Kena Batunya

Cerita Anak oleh Petrus Y Wasa

DENGAN perawakannya yang tinggi besar, Ardo menjadi anak yang ditakuti oleh anak-anak lain di kelasnya. Membayangkan sosoknya, bagai raksasa kecil, saja sudah membuat ngeri, apalagi harus merasakan ayunan kepalan tangannya. Karena itu apa pun yang diperintahkan Ardo selalu dipatuhi anak-anak di kelasnya. Pernah ada beberapa anak laki-laki yang mencoba menantang perintah Ardo. Namun akibatnya mereka semua babak belur dihajar Ardo.

Di rumah Ardo tidak pernah belajar. Saat ulangan atau ujian dia tinggal menyontek pada anak-anak lainnya. Jika hendak jajan, dia tinggal memerintahkan salah seorang anak untuk membelikan makanan dan minuman yang disukainya. Merasa selalu dipatuhi, tabiat buruk Ardo makin menjadi-jadi.

Dia mewajibkan semua anak di kelasnya secara bergiliran untuk membawa pulang tasnya ke rumah. Anak-anak mematuhi perintah itu meski dengan wajah cemberut.

***

Suatu hari kelas itu mendapat seorang murid baru. Seorang anak laki-laki dengan perawakan sedang. Kata pak guru, dia pindahan dari luar pulau.
"Teman-teman, nama saya Dandy," anak itu memperkenalkan diri.

"Dandy, artinya tidak pernah mandi," Ardo mengejek sambil tertawa. Anak-anak lain memperhatikan tingkah Ardo. Dandy tidak menghiraukannya.
"Saya pindah ke sekolah ini mengikuti ayah saya yang ditugaskan untuk bekerja di kota ini," Dandy melanjutkan perkenalannya.

"Siapa yang tanya?" ejek Ardo lagi. Dandy tidak menggubrisnya. Dandy tetap melanjutkan perkenalannya sampai selesai.

***

"Permisi, saya hendak ke kantin," Dandy meminta izin untuk keluar.
"Tidak bisa. Enak saja keluar. Kamu harus tahu aturan di kelas ini. Pertama, kamu harus membiarkan aku menyontek lembaran jawabanmu saat ulangan atau ujian. Kedua, kebetulan kamu hendak ke kantin, belikan makanan dan minuman kesukaan saya. Kalau belum tahu, tanyakan pada anak-anak lain. Ketiga, kamu wajib membawa pulang tas saya ke rumah. Mengerti?" tegas Ardo.

"Apa? Kamu pikir kamu siapa sehingga kamu bisa memerintah orang lain untuk mengikuti kehendakmu?" Dandy mulai kesal.
"Berani-beraninya kamu menantang saya. Rasakan ini," kata Ardo sambil mengayunkan kepalan tangannya ke wajah Dandy. Namun dengan cepat Dandy mengelak. Secepat kilat kaki kanan Dandy menyabet kedua kaki Ardo. Anak itu pun terjerembab. Kaki Dandy kembali terjejak di atas dada Ardo.

"Ampun, ampun. Saya menyerah," seru Ardo tidak berdaya.
"Makanya jadi orang jangan sok jagoan!" kata Dandy sambil mengangkat kakinya dari dada Ardo.
"Kamu harus berjanji, tidak akan mengulanginya lagi," seru Dandy.
"Ya, saya berjanji," jawab Ardo.

Mendengar itu, anak-anak lain pun bertepuk tangan riuh. Namun ketika Dandy mendekat ke arah mereka, semuanya terdiam. Semua menunduk takut.

"Teman-teman, saya dinasihati guru agar menggunakan ilmu bela diri ini untuk melawan hal-hal yang jahat, seperti yang telah dilakukan Ardo kepada kalian selama ini. Bukan untuk berhadapan dengan orang-orang baik seperti teman-teman ini," ujar Dandy.

Mendengar itu tepuk tangan kembali bergemuruh.(*)


Pos Kupang 22 Februari 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda