Fary Dj Francis

Fary Dj Francis


Belajar Bersama Masyarakat

KUNCI sukses keberhasilan pembangunan ada di tangan masyarakat. masyarakat perlu dilibatkan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pemanfaatan buah dari pembangunan itu. Jika program pembangunan itu turun dari atas (top down) , mustahil hasilnya menjadi maksimal.

Berbagai komponen baik pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), media massa serta berbagai sstakeholder mengambil peran dalam pembangunan itu. Masing- masing berperan sesuai dengan visi dan misinya. Berbagai gaya dan pola dilakukan untuk menggairahkan masyarakat dalam pembangunan itu. LSM punya peran strategis mendorong dan memotivasi masyarakat agar segera keluar dari keterpurukan ekonomi, terbelenggunya pembangunan dan keluar dari kemiskinan.

Aktivis LSM, Fary Dj Francis telah mempraktekkan itu dalam berbagai program pembangunan, dalam berbagai pendampingan pembangunan. Seperti apa kiat-kiat dan langkah strategis yang dilakukan Fary? Ikuti perbincangan dengan Wartawan Pos Kupang Gerardus Manyella, di Kupang pekan lalu.

Dalam banyak kesempatan Anda berbicara tentang pemberdayaan masyarakat. Konsep dan pengalaman Anda yang dilansir melalui opini Pos Kupang mendapat respon yang pro maupun kontra. Apa reaksi Anda? Pro-kontra itu bagi saya wajar. Dari situ kita dapat pembelajaran baru, tetapi tidak ada maksud untuk memojokkan rekan-rekan yang selama ini bekerja sebagai konsultan/fasilitator, karena apa yang telah dikerjakan teman teman di masyarakat tidak sedikit juga yang berhasil, saya hanya ingin kita semua, khususnya fasilitator untuk lebih berhati-hati saat ingin ke masyarakat, untuk itulah sebelum ke masyarakat saya menantang teman teman lebih dulu memahami siapa masyarakat itu, mengapa mereka bertahan dan berkembang ? Apakah memang harus pihak luar yang membantu atau cukup sesama mereka saja yang didorong memecahkan persoalan mereka karena sejak dulu mereka ada karena sudah ada norma dan lembaga di masyarakat yang disebut budaya yang membuat mereka saling dukung mendukung yang kental dengan istilah gotong royong. Itu artinya peran kita hanya secuil saja bukan karena kita mereka bisa hidup bertahan tetapi karena mereka sendiri.

Dalam banyak momen, Anda juga selalu mengatakan partisipasi itu untuk pihak luar? Apa maksudnya? Pada setiap kesempatan bertemu dengan para fasilitator , saya sering bertanya , "sebelum Anda (fasilitator) memasuki desa itu, apakah desa itu ada ? Dengan cepat dijawab "Ya", kemudian saya bertanya lagi " setelah Anda meninggalkan desa tersebut atau Anda tidak akan ada di desa tersebut lagi, apakah desa tersebut hilang ataukah tetap ada ? Sambil tersipu-sipu fasilitator menjawab "tetap ada". Belajar dari sini saya terus mendidik diri bahwa kita (pihak luar) pergi atau tidak ke suatu desa, desa tersebut telah ada dan akan tetap ada.

Jika demikian siapa yang mestinya berpartisipasi ?
Bila Anda memiliki sebuah rumah, tiba tiba seorang datang untuk memperbaiki rumah Anda, dia memasuki rumah Anda, memberikan perintah ini dan itu dan semuanya tidak menarik bagi Anda. Lalu bila dia berkata, "Hai, Anda tidak berpartisipasi, mungkin karena Anda tidak berpendidikan, Anda pasti marah kan? Dalam kasus proyek rumah ini, siapa yang Anda pikir berpartisipasi, pihak luar atau pemilik rumah ? Tetapi, dalam kenyataannya pihak luar seringkali meminta partisipasi orang orang lokal (pemilik rumah), inilah yang terjadi dengan proyek- proyek pembangunan, pihak luar pergi dan berkata kepada masyarakat, "mengapa Anda semua tidak berpartisipasi (pada proyek saya)". Ketika kita berkata bahwa " oh, dalam desa ini level partisipasinya benar- benar rendah", itu artinya kita sedang berbicara tidak masuk akal. Padahal, apa yang benar adalah partisipasi kita sebagai pihak luar yang sebenarnya tidak cukup".
Itu berarti keberadaan kita (pihak luar) hanya buatan (artificial) di sebuah desa, bukan masyarakat. Jika kita mengatakan, kita membutuhkan partisipasi dari masyarakat, tetapi tidak pernah merefleksikan partisipasi kita, itu sama saja kita sedang berbicara tidak masuk akal (nonsesnse), untuk itulah jangan salah mengerti, partisipasi bukan untuk masyarakat desa, tetapi untuk pihak luar, disinilah esensi dari "Partisipasi".

Anda juga mengingatkan agar berhati-hati dengan perangkap bantuan luar ? maksudnya ? Seperti yang saya katakan sebelumnya, " masyarakat itu seperti sebuah gunung es dengan banyak bagian yang lebih berat tersembunyi di bawah permukaan air , hanya sekitar 10 persen dari sebuah gunung es yang kelihatan di permukaan, itulah bagian hidup masyarakat yang benar-benar kita sadari. Sekalipun bagian-bagian tersebut ada di bawah permukaan, mereka mendominasi kehidupannya yang kelihatan".
Atas dasar ini, fasilitator perlu menggarisbawahi pentingnya memiliki sebuah pemahaman yang baik tentang suatu masyarakat, sebelum mereka terlibat lebih jauh. Jika hal ini diabaikan, maka intervensi fasilitator hanya akan merusak masyarakat. Karena itulah, seorang fasilitator masyarakat harus berhati-hati dengan 'pengetahuannya' tentang masyarakat.

Kapan Anda mulai menyadari adanya perangkap ini, padahal Anda selama ini bekerja untuk bantuan pihak luar? Sejak saya merasa apa yang saya lakukan selama ini salah dan mulai menyadari itu. Saya harus mengakui bahwa seperti dokter kadang salah mendiagnosis, saya juga sering salah mendiagnosis masyarakat yang selama ini saya dampingi untuk suatu program pemberdayaan masyarakat. Di sepanjang perjalanan pertumbuhan saya sebagai fasilitator, saya menerima pelatihan baik di dalam maupun di luar negeri bahkan belakangan ini lebih sering diminta melatih fasilitator masyarakat. Sayangnya, solusi-solusi yang saya dapatkan dalam pembelajaran tersebut setelah saya aplikasikan di masyarakat kebanyakan bersifat sementara. Resep-resep yang diberikan kebanyakan gagal memecahkan persoalan sesungguhnya yang ada. Dalam istilah saya "untuk jangka pendek masalah memang dapat dipecahkan, tetapi untuk jangka panjang tidak ada perbaikan."

Dalam kaitan dengan permasalahan pembangunan di NTT, pendekatan apa yang dilakukan dalam pemberdayaan masyarakat? Kita sering dengar kegerahan rekan- rekan LSM yang terus mengkritisi banyak moment. Contoh yang berkaitan progress penanganan persoalan gizi buruk, sebagai salah satu kesalahan fatal dalam pembangunan NTT yang menunjukkan penderita dari tahun ke tahun terus meningkat. Data tahun 2003, bayi bermasalah gizi buruk hanya berkisar 3.500 anak, kemudian naik menjadi 10.000 (kenaikan lebih 60%) dan pada tahun 2006 (keadaan 7 Juni) meningkat lagi dari 477.829 jiwa terdapat 106.971 (22,4%) yang bermasalah dengan gizi terdiri dari kurang gizi sebanyak 85.251 jiwa, gizi buruk tanpa kelainan klinis 17.161 jiwa, gizi buruk dengan kelainan klinis sebanyak 559 jiwa dan meninggal 68 jiwa.

Apa ada kasus lainnya? Masalah kemiskinan yang hingga saat ini belum teratasi. Data kemiskinan menunjukkan dari tahun ke tahun merangkak naik. Data BPS NTT dari tahun 2004 jumlah orang miskin hanya 28,62% kemudian naik ditahun 2005 menjadi 58,19% dan terus meningkat menjadi 75,48% pada tahun 2007, secara pribadi data ini saya sedikit ragukan tetapi fakta menunjukkan data ini yang dipakai dalam perancanaan pembangunan NTT.

Jalan Keluarnya? Bagi saya tidak ada jalan keluar, kecuali kita sebagai pihak luar (pemerintah dan LSM) lebih berhati-hati agar tidak masuk dalam perangkap kesalahan katakonik (cathaconic error), yakni suatu kesalahan di mana orang mengadili sesamanya berdasarkan kategori atau nilai-nilai asing. Kesalahan katakonik ini tanpa disadari kerap dipraktikan dalam proses pemberdayaan masyarakat. Salah satu contoh kesalahan katakonik adalah menilai pertandingan tenis meja dengan peraturan tenis lantai. Acapkali fasilitator sebagai pihak luar berpikir bahwa hal-hal yang kuno dan tradisional harus diganti yang baru dan selalu mencari apa yang kita tidak punya tanpa melihat apa yang kita punya, atau kita selalu menganggap bahwa pihak luar mempunyai hal-hal yang lebih baik daripada yang kita miliki atau kita selalu lebih percaya hal-hal yang ada di luar daripada yang ada di dalam. Pendek kata " tidak ada di sini minta dari luar", tapi benarkah kerangka berpikir ini?

Pengalaman Anda sendiri? Apakah ada kisah sukses yang pernah Anda buat dalam program pemberdayaan masyarakat? Bukan saya yang membuat masyarakat berhasil atau sukses tetapi masyarakat sendirilah yang membuat itu. Peran saya hanya memfasilitasi saja dan masyarakat sendiri yang berjuang untuk membuat mereka sukses. Dulu, saya datang ke masayarakat selalu mencari apakah ada masalah di masyarakat untuk bisa punya alasan datang ke masyarakat, tetapi sekarang saya berpikir terbalik kalau saya datang ke masayarakat yang saya cari apa yang ada di masyarakat, dari situ saya belajar dan bekerja bersama masyarakat untuk mengembangkan dari apa yang ada, walaupun itu di mata pihak luar tidak berarti tetapi potensi itulah yang membuat masyarakat di situ bertahan dan berkembang. Itu yang saya lakukan lima tahun terakhir ini. Dan ini tidak hanya di NTT tetapi di sebagian desa di Indonesia bahkan di negara berkembang lainnya seperti India, Philipina dan Thailand. Sekali lagi bukan saya yang membuat masyarakat bisa berkembang tetapi mereka sendirilah, peran saya hanya memfasilitasi saja. Di NTT terlalu banyak yang bisa kita belajar dari masyarakat. Kisah masyarakat Desa As Manulea di Kecamatan Sasitamean, Kabupaten Belu , bagaimana mereka mampu menyatukan suku-suku untuk air kehidupan desanya. Saya menemukan guru saya di masyarakat di Desa As Manulea, Romo Maxi un Bria (tokoh masyarakat), Frans Seran (ketua forum masyarakat), Gabriel (Kepala Desa Asamanulea), saya harus mengatakan mereka itulah guru saya. Contoh lain di Tunbaun, Amarasi, bagaimana tokoh masyarakat menggerakkan masyarakat dengan kekuatannya untuk mengaktifkan kembali roh gotong royong untuk membuka jalan bagi desanya dan masih banyak lagi kisah masyarakat membangun desanya dengan potensi yang ada. Anda bisa datang ke lembaga saya (INCREASE) dan menemukan cerita-cerita inisiatif masyarakat yang sukses di sana.*


Menyatukan Suku-Suku Untuk Air Kehidupan
BAGAIMANA mungkin air yang berada di lembah bisa dialirkan ke desa yang berada di ketinggian sekitar 2-3 kilometer. Gong perjuangan warga Desa As Manulea untuk menikmati air bersih mulai ditabuhkan tahun 2001, diawali dengan ritus adat. Empat suku yang masing masing memiliki satu sumber air di lokasi menyerahkan secara kekeluargaan kepada pihak desa untuk dikelola agar dinikmati masyarakat umum.
Ada juga kesepakatan adat yang pantas ditakuti. Sanksi adat. Jika dilanggar akan mati ditelan bumi, bisa saja dengan cara yang tragis. "Siapa yang mau menjadi korban jika sudah ada kesepakatan seperti itu. Sangat positif karena justru melanggengkan kebersamaan," kata Fary.
Perjuangan terus dilakukan agar air segera dinikmati. Masyarakatpun digerakkan untuk berswadaya mengumpulkan uang. Tak ada yang protes. Dengan segala keterbatasan materi yang dimiliki, warga mengumpulkan uang. Hasilnya, dana Rp 261.000.000, terkumpul. Empat bak penampung di lokasi sebagai sumber pertama, pun dibangun, termasuk pengadaan pipa, sirtu dan sarana lainnya.
Tukang-tukang menjadi sukarelawan mengerjakan bak penampung, memasang pipa dari sumber air menyusuri lereng-lereng bukit hingga ke rumah-rumah penduduk. "Pemafaatan dana hanya terkonsentrasi untuk pengadaan material. Kami tidak mengeluarkan uang untuk sewa tukang. Pengerjaan dilakukan secara swadaya, bergotong royong,"kata warga dikutip Fary.
Dua tahun berlalu, persoalan besar menghadang. Bagaimana air bisa naik. Tak ada cara lain, kecuali dengan bantuan mesin. Pada titik ini, semuanya angkat tangan. Pemangku kepentingan Desa As MaƱulea tidak kehilangan akal. Membuat proposal bantuan mesin kepada pemerintah. Kemudian pemerintah mengabulkannya. Sebab, masyarakat sudah menunjukkan keseriusan, keswadayaan. Tak total berharap kepada pemerintah.
"Tahun 2003, mesin mulai dipasang, pada sebuah bangunan khusus di atas bukit tempat kami berdiskusi. Sarana lainnya pun dibangun, berupa bak penampung utama di tengah-tengah desa. Pada Desember 2003 menjelang natal, rakyat menikmati air bersih hasil jerih payah mereka sendiri," kata Fary.
Soal mesin sebagai nadi utama,"bagaimana suku cadangnya, didapatkan dimana, ini harus dipikirkan agar tidak terjadi kemacetan. Bagaimana keterlibatan anak-anak muda di desa ini agar mereka tetap peduli mengurus air bersih ke depan, Apa yang dikhawatirkan, pengelola air (FKKK) yang sudah mengantisipasinya dengan memberlakukan iuran pemeliharaan, Rp 15.000 / bulan / kk. "Iuran ini digunakan untuk membeli solar, 60 liter/minggu, serta mengganti jaringan perpipaan yang rusak serta keperluannya,"
Dari bak utama di desa, air dialirkan ke 26 fiber sesuai jadwal yang ditentukan. Air dari satu fiber dinikmati oleh 15 - 17 kepala keluarga (kk).(gem)

Data Diri :
Nama : Fary Dj Francis
Tanggal Lahir : Kupang, 7 Pebruari 1968
Istri : Yoca O Johannes (Pegawai BRI Cab. Kupang)
Anak : 1. Khykhy (11 th)
2.Rhena (9 th)
3.Vhyto (6 th).
Alamat : Jl. Bumi III, RT 08, RW 03. Kelurahan Oesapa Selatan, Kupang, NTT.


Pendidikan Terakhir : Master Management in Agribusiness, Bogor Agricultural University (MMA - IPB).
Beasiswa OSW Germany Foundation 1996, Program Study "Peace Education & Conflict Reconciliation (PCR) Ohio University Athens, USA.
Beasiswa Kementrian Luar Negeri USA, 2003 dengan Program Study " Community Development Management" (MCD), Somneed Institute, Andra Pradesh, India.
Beasiswa dari JICA 2005
Pekerjaan Terakhir : Direktur INCREASE, Lembaga Training & Kajian Berbasis Masyarakat.
Board Advisor Smile Link Untuk Lingkar Kerjasama Masyarakat Japan - Indonesia dan National Expert JICA-BAPPENAS untuk Program Pemberdayaan Masyarakat di Indonesia Timur.
Training dan Lokakarya :
Symposium for PKPM JICA-BAPPENAS Project, Tokyo, Japan 2007.
Good Practices Cases Study on GO-NGO Collaboration in Bangkok, Thailand. Didukung Oleh JICA Thailand 2005
GO-NGO Collaboration, Tokyo, GIFU, Kobe, Japan didukung Oleh JICA 2004
Workshop on Conflict Management di Manila, Philipina . Diundang oleh for United State Institute of Peace (USIP), USA, 2003 dan Training Course on Facilitation for Community Development, Training Antar Negara dari Asia pacific, Nepal, India, Srilangka, Iran, Mongolia. 2002.
Training of Trainers (TOT) for Facilitator of Rural Community Development. Germany /Marburg Lahn 1998.
Belajar dan Bekerja Bersama Masyarakat & Mitra LSM selama 5 tahun terakhir, antara lain, Pengembangan Masyarakat Dalam Pembuatan Saluran Irigasi di Desa Ijobalit, Kecamatan Labuan Haji, Kabupaten Lombok Timur, Propinsi Nusa Tenggara Barat, "Kelompok Pengelolaan Sarana Air Bersih UPS-KPS Matturu' Walie Desa Matajang, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Kemandirian Kelompok Tani Tambak Ikan Bandeng Desa Bipolo, Kecamatan Sulamo, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Mendukung Inisiasi Masyarakat Dalam Pelestarian Sumber Daya Pesisir dan Laut di desa Toli-Toli, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawa, Sulawesi Tenggara.
Membangun komunitas bersama antara masyarakat lokal dan warga Ex_Timor-Timor di Desa Oebelo, Kabupaten Kupang
dan mengembangkan kegiatan berbasis masyarakat dalam kerangka kerjasama dengan CARE International West Timor pada Proyek Mitigasi Malaria di Pulau Timor (MIAT).


Pos Kupang Minggu 24 Agustus 2008, halaman 3
Lanjut...

Revli Sampe dan Naomi Dillak



FOTO ISTTIMEWA
Revli Sampe
bersama istri
dan ketiga
anaknya















Manfaatkan Waktu Belajar


Laporan Apolonia Dhiu

MEMANFAATKAN waktu untuk belajar di sekolah, di rumah dan dimanapun berada merupakan salah satu cara bagi pasangan keluarga Revli Sampe dan Naomi Dillak. Memanfaatkan waktu seefektif mungkin untuk membaca mengantarkan putra meraih medali emas Olimpiade Sains Nasional (OSN) dalan bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di Makassar, Sulawesi Selatan belum lama ini.

Pria hitam manis yang menyelesaikan studi S2-nya di Tasmania University Hobart Australian tahun 1999 ini selalu mengajarkan kepada keluarganya untuk memanfaatkan waktu dengan baik.

Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya di Laboratorium Biologi Fakultas Sains dan Teknik (FST) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Kamis (21/8/2008), Revli begitu akrabnya mengisahkan mengenai seluk-beluknya dalam mendidik anak-anaknya agar bisa mengisi ilmu pengetahuan.

Pasangan ini memiliki tiga anak. Putra sulung bernama Samuel Hobart Sampe lahir di Australia, 10 Mei 1977, saat ini duduk di bangku kelas VI, Sekolah Dasar Katolik (SDK) Sta. Maria Assumpta-Kota Baru Kupang. Putra kedua, John Sampe, lahir di Kupang, 17 Nopember 1999, saat ini duduk di bangku kelas III SDK Sta. Maria Assumpta dan putri bungsunya Jona Sampe, lahir di Kupang, 2 Mei 2002, saat ini duduk di bangku kelas I SDK Sta. Maria Assumpta Kota Baru Kupang.


Ia mengatakan, kebiasaan memanfaatkan waktu ditularkan kepada istri dan ketiga anaknya. Bagi Revli dan keluarga 'waktu adalah emas' (time is gold). Sehingga, besar kecilnya volume waktu yang ada harus selalu dimanfaatkan untuk sesuatu yang berguna. Begitupun dalam hal belajar bagi ketiga anaknya.

Sebagai orang tua, keduanya tidak pernah memaksakan anak untuk belajar ataupun membuat jadwal khusus untuk anak dalam belajar. Ia selalu mengedepankan keterbukaan komunikasi di rumah. Sehingga anak tidak merasa diintervensi oleh keduanya dalam belajar, dan anak belajar memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya termasuk dalam hal belajar.


Ia mencontohkan soal bermain di rumah, biasanya mereka membuat kesepakatan bersama. Setelah pulang sekolah, anak makan dan beristirahat siang seperti tidur.

Setelah istirahat, anak-anak meminta untuk bermain. Saat inilah keduanya akan melakukan kesepakatan dengan anak. Keduanya akan menanyakan kepada anaknya bermain dimana, dengan siapa dan sampi jam berapa. Biasanya ketiga anaknya selalu memanfaatkan waktu bermain ini dengan baik. Kalaupun ada yang melanggar kesepakatan, keduanya akan berusaha meminta pendapat anaknya dan menanyakan mengapa anaknya melanggar kesepakatan yang sudah disepakati bersama.

Kalau sudah dijawab, keduanya akan memberikan arahan kepada anaknya agar ke depan diperbaiki. Hal ini dilakukan agar anak belajar untuk terbuka dalam berkomunikasi tentang apa saja dengan orang tua di rumah. Setelah bermain, anak- anak membersihkan diri dan kemudian makan malam. Selesai makan malam inilah yang dimanfaatkan anak untuk belajar. Waktu untuk belajar biasanya tidak pernah ditetapkan keduanya. Keduanya membiasakan anaknya untuk belajar dengan maksimal waktu 20 menit.

Menurutnya, waktu yang disepakati ini bukan relatif harus, tetapi tergantung kepada anak sendiri. "Kalau anak bisa belajar hanya dalam waktu lima menit, kami juga memakluminya atau menambah waktu lebih lama juga kami persilahkan. Berarapun waktu yang dipakai untuk belajar, kalau dimanfaatkan dengan efektif pasti akan memperoleh hasil yang memuaskan," kata Revli.

Begitupun saat bangun tidur di pagi hari. Ia mengajarkan anak-anaknya untuk memanfaatkan waktu belajar sebelum berangkat ke sekolah. Biasanya, pada pagi hari ingatan sangat kuat dan segar. Ia membiasakan anaknya untuk membaca kembali materi-materi yang dipelajari anak-anaknya di sekolah dan membaca materi yang akan datang. Walau tidak lama, waktu harus efektif dan jelas.

Kebiasaan belajar memanfaatkan waktu ini merupakan salah satu cara yang dilakukan keduanya yang berprofesi sebagai guru. Anak-anak termotivasi oleh keduanya ketika pada malam atau pagi hari selalu membuka kembali materi-materi untuk dipelajari sebelum berangkat ke sekolah dan kampus untuk mengajar. "Mungkin kebiasaan kami inilah yang memotivasi anak-anak untuk belajar. Kadang buku-buku pelajaran yang kami baca juga dibaca oleh anak-anak," katanya.Komunikasi yang baik dengan anak di rumah sangat baik untuk mengetahui perkembangan anak di sekolah.

Alumni Universitas Tadulako Sulawesi Tengah ini mengatakan selain menjalin komunikasi dengan anak di rumah, ia juga selalu berusaha untuk membangun komunikasi yang baik dengan guru-guru di sekolah anaknya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana anak belajar di sekolah. Kalau ada yang tertinggal, keduanya akan berusaha membantu sejauh kemampuan mereka.

"Biasanya kalau anak pulang sekolah kami tanyakan mengenai suasana belajar di sekolah dan berusaha memeriksa hasil kerja anak di sekolah. Kalau ada pekerjaan rumah, biasanya kami mengingatkan anak untuk mengerjakanya dan kalau ada yang tidak biasa diselesaikan sendiri, barulah kami membantunya," kata pria yang pernah mengajar di FKIP Biologi Undana ini.

Menurutnya, sebagai orang tua, keduanya juga harus bisa menjadi sahabat dan guru bagi anak-anak di rumah. Karena orang tua adalah cerminan keberhasilan anak. Anak akan lebih banyak belajar apapun dari orang tua. Makanya, oranng tua harus bisa melakukan yang terbaik bagi anak-anak.

Ketiga anaknya yang masih relatif kecil tidak menjadi kendala bagi keduanya mendidik dan mengarahkan. Keduanya juga mengajarkan mengenai skala prioritas, mana yang terpenting bagi anak. Keinginginan dan kemauan anak memang selalu dipenuhi tetapi difokuskan mana yang terpenting dan disesuaikan dengan pendapatan keduanya. Makanya keterbukaan komunikasi sangat penting diterapkan dalam keluarga.

"Misalnya, anak mint membelikan bola lengkap dengan perlengkapannya seperti sepatu bola, baju, celana. Saya tanyakan dari semua ini mana yang paling dibutuhkan. Kalau tidak saya katakan, kalau semuanya dibelikan, berarti ada pos-pos tetap yang harus dikurangi, seperti susu, uang trasnport atau apa. Tetapi, kalau anak-anak katakan tidak boleh, maka harus pilih mana yang harus diutamakan," kata Revli. (*)

Pos Kupang Minggu 24 Agustus 2008, halaman 12
Lanjut...

Percaya Diri Ikut Menwa


POS KUPANG/
ALFRED DAMA

Maria Seran,
Riky Pelokilla
dan Maya Liki
saat usai
upacara







Laporan Mathilde Dhiu/Pos Kupang


TIDAK semua mahasiswa tertarik masuk dan bergabung menjadi anggota Resimen Mahasiswa (Menwa). Selain dianggap sulit karena harus mengikuti tahapan latihan yang berat, juga harus terikat dengan disiplin yang tinggi. Menjadi Menwa memerlukan ketangguhan fisik dan kemauan diri yang kuat untuk dari mahasiswa untuk bisa menjadi anggota Menwa.

Beberapa persyaratan harus dipenuhi dan melewati beberapa fase latihan yang keras dengan waktu yang sudah ditentukan untuk akhirnya bisa menyandang gelar anggota korps baret jingga dan berpakaian loreng layaknya seorang prajurit TNI. Dibutuhkan kerja keras dan ketabahan dalam mengikuti latihan Menwa, karena pelatihan dilakukan ala militer.

Namun, bagi mahasiswa yang terjun di dalamnya menjadi anggota Menwa memang memiliki arti tersendiri. Selain terlihat keren dan gagah ketika mengenakan pakaian hijau loreng, menjadi anggota Menwa juga ada kebanggaan tersendiri bagi penyandangnya. Inilah pula yang dirasakan beberapa mahasiswa Politeknik Negeri Kupang, seperti Maria Seran mahasiswa semester III, Jurusan Akuntasi, Riky Pelokilla, mahasiswa semester III Jurusan Akuntasi dan Maya Liki, mahasiswa Jurusan Teknik Sipil.


Ditemui di Kampus Politeknik Negeri Kupang belum lama ini, anggota Menwa yang baru dilantik ini mengatakan banyak hal yang didapat setelah berbangun dengan organisasi ini. Mereka mengakui ada perbedaan saat sebelum menjadi Menwa dan setelah menjadi anggota Menwa bahkan pada hal-hal yang kecil sekalipun.

Bila sebelumnya, mereka sering bangun pagi terasa amat berat alias malas, kini kebiasaan itu hilang dimana mereka bangun sudah lebih pagi lagi. Latihan fisik yang keras dan tempahan mental selama pelatihan membuat anggota Menwa manjadi kuat dan disipilin.

Maria mengatakan, dirinya bergabung dengan anggota Menwa bertujuan menyalurkan bakat dan minat. Selain itu, ia juga ingin membina mentalnya dan membentuk pibadi yang disiplin, bermental baja memiliki sikap loyalitas dan berjiwa nasional. Apalagi menjadi Menwa berarti ia sudah mengaktualisasikan dirinya dalam wujud belah negara melalui Menwa.

Menurut Maria, Menwa merupakan cerminan dan goresan sejarah perjuangan bangsa dan perjuangan pemuda, pelajar dan mahasiswa yang memenuhi panggilan dan tampil dalam kancah perjuangan saat itu dengan mendarmabaktikan segenap ilmu dan jiwa raga. sehingga sebagai anggota Menwa, dirinya harus menyadari dalam mengembangkan cara mamandang diri dan lingkungan serta pembangunan nasional.

Setelah menjadi Menwa, Maya Liki semakin percaya diri. Ia mengaku pembinaan fisik dan mental telah membentuk sikapnya agar tidak takut pada hal apapun dan yakin dengan kemampuan diri. Bergabung dengan Menwa juga mengajarkan Maya tentang kesetiaan dan mengajarkan hidup berorganisasi. Menjadi anggota Menwa juga merupakan kebanggan karena tidak semua mahasiswa bisa menjadi Menwa dan terlebih lagi, menjadi Menwa juga dianggap anak gaul.

Maya menjelaskan, selama pelatihan mereka dibekali dengan ilmu dan keterampilan sehingga terwujud pribadi yang memiliki disiplin tinggi, jiwa patriotisme dan rasa percaya diri sebagai bekal di masa mendatang. Selain itu, pengetahuan yang dimiliki dalam pendidikan ini dapat dimanfaatkan dalam lingkungan intern kampus maupun saat terjun di masyarakat. (*)

Pos Kupang Minggu 24 Agustus 2008, halaman 13
Lanjut...

Merambah ke Tiga Benua


POS KUPANG/MARTIN LAU
BUAH TANGAN--Aneka hasil karya para suster PRR dipamerkan dan dijual pada ajang pameran di Museum PRR di Lebao menyambut HUT ke-50 PRR. Gambar diambil, Rabu (13/8/2008).

50 Tahun Tarekat PRR
Laporan Martin Lau/Pos Kupang

TANGGAL 15 Agustus 2008, tarekat Suster Putri Reinha Rosari, atau yang lebih dikenal dengan singkatan PRR, merayakan pesta emas. Lima puluh tahun sudah usianya. Konggregasi ini didirikan oleh Mgr. Gabriel Manek, SVD (almarhum) di Larantuka, 15 Agustus 1958.

Menginjak usia setengah abad, Konggregasi PRR tercacat telah berkembang cukup pesat, menjangkau lima negara dan 31 wilayah keuskupan yang tersebar pada tiga benua besar, yakni Asia, Afrika dan Amerika.

Sadar akan rahmat Tuhan itu, tarekat suster yang berpusat di Lebao-Larantuka, Ibu kota Kabupaten Flotim itu bersama segenap umat Katolik setempat maupun undangan dari luar dan dalam negeri merayakannya dengan sangat meriah. Hadir dalam acara yang digelar, Selasa-Jumat (12-15/8/2008), itu para pemimpin umat Katolik se-Indonesia secara hirarkis, para biarawan/biarawati, para tokoh umat, pejabat pemerintah.

Mengapa PRR?
Mengapa dan untuk apa sehingga pada tahun 1958 Mgr. Gabriel Manek, SVD dan Suster Anfrida, SSpS (Co Pendiri) yang saat itu bertugas di Larantuka mendirikan PRR? Alasannya bisa dilacak jauh ke sejarah Gereja Katolik di Larantuka.


Sudah sejak abad ke-16 para misionaris Dominikan tiba di Larantuka.

Para misionaris itulah yang memperkenalkan Yesus Kristus dan Injilnya kepada masyarakat penghuni Pulau Solor, Flores dan Pulau Timor yang saat itu mayoritas belum beragama. Larantuka waktu itu ditetapkan sebagai pusat misi. Sejak saat itu iman dan kepercayaan umat terhadap Yesus Kristus dan perlindungan Bunda Maria terus berkembang serta dipertahankan terutama pada masa-masa sulit.

"Bahkan selama dua abad berturut-turut tidak ada hirarki atau imam yang bisa membimbing iman umat untuk mengembangkan agama Katolik. Namun, luar biasa karena meskipun tanpa hirarki atau imam, tapi iman umat tetap kokoh dan kuat berkat doa umat yang terus-menerus merenungkan misteri penderitaan Yesus," kata Wakil Pemimpin Umum PRR, Sr. Grasiana, PRR, di Pusat Konggregasi PRR di Lebao-Larantuka, Kamis (14/8/2008) lalu.

Kondisi ketiadaan hirarki-imam itu mendorong iman umat awam di Larantuka dan Pulau Solor dan Adonara serta Lembata untuk berperan menjadi misionaris awam seperti guru agama atau katekis. Kondisi itu lama bertahan, hingga SVD masuk dan berkarya pada tahun 1914. Sebelum diambil alih SVD, misi Flores di bawah pengasuhan tarekat Yesuit (SJ).

Dengan cepat SVD berkembang dan membina umat. Tetapi ketika pecah Perang Dunia II banyak misionaris asing ditawan. Saat itu, Pater Gabriel Manek yang baru ditahbiskan 28 Januari 1941, ditugaskan ke wilayah Flores Timur hingga Lembata dan Alor.

Nah, Pater Gabriel Manek merasakan betul kekurangan tenaga ketika itu. Tetapi dia tidak putus asa. Dia menyerahkan kondisi itu kepada penyelenggaraan ilahi. Dalam hidup kerohaniannya, Pater Gabriel Manek punya devosi khusus kepada Bunda Maria. Karena itu, ketika diangkat menjadi Uskup Larantuka tahun 1951, dia mencantumkan kata-kata 'Maria Protegente' (di bawah perlindungan Bunda Maria) sebagai moto pada perisai keuskupannya.

Didorong oleh kondisi kekurangan tenaga waktu itu dan kecintaannya pada Bunda Maria, Uskup Manek kemudian mendirikan Tarekat Putri Reinha Rosari (PRR). Kehadiran Tarekat PRR, menurut Suster Grasiana, memiliki tiga latar belakang yakni pertama, sebagai rasa syukur atas ketahanan iman umat di Keuskupan Larantuka yang selama 200 tahun tidak ada bimbingan hirarki, tetapi tetap kokoh.

Kedua, membaca kebutuhan yang mendesak terkait pewartaan sehingga Uskup Manek mendirikan konggregasi ini untuk bisa mewartakan injil. Ketiga, mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan.

Meski tarekat pribumi, PRR berkembang sangat cepat dan pesat. Keanggotaannya bertambah banyak. Karya kerasulannya semakin dikenal luas. Bahkan, saat ini tarekat ini telah berkarya di tiga benua yakni Asia, Afrika dan Amerika. Saat ini tarekat ini beranggotakan 369 suster, terdiri dari 348 suster dan 21 novis.

Medan karya kerasulan mereka terutama karya kemanusiaan, dengan fokus pada tiga bidang, yakni rohani/pastoral, pendidikan dan bidang kesehatan.


Tiga bidang pelayanan ini digeluti Konggregasi PRR mulai dari pusat di Lebao-Larantuka-Flotim sampai 66 komunitas di 31 wilayah keuskupan yang tersebar di lima negara. "Khusus bidang kesehatan hampir di tiap komunitas yang ada di dalam dan luar negeri terdapat klinik berobat yang semi puskesmas mini, lengkap dengan apotek dan tenaga medisnya. Kami juga mulai sekarang menata dan menyiapkan SDM para suster PRR dengan membiayai pendidikan di fakultas kedokteran, keperawatan dan kebidanan serta apoteker.

Ini bertujuan agar ke depan PRR bisa memberikan pelayanan kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang profesional. Saat ini di Kenya, Afrika, kami ambil bagian dalam karya kemanusiaan melayani orang-orang terinveksi HIV/AIDS," kata Sr. Grasiana.
Konggregasi PRR hingga Agustus 2008 memiliki 67 komunitas yang tersebar pada 22 keuskupan di Indonesia, 4 keuskupan di Timor (termasuk Timor Leste), 4 keuskupan di Kenya, Afrika, 5 keuskupan di Italia dan satu keuskupan di Belgia.

Sr. Grasiana mengakui, persoalan yang masih membelenggu langkah Konggregasi PRR untuk maju adalah kekurangan tenaga, SDM, dan masalah keuangan. "Ini persoalan umum yang masih kami hadapi, dan tentu membutuhkan waktu dan kerja keras untuk dijawab secara bertahap satu demi satu. Juga membutuhkan dukungan umat dan semua pihak," kata Sr. Grasiana (*)

Pos Kupang, Minggu 24 Agustus 2008, halaman 11
Lanjut...

Limbah Kemiri Jadi Bahan Bakar


Foto Pos Kupang/
Alfred Dama

BAHAN-bahan
dasar pembuatan
briket tempurung
kemiri







Laporan Alfred Dama/Pos Kupang



PERIUK
yang digunakan merebus beberapa buah pisang telah mendidih. Aroma segar pisang rebus pun terasa di sudut ruangan anjungan Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Pameran Pembangunan HUT ke-63 Kemerdekaan RI.

Sekilas tidak ada yang luar biasa dari periuk dan pisang rebus tersebut. Yang menjadi menarik adalah kompor yang digunakan untuk merebus pisang itu menggunakan bahan bakar briket limbah tempurung kemiri. Bahkan, bahan kompor berasal dari bekas drum aspak yang sudah tidak terpakai lagi. Hampir 100 persen bahan bakar dan alat bakar merupakan residu dalam kehidupan sehari-hari. Briket tempurung kemiri dan kompor briket itu merupakan ciptaan Eugenius Manukule, pria lulusan SMA Widya Bhakti-Ruteng.

Eugenius Manukule membuat briket tempurung kemiri dan kompor briket karena begitu banyak limbah tempurung kemiri di kampungnya di Kelurahan Rana Loba, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur. Di wilayah ini, kemiri merupakan salah satu komoditas unggulan dan banyak warga setempat menggantungkan ekonomi dari hasil kemiri.


Namun yang menjadi masalah adalah limbah kemiri. Pada umumnya warga setempat membuang begitu saja kemiri, meski sebagian lagi digunakan untuk bahan bakar pengasap kemiri agar tetap kering. Di sisi lain, limbah atau tempurung kemiri ini bisa membahayakan pejalan kaki khususnya mereka yang tidak menggunakan alas kaki karena biasanya kulit luar kemiri yang sudah pecah keras dan tajam.

"Biasanya kulit kemiri ini dibuang begitu saja, ada juga yang dipakai untuk pengasapan kemiri. Padahal kilit ini bisa digunakan untuk bahan bakar," jelas Eugenius Manukule yang ditemui di Anjungan BPMD-Pameran Pembangunan di Arena Promosi Fatululi, Jumat (21/8/2008) malam.

Dengan penuh semangat, Eugenius Manukule mengatakan kulit tempurung kemiri yang begitu banyak di kampungnya membuatnya berpikir untuk memanfaatnya untuk bahan bakar. Dan, ia mencoba dengan membuat arang kemiri. "Tapi saya tidak puas dengan ini sehingga saya terus melakukan riset. Dan, selama satu tahun melakukan riset, baru saya temukan briket ini," jelas Manukule.

Melalui inovasi ini, briket bio kemiri ini menjadi salah satu komoditi yang memiliki nilai ekonomis sebagai bahan bakar altenatif yang murah untuk rumah tanggah dan industri kecil.

Cara Membuat.
Manukule menjelaskan, membuat briket kemiri tidak sesulit yang dibayangkan. Bahan- bahannya hanya berupa arang kemiri, tepung tapioka dan tanah liat. Komposisi membuat briket adalah arang kemiri yang sudah dihancurkan (nyaris halus) 90 persen, tepung tapioka (sebagai pengerat) lima persen dan tanah liat lima persen.

Cara membuatnya, arang kemiri dibakar hingga hangus namun jangan sampai hancur. Setelah itu, arang yang hangus ditumbuk hingga nyaris halus. Arang yang ada dicampur dengan tanah liat dan tepung tapioka serta air secukupnya. Setelah adonan tercampur, barulah dibentuk dalam mal kecil sehingga membentuk gumpalan- gumpalan briket dan jemur hingga kering. Selanjutnya briket tersebut siap digunakan.

Cara Menggunakannya
Menggunakan bahan bakar briket kemiri harus menggunakan kompor khusus dengan bahan bakar ini. Kompor yang terbuat dari lapisan besi dari bekas drum aspal ini sudah dipasarkan dengan harga kisaran 150 ribu. Untuk memasak menggunakan briket maka siapkan kompor, kemudian masukan tiga hingga lima briket yang telah direndam dalam minyak tanah selama lima menit.

Kemudian, briket lainnya dimasukan mengelilingi tiga hingga lima briket tersebut dan mulainya menyalan api serta biarkan api menyala antar lima hingga 15 menit atau menunggu api hingga sempurna dan mulainya memasak. Untuk menyala tiga hingga lima jam, diperlukan 1,5 kg briket.

Keuntungan Briket
Manukule mengatakan, hasil uji yang sudah dilakukannya mendapat hasil dimana menggunakan briket kemiri jauh lebih hemat bila menggunakan bahan bakat minyak tanah. Menurutnya, dengan harga minyak tanah yang terus melambung khususnya di daerah pedesaan maka menggunakan briket kemiri ini akan sangat membantu dan lebih hemat.

Ia mencontohkn, harga satu kg briket ini hanya Rp 3.000,-- sementara harga satu liter minyak tanah sekitar Rp 5 ribu rupiah. Namun penggunaan satu liter minyak tanah hanya untuk sekitar satu jam memasak, sementara briket tempurung kemiri ini antara tiga jam hingga enam jam.

Selain itu, menggunakan bahan bakar ini tidak menimbulkan resiku kompor meledak, kualitas api lebih baik dan tidak membuat hitam alat memasak, kompor juga tidak menimbulkan asap bahkan abu hasil pembakaran atau residu bisa digunakan sebagai pupuk tanaman.

Lebih dari itu, kata Manukule, penggunaan bahan bakar briket ini telah melahirkan sumber pendapatan baru bagi masyarakat. Sebab, tempurung kemiri yang tadina dianggap tidak bernilai, kini bisa diolah menjadi bahan bakar yang bisa dijual. Dan, dengan sendirinya pereknomian keluarga bisa meningkat. Di sisi lain, pemanfaatan limba hasil kemiri ini akan menciptakan lingkungan yang semakin bersih karena kulit kemiri yang sebelumnya dibuang, kini mulai dimanfaatkan.

Keuntungan juga bisa dirasakan oleh masyarakat karena tidak tergantung lagi dengan minyak tanah sebagai bahan bakar atau sumber energi di dapur. (*)

Pos Kupang Minggu, 24 Agustus 2008

Lanjut...

Halus Abis


HALUS menang abis. Telak 34 % di antara lima pasangan calon yang maju dalam pilkada pertama Nagekeo 2008-2013. Mengapa Halus menang? Pertanyaan ini pernah diajukannya kepada Benza beberapa tahun yang lalu. Ketika Benza menulis di koran lokal bahwa yang bakal pimpin Nagekeo itu mantan Bupati Ngada yang berjasa bagi Nagekeo.

Siapakah mantan itu? Bukan urusan Benza menjawab. Kalau nyatanya sekarang si mantan adalah "Ha" dan pasangannya adalah "Lus" yang bukan mantan. Itulah suara rakyat.

Benza terkenang kembali ketika pertanyaan itu dilemparkan kepadanya. Kaget juga dia dengan pertanyaan yang menurut Benza agak konyol. Bukannya menang dan kalah dalam pilkada soal biasa saja? Selalu ada pemenang. Tentu tidak sesederhana bertanya atau menjawab. Apalagi bagi pasangan Rara dan Jaki tidak ada yang namanya kalah. Meskipun tidak pernah maju bertanding, tetapi lihat saja komentarnya berikut ini.



***
"Siapa mau maju untuk kalah!" Sambarnya ketika itu. Benza kaget juga dengan jawaban Rara yang sangat menantang seperti tu. "Kalau tidak yakin buat apa maju? Saya sudah jungkir balik siang malam dengan berbagai strategi untuk meraup suara sebanyak-banyaknya. Bagaimana mungkin itu saya lakukan kalau saya tidak yakin?" Rara semakin lama semakin meyakinkan.

"Apakah kamu sudah melihat dan baca baik-baik dirimu siapa?"
"Jelas saya tahu saya siapa!" Sambar Rara. "Saya bernama Rara, punya pendidikan tinggi, punya pengalaman, punya pengaruh, punya riwayat pengabdian masyarakat yang menjanjikan, punya pendukung yang meyakinkan, dan masih banyak lagi yang tidak dapat saya sebutkan di sini, tetapi kamu boleh baca dalam CV yang saya susun dan sebarkan ke masyarakat!"

"Jadi kami yakin tetap maju berpasangan dengan Jaki?" Benza bertanya lagi sambil menggeleng-geleng heran atas penampilan Rara yang begitu PD alias percaya diri.

"So pasti Nagekeo akan menjunjung tinggi Rara dan Jaki!"
"Menurut saya, kalian berdua adalah pasangan yang sangat tidak nyambung," potong Benza dengan serius. "Kepala Jaki di langit sedangkan kepala Rara di bumi. Hati Jaki di bumi, hati Rara ada di langit.

Bagaimana bisa bertemu? Tidak masalah kalau kecocokan kalian berdua itu dipaksa-paksakan, namun yang menjadi masalah kalian berdua tidak pernah duduk sama-sama bicara dari hati ke hati dari pikiran ke pikiran untuk membuat kalian berdua menjadi satu pasangan yang kuat dan visi misi meyakinkan, untuk membuat kalian berdua sama-sama berada di bumi atau apa boleh buat sama-sama berada di langit!" Komentar Benza panjang lebar.

"Ah, buat apa repot dengan pikiran dan perasaan Benza?" Jaki mencibir. "Yang penting maju berjuang dan kita pasti menang. Pengorbanan saya selama ini pasti akan dijawab dengan hasil terbaik! Menang! Juara 1 dan akan menjadi pasangan nomor satu," Jaki dan Rara langsung berlalu meninggalkan Benza seorang diri.

***
"Kami kalah telak, begitu muram wajah Rara. Lucu sekali. Soalnya kapan majunya? Tidak pernah berani maju kok mengaku kalah?" Siapa yang menang?" Tanya Benza

"Halus!" Wajah Rara terlipat. "Entah apa yang membuat Halus menang. Heran bin ajaib. Coba kamu jawab pertanyaan saya. Mengapa Halus menang? Mengapa, oh mengapa?" Rara setengah mati menahan emosinya yang akan meledak.

"Kenapa Halus menang? Tanya Benza. "Menurut saya Halus menang karena sudah kuramalkan dulu. Saking halusnya dia menyusup ke dalam hati ke dalam pikiran, ke mana-mana masuk lebih jauh dan lebih jauh lagi... Soalnya dia terlalu halus sih! Halusnya itu memang membekas di hati rakyat Nagekeo.

Halus jadinya seperti roh yang menghidupkan rasa terima kasih dan people power sebagai peletak dasar bangunnya sebuah pemerintahan baru. Halus memang halus," komentar Benza yang segera diamini Jaki.

"Bukankah kamu pasangannya Rara? Mengapa mengamini komentar tentang Halus? Ikut-ikutan jatuh cinta sama Halus ya?"
"Dia jatuh cinta sama Halus, gara-gara halusnya itu. Kalau berbicara halus, apalagi kalau lagi berbisik, lebih halus tak terdengar. Kadang-kadang kehadirannya tidak kelihatan tetapi dia ada dan dirasakan kehadirannya," sambung Rara.
"Kami juga jatuh cinta sama Halus?" Tanya Benza
"Ya, mau bilang apa lagi?" jawab Rara. "Bukankah suara rakyat adalah suara Tuhan? Jadi apa boleh buat kalau Halus abis.
"Kamu bagaimana? Tidak pernah maju tetapi mengaku kalah. Apa maksudnya? Tanya Benza lagi.

"Tak perlu dijawab. Kalah atau menang. Nagekeo kita yang punya. Mari kita sama-sama berjuang dan mendukung Halus (maria matildis banda)

Pos Kupang Minggu, 24 Agustus 2008. Halaman 1
Lanjut...

Sang Nahkoda

Cerpen Jefry Daik

"SIAPA bilang aku panakut? Sudah sekian tahun aku menjelajahi lautan beserta ganasnya gelombang, katamu aku penakut?" Siapa yang mengendalikan layar ketika badai menghantam tiang puncak kapal hingga bederit seperti patah dan menutupnya agar tidak tersapu halauannya?

Siapa pula yang terjun ke dalam air laut dalam buih mengerikan di tengah kemacetan baling-baling perahu padahal ombak setinggi gunung Kalimanjaro? Lalu siapa yang harus berenang menyelamatkan orang-orang yang terhajar arus dan menelan mereka bulat-bulat? Siapa? Bukankah aku yang melakukannya? Lalu kau bilang aku penakut? Aku bukan penakut.

Aku adalah seorang penakluk laut. Aku adalah raja samudra dan keganasan gelombang. Aku adalah pusaran badai yang menghajar badai dengan lenganku sendiri dan menantang hujan dengan suara seperti petir. Aku. Hanya aku yang bisa!
Pengalaman melautku bukan baru sehari jadi aku tidak takut pada itu semua.



Jika aku dapat melewati selat Pukuafu dengan selamat maka uang itu akan jadi milikku. Sayangnya, aku orang yang cukup berpikiran waras. Hidup ini tidak bisa dipertaruhkan begitu saja terhadap maut. Banyak orang justru menghindar darinya, tapi kamu malah ingin menjerumuskanku. Aku tahu akal bulusmu.

Sebenarnya kau ingin menikahi adikku, tapi aku tak pernah menyetujuinya. Dengan menyingkirkan aku, kau dapat menikah dengannya. Tapi tidak semudah itu. Adikku boleh saja buta karena cintanya padamu. Tapi kau tak akan bisa meniupku. Kau berpura-pura membalas cinta adikku padahal kau ingin menikmati semua kekayaan yang telah kuwariskan kepadanya.

Ketahuilah sampai matipun akku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Lalu kau bilang aku penakut? Huh, apa kau ingin lihat bukti? Aku memang paling pantang disebut penakut, seolah-olah itu adalah hari matiku. Tapi aku tak akan melakukannya, karena apa? Karena aku waras. Dan kau sinting.

Aku tidak akan pernah membiarkan adikku menikah dengan orang sinting sepertimu. Tidak pernah. Camkan kata-kataku ini. Tidak akan pernah. Tetapi, kau masih saja mencoba meracuni pikiran sehatku dengan mengatakan aku tentu dapat pulang dengan selamat. Lama-lama kau mulai mengajak orang untuk bertaruh. Sebagai kelompok mendukungku, sebagiannya lagi memilihmu. Kemudian suasana semakin ribut.

Apalagi saat karena kau merasa tidak dapat merantai batang leherku dan membuangku ke laut. Kau mulai menyebarkan fitnah bahwa aku penakut. Bahwa aku, setelah peristiwa Pukuafu beberapa tahun silam, aku mulai tidak bisa diandalkan. Aku bagaikan seekor kucing yang takut akan air dan kedalaman.

Harga diriku terasa diinjak-injak. Habis sudah kesabaranku manakala adikku selalu menangis karena dihina, sekalian anak buahku juga telah kau tebarkan bibit kebencian dihati mereka hingga mereka berangkat dari kapalku dan bekerja padamu.
Aku boleh saja kau hina. Sampai matipun aku tak peduli. Ombak yang ganas telah menempa aku hingga memiliki hati skeuat baja dan tak akan bisa tertembus oleh kata-kataku. Tapi saat kau hina adikku, tiada ampun bagimu. Dia adalah cintaku satu-satunya.

Aku bersedia memberinya apapun asal ia bahagia. Dia adalah cintaku satu-satunya. Aku bersedia memberinya apapun asal ia bahagia. Tapi kau dengan mudahnya merenggut kebahagiaan itu dengan cerita laknatmu itu? Baiklah. Akan kutegakkan kembali namaku di hadapan semua orang. Rasa malu ini akan kubayar dengan darahmu sendiri jika aku berhasil lolos dari laut ini. Dan aku bersumpah aku tak akan membiarkanmu hidup bahagia.

Kusiapkan segala sesuatu, kubawa orang-orang kepercayaanku yang masih setia kepadaku, lalu akan kubuktikan pada dunia ini bahwa aku bukan seekor kucing yang takut akan air. Aku adalah aku. Sekalipun kenyataan bahwa kedua orang tuaku telah tertelan gelombang di selat itu. Sekalipun seumur hidup adikku kukira aku akan kehilangan juga dirinya yang juga bersama mereka saat peristiwa itu terjadi, tapi manusia penyebar fitnah itu memang harus diberi bukti. Kemudian dengan sekian saksi aku berangakat lewat Bolok menuju pada lautan lepas.

Cuacanya cerah sekali tapi aku tahu itu penuh dengan tipu daya. Kutitip adikku pada keluargaku dengan sejumlah ultimatum dan mengucapkan selamat tinggal.

Pada kenyataanya laut memang tidak bisa dipercaya. Baru saja kami tidak melihat sepotongpun pulau, ombak besar mulai bergelora. Aku mengangkat kameraku tinggi-tinggi dan merekam semuanya itu. Manusia-manusia di darat itu tidak akan percaya padaku jika tidak melihat sendiri buktinya. Jadi aku putuskan untuk merekam semuanya.

Awalnya semua bisa teratasi, tetapi begitu kami mendekati pusaran air itu, langit tiba-tiba menjadi gelap dan angin mulai bertiup kencang. Entah dari mana datangnya, seluruh mata kami terbutakan oleh kabut mengerikan di tempat itu.

Kompas bergoyang-goyang berubah arah. Lalu aku ingat bahwa hari ini semua kapal dilarang beroperasi. Rupanya inilah tanggal sial bagi semua pelayaran. Tapi aku tak peduli.

Rasa cinta pada adikku membuat aku lupa akan badai yang besar itu. Yang hanya air mata yang mengalir turun untuk membuktikan cinta kakak pada sang adik. Lalu pertarungan itu dimulai. Ku ikat seorang pelayanku pada sebuah tiang dan memberikan kamera padanya.

"Apapun yang terjadi, bertahanlah dan rekam semua ini," kataku berusaha menghalau deru ombak yang kian mengganas. Lalu kami mulai berjuang mengendalikan kapal. Selat Pukuafu adalah tempat yang paling menakutkan di daratan timor. Tidak ada jalan lain selain melewati selat ini untuk sekian banyak pelayaran. Dan ia sudah memakan korban. Beruntung di waktu lalu banyak orang yang selamat. Tapi yang berada di kelas VIP semuanya terjun ke dalam air tidak dapat menyelamatkan diri.

Aku bayangkan, kepanikan merajalela di wajah maupun di hati para penumpang. Keributan dan suasana tak terkendali membuat semua petugas frustrasi. Semua suara berbaur menjadi satu. Doa, tangisan, jeritan, teriakkan, seruan, makian, semuanya menjadi musik pengantar kematian walau semua orang ingin selamat.

Tentu saja tidak seorangpun yang ingin mati konyol di dalam perahi itu. Binatang-binatangpun merengek minta diselamatkan, tapi saat itu nyawa manusia lebih penting. Sayangnya jumlah sekoci tidak banyak, dan pelampung pun tidak mencukupi separuh dari penumpang itu. Kubayangkan peristiwa itu sama seperti Titanic.

Sementara kapal mulai kehilangan daya apungnya, semua orang terjun bebas menyelamatkan dirinya. Bahkan demi keselamatan dirinya mereka tega mengorbankan orang lain. Dan di sanalah ibuku waktu itu, adikku dan ayahku. Mereka ingin menghadiri pernikahan saudara di Pulau Rote. Tetapi, mereka malah menghadiri penguburan masal oleh laut yang tak terkalahkan.

Hanya Mari adikku yang selamat. Aku tahu jika tanpa tuntunan tangan Tuhan ia tidak mungkin bisa bertahan di tengah lautan mayat dan laut yang ganas selama seminggu.

Aku putus asa waktu itu, waktu ia ditemukan.......Air mataku tumpah ruah. Rasa sayangku menggunung padanya seakan hilang sudah kekosongan dalam batinku. Dan meskipun aku seorang nahkoda, kularang ia mendekati laut. Aku tahu setiap kali melihat laut ia akan menangis. Bertahun-tahun baru ia bisa pulih kembali dari trauma. Tapi kini ketika ia melihat aku harus pergi.

Meskipun ia menitikkan air matanya untuk menghentikan, sekalipun ia berjanji tidak akan menikah dengan lelaki itu, dan biarpun ia tidak akan peduli lagi pada cemoohan orang-orang, aku harus pergi.

Rasa malu harus dihapuskan. Sekalipun bisa saja mengijinkan hal yang buruk terjadi dalam pembuktian ini. Tapi aku percaya aku akan menang. Bukan karena uang itu, tapi karena Tuhan yang aku percaya tidak akan membiarkan aku dipermalukan. Aku yakin itu. Lalu kutarik napasku dan memuntir kemudi, keluar jalur.

Waktu terasa berjalan sangat lambat. Tapi, seperti doaku tadi aku selamat. Tidak ada yang terluka dan yang paling berbahagia semuanya kembali tenang.

Aku merasa bagai berada di perahu yang telah diredakan angin sakalnya di sebuah danau ribuan tahun silam oleh Tuhanku. Rasanya damai nan teduh yang tidak tergantikan oleh apapun bahkan damai itu mempengaruhiku untuk memaafkan orang yang telah menghina adikku dan membuat malu diriku.

Ketika aku mendarat dua hari kemudian, kupeluk adikku dengan erat serta berkata," badai telah berlalu." Dan aku sadar sebenarnya bukan aku yang menaklukkan laut itu, tapi Tuhan. (*)

Pos Kupang Minggu 24 Agustus 2008, halaman 6

Lanjut...

Puisi-Pusi Charles Rudolf Bria

(Dedikasi Untuk Peringatan HUT Kemerdekaan RI)

Syair Untuk Petani

Aku takut membuka jendela itu
Karena akan mendapatimu luluh di pematang sawah
Aku malu membuka mataku
Karena ku yakin kau pasti menangis di pojok kebun
Aku telah merusak mahkotamu dengan janji
Aku memaksamu bercumbu
Padahal kau gemetar setengah mati
Hingga akhirnya kau pingsan
Keringatmu seperti sungai
Dan kau tetap si ternoda itu
Kau....sandal jepit di bukit angin sang pangeran
Menyerahkan diri sampai darah
Tapi kau tetap diberi padang air mata.
Sampai renta umur cucumu pun
Negeri ini tetap seperti Tentara maut
Basecamp, Maret 2008


Pos Kupang, Minggu 24 Agustus 2008, halaman 6 Lanjut...

Puisi-puisi Santisima Gama

Fatmawati

Merah Darahku, bukan putih!
Karena aku sang pemberani taklukan rivalku
Tapi hati ini juga memilih putih
Yang anggun bersahaja selalu pancarkan kesucian
Kini antara merah dan putih
Telah torehkan sejuta kisah
Bagi tanah pertiwi seribu pulau
Merah putih tersulam dari lebut jemarinya
Ibuda pun tak tegah anak pertiwi terhimpit di lemba duka
Dan, dalam diam dia berbisik
Merah tetaplah merah, putih tetaplah putih
Jangan biarkan ternoda oleh titik hitam
Aku juga anak negeri ini
Takaan relah bumiku dijarah lagi
Oleh para serigala yang berbulu domba
Dialah sosok Fatmawati, ibu negeri ini.
Dengan ketulusanh jiwa merenda merah putih
Abadi hingg detik ini
Fatmawati ibunda tercinta
Inilah namamu kan terukir elok pada lembaran
Sang Saka, MERDEKA



Jeritan Hati


Kumenatap tanpa haluan
Ku memandang tanpa arti
Ku tak bisa melangkah
Ku hanya mampu merangkak...
Tiada seberkas cahaya
Untuk menuntun Daku mencapai asa yang pasti.
Pupus impianku merajut cita yang di damba.
Kerikil-kerikil tajam menghadang terus
Menusuk kakiku hingga tubuh lemah ini jatuh terkapar.
Aku sungguh tak berdaya hadapi ocehan itu
Bagi musafir yang tak tahu arah
Pada siapa aku mengaduh?
Putih statusmu, tapi hitam logikamu
Apa salahku? Mengapa ku dipojokan?
Mungkin kerdil ilmuku. Tidak!
Itu karena egohnya hatimu,
Semua bertekuk pada pikiranmu.
Semua bisa bergeming....
Dan simpatipun kini lenyap
Auramu tak tampak bercahaya
Telah sirna di bakar api asmara....

Pos Kupang, Minggu 24 Agustus 2008, halaman 6
Lanjut...

Ada Potensi Bahaya Lingkungan

Foto Pos Kupang/
Alfred Dama

I Gusti Bagus Arjana














Prof. I Gusti Bagus Arjana, M.S

SEJAK masa muda, Prof. Dr. I Gusti Bagus Arjana, M.S sudah didedikasikan oleh keluarganya untuk menjadi seorang guru. Keinginan itu tidak terlepas dari keinginan keluarganya agar ia cepat memiliki pekerjaan tetap. Dan, jalur Sekolah Pendidikan Guru (SPG) merupakan pilihannya setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat sekolah menengah pertama (SMP) di Propinsi Bali.

Dalam perjalanan waktu, pria yang hanya berkeinginan menjadi seorang guru sekolah dasar ini malah menjadi seorang guru besar. Ia dikukuhkan menjadi guru besar oleh Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) pada tanggal 17 Mei lalu di Aula Utama Undana.

Menjadi seorang guru besar bagi I Gusti Bagus Arjana merupakan prestasi yang luar bisa dan di luar rencananya. Ia sama sekali tidak pernah berpikir atau bercita-cita menjadi seorang guru besar. Baginya, menjadi dosen saja sudah lebih dari harapannya untuk menjadi seorang guru. Namun kerja keras dan terus menghasilkan karya-karya tulisan terus dilakukannya. Sebab semuanya itu adalah bagian dari terus belajar, bahkan menjadi seorang guru besar juga mesti terus belajar.


Pria bertubuh tinggi tegap ini dikukuhan menjadi guru besar dalam bidang keilmuan geografi dan sumber daya alam pada Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Undana.
Dalam perbincangan dengan Pos Kupang, Prof Bagus Arjana mengungkap berbagai sisi tentang ancaman bahaya lingkungan di NTT. Untuk mengetahui tentang tentang Prof Bagus Arjana dan pemikirannya tentang lingkungan, berikut petikan perbincangan dengan Pos Kupang belum lama ini.

Belum lama ini Anda dikukuhkan sebagai guru besar bidang geografi lingkungan. Dalam pidato pengukuhan, Anda mengangkat bahaya dan bencana lingkungan. Apa yang Anda ingin sampaikan? Bahaya lingkungan adalah bahaya yang ada di lingkungan kita, baik yang disebabkan oleh faktor alam maupun perilaku manusia yang berdampak pada alam dan selanjutnya mengancam kehidupan manusia. Kemudian yang penting dicermati adalah bahasa kultural, yaitu tradisi-tradisi kehidupan manusia yang tidak bagus yang terjadi di lingkungan kita sendiri, untuk NTT seperti bahaya akibat kebudayaan seperti minum munuana keras yang mabuk baik yang menyebabkan kematian terhadap diri sendiri maupun pada orang lain. Untuk NTT yang paling sering adalah orang suka minuman alkohol kemudian mengendarai kendaraan dan mengakibatkan kecelakaan pada diri dan orang lain. Sedangkan untuk alam, faktor alam terutama iklim. Karena iklim sekarang secara global mengalami perubahan sehingga dampaknya pada kehidupan manusia di planet bumi terganggu.

Menurut Anda, apa potensi bahaya dan bencana alam di wilayah NTT? Dari aspek fisiogeografis, NTT merupakan propinsi kepulauan atau archipelagi. Karena wilayah kita terdiri dari banyak pulau, ada sekitar 566 pulau dengan luas daratan 47.349 kilometer persegi, luas laut kita sekitar 200.000 kilometer persegi. Kemudian NTT juga merupakan daerah vulkanik. Di wilayah ini ada sekitar 15 gunung api aktif. Pegunungan ini membentang di sepanjang Pulau Flores dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Bentuk bencana pada daerah vulkanik adalah erupsi yang akan mengeluarkan material vulkanik yang dapat menghancurkan dan menimbun lingkungan kita. Gunung-gunung api di Flores memiliki potensi untuk erupsi dan menimbulkan gempa bumi dan tsunami. Wilayah NTT juga termasuk daerah seismik karena memiliki potensi gempa bumi.

NTT juga berada di daerah tropis dan berada di bagian timur dan tenggara, mengakibatkan angin musim barat daya yang mengandung hujan makin ke timur kandungan uap air makin tipis. NTT juga memiliki hutan yang terbatas dan topografi tidak lebih dari 2.000 kaki, mengakibatkan musim hujan yang pendek. Selebihnya musim panas.

Bagaimana dengan ancaman potensi bencana karena manusia? Bencana yang disebabkan oleh manusia atau artifsial atau man made disaster, kepadatan penduduk serta aplikasi teknologi yang berdampak langsung atau tidak langsung pada lingkungan. Pembalakan liar untuk NTT memang belum memiliki dimensi nasional, karena kawasan hutan yang ada tergolong hutan sabana, sehingga hasil atau komoditas kayu gelondongan tergolong kecil, hanya untuk kepentingan lokal. Tapi bencana akibat illegal logging ini adalah menyempitnya hutan yang berakibat pada banjir dan tanah longsor. Kemudian juga ada penangkapan ikan dengan bahan peledak yang bisa menyebabkan kerusakan terumbu karang.

Secara akumulatif, apa bahayanya dengan posisi NTT dan perilaku penduduk NTT yang belum bisa menjaga lingkungan? Akumulasi bencana lingkungan berdampak pada ancaman rawan pangan. Wujudnya seperti anak-anak yang mengalami gizi buruk dan pada tingkat akut menimbulkan marasmus (kekurangan kalori) dan kwarsiorkor (kekurangan protein). Kasus kurang gizi ini sudah melanda beberapa desa di NTT sehingga perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak.

Anda tadi menyinggung bahaya kultural di NTT adalah mabuk. Tapi minuman keras adalah bagian dari budaya yang sulit dipisahkan dari berbagai acara adat. Apa pendapat Anda? Betul. Semua bangsa, bahkan di luar negeri yang pernah saya ikuti, ada minuman beralkohol, tapi konsep ini muncul di Amreika Serikat. Jadi sebenarnya tetap ada, cuma karena di negara-negara maju mengatasinya lebih elegan. Artinya kesadaran orang tinggi, dari faktor pendidikan dan ekonominya bagus, dia menghadapi kebiasaan seperti itu boleh dikatakan terkendali. Tapi masyarakat kita khususnya di kampung-kampung melekat dengan itu. Saya lama di Maumere.

Di sana masyarakat mengenal dengan moke atau wair panas, itu tetap ada. Hampir semua suku bangsa di bumi ini ada dan mengenal minuman beralkohol ini, hanya namanya yang berbeda. Tempat asal saya Bali juga ada itu, tapi penggunaannya tergantung dari kesadaraan seseorang. Bila ingin menjerumuskan dirinya sendiri berakibat kematian. Memang dulu ada upaya- upaya baik pemerintah maupun agama itu sendiri juga melarang, tetapi tradisi minum-minuman ini memang sulit dan produksi- produksi lokal inilah yang sulit dikendalikan. Makanya ada tindakan dari aparat polisi yang merazia miras itu. Sebab merasahkan bila ada orang mabuk berada dalam suatu even tertentu.

Dalam kondisi ini apa peran pemerintah? Saya pikir peran pemerintah adalah menertibkan dan tugas polisi adalah menegakkan hukum yang sudah ditetapkan oleh pemerintah itu. Atau istilah sekarang adalah tidak ada tebang pilih. Kalau mau razia ya razia semua. Jangan merazia pedagang kecil saja, pengusaha besar juga harus ditindak bila melakukan pelanggaran.

Terkait dengan aksi tebas baka. Bakar kan mudah tumbuh rumput baru? Ya. Karena itu di berbagai pertemuan itu saya menganjurkan di NTT harus juga mengenal budaya sabit rumput atau arit. Saya melihat di NTT tidak produksi ternak, kalau pun ada itu pengaruh dari luar. Ada yang mengatakan membakar itu menguntungkan karena biasanya akan tumbuh rumput baru, tapi apakah itu untuk juga buat kelangsungan ekosistem yang menguntungkan manusia di masa mendatang? Budaya bakar ini membuat kita di NTT tidak bisa mengembangkan penghijauan.

Pemerintah sudah mengeluarkan biya besar, sudah pengumuman lewat RRI, lewat media tapi lahan yang sudah dihijaukan tidak pernah berhasil karena budaya bakar ini. Karena kemampuan menghijau dan membakar itu tidak sebanding. Membakar itu jauh lebih mudah, tapi menghijaukan sangat sulit dan belum tentu berhasil. Tanaman tumbuh satu meter, setengah meter nanti ada orang bakar, ya mati lagi. Ternak di Kota Kupang saja masih berkeliaran. Hewan itu menjadi predator dari tumbuh-tumbuhan. Jadi upaya kita menghijaukan ini terganggu dengan ternak yang dibiarkan bebas ini.

Kenapa ilmu lingkungan begitu jadi tren? Ilmu lingkungan mulai berkembang pada tahun 1970. Pada waktu itu isu lingkungan itu ada yang menyebutnya dengan fire metal study, atau studi ilmu lingkungan. Tapi lama-kelamaan dengan begitu urgennya masalah lingkungan ini maka disebut metal sains. Mengapa itu terjadi, karena sejarah perjalanan manusia terutama sadar setelah konferensi tentang lingkungan di Stokholm tahun 1974. Baru setelah itu ada kesadaran global, tapi kesadaran lokal sudah ada itu dalam bentuk kearifan lokal berbagai etnis di dunia untuk melestarikan lingkungan-lingkungan lokalnya.

Kearifan lokal itu bagus sekali, tetapi secara global baru saat konferensi itu karena dulu pengamat-pengamat lingkungan menggugat umat manusia di dunia karena lingkungan tercemar oleh produk-produk kimia untuk memicu pertumbuhan produksi biji-bijian terutama gandum. Kemudian para tokoh lingkungan tahun 1974 melakukan pertemuan itu dan dilanjutkan setiap 10 tahun sehingga 5 Juni 1974 dunia memperingati sebagai hari lingkungan hidup. Di samping itu di Amerika sejak tahun 1970-an juga dikenal dengan The Eart Day, hari bumi, yang selalu diperingati tanggal 22 April setiap tahun.

Pertambahan jumlah penduduk bumi ini apakah mempengaruhi langsung pada lingkungan? Khan bumi ini masih sangat luas.
Ya, karena jumlah saja sudah mempengaruhi, belum lagi manusia memerankan hidupnya atau eksistensinya, manusia harus makan, harus membuat rumah, harus membuang limbah. Dari segi jumlah saja sudah membuat tekanan baru pada lingkungan. Tapi belum ada pakar yang mengungkapkan berapa si idealnya jumlah penduduk bumi. Ada yang mengatakan 15 miliar, ada yang mengatakan 35 miliar.

Para ahli lingkungan sudah memprediksikan batas akhir kehidupan manusia 125- 150 tahun lagi. Apakah benar demikian? Ha..ha--ha, itu memang ada. Begini, the club of Rome itu konferensinya tahun 1968 di Roma. Itu pertemuan para pakar lingkungan dengan membuat analisis ada lima komponen seperti produksi pertanian, limbah industri, jumlah penduduk dan coba dianalisi. Ternyata dunia ini mengalami kolaps tahun 2100. Sekarang tahun 2008 jadi 92 tahun lagi. Tapi itu sulit untuk dibuktikan sehingga ada pakar lain mengatakan manusia mengalami titik balik untuk berkembang. Hanya dari aspek agama yang mengenal dunia ini kiamat. Tapi para ahli mengatakan bumi ini masih bisa menampung jumlah penduduk lebih banyak lagi, tapi kita diberi pengetahuan juga kalau penduduk terlalu padat, ada dampaknya. Di rumah tangga, rumah kecil kemudian anggota banyak itu merupakan contoh. Begitu juga kalau manusia terlalu banyak.

Kemudian ada pendapat bahwa bumi suatu saat nanti akan meledak, kehidupan akan musnah. Bagaimana menurut Anda? Ha..ha, ya karena memang ada teori yang mengatakan terbentuknya planet-panet itu dari ledakan juga, teori big bang. Tapi yang jelas, penduduk tahun 1970-an sudah mengalami ledakan juga, ledakannya tidak diketahui tapi jumlahnya sudah sangat banyak. Tetapi satu hal juga hal yang menggembirakan adalah manusia mampu membuat siklus daur ulang, seperti limbah dipilih didaur lagi dan dijadikan produk yang bermanfaat. Itu kearifan manusia. Kalau tidak maka terjadi pembuangan limbah yang tidak mampu lagi ditampung oleh bumi. Jadi sampah sudah bisa dijadikan sumber daya juga.

Pada masa Soeharto program KB begitu gencar, tapi sekarang sudah tidak seperti dulu. Bagaimana menurut Anda? Saya orang geografi yang mempelajari penduduk dan lingkungan. Jadi program KB itu harus. Kenapa harus, karena jumlah penduduk yang banyak selalu menimbulkan persoalan. Dalam rumah tangga mungkin orang lihat itu bukan persoalan, tapi ketika orang mulai sulit menyekolahkan anak. Jadi penduduk harus direm. Contoh negara yang sulit mengendalikan jumlah penduduknya adalah pertama India. Negara ini teknologinya maju, tapi jumlah penduduknya terlanjur banyak sehingga kemiskinan banyak di sana. China, jumlah penduduknya juga sangat banyak sudah 1,5 miliar lebih dan ekonominya bagus tapi tetap banyak ada orang miskin di sana. Karena mulut-mulut yang mengonsumsi pangan ini lebih banyak. Nah, biasanya penduduk yang banyak kualitasnya lebih rendah dari penduduk yang sedikit, sehingga lebih gampang meningkatkan kualitas SDM baik dari segi pendidikan. (alfred dama)


Ingin Mengenal Indonesia
KEINGINAN keluarganya agar I Gusti Bagus Arjana segera mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG), tidak menghentikan niatnya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Bahkan setelah menyelesaikan pendidikan tinggi pada program D3, Fakultas Keguruan Universitas Udayana-Denpasar, Bagus Arjana memilih meninggalkan kampung halamannya.

Motivasinya meninggalkan kampung halaman adalah ingin mengenal daerah lain di Indonesia. "Dulu saya sarjana muda, masih muda ingin mengenal republik ini sehingga ingin keluar dari Bali. Itu motivasi saya. Saya ingin mengenal wilayah lain republik ini," jelas pria kelahiran Karangasem 17 Januari 1951 ini.
Bagus Arjana memilih ikut tenaga kerja suka rela tahun 1974 yang diselanggarakan oleh Badan Urusan Tenaga Kerja Sukarela Indonesia (BUTSI). Lembaga tersebut dikoordinir oleh beberapa departemen. "Waktu itu saya angkatan ke tujuh, kami yang masuk ke program ini ada yang dari NTT, dari Sulawesi Selatan, NTB, Bali. Kalau angkatan ke enam ada dari Jawa," jelasnya.

Bagus Arjana mengisahkan, Kabupaten Sikka merupakan daerah penempatannya. Dalam benaknya, ia tidak membayangkan tentang kabupaten di daratan Flores tersebut meski sebulan sudah mengikuti pelatihan sebagai tenaga sukarela di Kupang. "Saya tugas di NTT dan dapat latihan sebulan di Kupang, terus ditempatkan di Kabupaten Sikka selama dua tahun.

Di Kecamatan Lela satu tahun (1975-1976) dan di Kecamatan Waigete (1976-1977). Satu tahun jadi ada dua tahun tiga bulan," jelasnya.

Tugas di Sikka membawa kenangan tersendiri baginya. Apalagi, saat bertugas, masih muda sehingga sering diajak warga setempat minum minuman keras lokal setempat. "Kalau ada acara-acara kita disuguhi minum moke, jadi terbiasa juga dengan budaya orang Maumere," jelasnya.

Karena cukup lama bertugas di Sikka, apalagi berdomisili di daerah pedesaan, membuat Bagus Arjana terbiasa dengan komunikasi warga Sikka menggunakan bahasa Sikka. Tak heran bila pria murah senyum ini pun mengerti bahasa Sikka. "Saya lama di sana, jadi bicara sedikit-sedikit ya bisa," jelasnya. (alf)


Data Diri
Nama : Prof. Dr. I Gusti Bagus Arjana, MS
Tempat Tanggal Lahir : Karanasem 17 Januari 1951
Jabatan saat ini : Pembantu Rektor I Undana
Pendidikan :
SR No V Klungkung Bali tamat 1963
SLTP PGRI Klungkung Bali tamat 1967
SPG Negeri Klungkung Bali tamat 1970
Fakultas Keguruan-Jurusan Geografi (D3) Universita Udayana tamat 1974
FKIP Jurusan Geografi (S1) Undana Kupang tamat 1981
Program Pasca Sarjana (S2)UGM-Geografi tamat 1990
Program Paca Sarjana (S3) IKIP Jakarta 1997

Istri :Aletha Juliana Arjana-Boki, BA
Anak-anak 1. I Gusti Ngurah Yudi Sinartha, SE, MFM.
2. I Gusti Bagus Master Yudhawangsa
3. I Gusti Ayu Rina Pietriani, S.Sos
4. I Gusti Ayu Etrin Aryeswari.

Pos Kupang Minggu 10 Agustus 2008, halaman 3

Lanjut...

Kemesraan

COBA tebak! Apa hubungan antara lagu kesayangan dan pekerjaan yang sedang dijalankan. Konon, lagu kesayangan mencerminkan siapa dia dan bagaimana dia harus menjalankan pekerjaannya sehari-hari.

Dari lagunya saja sudah dapat ditebak apa pekerjaannya, termasuk cita-citanya, impiannya, harapan masa depannya dan sampai kapan mesti bertahan dalam pekerjaannya. Apalagi pada musim suksesi dan pergantian kepemimpinan. Lagu kesayangan kian hari kian merdu berkumandang.
***
"Di sini senang di sana senang, dimana-mana hatiku senang," demikian lagu kesayangan Rara. "Ini lagu orang biasa-biasa saja. Termasuk kelompok rakyat kebanyakan atau puitisnya disebut rakyat jelata, dan kalau tidak salah ingat penyair Hartoyo Andang Jaya katakan...rakyat adalah kita... Tentu saja kita adalah rakyat kebanyakan yang menempati jumlah paling besar dalam masyarakat."


"Coba tebak apa pekerjaan Rara!"
"Lagunya di sini senang di sana senang di mana-mana hatiku senang. Hmmm pekerjaannya pasti pegawai biasa. Kalau swasta, ya dia termasuk golongan buruh, pesuruh, pokoknya siap kerja apa saja yang diperintah bos. Kalau PNS biasanya glolongan 1, II awal, atau bisa juga pegawai kontrak lulusan SMA dan sederajat atau lulusan PT tetapi kemampuan personalnya rata-rata saja. Golongan Rara itu termasuk dalam PNS non eselon!" Demikian Jaki menjelaskan panjang lebar.
"Kalau Benza, bagaimana? Apa lagu kesayangannya?" tanya Nona Mia.

"Dia itu kepala bagian di perusahaannya bukan?" Termasuk bos kecil-kecilan atau golongan setengah bos, dan selalu berharap kapan jadi bos. Pintar atur waktu, pintar cari peluang-peluang yang memungkinkannya tampak sukses di mata atasan. Pokoknya siap jalankan pekerjaan penuh semangat sekaligus harapan besar untuk kenaikan jabatan," komentar Jaki dengan yakinnya.
***

"Kalau PNS golongan berapa si Benza itu?" tanya Nona Mia.
"Golongan III dong. Sedapat mungkin jobnya jelas. Syukur kalau dapat memainkan peran dalam eselon III, IV dan apa boleh eselon V. Jika harus nonjob apa boleh buat!" jawab Jaki enteng.
"Lagu kesayangannya?"

"Padamu Negeri kami berjanji. Padamu negeri kami mengabdi. Padamu negeri..." Jaki langsung bernyanyi sambil menengadahkan wajahnya ke atas langit.
"Ha ha ha... kamu dapat ilmu baru dari mana?" tanya Nona Mia sambil tertawa. "Benza, salah satu kepala bagian or kepala bidang, lagunya Padamu Negeri. Ha ha ha ada-ada saja kamu ini."

"Biasalah! Saya paling rajin mendengar khotbah dimana saja dan kapan saja. Sekali datang langsung tekun mendengar dari a sampai z. Ini Khotbahnya Romo Agus saya hafal intinya dan mulailah saya khotbahkan kepadamu sesuai gaya saya bukan?"
"Oh, begitu! Ternyata kamu pintar juga ya!" Nona Mia memuji. Jaki langsung melayang di udara. Soalnya kapan lagi dapat pujian langsung dari Nona Mia yang cantik jelita ini? "Hmm seandainya pujian ini berlanjut ke jenjang yang lebih dekat lagi," Jaki mulai mengkhayal upaya pedekate alias pendekatan pada pujaan hatinya Nona Mia bakal menjadi kenyataan.

"Apa lagu kesayanganmu?"
"Kemesraan ini janganlah cepat berlalu. Kemesraan ini inginku kenang selalu. Hatiku damai jiwaku tentram di sampingmu. Hatiku damaiiiii..." Jaki mengulurkan tangan ingin meraih tangan Nona Mia namun Nona Mia menjauh dan bertanya lagi.
"Apa pekerjaanmu? Sampai lagu kesayanganmu Kemesraan..."
"Bukan pekerjaan yang kupikirkan..." sambung Jaki kecewa.
***
"Dia itu Bos," Benza yang menjawab. "Dia pemimpin perusahaan, salah satu direktur, manajer pilihan big bos, dan sejenisnya. Kalau seandainya PNS, dia termasuk PNS golongan IVa dst-nya. Eselonnya jelas eselon dua. Makanya lagu kesayangannya Kemesraan ini jangan cepat berlalu. Betul 'kan? Harap-harap cemas dan apa pun yang terjadi terus momohon agar kemesraan ini ingin kugenggam selalu..."

Wajah Jaki memerah. Maksudnya sih kemesraannya bersama Nona Mia. Eh, tahu-tahunya ketahuan juga ada udang di balik batu. Sakitnya sih tak seberapa, tetapi malunya itu. Di era bos baru, mutasi dan rotasi jabatan, lagu kesayangan Jaki jadi sering berkumandang. Kemesraan ini...

"Saya mau ubah lagu kesayangan saya," Rara mendapat akal. "Siapa tahu ada kenaikan jabatan, kenaikan eselon. Kemesraan ini janganlah cepat berlalu..." (maria matildis banda)


Pos Kupang Minggu 10 Agustus 2008, halaman 1
Lanjut...

Sumber Antara

BADAN kesehatan dunia (WHO) memperingatkan bahwa 1,6 juta orang tewas akibat air minum yang tercemar dalam tahun ini, kecuali bila pemerintah melakukan upaya bersama untuk menjernihkan pasokan air untuk mereka.

Lebih dari 4.000 orang meninggal setiap hari akibat penyakit yang bersumber dari pencemaran air, kata Dr. James Bertram, Koordinator WHO untuk Program Air, Sanitasi dan Kesehatan.

Jumlah korban tewas itu tidak terbatas bagi negara-negara sedang berkembang saja, tetapi juga di negara-negara maju. "Hal itu merupakan problem yang menyebar di semua negara, baik di negara yang sedang berkembang maupun di negara maju sekalipun," lapor Surat kabar Straits Times di Singapura pertengahan Juli lalu.


Semua pemerintah harus mengantisipasi kekurangan air jangka panjang akibat meningkatnya permintaan dan perubahan iklim, katanya.

Bank Pembangunan Asia memperkirakan bahwa 700 orang di kawasan ini sulit menjangkau air minum yang aman bagi kesehatan. Sekitar dua miliar orang tak dapat mengakses fasilitas sanitasi dasar. Suatu laporan program PBB untuk lingkungan memprediksikan peningkatan beban permintaan air akan menjadi "amat berat di negara-negara langka air" dalam beberapa dekade mendatang.

Semua pemerintah perlu mengadakan teknologi baru, mencakup sistem desalinasi dan penyaringan khusus, kata Bertram, dan menginvestasikan dana besar dalam membangun dan mengelola infrastruktur air. Terdapat beberapa kemajuan, yaitu untuk pertama kali tahun lalu, lebih dari 50 persen dari enam miliar penduduk dunia telah memperoleh pasokan air lewat pipa, katanya.

Meski demikian, umumnya air ini "tidak layak dan tidak aman bagi kesehatan," kata Bertram kepada surat kabar itu. WHO berharap menjadikan Singapura sebagai model bagi negara-negara langka air lainnya. Badan tersebut telah memenangkan penghargaan bergengsi "Stockholm Industry Water Award" tahun lalu. (*)


Ke Mana Membuang Limbah Detergen?

Sumber Kompas.com
PADA tahun 1977, saat Jakarta dipimpin Ali Sadikin, pabrik-pabrik detergen gulung tikar dan mengalihkan dagangannya ke luar Jakarta. Ini karena ada surat keputusan gubernur yang melarang penggunaan detergen keras, yakni detergen yang mengandung fosfat dengan kadar tinggi.

Aturan ini diberlakukan karena pada masa itu mulai banyak rumah tangga yang membuang sisa limbahnya ke sungai. Akibatnya, sungai banyak mengandung fosfat yang dapat membuat fitoplankton dan mikroorganisme tumbuh subur di air. Banyaknya kedua makhluk tersebut membuat kandungan oksigen di dalam air sungai berkurang. Pada akhirnya, makhluk hidup air seperti ikan tidak akan bisa bertahan hidup.

Greywater dan Blackwater
Selain sisa detergen, rumah tangga juga mengasilkan limbah dari dapur dan limbah bekas mandi. Ketiga limbah ini dikenal dengan nama greywater atau limbah nonkakus. Rumah tangga juga menghasilkan limbah kotoran manusia, yang dikenal dengan blackwater.

Beberapa ahli sanitasi menambahkan satu kategori lagi untuk limbah tetesan AC dan kulkas sebagai clearwater. Dalam kehidupan sehari-hari, clearwater umumnya tidak berjumlah banyak, terutama dari kulkas, sehingga sulit diolah untuk dimanfaatkan kembali. Tetesan AC jumlahnya sedikit lebih banyak dan bila ditampung dalam wadah dapat langsung digunakan untuk keperluan bersih-bersih, misalnya cuci piring atau pakaian.

Umumnya, orang membuang limbah greywater langsung ke selokan yang ada di depan rumah, tanpa diolah terlebih dahulu. Akibatnya, sungai yang menjadi tempat bermuaranya selokan tercemar; warnanya menjadi coklat dan mengeluarkan bau busuk. Selain bisa menyebabkan ikan-ikan mati, zat-zat polutan yang terkandung di dalam limbah juga bisa menjadi sumber penyakit, seperti kolera, disentri, dan berbagai penyakit lain.


Coba tengok pengalaman di kota London tahun 1848 dan 1853. Kala itu terjadi wabah kolera yang menewaskan 10.000 penduduk di sekitar Sungai Themes. Usut punya usut, ternyata wabah itu disebabkan Sungai Themes tercemar limbah rumah tangga.

Mesti diolah
Berbeda dengan blackwater, greywater tidak dapat dibuang ke septic tank karena kandungan detergen dapat membunuh bakteri pengurai yang dibutuhkan septic tank. Karena itu, diperlukan pengolahan khusus yang dapat menetralisasi kandungan detergen dan juga menangkap lemak.

Cara yang paling sederhana mengatasi pencemaran greywater adalah dengan menanami selokan dengan tanaman air yang bisa menyerap zat pencemar. Tanaman yang bisa digunakan, antara lain jaringao, pontederia cordata (bunga ungu), lidi air, futoy ruas, thypa angustifolia (bunga coklat), melati air, dan lili air.

Cara ini sangat mudah, tapi hanya bisa menyerap sedikit zat pencemar dan tak bisa menyaring lemak dan sampah hasil dapur yang ikut terbuang ke selokan. Cara yang lebih efektif adalah membuat instalasi pengolahan yang sering disebut dengan sistem pengolahan air limbah (SPAL). Caranya gampang; bahan yang dibutuhkan adalah bahan yang murah meriah sehingga rasanya tak sulit diterapkan di rumah Anda.

Instalasi SPAL terdiri dari dua bagian, yaitu bak pengumpul dan tangki resapan. Di dalam bak pengumpul terdapat ruang untuk menangkap sampah yang dilengkapi dengan kasa 1 cm persegi, ruang untuk penangkap lemak, dan ruang untuk menangkap pasir. Tangki resapan dibuat lebih rendah dari bak pengumpul agar air dapat mengalir lancar. Di dalam tangki resapan ini terdapat arang dan batu koral yang berfungsi untuk menyaring zat-zat pencemar yang ada dalam greywater.

Cara kerja
Air bekas cucian atau bekas mandi dialirkan ke ruang penangkap sampah yang telah dilengkapi dengan saringan di bagian dasarnya. Sampah akan tersaring dan air akan mengalir masuk ke ruang di bawahnya.

Jika air mengandung pasir, pasir akan mengendap di dasar ruang ini, sedangkan lapisan minyak karena berat jenisnya lebih ringan akan mengambang di ruang penangkap lemak.

Air yang telah bebas dari pasir, sampah, dan lemak akan mengalir ke pipa yang berada di tengah-tengah tangki resapan. Bagian bawah pipa tersebut diberi lubang sehingga air akan keluar dari bagian bawah. Sebelum air menuju ke saluran pembuangan, air akan melewati penyaring berupa batu koral dan batok kelapa.

Beberapa kompleks perumahan, seperti Lippo Karawaci dan hampir semua apartemen telah memiliki instalasi pengolah limbah greywater yang canggih dan modern. Greywater yang telah diolah akan digunakan lagi untuk menyiram tanaman, mengguyur kloset, dan untuk mencuci mobil. Di Singapura dan
negara-negara maju, greywater bahkan diolah lagi menjadi air minum. (*)

Pos Kupang Minggu 10 Agustus 2008, halaman 14

Lanjut...


POS KUPANG
/Matilde Dhiu

BAWAKAN LAGU
--Anak-anak
Penghuni
Lembaga
Pemasy-
arakatan
Anak (LPA)
Penfui-Kupang
membawakan
sebuah lagu.



WAJAH 34 anak di bawah umur penghuni Lembaga Pemasyarakatan Anak (LPA) Penfui Kupang cerah ceria menyambut kedatangan rombongan panitia Hari Anak Nasional tingkat Propinsi NTT, akhir Juli lalu.

Senyum lebar dari masing-masing anak saat memberikan salam pada rombongan yang dipimpin Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan, Dra. Sisilia Sona, yang melakukan kunjungan ke lembaga ini. Satu persatu panitia disalami.

Sepintas semua anak terlihat tanpa beban. Mereka santai dan enjoy menjalankan hukuman yang mereka dapatkan di lembaga ini. Apalagi beberapa program pembinaan di Lapas ini sangat membantu mereka untuk meningkatkan kualitas hidup dan membuat mereka lupa akan apa yang sudah mereka lakukan sehingga terkena dampak hukum. Hukuman yang mereka dapat memang beraneka ragam, sesuai dengan apa yang sudah mereka lakukan.


Ada yang hanya setahun, yang lain harus bertahan lima atau enam tahun. Ngeri memang untuk anak-anak yang masih di bawah umur. Soalnya, tentu saja, mereka masih sangat membutuhkan kasih sayang dan bimbingan orangtua dan keluarga. Namun, karena keteledoran pula yang membawa mereka ke tempat ini. Tidak perlu kita saling menyalahkan, yang jelas kurang perhatianlah yang membawa anak-anak ke tempat yang penuh dengan pembatasan ini. Mereka kehilangan hak sosial mereka untuk belajar, bermain dan sebagainya.

Adalah Nofi Bay (17) dari TTS dan Daniel Bati (11) dari Pulau Semau. Kedua anak ini berada di Lapas lantaran telah melakukan kasus pencemaran dan pencabulan dengan hukuman yang berbeda-beda. Nofi mendapat hukuman dua tahun penjara. Bulan Agustus ini dia akan bebas. Sementara Daniel, bocah yang paling kecil dari semua anak yang ada di Lapas, harus terus mendekam di Lapas ini lantaran perbuatan pencabulan yang dilakukannya. Dia harus menerima hukuman empat tahun penjara.

Walau wajah mereka terlihat gembira menerima kunjungan, namun tidak begitu halnya dengan hati mereka. Kepada Pos Kupang kedua anak ini menyampaikan bahwa mereka rindu akan kedua orangtua dan keluarga. Ketika diajak berbincang-bincang, keduanya menitikkan air mata. "Kami sangat merindukan orangtua dan keluarga, kaka dan adik. Kami harap, hukuman ini segera selesai. Kami selalu berdoa supaya hari-hari berlalu cepat, sehingga segera keluar dari tempat ini," kata Daniel.

Setiap hari, setiap malam Daniel selalu berdoa agar bisa segera selesai hukumannya. Ia mengaku kilaf dengan perbuatan dosa yang telah dilakukannya. Gara-gara perbuatan bejat yang dilakukannya, ia harus menyelesaikan sekolahnya di Lapas dengan mengikuti program Paket A. "Saya baru selesai ujian dan tinggal menunggu pengumuman. Saya rindu bapa dan mama. Soalnya mereka jarang sekali datang melihat kami di sini. Kalau mereka datang satu bulan satu kali, kadang mereka juga tidak pernah datang. Kalau sudah rindu begini, saya hanya bisa sembahyang," kata Daniel sambil menitikkan air mata.

Bocah enam bersaudara ini mengatakan kapok dan tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. "Saya tidak tahu kalau perbuatan yang saya lakukan itu menghantar saya masuk ke tempat ini. Saya ingin menjadi anak yang baik," katanya.

Di Lapas ini, katanya, ia dan teman-temannya sangat senang karena mereka dibekali berbagai macam pengetahuan dan ilmu yang bisa membekali mereka jika kembali ke masyarakat nanti. (matilde dhiu)

Pos Kupang Minggu 10 Agustus 2008, halaman 12
Lanjut...

Mencekam Mimpi Semalam

Puisi-puisi Dian Hartati

Aku terbangun
Sebab kau tiba-tiba lari menjauh
Menguburkan segala cerita yang belum matang
Mengacaukan jalin peristiwa

Aku terbangun
Karena malam menghadirkan ceracau
Mimpi tak pasti
Tentang kisah-kisah muram

Membendung rindu
Percakapan-percakapan tak mewujud
Jumpa dihalau setiap ingin


Segeralah merapat
Mengucapkan kata-kata penuh tanya

Aku terbangun
Karena pagi mengundang tubuhmu
Dalam ingatan panjang tanpa nama
Sudut Bumi, 2006


Resa
(sajak perjumpaan bagi Jusuf An)

Mampukah kau berlari mencari
Celah di kedinginan petang hati
Senja itu kau mewujud diiringi tangis menghunjam bumi
Gerimis hablurkan kaca kehidupan yang dipendam ibu

Sebab sebuah malam telah disiapkan bapak
Memanggul cahaya gerhana lebam dibuai pawana

Ingatkah janjimu ketika itu, bergulir
Meramu hari yang matang karena luka
Sebab serambi rumah hanya sisakan kenangan

Pagi menjelma meninggalkan Kamis wage
Memintal gemuruh azan jadi lembar suka cita
Reka reka kehidupan mencipta sebuah tangis
Masa depan begitu buram
Mengabur dan membuatmu takut

Teruslah berlari mencari
Celah di kedinginan petang hati

Temukan ritus pembawa kabar gembira
Katakan, kau lahir dari sebuah kesucian
Lantas menggapai jarak masa depan

Wajahmu samun di keheningan lipur sari
Cantas menjelma ular kecil di belantara pasunten
Selalu menanti bulan di malam malam tak berputar

Siapa yang kau tunggu lelaki
Perempuanmu hilang terlukai
Kalimat-kalimat menggumpal sesak di dada

Sudah kau temukan celah itu
Atau bayangkanlah jika bulan menjelma matahari
Di tujuh jengkal ubunmu
Meracik kelabu di setiap sawang tubuh
Menuju jalan terang
SudutBumi, 2006

Pos Kupang Minggu 10 Agustus 2008, halaman 6
Lanjut...

Apa Saja

Puisi-puisi Joe

Bapa....
Aku masih tak percaya...
Kini kau terbaring di depanku
Tersenyum.. Seolah melepas beban dunia

Mengapa?.....
Apa kau hendak mengkumku?.....
Apa kau hendak mencobaiku?.....
Mengapa?.....

Aku masih tak mengerti
Akan kulakukan apa saja, apa saja.....
Asalkan kau bangun dan memelukku,
Mengatakan bahwa ini hanya mimpi
(Kupang, 2 Juli 2008)


Diriku

Apa yang harus kukatakan
Pada hatiku, diriku, pandanganku
Perhatianku, kasih sayangku
Semuanya tertuju pada satu nama, Ardi

Nama itu begitu melekat di benakku
Ia hadir dalam mimpiku, khayalanku
Bagaimana aku mengungkapkannya

Aku seorang wanita yang kasih tahu diri
Terkadang ingin langsung kuungkapkan padanya
Tapi egoku mencegahnya,
Aku seorang perempuan yang tahu malu,
Harga diriku mengusikku

Harus kupendam rasa ini
Dan kubiarkan terus menusuk tiang relung jantungku?
Ke mana kan kubawa asas ini,
Kau terus mengejarku dengan perasaan yang ku tahu takkan terungkap
Takan terjawab, takan terbalas

Aku mencintaimu dengan segenap hatiku
Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku
Aku mencintaimu dengan segenap logikaku

(Kupang, 28 Juni 2008)


Pos Kupang Minggu 10 Agustus 2008, halaman 6
Lanjut...

Buat Raja Baru Flobamora

Seruan Buat Pemimpin Baru NTT)
Puisi Andy Manek

Wahai raja flobamora
Dengan lembut engkau merayu rakyat
Dengan janji rakyat bodoh dihipnotis
Membawamu ke kursi keemasan

Rajaku
Dengan hormat kutitip pesan
Jangan karena gengsi, gubuk reok di kaki bukit tebas
Pemukul kurang kau usir dengan serdadumu
Si tua rentah kau keringkan dengan bara keputusanmu
Menjadikan yang kecil merangkak pilu


Raju
Dengan ilmu warisan tua di dusun
Wangikan negeri flobamora
Beranilah memberikan isi kepala dan ATM-mu
Agar nusa Flobamora menjadi nirwana
Penuh susu dan madu


Pos Kupang Minggu, 10 Agustus 2008, halaman 6 Lanjut...

Aku, Ayah dan PT Semen

Cerpen Jeksin H

MUNGKIN saat ini aku telah bertumbuh menjadi laki-laki dewasa. Atau mungkin aku dipaksa dewasa oleh situasi dan kondisi keluarga yang aku sendiri tak tahu ke mana arah tumbangnya. Banyak pemikiran atau khayalan melingkar-lingkar dalam nian.

Banyak perasaan terkungkung dalam lubuk hati anak seorang buruh pabrik semen sepertiku. Aku mengatakan dengan terus terang bahwa aku anak seorang buruh kasar. Ayahku menggantungkan harapan hidup keluarga pada Tuhan yang tersamar dalam rupa PT Semen Kupang Persero. Dan aku pun sama seperti ayah.

Saat ini dan di sini aku seperti sebuah pelita. Menjadi pelita untuk diri sendiri, bergantung pada diri sendiri, tidak mengharapkan bantuan apa pun dari luar, berpegang pada kebenaran seperti sebuah pelita. Pemahaman akan kebijaksanaan pelita ini mengantarkan aku kepada kemandirian yang terpaksa. Aku terpaksa mandiri karena dibelenggu beban hidup keluarga yang tak terpikulkan lagi.


Aku terpaksa mandiri karena aku harus mencari uang untuk membantu ayah membiayai kegiatan perkuliahan di Fakultas Sains dan Teknik Undana. Aku terpaksa mandiri karena aku tak tega melihat ayah sedih lantaran tidak memiliki pekerjaan lagi.

Sebenarnya, sebagai anak aku menolak kebijaksanaan PSK, tetapi aku tidak bisa mengembalikan kejayaan PSK yang dulu. Aku memang tidak sanggup, tetapi apakah pihak perusahaan tidak bisa? Atau apakah pemerintah daerah dan pusat tidak dapat melakukan sesuatu? Aku akui pabrik semen kebanggaanku akan, sedang dan telah gulung tikar, tetapi aku berharap ia seperti rumput ilalang yang mati kemudian tumbuh karena masih memiliki umbi yang terbenam di bawah tanah.

Aku juga sangat berharap agar ayah dan semua karyawan PSK dapat kembali bekerja dan memperoleh upah untuk menghidupi pohon keluarga mereka. Namun, apakah harapanku akan terwujud?

Saat ini dan di sini aku seperti sebuah busur yang tak beranak panah.
Aku mencintai seorang gadis, tetapi aku tidak memiliki keberanian untuk melesakkan panah cinta ke dalam hatinya. Aku selalu berusaha menjadikannya sahabat terbaikku. Aku tidak pernah menginginkan lebih dari itu. Ketika ia merayakan ulang tahun pada 24 Juni yang lalu, aku hanya memberikan sebuah kartu ucapan yang tak menyiratkan perasaan cintaku. Namun, aku ingin membaca puisi ini:

Yang Tak berjudul

Saat lalu,
Detik demi detik telah aku telusuri
Lorong panjang penuh kebahagiaan ini seakan tak berujung
Aku lantas bertanya pada diriku sendiri
Sudahkah kamu sadari

Saat ini,
Sedetik demi sedetik aku terkikis
Suatu irama yang bergelora menggerayangiku
Aku seakan dideretkan pada warna pelangi
Ia seperti gelombang pasang yang mengangkatku tinggi
Cintanya melemahkan saraf-saraf otakku
Matanya mencairkan batu hatiku
Bibirnya melumat dahaga liarku
Aku luluh dibuatnya

Mimpi semalam
Aku merindukanmu, kataku memulai
Aku mencintaimu, kataku kemudian
Ketidakterusterangan menyuarakan kesukaanku
Tolong...., pahami aku
Aku menginginkanmu, kataku akhirnya
Ia menciumku dan berbisik lembut
Aku sungguh tak bisa memahamimu

En, bila engkau mencintaiku
Tolong beri judul puisi ini
Je (24 Juni 2008)

Aku telah mengabadikan rasa cintaku dalam puisi ini. Aku telah menguraikan semua harap yang terendap, tetapi rasa ini tetap menjadi rahasia. Aku tak kuasa menyingkirkan belenggu yang menggerogotiku. Bahkan pada akhir puisi ini, aku mewakili En menuturkan, "aku sungguh tak bisa memahamimu." Kalimat terakhir puisi ini menandaskan bahwa aku tak mampu menggapai cinta sucinya, aku tak pantas bersanding dalam satu ikatan cinta bersama. Aku sadar bahwa aku dapat disindir dengan peribahasa, "Mengharapkan hujan di musim kemarau." Aku malu dengan diriku karena tidak berarti apa-apa dan tidak punya apa-apa. Aku marah pada situasi dan kondisi yang membalutiku seperti ini. Lebih jauh lagi aku marah dengan sebuah kenyataan yang mengatakan PT Semen Kupang Persero telah bangkrut. Ingin rasanya aku membantah kebenaran tersebut. Ingin rasanya aku tidak percaya dengan pemberitaan harian umum Pos Kupang, tetapi kebenaran ini tersembul dari bibir ayah sendiri.

Aku tak bisa membantah lagi. Aku harus menerima kenyataan bahwa ayah akan dirumahkan dan tidak mendapat upah lagi. Bahwa ayah akan menjadi pengangguran pada masa tuanya. Sedih memang dan memang sedih. Ayahku bersedih dan aku sebagai anaknya yang paling tampan tak akan pernah tampan lagi. Aku merasa kebenaran ini membuatku aneh. Aku tak punya gambaran betapa aku dekat dengan batas kegilaan. Aku terkikik dan tawa kecil itu menjadi tawa yang terbahak-bahak, hingga bahuku terguncang-guncang tak terkendalikan. Aku terharu hingga air mataku membasahi wajahku. Di kamarku aku menulis tentang aku yang menanti fajar dengan lilin yang hampir padam. Aku melihat diriku melihat aku. Aku akui lorong panjang yang penuh cobaan ini amatlah panjang hingga aku kehabisan kata-kata.

En pernah memberikan aku sebuah advice. Jangan pernah membiarkan masalahmu lebih besar dari dirimu. Advice ini menguatkan aku. Advice ini meyakinkan aku bahwa En adalah sahabat terbaik yang sangat aku cintai. Seandainya En kuanalogikan sebagai sahabat PSK yang selalu ada saat kubutuhkan, yang selalu siap membantu dan mengasihi tanpa syarat, pasti PSK tidak seperti sekarang ini. Seandainya saja Dirut PSK dan semua karyawan PSK mempunyai sahabat seperti En, aku yakin Tuhan masih tersamar dalam dirimu, wahai PT Semen Kupang Persero kebanggaanku. Aku sering bergumam dalam hati ketika melihat En. "Kumerasa kecup hangat sebentuk cinta yang telah lahir dari Sang Pengada. Kumulai menguak rahasia. Tak ada yang tak nyata bisa mengada. Semesta tak kasat mata. Hiruk-pikuk misterius di malam hari. Menghimpun serba kemungkinan. Apakah mungkin bila mencintaimu? I Love You More, En!" (*)

Pos Kupang Edisi Minggu 10 Agustus 2008, halaman 6

Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda