POS KUPANG/
REDDY NGERA

Samuel Pakan

MAKANAN lokal yang saat ini kembali didengungkan oleh Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat sambutan dari berbagai elemen masyarakat di NTT. Berbagai seminar, forum diskusi selalu membahas potensi makanan lokal. Bahkan pada perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 (pesta emas) Propinsi NTT, Desember 2008, pemerintah memamerkan berbagai pangan dan produk makanan lokal khas NTT.

Program Anggur Merah (Anggaran untuk Rakyat Menuju Sejahtera) yang menjadi landasan acuan pemerintah Propinsi NTT di bawah pimpinan Gubernur Frans Lebu Raya juga menekankan pengembangan jagung. Pemilihan jagung tersebut tidak terlepas dari tradisi orang NTT dengan tanaman jagung, bahkan jagung merupakan pilihan pangan selain beras.


Meski NTT kaya dengan aneka jenis pangan lokal, namun pangan tersebut dalam kenyataan tidak berada di tempat pertama dalam pilihan menu makanan. Makanan lokal bahkan menjadi pilihan terakhir bila pangan lainnya habis.

Prof.Dr. Semuel Pakan, M.S dalam orasi ilmiah pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Bidang Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana)-Kupang, pertengahan Desember 2008, menyebutkan bahwa kebanyakan komoditas lokal di NTT tidak mendapat penghargaan yang selayaknya oleh masyarakat NTT sendiri. Ada anggapan di masyarakat bahwa komoditas maupun produk pangan impor memiliki mutu dan prestise yang lebih tinggi daripada komoditas lokal. Hal ini menyebabkan harga komoditas pangan lokal jauh lebih rendah daripada pangan yang didatangkan dari luar daerah.

"Pangan lokal NTT harus memperoleh penghargaan yang selayaknya dan menjadi tuan di rumah sendiri. Berbagai intensi harus diberikan bagi upaya-upaya peningkatan derajat komoditas pangan unggulan lokal," jelas kata Prof. Pakan.

Prof. Pakan juga menunjukkan fakta lain bahwa saat ini NTT masih tergantung pada pasokan pangan dari luar NTT. Pangan lokal semakin terpinggirkan akibat tekanan pangan dari luar NTT, baik impor maupun pangan produksi daerah lainnya.
"Apabila keadaan ini berlangsung terus dengan mengandalkan ketersediaan pangan dari bantuan pusat akan semakin meningkatkan jumlah masyarakat miskin terutama petani. Cadangan beras Pemerintah Propinsi NTT saat ini sekitar 202,5 ton dan cadangan beras pemerintah pusat di NTT dalam bentuk tugas pembantuan, dana dekonsentrasi sisa raskin 2008 dan bantuan rawan pangan sebesar 1.003 ton," jelas Semuel.

Kenyataan tersebut dimaknai bahwa Propinsi NTT telah menjadi pasar pangan impor, khususnya beras. Hal ini harus dilihat sebagai tantangan untuk menggairahkan peningkatan kualitas dan kuantitas pangan lokal.

"Konsep ini harus dimulai dengan mengubah paradigma bahwa pangan bukan hanya beras dan pertanian tidak sekadar urusan bercocok tanam yang hanya menghasilkan komoditas untuk dikonsumsi, tetapi lebih dari itu bahwa pertanian multifunsgi yang belum mendapat apresiasi yang memadai dari pemangku kepentingan," jelasnya.
Untuk itu, perlu dibangun adanya perubahan mendasar mind set para pihak yang berkepentingan tentang pertanian dan pangan.

Revitalisasi Pertanian NTT
Data yang dikerluarkan BPS NTT menyebutkan 79,2 persen dari empat juta lebih penduduk NTT tinggal di pedesaan. Dan, jumlah penduduk yang berusia lebih dari 15 tahun bekerja di sektor pertanian. Ini artinya hampir 80 persen masyarakat NTT tinggal di pedesaan dan menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian. Karena itu, untuk menekan jumlah kemisikinan di NTT, diperlukan revitalisasi pertanian yang lebih mengutamakan pemberdayaan masyarakat petani melalui kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian.

Ekstensifikasi pertanian di NTT bisa dilakukan dengan memperluas lahan milik petani karena wilayah ini memiliki potensi pertanian lahan basah yang mencapai 262.407 hektar dengan lahan fungsional 127.208 hektar (48,48 persen) serta potensi lahan kering 1.525.258 hektar dengan luas fungsional 689.122 hektar (45,09 persen).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam ekstensifikasi pertanian adalah input teknologi rekayasa lingkungan untuk tumbuh kembang tanaman mengingat masih banyak lahan tidur di NTT yang kurang subur dan berada pada lereng-lereng perbukitan, optimalisasi penggunaan air melalui teknologi yang bersifat permanen serta mutu benih harus sesuai dengan karakteristik iklim di NTT.

Dijelaskannya, program intensifikasi pertanian NTT memerlukan prioritas kebijakan terutama dalam hal penegasan dan kepastian penggunaan lahan non-fungsional sehingga pelaku usaha tani mendapat kepastian hak berusaha tani pada lahan non fungsional melalui suatu kesepakatan atau regulasi.

"Hak penggunaan lahan non fungsional dapat berupa sewa, bagi hasil dan jangka waktu penggunaan. Ekstensifikasi pertanian disinergikan dengan lahan kering dalam kawasan hutan melalui program agroforestry," Prof. Pakan.

Belum Fokus
Tanaman jagung di Propinsi NTT sudah dibudidayakan secara turun-temurun oleh masyarakat. Namun, pengembangan tanaman ini lebih pada kebutuhan keluarga semata.

Menurur Prof. Dr. Semuel Pakan, M.S, sebaran dan produksi pertanian di NTT memiliki potensi yang cukup baik pada jenis palawija, perkebunan dan hasil hutan non kayu. Disebutkannya, jagung merupakan tanaman palawija dominan di wilayah ini. "Kalau terbatas komoditas sayuran juga diproduksi diantaranya bawang merah, bawang daun, bayam, tomat, kangkung, ketimun, terung, lombok, labu siam dan kacang panjang," jelasnya.

Konperensi Pangan NTT Tahun 2008 di Maumere-Kabupaten Sikka dan hasil focus Group Discussion Membangun Komitmen Pengembangan Kompetensi Inti Daerah Untuk Meningkatkan Investasi di Propinsi NTT Tahun 2008 di Kupang direkomendasikan tiga komoditas pertanian yang mendorong peningkatan investasi di NTT, yaitu jagung, sapi dan rumput laut. Dan, strategi operasional pengembangan jagung akan diberi tekanan karena merupakan komoditas yang penting di NTT dan juga merupakan sumber pangan kedua setelah beras.

Menurut, Semuel Pakan, pengembangan tanaman jagung di NTT telah menjadi komitmen gubernur dan para bupati se-NTT. "Pertanyaannya, bagaimana pengembangan jagung, untuk siapa tanaman jagung dikembangkan, lokasinya di mana, siapa pelakunya dan apakah akan dapat mempercepat peningkatan pendapatan petani, sehingga dapat menurunkan kebijakan dan strategi operasional pengembangan tanaman jagung," kata Prof Pakan.

Dia menyebut unsur utama yang perlu diperhatikan dalam pengembangan jagung, yaitu petani, lahan dan benih. Fakta yang telah disebutkan bahwa sumber daya manusia pertanian masih rendah, lahan non fungsional pun masih banyak dan produksi tahun 2007 ternyata 82,6 persen merupakan hasil jenis jagung lokal.
"Berdasarkan kenyataan ini, maka seyogyanya kebijakan dan strategi pengembangan jagung dilakukan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi.

Baik intensifikasi maupun ekstensifikasi dalam operasional mempertimbangkan keadaan lahan, benih dan sumber daya petani," jelasnya.
Prof. Pakan juga menjelaskan, revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan belum dilaksanakan secara serius di NTT. Pembangunan sektor pertanian, perikanan dan kehutanan dalam operasionalnya masih lebih terfokus pada pembangunan berbasis administrasi sektoral sehingga sinergi, kolaborasi kerja sama dan terobosan belum signifikan. Akibatnya, pembangunan pertanian berjalan lamban. Sehingga perlu disinergikan untuk mengakselerasi peningkatan kesejahteraan masyarakat khususya petani.

Dalam pengembangan komoditas pertanian lokal, diperlukan kebijakan dan strategi yang berbasis evaluasi diri yakni sesuai dengan kondisi aktual daerah, baik SDM, SDA mapun kondisi sosial budaya.
"Dengan demikian, kebijakan akan fokus pada pemilihan komoditas pertanian unggulan lokal yang memiliki potensi bisnis yang sesuai untuk wilayah prioritas," jelasnya.

Dijelaskannya, dalam pola pemberdayaan, insentif yang diberikan harus dari hulu sampai hilir, termasuk dalam membangun kapasitas petani, sehingga petani memperoleh akses dari industri dan pemasaran. (alfred dama)

Pos Kupang Minggu 8 Februari 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda