Foto Pos Kupang
/Alfred Dama




















BPKP Tidak Hanya Lakukan
Pengawasan


PELAKSANAAN
pembangunan di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak luput dari proses pengawasan terhadap keuangan. Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Propinsi Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu lembaga pemerintah yangtelah ikut mendukung proses pemanfaatan keuangan negara.
Meski upaya-upaya pengawasan telah berjalan baik, tidak dipungkiri bila masih ada saja oknum di lingkungan birokrasi yang masih melakukan penyimpangan.

Kepala Perwakilan BPKP NTT, Justan Riduan Siahaan, Ak, M.Acc, yang ditemui di di kantor BPKP NTT di Jalan Palapa No 21 Kupang, Kamis (19/2/2009), mengatakan, dari tahun ke tahun BPKP NTT melakukan pemeriksaan penggunaan keuangan. Pada tahun 2001, misalnya, BPKP NTT menemukan indikasi kerugian negara Rp 60 miliar.


Pria yang berharap bisa menguasai dansa setelah menyelesaikan tugasnya di NTT ini mengatakan, dengan berbagai keterbatasan, peran BPKP di NTT terus mendukung dalam hal pengelolaan keuangan negara di NTT. Berikut petikan perbincangan Pos Kupang dengan Justan.

Apa saja tugas BPKP di NTT? BPKP melaksanakan 4C. Pertama, capacity bulding, membantu instansi pemerintah membangun kompetensi akuntasi. Karena pengelolaan keuangan negara, keuangan daerah sudah sepakat kita mengelola dengan kompetensi akuntasi. Yang saya bingung sekarang, guru dikasih uang disuruh pertanggungjawabkan. Mana kira-kira bayangannya? Dia tidak pernah belajar akuntansi, disuruh catat. Memang sih sederhana, debet kredit, tetapi kalau tidak diajarin kan gawat.
Kedua, current issues, mengatasi masalah. Ketiga, clearing house. Maraknya badan atau keinginan masyarakat tentang pemberantasan korupsi membawa sisi lain, yakni sisi positif dan negatif. Di satu sisi kita gembira karena korupsi tertangkap, di sisi lain ini membuat gamang pelaksana anggaran pemerintah karena takut salah. Keempat, chek and balance atau mengimbangi posisi kuatnya BPK. Karena begitu kuat dia satu- satunya pemeriksa eksternal, dia satu-satunya ada monopoli pasti gampang dibelokkan.

Bagaimana di NTT? Masyarakat di sini terlalu pintar berbicara. Audit investigasi untuk NTT kadang- kadang temukan kerugian negara kecil, tetapi karena berbicara di mana-mana kita terpaksa masuk. Tenaga kita terbatas. Tetapi karena strategis terpaksa kita masuk walaupun nilainya tidak material. Kemudian, review laporan keuangan, selama ini tugas ini dilakukan oleh APIP masing-masing. Jadi untuk mereview laporan keuangan sebelum diberikan kepada BPK, di departemen dilakukan oleh Irjen, di propinsi dilakukan oleh inspektorat propinsi dan kabupaten oleh inspektorat kabupaten. Dengan PP 60, BPKP masuk untuk review. Sebenarnya review tidak beda jauh dengan audit, dibutuhkan akuntan. Jadi bisanya ada tiga pilar manajemen, yakni sumber daya, penganggaran dan audit atau bahasa lain tiga tungku. Tiga tungku ini tidak kuat lagi menopang beban manajemen pemerintah yang kompleks sehingga muncul evaluasi.

Di NTT ada Banwas dan BPKP dan BPK. Peran dan fungsi tiga lembaga ini masih rancu di masyarakat? Ok. Wajar memang rancu. Kembali ke eksternal dan internal tadi. Di lembaga atau organisasi yang ada ini kok eksis? Ada internal dan ada eksternal. Ibarat kita punya rumah, di sana kita bisa bebas melaksanakan tata krama berkeluarga termasuk mengatasi jika ada yang berkelahi. Sebelum kita ke eksternal misalnya ada ribut antar keluarga, kita duduk bicara internal dulu. Setelah kita tidak mampu lagi baru kita laporkan ke polisi. Saya kira garis besarnya seperti itu. Nah masalahnya di pemerintah itu sudah di kabinet sudah ada inspektorat jenderal, kekuasaannya dibagi habis. Jadi tidak perlu lagi BPKP. Di propinsi juga sekarang ada inspektorat dan di kabupaten juga ada.

NTT dapat DIPA 12,5 triliun. Yang bertugas mengawasi uang negara sebanyak itu siapa? Dua-duanya (BPK dan BPKP). Bagaimana efektivitas penggunaan, yah BPKP maju, karena itu lintas sektoral jadinya, jadi BPKP maju, tetapi itu tugasnya BPK yang semula pertanggungjawaban. Nah, kalau BPKP masuk yah itu tadi tuntutnya 12,5 triliun seperti apa. Karena itu pasti melalui program-programnya, ada lewat pemerintah pusat ada daerah. Jadi kalau di sana ada permintaan harus diaudit oleh BPKP yah kita masuk. Di sudut sektor BPKP tidak masuk, tetapi lintas sektoral BPKP masuk. Saya belum lihat yang Rp 12,5 triliun seperti apa, kalau di DIPA pasti di beberapa program. Secara tugas BPKP tidak, tetapi klausulnya minta BPKP sudah permintaan, BPKP masuk.

Artinya, kalau BPKP diminta masuk berarti ada indikasi penyalahgunaan keuangan? Nah, khusus tentang permintaan memang ada yah... karena kepercayaan; kedua karena ada kasus. Kalau ada kasus, BPKP dengan konsep clearing house, masuk dulu. Atau setelah dalam proses penyidikan ada masalah kita masuk. Memang banyak jalur hukum kita masuk. Karena bagaimanapun, seperti Kota Kupang terkorup, kami dianggap tidak punya fungsi. Dianggap oleh bos saya, apa saja kerja kalian di Kupang? Jadi, apakah kami salah mengaudit atau salah membina.

Ada pendapat BPKP tidak dijadikan saksi ahli dalam persidangan di pengadilan? Ada pendapat, ada yang bilang iya, ada yang bilang tidak. Sebenarnya di sana tidak ada saksi ahli, yang ada pemberi keterangan ahli. Bagi orang yang mengutamakan hukum, mereka menganggap tidak ada wewenang BPKP untuk memberikan keterangan. Jadi khusus untuk ketarangan ahli yang dianggap ahli itu siapa, bukan kewenangan yang membuat sesuatu menjadi terang. Itu fungsi ketarangan ahli, tidak melihat fungsinya apa, kewenangan siapa. Walaupun KUHAP sendiri mengatur itu bisa.

Sudah berapa rekomendasi atau temuan yang dikeluarkan BPKP pada instansi terkait? Kayaknya sih tidak, karena posisi sekarang beda dengan zaman dahulu. Zaman reformasi ini paradigma BPKP dengan penyidik sudah sama, sama-sama mengamankan, BPKP dari sudut kerugian negara, kalau penyidik itu ke pelanggaran hukum. Zaman dahulu, sering kita sampaikan lalu diendap di sana dan sering di-SP3- kan. Jadi kasus itu pun saya bisa kasitau sekarang berapa? Karena kita sudah minor.

Berapa banyak temuan kerugian negara yang sudah direkomendasikan lembaga ini untuk ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah atau penegak hukum? Posisi sekarang sejak tahun 2001 sekitar Rp 60.351.530. 292,00. Makanya saya kaget dianalisinya yang salah, setelah dibilang Kupang Terkorup dibilang Rp 200 M. Saya bilang tidak mungkin karena saya ikuti dari 2001. Kasus korupsi di Kupang tiga sedang penyelidikan, enam ada yang distop, 39 sudah penyidikan, 17 dihentikan, 19 kasus dilimpahkan ke pengadilan, dalam proses penuntutan enam, dan sudah putus 41. Jadi kita ikutin terus. Kalau temuan lainnya sudah minor melakukan audit.

Itu artinya manajemen di NTT sudah baik? Yah.. memang tidak ada hubungannya. Yang diutarakan orang tadi apa yang dilihat jelek, tidak dilihat keinginan untuk dituntut. Tapi 60 M, ini sudah pasti masuk kasus, temuan yang lain walau saya bilang besar tapi belum tentu masuk kasus.

BPKP sangat susah mengumumkan temuan. Apakah ada etika khusus? Kembali lagi, BPKP masuk melalui proses. Biasanya kasus, kita lihat dulu dia masuk di mana. Audit itu kan atas permintaan pemda, polisi atau inisiatif BPKP. Kalau inisiatif kita biasanya audit operasional, itu tidak apa-apa. Tapi yang muncul di permukaan yang diikuti oleh rekan-rekan wartawan itu sudah masuk ke kasus. Biasanya sudah ditangani penyidik. Kalau sudah ditangani penyidik kami bungkam seribu bahasa. Kenapa? takut salah. Hukumnya kan kita belum tahu terlanggar atau tidak Kita bilang ada kerugian negara ternyata tidak ada pelanggaran hukum. Kalau angkanya, yakin tetapi untuk mengefektifkan proses hukumnya nantilah di pengadilan dan kita serahkan ke kebijakan sana.

Soal kompetensi SDM di BPKP sendiri, biasanya ada hal-hal teknis. Apakah ada akuntan khusus untuk audit, misalnya audit hasil pekerjaan sebuah jembatan? Itu kembali ke jenis audit. Ada audit operasional, ada audit kasus. Kalau audit operasional kita masih menggunakan logika umum akuntan. Karena kita diciptakan untuk menggunakan logika menganalisis kasus. Kalau itu sudah kasus yang akan dibuktikan di pengadilan, kita tidak berani. Kita harus minta tenaga teknis dari Undana, untuk sementara BPKP belum punya, harus minta tenaga ahli dari lembaga lain. Kita tahu kok, hanya secara ilmiah kita minta ke mereka, siapa tahu yang kita jelaskan itu salah.

Tenaga auditor di BPKP berapa orang? Apakah sudah cukup? Idealnya berapa untuk NTT? Ada sekitar 70 orang. Yah, pernah dihitung-hitung sebenarnya harus 300-an orang. Dengan tenaga yang terbatas, kita terpaksa melaksanakan semuan kebutuhan kabupaten/kota. Kita terpaksa membatasi permintaannya, di sisi lain suplai juga kita. Jadi suplai kita buat denga menambah jam kerja. Karena kalau kita kerjakan semua pasti kualitasnya bagaimana.

Ada anggapan kalau tim BPKP masuk di suatu instansi tentu ada masalah. Apakah demikian? Stigma itu masih ada, padahal secara nyata sudah kita bilang kalau dulu BPKP adalah watch dog, ibarat anjing herder. Ada kasus ditangkap, begitu kencangnya sehingga tidak digigit sih, hanya ditangkap. Itu dulu BPKP dan sangat setia beban tugas itu.

Kadang masyarakat juga berpikir kalau BPKP suka cari-cari kesalahan. Apa pendapat Anda? Itu berita buruk bagi saya. Kalau yang saya alami sebaliknya. Saya pernah ketemu orang Molang Mangandau-Sulawesi Utara. Dia diperiksa BPKP, masuk penjara dia. Tetapi dia sangat berterima kasih dalam artian BPKP jelas maunya. Jelas yang dituntut dalam penemuan itu ada dan dialognya jelas. Jadi kita tahan. Saya tidak bisa menjamin orang berbuat yang baik 100 persen, tetapi secara umum saya percaya BPKP. Karena ada satu yang saya percaya dari BPKP yang jarang dilakukan di instansi lain, rekruitmen tidak ada koneksi. Karena masuk awalnya umumnya berasal dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). (alfred dama/apolonia dhiu)


Belajar Dansa di NTT

HADIR di NTT tidak disia-siakan oleh Justan Riduan Siahaan. Bagi ayah tiga anak ini, NTT merupakan tempat yang tepat untuk belajar dansa. Dinamika masyarakat yang menyukai dansa membuatnya ingin sekali bila harus kembali ke Jawa nanti, sudah pandai berdansa.

"Saya bercita-cita saja, kalau saya pindah dari NTT minimal dansa itu saya sudah tahu. Jadi lagunya saya buat balada pelaut kita ubah menjadi Balada Kupang. Pertanyaannya siapa bilang di Kupang hidup sengsara? Saya balik su bisa ...Beta balik su bisa dansa Putar lagu .......dansa lagi," jelas suami dari Suwarti ini sambil tertawa lepas.

Bagi Justan, let's dance tidak menjadi hobi utamanya. Menurutnya, berdansa banyak kegunaan bagi tubuh. "Saya lihat fungsi bagusnya. Seringkali di pertengahan formal dan non formal selalu ada kesempatan untuk saling akrab seperti poco-poco, ja'i dan dance," ujarnya.

Selain ingin tahu dansa, pria murah senyum ini juga suka nyanyi. Meski suaranya tidak mendukung hobinya menyanyi. "Secara jujur saya hobi tetapi suara saya tidak mendukung. Artinya kalau ada kesempatan nyanyi badan ini gatal kalau tidak nyanyi, walaupun nanti saya malu. Itu katanya nekad," ujarnya sambil tertawa.
Pria yang bergabung dengan BPKP sejak tahun 1983 ini mengatakan, sebenarnya ia juga memiliki hobi bermain bridge. Namun hobinya tersebut tidak dikembangkan lantaran kesibukannya dalam bekerja. Kini, Justan memiliki aktivitas lain dalam olahraga seperti menghabiskan tiap hari Sabtu dengan bermain tenis bersama teman- temannya.

Justan yang menyelesaikan pendidikan masternya di Jurusan Accounting University of Denver-USA ini mengatakan, menjadi seorang akuntan hanya nasib saja, sebab ia sebenarnya bercita-cita menjadi seorang insinyur. "Saya ambil teknik elektro Universitas Indonesia dan lulus, tetapi kita belajar hidup di Jakarta mendingan ambil sekolah yang ikatan dinas. Saya dari keluarga yang besar, jadi saya sudah berjanji ke ibu saya sejak SMA jangan urusin saya, tapi cita-citanya harus sekolah. Nah, kenal diri di Jakarta, jangan mimpi ke ITB atau UI, mimpilah ke STAN. Jadi ikut-ikutan saja," jelasnya.

Meski bukan cita-cita, Justan menjalani hari-hari di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) dengan baik. Bahkan, ia diterima masuk University Of Denver untuk program S2. (alf)

Pos Kupang Minggu 22 Februari 2009, halaman 3 Lanjut...

Dokter Ponari

Parodi Situasi oleh Maria Matildis Banda

FENOMENA Ponari memang benar-benar menarik perhatian. Konon batu petir yang dimilikinya memiliki keajaiban penyembuhan. Lelaki kecil asal kampung halamannya Gus Dur, Jombang ini, sekejab terkenal. Ribuan orang berbondong-bondong datang mendambakan bantuannya. Siswa kelas tiga SD ini baru saja diantar kembali ke sekolah setelah tiga bulan bolos untuk layani pasien. Biasanya jalan kaki, kini Ponari naik izuzu panther hitam dalam pengawalan polisi dan panitia pengobatan.

Ribuan orang datang padanya bersesak-sesakan. Konon penghasilan Ponari mencapai lima puluh juta sekali buka praktek, dan dalam tiga bulan ini Ponari meraup hasil batu petir sampai satu miliar. Khasiat batu petir milik Ponari ini tersebar ke mana-mana. Sepanjang tiga bulan ini sudah empat orang tewas terinjak dan terjepit akibat berjubelnya sesama manusia yang mau bertemu Ponari! Beberapa kali praktek Ponari ditutup polisi, namun tidak berhasil menghentikan pasien yang terus membludak.


***

Mengapa orang-orang lari ke Ponari? Dokter Rara tidak habis pikir. Apakah karena pasien bayar tidak bayar pelayanan tetap jalan? Bayar seribu jadi, sepuluh ribu jadi, pake ayam jadi, beras boleh, kangkung pun oke. Wah, siapa tidak mau? Sehari lima puluh juta. Duh, kapan lagi. Konon, yang pengen cepat kaya pun datang ke Ponari.
"Soalnya dokter mahal bayarannya," demikian Jaki memberi komentar.

"Mahal katamu? Bukankah sesuai dengan konsultasi, ukur berat badan, ukur tekanan darah, ukur panas, ukur denyut nadi, pakai berbagai macam alat. Belum lagi ditambah dengan periksa darah lengkap. Kamu kira gampang?" Dokter Rara bicara tegas.
"Kemarin gigiku yang berlubang sakit. Mana antrenya lama.

Tiba giliranku, hanya periksa tekanan darah, buka mulut, ditekan-tekan rahangku yang bengkak. Langsung tulis resep dan gigiku baru boleh dicabut kalau bengkaknya sembuh, kalau tidak sakit lagi. Wah, pada hal aku maunya langsung cabut! Bayar lagi, bayar lagi! Bahkan aku disuruh roncent gigiku dulu untuk melihat posisi akar dan lain-lain. Wah, duit lagi bukan?"

"Memang mesti begitu urusannya kalau kamu mau sehat dan selamat. Bukan maen cabut saja!" Dokter Rara membuat pembelaan. "Ada begitu banyak dokter yang sangat toleran dengan kondisi pasien..."

"Yaaa memang ada sih, kecuali kamu! Dokter pelit!" Potong Jaki membuat Dokter Rara terkejut bukan main. "Pokoknya aku mau ke Jombang, ke Ponari, biar sembuh dengan batu petir.

Sekalian jalan-jalan di kampungnya Gus Dur," Jaki nekad berangkat. "Aku tak mau lagi berobat padamu temanku Dokter Rara. Soalnya kamu sudah anti senyum, anti bicara, anti lama, resep segudang dan hurufmu seperti cakar ayam, terus bayarannya mahal lagi! Good bye..."

***

Benza tolak mentah-mentah ajakan Jaki ke Jombang. Biarpun Jaki sudah menjelaskan panjang lebar soal saktinya batu petirnya Ponari, Benza tetap tidak mau. "Orang lumpuh bisa jalan! Tumor sembuh! Gigi ompong utuh kembali! Ginjal ganjil genap lagi! Sakit jantung bertahun-tahun sembuh total! Yang susah bisa senang, yang miskin jadi kaya! Kalau buka usaha pasti sukses.

Kamu caleg bukan? Ayoh kita ketemu Ponari. Batu petir akan membuat kamu meraup suara sebanyak-sebanyaknya. Kamu punya kursi kamu jadi hebat, dan semua orang hormat kamu, biarpun kelakukanmu hmmm siapa yang nggak tahu, biarpun kecerdasanmu dan kemampuanmu membaca masalah dipertanyakan Rara, dan pengalamanmu juga nol koma kosong.

Ayoh kita ke Ponari! Semua cita-citamu terjawab segera, tidak pake tunggu. Lebih hebat lagi nih," Jaki mengecilkan suaranya. "Nona-nona bisa tergila-gila sama kamu! Ayoh!"
"Maaf saja ya! Aku caleg bermutu dengan kemampuan di atas rata-rata. Aku caleg bermental baja, siap lahir batin untuk menang maupun kalah! Kalau aku sakit aku rela antri di puskesmas. Kalau harus ke dokter aku ke dokter Rara! Pantang bagiku dapat nona pake air guna-guna! Ke Jombang? Maaf saja!"

"Kalau sakitmu parah, ke rumah sakit saja ya! Tetapi kalau kamu mati, jangan harap ambulance antar kamu pulang, sebab modalmu kosong! Aku tidak sanggup gendong kamu pulang ke rumah pake jalan kaki lagi. Makanya, kita ke Jombang, ketemu Ponari. Sambil menyelam minum air tangkap ikan dan menikmati taman laut, nah sekali ke Ponari semua permintaan kita terpenuhi! Ayoh!" Jaki memaksa. "Nah, kamu sakit bersin-bersin dan naah, mata merahmu belum sembuh? Ayo ke Ponari!"

"Aku mau ke puskesmas! Aku mau ketemu dokter Rara!" Benza melepaskan diri dari Jaki.

***

"Halo, Benza! Halo Jaki!" Dokter Rara tertawa cerah. "Kita bertiga ke Jombang? Jadi ke dukun cilik pemilik batu petir yang bernama Ponari? Ayoh, kita sama-sama ke sana! Aku mau bertemu Ponari!"

"Dokter Rara? Kamu juga mau ke dukun cilik Ponari?" Benza ternganga. "Apa saya tidak salah dengar eh salah dengar?"
"Yes! Saya mau berobat ke dukun Ponari. Saya mau minum air dari batu petir Ponari! Memang apa salahku?" Jawab Dokter Rara.

"Dan apa pula salahku?" Jaki menyambung. Keduanya langsung cabut, tinggalkan Benza termangu-mangu. (*)


Pos Kupang Minggu 22 Februari 2009, halaman 1 Lanjut...


Foto Kapanlagi.com

PENYANYI, Sherina dipercaya menjadi Duta Lingkungan Hidup 2009 oleh Kementrian Lingkungan. Bersama duta yang lainya, kampanye melawan pemanasan global akan menjadi misi utama untuk mewujudkan dan menjaga kelestarian bumi.

"Saya akan memulai kampanye dari diri sendiri, memberi contoh kepada teman sebaya sampai ruang lingkup lebih besar," ujar Sherina Munaf usai menerima gelar yang diserahkan langsung Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar di Jakarta, Rabu (11/2/2009) malam.

Penyanyi yang juga tenar lewat film 'Petualangan Sherina' itu mengatakan, menjaga lingkungan tidak harus mengeluarkan biaya besar. Sebab, kebiasaan sehari-hari bisa dijadikan pelajaran apakah menjaga lingkungan atau justru merusak lingkungan.
"Hemat air, hemat listrik dan tidak membuang sampah adalah hal kecil dan perilaku baik untuk menghindari kerusakan lingkungan," tambah Sherina Selain itu, generasi muda dan generasi tua harusnya berjalan bersama mengkampanyekan sadar lingkungan. Hal ini untuk mengindari kosongnya penerus ketika generasi yang tua sudah saatnya berganti.


"Keduanya harus berjalan sejajar, tidak ada yang di belakang atau di depan agar ketika berganti generasi sudah siap," ujarnya.
Sementara itu, anggota DPR RI komisi V Soeharsojo juga diangkat menjadi Duta LH. Selain peduli terhadap lingkungan, alasan pemilihannya karena telah mengarahkan UU Tata Ruang lebih ramah lingkungan dan merupakan salah satu Pansus soal UU Sampah. (kompas.com)


70 Persen Perairan Indonesia Rusak


DARI total luas wilayah perairan Indonesia yang berkisar 5,7 juta kilometer persegi, hanya 1,8 juta kilometer persegi atau 30 persen yang kondisinya masih baik. Sisanya, seluas 3,9 juta kilometer persegi, sekitar 70 persen, rusak ringan hingga rusak berat.
"Kerusakan antara lain disebabkan penggunaan bom ikan oleh nelayan saat menangkap ikan, tertutup sampah, serta gejala alam seperti gempa dan tsunami," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, Selasa (27/1/2009), seusai meresmikan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir Laut (BPSPL) Pontianak, Kalimantan Barat.

Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Syamsul Maarif mengungkapkan, kerusakan tersebar di seluruh perairan Indonesia dan yang terbanyak di wilayah Indonesia bagian barat.
Wagub Kalbar Christiandy juga menyadari, pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan yang cenderung merusak ekosistem masih terjadi di Kalbar. Dengan pembentukan lembaga BPSPL Pontianak, ia berharap terbangun sinergi dan kerja sama untuk menjaga kelestarian sumber daya kelautan yang ada sehingga kerusakan di masa yang akan datang bisa dikurangi.

DKP memiliki target rehabilitasi kawasan laut seluas 10 juta hektar pada tahun 2010 serta 20 juta hektar pada 2020. Hingga awal 2009, realisasi rehabilitasi kawasan laut mencapai 9,2 juta hektar. Lembaga ini memiliki anggaran sekitar Rp 50 miliar untuk rehabilitasi terumbu karang yang rusak. Anggaran itu didukung dengan dana pemberdayaan masyarakat pesisir yang besarnya mencapai Rp 100 miliar-Rp 200 miliar. "Upaya rehabilitasi terumbu karang tidak akan berhasil jika tidak didukung penyadaran dan pemberdayaan masyarakat," ujarnya.

Pulau Tenggelam

INDROYONO Soesilo menambahkan, di antara peserta pertemuan hadir delegasi dari Small Islands Development State (SIDS) yang menyatakan kesediaannya untuk hadir dalam WOC 2009. Mereka akan mendukung MOD sebagai upaya untuk mitigasi dan adaptasi menghadapi perubahan iklim.

Diperkirakan dari 44 anggota SIDS, 14 negara kecil di antaranya terancam hilang akibat naiknya permukaan laut, antara lain beberapa negara pulau di Samudra Pasifik, yaitu Sychelles, Tuvalu, Kiribati, dan Palau, serta Maladewa di Samudra Hindia.
Akibat pemanasan global, minimal 18 pulau di muka bumi ini telah tenggelam, antara lain tujuh pulau di Manus, sebuah provinsi di Papua Niugini. Kiribati, negara pulau yang berpenduduk 107.800 orang, sekitar 30 pulaunya saat ini sedang tenggelam, sedangkan tiga pulau karangnya telah tenggelam.

Maladewa yang berpenduduk 369.000 jiwa, presidennya telah menyatakan akan merelokasikan seluruh negeri itu. Sementara itu, Vanuatu yang didiami 212.000 penduduk, sebagian telah diungsikan dan desa-desa di pesisir direlokasikan
Karena ancaman nyata itu, delegasi dari negara kepulauan tersebut serta Aljazair dan Tanzania sangat mendukung WOC dan akan hadir di Manado, mengingat negara tersebut terancam hilang dari muka bumi ini akibat perubahan iklim.

Indonesia sendiri berpotensi kehilangan 2.000-an pulau pada tahun 2030 bila tidak ada program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, ujar Indroyono, yang juga mantan Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP.

Ekonomi Hijau
Dalam pertemuan itu UNEP mengusung tema "Green is the New Deal". Meski dunia tengah didera krisis finansial, krisis lingkungan akibat perubahan iklim tetap lebih parah dampaknya. Karena itu, UNEP memperkenalkan green economy, termasuk ketahanan pangan, biofuel, dan berupaya terus mengangkat isu kelautan ke dalam program UNEP, kata Indroyono.

Direktur Eksekutif UNEP Ahiem Steiner dalam sambutannya juga menyatakan mendukung WOC dan memberikan komitmennya akan membawa hasil-hasil WOC dan MOD pada COP-15 UNFCCC yang akan diadakan di Kopenhagen, Desember 2009. (Ant/kompas.com)


Pos Kupang Minggu 22 Februari 2009, halaman 14 Lanjut...

Si Dia Terlalu Cerewet

Dokter Valens Yth,
Salam kenal dan semoga selalu damai di hati. Saya Andre, pemuda bujangan yang berasal dari Sikka. Saat ini saya sudah selesai kuliah dan sedang bekerja di suatu perusahaan swasta di kota Kupang. Dalam perjalanan hidup ini, akhirnya saya mengenal Dina, gadis hitam manis dari Sabu.

Saya sudah cukup lama mengenalnya, karena memang kami masih dalam satu kelurahan. Saya baru mencoba melakukan pendekatan beberapa bulan ini, kurang lebih tujuh bulan. Dan nampaknya sih, Dina juga mau sama saya, walaupun tidak bisa saya bedakan itu canda atau serius.

Persoalannya, Dina yang cantik manis itu, kalau omong, susah putusnya. Banyak sekali omongnya. Memang yang diomongkan itu benar, tapi terlalu lancar, cepat dan banyak. Kesan saya setelah mengenalnya, bisa dikatakan Dina terlalu cerewet. Saya sendiri berasal dari keluarga biasa saja, anak ketiga dan menurut banyak teman, saya termasuk tipe pendiam dan agak pemalu. Nah, berarti jelas kami dua berbeda nyata untuk hal-hal ini.

Dina cerewet dan saya pendiam dan pemalu. Secara fisik saya sangat tertarik karena Dina cantik, tapi kalau sudah sampai pada cerewetnya, saya mulai ragu, apakah saya bisa cocok dengan dia ? Apakah saya bisa tahan dan bagaimana harus menyesuaikan diri dengan Dina atau Dina yang menyesuaikan diri dengan saya. Manakah yang paling gampang? Dan mungkinkah kami bisa berjodoh? Saya sangat menyukai Dina, di saat dia diam.

Dokter, tolong jawab surat saya ini, kalau memang itu perbedaan yang sulit dipersatukan mungkin saya harus mundur dari Dina. Tapi saya justru berharap ada jalan keluar yang pas dan Dinapun bisa untuk saya. Akhirnya atas jawaban dokter saya ucapkan terima kasih.
Salam, Andre, Oebufu–Kupang.


Saudara Andre yang Baik,
Salam kenal juga buat Anda. Setelah membaca surat Anda, nampaknya Anda ingin menunjukkan bahwa ada sisi-sisi dari Dina yang tidak cocok kalau dihadapkan dengan diri Anda. Saya sering menulis di rubrik ini dan mengajak para bujangan untuk membuka mata” selebar–lebarnya sebelum menikah dan tutuplah” serapat-rapatnya sesudah menikah. Artinya Anda perlu menilai semua sisi positif dan negatif yang ada pada Dina.

Manakalah ada sisi yang berlawanan, cobalah dicermati, apakah Anda bisa menerimanya (dapat beradaptasi) atau tidak. Persoalan yang Anda sampaikan bahwa Dina cerewet, terlalu lancar, terlalu cepat dan terlalu banyak omong, padahal omongannya benar. Seorang pastor dari Missouri, Amerika, Carlos G. Valles, menulis begini:


Komunikasi adalah jiwa dari hubungan antarmanusia. Sayang sekali dalam abad kejayaan media komunikasi, komunikasi telah menjadi seni yang terlupakan; komunikasi justru telah mengajar kita untuk tidak berkomunikasi.

Karena segala hal menjadi lebih teknis dan praktis maka manusia sudah mulai jarang saling berbicara langsung dengan sesamanya. Manusia saat ini lebih senang duduk diam di depan televisi dari pada duduk mengobrol dengan anggota keluarga lainnya. Orangtua dan anak jarang bicara hanya karena segalanya sudah praktis.

Orang-orang ke pasar swalayan, bisa belanja tanpa perlu bicara sepatah katapun dengan penjaga tokonya, semuanya serba cepat, bersih dan efisien. Tetapi karena itulah maka banyak lagi orang–orang di kota besar merasa kesepian dan justru sangat rindu untuk bisa omong secara langsung dengan orang lain.

Mereka terpaksa harus menggunakan program Call a Friend” sekedar agar bisa berbicara dengan orang lain. Kalau melihat kecendrungan seperti ini maka Dina sebenarnya adalah Obat” untuk masa depan Anda. Dina yang Anda katakan cerewet bisa punya potensi positif sebagai teman hidup” yang bisa menyenangkan dan membahagiakan.

Sementara dari sudut Anda cuma diharapkan sedikit adaptasi agar tidak nampak terlalu pendiam atau pemalu di saat berbicara dengan orang lain. Seorang tukang omong dari Amerika, bernama Larry King, karena suka omong-nya itu maka dia termasuk pembicara yang paling dicari dan dibayar paling mahal. Larry King menulis tentang bagaimana mengatasi rasa malu saat sedang berbicara dengan orang lain.

Dalam bukunya yang berjudul How to Talk to Anyone, Anytime, Anywhere” (Seni berbicara kepada siapa saja, kapan saja dan di mana saja), Larry King, menulis begini: kebanyakan dari kita biasanya malu dan cendrung gugup atau paling tidak agak gugup jika berbicara dengan orang yang belum pernah kita temui sebelumnya, atau saat pertama kali kita berbicara di depan banyak orang.

Cara terbaik untuk menghilangkan perasaan malu adalah dengan mengingatkan diri pada satu pepatah lama bahwa "orang yang Anda ajak bicara itu juga memasukkan kaki ke celana satu demi satu". Artinya betapapun sangat pintarnya dia, tidak mungkin dia mampu memasukkan kedua kakinya sekaligus saat pakai celana.

Ini cara klise namun bisa merupakan cara efektif untuk melukiskan bahwa kita semua sama manusia. Jadi tak perlu gugup atau malu, meski Anda berbicara dengan seorang professor dengan empat gelar, atau seorang yang terpilih menjadi gubernur atau bupati di tempat Anda berada.

Nah, Dari uraian di atas nampaknya akan lebih mudah buat Anda untuk belajar menyesuaikan diri dengan Dina. Mengakhiri tulisan saya ini saya mengutip Kahlil Gibran dalam bukunya Gelora Cinta dan Kehidupan, katanya: laki- laki yang tidak memaafkan wanita untuk kesalahan kecilnya, tak akan dapat menikmati besar kebaikannya.

Bila Anda bisa berdamai dengan hati Anda sendiri, maka cerewetnya Dina adalah nyanyian merdu yang menggoda kehangatan cinta Anda. Demikian jawaban saya semoga anda bisa lebih berani melangkah .
Salam, Dr. Valens Sili Tupen, MKM



Pos Kupang Minggu 22 Februari 2009, halaman 13 Lanjut...

Memadukan Rok A-Line


Foto reet-petite.co.uk

ROK A-line dengan model bervolume memang sedang tren saat ini . Rok seperti ini cocok untuk bentuk tubuh apa pun. Jika Anda berpinggang ramping, Anda bisa memasukkan atasan ke dalam rok untuk menonjolkan bentuk tubuh Anda. Bila pinggul sedikit lebar, keluarkan bagian bawah atasan Anda.

Di luar hal tersebut, bagaimana ya mempadupadankan rok ini supaya terlihat unik, dan pas dipakai ke kantor, atau ke acara formal lainnya? Aksesori seperti apa yang perlu ditambahkan?

1. Pilih rok dengan panjang yang pas selutut, tidak terlalu panjang atau pendek. Jika terlalu pendek, Anda akan tampak seperti cheerleader.

2. Jika Anda bertubuh kurus atau ramping, pilih rok dengan lipit yang rapat untuk menciptakan lekukan pada tubuh Anda. Kalau tak ingin pinggul Anda menjadi perhatian, pilih rok dengan lipit yang lebih jarang.

3. Pilih atasan yang pas di badan untuk mengimbangi rok yang sudah "mekar", sekaligus untuk menonjolkan lekukan pinggul. Jangan mengenakan atasan tanpa bentuk, atau gombrong.

4. Untuk acara kasual, pakailah t-shirt atau tank top dengan warna berani, dan selipkan ke dalam rok. Gunakan belt model jalin dan sepatu teplek. Anda akan terlihat nyaman namun tidak terlalu cuek.

5. Buat penampilan lebih nyeni dengan blus asimetris yang dipakai di luar, atau kardigan. Tambahkan belt lebar, atau scarf. Pilih sepatu high heels. Aksesori berwarna emas akan membuat Anda lebih "terlihat".

6. Gunakan blus lengan panjang (Oxford shirt) atau kardigan berleher bundar untuk memberi kesan business attire. Jangan lupa anting dan jam tangan. Sesuaikan warna belt dengan sepatu.

7. Untuk penampilan lebih formal, pakai blus bahan sutra dengan warna senada. Kombinasikan dengan belt dan sepatu tertutup. Perhiasan minimalis dan konservatif akan menyempurnakan dandanan Anda.

8. Jika ingin dugem, ganti blus Anda dengan atasan yang berkilau dan high heels bernuansa silver. Tambahkan anting dan gelang. Tinggalkan tas kerja, dan bawalah clutch Anda. (kompas.com)



Pos Kupang Minggu 22 Februari 2009, halaman 13 Lanjut...

Kembalinya Rambut Pendek

FOTO AP
Victoria beckham
dengan gaya
rambut pendek


VICTORIA Beckham memang sering menjadi trend setter. Tak terkecuali model rambutnya. Bila tahun lalu gaya nge-bobnya banyak ditiru, kini potongan rambut istri pesepak bola terkenal, David Beckham, yang pendek dan terkesan simpel, sporty namun elegan itu kembali menjadi tren.

Menurut Alfons, hairstylish Victoria memang selalu muncul dengan hal-hal baru yang ditunggu penggemarnya. Lagi pula, untuk tahun 2009 ini, potongan rambut yang akan tren adalah gaya rambut pendek. "Rambut model bob juga masih banyak peminatnya karena model ini memang long lasting. Berbeda dengan model bob sebelumnya, model bob saat ini punya sedikit layer," katanya.

Meski rambut pendek kembali in, namun Alfons mengungkapkan bahwa rambut panjang tak pernah ditinggalkan. Bila Anda tak ingin memotong rambut panjang kebanggaan, Alfons menyarankan agar Anda memberi aksen gelombang besar pada rambut panjang, ketimbang dibiarkan lurus dan datar.
Sebelum mengikuti tren rambut terkini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pasalnya, tidak semua orang cocok dengan potongan rambut pendek. "Saat ingin memotong rambut, hindari sesuatu yang drastis, apalagi jika Anda berencana mendatangi suatu even besar seperti pesta atau acara penting lainnya," tutur Alfons.

Jika ingin bereksperimen dengan potongan rambut tertentu, sebelum Anda benar-benar memotong rambut Anda, tak ada salahnya untuk mencoba memakai wig terlebih dahulu. Jika memang cocok, maka silakan meneruskan dengan memakai model tersebut. Tapi jika hasilnya tak sesuai, jangan dipaksakan, carilah model rambut lain.

Terakhir, milikilah seorang hairstylist kepercayaan yang mengerti jenis rambut dan potongan yang sesuai dengan Anda. Tidak ada salahnya bila bertemu dengan seseorang dengan potongan rambut yang Anda anggap bagus, tanyakan siapa yang memotong, lalu tanyakan juga bagaimana ia menata rambutnya sehari-hari. Apakah di-blow atau disisir biasa. (kompas.com)

Pos Kupang Minggu 22 Februari 2009, halaman 13 Lanjut...

Yosep Nahak dan Maria Fatimah


FOTO ISTIMEWA
Yosep Nahak bersama istri dan anak-anaknya.

Terpisah tapi Tetap Harmonis

ANAK yang bersikap jujur dan baik merupakan harapan setiap orangtua. Kejujuran merupakan hal terpenting dalam pengembangan kepribadian anak. Inilah yang mendorong keluarga Yosep Nahak dan Maria Fatimah menanamkan kejujuran pada anak-anak mereka sejak dini.

Pasangan yang menikah 17 tahun silam kini telah dikarunia anak-anak, yakni si sulung, Oktaviana Maria Virjin Nahak, lahir di Yogyakarta, 14 Oktober 1993, saat ini kelas I SMA Steladuce I Yogyakarta. Anak kedua, Alberto Diliano Novelito Nahak, lahir di Dili, 24 November 1997, saat ini Kelas VI SD Bertingkat Kelapa Lima-Kupang.

Putri ketiganya, Theresia Alisia Nahak, lahir di Kupang, 2 Januari 2002, saat ini Kelas II, SDK Don Bosco III-Kupang. Dan si bungsu, Mario Paulus Nahak, lahir di Kupang, 26 Juli 2008, saat ini baru berusia delapan bulan.

Sementara ini, keluarga ini harus tinggal terpisah. Putri sulung pasangan ini Oktaviana Maria Virjin Nahak sedang studi di Yogyakarta, sementara, sang istri dan putra bungsunya Mario Paulus Nahak tinggal di Betun- Atambua, untuk meneruskan usaha keluarga.

Sedangkan Yosep bersama dua anaknya tinggal di Kupang. Kendati keluarga ini tinggal terpisah namun mereka tetap keluarga yang kokoh dan harmonis.

Apa saja tips mereka dalan membina hubungan kekeluargaan?
Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (20/2/2009), Yoseph Nahak yang menjabat sebagai Kepala Seksi (Kasie) Pengujian Produk Terapeutik, Narkotik, OT, Kosmetik dan Produk Komplemen, Badan POM Propinsi NTT, ini berceritra banyak.

Alumnus Fakultas Farmasi Universitas Gaja Mada tahun 1993 ini mengatakan, walau terpisah-pisah tetapi keluarganya tetap selalu ada waktu untuk berkumpul bersama. Biasanya pada akhir pekan atau saat hari raya bersama atau saat bertugas ke Atambua, ia selalu meluangkan waktu untuk berkumpul bersama istri dan anak-anaknya. Selain itu, istrinya juga demikian, kalau ada waktu luang akan ke Kupang selalu berkumpul bersama.

Pasangan ini juga sangat mempercayai keputusan yang diambil si sulung di Yogyakarta. Tak ada sedikitpun kekhawatiran pada anak sulungnya yang mulai beranjak remaja dan tinggal sendirian di kota besar. Karena bagi keduanya pendidikan yang diberikan kepada anaknya sejak kecil ketika bersama di rumah, yakni kejujuran, sudah cukup sebagai bekal. Putri sulungnya memang tergolong anak yang mandiri sehingga keduanya tidak khawatir, namuan demikian tetap juga selalu dimonitor melalui kunjungan langsung maupun melalui komunikasi telepon. Kejujuruan yang ditanamkan pada diri anak tersebut membuatnya selalu percaya pada anaknya meskipun komunikasi hanya melalui telepon.

"Di sana dia tinggal di asrama yang diasuh oleh suster. Asrama tersebut memang khusus untuk anak perempuan. Selain itu, saya percaya kepadanya karena kami selalu terbuka untuk berdiskusi tentang apa saja. Karena sejak kecil saya sudah tanamkan kejujuran pada mereka. Kesalahan sekecil apapun, saya katakan kalian harus jujur. Beritahu secara terbuka kepada bapa dan mama, sehingga apapun kosekuensinya harus terima.
Itu yang namanya jujur," kata pria berkulit kuning langsat ini.

Yosep yang menyelesaikan studi Master Kesehatan (S2) di Universitas Erlangga tahun 2002 ini, mengatakan, anak-anaknya sudah terbiasa mandiri. Sejak dini anak- anaknya sudah diberitahu dan ditentukan ke mana mereka akan melanjutkan sekolah. Jadi, kalau suatu saat mereka harus jauh dari orang tua, mereka sudah tidak kaget lagi. "Mereka tahu persis kemana mereka akan melanjutkan sekolah, baik SD, SMP, SMA maupun ketika ke perguruan tinggi. Jadi, mereka pilih dan mereka tinggal sekolah saja. Itulah kebiasaan di rumah.

Makanya kalau mereka harus jauh, ya mau bilang apa. Kami orang tua tinggal saja memenuhi berbagai keubutuhan mereka," katanya.
Dikatakannya, anak-anaknya tidak dibiasakan dengan les-les privat di luar jam sekolah. Untuk itu, karena dia juga hobinya mengajar, dia mengajarkan kepada anak- anaknya beberapa mata pelajaran yang bisa ia berikan kepada anaknya di rumah, seperti IPA, matematika dan bahasa Inggris. Bakat ayahnya sebagai seorang guru ternyata ditularkan kepadanya, dan saat ini ia tularkan lagi kepada anak-anaknya.

Menurutnya, pengalaman anaknya ketika mengikuti les di luar, nilainya malah menurun, makanya saya mulai belajar dari pengalaman tersebut. Kemungkinan mereka tidak sanggup lagi menyerap pelajaran di luar karena di sekolah saja sudah full. Oleh karena itu, sepulang sekolah setelah makan, anak-anak dibiasakan istirahat siang, dan setelah saya pulang kantor pukul 17.00 Wita, barulah mereka saya berikan les di rumah.

Dikatakannya, ia selalu menolak undangan-undangan atau acara di malam hari karena hanya saat itulah ia harus memanfaatkan waktu bersama anak-anaknya. "Kami ini orang sibuk, pertemuan efektif dengan anak hanya pada sore hingga malan hari, saya biasanya memanfaatkan peluang tersebut untuk bersama anak- anak. Makanya kalau ada acara malam jarang saya hadir," katanya. (nia)


Pos Kupang Minggu 22 Februari 2009, halaman 12 Lanjut...

Kena Batunya

Cerita Anak oleh Petrus Y Wasa

DENGAN perawakannya yang tinggi besar, Ardo menjadi anak yang ditakuti oleh anak-anak lain di kelasnya. Membayangkan sosoknya, bagai raksasa kecil, saja sudah membuat ngeri, apalagi harus merasakan ayunan kepalan tangannya. Karena itu apa pun yang diperintahkan Ardo selalu dipatuhi anak-anak di kelasnya. Pernah ada beberapa anak laki-laki yang mencoba menantang perintah Ardo. Namun akibatnya mereka semua babak belur dihajar Ardo.

Di rumah Ardo tidak pernah belajar. Saat ulangan atau ujian dia tinggal menyontek pada anak-anak lainnya. Jika hendak jajan, dia tinggal memerintahkan salah seorang anak untuk membelikan makanan dan minuman yang disukainya. Merasa selalu dipatuhi, tabiat buruk Ardo makin menjadi-jadi.

Dia mewajibkan semua anak di kelasnya secara bergiliran untuk membawa pulang tasnya ke rumah. Anak-anak mematuhi perintah itu meski dengan wajah cemberut.

***

Suatu hari kelas itu mendapat seorang murid baru. Seorang anak laki-laki dengan perawakan sedang. Kata pak guru, dia pindahan dari luar pulau.
"Teman-teman, nama saya Dandy," anak itu memperkenalkan diri.

"Dandy, artinya tidak pernah mandi," Ardo mengejek sambil tertawa. Anak-anak lain memperhatikan tingkah Ardo. Dandy tidak menghiraukannya.
"Saya pindah ke sekolah ini mengikuti ayah saya yang ditugaskan untuk bekerja di kota ini," Dandy melanjutkan perkenalannya.

"Siapa yang tanya?" ejek Ardo lagi. Dandy tidak menggubrisnya. Dandy tetap melanjutkan perkenalannya sampai selesai.

***

"Permisi, saya hendak ke kantin," Dandy meminta izin untuk keluar.
"Tidak bisa. Enak saja keluar. Kamu harus tahu aturan di kelas ini. Pertama, kamu harus membiarkan aku menyontek lembaran jawabanmu saat ulangan atau ujian. Kedua, kebetulan kamu hendak ke kantin, belikan makanan dan minuman kesukaan saya. Kalau belum tahu, tanyakan pada anak-anak lain. Ketiga, kamu wajib membawa pulang tas saya ke rumah. Mengerti?" tegas Ardo.

"Apa? Kamu pikir kamu siapa sehingga kamu bisa memerintah orang lain untuk mengikuti kehendakmu?" Dandy mulai kesal.
"Berani-beraninya kamu menantang saya. Rasakan ini," kata Ardo sambil mengayunkan kepalan tangannya ke wajah Dandy. Namun dengan cepat Dandy mengelak. Secepat kilat kaki kanan Dandy menyabet kedua kaki Ardo. Anak itu pun terjerembab. Kaki Dandy kembali terjejak di atas dada Ardo.

"Ampun, ampun. Saya menyerah," seru Ardo tidak berdaya.
"Makanya jadi orang jangan sok jagoan!" kata Dandy sambil mengangkat kakinya dari dada Ardo.
"Kamu harus berjanji, tidak akan mengulanginya lagi," seru Dandy.
"Ya, saya berjanji," jawab Ardo.

Mendengar itu, anak-anak lain pun bertepuk tangan riuh. Namun ketika Dandy mendekat ke arah mereka, semuanya terdiam. Semua menunduk takut.

"Teman-teman, saya dinasihati guru agar menggunakan ilmu bela diri ini untuk melawan hal-hal yang jahat, seperti yang telah dilakukan Ardo kepada kalian selama ini. Bukan untuk berhadapan dengan orang-orang baik seperti teman-teman ini," ujar Dandy.

Mendengar itu tepuk tangan kembali bergemuruh.(*)


Pos Kupang 22 Februari 2009, halaman 12 Lanjut...


POS KUPANG/ARIS NINU
Kampung tradisional Bena, pesona bagi para wisatawan.

KAMPUNG adat Bena ada dalam wilayah Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu'u, Kabupaten Ngada. Kampung tradisional ini begitu orisinil menyimpan warisan leluhur. Berusia sekitar 1.200 tahun, pesona kampung tradisional ini sangat kental terasa melalui arsitek kuno bangunan rumah-rumahnya dan budaya megalitik.

Arkelog, Dra.Jublina Tode Solo dalam artikelnya berjudul, Bena, Arsitektur dan Megalitik Menggugah Kunjungan menyebutkan pembangunan rumah adat di Bena selalu dilatarbelakangi oleh rasa hormat pada leluhur yang merupakan inti dari budaya megalitik dalam sistem permukiman, pemujaan dan penguburan.
Rumah adat Bena terbuat dari kayu, bambu dan alang- alang berderet rapi pada sisi kiri dan kanan berhadapan dengan halaman tengah berbentuk segi empat yang disebut kisanata. Hubungan harmonis terjalin antar klan yang mendiami rumah berarsitektur tradisional dalam sistim matrilinear. Rumah adat di Kampung Bena terdiri dari tigas jenis bangunan utama yaitu sao saka puu, sao saka lobo dan sao wua ghao serta bangunan pendukung lainnya yakni ngadhu, bhaga, sao kaka dan wekawoe. Sao saka puu lebih bersar dari sao saka lobo dan sao wua ghao. Sebagai tempat utama, sao saka puu harus menempatkan miniatur bhaga (simbol perempuan) di atapnya. Sedangkan sao saka lobo identik dengan ngadhu. Jublina menjelaskan, pola permukiman dan arsitektur tradisional masyarakat Bena dilandasi pola pemikiran tradisi megalitik yang sudah diwarisi leluhur mereka, pakem dan kepercayaan tersebut berlaku universal karena ditemukan juga di sejumlah daerah. Indikasi ini merupakan benang merah keberadaan arsitektur nusantara. Hubungan vertikal degan sistem pola kekerabatan antar klan yang ada di Bena berlangsung harmonis dengan model Kampung Bena yang memiliki halaman kisanatha bersama menunjukan kesetaraan antar suku. Kearifan peradaban pada arsitektur tradisional Bena ini adalah setiap kegiatan yang akan dilaksanakan di Kampung Bena selalu didasari pada kepercayaan terhadap leluhur serta menghargai keberadaan alam, sehingga setoap kegiatan diusahakan meminimalisasi eksploitasi alam dan lingkungan. Bangunan arsiktur Bena tidak hanya merupakan hunian semata namun memiliki fungsi dan makna yang mendalam yang mengandung kearifan yang masih relevan diterapkan masyarakat pada masa kini dalam pengelolaan lingkungan binaan yang ramah lingkungan. "Bila diperhatikan, proses pembuatan rumah adat Bena mulai dari pemilihan lokasi sudah berdasarkan pakem serta perhitungan tertentu. Misalnya, gerbang masuk kampung dibuat dengan struktur susunan batu yang tinggi, suasana kampung tidak terlihat kecuali menapaki tangga masuk paling atas," jelas Jublina. Lahan kampung yang berkontur tanah berbukit tersebut sengaja dipilih untuk kepentingan keamanan kampung. Nilai yang dapat diketahui bahwa masyarakat Bena tidak mengekploitasi lingkungannya ia lahan permukiman yang dibiarkan sesuai kontur asli tanah berbukit. Bentuk Kampung Bena menyerupahi perahu karena menurut kepercayaan megalitik bahwa perahu dianggap mempunyai kaitan dengan wahana bagi arwah yang menuju ke tempat tinggalnya. Namun nilai yang tercermin dari perahu ini adalah sifat kerjasama, gotong royong dan mengisyararkan kerja keras yang dicontohkan dari leluhur mereka dalam menaklukan alam mengarungi lautan sampai tiba di Bena. Jublina juga menuliskan, nilai kerja keras dalam melaksanakan kewajiban terbersit pula dalam tradisi pemberian sua yang dilakukan bagi penerus keluarga. Pemberian sua itu dimaksud untuk membagi tanggung jawab dalam kehidupan yang dikenal dengan sika gaa ngana sega kodo manu dengan tujuan semoga keturunan keluarga dapat memperoleh kemakmuran. Pengertian sua diidentikan dengan tanah garapan yang berarti dalam membangun rumah, tidak cukup hanya membangun fisik semata namun rumah diharapkan mampu memberi kenyamanan dan kesejahteraan keluarga atau penghuni. Sejak keluarga menerima sua, mereka menyadari bahwa kepadanya diberikan hal dan kewajiban. Haknya menggunakan warisan berupa tanah sedangkan kewajibannya adalah menegakan kewibawaan orangtua, leluhur serta seluruh kesatuan masyarakat. Untuk itu, penerima sua harus bekerja keras guna memperoleh sumber kehidupan dengan menggunakan warisan berupa lahan dengan tenaga sendiri bugu wai kungu uri wai logo, yang berarti harus dengan hasil karya tangan serta kekuatan tenaga sendiri untuk mendapat hasil. Dan, adanya tradisi dalam pendirian rumah adat hanya bisa dilakukan bagi mereka yang sudah memiliki sua. Sua ini diharapkan dapat menopang kehidupan keluarga. Ada unngkapan masyarakat setempat yakni, rawa su mara mau, kamu leza mara beza artinya kerja itu mulai dari munculnya embun pagi sampai matahari terbenam. Ungkapan itu mengajak seluruh masyarakat bekerja keras. Mengingat Jasa Leluluhur Tradisi megalitik yang berkembang di Bena dan di Ngada umumnya nampak pada sisa-sisa peninggalan seperti rumah adat tradisional dan monumen-monumen terhadap arwah leluhur. Tradisi megalitik ini maikin dipertegas oleh keseharian hidup mereka yang memuja arwah leluhur, seperti tercemin pada setiap upacara antara lain mendirikan rumah adat (kasao), upacara reba dan upacara kematian (ngekumato). Keberadaan turesa barajo atau kuburan leluhur maupun para tokoh kampung di depan rumah pada ruang publik dimaksudkan agar warga kampung mengingat jasa leluhur yang berjuang kera membuat perkampungan tersebut. Jublina menjelaskan, salah satu upacaya mencega keaslian wilayah ini dan terhidanr dari modereninsasi adalah dengan melarang masuknya jaringan listrik ke wilayah itu. Masyarakat kampung Bena benar-benar bertekad untuk mempertahankan keaslian kampung mereka. Semua rumah dibangun menyerupai rmah adat dan tidak didizinkan membangun rumah dengan campuran yang bergaya modern. Ini sengaja dikondisikan untuk mempertahankan citra perkampungan adat tersebut sesuai sejarah pembangunan kampung tersebut. Nilai peninggalan Pesona arsiketur rumah adat Bena bukan saja pada fisik rumah, namun satu kesatuan antara rumah, kawasan perkampungan, bentuk kampung hingga lingkungan sekitar kampung. Perpaduan dan keselarasan bentuk rumah, lingkungan dan alam dan syarat dengan makna merupakan pesona tersendiri bagi perkampungan ini. Pesona aritektur Bena telah dikenal luas hingga manca negara. Dan, sudah selayaknya masyarakat Bena menikmati peninggalan leluhur tanpa harus meninggalkan ajaran-ajaran para leluhur yang terus diyakini hingga kini. Untuk menumbuhkan ekonomi kreatif, menurut Jublina, perlu diadakan penataan dan memprioritaskan kebersihan kampung, serta meningkatkan sumber daya manusia masyarakat setempat untuk nantinya dapat diberdayakan dalam pengembangan kawasan wisata minat khusus. Wisata Kampung Bena merupakan aset daerah yang tak ternilai harganya, Kabupaten Ngada bisa mengandalkan Bena sebagai objek wisata unggulan, apalagi warga kampung Bena juga sangat ramah terhadap pendatang atau pengunjung. "Wisatawan dapat leluasa bertanya- tanya tentang budaya yang mereka miliki dan akan dijelaskan dengan sangat baik oleh masyarakat setempat. Ini merupakan nilai yang sangat bagus karena membuat wisatawan merasa lebih diterima," jelas Jublina. Selain itu, fasilitas dan akomodasi pendukung wisatawan haruslah disiapkan dengan baik. Fasilitas tersebut tidak perlu dibangun dalam kawasan kampung Bena, tetapi bisa di sekitar atau di Kota Bajawa. Namun akses tranportasi ke Bena haruslah baik. Bila pemandangan alam sangat indah, maka wisata budaya dan wisata alam dipadukan menjadi satu kesatuan objek unggulan yang sangat menarik bagi wisatawan mancanegara. Satu hal yang harus dijaga adalah pembangunan pariwisata Bena harus tetap merangkul, melibatkan dan menghormati kearifan masyarakat setempat, untuk menghindari kesan bahwa masyarakat ini bukan saja sebagai obyek tapi ikut juga merasakan keberadaan destinasi wisata di wilayahnya. (alf)


Pos Kupang Minggu 22 Februari 2009, halaman 11 Lanjut...

Gita Cinta Carolina Aurelia

Cerpen Vinsen Making

SENDU menderu, membongkar paksa tingkap jiwa, mengoyak lengan rajawali hingga terkapar di atas wadas. Bumi bergelora, mengikis habis garis pantai, membopong jiwa yang terluka, merendam sejuta asa pada karang yang kokoh. Cinta adalah segalanya. Ia yang membuat jiwa bersorak ria namun ia pula yang membuat hati hancur tak karuan.

Demikian goresan sang penyair pada hening suatu malam, di dinginnya kota karang yang bergelar ”Kasih”. Ketajaman kata-katanya menusuk masuk ke dalam jiwa tiap pembacanya. Membuat semua hati bergetar dan bergelora lantas hangus, pupus dan lenyap. Ia menggoreskan penanya dari kedalaman jiwanya, menulis di atas air dan awan. Mengirimnya lewat hembusan sang bayu ke segala penjuru, menggapai segala yang ada.

Semua Ia lakukan karena dorongan cinta yang murni. Lewat karyanya Ia mampu menggoncang tingkap-tingkap langit, menguak segala kebobrokan duniawi dan mencengangkan isi bumi. Namun ada satu hal yang belum dapat Ia taklukkan, dan inilah yang menyiksanya tiap saat.

Suasana pagi ini agak cerah setelah beberapa hari kota itu diguyur hujan tanpa henti. Rumah sakit W.Z Johanis Kupang, yang merupakan RSU terbesar di NTT, yang biasanya dipadati oleh pasien kini terlihat agak legang. Maklum hari ini adalah hari Kasih sayang alias Vallentine Day. Kamar rawat inap tiga laki juga terlihat sangat sunyi.

Di dalamnya hanya tinggal empat orang pasien yang masing-masingnya ditemani oleh beberapa orang keluarga kecuali pasien yang paling ujung. Ia hanya ditemani oleh seorang gadis. Tepat pukul 06.30 WITA, kereta dorong berisi makanan untuk pasien melintas ditegah ruangan.

Gesekan antara roda kereta dengan lantai menimbulkan suara gaduh yang amat menyebalkan. ”Ka,.. bangun makan do” suara itu terdengar amat halus dan lembut.

Pasien itu membuka matanya yang agak cekung kedalam dengan berat.”Ka, B suap e,..” tanpa menunggu jawaban, orang ini langsung menggambil makanan tersebut dan menyuapi si pasien. Pasien tersebut adalah si penyair yang tengah sekarat akibat serangan suatu penyakit yang belum dapat dideteksi dengan peralatan kedokteran. Ia terkena serangan dua hari lalu saat tengah menulis sebuah puisi Vallentine buat orang yang paling Ia cintai. Ia sempat tak sadarkan diri beberapa jam lamanya. Gadis yang setia di sampingnya ini adalah Carolina tetangga dari si penyair.

Ia begitu memperhatikan si penyair ini. Ia rela memberikan segalanya asalkan Ia dapat melihat senyum di bibir si penyair. Carolina adalah satu-satunya orang yang setia menemani si penyair dari awal masuk rumah sakit hingga saat ini. Selang beberapa menit kemudian seorang perawat berjalan menuju ke arah mereka dengan membawa beberapa obat. Wajahnya tidak terlihat jelas sebab masker medis menutup sebagian wajahnya. Yang terlihat jelas hanya kedua bola matanya saja. Ka, permisi.

Boleh tinggalkan pasien sebentar?” pinta si perawat dengan halus. Carolina mengganguk dan bergeser ke tempat lain. ”Ka minum obat dulu e..” Energi kasih yang terkadung dalam suara itu, menjalar dari pendengaran si penyair hingga kedalam lubuk hatinya.

Saat itu, bola matanya seakan melonjak keluar dari mangkoknya. Ia amat terkejut dengan siapa yang dilihatnya ini. Tubuhnya yang tadinya lemah dan berat kini terasa kuat dan ringan untuk digerakkan. Ia menekan kedua tangannya pada tempat tidur dan berusaha untuk duduk.

Aurelia,...” sapa si penyair dengan suara yang sedikit gemetar. Aurelia adalah orang yang selama ini dicintai oleh si penyair. Banyak karyanya lahir atas ilham dari orang yang kini berada dihadapannya. Ia adalah seorang perawat, yang baru lulus testing Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditempatkan di rumah sakit W.Z Johanis Kupang.

Mereka sudah lama berkenalan, dan pernah sama-sama menjadi anggota suatu perkumpulan muda-mudi gereja. Aurelia membuka masker penutup wajahnya. Biasan sinar wajahnya menyeruak, aroma keperawatanya membalut tiap luka hati si penyair. Tebaran aura kasih sayang dari seorang Aurelia, memaksa si penyair bertekuk lutut dan membongkar isi hatinya sebagai seorang pria sejati.

Aurelia, sejujurnya selama ini, engkaulah yang ada dibalik semua karyaku. Aku mampu melahirkan tulisan-tulisan indah berkat rasa cintaku padamu. Rasa itu memaksa aku untuk membuat semuanya dan hanya untukmu.... dan Aku sampai terbaring di sini juga karenamu. Aku berjuang melawan gelora cinta dalam batinku... sebab semua hanya terpendam disini di dalam batinku tanpa dapat kuungkapkan lewat bibirku secara langsung dihadapanmu.

Dan inilah saatnya bagiku,.. di hari yang penuh kasih sayang ini, untuk menggungkapkan segalanya. Bahwa Aku amat mencintaimu. Terserah apa katamu tapi Aku terlanjur mencintaimu sejak dahulu, dan cinta ini tak mungkin tergantikan oleh apa pun dan siapa pun,.....” ”Termasuk aku....!!!” suara itu mengagetkan keduanya. Ternyata dari tadi Carolina mendengar semuanya di balik tirai disisi tempat tidur tersebut. Ka,.. kenapa selama ini ka tak ungkapkan seperti itu?, kenapa kebersamaan kita selama ini hanya dipaksakan?” Carolina mengusap air matanya. ”Carolina...” desis si penyair.

Carolina melanjutkan ”Maafkan aku ka,... sebab selama ini kupikir ka mencintaiku.... dan kupikir puisi ini untukku... ” sambil menahan tangisnya Carolina mengeluarkan secarik kertas yang bersisi puisi vallentine yang belum selesai dibuat penyair itu dua hari yang lalu.

Carolina Aurelia Vallentina (Untukmu Sebuah Nama)
Senandung cinta membahana, meneteskan tetesan embun madu dari tingkap-tingkap asmara. Kepakan sayap keremajaanku melebar, membuat jiwa kian mengangkasa, tinggi melebihi awan-awan. Serpihan rindu membuat teguh kaki berdiri, walau dihadang laksyar kegelapan. Kekuatan rasa sayangku padanya membuat langkah tidak terperosok ke dalam jurang kehancuran, dan recikan bara cintaku padanya mengharuskan aku untuk terus berkarya. Aku seperti bebas dari penjara, dan kini aku seperti seorang yang paling merdeka.

Cinta itu mengalir, membuatku hidup selamanya. Sebab Cinta ini benar tulus dari dalam jiwaku. Cinta yang hanya untuk memberi dan melepaskan tanpa meminta apalagi memaksa....dan di hari penuh kasih sayang ini.....

Aurelia tercengang membaca pengalan pusisi itu. Memang dari dulu Ia juga menanti saat seperti ini. Saat dimana si penyair mengutarakan cinta untuknya. Disisi lain dalam isaknya, Carolina kembali berujar ”Ka, ini terlalu sakit, dan pedih,...” si penyair menggenggam tangan Carolina, menariknya ke dalam pelukannya dan berbisik ”Inilah arti cinta itu sesungguhnya... Aku mencintaimu sebagai saudariku, dan keluargaku. Berbeda dengan cintaku pada Aurelia... engkau mengerti kan maksudnya?” Carolina mengangguk kecil dalam dekapan si penyair. Aurelia pun tidak ketinggalan dalam adegan duka ini. Sebagai wanita Ia pun merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Carolina. Perih dan sakitnya tak terkira, namun benar apa kata penyair itu bahwa; cinta sejati adalah cinta yang dapat memberi dan melepaskan tanpa meminta apalagi memaksa....

Buat Gadisku di kota karang.....
Happy Vallentine Day




Pos Kupang Minggu 22 Februari 2009, halaman 6 Lanjut...

Puisi Santisima Gama

Sahabatku Adalah Jiwaku

Ketika gelap selimut kalbu
Putih hati ternoda menatap alam
Namun di saat aku mengenalmu
Ku sentuh hatimu
Dengan sulaman kata-kata elok
Dan akhirnya runtuhkan jiwamu yang beku
Kaupun kini terbangun
Dari mimpi buruk
Yang telah merobek batinmu


Masi ada ragu di mata elangmu
Tapi aku tak gentar
Akan kutembusi hingga ke relung sukma
Ku taburi rajutan kata indah
Membentuk bahasa kalbu
Menghiasi bingkai hatimu
Kuyakinkan kau untuk mengecap
Sejuta makna kasih.

Kasih seorang sahabat yang akan setia
memapah diri dalam ketakberdayaan
Sahabat yang menjadi belahan jiwa
Di sepanjang hidupmu
Satu senyum dariku adalah harapan
Untuk berbagi kisah
Dan satu tetesan air mata ini
mengharapkan jemarimu untuk hapuskan
beban penat di dada

Sahabatku,
sambungkanlah pita cinta yang terputus
oleh luka dan dusta
Lupakan segalanya
Karena keinginan menyatu
Dalam nafas cintamu.
(Buat sahabat spesial di SoE)


Pos Kupang Minggu 22 Februari 2009, halaman 6 Lanjut...

Puisi Selamat Frans

Pantun Si Lontar

Pohon lontar tinggi melambai
Unkris tegar sebelah selatan
Mari saudara kita bersalaman
Tali hati selalu merangkai

Saboak jatuh menimpa karang
Tumbuh terhimpit karang senusa
Kita boleh berbeda pandang
Tapi jangan masa ke masa

Anak lontar terus meninggi
Kering kerontang melingkar seputar
Yang dibangun harapan tinggi
Walau aksi ketir-ketar

Anak lontar dari Saboak
Tumbuh julang tempat bernaung
Mari kawan biar sejenak
Tukar pandang enak senang

Lontar tua lontar muda
Tumbuh sana teluk Oesapa
Bagi bangsa dan negara
Kita belajar dan berkarya

Ombak gulung ombak datang
Pantai Oesapa terus merindu
Sampe sudah waktur datang
Janji harap lestarikan aku

Oesapa, 31 Mei 2006
Catatan: Saboak = buah lontar


Pos Kupang Minggu 22 Februari 2009, halaman 6 Lanjut...

Prof. Dr. Nabisi Lapono, M.Pd


Pos Kupang/
alfred dama

Prof. Dr. Nabisi
Lapono, M.Pd
















Meraih Cita-cita Masa Kecil


PADA tanggal 23 Desember 2008 lalu, Nabisi Lapono merampungkan cita-citanya dalam dunia pendidikan. Guru bangke (guru besar) yang mejadi keinginannya sejak kecil akhirnya tercapai. Ia dikukuhkan sebagai guru besar di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan FKIP Undana.

Bercita-cita menjadi guru besar sejak masih di sekolah dasar (SD). Cita-cita tersebut tertanam dalam sanubarinya hingga akhirnya keinginan tersebut tercapai. Namun, pemahaman awal menjadi guru besar bukanlah menjadi seorang profesor. Nabisi kecil dulu hanya berpikir bahwa guru besar adalah sosok pengajar pada perguruan tinggi atau dosen. Sebenarnya, pria sederhana yang lahir di Poso-Sulawesi Tengah ini datang di Kupang bukan merupakan bagian usahanya menggapai cita-citanya itu.

Tapi waktu kemudian yang membuktikan bahwa sebagian masa hidupnya di abdikan di Bumi Flobamora. Di sini pulalah, cita-citanya itu tergenapi.
Berikut petikan petikan perbincangan Pos Kupang dengan Prof. Dr. Nabisi Lapono, M.Pd di kediamannya di Kelurahan Oesapa, belum lama ini.

Dalam orasi ilmia pada acara pengkuhan Anda sebagai guru besar, Anda mengatakan menjadi guru besar adalah cita-cita sejak kecil.
Jadi begini. Dulu, di Poso, ada satu desa yang kesadaran pendidikannya cukup tinggi, yaitu Desa Taripa di Kabupaten Poso. Anak-anak di desa itu semuanya sekolah. Mutu sekolah di situ cukup bagus dan saya bersyukur bisa berada di desa itu. Kakek saya guru di sekolah itu. Dan, beliau jengkel melihat saya selalu memperhatikan dia. Kalau dia mengajar, kemana dia pergi, di situ saya perhatikan dan beliau menegur, tapi menegur sebagai kakek. Waktu itu tidak sebagai guru.

Dia tanya, besok kalau sudah besar mau jadi apa. Saya langsung menyebut guru bangke, dalam bahasa daerah kami yang artinya guru besar. Bukan gurunya yang saya tertarik, tapi kesempatan menjelaskan sesuatu pada orang lain, itu yang saya tertarik. Kemudian SMP, tetap perhatian saya adalah guru. Sering kali saya lihat guru di desa ambil gaji di kecamatan sementara transportasi itu masih susah dan saya SMP di kecamatan. Dan, saya kembali berpikir kalau guru cuma begini, buat apa? Kemudian SGA, lulus SGA langsung ditawari jadi guru, saya tolak. Oleh Dinas Pendidikan, saya diminta serahkan ijazah saya, tapi saya tidak mau.

Anda mendapat kesempatan kerja tapi kenapa ditolak?
Karena saya ingin sekolah. Saya mau jadi guru tapi yang dosen. Saya dapat kesempatan sekolah di Salatiga. Pulang dari Salatiga sudah gelar BA, dipaksa lagi untuk diangkat jadi guru. Saya bilang kalau cuma jadi guru kecil, saya tidak mau. Cuma saya sejak di SGA, ada pelajaran kepegawaian jadi kebetulan saya lihat ada satu buku kepegawaian saya baca. Di situ dijelaskan jadi guru bagimana, dosen bagaimana dan dosen paling enak.

Begitu lulus sarjana muda dan mau diangkat jadi guru saya tetap tidak mau. Saya katakan kepada kepala dinas (pendidikan), dia om saya, om saya tidak mau jadi pegawai negeri yang guru, saya mau pegawai negeri yang dosen. Beliau mengatakan, sombong sekali kamu. Kamu kira gampang jadi dosen. Saya bilang, memang tidak gampang. Jadi setelah selesai masa wajib kerja lima tahun, saya nekat ke Salatiga untuk studi lanjut doktoral. Dengan tekad biasa sendiri.

Lalu bagaimana Anda bisa sampai ke Kupang?
Saya punya target itu sebelum umur 40 tahun, saya sudah menjadi dosen PNS. Waktu di Salatiga saya kuliah sambil bekerja sebagai pengelola sekolah swasta milik Gudang Garam. Saya waktu itu dikontrak oleh gudang garam untuk mengelola sekolahnya. Anda tahu, pada tahun 1976, saya digaji Rp 250 ribu. Nah, waktu itu gaji PNS Rp 18 ribu. Waktu saya kelola sekolah itu saya bilang saya tidak mau jadi pegawai tetap, saya mau dikontrak pertahun.

Jadi tahun pertama gaji Rp 250 ribu, tahun 1977 dinaikkan mejadi Rp 300 ribu, tahun 1978 dinaikkan menjadi Rp 400 ribu, 1979 dinaikkan menjadi Rp 450 ribu, 1980 menjadi Rp 500 ribu. Dengan fasilitas cuti dibiayai. Saya punya hak boleh punya rumah, boleh punya mobil. Tapi rumah dan mobil saya tidak terima karena saya hanya kontrak, sebab kalau saya terima pasti ditahan. Karena target saya adalah dosen yang pegawai negeri, sambil saya bina hubungan dengan perguruan tinggi yang paling dekat dengan IKIP Malang, Satya Wacana, IKIP Singaraja. Tahun 1980, umur saya 37 tahun dan saya berpikir mulai melamar. Saya minta berhenti dari Gudang Garam tapi ditolak, sehingga saya minta cuti. Cuti diizinkan dan diberikan Uang Rp 1 juta. Itu menjadi modal saya untuk melamar kerja. Saya masukkan lamaran di IKIP Malang, saya ke Denpasar masukan lamaran di IKIP Singaraja dengan target waktu itu setelah Denpasar saya ke IKIP Ujung Pandang dan terakhir ke FKIP di Universitas Tadulako di Palu. Dengan uang Rp 1 juta, saya aman dan itu status cuti.

Setelah selesai urusan di Singaraja, saya mau cari tiket di Denpasar, sampai di kantor Merpati saya lihat ada garis merah Denpasar-Kupang-Makasar. Jadi saya berpikir lebih baik ke Kupang dulu karena salah satu orang Kupang pacaran dengan saya punya famili. Saya tiba di Penfui-Kupang tanggal 2 September 1980 dan nginap do Hotel Astiti dan langsung mengajukan lamaran ke Undana. Tanggal 3 September 1980 saya dipanggil Undana, waktu itu di Naikoten. PR II waktu itu Ibu Mia Noach, teman dari Salatiga juga. Begitu saya masuk di kantornya, langsung belia mengatakan, You kerja di sini saja. Waktu itu ada kebijakan dari pemerintah daerah yang memberikan uang biaya ganti perjalanan Rp 180 ribu. Saya diminta menerima uang itu.

Apakah Anda langsung terima?
Tidak, saya belum mau terima. Saya bergumul, saya hanya cuti dari Kediri dan sasaran saya mau pegawai negeri yang dosen. Saya omong sama Prof. Noach, dia mengatakan, sudah di sini saja, nanti diangkat di sini. Saya minta izin untuk bepikir. Dua minggu saya tidak keluar dari kamar hotel di Astiti. Berdoa. Tiba-tiba satu pagi, saya bangun, mandi dan seperti terkendali saya langsung ke Undana masuk ke ruang PR II, saya langsung bilang, saya terima.

Menurut Anda, apa yang menjadi alasan Undana langsung merekrut Anda?
Pada tahun 1979, seluruh perguruan tinggi negeri wajib melaksanakan sistem kredit semester. Saya adalah lulusan Satya Wacana yang sudah mengikuti sistem kredit semester. Jadi harapan rektor dan Ibu Mia agar saya menyiapkan aturan akademiknya.

Orasi ilmiah Anda tentang proses belajar. Apa yang menarik dari suatu proses belajar?
Saya melihat dari sekian item penyelenggaran pendidikan, terutama pendidikan formal, sangat tergantung pada proses di dalam kelas. Itu yang saya coba renungi dan dari proses di dalam kelas ini nampaknya yang paling perlu dilakukan adalah aspek belajar. Jadi, di sekolah itu, guru sebenanya hanya fasilitator. Masalah yang saya lihat, guru ini tidak menciptakan kondisi yang memungkinkan peserta didik aktif, berinisiatif sendiri. Ini yang saya coba kaji melalui pidato pengukuhan, kemarin. Memang Rektor mengatakan bahwa hasil analisis ini sifatnya subyektif, artinya itu secara subyektif mahasiwa menilai.

Dalam orasi itu, Anda mengatakan motivasi mahasiswa masih rendah?
Mungkin saya punya kajian disertasi dan kajian itu saya sudah renungkan ketika saya menemukan tahun 1980 di Undana. Ada fenomena orang NTT terdiri dari sekian etnik, ada beberapa pulau besar dan saya ambil per pulau waktu itu. Saya analisis prestasi mereka, saya temukan bahwa mahasiswa yang dari luar NTT itu prestasi akademiknya lebih tinggi ketimbang mahasiwa di NTT. Nah, perbedaan prestasi ini saya uji dan signifikan dan berarti sesuati yang harus menjadi perhatian. Ketika saya kuliah doktor dan saya ambil bidang psikologi pendidikan, saya coba kaji. Dan secara hipotetik saya mencoba mengemukan jawaban atas pertanyaan yang disampaikan tadi. Apakah karena iklim cuaca dengan suhu udara yang tinggi sehingga motivasi berprestasi itu rendah. Akhirnya saya bilang begini, ada satu kemungkinan bahwa mahasiwa NTT yang kuliah di Undana hanya sisa-sisa. Mereka yang potensial umumnya kuliah ke Jawa. Itu satu jawaban yang saya temukan, apakah itu kemudian saya usulkan, Undana coba merebut calon mahasiwa potensial dari SMA/SMK untuk datang ke Undana. Maka munculnya PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) itu. Jadi kita mencoba memberikan kemudahan kepada lulusan SMA/SMK yang potensial untuk datang ke sini (Undana), karena saya melihat biaya dari Flores ke Jawa lebih murah dari biaya dari Flores ke Kupang. Itu sudah fenomena dari dulu, sehingga itu disetujui.
Setelah ini berjalan sejak 1987, kok sama saja. Ketika saya cari tahu mahasiswa yang berprestasi di Undana ini berasal dari luar NTT, mereka datang dari dari Bima- NTB, Bali, Jawa Timur. Ketika saya lihat kode sekolah asal mereka ternyata mereka ini bukan berasal dari sekolah- sekolah yang ada di dalam kota. Umumnya luar kota. Saya berpikir, masa orang NTT kalah dari orang pinggiran di Jawa Timur, pinggiran di Bali dan NTB. Ini yang mengganggu pikiran saya. Saya baca berbagai kajian dari berbagai segi psikologi, kuncinya pada motivasi. Jadi dalam diri manusia itu ada dorongan dalam bidang akademik, berarti berprestasi secara akademik.

Dalam orasi ilmiah, Anda juga mengatakan sebagian mahasiwa Undana tidak memiliki motivasi belajar. Mengapa?
Ketika saya melakukan penelitian desertasi itu, saya banyak wawancara dengan mahiisswa. Saya tanya, kamu kuliah mau cari apa? Umumnya jawabnya pokoknya kuliah. Saya tanya ke mahasiswa Fakultas Hukum, kamu punya cita-cita untuk apa belajar hujum?, Jawabannya 'sonde tahu, pak. Pokoknya kuliah'. Itu jawaban yang buat saya agak heran. Saya coba kondisikan agar jawaban di luar itu, tetap pada jawaban semula. Tidak adanya suatu dorongan. Umumnya mereka kuliah karena teman kuliah, maka saya harus kuliah, karena teman di Fakultas Hukum maka saya juga di situ. Jadi tidak ada motivasi. Dalam motivasi berpretasi ada satu aspek yang disebut dengan harapan kesuksesan. Kemudian saya coba kejar, masa sama sekali tidak ada harapan lain selain kuliah. Besok kalau kamu sudah dapat sarjana, kerja apa? Dijawab PNS. Ada satu yang menarik saat saya tanya mahaiswa Jurusan Perikanan dan Kelautan, waktu itu dibuka jurusan ini. Saya pernah memperhatikan mahasiwa di halte (Jalan Urip Sumoharjo-Kupang). Mahasiswa yang turun dari bis dari Undana itu tidak pulang tapi masih duduk-duduk di situ. Ketika saya dengar yang mereka obrolkan itu non akademik. Saya coba dekati dan tanya, tadi kuliah apa, kadang-kadang mereka sendiri tidak tahu, tadi itu kuliah apa. Jadi mata kuliahnya saja tidak tahu, apalagi kalau saya tanya yang dibicarakan dalam perkuliahan itu apa? Jadi itu tanda-tanda tidak ada motivasi.

Anda juga menyebutkan mahasiswa tidak terlalu mementingkan hasil kuliah.
Semua orang punya alasan, jadi dalam motivasi disebut akribusi kausal. Seringkali mahasiswa tidak mempersoalkan kalau hanya mendapat nilai C dalam mata kuliah. Saya tanya kira-kira penyebabnya apa, jawabnya 'sonde tahu, pak'. Pokoknya dikasih C diterima saja. Jadi akribusi kausal mereka sama sekali nonakademik. Mahasiswa dengan motivasi prestasi tinggi, dia akan bertanya dalam dirinya, saya dapat nilai C mungkin karena tugas aya tidak lengkap. Saya juga tanya sama mahasiswa, dosen kasi nilai A, kamu bangga atau tidak, dijawab 'sama saja'. Itu temuan saya dalam penelitian. Fenomena ini diperparah dengan aspek ketiga, dari motivasi bepretasi. Orang akan giat melakukan sesuatu bila teman-teman di lingkungannya giat.

Lalu siapa yang harus memotivasi mereka?
Ya, itu tugas dosen. Anda coba bandingkan dengan perguruan tinggi terkenal. Kita ambilah Atmajaya. Itu kalau kita lihat kedisiplinan dosen. Dosen cukup aktif, dan umumnya fakultas-fakultas, program studi yang mahasiswanya berprestasi dengan baik itu adalah fakultas, universitas, program studi yang melaksanakan proses belajar mengajar intensif.

Terkadang tingkat pendidikan dosen tidak berkorelasi positif dengan peningkatan mutu pendidikan?
Dulu ada program beasiswa dari Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan, Emil Salim. Banyak dosen Undana yang ramai-ramai ambil beasiwa itu. Orang-orang FKIP dari Program Studi Geografi ambil Kependudukan, Prodi Pendidikan juga Kependudukan, Prodi BK ke Kependudukan, dosen-dosen Fapet banyak juga yang ke Kependudukan. Ada beberapa doktor di Undana yang sarjana BK, tapi ambil S2 dan S3 Kependudukan sehingga untuk menjadi guru besar susah, karena Program Studinya Bimbingan Konseling. Nah di dalam BK tidak ada Kependudukan. Jadi ketika Anda mengatakan tingkat pendidikan tidak berkorelasi langsung itu betul karena ketika pergi sekolah lanjut itu tidak didasarkan pada keinginan saya sebagai seorang dosen mau berkembang di bidang apa. Itu masalah di Undana. Jadi diversifikasi lanjut mungkin baru Prof. Frans Umbu Datta sebagai rektor, secara sadar ketika seorang melamar untuk studi lanjut dilihat dulu bidang studinya. Tapi kalau bidang studinya mau perdalam yang sudah banyak orang pada bidang itu maka biasanya langsung tidak disetujui. Jadi bukan tidak setuju orangnya pergi studi, tapi pergilah sesuai dengan kebutuhan program studi. Jadi kita punya doktor, magister di Undana itu banyak yang tidak relevan dengan keilmuan dasar. (alfred dama)


Profesor yang Sederhana


SAAT ditemui Pos Kupang pertengahan bulan Januari lalu, Prof. Dr. Nabisi Lapono, M.Pd mengenakan kaos tipis, celana pendek dan sandal jepit. Bukan hanya penampilannya yang sederhana, kediamannya pun sangat sederhana bila dibandingkan dosen-dosen Undana lainnya. Rumah sang profesor di Jalan Dalek Esa No. 20 Kelurahan Oesapa-Kupang itu berdinding bebak dan berlantai semen kasar.

Di ruang tamu, tempat wawancara, hanya ada dua kursi kayu yang menemani satu meja. Sedikitpun sang profesor terlihat canggung dengan penampilan dan kediamannya yang sederhana tersebut.
Mengapa Anda memilih hidup sederhana, padahal Anda mampu? Dia menjawab, "Ada enam sistim nilai. Sistim yang pertama teoritik, sistim ekonomi, harmoni, sosial, politik dan keenam theologi. Setiap orang punya keenam sistim ini. Bedanya ada pada urutan. Saya mengurutkan yang paling utama adalah theologis baru teoritik, sesudah teoritik baru harmoni, sesudah harmoni baru sosial, ekonomi yang paling akhir".
Tuhan di urutan pertama dan dan ekonomi di urutan buntut. Artinya materi bukan merupakan hal utama dalam kehidupannya.
"Anak saya pernah meminta saya untuk merenovasi rumah, supaya lebih baik tapi saya bilang tidak usah. Biar saja begini, kita juga tetap bisa tinggal to," paparnya.
Sikap sederhana ini juga terbawa dalam pola hidup. Sang profesor suka berkebun "Tadi Anda menelepon saya, saya sedang membersihkan kebun. Karena saya berasal dari keluarga petani dan orangtua saya selalu mengatakan bahwa tanaman itu makluk hidup dan bisa memberikan hiburan. Saya punya rumah di Salatiga dengan lahan yang hanya 11 kali 30 meter, separuhnya itu tetap kebun," jelasnya.

Kebun kecil milik Nabisi tidak ditanam bunga, namun ditanam aneka jenis sayuran, umbi-umbian serta buah- buahan. Kerap dia bertengkar dengan istrinya, Dra. Lilian Soesilo,M.Pd yang lebih suka menanam bunga. "Kalau istri saya tanam bunga, saya cabut dan ganti dengan sayur-sayuran. Ini yang membuat kita sering bertengkar," jelasnya.

Ayah tiga anak ini juga memilih makanan yang higienis. Bahkan untuk sayuran saja tidak boleh tersentuh pisau saat proses memotong atau mengupas. "Istri saya Cina- Kediri. Ketika dia bilang mau bersuamikan saya, saya bilang boleh, tapi saya petani. Pola hidup saya pola hidup herbal, jangan kamu masakan saya masakan Cina, tapi rebuskan saya makanan rebusan. Saya dan istri sering bertengkar karena ketika mau menyiapkan masakan kangkung dia iris. Menurut orangtua saya, sayur kalau sudah kena pisau, itu berubah. Jadi harus dengan tangan, dipatah saja. Jadi sering kali istri saya kalau masak kangkung, kalau saya tidak lihat, dia iris pakai pisau, begitu saya tahu diiris maka saya tidak makan. Jadi kalau beli sayur kangkung, biasanya saya yang potong," jelasnya. (alf)


Data Diri
Nama: Prof. Dr. Nabisi Lapono, M.Pd
Tempat Tanggal Lahir : Poso 16 Desember 1943
Pekrjaan : Dosen Undana/Pengasuh Mata Kuliah Metodologi Penelitian, Pendidikan dan BK
Pendidikan : Sekolah Rakyat (SR) GKST Taripa tamat 1956
: SMP Kristen GKST Tentena 1960
: SGA Kristen GKST Tentena 1964
D3 Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga 1967 (SM Bimbingan Konseling/BK)
S1 Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga 1976 (BK)
S2 IKIP Negeri Malang 1996 (BK)
S3 Universitas Negeri Malang 2004 (Psikologi Pendidikan)
Istri :Dra. Liliana Soesilo, M.Pd
Anak : Billy Lapono, S.Kom
Laura Anastasia Seseragi Lapono, S.Si
Novalia Sesentowe Pataga Lapono, S.Si

Pos Kupang Minggu, 15 Februari 2009, halaman 3 Lanjut...

Bukan Valentine

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

ADA apa gerangan di rumah Jaki? Musik hingar bingar. Lampu kelap kelip bak malam natal. Joget, dansa, jaÆi, gawi, poco-poco, cha cha cha, goyang dangdut silih berganti. Pesta Valentine Day. Jaki lagi mabuk asmara. Cintanya pada Nona Mia diterima pukul enam pagi, tepat pada hari valentine. Berita ini mengejutkan Rara dan Benza.

"Mungkin Nona Mia sudah buta," Rara tampak sangat kecewa dengan keputusan Nona Mia menerima cinta Jaki. Maklum, si Rara juga setengah mati mengemis cinta kembang kampung itu.

"Bagaimana mungkin Nona Mia jatuh ke dalam pelukkan Jaki?" Rara penasaran bukan main. "Oh, aku tahu pasti! Nona Mia pasti kena guna-guna! Dasar Jaki hitam keriting," Rara cemburu.

"Mungkin karena hitamnya Jaki susah dicari. Biar rambut keriting tetapi hatinya lurus," Benza santai saja memberi komentar, meskipun hatinya juga penasaran menanti jawab Nona Mia.
***
Usut punya usut ternyata Jaki sudah jadi PNS. Matanya terbelalak menemukan namanya lulus test. Setelah menunggu bertahun-tahun, akhirnya Jaki lolos jadi PNS. Jaki meloncat kegirangan berlari kian kemari. Tanpa pikir panjang dia langsung lari ke rumah Nona Mia. "Nona Miaaaaa..." teriaknya. "Saya lulus pe en eeeees, lulus pe en eeesssss, pe en eeeeeessss...."

Nona Mia pun meloncat dari tempat tidur dan berlari keluar. Keduanya berpelukan. "Nona Mia, aku lulus, luluuuuuuuussss..."
"Engkau lulus pe en es Jaki?" Nona Mia dapat menguasai dirinya. "Selamat ya Jaki. Aku bangga padamu. Engkau sudah punya masa depan cerah sebagai pe en es. Setiap bulan kamu pasti terima gaji, dapat tunjangan beras, punya askes, punya macam-macam ruang dan peluang dapat uang. Aku harap kamu benar-benar jadi pe en es yang bermartabat," kata Nona Mia.

"Nona Mia, aku mencintaimu! Aku melamarmu menjadi kekasihku. Maukah engkau menerima cintaku, hai Nona Mia yang selalu kurindu?" Jaki berlutut di kaki Nona Mia, tepat jam enam pagi.

"Ya, Jaki aku pun mencintaimu. Sudah lamaaaa cintaku terpendam, kini kuungkapkan dengan sepenuh hatiku," Nona Mia dan Jaki berpelukan, Rara dan Benza membuang muka.

"Hmmm sombong!" Rara tidak dapat menahan diri.
"Nona Mia sayangku," Jaki dan Nona Mia duduk di teras rumah. "Syukur, aku sudah bisa utang, bisa cicil motor, bisa cicil tanah, bisa cicil rumah, bisa hidup lebih mewah dari Rara dan Benza...Engkau akan menjadi istriku yang mengatur semuanya bukan? Aku bisa cicil kalung, cincin, gelang emas untukmu..."

"Tetapi gajimu berapa untuk bayar cicil motor, tanah, rumah, emas? Aku nanti makan apa? Anak-anakku makan apa?"

"Nanti kamu dapat tunjangan istri. Anak-anak kita nanti akan dapat tunjangan anak. Kita bisa berduaan terus sepanjang waktu untuk membuat hari-hari lebih indah!"
"Bukankah kamu harus bekerja melayani masyarakat? Bukankah kamu harus mengabdi dari pagi sampai siang? Bukankah sumpahmu sebagai pe en es harus ditepati?" Tanya Nona Mia.

"Aku pe en eeeees, Nona Mia. Kerja tidak kerja tetap dapat gaji. Mengabdi tidak mengabdi dapat duit. Setia sumpah atau tidak, tetap dapat uang. Santai bukan? Sepanjang engkau ada disampingku, semuanya menjadi berbunga-bunga..."
***
Sungguh meriah pesta malam itu. Yang pasti bukan Valentine Day, tetapi hari kelulusan Jaki sebagai PNS, bertepatan dengan hari cinta Jaki diterima Nona Mia. "Ayoh, moke, moke lagi!" Jaki berjingkrak-jingkrak sampai mabuk.

"Nona Mia cintaku," Jaki memelas. "Kuabdikan segenap hidupku untukmu. Aku akan selalu menjagamu siang dan malam, sebab dengan bekerja setengah-setengah pun aku tetap terima uang. Jangan pergi... percayalah padaku sayang..."

Tiba-tiba Nona Mia jadi mual. Nona Mia pun ambil keputusan untuk pulang saat itu juga.

"Halo Nona Mia," Rara sudah berdiri tegak di ujung gang menuju rumah Jaki. "Boleh kuantar pulang?" Tanya Rara sambil menempel di sisi Nona Mia. "Tunggu setahun lagi ya. Tahun depan, aku pasti jadi pe en es. Gajiku nanti lebih besar dari Jaki. Kalau aku lagi tugas keluar daerah, kamu bisa ikut. Kita bulan madu sepanjang waktu," Rara meraih tangan Nona Mia dan disambut dengan hentakan keras. Nona Mia yang memang jago karate.
***
"Halo Benza, tolong antar aku pulang," dalam sekejab Nona Mia sudah berada di belakang Benza. Vespa pun melaju kencang.

"Nona Mia, tahun depan aku jadi pe en eeessss," teriak Rara sambil menggapai-gapai.
"Nona Mia, aku sudah jadi pe en eeess..." Jaki pontang-panting mengejar Nona Mia dan Benza. (*)


Pos Kupang Minggu 15 Februari 2009, halaman 1 Lanjut...

Cemburu Bikin Susah Tidur

Dokter Valens Yth,

SALAM sejahtera dan selamat bertemu. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada dokter, saya ingin segera menceritakan masalah saya ini. Saya Ratna, 26 tahun, Diploma Bahasa dan saat ini sudah bekerja pada suatu perusahaan swasta di kota Kupang.

Sedangkan Jack, pemuda ganteng yang telah berpacaran dengan saya selama dua tahun ini, berasal dari Flores Timur dan bekerja pada salah satu LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) di kota Kupang juga.
Jack adalah pacar saya yang ketiga. Dua yang lainnya kini sudah menikah dengan gadis lainnya.

Setelah bertemu dengan Jack saya tidak ingin dia juga kelak pergi seperti kedua pemuda yang terdahulu. Oleh karena itu saya benar-benar berusaha menjag agar Jack bisa tetap saya kontrol. Hanya saja sesuai pekerjaannya, jack sering sekali keluar kota atau melakukan perjalanan ke kota lainnya.

Inilah yang sering membuat saya kuatir dan kadang cemburu. Saya kuatir kalau - kalau Jack bisa bertemu gadis lain di suatu tempat lain yang jauh dari saya. Atau kadang juga saya cemburu dan curiga pada teman kerja dan teman seperjalanannya. Meskipun Jack sudah sering menjelaskan bahwa, dia tidak memiliki hubungan khusus dengan orang lain selain aku, tapi saya selalu kuatir dan paling repot adalah cemburu yang kadang tidak jelas alasannya.

Dan pikiran semacam ini sering membuat saya tidak bisa tidur nyenyak kalau Jack sedang pergi jauh. Padahal saya sangat ingin juga bisa hidup damai, tenang, tentram dan bahagia. Oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini saya ingin tanyakan satu - dua hal, Bagaimana cara mengatasi kekuatiran dan rasa cemburu yang sering membuatku bingun dan sulit tidur. Apakah saya perlu minum obat penenang.

Ataukah saya harus larang Jack untuk pergi dengan taruhan cinta saya. Walaupun saya pernah dengar kata orang bahwa cemburu itu baik dalam hubungan cinta, tapi saya merasa berat karena sudah mengganggu ketenangan hati saya. Saya beberapa kali tidak masuk kerja karena tidur terlambat dan bangun terlambat.

Jawaban dokter saya tunggu untuk membantu saya mengambil langkah ke depan. Atas jawaban dokter saya ucapkan terima kasih.
Salam, Ratna, Oepoi - Kupang

Saudari Ratna yang baik,
SALAM juga buat anda. Saat membaca Surat Anda kesan awal biasa-biasa saja, karena kuatir, curiga dan cemburu memang adalah bagian dari cinta. Namun bila sampai membuat Anda tidak bisa tidur dan menggannggu pekerjaan, maka itu sudah luar dari biasa. Ini adalah bagian dari galau dan tekanan hidup.

Sebetulnya, ketegangan dan kekacauan ini bukanlah penyakit unik yang hanya dialami oleh anak muda milenium baru ini. Di dalam kehidupan selalu saja ada awan krisis yang mengggelapkan bagian kehidupan yang lebih cemerlang. Oleh karena itu Anda dianjurkan untuk bisa belajar hidup bersama dan berusaha akrab dengan tekanan-tekanan ini.

Bahkan bila memungkinkan, anda harus mampu merebut kemenangan dari hatimu yang bergolak saat ini. Hidup anda tidak berharga kalau anda tidak bisa mencapai rasa tenang. Dengan kata lain, Anda harus bisa tidur bersama dengan jiwa Anda yang merdeka dan mampu menghirup napas ketenangan. Maxwell Maltz, MD., F.I.C.S dalam bukunya " Kekuatan Ajaib Psikologi Citra Diri", menulis, : Berjuta-juta orang menyiksa dirinya dengan kegelisahan, karena selalu kuatir dan tidak punya keyakinan. Mereka tidak bisa menerima kekurangan mereka.

Sulit sekali bagi mereka untuk konsentrasikan pikirannya tentang apa saja. Mereka bahkan merasa bersalah atas apa yang mereka anggap sebagai kegagalan dalam hidup." Kalau pikiran anda mengembara dari satu kegelisahan kepada kegelisahan yang lain, maka itu merupakan suatu rantai yang mengikat Anda, dan itu berarti anda bukan orang yang merdeka.

Dalam buku How To Relax in a Bussy World, Floid and Eve Corbin, menulis, " Kalau Anda terbiasa mengundang pemikiran negatif ( cemburu, curiga, irihati, kekesalan dan ingat diri sendiri) maka anda harus segera sadar dan berdamai dengan diri anda sendiri bahwa hal ini tidak baik dan bisa menjadi faktor pengganggu.

Semakin besar kemampuan anda untuk menerima kelemahan anda, akan semakin mudah mencapai ketenangan dalam pikiran anda " Ada sebuah pepatah kuno Cina, mungkin cocok untuk anda renungkan : Engkau tidak bisa mencegah burung di udara yang terbang diatas kepalamu, tapi engkau tidak perlu membiarkannya bersarang di rambutmu." Ini suatu nasihat bagi anda bahwa cemburu dan kuatir selalu akan datang namun jangan sampai Anda membiarkannya merusak diri dan hidup anda sendiri. Kekuatiran adalah setan yang paling merusak.

Kalau kekuatiran mempengaruhi pikiraan Anda, maka hari-hari anda akan menyedihkan dan malam-malamnya tidak tertahankan. Untuk mengatasinya anda tidak perlu minum obat penenang. Ada tiga gagasan untuk mengatasi kekuatiran anda Pertama, Sampaikan kekuatiran dan cemburu anda terus terang pada Jack, semakin sering anda katakan padanya, beban itu akan semakin berkurang. Kedua, Yakinkan diri anda bahwa anda sudah berusah optimal untuk mengatasi kesulitan yang anda hadapi.

Semakin lama anda semakin menerima diri anda sendiri. Ketiga, Tuntunlah pemikiran anda memasuki saluran konstrukstif. Sama dengan orang mengatakan berpikirlah positif. Gunakan imajinasi anda secara lebih positif, membayangkan situasi yang lebih damai dan tidak "miring" serta melakukan kegiatan yang yang akan memberi anda kegembiraan. Demikian jawaban saya, semoga ada titik terang buat Anda. Selamat berusaha.
Salam, dr. Valens Sili Tupen, MKM

Pos Kupang Minggu 15 Februari 2009, halaman 13 Lanjut...

Anak Nakal, Salah Orangtua!


Foto ilustrasi/theyuinon.com
Anak nakal jangan dipukul atau dimarahi

PSIKOLOG dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Hastaning Sakti mengatakan, orangtua perlu mendengarkan curahan hati anak supaya tidak semakin sering muncul kasus kenakalan remaja. "Orangtua jangan berpikir kalau remaja zaman sekarang berada pada posisi yang salah dan rawan," katanya di Semarang, Rabu.
Menurut penilaiannya, jika ada pihak yang semestinya bertanggung jawab atas terjadinya kasus-kasus kenakalan remaja, maka pihak tersebut adalah orangtuanya sendiri.

Kasus kenakalan remaja adalah perilaku menyimpang yang terjadi pada remaja. Masalah sosial ini terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku.
Pemakaian narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) merupakan salah satu kasus kenakalan remaja yang semakin meningkat setiap tahunnya. Tahun 2004 diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba, yang sebagian besar adalah remaja, mencapai angka 2,9 juta sampai 3,6 juta orang atau setara 1,5 persen penduduk Indonesia.

Kebanyakan kasus kenakalan remaja, termasuk penyalahgunaan narkoba, terjadi karena orangtua tidak menerapkan metode "parenting skill" atau secara sederhana bisa diterapkan dengan mau mendengarkan keluh kesah dan isi hati anak.

Ia mengatakan, orangtua lebih sering marah-marah dan menyalahkan anak daripada memberi solusi untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi. "Anak adalah anugerah yang harus dijaga. Kita tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja atau menyalahkan lingkungan, tetapi kembali kepada diri orangtua sendiri, apakah selama ini menjaga anugerah tersebut dengan baik atau tidak," kata Dosen Psikologi Universitas Diponegoro ini.

Ia menjelaskan, pada masa remaja, justru keinginan untuk mencoba-coba besar sekali. Pada usia remaja, mereka berada pada masa pencarian jati diri. Ia mengatakan, di sinilah peran orangtua sangat dibutuhkan untuk mengarahkan anak, bukan mempersalahkan, atau bahkan meremehkan apa yang mereka kerjakan. "Satu yang perlu diingat, setiap orangtua sudah pernah menjadi anak, tetapi anak belum pernah menjadi orangtua. Inilah mengapa orangtua perlu mengerti anaknya," katanya. (ant)


Tips Menghadapi Anak Nakal
TERKADANG anda merasa dalam posisi yang sulit, jika melihat anak sendiri melakukan perbuatan nakal, mencuri, suka memukul teman teman disekolah. Entah itu nakal karena terpengaruh oleh teman-temannya di sekolah atau memang dia tergolong anak yang hiperaktif.

Nah apa yang sebaiknya anda perbuat untuk menghadapi anak yang demikian ? Baiklah, kali ini saya akan menyampaikan tips dalam menghadapi anak yang nakal.
Jika Anda mendengar atau mengetahui dengan apa yang dia lakukan, tetaplah tenang dan jangan marah-marah atau memukul anak. Berilah pengarahan, bahwa apa yang dia lakukan itu tidak boleh dilakukan.

Meskipun itu adalah anak Anda sendiri, sebaiknya jangan terlalu melindungi. Tetaplah obyektif. Jika memang anak berbuat salah, jangan ragu untuk menyuruhnya meminta maaf kepada temannya dan jangan pula ragu untuk memberikan hukuman padanya.
Komunikasilah dengan anak dengan penuh kasih sayang. Beri waktu pada anak untuk berjalan berdua dengan anda, ajak atau pancing mereka untuk membuka diri dan mengutarakan apa masalahnya atau keinginan dia. Beri pengertian mengenai perbuatannya selama ini.

Anda juga harus memperhatikan anak anda. Jangan biarkan anak lain mengganggu anak anda. Jangan ragu untuk bekerjasama dengan pihak sekolah, jangan takut kalau anak anda mendapat sangsi, justru jika tidak ada kerjasama, anak bisa tambah nakal atau sulit dikendalikan misalnya jadi melakukan perbuatan nakal lain seperti drug atau narkoba karena terpengaruh dengan temen sekolahnya.

Berikan kesibukan lain, seperti baca majalah, bacaan buku, menulis cerita, blog, olah raga. Anda juga dapat meminta pendapat anak, apa yang menjadi hobinya, tentu saja kegiatan yang positif. Jika memang anak tetap nakal dan dilakukan secara berulang ulang, janganlah ragu untuk melibatkan pihak ketiga, psikolog, guru BP turut serta membimbing anak.(88db.com)


Awas, Kekerasan Seksual terhadap Anak!

HASIL studi di Jakarta memperlihatkan, setiap bulan sekitar 15 remaja putri menjadi korban perkosaan. Data Komisi Nasional Perlindungan Anak juga menunjukkan bahwa korban kekerasan terus naik hingga mencapai 50 persen. Untuk itu masyarakat harus ikut bertanggung jawab dalam mengembangkan pola-pola pencegahan kekerasan seksual terhadap anak. Hal ini terungkap dalam seminar sehari bertema Penyamaan Persepsi Pentingnya Pendidikan Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak Sejak Dini di Jakarta akhir Januari lalu. .

Seminar itu bertujuan melaksanakan penyadaran dan penyamaan persepsi publik tentang kekerasan seksual pada anak dan dampaknya pada anak. Sebagai tindak lanjutnya, akan diuji cobakan model Pendidikan Pencegahan Kekerasan Seksual di dua kota yaitu Jakarta dan Surabaya. Model pendidikan ini juga akan digabungkan dengan model pendekatan masyarakat berbasis hak anak. "Dalam mendukung kegiatan pencegahan kekerasan pada anak, memang diperlukan kerja sama lintas sektor dan melibatkan banyak pihak. Semua pemangku kepentingan perlu menyamakan persepsi dalam permasalahan ini dan berinisiatif mengembangkan pola-pola pencegahan kekerasan seksual pada anak," kata Jupy Priscilia, Manajer Program Anak dengan Kebutuhan Perlindungan Khusus Plan Internasional Indonesia.

Konselor Proyek Sahabat Peduli Bunga K Kobong menjelaskan, kekerasan seksual merupakan perlakuan yang terjadi ketika seseorang menggunakan kekuasaan, kekuatan, paksaan atau otoritas yang memanfaatkan anak atau seseorang yang dianggap lemah untuk memperoleh kepuasan seksual baik fisik maupun non fisik. "Kekerasan seksual terjadi ketika korban dipaksa untuk menerima perlakuan kasar korban, atau dimanipulasi bahwa tindakan pelaku adalah bagian rasa sayang," ujarnya.

Kondisi itu mengakibatkan hilangnya rasa percaya pada orang lain, rasa percaya diri rendah, tidak mampu bersosialisasi, merasa tidak berdaya, kehilangan kemampuan memutuskan, tidak mampu mengenali dan mengekspresikan emosi, mengalami phobia, dan memiliki masalah seksual. "Penyebab kekerasan seksual antara lain, banjir informasi tanpa muatan nilai agama, moral, etik dan budaya," kata Bunga.

Sayangnya, penanganan anak-anak yang jadi korban kekerasan seksual terhambat oleh kurangnya tenaga ahli, tidak adanya lembaga hukum rujukan, polisi tidak merujuk kasus, dan ketersediaan dana. Apalagi sistem hukum dan budaya masyarakat masih diskriminatif. "Kasus kekerasan seksual terhadap anak dianggap aib, apalagi bila pelakunya adalah kerabat sendiri, sehingga banyak kasus akhirnya diselesaikan di luar pengadilan. Suara anak-anak harus didengar," katanya. (kompas.com)

Pos Kupang Minggu 15 Februari 2009, halaman 12 Lanjut...

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda