Sastra NTT Tak Pernah Mati

(Catatan untuk Gusty Fahik)

Oleh Yoseph Lagadoni Herin

TATKALA membaca tulisan Gusty Fahik di harian ini (PK, 17/12/2008) bertajuk "Membangkitkan Sastra NTT (Kado Prematur Buat NTT di Usia Emasnya)", saya teringat Laurens Olanama. Pesan yang dikumandangkan Gusty Fahik, dalam nada yang sama pernah disampaikan Olanama dalam sebuah artikelnya awal tahun ini, di sebuah media lokal.

Kala itu Olanama menulis tentang sahabatnya, Eskoda, yang meninggalkan tembok biara demi panggilannya memperisterikan sastra dan idealisme membumikan sastra di Flores. Eskoda mati muda sebelum impiannya terwujud. Pada akhir tulisannya, Olanama menulis, "Kini setelah empat tahun kematiannya, tak ada tanda kebangkitan (sastra Flores) yang berarti. Seperti ingatan yang kabur tentang kapan meninggalnya seorang Eskoda!" 

Siapa Eskoda? Hanya orang-orang dekat mengenalnya sebagai penyair muda dengan segudang idealisme. Saya harus membongkar koleksi Seri Buku VOX akhir tahun 1990-an untuk mencari tahu siapa sesungguhnya Eskoda. Dalam VOX Seri 43/4/1999 saya menemukan Eskoda adalah nama media Siprianus Koda Hokeng. Juga puisinya: Doa Sang Prajurit (Buat Para Pahlawan Reformasi). Hanya satu puisi yang ditemukan. Tapi puisi sepanjang sepuluh bait itu menunjukkan secara tegas kualitas kepenyairan Eskoda. Jempolan!

Gaya menulisnya mirip sang idola, Chairil Anwar. Demikian pun garis hidup. Dia juga 'binatang jalang, dari kumpulan yang terbuang.' Chairil memilih menjadi binatang jalang dan terbuang dari keluarga inti di Sumatera setelah menolak ajakan sang ayah pulang ke Medan. Selain karena kecewa dengan ayah yang mengkhianati sang ibunda dengan menikah lagi, Chairil sedang mabuk asmara dengan seorang gadis Betawi. (Puisi 'AKU' yang kesohor itu ditulis dalam suasana bathin seperti ini, sehingga 'AKU' juga bisa dibaca sebagai perlawanan Chairil terhadap ayahnya). Eskoda menampik ajakan teman untuk tetap bertahan di jalan imamat. Ia mantap memilih jalan sunyi, menyusuri lorong kata-kata demi membumikan sastra di Nusa Nipa. Keduanya pun mati muda. Chairil dirongrong TBC, Eskoda mati dalam kecelakaan lalulintas.

Tapi, sekali lagi, siapakah Eskoda dalam pentas sastra Nusantara? Apakah publik secara luas mengenalnya sebagai penyair muda penuh bakat? Mungkin hanya para frater Ledalero zaman itu! Demikian pun sejumlah nama yang saya temukan dalam Seri Buku VOX seperti Laurens Olanama, Stef Tupeng Witin, Paschal Semaun, Polce Hokeng, dan Rafael Gawi Lonek. Puisi-puisi mereka bernas, penuh daya pukau dan berbobot. Tapi karya-karya mereka tak pernah terbaca di atas cakrawala sastra Indonesia nan maha luas karena hanya dikonsumsi komunitas lokal.

Ketika berada di Jakarta awal Desember silam, saya bertemu sahabat lama. Ia penyuka sastra, piawai menulis puisi dan cerpen. Kini wartawan Kompas. Kala membaca beberapa puisi saya (yang terekam di handphone), dia sontak bertanya: mengapa tidak dikirim ke Kompas? Saya hanya tersenyum dan mengatakan bahwa sudah dimuat di Pos Kupang. Dia terdiam sesaat sebelum melanjutkan dengan kalimat tandas, tanpa basa-basi, "Jika ingin dikenal dalam dunia sastra Indonesia, harus berani keluar NTT, diekspos di media nasional. NTT terlalu jauh dari Jakarta, Pos Kupang terlalu kecil untuk Indonesia."

Hemat saya, di sinilah inti soal yang mencuatkan kekhawatiran Gusty Fahik akan tiadanya sastrawan NTT yang mencatatkan namanya dalam belantara sastra Indonesia. Sastra NTT tidak pernah mati. Ia terus hidup dan menggeliat. Karenanya kata 'membangkitkan' rasanya kurang pas. Yang perlu dilakukan sekarang adalah 'mengenalkan'. Caranya dengan membuka ruang lebih luas agar karya-karya sastra NTT bisa menjadi konsumsi nasional.

Nama-nama seperti Umbu Landu Paranggi, Dami N Toda, Gerson Poyk, dan Yulius Siyaranamual adalah sastrawan-sastrawan NTT yang pada zamannya berkarya langsung di pusaran sastra Indonesia di Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta (baca: Jawa). Mereka mempublikasikan karya-karya mereka di media nasional, aktif dalam forum-forum sastra nasional bersama sastrawan Nusantara lainnya, serta menerbitkan antologi puisi, cerpen ataupun novel karya mereka. Tambahan lagi, selalu ada upaya saling membesarkan di antara para sastrawan.

John Dami Mukese tidak mengalami kehidupan sebagaimana para seniornya. Dia hidup dan berkarya di balik tembok biara. Tapi karyanya dikenal luas karena sering mempublikasikannya di media massa nasional. Puisi-puisinya dari Filipina pernah menghiasi halaman Kompas. Dia juga menerbitkan sejumlah antologi puisi. Karenanya dikenal luas. Maria Mathildis Banda pun demikian. Nama yang cukup dihormati kalangan sastrawan muda Bali ini pun tidak pernah berada di pusat sumbu kehidupan sastra Indonesia. Dia berkembang sebagai sastrawan ketika belajar di Fakultas Sastra Unud Denpasar. Namanya dikenal luas karena rajin mempublikasikan dan menerbitkan novel-novelnya, terakhir novel Surat Dari Dili hangat dibicarakan.

Tak ada lagikah sastrawan muda NTT pasca nama-nama di atas? Viktus Murin dan Mezra Pellandou di awal 1990-an pernah menjuarai lomba menulis puisi antarmahasiswa Indonesia. Mezra Pellandou masih terus berkarya. Sejumlah cerpennya masih menghiasi halaman media nasional di Jakarta, termasuk Jurnal Cerpen Indonesia. Cerpennya, Manusia-manusia Jendela meraih juara pertama Lomba Menulis Cerpen Indonesia bagi Guru Sastra se-lndonesia. Namanya tercatat sebagai pengurus Komunitas Cerpen Indonesia (satu-satunya dari NTT). Terakhir dia juga mulai menerbitkan novel-novelnya. Loge, misalnya, novel berlatar belakang bumi Merapu, Sumba.

Di manakah Viktus Murin? Setelah terjun ke dunia politik nyaris tidak terdengar lagi kiprahnya di dunia sastra. Nasibnya sama dengan sejumlah nama yang ditemukan dalam Seri Buku VOX. Mereka punya potensi besar menjadi penyair. Namun setelah tenggelam dalam kesibukan kerja sehari-hari, tidak lagi berkarya kreatif. Kalaupun masih menulis, jarang mempublikasikannya. Atau, hanya lewat media-media komunitas sehingga tak pernah dikenal luas. Saya yakin, masih banyak nama lain yang tenggelam sebelum berkembang. Mereka 'mati muda' di dunia sastra. Kenyataan ini dikeluhkan sastrawan senior NTT, Felycianus Sanga. Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Undana Kupang ini mengeluh karena banyak mahasiswa yang pernah dibimbing tidak lagi bergelut dengan sastra setelah tamat. Padahal mereka punya potensi luar biasa. 

Setelah generasi Mezra, kini muncul sejumlah sastrawan muda. Mereka 'berani' menerbitkan antologi puisi. Misalnya Bara Pattyradja, Jefta Atapeni, Charlemen Djahadael, dan Abdul M Djou. Dalam usia belum genap seperempat abad, mereka sudah rajin mengikuti pertemuan-pertemuan sastrawan tingkat nasional. Terakhir Oktober silam, berempat hadir dalam forum Temu Penyair di Lembang, Bandung. 
Dari forum tersebut, puisi-puisi Abdul M Djou dan Charlemen Djahadael bergandeng dengan karya penyair besar semacam Izbedy Setiawan ZS, Inggit Putria Marga, Ahmadun Yosi Herfanda, Dian Hartati, Dorothea Rosa Herliany, Dina Oktaviani, Iman Budhi Santosa, Sindhu Putra dan lain-lain dalam antologi bersama Tangga Menuju Langit. Sedangkan nama Bara Pattyradja dan Jefta Atapeni juga bersanding bersama sastrawan besar semacam Beni Setia, Arip Senjaya, Triyanto Triwikromo dan lain-lain dalam antologi cerpen bersama Sebelum Meledak.

Demikianlah. Sastra NTT tetap hidup dan menggeliat. Tapi suaranya tidak pernah kedengaran sampai di Jakarta karena hidup ibarat katak dalam tempurung. Yang perlu dilakukan adalah 'mengenalkan' karya-karya sastra NTT. Ini tugas bersama. Baik sastrawan, media massa dan lembaga penerbitan, serta uluran tangan pemerintah daerah. *

*) Yosni Herin, Mantan wartawan, penyuka sastra dan Wakil Bupati Flores Timur

Lanjut...

Djony Leonard Karel Theedens

FOTO POS KUPANG/ALFRED DAMA

Kesenian Tradisional NTT Lebih Berkembang

PENAMPILAN 50 orang pelajar yang memainkan musik tradisional sasando pada puncak perayaan Hari Ulang Tahun (Hut) ke-50 Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di alun-alun rumah jabatan Gubernur NTT, Sabtu 20 Desember 2008 mengingatkan potensi musik tradisional daerah ini. Penampilan memukau para pelajar itu tidak terlepas dari karya Djony Theedens yang kini menjabat Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya NTT.

Ya, sasando, salah satu alat khas yang menjadi kebanggaan masyarakat NTT. Alat musik unik ini sudah dikenal hingga manca negara. Bumi Flobamora memiliki aneka kesenian tradisional yang unik dan menarik.
Drs. Djony Theedens mengatakan, sebenarnya kekayaan kesenian tradisional di NTT sangat luar biasa. Semua potensi ini tinggal ditata agar lebih bermanfaat bagi daerah ini.

Theedens bersama UPTD-nya sudah menerapkan seni masuk sekolah sejak tahun 2003. Dan, hasilnya sudah banyak anak muda NTT yang menggemari kesenian yang diwariskan nenek moyangnya. Berikut petikan perbincangan Pos Kupang dengan Djony Theedens pertengahan Desember 2008.

Bagaimana Anda melihat perkembangan kesenian tradisional NTT saat ini?
Kalau bicara tentang kesenian daerah ya kita harus bertolak dari perkembangan kesenian daerah sebelum otonomi dan sejak otonomi. Perkembangan kesenian setelah otonomi daerah ini sangat signifikan, karena perencanaan pengembangan kesenian itu berada di daerah sehingga dengan sendirinya perencanaan sesuai dengan kebutuhan dengan pertimbangan-pertimbangan yang sudah dilakukan dan dengan sendirinya menjawab kebutuhan pengembangan kesenian di daerah.

Ini berbeda dengan masa dimana semua rencana pembangunan datang dari Jakarta. Pada masa otonomi daerah saat ini, perhatian pemerintah daerah untuk pembangunan kesenian lebih tinggi, baik dalam dukungan, anggaran dan sebagainya. Saya selalu katakan, di masa lalu jumlah anak muda yang bisa memperagakan kesenian daerah itu sangat terbatas, kita bisa hitung dengan jari dan orang-orang yang itu-itu saja. Tapi setelah otonomi daerah ini menjadi luar biasa karena sudah begitu banyak anak muda yang bisa tampil membawakan kesenian tradisional.

Misalnya saya selalu propaganda dengan istilah seni masuk sekolah itu, dan tahun ini (2008) sudah memasuki tahun kelima program ini. Tahun ini saya target ada enam ribu anak yang bisa membawakan kesenian tradisional dan sejauh ini sudah sampai 90 persen berhasil. Jadi kesenian daerah NTT tidak asing bagi anak-anak di propinsi ini. Seperti di sini (gedung Taman Budaya NTT) Anda datang setiap hari pasti ada kegiatan. Ini suatu bukti bahwa apresiasi anak-anak akan kesenian daerahnya sudah sangat baik.

Anda mengatakan seni masuk sekolah. Apakah para pakar kesenian yang mengajar anak-anak tentang seni tradisional?
Orang-orang kita masih melekat dengan budaya mereka, baik itu tarian maupun musik. Dan, mereka yang kita katakan orang-orang kampung itu kita tarik dan ajak masuk sekolah dan mengajar kesenian tradisional di sekolah. Jadi program yang kita buat seni masuk sekolah ini yang masuk itu bukan sarjana seni. Kita berdayakan masyarakat yang mencintai seni dan itu diajarkan ke anak-anak sekolah. Ternyata mereka juga bisa mengajar.

Makanya setiap tiga bulan itu kita gelar festival dan apa yang mereka tampilkan berupa karya-karya itu cukup baik, cukup mendapat respon dari masyarakat. Jadi yang mengajar itu masyarakat etnis dan harusnya kita memperdayakan mereka. Sudah waktunya apa yang ada pada kita coba lakukan sambil kita benahi kekurangannya. Jadi jangan tunggu ada sarjana seni, tidak perlu menunggu karena harus mulai sekarang. Menurut saya, mereka (masyarakat etnis yang mencintai seni) juga termasuk para profesor budaya mereka, bahkan kalau kita mau tulis skripsi juga kita harus bertanya pada mereka karena itu budaya mereka. Nah ini yang belum kita berdayakan secara maksimal.

Sejak kapan program seni masuk sekolah dan bagaimana hasilnya?
Sejak tahun 2003 dan ini tahun kelima. Sebelum tahun 2003 atau tahun 2002 saja, kita hanya punya sekitar lima atau enam penari etnis laki-laki dan bisa saya sebut namanya. Tapi setelah program ini, sekarang sudah ada ribuan penari. Anda meminta saya siapkan 2.000 penari etnis, saya bisa siapkan sekarang ini.

Bagaimana Anda melihat partisipasi masyarakat?
Partisipasi dari masyarakat bagus. Masyarakat sendiri yang melakukan. Dan itu merupakan tanda kehidupan baru dari kesenian daerah. Memang dalam rencana pembangunan kesenian daerah ini ada program- program jangka pendek dan jangka panjang. Jadi ini juga saya selalu katakan kalau program jangka pendek yang sedang kita lakukan sesuai dengan kaca mata kita, kajian kita yang harus dilakukan, tapi memang untuk kegiatan jangka panjang untuk mengangkat kesenian daerah secara lebih baik, kita sedang mendorong didirikan sekolah menengah kejuruan (SMK) kesenian.

Setelah SMK kesenian bergerak maka kita bisa bergerak dengan mendirikan perguruan tinggi seni. Dan, kita sudah ada embrionya. Kita lihat saja di NTT yakni Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) sudah ada Program Studi Sendratasik (seni, drama, tarian dan musik). Mereka memproduksi guru-guru kesenian. Dari guru-guru kesenian itu akan mengajar kesenian bagi siswa-siswa dan siswa-siswa yang berprestasi bisa melanjutkan ke SMK Kesenian. Nah, setelah SMK kesenian ini mendidik anak-anak secara baik ini maka mereka bisa masuk ke perguruan tinggi seni. Nah dari perguruan tinggi seni ini akan memproduksi anak-anak yang kreatif. Jadi saya pikir untuk SMK kesenian ini dan perguruan tinggi seni, juga perlu di sini.

Anak-anak yang berbakat dalam bidang seni kan bisa melanjutkan pendidikan di Jawa, karena di sana sudah ada pendidikan khusus untuk itu.
Memang di Jawa sudah ada, tetapi kalau dibangun di sini (NTT) artinya orientasi kita pada muatan lokal kita. Artinya, dalam kurikulum itu bisa padukan antara internasional, nasional dan lokal. Tapi lokal harus mendapat perhatian yang serius, sedangkan perguruan tinggi seni yang ada di luar NTT itu mereka juga pada muatan lokal mereka. Kalaupun kita ke sana, maka kita akan belajar kesenian mereka. Bukan berati kita menolak tapi kalau ada di sini maka lebih dinamis dalam pembangunan kesenian kita.

Bagaimana upaya pemerintah yang lebih nyata dalam melindungi kesenian daerah?
Perhatian pemerintah terhadap kesenian daerah setelah otonomi daerah ini luar biasa. Pemerintah dari kabupaten/kota itu melakukan kegiatan-kegiatan seperti festival-festival. Jadi kita ada festival tingkat kabupaten, tingkat propinsi dan juga tingkat nasional. Dan, juga di tingkat propinsi juga punya program festival per-triwulan oleh anak-anak sekolah mulai dari SD sampai SMA/SMK, dan sudah berjalan lima tahun. Dan, rencannya tahun 2009 kita akan menggaet lima agama besar yang ada.

Jadi selain masyarakat, sekolah juga lembaga agama karena menurut kita pembangunan ini merupakan tanggung jawab kita semua. Jadi kita kerja sama dengan organisasi kesenian dan forum sanggar etnis NTT. Jadi semua orang NTT yang ada di sini (Kupang) ini kita himpun untuk membangun seni. Tahun depan (2009) kita lanjutkan dengan masyarakat agama. Jadi kegiatan seni ini mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.

Bagaimana Anda melihat perkembangan kesenian di kabupaten/kota?
Jadi memang kita pilah-pilah, tapi umumnya hampir sama antara tari, musik dan teater. Dan yang agak tertinggal di NTT hanya seni rupa. Seni rupa ini agak kurang, sama juga dengan seni teater karena kegiatan dua cabang seni kurang dilaksanakan, kecuali tari dan musik yang hampir merata. Kalau di Flores itu musik cukup baik, tari cukup baik sedangkan di Sumba tari cukup baik, musik perlu digali lagi. kalau Alor, tari dan musik ada perkembangan sedangkan daratan Timor, musik ya agak lumayan. Di daratan Timor ini tari perlu lebih banyak lagi digali.

Masuknya musik barat atau budaya barat sangat kuat pengaruhnya ke anak muda kita. Orangtua tentu khawatir anak-anak akan lupa dengan kesenian tradisional sendiri. Menurut Anda?
Memang, ada kecenderungan anak-anak kita mau sesuatu yang baru. Saya kira sangat manusiawi orang selalu mau sesuatu yang baru. Siapa yang tidak pingin yang baru, seperti ada model baju baru, sepatu baru pasti ingin memilikinya. Tetapi khusus untuk dunia seni ini memang mereka senang yang baru, saya kira ini juga positif tapi bukan berarti anak-anak kita tidak mencintai budaya lokal. Hanya memang yang menjadi persoalannya adalah bagaimana kita mendisain program-program yang sungguh nyata dan menyentuh kebutuhan anak-anak kita. Saya berikan contoh dengan program seni masuk sekolah yang sudah kita lakukan sejak tahun 2003 itu anak-anak makin mencintai kesenian lokal. Saya sampai berpikir program yang kita buat ini yang harus tepat, kalau tidak tepat memang kelihatan anak-anak agak masa bodoh. Di tempat ini, hampir setiap hari anak-anak hadir di sini semata-mata mereka telah menggeluti kesenian tradisional. Mereka merasakan ada sesuatu. Inilah yang luar biasa. Jadi sekarang Anda meminta ribuan anak menari tarian tradisional maka kami siap peragakan itu, karena memang program ini jalan. Sehingga program yang kami lakukan di UPTD di sini kami ingin pemerintah di kabupaten/kota bisa mengandopsi atau mentranfer pengalaman yang kita sudah buat. Jadi saya kurang setuju dengan pemahaman itu, sebab sudah terbukti bahwa dengan program yang kita buat yakni seni masuk sekolah ternyata anak-anak itu luar biasa, saya kira itu wajar juga demikian karena tenaga pendidik kita di sekolah sangat terbatas.

Ada kesan bahwa belajar tarian atau musik daerah dianggap ketinggalan jaman atau kurang gaul dibandingkan degan tarian atau musik modern?
Jadi konteksnya memang beda. Dunia tradisi kalau kita sandingkan dengan seni-seni modern memang agak beda sehingga kita tidak bisa katakan kalau dengan seni tradisi itu kurang gaul atau dengan seni modern lebih gaul. Tapi yang jelas dari masing-masing kesenian itu mempunyai keunggulan, kekhasan dan mempunyai daya tarik tersendiri. Seperti tadi saya berikan contoh, anak- anak sekarang dengan mereka bergaul dengan seni tradisi ini mereka bahkan merasa lebih menguntungkan diri mereka. Ini yang saya lihat dari generasi muda sekarang sering terlibat dalam kegiatan di Taman Budaya ini, karena mereka bisa dipakai dimana-mana. Mereka bisa mengadakan pertunjukan dengan baik di luar NTT atau di NTT. Setelah mereka menguasai seni, mereka mendapat perhatian yang lebih. Mereka sering dipakai untuk menjadi instruktur di mana-mana, misalnya mereka tampil di hadapan tamu-tamu yang datang ke NTT. Mereka diminta untuk mempertunjukkan seni daerah bahkan melatih. Jadi kita tidak bisa sandingkan secara otomatis kesenian tradisi dan modern. Saya berikan contoh ada satu mahasiswa di sini yang pernah studi pertukaran pelajar dengan Kanada. Tiap hari anak itu datang ke tempat ini untuk latihan menari, saya pikir anak ini sudah sampai di Kanada tapi masih mau belajar kesenian daerah, saya tanya ke dia kenapa masih menyukai kesenian lokal, dia bilang ini sangat menarik. Jadi dia tidak merasa minder kemudian bahkan dia merasa bangga sekali.

Apa program yang mesti dilakukan ke depan untuk membangun kesenian tradisional NTT?
Kita harus mengubah paradigma program dengan pembangunan kesenian. Tidak bisa kita buat program yang dadakan, maka itu program seni masuk sekolah itu kita utamakan proses, bukan hasil. Saya beri contoh, kita ingin anak-anak 100 persen, tapi tidak ditempuh lewat proses kelihatannya 100 persen tapi didalamnya keropos dan ini berbahaya dalam otonomi daerah. Jadi buat program itu kita harus perhatikan prosesnya, walaupun lambat tapi lebih menggigit atau lebih membumi, jadipada kita buat yang istilahnya siap saji atau instan. Jadi kita lihat luar biasa tapi di dalamnya keropos.

Kata orang, putra-putri NTT memiliki suara yang tidak kalah bagus dengan anak-anak dari Maluku, Sulawesi dan Jawa. Tapi, kenapa anak NTT sulit berprestasi di tingkat nasional?
Ini hanya soal kesempatan saja. Kalau kita skop nasional, Ambon ada nama, Papua ada nama, Sulawesi Utara ada nama dan NTT belum terlalu. Kalau dulu ada Ingrit Fernandez, ada Obby Mesakh atau ada beberapa nama. Hanya karena kesempatan untuk anak-anak kita yang kurang, kita belum ada link. Kalau di Jakarta misalnya, dari Ambon itu mereka saling tarik menarik karena ada yang sudah sukses, kemudian menarik yuniornya sehingga ikut sukses juga. Jadi mereka saling membantu. Kita dari NTT sejauh ini belum ada yang menjadi sandaran yang benar-benar bisa diharapkan. Sebenarnya ada beberapa juga teman kita anak-anak Flores, tapi mereka penyanyi jazz. Tapi dari sisi kualitas, kita tidak kalah dan itu meang diakui. Jadi hanya kesempatan saja.

Anda begitu semangat membangun seni tradisional.
Oya iya, jadi omong terus terang dari pribadi, kalau dari segi orang pemerintahan saya pikir kalau bukan kita siapa lagi. Ini soal rasa memiliki dan komitmen saya sangat tinggi. Saya kadang-kadang cukup keras dan cukup ngotot dalam hal ini, karena saya pikir ini sudah tahun emas NTT dan sebelum saya masuk, saya minta terima kasih bahwa bahwa gubernur mencangkan ada Sasando 50 orang yang dimainkan pada puncak HUT 50 tahun NTT.

Anda begitu menginginkan SMK kesenian. Kenapa?
Begini, kesenian kita di NTT ini terlalu kaya, dan kaya itu bukan kata-kata penghibur. Kalau kita lihat daerah yang lain, bahasa saja sudah sama seperti seluruh daerah di pulau Jawa itu bahasanya hampir sama semua. Bali juga demikian. Kita punya banyak bahasa, apalagi kesenian. Sangat beragam. Hanya masalahnya kesenian ini belum kita angkat secara maksimal, karena kita masih memiliki keterbatasan SDM. Untuk menjawab pembangunan kesenian hanya ada satu kata, SDM. Itu dapatnya dari bagun SMK dan perguruan tinggi seni di NTT. Sekarang kita lakukan program jangka pendek untuk mengisi kekosongan, tapi jangka panjang harus. Entah ada di Sumba, Flores atau Timor tapi harus ada satu institusi pendidikan seni. Saya bersama tiga rekan pernah ikut pertunjukan seni di Bali dan itu mendapat sambutan yang luar biasa baik dari peserta luar negeri maupun dalam negeri. Kalau tahu NTT punya potensi itu, pastilah mereka akan datang dan berguru di sini, seperti ada orang Amerika atau Eropa yang belajar kesenian Jawa. (alfred dama)


Sulitnya Meraih Sarjana Seni

KEINGINAN menjadi seorang pemusik telah mendorong Djony Theedens masuk ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Namun, siapa sangka ayah dua anak ini bukan lulusan SMA, melainkan sekolah teknik menengah (STM) jurusan mesin. "Kita dari keluarga yang hidup pas- pasan. Orangtua saya menginkan saya cepat kerja, jadi saya masuk STM," jelasnya.

Meski telah menyelesaikan STM jurusan mesin di STM Negeri Kupang (sekarang SMKN 2), bakat seni dalam diri Djoni tetap mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan. Dan, ISI Yogyakarta menjadi pilihannya. Meski sudah memiliki bakat, masuk ke jurusan musik ISI tidak semulus seperti yang dibayangkan.

Bahkan, ia menyiapkan diri satu tahun untuk ikut seleksi masuk ke perguruan tinggi seni terkemuka di Indonesia itu. "Hampir setahun saya berlatih main gitar, itu juga siang, pagi, sore. Setiap saat saya berlatih supaya bisa lolos masuk ke ISI. Tidak mudah masuk ke sana, karena dibutuhkan calon mahasiswa yang masuk harus benar- benar menguasai alat musik yang dinginkan. Jadi berlatih main gitar itu saya lakukan setiap saat," jelas
Djony Theedens mengenang masa lalunya.

Selama menjadi mahasiswa, Djony juga lebih banyak menghabiskan waktunya belajar dan mengasah keterampilan bermusik. Sebab, di jurusan musik, setiap tahap peningkatan belajar terukur dengan pengetahuan dan keterampilan dalam musik, sehingga tidak heran bila lulusan ISI memiliki keahlian dalam bermusik. "Menjadi sarjana musik itu tidak seperti sarjana lain, seorang menjadi sarjana musik berarti sudah benar- benar mengusai ilmu tentang musik dan bisa diimplementasikan," jelasnya.


Memegang gelar sarjana musik juga merupakan kebanggan bagi suami dari Nanik ini. Sebab, tidak semua sarjana bisa mengimplementasikan ilmu yang didapat semasa kuliah. Hanya sedikit yang benar-benar bisa mengimplementasikan ilmu dan keterampilan hasil belajar semasa kuliah. "Ini yang membuat sarjana seni itu beda dengan sarjana lain. Kita kalau sampai gelar sarjana ini sangat sulit dan kita bisa mempraktekkan ilmu kita, kalau sarjana yang lain belum tentu juga. Mungkin apa yang diajarkan di bangku kuliah sudah tidak bisa dipraktekkan lagi," jelasnya.

Pria kelahiran Kupang 11 Februari 1958 ini mengatakan, di ISI, ia menguasai alat musik gitar klasik, namun harus juga pandai alat musik lain. "Jadi ada mayor yakni spesialis. Spesialis saya adalah gitar, kemudian minor saya pilih vokal dan piano. Pilihan ini wajib juga. Bisa juga ambil instrumen yang lain, tergantung minat atau motivas kita mempelajari itu," jelasnya.

Bakat seni yang telah diperdalam selama bangku kuliah itu juga selalu mendorongnya memainkan piano dan gitar di rumah. Namun, kini pria berkumis ini sudah memilih musik gereja. "Saya lebih cenderung dengan musik gereja, entah itu geraja Katolik atau Protestan. Karena menurut saya, gereja harus mempunyai peranan penting untuk membangun musik. Sesuai sejarah, musik berkembang dari gereja dan kini musik sudah luar biasa itu karena gereja dan gereja harus ambil alih kembali untuk NTT," jelasnya. (alf)


Data diri
Nama : Djony Leonard Karel Theedens
Tempat Tanggal Lahir : Kupang 11 Februari 1958
Pendidikan : Tamat SDN Oeba
Sekolah Teknik (ST) Negeri- Merdeka, Kupang
Sekolah Menengah Teknik (STM) Negeri Kupang
S1 ISI Yogyakarta tamat Tahun 1987
Jabatan Kini : Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Taman Budaya NTT
Istri : Nanik
Anak-anak : Kartika
: Rista

Pos Kupang Minggu 4 Januaru 2009, halaman 3 Lanjut...

Yoga

Oleh Maria Matildis Banda

YOGA artinya meditasi, merenung dengan tujuan refleksi, mengambil waktu jedah yang disiapkan khusus untuk mencapai kebaruan hidup. Yoga meyakinkan diri untuk lebih menerima diri dan lebih ringan melangkah ke depan.
Begitulah, menjelang tahun baru dia melakukan yoga tiga hari bertutur-turut, tepat jam dua belas malam kurang lima belas menit, sampai jam nol-nol lima belas menit. Dua hari yoganya berjalan lancar. Sampai hari ketiga, yoga yang dilakukan kebabalasan sampai sehari semalam berikutnya. Karena itulah dia kaget bukan main saat sadar, pesta pergantian tahun sudah usai. Acara dangdut, joget, poco-poco, ja'i dan lainnya sudah berakhir. Semua temannya sudah pada tidur bayar hutang begadang seharian dan semalam suntuk, bahkan sudah bangun lagi dengan segar bugar, dia baru selesai yoga.

***
"Kenapa kamu tidak bangun saya dari yoga? Bukankah kamu tahu bahwa saya mau goyang sampai pagi pada malam tahun baru?" Rara kesal pada kedua temannya.
"Kamu lagi asyik yoga alias meditasi alias menerung, bagaimana mungkin saya ganggu kamu? Kulihat mulutmu komat-kamit, matamu terpejam, dan tidak terganggu dengan bunyi apapun di sekitarmu. Katamu yoga hanya tiga hari. Mengapa sampai lima hari? Sebenarnya kamu yoga untuk apa sih?"


"He he he aku yoga buat paket Yoga. Supaya Drs. Yoseph Tote, M.Si dan Agas Andreas, SH, MH menang pilkada di Manggarai Timur!"
"Oh, begitu?" Benza menyambung. "Bukankah tujuan yoga untuk refleksi, kesembuhan batin, berserah dan melapangkan jalan memasuki tahun baru? Bukankah yoga mencerahkan seseorang untuk mengambil dan menentukan langkah ke depan dengan lebih berhati? Bukankah..."

"Cukup!" Rara memegang kepalanya. "Benza, kamu selalu buat kepalaku pusing. Yoga itu artinya yoga. Pejam mata dan terlelap sampai pagi. Begitu bangun segar bugar."
"Jadi yogamu selama tiga hari itu, bahkan kebablasan sampai lima hari itu, apa yang terjadi?"

"Tetapi jangan bilang siapa-siapa ya," Rara mengecilkan suaranya. "Biar yoga kulancar, saya minum laru. Terus duduk bersila, terus tertidur sambil bersila. Hari pertama dan kedua, lancar-lancar saja. Pada hari ketika saya kebanyakan minum sampai mabuk. Duduk bersila pejam mata langsung terlelap sampai dua hari. Bukan salah bunda mengandung bukan? Yang salah ya mataku, pikiranku, perasaanku, semuanya hanyut dalam yoga. Tetapi yang jelas tujuanku tercapai. Gara-gara aku melakukan yoga, paket Yoga di Manggarai Timur menang bukan?" Rara benar-benar bangga diri.


"Jangan gede rasa kamu, Ra! Yoga menang karena perjuangan mereka. Bukan karena kamu mabuk terus teler sampai dua hari antero," kata Jaki dengan serius. "Sombong amat! Ngaku-ngaku Yoga menang karena kamu yoga? Ha ha , apa dan bagaimana yoga saja kamu gelap, bagaimana mungkin bisa menjalani yoga dengan benar?"
"Jangan kasar begitu teman. Apakah kamu pernah yoga?"

***
"Ya, kita sebaiknya melakukan yoga menyongsong 2009 yang pasti diliputi berbagai ketegangan. Sebab dengan yoga kita diberi ruang kosong untuk senantiasa komunikatif reflektif menghadapi problem, untuk apresiatif menyelesaikan konflik. Biar senantiasa ada damai di antara kita, sebab setiap orang memiliki waktu untuk yoga dari tingkat sederhana sampai yoga tingkat tinggi," demikian nasehat Benza yang selalu membuat kedua sahabatnya susah mencerna.

"Terus bagaimana dengan paket Yoga?" Rara salah sambung.
"Tentu saudara kita Yosef Tote dan Andreas Agas memahami betul apa artinya nama Yoga yang mereka pakai dalam proses pilkada di Manggarai Timur. Pasti tidak sesederhana huruf y, o, g, dan a. Dalam memimpin kabupaten baru itu mudah-mudahan keduanya selalu memiliki waktu untuk yoga dalam arti sebenarnya, dalam arti sederhana sekalipun, demi mengedepankan kepentingan rakyat sesuai janji-janji mereka," nasehat Benza lebih lanjut.

"Jadi kalau mau yoga harus dengan kerelaan?"
"Ya, yoga dilaksanakan karena niat kuat untuk melakukan perubahan mendalam dan mendasar, membangun motivasi spiritual dan...ö Benza terhenti karena dipotong Rara.
"Sudahlah Benza, saya pusing nih!"

"Pastinya kita ucap selamat untuk paket Yoga yang untuk sementara menang pilkada di Manggarai Timur. Pastinya lagi, yoga memberi inspirasi bagi kita menghadapi 2009. Supaya kita semua dapat menghadapi segala problem dengan tenang. Ada waktu untuk diam dan merenungà ada saatnya menemukan jalan keluar dengan kepala dinginà Melalui yoga pada tahun 2009 ini, bila langkahmu terasa berat"
"Hadapilah dengan senyum" sambung Jaki dan Rara bersamaan. (*)


Lanjut...

CEKCOK mulut dalam rumah tangga itu biasa, karena suami istri sering berbeda pendapat. Namun, perlu dicermati bila pasangan mulai mengeluarkan kata-kata ancaman ketika sedang cekcok.

Mungkin saja ada lontaran kata-kata seperti "Aku minta cerai" atau kata ancaman lain yang bahkan bisa mengarah ke fisik, misalnya mengancam akan menyakiti pasangan atau dirinya sendiri.


Menurut psikolog Ari Radiawati, Psi, kata-kata ancaman dapat dikategorikan sebagai jenis KDRT. "Sikap mengancam adalah ungkapan emosi ketika tujuan yang ia inginkan tidak tercapai. Misalnya ketika ia menginginkan A lalu pasangannya menolak atau tak sependapat, maka reaksinya adalah mengancam atau menakut-nakuti, dengan harapan pasangannya jadi manut," tutur konselor perkawinan ini.

Perlu diperhatikan, tidak semua tujuan atau apa pun yang kita inginkan bisa tercapai. Ada yang bisa menerimanya dengan bijak, ada pula yang langsung frustrasi. "Mereka yang obral ancaman ini sebenarnya merupakan cerminan pribadi dengan konsep diri rendah.

Pribadi tipe begini, ketika berinteraksi selalu membutuhkan dukungan dari orang lain dan memiliki kecenderungan untuk selalu dapat mengontrol segala sesuatunya. Mereka selalu ingin dapat diterima dan dipahami, senang cari perhatian dan sangat tergantung pada pasangannya, sehingga kalau keinginannya tak terpenuhi, dia langsung menghamburkan kalimat ancaman."

Sebaliknya, mereka yang kepribadiannya mantap dan dewasa, justru enggan menggunakan kekerasan dan ancaman dalam menyelesaikan persoalan.

Sebenarnya, mudah untuk menelisik suami/istri dengan kecenderungan seperti ini, karena biasanya ketika berada di dalam situasi yang tak diinginkan, ia gampang meledak alias tak mampu mengatasi dengan kepala dingin. Akibatnya, yang muncul adalah tindak kekerasan, dari membentak, membanting sesuatu, memaki, mengancam bahkan melakukan kekerasak fisik.

Akhirnya, hubungan perkawinan mengarah ke negatif. Alih-alih menunjukkan ketidaksetujuan dengan tetap mempertahankan rasa sayang dan hormat, yang ada justru memunculkan sindiran, ancaman, dan perilaku kasar.

Jika sudah begini, pasangannya bisa hidup dalam suasana "terteror" karena rumahtangga selalu dipenuhi ancaman. Pasangannya juga akan merasa tertekan dan tersakiti, karena siapa sih, yang tahan diancam terus-menerus? Sayangnya, sebagian besar suami/istri cenderung memenuhi permintaan si pengancam dengan harapan pertikaian cepat selesai. Apalagi kalau ancaman itu mengarah ke fisik, misalnya ancaman bunuh diri.

Padahal, menurut penelitian, banyak ancaman yang terlontar hanya sekadar ungkapan di bibir saja. Jadi, sebenarnya Anda tak perlu resah kalau akhirnya dia akan nekat melakukan tindakan yang merugikan dirinya sendiri. "Karena tujuannya untuk cari perhatian, jarang yang benar-benar mau melakukan ancamannya menyakiti diri sendiri. Tentu mereka tidak bodoh, dong, mau melakukannya.

Mereka juga punya perhitungan," tutur Ari.
Namun, kalau ancaman mulai muncul bahkan intensitasnya bertambah, tentu perlu ada solusi. "Bicaralah dari hati ke hati apa yang menyebabkan ketidakpuasannya sehingga mudah frustrasi," saran Ari.

Ada baiknya juga, tegaskan padanya mau dibawa ke mana hubungan ini dan perlu tidaknya Anda memberi kesempatan lagi padanya untuk mau berubah karena menghadapi pasangan seperti ini pasti Anda sudah memberikan banyak waktu dan sikap toleransi.

Bila perlu, ajak dia menemui ahlinya. Dalam terapi psikologi, ada yang disebut anger management, di mana mereka yang mudah tersulut emosinya dilatih untuk dapat mengendalikan dan menyalurkan kemarahannya secara positif. (kompas.com/santi hartono)


Pos Kupang Minggu 4 Januari 2009, halaman 13 Lanjut...

Tren Make Up dan Rambut 2009


Foto ilustrasi/lushdesi.files.wordpress.com
Riasan mata dengan smokey eyes menjadikan mata terlihat seksi dan sedap dipandang


TATA
rias wajah tahun depan kembali ke nude, alias seringan mungkin, seakan-akan tidak ada make-up yang menempel di kulit wajah. Warna make up akan lebih menyerupai skin toned dan serba mate. Ada dua pilihan untuk tren tata rias 2009 yaitu tata rias nude dengan penyeimbang lipstik merah merekah pada bibir, atau tata rias smokey eyes dengan bibir nude.


Mata
1. Riasan mata untuk tren pertama didominasi dengan sapuan warna kulit seperti krem dan cokelat susu. Sederhana memang, tapi dengan membaurkan kedua warna tadi, kelopak mata akan terlihat lebih lembut sekaligus alami.
2. Seperti tahun lalu, smokey eyes kembali menjadi tren make up tahun 2009. Untuk menghadirkan efek seksi si smokey eyes, cobalah paduan warna hitam, silver, dan abu-abu. Bauran sempurna warna-warna ini akan membuat kelopak mata seakan-akan berwarna biru tua bercampur abu-abu.

Pipi
1. Untuk menonjolkan keindahan tulang pipi, ulaskan blush on berwarna peach dan bronze. Pipi pun terlihat lebih segar daripada biasanya.

2. Jika smokey eyes sudah dipilih untuk riasan mata, tak ada salahnya menggunakan warna peach atau pink untuk blush on. Warna ini akan menyeimbangkan mata yang sudah dipoles dengan gaya smokey eyes.

Bibir
1. Karena mata dan pipi tampil dengan riasan nude, seimbangkan dengan memilih lipstik berwarna merah klasik dan mate. Tak perlu menunggu lama dipandang berbagai mata, karena dalam sekejap, Anda akan menjadi lebih seksi dan berani.
2. Agar tak terlalu "semarak" dan sesuai dengan tren tahun 2009, poleskan lipstik warna kulit pada bibir. Anda tidak akan terlihat pucat, tetapi tampil lebih natural.

Tren Rambut 2009
Jika ikal dan keriting mewarnai tren rambut tahun 2008 maka tren tahun depan lebih menonjolkan tekstur tegas potongan rambut dari aksen fringe (ujung rambut dibuat tipis). "Akan lebih fokus dengan potongan rambut dari dalam dan bermain-main dengan blunt line dan juga potongan simetris," urai Tristan dari Tony&Guy.
Blunt line adalah potongan poni yang rata atau mengikuti bentuk alis dan ini cocok untuk menyempurnakan wajah sekaligus menonjolkan kedalaman mata.
Poin terpenting, potongan rambut pendek akan menjadi tren tahun 2009. Persis seperti potongan rambut seperti Rihanna, Sienna Miller, dan Victoria Beckham. Untuk mendapatkan rambut pendek yang stylish, buatlah potongan rambut yang lebih panjang dibandingkan bagian belakangnya. Rambut akan lebih berisi dengan teknik ini sehingga kesan dinamis dan lebih muda pun akan Anda dapatkan.
Jika tak rela memotong rambut panjang kesayangan, lebih baik memotong rambut dengan aksen fringe. Lupakan full side swept bangs, segera alihkan perhatian Anda dengan potongan poni blunt fringe. Tren tahun ini disentuh oleh banyak nuansa 80-an.
Sementara itu, untuk warna rambut, tahun 2009 kembali ke warna natural. Jadi kalau Anda masih ingin mewarnai rambuat atau sekadar meng-highlight-nya, pilih warna dasar seperti coklat tua yang mendekati warna asli rambut orang Asia. (kompas.com/astrid isnawati)


Alis Sempurna, Wajah Memesona

ALIS adalah pilar wajah yang dapat menyatakan karakter diri. Mempunyai alis yang sesuai dengan bentuk wajah, akan membuat Anda terlihat sempurna.
Cara tepat untuk membentuk alis:
* Sebelum mencabut alis, sebaiknya wajah mengalami penguapan terdahulu, agar pori-pori sedikit membuka. Sehingga, Anda tidak terlalu mersakan sakit saat mencabutnya.
* Untuk merapikan alis, lakukan pencabutan alis dengan alat khusus bukan dengan mencukurnya.
* Pada saat mencabut alis, pastikan agar ujung alis bagian dalam sejajar dengan cuping hidung, apabila ditarik garis dari ujung alis bagian dalam ke arah cuping hidung ternyata membentuk garis lurus.
* Membentuk lekukan pada alis, jangan dilakukan dengan asal. Caranya yang tepat adalah dengan menjajarkan letak lekukan alis dengan posisi bola mata normal dan cuping hidung. Jadi, bila ditarik garis dari lekukan alis ke arah bola mata (dalam keadaan normal) dan cuping hidung akan membentuk garis lurus, yang menunjukkan bahwa posisi alis, bola mata dan cuping hidung dalam keadaan sejajar.
* Lakukan ketiga langkah di atas, dan pastikan bahwa bentuk kedua alis sama dan seimbang. (kompas.com/ita adnan)


Pos Kupang Minggu 4 Januari 2009, halaman 13 Lanjut...


INDOSMARIN.COM
RUSAK DIBOM--Permukaan terumbu karang pada suatu perairan di NTT ini tidak utuh lagi, berlubang-lubang, akibat dibom komunitas pesisir yang tidak bertanggung jawab.

Oleh Benny Dasman

IMAM Bachtiar. Seorang 'penjelajah' terumbu karang. Dia selalu memberi peringatan dengan kata-kata bijak ini. "Jika Anda tidak memelihara terumbu karang di wilayah pesisir Anda, cucu Anda tidak dapat mewarisi tanah dan rumah Anda sekarang, karena 100 tahun lagi akan menjadi laut."
Akankah kita tetap berdiam diri hingga prediksi ini benar-benar menjadi kenyataan?? Jawabannya, tidak. Tapi, apesnya, bola 'panas' terus bergulir. Tangan-tangan jahil tetap bergerilya. Memusnahkan!

Mengapa Terumbu Karang Rusak
Selain akibat perilaku manusia (pemboman, racun, perusakan daerah pesisir), kerusakan terumbu karang disebabkan oleh faktor alam, seperti gempa bumi dan pemanasan global.

Yang disebut terakhir ini hampir pasti komunitas laut di NTT tidak mengetahuinya. Pengetahuan siap ini perlu disosalisasikan agar komunitas laut kita menyadari bahwa penyimpangan perilaku mereka terhadap laut ikut memperparah kerusakan terumbu karang yang telah terjadi secara alamiah.


Selama 100 tahun terakhir, paras muka air laut naik satu meter, suhu permukaan bumi naik satu derajat celcius. Dunia kian dipadati manusia, lebih dari enam setengah miliar jiwa. Perjuangan memenuhi kebutuhan hidup kian ganas. Industri wahana modernisani kian meluas dan kian rakus. Polusi pun kian kejam, khususnya ketika CO2 mengangkasa lalu merangsang tumbuhnya kubah raksasa yaitu efek rumah kaca, hingga pemanasan global (global warming) pun kian melelehkan es kedua kutub bumi.

Maka, menjadi tidak aneh, ketika ribuan pakar dunia mengabarkan betapa cepatnya paras permukaan air laut naik. Para ahli pakar dunia mengatakan bahwa setiap kenaikan temperatur bumi 10 celcius, permukaan air laut naik satu meter. Faktanya, selama 100 tahun terakhir, paras muka air laut telah naik satu meter.


Jika kondisi ini terus berlangsung, maka bukan tidak mungkin pada tahun 2030-an sekitar 2.000 pulau milik Indonesia tenggelam. Pemanasan global yang saat ini terjadi bukan hanya mengancam kehidupan manusia di atas permukaan tanah, pun mengancam ekosistem terumbu karang di bawah laut.

Pada peristiwa El Nino tahun 1997/1998, suhu permukaan air laut naik secara tiba-tiba, menyebabkan terjadinya pemutihan karang secara massal dan mematikan sekitar 16 persen terumbu karang di seluruh dunia. Sebagian besar di antaranya terumbu karang yang berumur ratusan bahkan ribuan tahun.

Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan cukup luas di dunia, sangat memainkan peran penting untuk bisa menjaga paru-paru dunia. Sejauh ini hutan dipercaya sebagai paru-paru dunia yang dapat mengikat emisi karbon yang dilepas ke udara oleh pabrik-pabrik industri, kendaraan bermotor, kebakaran hutan, asap rokok. Dan, banyak lagi sumber-sumber emisi karbon lainnya, sehingga dapat mengurangi dampak pemanasan global.

Namun sesungguhnya Indonesia yang 2/3 wilayahnya adalah lautan, memiliki fungsi dan peran cukup besar dalam mengikat emisi karbon, bahkan dua kali lipat dari kapasitas hutan. Emisi karbon yang sampai ke laut, diserap oleh phytoplankton yang jumlahnya sangat banyak di lautan, kemudian ditenggelamkan ke dasar laut atau diubah menjadi sumber energi ketika phytoplankton tersebut dimakan oleh ikan dan biota laut lainnya.

Indonesia merupakan negara pengekspor karang hidup terbesar dunia. Tercatat 200 ribu karang pada 2002 sampai 800 ribu karang pada 2005 telah diekspor dari Indonesia. Sementara sumbangan produksi terumbu karang Indonesia di sektor perikanan mencapai US$ 600 juta per tahun. Ini karena Indonesia terletak dalam jantung kawasan segitiga karang dunia (heart of global coral triangle).

Lokasi ini menjadikan Indonesia memiliki jumlah jenis karang terbesar di dunia dari sekitar 700 jenis karang di dunia, 590 di antaranya ada di Indonesia. Di sisi lain coral triangle memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia. Lebih dari 120 juta orang hidupnya bergantung pada terumbu karang dan perikanan di kawasan tersebut. Coral triangle yang meliputi Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor leste, Papua New Guinea dan Kepulauan Salomon ini, merupakan kawasan yang memiliki keanakaragaman hayati laut tertinggi di dunia, khususnya terumbu karang.

Namun, pemanasan global juga membawa ancaman terhadap terumbu karang Indonesia, yang merupakan jantung kawasan segitiga karang dunia. Dampak dari naiknya suhu dan permukaan air laut yang terjadi pada akhir-akhir ini telah mengakibatkan 30 persen terumbu karang di Indonesia telah mengalami bleaching (pemutihan). Jika luas total terumbu karang yang ada di Indonesia 51.020 km2, terumbu karang yang mengalami pemutihan akibat pemanasan global ini sedikitnya telah mencapai 15.306 km2. Kondisi ini memberi implikasi pada sosial ekonomi masyarakat sekitar dan pariwisata bahari.

Naiknya suhu dan permukaan air laut adalah dua kendala yang menjadi penyebab utama kerusakan dan kepunahan terumbu karang. Kedua kendala tersebut juga memberikan dampak serius pada ekologi samudera dan yang paling penting terumbu karang yang merupakan tempat tinggal berbagai macam mahluk hidup samudera. Hewan karang akan menjadi stres apabila terjadi kenaikan suhu lebih dari 2-3 derajat celcius di atas suhu air laut normal.

Pada saat stres, pigmen warna (alga bersel satu atau zooxanthellae) yang melekat pada tubuhnya akan pergi ataupun mati sehingga menyebabkan terjadinya bleaching (pemutihan). Sebanyak 70-80 persen karang menggantungkan makanan pada alga tersebut. Jadi, mereka akan mengalami kelaparan ataupun kematian. Bila karang memutih atau mati, rantai makanan akan terputus yang berdampak pada ketersediaan ikan di laut dan ekosistem laut.

Terumbu karang dapat mengurangi dampak dari pemanasan global. Terumbu karang dengan kondisi yang baik memiliki fungsi yang cukup luas, yaitu memecah ombak dan mengurangi erosi; tempat cadangan deposisi kapur yang mengandung carbon; sebagai tempat berkembangbiak, mencari makan dan berlindung bagi ikan dan biota laut lainnya. Terumbu karang juga berfungsi mengurangi karbon yang lepas ke atmosfer sehingga dapat mengurangi kerusakan ozon.

Tetapi pada terumbu karang dengan kondisi jelek terjadi pengurangan kapur yang mengakibatkan turunnya permukaan terumbu karang. Sehingga gelombang laut tidak dapat lagi dipecah oleh terumbu karang yang letaknya menjadi jauh di bawah permukaan laut. Lambat laut, gempuran gelombang laut menggerus dataran rendah menjadi laut.

Salah satu usaha menghadapi ancaman pemanasan global adalah menjaga dan memelihara terumbu karang.


Tingkatkan Daya Tahan Terumbu Karang
Para pemerhati lingkungan juga melontarkan berbagai gagasan, ide, dan saran kepada pengambil kebijakan untuk menjaga kondisi terumbu karang agar dapat berfungsi dengan baik. Salah satunya ajakan untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan Friends of the Reef (FoR) di beberapa lokasi di Asia Pasifik. Misi utama FoR adalah mengasilkan strategi untuk meningkatkan daya tahan dan daya lenting terumbu karang agar mampu menghadapi ancaman pemanasan global.

Baru-baru ini, Presiden Republik Indonesia mengadakan pertemuan di Sydney dan telah mengumumkan sekaligus mengajak negara-negara di dunia, khususnya di kawasan Asia Pasifik, untuk menjaga dan melindungi kawasan segitiga karang dunia yang dikenal dengan nama Coral Triangle. Indonesia bersama lima negara lainnya, Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea dan Kepulauan Salomon mengumumkan sebuah inisiatif perlindungan terumbu karang yang disebut Coral Triangle Initiative (CTI). Inisiatif ini mendapat kesan positif dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia.

Perlindungan terhadap keanekaragaman hayati laut, terutama terumbu karang melalui CTI, sangat erat kaitannya dengan ketahanan pangan upaya mengurangi kemiskinan. Jika terumbu karang terjaga baik, maka sumber perikanan juga akan terus memberikan pasokan makanan bagi manusia.

Salah satu institusi yang mengembangkan program pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang adalah COREMAP. Lembaga ini menyampaikan informasi yang berimbang mengenai kondisi terumbu karang di Indonesia. Kemudian penggunaan slogan atau moto dalam program pengelolaan terumbu karang juga perlu mendapat perhatian khusus. Menjaga kelestarian terumbu karang bukan hanya menjadi tanggung jawab nelayan saja melainkan seluruh umat manusia di bumi ini.

Seharusnya mulai sejak sekarang kita peduli terhadap terumbu karang. Dengan menanamkan pendidikan kepada masyarakat luas (terutama yang tinggal di sepanjang garis pantai) mengenai fenomena ini melalui beberapa media seperti leaflet, booklet dan berbagai media komunikasi cetak lainnya perlu disebarkan ke masyarakat, termasuk melalui media eletronik, radio dan televisi. Kemudian adanya penegakan hukum dan partisipasi dalam menjaga keutuhan wilayah pesisir yang salah satunya dengan mengawasi dan menjaga aktivitas penambangan liar di daerah pesisir yang harus segera dihentikan. Dan, yang paling penting untuk mengurangi dampak dari pemanasan global dengan kampanye tentang gas emisi dari macam-macam sumber yang ikut memperburuk kondisi ozon.

Selain itu, mengupayakan kelestarian, perlindungan dan peningkatan kondisi ekosistem terumbu karang, terutama begi kepentingan masyarakat yang kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada pemanfaatan ekosistem tersebut. Meningkatkan hubungan kerja sama antar institusi untuk dapat menyusun dan melaksanakan program-progam pengelolaan ekosistem terumbu karang berdasarkan keseimbangan dalam pemanfaatan sumber daya alam. Menyusun tata ruang dan pengelolaan wilayah pesisir dan laut untuk mempertahankan kelestarian ekosistem terumbu karang dan kelastarian fungsi ekologis terumbu karang. Dan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, penelitian, sistem informasi, pendidikan dan pelatihan dalam pengelolaan terumbu karang dengan meningkatkan peran sektor swasta dan kerja sama internasional merupakan kebijakan umum dalam pengelolaan terumbu karang di Indonesia. (dari berbagai sumber/bersambung)


Pos Kupang Minggu 4 Januari 2009, halaman 14 Lanjut...

MEMBELI barang yang diperlukan anak, sah-sah saja. Namun, kalau orangtua lantas menuruti kemauan anak untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan, tentu saja tidak baik. Ini sama artinya mengajarkan pola hidup konsumtif kepada mereka. Aspek sosial menjadi bagian dari perkembangan balita.

Bertemu dan berhubungan dengan orang lain di luar rumah merupakan pembelajaran atas hubungan interpersonal. Begitu pula saat anak mulai masuk sekolah dan bertemu dengan teman baru, kemampuan interaksinya pun ikut berkembang.

Interaksi dengan teman baru membawa banyak pengaruh. Salah satunya adalah pengaruh atas benda yang digunakan oleh sang teman. Biasanya anak langsung menginginkan permainan seperti milik temannya. Katakanlah tas sekolah model barbie atau tempat minum dengan gambar Winnie the Pooh. "Wabah" beyblade (dulu kita menyebutnya gasing) atau crush gear (mobil-mobilan) juga bisa diambil sebagai contoh.


Keadaan ini bisa terjadi pada anak. Sebab, saat di rumah, orangtua tidak mempunyai benda seperti itu. Di situlah kemampuan interpersonal anak dengan orang lain dimulai.
"Tapi, saya tidak melihat bahwa sifat konsumtif benar-benar dimulai dalam diri anak. Sebetulnya lebih ke sifat ingin memiliki sesuatu yang sama dengan temannya agar bisa menjadi bagian dari mereka," kata Dra. Rose Mini Adi Prianto, MPsi, psikolog dari Fakultas Psikologi UI.

Perlu siasat
Hal itulah yang kemudian membuat anak meminta ini itu. Pada tahap ini, anak memang sedang menikmati hubungan interpersonalnya. Barang atau benda yang diminta kadang-kadang digunakan sebagai agen untuk bisa berhubungan dengan orang lain.

Kalau kemudian orangtua tidak memberi penjelasan atau pengertian kepada anak tentang kepentingan barang-barang tersebut, itu yang tidak tepat. Sebab, anak juga tidak harus selalu mendapatkan barang yang diinginkan, terutama bila harganya cukup mahal. Orangtua sebenarnya bisa menyiasati dengan mencari alternatif lain. Saat anak Romi, panggilan akrab Rose Mini, duduk di bangku TK (sekarang sudah kuliah semester pertama) sudah diperkenalkan dengan perilaku tidak konsumtif.

Kala teman-temannya menggunakan beraneka ragam tas, Romi membuat tas dari kain sebagai peranti untuk membawa bekal makanannya. "Orangtua harus pintar menanamkan hal-hal seperti itu. Bagi anak, sesuatu yang paling bagus adalah yang bisa membuatnya bahagia. Dan tas itu membuat anak saya bahagia dan bangga," kenang Romi.

Perilaku konsumtif pada anak lebih karena faktor lingkungan. Anak tidak bisa mengembangkan sikap bahwa apa yang dimilikinya juga menarik. Padahal, sikap tersebut akan membuat anak lebih menghargai apa yang dimilikinya. Bahkan, ia juga bisa menjadi trendsetter di kalangan teman-temannya. Tas buatan Romi kemudian malah ditiru oleh teman-teman anaknya.
Menempatkan sesuatu sesuai dengan manfaat maupun fungsinya akan membuat anak mengerti. "Ajarkan anak untuk mengenal benda yang diinginkan berdasarkan fungsinya," kata psikolog yang pernah menjadi mentor saat Akademi Fantasi Indosiar berlangsung.

Jelaskan manfaatnya
Romi lantas mencontohkan tas sekolah dengan model seperti koper. "Karena kurikulum kita seluas samudera, akhirnya anak membawa tas koper untuk bisa membawa buku pelajaran," ujarnya. Aneka ragam model tas koper pun ditawarkan. Akibatnya, anak tidak melihat tas sebagai fungsi, melainkan modelnya.

Mereka saling memamerkan tas. Roda tas yang lebih besar dianggap lebih menarik. Padahal, semakin besar roda, akan semakin sulit bagi anak untuk membawa tas tersebut naik tangga. Hal inilah yang harus dijelaskan kepada anak.
Penjelasan yang diberikan pun harus dengan pola pikir yang sederhana.

Menjelaskan kepada anak memang harus mengena. Orangtua tidak semata-mata bilang 'tidak' untuk menahan anak agar tidak membeli tas seperti yang dimaksud. Begitu juga kalau dikatakan bahwa tas seperti itu tidak ada manfaatnya.

Hal tersebut tidak bisa masuk dalam pola pikir anak. Kalau tas tersebut tidak boleh beli dan tidak ada manfaatnya, kenapa dijual? "Orangtua harus berbicara apa adanya kepada anak. Katakan kenapa orangtua tidak setuju untuk membelinya. Anak pasti mengerti," lanjutnya.
Tidak benar, menurut Romi, anggapan bahwa anak tidak akan mengerti bila diajak berkomunikasi. Sebaliknya, orangtualah yang selalu membuat anak tidak mengerti. Padahal, jika orangtua berbicara sesuai dengan kapasitas kemampuan, lewat penjabaran yang lebih sederhana, anak pasti mengerti.

Jangan mendua
Perilaku konsumtif juga bisa terlihat dari kebiasaan anak membeli barang secara terus-menerus. Walaupun sudah bertumpuk di rumah, anak tetap merengek minta mainan saat berjalan-jalan di pertokoan. Mungkin, jika dilihat dari harga, mainan yang diminta cukup murah. Namun, menjadi tidak baik bagi anak kalau orangtua membelikannya terus-menerus karena faktor murah tadi. "Ini juga konsumtif," kata pengajar di Program Pascasarjana Fakultas Psikologi UI.
Bila seperti itu keadaannya, orangtua juga harus membuat perencanaan. Anak perlu diberi pengertian membeli mainan cukup satu bulan sekali. Hal ini akan membuat mereka belajar untuk tidak konsumtif. Sayang, orangtua terkadang tidak konsisten dengan apa yang dikatakan. Ada yang tidak membolehkan membeli mainan saat harganya masih mahal. Namun, begitu harganya turun, mereka memperbolehkan anak membelinya. Berarti, orangtua bersikap mendua. Sikap ini tidak baik bagi orangtua maupun anak. Sebab, anak akan merasa orangtua pasti akan membelikan barang tersebut.

Dimulai dari orangtua
Kebiasaan minta dibelikan mainan atau sesuatu secara terus-menerus bukan semata-mata disebabkan oleh si anak. Dra. Rose Mini Adi Prianto, MPsi, staf pengajar Program Pascasarjana Fakultas Psikologi UI, tidak percaya hal itu. "Saya lebih percaya bahwa tindakan anak yang seperti itu karena ada perlakuan dari orangtuanya," tutur Romi, panggilan akrabnya.
Rasa bersalah karena orangtua bekerja dan meninggalkan anak di rumah dalam waktu lama kerap menjadi alasan. Itu sebabnya, saat pergi bersama anak ke pusat perbelanjaan, dengan ringan orangtua akan membelikan sesuatu yang diinginkannya.
Benarkah anak pasti senang dengan barang yang dibeli tersebut? "Mungkin hanya sebentar saja," ujarnya. Justru yang disenangi adalah momen saat itu, saat pergi bersama ayah dan ibunya.
Kalau sudah begitu, orangtua jangan terlalu asyik dengan dirinya sendiri atau asyik melihat barang-barang. Berikan kondisi yang membuat anak bahagia dengan kehadiran Anda sebagai orangtua. Kondisi ini akan memberi nilai plus. Nilainya jauh lebih banyak dibandingkan dengan hanya membelikan barang yang dimintanya.
Oleh karena itu, yang harus dilakukan adalah mengubah paradigma berpikir orangtua, terutama saat akan pergi jalan-jalan. Anak yang terbiasa pergi ke mal atau pusat perbelanjaan dan merengek minta dibelikan sesuatu, tidak bisa diberi pengertian pada saat kejadian, tetapi jauh sebelum itu.
Sebelum bepergian, orangtua harus berbicara terlebih dahulu kepada anak. Anak harus diberi kondisi: apa yang diinginkan anak pada bulan itu? Beri pengertian bahwa anak hanya bisa membeli barang satu kali dalam sebulan dengan skala prioritas. Dengan begitu, anak diajak untuk berpikir. Patron dalam pikirannya sudah jelas. Jadi, saat merengek, anak diingatkan kembali akan janji yang sudah dibicarakan sebelumnya.
Saat akan pergi, biasakan untuk berbicara terlebih dahulu dengan anak. Katakan bahwa pada saat itu Anda hanya ingin membeli sayuran dan buah. Untuk itu Anda harus konsisten. "Jangan kemudian Anda membeli bedak, baju, dan sepatu. Itu tidak konsisten namanya. Sebab, nanti anak akan berpikir, "Lho kok ibu boleh beli, aku enggak?" kata Romi.
Yang penting, orangtua tetap membeli sesuai dengan apa yang dikatakan. Kalaupun anak ingin wortel atau apel, Anda bisa mengizinkan karena itu bagian dari sayur dan buah. Namun, jika anak ingin es krim, Anda bisa menolak. Meski terlihat ekstrem, hal tersebut akan membuat anak mengerti. Anak akan lebih paham bahwa berbelanja tidak bisa ngaco!
Selain berbelanja, orangtua juga hendaknya tidak berperilaku konsumtif di rumah. Jangan sampai ayah maupun ibu mempunyai sepatu lebih dari 20 pasang. Sebab, hal tersebut akan membuat anak tidak merasa ragu untuk memohon dibelikan sepatu juga, meski jumlahnya sudah lebih dari selusin.
Memberi alasan dengan benar saat akan membeli barang juga bisa membuat anak mengerti. Misalnya, orangtua harus membeli sepatu lagi karena yang lama sudah rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Contoh lain, menggunakan kertas bekas. Bagian belakangnya masih bisa digunakan corat-coret anak. Dari situ anak akan terbiasa memakai barang yang bisa didaur ulang atau berhemat.
Hal-hal seperti itu bisa diajarkan di rumah. Anak akan melihat yang dikerjakan sehari-hari oleh orangtuanya. Apalagi, saat anak berusia 0-5 tahun, segala hal yang terjadi di rumah akan mudah diserap. Pada masa itu anak akan mengumpulkan berbagai pengalaman.
Kalau orangtua bertindak konsumtif, bukan tidak mungkin anak akan menyerap dan mengingat pengalaman tersebut. Dengan kata lain, rumah juga menjadi tempat untuk membiasakan anak agar tidak bertindak konsumtif. (kompas.com/diana yunita sari)



Pos Kupang Minggu 4 Desember 2008, halaman 12 Lanjut...


POS KUPANG/EUGENIUS MOA
BERLARIAN--Anak-anak dari Lewoleba menikmati indahnya Pantai Waijarang. Mereka berenang kecil-kecilan dan berlarian di bibir pantai itu, Jumat (27/12/2008).







Oleh Eugenius Moa


PANTAI Waijarang di Desa Waijarang, Kecamatan Nubatukan, Lembata merupakan pantai yang punya panorama yang indah. Pasir putih yang terbentang luas dihiasi riakan ombak yang agak keras memecah bibir pantai, menjadi obyek tersendiri.
Tak heran setiap hari libur atau hari Minggu, ratusan warga Kota Lewoleba dan sekitarnya tumpah ruah ke pantai itu, sekadar melepas lelah dan menikmati indahnya pantai dan riakan gelombang tersebut.

Melihat animo masyarakat yang tinggi terhadap indahnya pantai yang letaknya kurang lebih delapan kilometer arah barat Kota Lewoleba, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata melalui Dinas Perhubungan dan Pariwisata mengalokasikan sejumlah dana untuk pembangunan sarana dan prasarana pendukung. Ironisnya, seluruh fasilitas yang dibangun dalam proyek rehabilitasi fasilitas senilai Rp 176.975.000 tahun 2008, belum dirampungkan, bahkan terkesan mubazir.

Tempat wisata pantai Pasir Putih membentang sepanjang sekitar 300 meter dari timur Desa Waijarang sampai ke barat arah wilayah Kecamatan Nagawutun, menjadi tak indah, semrawut dengan lopo-lopo yang dikerjakan setengah-setengah dan fasilitas yang menawan.

Pantai Waijarang berhadapan dengan Desa Boleng, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, dibatasi lautan, merupakan salah satu alternatif wisata pantai terbaik di Kota Lewoleba. Jaraknya relatif dekat dari Lewoleba ke arah barat sekitar delapan kilometer dengan kondisi jalan aspal. Meski sebagiannya sudah berlubang, tetapi bisa ditempuh sekitar 20-25 menit menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Keindahan pantai Pasir Putih, laut yang bersih dan ombak pantai relatif keras menjadikan tempat ini diminati pengunjung.

Pada hari Minggu, liburan Hari Raya Natal, Tahun Baru, Paskah dan Lebaran, lokasi pantai wisata ini menjadi tujuan wisata bagi warga Kota Lewoleba. Seperti pada perayaan Natal 25 Desember dan dan 26 Desember 2008, sekitar 250-300 warga menghabiskan waktu sekitar setengah hari di tempat ini. Mereka datang berkelompok dalam jumlah banyak 20-50 orang atau dalam kelompok kecil dan keluarga. Para pengunjung dari berbagai kelompok usia, balita sampai orang dewasa.

Pantauan Pos Kupang, Jumat (26/12), sekitar 300-an warga Kota Lewoleba memenuhi tempat wisata pantai ini. Mulai pukul 09.00 Wita, warga sudah berduyun-duyun mendatangi lokasi ini. Mereka menghabiskan waktu sekitar tujuh sampai delapan jam dengan makan dan minum bersama, bercengkrama dan berlari-larian di pantai atau tidur-tiduran di pasir.

Namun animo pengunjung tidak ditunjang ketersediaan fasilitas rekreasi yang representatif. Kamar mandi/WC, aula dan lopo-lopo tempat istirahat, tempat sampah, air sumur bersih dan fasilitas lain yang dibangun sejak tahun 2001 tak terurus dan rusak. Dua unit kamar WC permanen rusak. Daun pintu tanpa kunci, jamban penuh kotoran manusia, berbau dan sangat jorok. Bangunan berukuran sekitar 2,5x 2,5 meter menghadap ke jalan raya Waijarang itu penuh coretan spidol.

Warga yang hendak buang hajatan juga susah. Kaum pria dan anak-anak masih bisa pergi ke kebun warga atau hutan di sekitarnya. Tetapi kaum wanita dewasa yang enggan dilihat orang lain, terpaksa berjalan kaki atau menggunakan kendaraan mencari rumah penduduk yang punya WC berjarak sekitar dua kilometer lebih. Dua unit rumah penduduk letaknya tak jauh dari lokasi wisata, warga tak memiliki WC dan membuang hajatan ke pantai.

"Maaf pak, kami tak punya WC, biasanya kalau WC besar kami buang ke pantai," kata seorang bapak.
Kondisi rumah petugas pemungut karcis dan penjaga lokasi wisata telah lama tak terurus. Bagian dalam bangunan sangat kotor, sedangkan dinding luar dipenuhi berbagai coretan ulah warga usil. Kondisi yang sama terlihat pada rumah genset ukuran sekitar 2,5 x 2,5, menara air dan 11 unit lopo ukuran kecil dan aula utama beratap alang-alang, sama sekali tidak terurus sejak dibangun sampai saat ini.

Di areal wisata, keadaannya lebih memrihatinkan. Segala jenis sampah organik dan anorganik berserakan pada semua tempat di bawah naungan pepohonan yang rimbun di pesisir pantai ini. Pengunjung membuang sampah di sembarangan tempat karena tak tersedia tempat-tempat pembuangan sampah. Adakah pemerintah peduli terhadap aset daerah yang bisa mendapatkan rupaih itu?*


Pos Kupang Minggu 4 Januari 2009. halaman 11 Lanjut...

Trio Gatal-Gatal

Cerita Anak Oleh Petrus Y. Wasa

SUASANA kelas pagi itu sangat gaduh. Penyebab dari semuanya itu adalah Melky. Melky telah memilih untuk menggaruk-garuk tubuhnya ketimbang mendengarkan apa yang dijelaskan Pak Guru di depan kelas. Akibatnya, kapur tulis di tangan Pak Guru melayang dan mengenai dahinya. Dia sangat terkejut dan segera melepaskan tangan dari bagian tubuh yang sedang digaruknya.

"Melky, mengapa kamu tidak memperhatikan apa yang bapak jelaskan? Kalau tidak menyukai pelajaran ini, silahkan kamu keluar!" hardik Pak Guru.
"Ma.. maaf, Pak. Bukannya saya tidak menyukai pelajaran ini, Pak. Tapi.... tapi...," Melky terdiam sesaat. Dia menatap ragu ke seisi kelas.

"Tapi apa Melky?" desak Pak Guru.
"Tapi karena seluruh badan saya gatal-gatal, Pak," jawab Melky. Jawaban tersebut disambut tawa riuh teman-temannya.
"Huuuu...., makanya jangan malas mandi!" teriak salah seorang temannya.

****

Makin siang kegaduhan di kelas itu semakin bertambah. Pasalnya, selain Melky ada dua teman lainnya, yakni Fred dan Doni yang juga terkena gatal-gatal. Tentu saja tingkah ketiga anak itu mengundang perhatian ekstra dari para guru yang masuk pada jam-jam pelajaran berikutnya. Gatal-gatal yang terus mengusik membuat ketiga anak itu sering menjadi serba salah untuk memilih menggaruk tubuh atau mendengarkan pelajaran yang sedang dijelaskan.

Ibu Sinta, guru mata pelajaran matematika, tidak bisa diam menghadapi permasalahan yang sedang dihadapi ketiga muridnya tersebut.

"Saya mendengar di kelas ini ada tiga murid yang terkenal gatal-gatal. Siapa saja itu?" tanya Ibu Sinta. Melky, Fred dan Doni mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi.
"Gatal-gatal itu karena malas mandi, Bu. Panggil saja mereka Trio Malas Mandi, Bu," usul salah seorang teman mereka.
"Bukan, Bu. Bukannya kemarin kami tidak mandi. Bahkan kami bertiga mandi bersama-sama," bantah Melky.

"Kalian mandi di mana?" tanya Ibu Sinta.
"Kami mandi di kali, Bu. Sambil mencari ikan dan udang," sahut Fred.
"Pakai sabun atau tidak?" selidik Ibu Sinta.
"Tidak, Bu. Kami hanya berendam, menggosok daki dengan batu, berendam lagi lalu pulang," jawab Doni. Jawaban itu membuat seisi kelas kembali riuh.

"Itulah sebabnya sehingga kalian bertiga terkena gatal-gatal. Kalian tahu bahwa air di kali itu sudah digunakan orang sejak dari hulunya? Baik untuk mandi, mencuci, membuang sampah, bahkan untuk membuang hajat. Karena itu tidaklah mengherankan kalau air yang mengalir di kali itu sudah mengandung berbagai kuman dan bakteri yang tentu saja akan mengancam kesehatan tubuh kita kalau kita tidak menyadarinya. Salah satunya adalah gatal-gatal yang seperti kalian alami saat ini," urai Ibu Sinta.

"Lalu bagaimana caranya agar kami tidak terkena gatal-gatal lagi, Bu?" tanya Melky.
"Sebaiknya setelah kalian berendam di kali, kalian kembali ke rumah dan mandi bilas tubuh dengan air bersih di kamar mandi dan menggosoknya dengan sabun. Dengan demikian tubuh kalian akan aman dari serangan kuman dan bakteri," jawab Ibu Sinta.

****

Seusai pelajaran, Melky, Fred dan Doni menghampiri Ibu Sinta untuk mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih Bu, atas penjelasannya," kata Melky mewakili kedua temannya.
"Jika kalian terkena gatal-gatal lagi, itu artinya kalian tidak mengikuti apa yang disarankan ibu. Kalau itu yang terjadi, maka ibu akan memanggil kalian bertiga Trio Gatal-Gatal," kata Ibu Sinta sambil tertawa. (*)


Pos Kupang Minggu 4 Januari 2009, halaman 12 Lanjut...

Kado Natal dari Mama

Cerpen Petrus Fandelyno Mudaj

PUKUL lima, suatu senja yang tenang di kos. Matahari yang condong jauh ke barat sempat memancarkan berkas-berkas cahaya melalui cela-cela daun asam tepat di hadapanku. Pancaran sinar yang biasanya redup di akhir bulan Desember, sekarang terasa menusuk dan menyengat kulit. Terasa seperti sedang berjemur di pantai paris.

Saat seperti sekarang, biasanya kebanyakan anak-anak duduk bertengger di depan masing-masing pintu kamar sambil menukar pengalaman kuliah ataupun praktek seharian. Ada yang menceritrakan bagaimana perjuangan untuk tetap berkonsentrasi selama kuliah berlangsung sekalipun terkadang kepala mengangguk tanda mengerti dan mengantuk.

Pernah di tengah kerumunan penghuni kos yang berjumlah tiga belas orang, yanti teman sebelah kamar tunduk menangis menceriterakan pengalamannya ketika pria pujaan yang telah berjanji sehidup semati mengambil keputusan sepihak untuk menghentikan hubungan mereka. Terlintas sangat jelas ketika bulir demi bulir kepedihan menetes membasahi pipinya.

Tangisan dan teriakan menjadi perisai diri dari cambuk penderitaan. Terkadang seorang datang menyibak rambutnya yang terurai berantakan untuk menguatkan. Banyak kisah yang telah terjadi di kos ini yang menghilangkan kesunyian.

Sore ini hanya desiran angin yang berceritera padaku tentang kehidupan yang tidak aku pahami. Tidak ada lagi canda tawa dan tangisan yang terdengar. Pintu-pintu kamar tertutup rapat dan terkunci rapi. Semuanya telah pulang ke rumah masing-masing untuk merayakan malam natal bersama keluarga.

Aku mengepalkan tangan sekuat tenaga ketika mengingat perkataan dosen pembimbing bahwa aku mendapat jadwal liburan putaran kedua yang berlangsung setelah hari raya natal. Tentu saja aku akan sendiri menjaga kos dan baru pulang libur ketika teman-teman kembali dari liburan. "Kaka In, apakah bisa sebentar malam kita barengan pergi ke gereja?" tanya Ida, anak pemilik kos. "O, iya tadi adik manis bilang apa?" tanyaku sembari memegang rambut menyembunyikan rasa kaget.

"Sebentar malam saya dan kaka pergi ke gereja sama-sama. Mama tidak dapat ikut karena lagi ada urusan," ulang Ida sambil tersenyum. "Iya. Nanti ida datang ke kamar kalau sudah rapi.

Kaka tunggu di kamar saja nanti malam." Seusai aku berkata demikian, Ida tersenyum manis sambil berlari kecil menuju rumahnya yang terletak di sebelah jalan tanda memahami kata-kataku. Ketika Ida hilang dari pandanganku, aku beranjak masuk ke dalam kamar dan langsung menyalakan musik.

Lantunan lagu natal menjadi temanku, menghilangkan kensunyian yang mengitari hatiku. Aku beranjak menuju jendela, menatap kosong ruangan yang gelap dengan pintu-pintu terkunci rapat. Mulutku terkatup rapat sambil memandang kelap-kelip bintang kecil. Ingin aku memetik bintang dan membawanya ke dalam pangkuanku.

Dalam kesendirianku, jauh dari teman-teman, aku merasa semakin dekat dengan mereka. Jarak telah memberi pelajaran kepadaku tentang suatu persahabatan. Aku menatap foto bersama yang tergantung pada dinding. Bayangan teman-temanku menatap aku dalam kebisuan. Mulut mereka terkatup oleh bingkai dan telinga mereka dihalangi waktu. Aku merasa mereka berada di sampingku dan menghibur aku.

Akhirnya aku kembali duduk di pembaringanku. Jarum jam baru menunjukkan pukul 18.30 Wita. Lantunan lagu natal masih mengalun merdu. "Malam kudus, sunyi senyap, bintangMu gemerlap...." Demikian bunyi sairnya. Aku tertunduk menatap HP, memperhatikannya, mungkin ada orang yang dapat aku ajak bicara. Tidak ada pesan maupun telepon dari keluarga ataupun sahabat-sahabatku.

Tanganku kini menopang daguku dengan tatapan yang tajam dan menerawang jauh. Lagu malam kudus sepertinya terulang lagi untuk kesekian kalinya. Suasana yang sunyi kini berubah menjadi ramai. Aku heran dan kaget. HP-ku berdering dengan keras meminta perhatianku. Aku mengangkatnya dan melihat, ternyata telepon dari mama. "Siang ma, tumben hari ginian kontak? Kangen ko?" tanyaku. "Siang juga anak mami yang manis. Mama kangen ama kamu, makanya mama telepon.

Emangnya salah kalau mama kangen sama kamu, atau kamu tidak kangen sama mama?" tanya mama. "Mamaku yang tersayang. Seharian saja tidak dengar suara mama macamnya udah seratus hari. Pinginnya setiap saat harus dengar suara mama. Tapi sepertinya kurang lengkap kalau hanya sebatas suara".
"Terus maunya kamu gimana? mama harus datang dan menggendong kamu?"

"He... he.... he... masa udah dewasa harus digendong. Cukup kehadiran mama aja sudah menyenangkan. Apalagi malam ini kan malan natal kayak Yesus di dalam pelukan Bunda Maria".
"Itu sebabnya mama kontak kamu. Mama pingin malam ini rayain natal bersama kamu. Boleh atau...?"

"Asyik! Saya tunggu mama di sini. Dijamin ketika mama tiba semuanya telah disiapkan untuk menyambut kehadiran mamaku yang tersayang," sambarku dengan cepat. Sesudah itu aku langsung membereskan kamarku yang terlihat kotor. Kain sprey yang baru seminggu digunakan aku ganti dengan yang baru berwarna pink. Saya tahu kalau warna kesukaan mama adalah warna pink, makanya warna pink juga menjadi warna favoritku.

Lantai aku ngepel menggunakan super pel beraroma terapi biar tidak terasa pengap. Sesudah merapikan kamar aku bergegas menuju sahabatku di sebelah kamar untuk meminjam kasurnya. Sebelum keluar dari kamarnya aku sempat berceritera kepadanya kalau natal kali ini adalah natal yang paling membahagiakan sebab mamaku akan datang merayakan natal bersama aku.

Aku juga membagi kebahagiaanku kepada teman- teman dengan penuh kebanggaan bahwa ibuku adalah orang yang paling aku sayangi dan pengertian. Dia mau datang merayakan natal bersama aku. Dia dapat mengunjungi aku seperti orangtua dari sahabat-sahabatku. Kunjungan kali ini adalah kunjungan yang pertama setelah dua tahun aku pergi mencari ilmu di negeri orang. Memang jaraknya dengan tempat kelahiranku hanya 300 km.

Semuanya telah aku persiapkan untuk menyambut kedatangan mama. Aku melihat jam telah menunjukkan tepat pukul 15.00, waktu yang dijanjikan untuk tiba di sini. Aku bergerak keluar masuk kamar untuk melihat, mungkin masih ada sesuatu yang kurang untuk dilengkapi. Sekalipun semuanya tampak sudah lengkap, aku masih saja merasa ada yang kurang. Tanpa terasa dalam kesibukan mempersiapkan segala sesuatu waktu telah menunjukkan pukul 16.00.

Sudah satu jam lewat dari yang ditetapkan, tetapi mama belum juga tiba. Sekali-kali aku melihat HP dengan harapan ada pesan baru tentang keberadaan mama sekarang. Aku juga sempat mengirim pesan yang berisi, "Sore mam. Sekarang sudah di mana? Kalau sudah tiba tolong beritahu biar saya datang jemput di pinggir jalan. Atau mama langsung saja datang ke kos. Balas."

Sampai pukul 18.30 belum juga ada kabar dari mama. "In, mama kamu sebenarnya jadi datang atau tidak?" tanya Yanti yang boslaknya aku pinjam. "Mamaku tidak mungkin bohong. Dia pasti datang, mungkin saja lagi dalam perjalanan." Aku terus duduk di teras kamar tanpa beranjak jauh. Aku tidak ingin ketika mama tiba aku tidak ada di tempat.

Matahari telah hilang dari muka bumi tertutup bulan yang mulai datang. Bunyi lonceng gereja mulai berdentang memanggil semua umat untuk segera beranjak menuju gereja. Perayaan malam natal hampir dimulai, tetapi mama belum juga datang. Dengan tenang tanpa bicara aku berajak menuju kamar mandi.

Secara terpaka aku membasahkan diri mengikuti saran teman. Aku pun beranjak menuju gereja tanpa mama di samping. Aku merasa seperti tidak hadir mengikuti perayaan ekaristi. Pikiranku hanya terfokus pada janji mama. Masih terngiang dalam benakku kata-kata mama yang ingin datang mengikuti misa malam natal bersama aku.

Sepulang dari gerja aku langsung menuju kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Aku melihat kerapihan kamar, kasur dan semuanya yang tertata rapi. Tiba- tiba setitik air membasahi pipiku. Aku menelungkup pada tempat tidur dan menutup wajahku dengan bantal. Aku tidak berani menatap kerapihan kamarku. Semua seperti duri yang mengalir dalam daging dan darah. Gedoran pintu tidak aku hiraukan. Yang aku butuh hanyalah tenang. Lagu malam kudus yang mengalun lembut dari kamar sahabatku terasa menikam jiwaku. Aku terus menangis dan menangis.

Hanya itu yang dapat aku lakukan sekarang, besok, dan entah sampai kapan. Tidak terbayang dalam benakku kalau orang yang paling aku percayai dan sayangi berbuat demikian. Mungkinkah semua ini kesalahanku yang terlalu percaya pada orang lain?
Aku membanting dan memukul bantal ke lantai, merasa tidak yakin akan apa yang telah terjadi. "Tok... tok... tok...," bunyi ketukan pada pintu mengagetkan aku dari bayangan akan peristiwa natal pada tahun lalu.

Aku meraba pipiku, ternyata kenangan tersebut meneteskan air mata. Aku heran, di tengah kesunyian ini masih saja kenangan sedih tahun lalu menghampiriku. Ingin aku menceriterakan kembali kenangan itu pada seseorang seperti pada tahun lalu, tapi pada siapa? Yang tinggal kini hanya aku seorang diri. Aku menyekah air dari pipiku dan beranjak menuju pintu. "Ida!

Memangnya sudah siap dari tadi? Cepat sekali," kataku. "Ida belum siap karena perayaan ekaristinya masih lagi satu jam baru dimulai. Ida hanya mau katakan kalau Kaka In ada kedatangan tamu," kata Ida sambil menunjuk seseorang yang berdiri dalam kegelapan. Aku bertanya dalam hati tentang siapa yang malam-malam begini datang. Mungkinkah teman-teman kuliah yang berasal dari daerah ini? Orang itu maju mencari cahaya.

Baru sepintas melihat raut wajahnya, secara spontan aku langsung melompat menuju orang tersebut. Denyut jantungku bergerak dengan cepat. Aku merangkul dengan erat tanpa mau melepaskannya. Sungguh tidak terlintas dalam bayangan kalau yang hadir di depanku adalah orang yang sangat aku cintai.

Ini adalah kado yang terindah dan teristimewa yang gagal aku terima pada malam natal tahun lalu. Kini mamaku berada di dalam dekapanku. Tidak ada suara yang dapat melukis kebahagiaanku dalam kata-kata. Malam ini adalah malam natal yang paling membahagiakan. "Kenapa tidak beri kabar kalau mama mau datang?" tanyaku dengan suara terputus-putus. Air mata kembali membasahi pipiku. Iya, air mata kebahagiaan.

Akhirnya aku bersama mama dapat merayakan malam natal yang membahagiakan. Terima kasih Tuhan, kataku dalam hati. (*)

Cerpenis, tinggal di Wisma Efrata Gere- Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero



Pos Kupang Minggu 4 Januari 2009, halaman 6 Lanjut...

Puisi-Puisi Vianney Leyn


Tangisan Buat Negeri

Ada air mata mengalir
Bersama Lumpur banjir
Ada tangis menggema
Terpantul dari kemegahan kota

Ada suara merintih
Di antara puing-puing duka reruntuhan
Ada ratap menggeletar
Menjalar di lorong berbongkah

Aku mau menangis buat negeri
Aku mau menangis bersama negeri


Pos Kupang Minggu 4 Januari 2009, halaman 6 Lanjut...

Puisi-puisi Fr.Yossi Mali

(Novisiat SVD Nenuk)

Doa

Tuhan
Hujan telah membasahi bumi
Dia membacakan kepada kami
Madah tentang sebuah kehidupan
Syair tentang hidup kami
Tentang peperangan, tentang pemberontakan
Tentang kekacauan dan bencana
Tapi siapa yang mampu
Menjelaskannya kepada kami?


Tuhan
Matahari kini sering ditutupi kabut
Kegelapan yang membaringkan raga kami
Di dalam kelemahan kami
Bersama kelembutan ia mendekap tubuh
Dengan amarah, dengan kebencian
Dengan kedengkian dan tipu muslihat
Tetapi siapa yang berani
Berani menggeser kabut itu
Lalu menarik kembali matahari
Supaya ia tidak jarang muncul

Tuhan
Guntur dan halilintar menggores telinga kami
Bersama suara yang membentak batin
Ia menyampaikan kekecewaannya
Karena bumi dan alam semesta
Hancur di tangan-tangan kecil kami
Karena kami memusnahkan sahabatnya
Tumbuhan dan pohon-pohon di alam rimba
Binatang-binatang buatan sang pencipta
Tetapi siapa yang rendah hati
Dan mau mendengarkan mereka?

Tuhan
Apakah boleh kami mengulurkan tangan
Duduk bersama mereka sebagai sahabat?

Tanpa Lilin

Meski ku tak mengenalmu
Harusnya ku mengabaikanmu
Saat bertemu denganmu
Saat hadirmu dalam hidupku

Bersamaan ku tak rasakan
Belenggu kehangatan hati
Yang kuterima hanya luka
Sehingga hatiku mati untukmu

Segala pengorbanan sia-sia
Setelah kau meninggalkanku
Membawa semua bahagia
Dan biarkan luka ini bersamaku

Kurelakan kau dengan dia
Yang pertama hadir di hatimu
Jagalah dirimu sayang
Aku mencintaimu tanpa lilin

Tak mungkin lagi
Akan kuulangi kisah ini
Tak akan pernah
Walau hanya untuk berharap
Simpan saja setiaku di hatimu
Untukmu
Dan lupakan aku selamanya.


Pos Kupang Minggu 4 Januari 2009, halaman 6 Lanjut...

Drs. Don Bosco Wangge, M.Si


Foto Pos Kupang/Romualdus Pius
Don Bosco Wangge


(Bupati Ende Terpilih periode 2009-2014)

Tidak Ada Lawan Politik


DRS Don Bosco Wangge M.Si dan Drs. Achmad Mochdar baru saja terpilih menjadi Bupati Ende periode 2009-2014. Keduanya yang dikenal dengan Paket Do'A terpilih dengan suara mayoritas pada pelaksanaan Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Ende yang perdana pada 13 Oktober 2008 lalu. Namun demikian keduanya tidak langsung memimpin

Kabupaten Ende karena sesuai regulasi yang berlaku kedua baru dapat memimpin Kabupaten Ende pada tahun 2009 mendatang tepatnya pada Bulan April. Kepercayaan masyarakat Kabupaten Ende terhadap paket tersebut tentunya sangat beralasan.

Bagaimana keduanya dapat meyakinkan masyarakat Ende untuk menaruh pilihan kepada paket Do'A? Hal itu tentunya lewat visi dan misi yang mereka tawarkan. Bagaimana visi dan misi paket ini? Apa yang akan mereka lakukan nanti ketika secara resmi dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Ende? Pos Kupang mewancarai Drs. Don Bosco Wangge, M.Si di kediamannya pekan lalu di rumahnya, Jalan Melati, Ende.


Bagaimana kesibukan Anda saat ini sambil menunggu pelantikan sebagai Bupati Ende?
Kesibukan saya adalah mengurus tanaman di halaman rumah, melayani teman-teman guru yang membutuhkan tanda tangan saya, khususnya DP3 tahun 2006 dan 2007 serta memberikan kuliah di STPM Sta. Ursula Ende.

Anda baru saja terpilih menjadi Bupati Ende. Bagaimana bapak memaknai kepercayaan tersebut?
Kepercayaan rakyat sebagai amanah dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu dalam melaksanakan tugas saya ke depan tidak boleh menyia-nyiakan kepercayaan tersebut dengan mengedepankan kepentingan masyarakat, bukan kepentingan pribadi maupun keluarga saya.

Apakah pernah bercita-cita menjadi Bupati Ende?
Saya tidak pernah bercita-cita menjadi Bupati Ende, apalagi hanya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun prinsip saya dalam melaksanakan tugas harus memberikan yang terbaik sesuai dengan kepercayaan tugas yang diberikan atasan saya.

Bagaimana dengan lawan-lawan politik Anda selama pilkada?
Saya tidak merasa ada lawan politik, tapi hanya sebagai sparing. Sebab tanpa sparing, proses pilkada tidak berjalan dan saya tidak mungkin bisa terpilih sebagai bupati. Sekali lagi, tidak ada lawan politik.

Apa yang akan Anda lakukan pertama kali setelah terpilih menjadi Bupati Ende?
Yang pertama saya lakukan secara interen adalah penataan birokrasi. Secara eksteren meminta masukan tambahan dari paket-paket yang ikut pilkada, tokoh masyarakat serta tokoh agama guna mendapatkan cara terbaik membangun Kabupaten Ende.

Menurut Anda, apa yang paling dibutuhkan masyarakat saat ini?
Yang sangat dibutuhkan masyarakat saat ini adalah perubahan ke arah yang lebih baik dan keluar dari kemiskinan.

Apakah sudah punya bayangan dengan susunan "kabinet" saat menjadi Bupati Ende nanti? Apa penempatan para kepala dinas sesuai dengan kompetensi ataukah ada upaya balas jasa?
Saya tidak gunakan istilah kabinet, tetapi tim kerja. Dan itu sudah ada. Penempatan para kepala dinas maupun kepala badan harus didasarkan pada kompetensi yang bersangkutan serta regulasi yang ada.

Bagaimana Anda menjabarkan visi dan misi Anda sebagai Bupati Ende nanti?
Visinya adalah masyarakat Ende Lio Sare Pawe melalui akselerasi pembangunan partisipatif yang berbasiskan iman, ilmu, sehat dan kultur.

Kalau misinya
Untuk membangun visi tersebut, maka misi yang harus diwujudkan adalah meningkatkan kualitas keimanan, meningkatkan akses dan kualitas pendidikan rakyat, pelayanan kesehatan masyarakat, perekonomian rakyat, stabilitas kehidupan rakyat, menumbuhkembangkan budaya lokal, meningkatkan penegakan hukum dan penataan birokrasi serta meningkatkan pembangunan infrastruktur pedesaan.

Sedangkan tujuan?
Meningkatkan ketakwaan dan toleransi hidup antar umat beragama, meningkatkan kesempatan belajar yang lebih luas bagi masyarakat dengan pendidikan murah dan bermutu, derajat kesehatan dan usia harapan hidup masyarakat, meningkatkan taraf hidup masyarakat, kehidupan masyarakat yang tertib dan dinamis, meningkatkan tata kehidupan yang berbasiskan nilai-nilai budaya lokal, meningkatkan tertib hukum dan mutu pelayanan serta meningkatkan ketersediaan inftrastruktur pedesaan yang memadai.

Bagaimana dengan kebijakan pembangunan?
Kebijakan pembangunan kami jabarkan dalam 15 pokok-pokok kebijakan pembangunan yakni bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, pemerintah, hukum, lingkungan, tata ruang, ketenagakerjaan, budaya, gender, pemuda dan olahraga, pertanian, pariwisata, keagamaan dan infrastruktur.

Apa yang akan Anda lakukan dengan mereka yang telah berperan menghantar Anda menjadi Bupati Ende?
Tentunya saya berterima kasih kepada mereka. Namun mereka akan diperlakukan sama dengan masyarakat lainnya.

Apa kiat Anda agar tetap menjaga Kabupaten Ende sebagai Lio Pawe Sare?
Ada tiga hal yang saya ingin tekankan. Pertama, menghormati kedudukan dan peran masing-masing tokoh pemerintah, adat dan agama sesuai peran dan fungsi masing-masing yang kalau dalam bahasa adat Lio dikatakan Roa' Loka Noo Keli-Keli, Kura Fangga Noo Lowo. Kedua, membina kerukunan hidup beragama, yang ketiga, dalam menyelesaikan konflik dalam masyarakat lebih mengedepankan musyawarah mufakat dan budaya lokal.

Imbauan Anda kepada masyarakat Kabupaten Ende?
Agar semua warga masyarakat Kabupaten Ende menjaga keamanan dan ketertiban, membina kerukunan dan mari semua bergandengan tangan membangun Lio Ende Wee Pawe Sare. (romualdus pius)


Pencinta Tanaman

KETIKA memasuki pekarangan rumah Drs. Don Bosco Wangge M.Si di Jalan Melati, Kelurahan Paupire, Ende, sudah tampak puluhan tanaman hias memenuhi pekarangan rumah tersebut. Sejumlah pohon mangga yang mengitari rumah menambah asri halaman rumah Bupati Ende terpilih ini. Bahkan di atas atap rumah si empunya rumah tidak ketinggalan menaman sejumlah tanaman hias.

Suasana tersebut memberikan kesan damai bagi siapa saja yang datang bertamu ke rumah tersebut. Di antara tanaman tersebut tidak lupa Don -- begitu dia disapa -- membangun sebuah kolam ikan. Terdapat sejumlah ikan hias di kolam.

Ketika Pos Kupang bertandang ke rumahnya, dengan ramah pria berkacamata tersebut mempersilahkan untuk duduk di teras yang berhadapan langsung dengan kolam ikan dan taman bunga. Kondisi tersebut seakan memberikan pesan kepada setiap tamu bahwa sambil menunggu pemilik rumah, maka para tamu dapat menikmati liukan ikan yang di dalam kolam serta harumnya bunga yang berada di taman.

Siapa yang pernah menyangka bahwa pria yang begitu sibuk dengan berbagai kegiatan ternyata masih meluangkan waktu untuk mengurus tanaman dan juga ikan-ikan? "Untuk mengisi waktu dan kesibukan, maka saya mengurus tanaman karena saya adalah pencinta tanaman," ujarnya kepada Pos Kupang. (rom)



Pos Minggu 28 Desember 2008, halaman 3 Lanjut...

Terima tangan

Parodi situasi oleh Maria Matildis Banda


SEPERTI biasanya, tradisi terima tangan tak terpisahkan dari seluruh aktivitas hari raya. Terima tangan. Saya terima tangannya, dia terima tangan saya, dan kami berdua saling berjabatan erat. Lebih mantap lagi kalau dilengkapi dengan cium pipi kiri dan pipi kanan sambil mengucapkan, "maaf lahir batin ya."

Begitu pula yang terjadi dengan ketiga sahabat karib Jaki, Rara, dan Benza menjalankan tradisi terima tangan secara sederhana sebagaimana biasa terjadi dari tahun ke tahun pada hari Natal dan Tahun Baru. Namun terima tangan tahun ini agaknya berbeda bagi Rara.

***
Gema Damai Natal masih berkumandang bersama perjalanannya dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung dengan sekantong kado natal. Di setiap rumah dia berhenti sebentar, terima tangan, dan serahkan kado. Keringat bercucuran, nafas terengah-engah, senyum di mana-mana dan kepada siapa saja, orang yang dikenalnya maupun yang sama sekali tidak dikenalnya.

"Wah, kasihan benar!" Komentar Jaki mencermati tingkat laku Rara. "Aneh bin ajaib, teman kita yang satu ini. Ada mimpi apa? Biasanya Rara hanya terima tangan doang. Biasanya Rara pelit memberi. Senyum saja susah! Apalagi senyum, terima tangan, disertai buah tangan!"

"Apa salahnya saya berbuat baik menyambut Natal dan Tahun Baru?" Rara membela diri. "Urusan saya dong, mau memberi kado di hari bahagia ini! Kamu jangan ikut campur!"

"Sambil tebar pesona dan cari nama? He he he he... temanku Rara si caleg yang ganteng. Gampang sekali membaca niatmu ya teman. Ada udang di balik batu ya? Tujuan meraup suara bukan? Biar dapat suara terbanyak dan lolos ke gedung Dewan dan duduk di sana selama lima tahun!"

"Ya ialaaaah he he he bukan ada udang di balik batu tetapi ada udang di atas batu. Ya memang ya. Perlu dong bawa kado buat calon pemilih. Pokoknya asal masuk kampung bawa kado. Tangan kanan memberi dan tangan kiri menagih janji. Jangan lupa pilih aku dalam Pemilu 2009 nanti. Aku calon dari partai anu, nomor anu, visi misiku anu, tujuanku anu, dan pilihlah aku sebab aku adalah anu, anu, dan anu! Nah, apa salahnya?" Rara begitu percaya diri.

"Dengan modal nekat ya?" Sambung Jaki.
"Ya ialaaah he he he. Sudah tahu kok nanya!" Rara membusungkan dada.

"Modal cari muka ya?" Kata Jaki sambil tertawa.
"Ya ialaaaah... santai saja lagi. Memang sudah beginilah jalan hidupku he he he."

***
"Visimu apa? Tujuanmu jadi caleg apa? Kalau sudah dapat kursi apa yang akan kamu perjuangkan? Apakah kamu yakin bisa menjadi wakil rakyat yang benar?" Tanya Benza.
"Apa ya?" Rara mengkerutkan kening. "Ya, nanti dipikirkan kemudian. Yang penting dapat kursi dulu lagi. Soal visi misi dan perjuangan, dan lain-lain ah, itu soal gampang!"
"Oh, begitu?"

"Ya ialaaaah. Mau dapat kursi. Mau dapat jabatan, mau dapat kedudukan, mau dapat kehormatan, mau dapat kekuasaan, mau dapat kekayaan. Gue harus nekat dong! Apakah aku sanggup atau tidak, ya pastilah! Kalau sudah duduk ya duduk. Sanggup atau tidak sanggup, yakin atau tidak yakin, bukan urusan! Namanya juga si Rara sudah dapat kursi. Kursi dulu dong, baru mikir."

"Rasanya kamu saja satu-satunya caleg yang aneh bin ajaib ya. Caleg yang lain tidak seperti kamu! Kasihan sekali kamu ya!"
"Ya ialaaaah," Rara bangga sekali dengan keyakinan sukses 2009 yang bakal diraihnya. Bukan Rara namanya kalau bukan melakukan segala cara untuk tidak mau gagal dalam memperebutkan kursi 2009. "Bagiku, inilah kado natal dan akhir tahun yang penuh janji. Bangun relasi, beli suara, dan dapat kursi 2009!"

***
"Tahun baru nanti kamu pasti turun kampung lagi ya!" Jaki jadi penuh semangat melihat semangat Rara. "Santai saja, aku akan bantu promosikan siapa kamu! Kamu pasti dapat kursi. Kalau sudah dapat, jangan lupa bagi-bagi rejeki ya!"
"Ya ialaaah so pasti," Rara penuh janji.
"Aku ikut turun kampung. Boleh?"
"Ya ialaaaah. Kita buat pesta dengan tim sukses di kampung. Yang penting ini," Rara menggesek-gesek jempol dan telunjuk kanan sambil tersenyum menang!
"Ya ialaaah he he he," Benza pun menyambung. "Inilah Wajah demokrasi kampung kecil dan kampung besar negara kita tercinta. Terima tangan sambil tangan kanan memberi tangan kiri menagih." Selamat tahun baru 2009. (*)



Pos Kupang Minggu 28 Desember 2008, halaman 1 Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda