Gita Cinta Carolina Aurelia

Cerpen Vinsen Making

SENDU menderu, membongkar paksa tingkap jiwa, mengoyak lengan rajawali hingga terkapar di atas wadas. Bumi bergelora, mengikis habis garis pantai, membopong jiwa yang terluka, merendam sejuta asa pada karang yang kokoh. Cinta adalah segalanya. Ia yang membuat jiwa bersorak ria namun ia pula yang membuat hati hancur tak karuan.

Demikian goresan sang penyair pada hening suatu malam, di dinginnya kota karang yang bergelar ”Kasih”. Ketajaman kata-katanya menusuk masuk ke dalam jiwa tiap pembacanya. Membuat semua hati bergetar dan bergelora lantas hangus, pupus dan lenyap. Ia menggoreskan penanya dari kedalaman jiwanya, menulis di atas air dan awan. Mengirimnya lewat hembusan sang bayu ke segala penjuru, menggapai segala yang ada.

Semua Ia lakukan karena dorongan cinta yang murni. Lewat karyanya Ia mampu menggoncang tingkap-tingkap langit, menguak segala kebobrokan duniawi dan mencengangkan isi bumi. Namun ada satu hal yang belum dapat Ia taklukkan, dan inilah yang menyiksanya tiap saat.

Suasana pagi ini agak cerah setelah beberapa hari kota itu diguyur hujan tanpa henti. Rumah sakit W.Z Johanis Kupang, yang merupakan RSU terbesar di NTT, yang biasanya dipadati oleh pasien kini terlihat agak legang. Maklum hari ini adalah hari Kasih sayang alias Vallentine Day. Kamar rawat inap tiga laki juga terlihat sangat sunyi.

Di dalamnya hanya tinggal empat orang pasien yang masing-masingnya ditemani oleh beberapa orang keluarga kecuali pasien yang paling ujung. Ia hanya ditemani oleh seorang gadis. Tepat pukul 06.30 WITA, kereta dorong berisi makanan untuk pasien melintas ditegah ruangan.

Gesekan antara roda kereta dengan lantai menimbulkan suara gaduh yang amat menyebalkan. ”Ka,.. bangun makan do” suara itu terdengar amat halus dan lembut.

Pasien itu membuka matanya yang agak cekung kedalam dengan berat.”Ka, B suap e,..” tanpa menunggu jawaban, orang ini langsung menggambil makanan tersebut dan menyuapi si pasien. Pasien tersebut adalah si penyair yang tengah sekarat akibat serangan suatu penyakit yang belum dapat dideteksi dengan peralatan kedokteran. Ia terkena serangan dua hari lalu saat tengah menulis sebuah puisi Vallentine buat orang yang paling Ia cintai. Ia sempat tak sadarkan diri beberapa jam lamanya. Gadis yang setia di sampingnya ini adalah Carolina tetangga dari si penyair.

Ia begitu memperhatikan si penyair ini. Ia rela memberikan segalanya asalkan Ia dapat melihat senyum di bibir si penyair. Carolina adalah satu-satunya orang yang setia menemani si penyair dari awal masuk rumah sakit hingga saat ini. Selang beberapa menit kemudian seorang perawat berjalan menuju ke arah mereka dengan membawa beberapa obat. Wajahnya tidak terlihat jelas sebab masker medis menutup sebagian wajahnya. Yang terlihat jelas hanya kedua bola matanya saja. Ka, permisi.

Boleh tinggalkan pasien sebentar?” pinta si perawat dengan halus. Carolina mengganguk dan bergeser ke tempat lain. ”Ka minum obat dulu e..” Energi kasih yang terkadung dalam suara itu, menjalar dari pendengaran si penyair hingga kedalam lubuk hatinya.

Saat itu, bola matanya seakan melonjak keluar dari mangkoknya. Ia amat terkejut dengan siapa yang dilihatnya ini. Tubuhnya yang tadinya lemah dan berat kini terasa kuat dan ringan untuk digerakkan. Ia menekan kedua tangannya pada tempat tidur dan berusaha untuk duduk.

Aurelia,...” sapa si penyair dengan suara yang sedikit gemetar. Aurelia adalah orang yang selama ini dicintai oleh si penyair. Banyak karyanya lahir atas ilham dari orang yang kini berada dihadapannya. Ia adalah seorang perawat, yang baru lulus testing Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditempatkan di rumah sakit W.Z Johanis Kupang.

Mereka sudah lama berkenalan, dan pernah sama-sama menjadi anggota suatu perkumpulan muda-mudi gereja. Aurelia membuka masker penutup wajahnya. Biasan sinar wajahnya menyeruak, aroma keperawatanya membalut tiap luka hati si penyair. Tebaran aura kasih sayang dari seorang Aurelia, memaksa si penyair bertekuk lutut dan membongkar isi hatinya sebagai seorang pria sejati.

Aurelia, sejujurnya selama ini, engkaulah yang ada dibalik semua karyaku. Aku mampu melahirkan tulisan-tulisan indah berkat rasa cintaku padamu. Rasa itu memaksa aku untuk membuat semuanya dan hanya untukmu.... dan Aku sampai terbaring di sini juga karenamu. Aku berjuang melawan gelora cinta dalam batinku... sebab semua hanya terpendam disini di dalam batinku tanpa dapat kuungkapkan lewat bibirku secara langsung dihadapanmu.

Dan inilah saatnya bagiku,.. di hari yang penuh kasih sayang ini, untuk menggungkapkan segalanya. Bahwa Aku amat mencintaimu. Terserah apa katamu tapi Aku terlanjur mencintaimu sejak dahulu, dan cinta ini tak mungkin tergantikan oleh apa pun dan siapa pun,.....” ”Termasuk aku....!!!” suara itu mengagetkan keduanya. Ternyata dari tadi Carolina mendengar semuanya di balik tirai disisi tempat tidur tersebut. Ka,.. kenapa selama ini ka tak ungkapkan seperti itu?, kenapa kebersamaan kita selama ini hanya dipaksakan?” Carolina mengusap air matanya. ”Carolina...” desis si penyair.

Carolina melanjutkan ”Maafkan aku ka,... sebab selama ini kupikir ka mencintaiku.... dan kupikir puisi ini untukku... ” sambil menahan tangisnya Carolina mengeluarkan secarik kertas yang bersisi puisi vallentine yang belum selesai dibuat penyair itu dua hari yang lalu.

Carolina Aurelia Vallentina (Untukmu Sebuah Nama)
Senandung cinta membahana, meneteskan tetesan embun madu dari tingkap-tingkap asmara. Kepakan sayap keremajaanku melebar, membuat jiwa kian mengangkasa, tinggi melebihi awan-awan. Serpihan rindu membuat teguh kaki berdiri, walau dihadang laksyar kegelapan. Kekuatan rasa sayangku padanya membuat langkah tidak terperosok ke dalam jurang kehancuran, dan recikan bara cintaku padanya mengharuskan aku untuk terus berkarya. Aku seperti bebas dari penjara, dan kini aku seperti seorang yang paling merdeka.

Cinta itu mengalir, membuatku hidup selamanya. Sebab Cinta ini benar tulus dari dalam jiwaku. Cinta yang hanya untuk memberi dan melepaskan tanpa meminta apalagi memaksa....dan di hari penuh kasih sayang ini.....

Aurelia tercengang membaca pengalan pusisi itu. Memang dari dulu Ia juga menanti saat seperti ini. Saat dimana si penyair mengutarakan cinta untuknya. Disisi lain dalam isaknya, Carolina kembali berujar ”Ka, ini terlalu sakit, dan pedih,...” si penyair menggenggam tangan Carolina, menariknya ke dalam pelukannya dan berbisik ”Inilah arti cinta itu sesungguhnya... Aku mencintaimu sebagai saudariku, dan keluargaku. Berbeda dengan cintaku pada Aurelia... engkau mengerti kan maksudnya?” Carolina mengangguk kecil dalam dekapan si penyair. Aurelia pun tidak ketinggalan dalam adegan duka ini. Sebagai wanita Ia pun merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Carolina. Perih dan sakitnya tak terkira, namun benar apa kata penyair itu bahwa; cinta sejati adalah cinta yang dapat memberi dan melepaskan tanpa meminta apalagi memaksa....

Buat Gadisku di kota karang.....
Happy Vallentine Day




Pos Kupang Minggu 22 Februari 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda