.

Enam ratus tiga belas perintah/hukum Allah tersebut terdiri dari 365 Perintah Allah yang bersifat melarang/negatif (kalimat dimulai jangan àà) dan 248 Perintah/Hukum Allah yang bersifat positif (kalimat dimulai hendaknyaà..).

Apabila mereka melaksanakan 613 Perintah Allah dengan setia, mereka akan memperoleh keselamatan dan berkat. Kebiasaan orang Yahudi selalu bersembayang di Tembok Ratapan/Tembok Barat. Tembok Ratapan merupakan bangunan paling suci bagi umat Yahudi di seluruh dunia karena tembok ini adalah peninggalan bait Allah yang terakhir.

Tembok Ratapan ini berdiri di sebuah lapangan terbuka yang luas dan disediakan sebagai tempat beribadah. Tempat ibadah ini pun dipisahkan oleh dinding untuk kaum pria beribadah sendiri dan di sisi lainnya kaum wanita beribadah tersendiri. Bangunan peninggalan Herodes ini masih kokoh, walaupun yang tersisa hanya sebuah tembok panjang yang tinggi.

Via Dolorosa
Pada Sabtu (14/6/2008) pagi, kami ke Via Dolorosa (Jalan Penderitaan) untuk melakukan jalan salib. Via Dolorosa adalah jalan yang dilalui Yesus sambil memikul salibnya. Kami melakukan jalan salib di pagi hari karena jalan yang kami lalui berlokasi di jalan-jalan yang ramai lalulintas kendaraan. Di kiri kanan jalan diapiti toko-toko berjualan buah-buahan, sayur-sayuran,dan toko souvenir. Juga karena jalan itu yang dilalui Yesus waktu memanggul salib. Prosesi jalan salib di pagi hari, suasana masih sepi, kami melakukan jalan salib dengan hikmat diiringi lagu-lagu yang damai. Selama prosesi jalan salib kami nyanyi sampai pemberhentian 14 berakhir di Gereja Makam Kudus.

Di dalam Gereja Makam Kudus versi I dahulu ada Golgota atau Bukit Tengkorak, tempat penyaliban dan makam Yesus -- bisa dilihat pada gambar di dinding pada pemberhentian 11,Yesus disalib dan baju Yesus dilepas. Dan, sebelumnya dibaringkan di sebuah batu persegi panjang yang sampai sekarang masih ada. Batu pembaringan Yesus ini sangat dihormati oleh orang Israel. Juga oleh orang-orang yang berziarah ke Israel.

Batu persegi panjang tempat pembaringan Yesus setelah mati di salib, terletak di pintu utama. Ketika kami jalan lagi ke belakang terdapat makam Yesus (dulu berupa gua ), sekarang sudah direstorasi ulang. Kedua tempat ini adalah tempat paling kudus bagi umat Kristen.

Dari Gereja Makam Kudus versi I, kami menuju Gereja Makam Kudus versi II. Gereja ini terletak di bagian utara gerbang Damaskus. Konon menurut sejarah, gereja ini ditemukan oleh Jenderal Charles Gordon dari Inggris pada tahun 1883. Di lembah tersebut setelah diamati menyerupai tengkorak dengan dua lubang mata, hidung dan diasumsikan sebagai Kalvari. Dan, di dekat Yesus disalib ada sebuah taman dan di dalam taman ada satu kubur baru yang belum dipakai. Dan, mereka memakai kubur itu untuk Yesus. Mereka meletakkan mayat Yesus dan dimakam di makam baru itu (Yohanes 19-41-42).

Makam itu merupakan makam yang dibuat Yusuf dari Arimathea untuk dirinya secara sembuyi - sembunyi karena takut kepada orang Yahudi (Yusuf Arimathea yang dulunya murid Yesus). Makam Kudus versi I dan II semua tentang kebenaran makam Yesus. Semuanya ada dan sama dalam alkitab, tapi yang terpenting Yesus telah bangkit dan kini hidup dalam hati kami. Selesai ziarah di makam kudus, kami mampir di kolam Bethesda, di mana Tuhan Yesus menyembuhkan orang lumpuh dan sekalian melihat gereja Santa Anne, di mana ada sebuah gereja yang sangat dimuliakan sebagai tempat kelahiran Maria.

Di sana juga kami mampir di Gereja St.Peter Galicantu. Gereja ini terletak di Bukit Zion. Di tempat inilah Petrus menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok (Mat 26: 69-75). Di depan gereja itu ada patung ayam jantan. Sebelum ke tempat itu kami ditunjukkan tempat Last Supper -- Perjamuan terakhir Tuhan Yesus bersama murid- muridnya -- (Lukas 22: 7 - 23). Di dalam gereja itu ada sebuah batu yang dipercaya tempat Petrus duduk di dekat perapihan diantara pengawal untuk melihat kesudahan perkara Yesus.

Kami mengunjungi rumah kediaman Imam Agung Kayafas, di mana Yesus diadili. Kami juga melihat tempat Yesus dipenjara dalam ruangan yang gelap, berbatu dan pengap. Di situ, sejenak kami termenung, seakan ikut merasakan penderitaan yang pernah dialami Yesus dengan penuh luka dan darah di sekujur tubuhnya. Di tempat itu kami berdoa bersama dalam kegelapan. Saat doa kami semua larut dalam kesedihan yang mendalam. Dan, tanpa terasa air mata berlinang. Suasana jadi hening. Yang terdengar hanyalah isak tangis para peziarah, mengenang penderitaan Yesus, 2.000 tahun silam. (bersambung)

Pos Kupang Minggu 20 Juli 2008, halaman 11 Lanjut...

Permainan Untuk Rangsang Otak Anak
Laporan Wartawan Pos Kupang/Apolonia Dhiu

PERMAINAN merupakan salah satu cara yang dapat merangsang perkembangan otak anak saat usia balita (bawa lima tahun).

Itulah yang coba dilakukan pasangan Siti Syahida Nurani dan Abdurahman Hamid. Permainan yang diberikan kepada anak bukan asal permainan. Permainan yang diberikan adalah permainan yang mendidik, seperti bongkar pasang, angka dan huruf dalam bentuk buah dan sebagainya. Permainan-permainan ini dipandang bisa mendorong anak dalam bermain sekaligus belajar. Makanya tidak heran kedua anaknya sudah bisa menghitung, membaca dan menulis sejak berada di taman kanak- kanak.


Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, kampus Muhammadyah Kupang, Kamis (17/7/2008), Ida -- begitu panggilan akrabnya -- menceritakan suka dukanya membimbing dan membesarkan kedua anaknya. Pasangan ini memiliki dua anak. Si sulung Nuansa Ekanti Chikita, lahir di Bima, 29 September 1995, saat ini duduk di bangku kelas II di salah satu pesantren di Bima.

Sedangkan putra keduanya, Ronald Dwiasa Ramdani, lahir di Kupang, 9 Juni 2002, saat ini duduk di bangku kelas I SD Naikoten I Kupang.

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Muhamadyah Malang tahun 1992 ini mengatakan, sebagai orangtua dirinya harus selektif dalam memenuhi keinginan anak-anaknya. Dengan demikian apa yang dilakukan bisa menolong anak-anak untuk masa depannya, seperti kemandirian, kedisiplinan dan kesuksesan dalam belajar dan membentuk kepribadian anak ke arah yang lebih baik. Pola ini diberikan kepada kedua anaknya secara berkesinambungan dan dinilai berhasil.

Wanita kelahiran Bima ini mengatakan, anak-anak harus diberi dasar yang kuat sejak kecil sehingga bisa membentuk kepribadian mereka. Permainan-permainan yang merangsang perkembangan otak anak saat ini sudah banyak ditemui di pasar atau di toko-toko mainan anak. Namun demikian, orangtua harus tetap selektif membelikan mainan yang cocok dengan usia anak. Karena akan sangat membantu merangsang motorik otak anak. Selain itu, anak juga perlu diberi asupan makanan dan minuman yang bergizi.

Hal lain yang dilakukan pasangan ini adalah membekali anak dengan pengetahuan dan pendidikan tentang agama yang kuat sejak usia dini. Putri pertamanya sudah dibekali dengan pendidikan agama di pesantren di Bima. Karena di Kota Kupang tidak ada layanan khusus pengetahuan agama Islam, Ida terpaksa menitipkan putrinya pada sang bunda di Bima. Namun, ia percaya bundanya sama dengan dirinya dalam mendidik dan membesarkan putrinya. Apalagi dengan bekal pengetahuan tentang pendidikan agama di pesantren.

Kehidupan keduanya yang sibuk dengan karier menjadi salah satu faktor utama memasukkan anak ke pesantren. Walau demikian, keduanya menempatkan anak sebagai prioritas. "Walau sibuk, kami tetap mengalokasikan waktu khusus bagi anak-anak. Misalnya saat liburan atau waktu senggang mengajak mereka untuk liburan keluarga. Untuk anak saya yang pertama, karena jauh kami tetap memantau dari jauh dan tetap berkomunikasi melalui handphone. Selain itu, kadang kami menyempatkan waktu untuk mengunjunginya ke sekolahnya di Bima," kata Ida yang pernah sebagai tenaga honorer di Kejaksaan Negeri Bima, Nusa Tenggara Barat ini.

Menurut dosen pada Fakultas Hukum Universitas Muhammadyah Kupang (UMK) ini, pada awalnya keduanya komit agar anak- anaknya harus menjadi nomor satu. Untuk itu, sejak usia dini harus sudah ditanamkan ilmu dan nilai-nilai keagamaan sebagai besik utama. Pertimbangannya dengan mengirimkan anak belajar di pesantren. Pengetahuan agama menjadi dasar karena bisa menjadi pegangan anak-anak ketika berkembang dan tumbuh menjadi dewasa nanti. Pengetahuan agama, katanya, bisa menjadi pegangan bagi anak-anak dalam menangkal pengaruh- pengaruh negatif dari luar yang masuk.

Usia anaknya memasuki masa remaja juga membutuhkan kasih sayang dari keduanya. Dan itu tidak menjadi halangan, karena saat ini alat komunikasi dan transportasi sudah semakin lancar. Bagi keduanya, membiarkan anaknya mengenyam pendidikan jauh juga merupakan salah satu cara melatih anak belajar hidup mandiri.

Dikatakannya, di usia yang labil seperti ini anaknya harus diberi dasar tentang agama yang kuat, sehingga ketika berada di sekolah menengah atas, bisa dilakukan di sekolah umum. "Saya sengaja melakukan ini sehingga anak saya bisa mendapatkan pendidikan agama yang memadai. Kalau sudah SMA, baru saya kasih di SMA di Kupang saja," katanya.

Dikatakannya, banyak hal yang bisa dipetik dari hidup di pesantren selain mendalami tentang agama dan nilai-nilai kehidupan, antara lain disiplin, pelatihan ceramah, belajar bahasa Inggris dan Indonesia. (*)

Pos Kupang Minggu 20 Juli 2008, halaman 12

Lanjut...

Sampah, Tanggung Jawab Siapa?

Laporan Wartawan Pos Kupang Kanis Lina Bana

SEORANG
bapak paru baya mendekati bak sampah di samping pertokoan Kota Ruteng, Ibu kota Kabupaten Manggarai, Jumat siang ujung Juni 2008 lalu. Tanpa tole kiri kanan, pria yang mengenakan topi motif daerah Manggarai membuka kain sarung, celana dan kencing dengan lepas. Usai melepas hajat ringan, ia kembali ke emperen toko dan berdiri. Rasa legah pun terpancar dari wajahnya.

Bintik-bintik keringat di dahi ia keringkan dengan tangan kanannya. Sesekali matanya kembali menoleh tong sampah warnah kuning yang sudah penuh sesak dengan sampah. Seperti ada rasa ibah penuh syukur, untung ada tempat itu sehingga dirinya bisa melepaskan sesuatu yang bisa membuat perut kembung.
Beberapa menit kemudian seorang pria paru baya lain mengenakan kain songke Manggarai setengah jongkok juga kencing di tempat itu. Sarung parang di balik kain yang disingkapnya itu seolah menongkat posisi duduk ketika hendak melepas air zeninya.

Pemandangan sekitar tampak jelas tak terurus. Sampah berupa kertas-kertas berserakan. Ada aroma tak sedap. Bau kencing campur-aduk dengan aroma lain di sekitarnya. Sepertinya tempat itu sudah lama menjadi tempat buang kencing dan kotoran lainnya.

Di tempat terpisah, persis di area pertokoan baru, seorang anak belasan tahun dengan potongan kayu kering di tangan kanan mengais-ngais di antara tumpukan gardus bekas. Matanya memperhatikan arah ujung kayu yang digerakkan. Lalat hijau beterbangan dan kembali kerubut tong itu. Anak itu seperti sedang mencari sesuatu. Matanya cekung. Mukanya pucat pasi seperti belum makan siang. Ia terus berjuang mengumpul kertas dan gardus. Kertas, gadus dan botol bekas air minum kemasan dikumpulnya untuk dijual.

Rekaman kejadian di atas sangat kontras. Di satu sisi tong sampah yang biasanya menjadi tempat buang sampah dan kotoran yang tidak dipakai lagi justru menjadi tempat buang hajat. Di sisi lain sampah tumpukan sampah di tempat itu justru menjadi sumber pendapatan. Setidaknya, tempat sampah dan sampah sudah memberi keuntungan bagi yang memanfaatkannya seperti anak di atas tadi. Pada titik ini dapat dipahami juga, sebagai tempat penampungan dan pembuangan barang-barang yang tidak bermanfaat sekaligus menjadi tempat mengais sesuatu yang bisa dimanfaatkan.

Memang, sampah menjadi sisi lain wajah Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai. Kehadirannya bisa membuat rusak pemandangan. Bahkan bisa menjadi lahan subur penyakit tertentu seperti diare, muntah berak, dan menjadi tempat berbiak jentik-jentik nyamuk. Tak pelak jika urusan sampah menjadi sesuatu yang gampang-gampang susah, namun urgen. Salah urus bisa menjadi mala petaka.

Wajah kota rusak, popularitas pejabat yang urus pun bisa turun drastis.
Terlepas dari imbas positif dalam mengelola sampah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai sudah memasuki tahap serius dalam mengelola sampah secara baik. Dari tahun ke tahun ada kemajuan yang nyata. Meski harus diakui beberapa tempat seperti saluran drainase, tempat umum seperti pasar, terminal belum seratus persen bebas dari sampah. Di sana-sini ada sampah, bererakan tak teratur terutama di sekitar pasar. Bahkan di saat-saat tertentu sangat berantakan.

Kepala Badan Pengelolaan Dampak Lingkungan (Bapedalda), Drs. Yulius Lay, yang ditemui Pos Kupang belum lama ini mengatakan, urusan sampah dan menjaga kebersihan kota bukan pekerjaan mudah. Bapedalda bekerja maksimal untuk menciptakan wajah kota lebih baik. Tanda kemajuan wajah kota telah dibuktikan melalui sertifikat adipura dari Menteri Lingkungan Hidup 2007 lalu. Meski terhadap penghargaan itu ada nada miris, tetapi harus diakui adanya sertifikat itu membuktikan tingkat kemajuan kebersihan kota sudah mulai baik.

Ditilik dari potensi, produksi sampah di Manggarai sangat tinggi. Setiap hari pasukan kuning yang terdiri dari 55 orang anggota harus mengangkut lima sampai tujuh ton sampah. Melalui 2 unit dump truk, satu unit armroll dan sembilan motor roda tiga mengangkut sampah dari tempat penampungan di sepuluh transfer depo dan 71 tong sampah. Sampah-sampah diangkut lalu dibuang ke tempat pembuang akhir di luar kota.

Menurut Lay, Bapedalda sudah memiliki TPA seluas 8.000 meter persegi. Tepatnya di Karot-Ting, Kecamatan Wae Ri'i. Lahan tersebut menjadi sentral kegiatan lingkungan hidup dengan bangunan laboratorium. Alat sampah dan proses sampah menjadi kompos.

Belum Maksimal
Wakil Ketua DPRD Manggarai, Lodvitus Bagus, A.Md, mengatakan, secara keseluruhan pengelolaan sampah sudah ada tanda-tanda positif wajah Kota Ruteng mulai membaik. Namun harus diakui pengelolaan belum maksimal. Masih konsentrasi pada wilayah tertentu. Pengaturan pasukan kuning baru hanya konsentrasi di sentral kegiatan ekonomi dan perkantoran saja.
Dikatakannya, perlu ada terobosan baru dengan membangun komunikasi bersama masyarakat di pemukiman penduduk. Tujuannya agar masyarakat sadar lingkungan dan kehidupan yang sejuk. Masyarakat kita belum menyadari pentingnya lingkungan sehat. "Mesti ada gerakan bersama sadar lingkungan," katanya.
Salah seorang aktivis LSM yang juga merangkap pemulung, Abraham Manggas, mengatakan, produksi sampah di Manggarai sangat tinggi. Hal itu menunjukkan sirkulasi ekonomi masyarakat sangat tinggi pula. "Saya tiap hari bisa dapat 600-800 kg gardus. Gardus itu saja jual dengan harga Rp 1.000,00/kg," katanya.
Ke depan, jelas Manggas, membentuk organisasi pencinta lingkungan khususnya sampah. Organisasi itu menjadi lahan baru baru masyarakat untuk bisa mengais mengumpul gardus dan sampah lainnya untuk dijual. Selain itu memotivasi masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. (kanis lina bana)


RTH Solusi Buat Ruteng Nyaman

LAY membuat suatu terobosan baru bekerja sama dengan Ekopastoral Pagal dalam mengelola sampah menjadi pupuk organik di TPA. Di lokasi itu pula disiapkan lahan pembibitan kayu. Bibit akan didistribusikan kepada warga kota dalam rangka menata ruang terbuka hijau (RTH). Tujuannya meningkatkan kualitas hidup segenap lapisan masyarakat dalam menjaga kota yang nyaman dan seimbang. Adanya keseimbangan ekologis kota melalui suatu penataan yang memadai memberi kontribusi bagi kehidupan manusia. Salah satunya cara sampah ditempatkan pada tempatnya dan dikelola menjadi pupuk organisasi. Pupuk organik bisa dipakai untuk menyuburkan pohon yang kita tanam. Dengan demikian ada sirkulasi kepentingan yang mendatangkan keuntungan bagi manusia sendiri.
Selain itu dukungan jaringan infrastruktur seperti drainase dan got bangunan menjadi faktor pendukung yang harus diperhatikan dengan baik pula. Saluran air dan RTH didistribusi secara baik. Reformasi tata ruang dan lingkungan menjadi tanggung jawab bersama.
Mampukah Bapedalda membuat Ruteng nyaman, bebas dari sampah-sampah? Atau hanya retorika saja. Kita tunggu. (*)

Pos Kupang Minggu 20 Juli 2008, halaman 14
Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda