Anak Nakal, Salah Orangtua!


Foto ilustrasi/theyuinon.com
Anak nakal jangan dipukul atau dimarahi

PSIKOLOG dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Hastaning Sakti mengatakan, orangtua perlu mendengarkan curahan hati anak supaya tidak semakin sering muncul kasus kenakalan remaja. "Orangtua jangan berpikir kalau remaja zaman sekarang berada pada posisi yang salah dan rawan," katanya di Semarang, Rabu.
Menurut penilaiannya, jika ada pihak yang semestinya bertanggung jawab atas terjadinya kasus-kasus kenakalan remaja, maka pihak tersebut adalah orangtuanya sendiri.

Kasus kenakalan remaja adalah perilaku menyimpang yang terjadi pada remaja. Masalah sosial ini terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku.
Pemakaian narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) merupakan salah satu kasus kenakalan remaja yang semakin meningkat setiap tahunnya. Tahun 2004 diperkirakan jumlah penyalahguna narkoba, yang sebagian besar adalah remaja, mencapai angka 2,9 juta sampai 3,6 juta orang atau setara 1,5 persen penduduk Indonesia.

Kebanyakan kasus kenakalan remaja, termasuk penyalahgunaan narkoba, terjadi karena orangtua tidak menerapkan metode "parenting skill" atau secara sederhana bisa diterapkan dengan mau mendengarkan keluh kesah dan isi hati anak.

Ia mengatakan, orangtua lebih sering marah-marah dan menyalahkan anak daripada memberi solusi untuk mengatasi masalah yang mereka hadapi. "Anak adalah anugerah yang harus dijaga. Kita tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja atau menyalahkan lingkungan, tetapi kembali kepada diri orangtua sendiri, apakah selama ini menjaga anugerah tersebut dengan baik atau tidak," kata Dosen Psikologi Universitas Diponegoro ini.

Ia menjelaskan, pada masa remaja, justru keinginan untuk mencoba-coba besar sekali. Pada usia remaja, mereka berada pada masa pencarian jati diri. Ia mengatakan, di sinilah peran orangtua sangat dibutuhkan untuk mengarahkan anak, bukan mempersalahkan, atau bahkan meremehkan apa yang mereka kerjakan. "Satu yang perlu diingat, setiap orangtua sudah pernah menjadi anak, tetapi anak belum pernah menjadi orangtua. Inilah mengapa orangtua perlu mengerti anaknya," katanya. (ant)


Tips Menghadapi Anak Nakal
TERKADANG anda merasa dalam posisi yang sulit, jika melihat anak sendiri melakukan perbuatan nakal, mencuri, suka memukul teman teman disekolah. Entah itu nakal karena terpengaruh oleh teman-temannya di sekolah atau memang dia tergolong anak yang hiperaktif.

Nah apa yang sebaiknya anda perbuat untuk menghadapi anak yang demikian ? Baiklah, kali ini saya akan menyampaikan tips dalam menghadapi anak yang nakal.
Jika Anda mendengar atau mengetahui dengan apa yang dia lakukan, tetaplah tenang dan jangan marah-marah atau memukul anak. Berilah pengarahan, bahwa apa yang dia lakukan itu tidak boleh dilakukan.

Meskipun itu adalah anak Anda sendiri, sebaiknya jangan terlalu melindungi. Tetaplah obyektif. Jika memang anak berbuat salah, jangan ragu untuk menyuruhnya meminta maaf kepada temannya dan jangan pula ragu untuk memberikan hukuman padanya.
Komunikasilah dengan anak dengan penuh kasih sayang. Beri waktu pada anak untuk berjalan berdua dengan anda, ajak atau pancing mereka untuk membuka diri dan mengutarakan apa masalahnya atau keinginan dia. Beri pengertian mengenai perbuatannya selama ini.

Anda juga harus memperhatikan anak anda. Jangan biarkan anak lain mengganggu anak anda. Jangan ragu untuk bekerjasama dengan pihak sekolah, jangan takut kalau anak anda mendapat sangsi, justru jika tidak ada kerjasama, anak bisa tambah nakal atau sulit dikendalikan misalnya jadi melakukan perbuatan nakal lain seperti drug atau narkoba karena terpengaruh dengan temen sekolahnya.

Berikan kesibukan lain, seperti baca majalah, bacaan buku, menulis cerita, blog, olah raga. Anda juga dapat meminta pendapat anak, apa yang menjadi hobinya, tentu saja kegiatan yang positif. Jika memang anak tetap nakal dan dilakukan secara berulang ulang, janganlah ragu untuk melibatkan pihak ketiga, psikolog, guru BP turut serta membimbing anak.(88db.com)


Awas, Kekerasan Seksual terhadap Anak!

HASIL studi di Jakarta memperlihatkan, setiap bulan sekitar 15 remaja putri menjadi korban perkosaan. Data Komisi Nasional Perlindungan Anak juga menunjukkan bahwa korban kekerasan terus naik hingga mencapai 50 persen. Untuk itu masyarakat harus ikut bertanggung jawab dalam mengembangkan pola-pola pencegahan kekerasan seksual terhadap anak. Hal ini terungkap dalam seminar sehari bertema Penyamaan Persepsi Pentingnya Pendidikan Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak Sejak Dini di Jakarta akhir Januari lalu. .

Seminar itu bertujuan melaksanakan penyadaran dan penyamaan persepsi publik tentang kekerasan seksual pada anak dan dampaknya pada anak. Sebagai tindak lanjutnya, akan diuji cobakan model Pendidikan Pencegahan Kekerasan Seksual di dua kota yaitu Jakarta dan Surabaya. Model pendidikan ini juga akan digabungkan dengan model pendekatan masyarakat berbasis hak anak. "Dalam mendukung kegiatan pencegahan kekerasan pada anak, memang diperlukan kerja sama lintas sektor dan melibatkan banyak pihak. Semua pemangku kepentingan perlu menyamakan persepsi dalam permasalahan ini dan berinisiatif mengembangkan pola-pola pencegahan kekerasan seksual pada anak," kata Jupy Priscilia, Manajer Program Anak dengan Kebutuhan Perlindungan Khusus Plan Internasional Indonesia.

Konselor Proyek Sahabat Peduli Bunga K Kobong menjelaskan, kekerasan seksual merupakan perlakuan yang terjadi ketika seseorang menggunakan kekuasaan, kekuatan, paksaan atau otoritas yang memanfaatkan anak atau seseorang yang dianggap lemah untuk memperoleh kepuasan seksual baik fisik maupun non fisik. "Kekerasan seksual terjadi ketika korban dipaksa untuk menerima perlakuan kasar korban, atau dimanipulasi bahwa tindakan pelaku adalah bagian rasa sayang," ujarnya.

Kondisi itu mengakibatkan hilangnya rasa percaya pada orang lain, rasa percaya diri rendah, tidak mampu bersosialisasi, merasa tidak berdaya, kehilangan kemampuan memutuskan, tidak mampu mengenali dan mengekspresikan emosi, mengalami phobia, dan memiliki masalah seksual. "Penyebab kekerasan seksual antara lain, banjir informasi tanpa muatan nilai agama, moral, etik dan budaya," kata Bunga.

Sayangnya, penanganan anak-anak yang jadi korban kekerasan seksual terhambat oleh kurangnya tenaga ahli, tidak adanya lembaga hukum rujukan, polisi tidak merujuk kasus, dan ketersediaan dana. Apalagi sistem hukum dan budaya masyarakat masih diskriminatif. "Kasus kekerasan seksual terhadap anak dianggap aib, apalagi bila pelakunya adalah kerabat sendiri, sehingga banyak kasus akhirnya diselesaikan di luar pengadilan. Suara anak-anak harus didengar," katanya. (kompas.com)

Pos Kupang Minggu 15 Februari 2009, halaman 12

1 komentar:

mendidik anak sangat perlu untuk hati-hati, jangan sampai salah dalam mendidik anak sehingga membuat anak menjadi orang yang pesimis, minder dan lain-lain.karena didikan ortu dapat membentuk kepribadian anak.

—————————————————-
Bagaimana cara mendidik anak agar sukses dan bahagia di anekapilihan.com

26 Februari 2009 05.13  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda