Djony Leonard Karel Theedens

FOTO POS KUPANG/ALFRED DAMA

Kesenian Tradisional NTT Lebih Berkembang

PENAMPILAN 50 orang pelajar yang memainkan musik tradisional sasando pada puncak perayaan Hari Ulang Tahun (Hut) ke-50 Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) di alun-alun rumah jabatan Gubernur NTT, Sabtu 20 Desember 2008 mengingatkan potensi musik tradisional daerah ini. Penampilan memukau para pelajar itu tidak terlepas dari karya Djony Theedens yang kini menjabat Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya NTT.

Ya, sasando, salah satu alat khas yang menjadi kebanggaan masyarakat NTT. Alat musik unik ini sudah dikenal hingga manca negara. Bumi Flobamora memiliki aneka kesenian tradisional yang unik dan menarik.
Drs. Djony Theedens mengatakan, sebenarnya kekayaan kesenian tradisional di NTT sangat luar biasa. Semua potensi ini tinggal ditata agar lebih bermanfaat bagi daerah ini.

Theedens bersama UPTD-nya sudah menerapkan seni masuk sekolah sejak tahun 2003. Dan, hasilnya sudah banyak anak muda NTT yang menggemari kesenian yang diwariskan nenek moyangnya. Berikut petikan perbincangan Pos Kupang dengan Djony Theedens pertengahan Desember 2008.

Bagaimana Anda melihat perkembangan kesenian tradisional NTT saat ini?
Kalau bicara tentang kesenian daerah ya kita harus bertolak dari perkembangan kesenian daerah sebelum otonomi dan sejak otonomi. Perkembangan kesenian setelah otonomi daerah ini sangat signifikan, karena perencanaan pengembangan kesenian itu berada di daerah sehingga dengan sendirinya perencanaan sesuai dengan kebutuhan dengan pertimbangan-pertimbangan yang sudah dilakukan dan dengan sendirinya menjawab kebutuhan pengembangan kesenian di daerah.

Ini berbeda dengan masa dimana semua rencana pembangunan datang dari Jakarta. Pada masa otonomi daerah saat ini, perhatian pemerintah daerah untuk pembangunan kesenian lebih tinggi, baik dalam dukungan, anggaran dan sebagainya. Saya selalu katakan, di masa lalu jumlah anak muda yang bisa memperagakan kesenian daerah itu sangat terbatas, kita bisa hitung dengan jari dan orang-orang yang itu-itu saja. Tapi setelah otonomi daerah ini menjadi luar biasa karena sudah begitu banyak anak muda yang bisa tampil membawakan kesenian tradisional.

Misalnya saya selalu propaganda dengan istilah seni masuk sekolah itu, dan tahun ini (2008) sudah memasuki tahun kelima program ini. Tahun ini saya target ada enam ribu anak yang bisa membawakan kesenian tradisional dan sejauh ini sudah sampai 90 persen berhasil. Jadi kesenian daerah NTT tidak asing bagi anak-anak di propinsi ini. Seperti di sini (gedung Taman Budaya NTT) Anda datang setiap hari pasti ada kegiatan. Ini suatu bukti bahwa apresiasi anak-anak akan kesenian daerahnya sudah sangat baik.

Anda mengatakan seni masuk sekolah. Apakah para pakar kesenian yang mengajar anak-anak tentang seni tradisional?
Orang-orang kita masih melekat dengan budaya mereka, baik itu tarian maupun musik. Dan, mereka yang kita katakan orang-orang kampung itu kita tarik dan ajak masuk sekolah dan mengajar kesenian tradisional di sekolah. Jadi program yang kita buat seni masuk sekolah ini yang masuk itu bukan sarjana seni. Kita berdayakan masyarakat yang mencintai seni dan itu diajarkan ke anak-anak sekolah. Ternyata mereka juga bisa mengajar.

Makanya setiap tiga bulan itu kita gelar festival dan apa yang mereka tampilkan berupa karya-karya itu cukup baik, cukup mendapat respon dari masyarakat. Jadi yang mengajar itu masyarakat etnis dan harusnya kita memperdayakan mereka. Sudah waktunya apa yang ada pada kita coba lakukan sambil kita benahi kekurangannya. Jadi jangan tunggu ada sarjana seni, tidak perlu menunggu karena harus mulai sekarang. Menurut saya, mereka (masyarakat etnis yang mencintai seni) juga termasuk para profesor budaya mereka, bahkan kalau kita mau tulis skripsi juga kita harus bertanya pada mereka karena itu budaya mereka. Nah ini yang belum kita berdayakan secara maksimal.

Sejak kapan program seni masuk sekolah dan bagaimana hasilnya?
Sejak tahun 2003 dan ini tahun kelima. Sebelum tahun 2003 atau tahun 2002 saja, kita hanya punya sekitar lima atau enam penari etnis laki-laki dan bisa saya sebut namanya. Tapi setelah program ini, sekarang sudah ada ribuan penari. Anda meminta saya siapkan 2.000 penari etnis, saya bisa siapkan sekarang ini.

Bagaimana Anda melihat partisipasi masyarakat?
Partisipasi dari masyarakat bagus. Masyarakat sendiri yang melakukan. Dan itu merupakan tanda kehidupan baru dari kesenian daerah. Memang dalam rencana pembangunan kesenian daerah ini ada program- program jangka pendek dan jangka panjang. Jadi ini juga saya selalu katakan kalau program jangka pendek yang sedang kita lakukan sesuai dengan kaca mata kita, kajian kita yang harus dilakukan, tapi memang untuk kegiatan jangka panjang untuk mengangkat kesenian daerah secara lebih baik, kita sedang mendorong didirikan sekolah menengah kejuruan (SMK) kesenian.

Setelah SMK kesenian bergerak maka kita bisa bergerak dengan mendirikan perguruan tinggi seni. Dan, kita sudah ada embrionya. Kita lihat saja di NTT yakni Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) sudah ada Program Studi Sendratasik (seni, drama, tarian dan musik). Mereka memproduksi guru-guru kesenian. Dari guru-guru kesenian itu akan mengajar kesenian bagi siswa-siswa dan siswa-siswa yang berprestasi bisa melanjutkan ke SMK Kesenian. Nah, setelah SMK kesenian ini mendidik anak-anak secara baik ini maka mereka bisa masuk ke perguruan tinggi seni. Nah dari perguruan tinggi seni ini akan memproduksi anak-anak yang kreatif. Jadi saya pikir untuk SMK kesenian ini dan perguruan tinggi seni, juga perlu di sini.

Anak-anak yang berbakat dalam bidang seni kan bisa melanjutkan pendidikan di Jawa, karena di sana sudah ada pendidikan khusus untuk itu.
Memang di Jawa sudah ada, tetapi kalau dibangun di sini (NTT) artinya orientasi kita pada muatan lokal kita. Artinya, dalam kurikulum itu bisa padukan antara internasional, nasional dan lokal. Tapi lokal harus mendapat perhatian yang serius, sedangkan perguruan tinggi seni yang ada di luar NTT itu mereka juga pada muatan lokal mereka. Kalaupun kita ke sana, maka kita akan belajar kesenian mereka. Bukan berati kita menolak tapi kalau ada di sini maka lebih dinamis dalam pembangunan kesenian kita.

Bagaimana upaya pemerintah yang lebih nyata dalam melindungi kesenian daerah?
Perhatian pemerintah terhadap kesenian daerah setelah otonomi daerah ini luar biasa. Pemerintah dari kabupaten/kota itu melakukan kegiatan-kegiatan seperti festival-festival. Jadi kita ada festival tingkat kabupaten, tingkat propinsi dan juga tingkat nasional. Dan, juga di tingkat propinsi juga punya program festival per-triwulan oleh anak-anak sekolah mulai dari SD sampai SMA/SMK, dan sudah berjalan lima tahun. Dan, rencannya tahun 2009 kita akan menggaet lima agama besar yang ada.

Jadi selain masyarakat, sekolah juga lembaga agama karena menurut kita pembangunan ini merupakan tanggung jawab kita semua. Jadi kita kerja sama dengan organisasi kesenian dan forum sanggar etnis NTT. Jadi semua orang NTT yang ada di sini (Kupang) ini kita himpun untuk membangun seni. Tahun depan (2009) kita lanjutkan dengan masyarakat agama. Jadi kegiatan seni ini mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.

Bagaimana Anda melihat perkembangan kesenian di kabupaten/kota?
Jadi memang kita pilah-pilah, tapi umumnya hampir sama antara tari, musik dan teater. Dan yang agak tertinggal di NTT hanya seni rupa. Seni rupa ini agak kurang, sama juga dengan seni teater karena kegiatan dua cabang seni kurang dilaksanakan, kecuali tari dan musik yang hampir merata. Kalau di Flores itu musik cukup baik, tari cukup baik sedangkan di Sumba tari cukup baik, musik perlu digali lagi. kalau Alor, tari dan musik ada perkembangan sedangkan daratan Timor, musik ya agak lumayan. Di daratan Timor ini tari perlu lebih banyak lagi digali.

Masuknya musik barat atau budaya barat sangat kuat pengaruhnya ke anak muda kita. Orangtua tentu khawatir anak-anak akan lupa dengan kesenian tradisional sendiri. Menurut Anda?
Memang, ada kecenderungan anak-anak kita mau sesuatu yang baru. Saya kira sangat manusiawi orang selalu mau sesuatu yang baru. Siapa yang tidak pingin yang baru, seperti ada model baju baru, sepatu baru pasti ingin memilikinya. Tetapi khusus untuk dunia seni ini memang mereka senang yang baru, saya kira ini juga positif tapi bukan berarti anak-anak kita tidak mencintai budaya lokal. Hanya memang yang menjadi persoalannya adalah bagaimana kita mendisain program-program yang sungguh nyata dan menyentuh kebutuhan anak-anak kita. Saya berikan contoh dengan program seni masuk sekolah yang sudah kita lakukan sejak tahun 2003 itu anak-anak makin mencintai kesenian lokal. Saya sampai berpikir program yang kita buat ini yang harus tepat, kalau tidak tepat memang kelihatan anak-anak agak masa bodoh. Di tempat ini, hampir setiap hari anak-anak hadir di sini semata-mata mereka telah menggeluti kesenian tradisional. Mereka merasakan ada sesuatu. Inilah yang luar biasa. Jadi sekarang Anda meminta ribuan anak menari tarian tradisional maka kami siap peragakan itu, karena memang program ini jalan. Sehingga program yang kami lakukan di UPTD di sini kami ingin pemerintah di kabupaten/kota bisa mengandopsi atau mentranfer pengalaman yang kita sudah buat. Jadi saya kurang setuju dengan pemahaman itu, sebab sudah terbukti bahwa dengan program yang kita buat yakni seni masuk sekolah ternyata anak-anak itu luar biasa, saya kira itu wajar juga demikian karena tenaga pendidik kita di sekolah sangat terbatas.

Ada kesan bahwa belajar tarian atau musik daerah dianggap ketinggalan jaman atau kurang gaul dibandingkan degan tarian atau musik modern?
Jadi konteksnya memang beda. Dunia tradisi kalau kita sandingkan dengan seni-seni modern memang agak beda sehingga kita tidak bisa katakan kalau dengan seni tradisi itu kurang gaul atau dengan seni modern lebih gaul. Tapi yang jelas dari masing-masing kesenian itu mempunyai keunggulan, kekhasan dan mempunyai daya tarik tersendiri. Seperti tadi saya berikan contoh, anak- anak sekarang dengan mereka bergaul dengan seni tradisi ini mereka bahkan merasa lebih menguntungkan diri mereka. Ini yang saya lihat dari generasi muda sekarang sering terlibat dalam kegiatan di Taman Budaya ini, karena mereka bisa dipakai dimana-mana. Mereka bisa mengadakan pertunjukan dengan baik di luar NTT atau di NTT. Setelah mereka menguasai seni, mereka mendapat perhatian yang lebih. Mereka sering dipakai untuk menjadi instruktur di mana-mana, misalnya mereka tampil di hadapan tamu-tamu yang datang ke NTT. Mereka diminta untuk mempertunjukkan seni daerah bahkan melatih. Jadi kita tidak bisa sandingkan secara otomatis kesenian tradisi dan modern. Saya berikan contoh ada satu mahasiswa di sini yang pernah studi pertukaran pelajar dengan Kanada. Tiap hari anak itu datang ke tempat ini untuk latihan menari, saya pikir anak ini sudah sampai di Kanada tapi masih mau belajar kesenian daerah, saya tanya ke dia kenapa masih menyukai kesenian lokal, dia bilang ini sangat menarik. Jadi dia tidak merasa minder kemudian bahkan dia merasa bangga sekali.

Apa program yang mesti dilakukan ke depan untuk membangun kesenian tradisional NTT?
Kita harus mengubah paradigma program dengan pembangunan kesenian. Tidak bisa kita buat program yang dadakan, maka itu program seni masuk sekolah itu kita utamakan proses, bukan hasil. Saya beri contoh, kita ingin anak-anak 100 persen, tapi tidak ditempuh lewat proses kelihatannya 100 persen tapi didalamnya keropos dan ini berbahaya dalam otonomi daerah. Jadi buat program itu kita harus perhatikan prosesnya, walaupun lambat tapi lebih menggigit atau lebih membumi, jadipada kita buat yang istilahnya siap saji atau instan. Jadi kita lihat luar biasa tapi di dalamnya keropos.

Kata orang, putra-putri NTT memiliki suara yang tidak kalah bagus dengan anak-anak dari Maluku, Sulawesi dan Jawa. Tapi, kenapa anak NTT sulit berprestasi di tingkat nasional?
Ini hanya soal kesempatan saja. Kalau kita skop nasional, Ambon ada nama, Papua ada nama, Sulawesi Utara ada nama dan NTT belum terlalu. Kalau dulu ada Ingrit Fernandez, ada Obby Mesakh atau ada beberapa nama. Hanya karena kesempatan untuk anak-anak kita yang kurang, kita belum ada link. Kalau di Jakarta misalnya, dari Ambon itu mereka saling tarik menarik karena ada yang sudah sukses, kemudian menarik yuniornya sehingga ikut sukses juga. Jadi mereka saling membantu. Kita dari NTT sejauh ini belum ada yang menjadi sandaran yang benar-benar bisa diharapkan. Sebenarnya ada beberapa juga teman kita anak-anak Flores, tapi mereka penyanyi jazz. Tapi dari sisi kualitas, kita tidak kalah dan itu meang diakui. Jadi hanya kesempatan saja.

Anda begitu semangat membangun seni tradisional.
Oya iya, jadi omong terus terang dari pribadi, kalau dari segi orang pemerintahan saya pikir kalau bukan kita siapa lagi. Ini soal rasa memiliki dan komitmen saya sangat tinggi. Saya kadang-kadang cukup keras dan cukup ngotot dalam hal ini, karena saya pikir ini sudah tahun emas NTT dan sebelum saya masuk, saya minta terima kasih bahwa bahwa gubernur mencangkan ada Sasando 50 orang yang dimainkan pada puncak HUT 50 tahun NTT.

Anda begitu menginginkan SMK kesenian. Kenapa?
Begini, kesenian kita di NTT ini terlalu kaya, dan kaya itu bukan kata-kata penghibur. Kalau kita lihat daerah yang lain, bahasa saja sudah sama seperti seluruh daerah di pulau Jawa itu bahasanya hampir sama semua. Bali juga demikian. Kita punya banyak bahasa, apalagi kesenian. Sangat beragam. Hanya masalahnya kesenian ini belum kita angkat secara maksimal, karena kita masih memiliki keterbatasan SDM. Untuk menjawab pembangunan kesenian hanya ada satu kata, SDM. Itu dapatnya dari bagun SMK dan perguruan tinggi seni di NTT. Sekarang kita lakukan program jangka pendek untuk mengisi kekosongan, tapi jangka panjang harus. Entah ada di Sumba, Flores atau Timor tapi harus ada satu institusi pendidikan seni. Saya bersama tiga rekan pernah ikut pertunjukan seni di Bali dan itu mendapat sambutan yang luar biasa baik dari peserta luar negeri maupun dalam negeri. Kalau tahu NTT punya potensi itu, pastilah mereka akan datang dan berguru di sini, seperti ada orang Amerika atau Eropa yang belajar kesenian Jawa. (alfred dama)


Sulitnya Meraih Sarjana Seni

KEINGINAN menjadi seorang pemusik telah mendorong Djony Theedens masuk ke Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Namun, siapa sangka ayah dua anak ini bukan lulusan SMA, melainkan sekolah teknik menengah (STM) jurusan mesin. "Kita dari keluarga yang hidup pas- pasan. Orangtua saya menginkan saya cepat kerja, jadi saya masuk STM," jelasnya.

Meski telah menyelesaikan STM jurusan mesin di STM Negeri Kupang (sekarang SMKN 2), bakat seni dalam diri Djoni tetap mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan. Dan, ISI Yogyakarta menjadi pilihannya. Meski sudah memiliki bakat, masuk ke jurusan musik ISI tidak semulus seperti yang dibayangkan.

Bahkan, ia menyiapkan diri satu tahun untuk ikut seleksi masuk ke perguruan tinggi seni terkemuka di Indonesia itu. "Hampir setahun saya berlatih main gitar, itu juga siang, pagi, sore. Setiap saat saya berlatih supaya bisa lolos masuk ke ISI. Tidak mudah masuk ke sana, karena dibutuhkan calon mahasiswa yang masuk harus benar- benar menguasai alat musik yang dinginkan. Jadi berlatih main gitar itu saya lakukan setiap saat," jelas
Djony Theedens mengenang masa lalunya.

Selama menjadi mahasiswa, Djony juga lebih banyak menghabiskan waktunya belajar dan mengasah keterampilan bermusik. Sebab, di jurusan musik, setiap tahap peningkatan belajar terukur dengan pengetahuan dan keterampilan dalam musik, sehingga tidak heran bila lulusan ISI memiliki keahlian dalam bermusik. "Menjadi sarjana musik itu tidak seperti sarjana lain, seorang menjadi sarjana musik berarti sudah benar- benar mengusai ilmu tentang musik dan bisa diimplementasikan," jelasnya.


Memegang gelar sarjana musik juga merupakan kebanggan bagi suami dari Nanik ini. Sebab, tidak semua sarjana bisa mengimplementasikan ilmu yang didapat semasa kuliah. Hanya sedikit yang benar-benar bisa mengimplementasikan ilmu dan keterampilan hasil belajar semasa kuliah. "Ini yang membuat sarjana seni itu beda dengan sarjana lain. Kita kalau sampai gelar sarjana ini sangat sulit dan kita bisa mempraktekkan ilmu kita, kalau sarjana yang lain belum tentu juga. Mungkin apa yang diajarkan di bangku kuliah sudah tidak bisa dipraktekkan lagi," jelasnya.

Pria kelahiran Kupang 11 Februari 1958 ini mengatakan, di ISI, ia menguasai alat musik gitar klasik, namun harus juga pandai alat musik lain. "Jadi ada mayor yakni spesialis. Spesialis saya adalah gitar, kemudian minor saya pilih vokal dan piano. Pilihan ini wajib juga. Bisa juga ambil instrumen yang lain, tergantung minat atau motivas kita mempelajari itu," jelasnya.

Bakat seni yang telah diperdalam selama bangku kuliah itu juga selalu mendorongnya memainkan piano dan gitar di rumah. Namun, kini pria berkumis ini sudah memilih musik gereja. "Saya lebih cenderung dengan musik gereja, entah itu geraja Katolik atau Protestan. Karena menurut saya, gereja harus mempunyai peranan penting untuk membangun musik. Sesuai sejarah, musik berkembang dari gereja dan kini musik sudah luar biasa itu karena gereja dan gereja harus ambil alih kembali untuk NTT," jelasnya. (alf)


Data diri
Nama : Djony Leonard Karel Theedens
Tempat Tanggal Lahir : Kupang 11 Februari 1958
Pendidikan : Tamat SDN Oeba
Sekolah Teknik (ST) Negeri- Merdeka, Kupang
Sekolah Menengah Teknik (STM) Negeri Kupang
S1 ISI Yogyakarta tamat Tahun 1987
Jabatan Kini : Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Taman Budaya NTT
Istri : Nanik
Anak-anak : Kartika
: Rista

Pos Kupang Minggu 4 Januaru 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda