Menangkap Angin

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

SEBENARNYA dari mana ya datangnya angin? Bertiup kencang, atap rumah bergetar, pohon tumbang, gelombang laut meninggi, kapal karam, perahu tenggelam, nelayan berhenti melaut, dan ya sungguh tidak nyaman ada angin kencang. Pesawat pun batal terbang gara-gara angin kencang.

Lebih tidak nyaman lagi, proyek membuat foto taman laut jadi batal gara-gara angin kencang. Begitu pula proyek membuat foto taman laut dari udara pun batal total. Tetapi apa boleh buat rencana tertunda karena angin. Siapa berani lawan? Yang berani lawan hanya Rara.

***

Rara bertekad untuk menangkap angin. Dia mati-matian berusaha mencari sumber angin ada di mana gerangan. Jika sudah bertemu dia akan tutup sumber angin, dan bila perlu dia akan menangkap biang angin agar tidak muncul pada saat yang tidak tepat menurutnya.

Maka berjalanlah Rara berkeliling mencari orang pintar yang dapat membantunya menemukan biang angin.
"Biang angin ada di mana?" Tanya Rara.
"Oh, tanyakan saja pada dinding bisu di sel Nunpene. Siapa tahu dia dapat bicara dan menunjukkan di mana biang angin!" Jawab Jaki si orang pintar.

"Biang angin tidur di mana?" Tanyanya lagi.
"Tanyakan saja pada tokek. Sebagai penuntun hitunglah setiap suaranya sambil menyebut nama tempat yang cocok. Siapa tahu suara tokek berhenti pada sumber angin."

"Usul yang sungguh luar biasa," kata Rara. "Apakah saya cukup kuat menangkap angin, menahannya, masukKan dalam kotak, dan tidak keluar lagi?"

"Tetapi tokeknya ada di mana? Di Nunpene? Wah, terlalu jauh. Kapan sampai ke sana. Apalagi dalam cuaca buruk dan angin ribut?"

***
"Ooooh mau menangkap angin?" Benza manggut-manggut saat Rara dan Jaki mohon bantuannya. "Gampang! Pergi saja ke Soa Bajawa, angin sedang bersembunyi di padang-padang luas tempat seorang Romo Faustin meregang nyawa. Padang luas akan menjawab di manakah angin. Kalau padang tidak dapat bicara tanyakan saja pada tokek."

"Tetapi apakah di padang Soa Bajawa ada tokek?" Rara dan Jaki bertanya bersamaan.
"Pasti ada!"
"Bagaimana mungkin?"
"Kalau tidak mungkin, boleh bertanya juga ke pesawat garuda yang menerbangkan Munir. Begini pertanyaannya. Wahai pesawat di manakah sumber angin? Boleh aku menangkapnya?" Benza serius.

"Pesawat garuda terlalu jauh tak terjangkau. Munir juga sudah berada di surga di tempat yang sangat tinggi. Sampai sekarang juga entah bagaimana urusannya Munir. Wah, malang benar nasibnya ya. Mati berkalang tanah di atas pesawat. Seandainya saja angin dapat bicara..." kata Rara.

"Tetapi bagaimana caranya tanya biang angin pada garuda? Bukankah angin garuda seolah-olah lenyap bersama berlalunya waktu?"

"Sebagaimana padang-padang Soa Bajawa dan Nunpene juga mungkin saja akan berlalu bersama dengan berlalunya waktu," sambung Benza. "Tergantung pada arah angin!"

"Karena itulah kami nekat mau tangkap sumber angin. Supaya semuanya tenang dan aku bisa mulai proyek foto taman laut dari dalam laut dan dari udara? Pasti kamu mau bertanya untuk apa? Apa jawabmu?

***
"Untuk mengukur dalamnya laut yang dapat diduga, selanjutnya mengukur dalamnya Nunpene dan padang-padang Soa Bajawa, sekalian dalamnya garuda yang sulit diduga!"
"Tetapi di mana sumber anginnya?" Rara bingung dengan kebingungannya sendiri.

"Kalau belum bertemu juga tanyakan saja pada tokek."
"Apakah di pesawat garuda ada tokek?"
"Kalau di Nunpene ada, di padang Soa Bajawa ada, pasti dalam pesawat garuda juga ada! Biar gampang tanyakan saja pada tokek," sambung Benza lagi. "Daripada tanya manusia berputar-putar tidak pasti. Tanyakan saja pada tokek bukan? Kalau manusia berbelit-belit sulit dipercaya, percaya saja pada tokek bukan?"

***
"Tetapi ingat sobat... hidup tidak berhenti di sini... hidup mengalir seperti air. Angin mengalir sampai jauh ke Nunpene, ke padang-padang Soa Bajawa, ke pesawat garuda. Dia akan memenuhi dunia seperti angin yang tidak pernah berhenti mencari...dan menemukan jawabannya!"

"Tetapi bagaimana cara menangkap angin?" Tanya Rara.
"Jika tidak ada satu orang pun yang dapat menangkap angin yang menyimpan segala rahasia Nunpene, padang Soa Bajawa, dan garuda..."
"Kalau begitu mari kita bertanya pada tokek!" Sambung Jaki dan Rara. (*)


Pos Kupang Minggu, 8 Februari 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda