Kabut Mataloko

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

"KAMU harus datang melihat kabut Mataloko," demikian Rara membawa khabar untuk Benza. "Bayangkan kabut mataloko melahirkan uap panas yang sungguh luar biasa. Sepanjang musim hujan ini akan dibangun pemandian kabut Mataloko."
"Apa yang terjadi?' Benza kaget bukan maen. Maklumlah Benza baru pulang kampung jadi tidak ikuti perkembangan berita terkini mengenai Mataloko.
"Kabut Mataloko!"

"Sejak kapan kabut Mataloko menimbulkan masalah?"
"Santai saja lagi," sambung Jaki sambil menarik rokok dalam-dalam. "Biasalah soal gejala alam. Di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi alias PLTPB, ada sumur yang bocor dan mengeluarkan gas. Tekanan gas pada bagian bawah tanah kian lama kian besar karena telah bercampur dengan air yang telah masuk ke dalam sumur. Akibatnya muncul uap panas... "

"Itulah kabut Mataloko yang kulihat langsung di TKP tempat kejadian perkara. Asyik benar wisata ke Mataloko yang berkabut uap panas!" Kata Rara.
"Sama sekali tidak berbahaya," komentar Jaki sambil memperhatikan wajah Benza yang mengkerut penuh kekuatiran.

"Ya, sama sekali tidak berbahaya!" Rara pun ikut meyakinkan Benza. "Hanya gejala alam biasa!"
***
"Gejala alam biasa katamu?" Benza menggeleng-geleng.
"Ya! Aku pingin membuat kolam sauna. Mandi dalam kabut uap panas. Biar kulitku yang hitam cemerlang ini menjadi putih bersinar-sinar. Wah, nikmat sekali rasanya. Judulnya mandi uap dari perut bumi. Satu-satunya di dunia. Kabut Mataloko akan terkenal di seantero dunia!" Rara senang bukan main.

"Aku pingin buat kolam susu," sambung Jaki. "Uap panas berkabut putih seputih susu. Mandi susu akan membuat tubuhku wangi dan manis semanis susu. Wisatawan akan berbondong-bondong ke Mataloko khusus untuk menikmati mandi susu. Taripnya berapa ya? Aku bisa jadi kaya gara-gara kabut Mataloko."

"Sekali-sekali kita cebur langsung ke pusat kabut ya. Biar rasakan langsung seberapa kuat tekanan yang muncul dari perut bumi. Siapa tahu kita berdua ikut terangkat dan terlontar ke atas, melayang-layang, dan jatuh kembali dalam pelukan kabut. Waduh asyiknyaaaa," Rara bangga bukan main. "Rumah penduduk sekitar, jagung, dan tanaman lain kita gusur semuanya biar arena kabut bertambah luas dan setelah terlontar dan jatuh, kita bebas pun berenang kian kemari..."

"Sebuah perencanaan yang sungguh-sungguh hebat berkat kabut Mataloko," Rara merasa di atas angin.
"Mataloko akan terkenal ke seluruh dunia!"

***
Benza terdiam. Jantungnya berdegup kencang membayangkan apa yang terjadi. Mataloko terkenal di dunia tentu bukan karena uap panas yang menyembur dari perut bumi sebulan terakhir ini. Mataloko adalah sejarah pendidikan Katolik yang sudah dimulai jauh hari sebelum Indonesia tercinta ini merdeka. Di sana berdiri SMP dan SMA Seminari yang usianya sudah 80 tahun. Di sana ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama Rumah Tinggi dengan lingkungan alam nan sejuk dan hijau segar serta kabut tipis yang datang senantiasa.

Bagi Benza Mataloko di kala kabut memang meninggalkan kesan yang sulit dilupakan. Sepertinya jejak-jejaknya telah membekas di sana. Bukan hilang dalam kabut tetapi justru selalu datang dalam kabut sepanjang waktu.
"Benza! Ayoh kita ke Mataloko!" Ajak Rara.

"Kamu pasti bangga sekali. Bukankah kamu alumni Seminari Mataloko? Mari, kami antar kamu pulang ke Mataloko untuk bernostalgia. Tentu nostalgiamu akan menjadi lebih hebat karena kabut mataloko yang menjanjikan. Kita mandi uap sama-sama!" Jaki bangga bukan main.

"Kabut Mataloko sungguh-sungguh membawa berkah kolam susu, kolam sauna, mandi uap... Untung ada kabut Mataloko...Sumur bocor membawa berkat"
***
"Ayoh Benza! Kenapa kamu ketakutan?"
"Apa yang kamu pikirkan tentang kabut Mataloko?" Benza benar-benar gugup. "Ini bencana yang mesti diwaspadai! Dalamnya perut bumi siapa yang dapat menduga? Sungguh kamu perlu tahu apa artinya susah kabut Mataloko kali ini..."

"Buat apa pikir susah? Santai saja lagi, gejala alam biasa kok... Kita nikmati saja... mandi uap di kolam susu kabut Mataloko! " Jaki dan Rara sambung bersama.
"Ini harus diwaspadai! Ini Bukan kolam susu!" Benza gemetar saat bicara (*).



Pos Kupang Minggu 1 Februari 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda