Pemuja Mandi

Cerpen Hiro Nitsae

DUNIA ini gila! Dunia diracuni berbagai pemuja kegundahan! Dunia buat sejuta lampiran pernyataan! Ah dunia tidak gila! Itu cuma ide kamu. Ide yang menganggap segala sesuatu hampa. Aku tidak ingin bergelut bersama dengan cakrawalamu yang picik. Picik terhadap kebersamaan. Sekaligus terhadap dunia. Aku tidak ingin dikatakan seperti penghisap madu yang pergi setelah mendapat madunya. Aku ingin berada terus bersama dengan para ampas yang sempat engkau percakapkan padaku.

Kiblatanmu bak meteor yang cuma dapat ditatap sesaat, tidak sampai semenit. Aku merasa cahayamu begitu indah, memesona. Sesaat, tapi memoriaku selalu mendapat porsi yang lebih bagimu. Entah mengapaĆ  Terhipnotis. Itu bukan karakterku. Tapi aku berpikir itulah engkau. Muncul sesaat tapi membuat peryataan elegant yang bukan sekadar momental.

Madu memang manis. Apalagi kalau dirasa dengan hati. Pikiranku melayang. Mengambang bak seorang anak kecil yang bingung ditinggal sendirian oleh orangtuanya. Aku tidak bisa berpikir lebih jauh tentangmu. Tentang dirimu yang elegant, penebar ekspresi nan cantik di setiap lini. Aku hanya tahu sebatas itu darimu. Aku akui bahwa dalam dirimu juga terdapat keunikan. Manusia memang khas dalam dirinya, mempunyai akal budi, mempunyai karakter, unik dan persona. Tapi jika dikhususkan bagimu, aku sepertinya telah dilingkari dengan pemahaman yang itu-itu saja tentangmu.

Aku akui itu sebagai bagian keterbatasan diriku yang tidak sepenuhnya memahami tentang yang dimaui dari dirimu. Aku dilingkari tembok-tembok yang sulit untuk dilihat keluar tentang apa yang ada, tentang apa yang terjadi di sebrang sana. Aku tak tahu mengapa aku begitu pesimis, begitu terpenjara dalam diriku sendiri.

Aku mencoba memandang makhluk-makhluk bebas yang terbang sesuka hati mereka. Tidak ada tembok pembatas dari mereka. Sementara aku, terus memandang kebebasannya mereka dari balik jendelaku yang juga sempit. Lagi-lagi aku dikejutkan dengan pesona dirimu yang sempat menyisir bibir pantai lalu pergi. Sesaat tapi pasti. Lagi-lagi terhipnotis. Itu bukan diriku sesungguhnya. Itu bukan karakter diriku. Tapi seringnya ini melanda diriku, menjadikanku bertanya-tanya: "Ada apa ini?"Apa betul aku telah terperosok dalam permainan dirinya, dalam pengekspresian diri di setiap lini, dalam gayanya?
* * *
Hari terus bergulir. Aku memang berhadapan dengan yang lain dalam kebersamaanku. Tapi masih saja dia terus merabik pemusatan diriku akan yang lain. Dia membuat seolah-olah aku tak boleh berpaling darinya. Cemburu, mungkin itu yang khas darinya. Setiap kali aku memandangnya, ada pesona lain terpancar, selain tebaran senyumnya bak bintang yang mendekor langit. Lagi-lagi kata yang keluar dari pikiranku. Cemburu. Mungkin ia cemburu, iri hati, jika aku tak berada dipihaknya.

Aku mencoba menangkap hal lain dari dirinya. Kali ini aku mencoba keluar dari tembok pembatas. Keluar dari rasa pesimisku. Keluar dari terpenjaranya diriku. Sulit memang. Tapi itu harus diraih demi sesuatu yang lain. Perjalanan terpanjang bukanlah perjalanan menuju Roma, atau ke benua-benua lainnya, seperti Eropa, Afrika, atau bahkan perjalanan menuju bulan sekalipun. Tapi perjalanan terpanjang dan paling lama adalah perjalanan ke dalam diri sendiri. Aku akui bahwa perjalanan yang satu ini sulit, tapi aku mencoba meraihnya tahap demi tahap.

Aku mencoba menjawabi diriku sebagai makhluk hidup yang ber-ratio, punyai kekuatan nalar untuk melihat adanya sesuatu, walaupun sebenarnya sulit tersampaikan karena keterbatasanku. Tapi aku berpikir dengan apa yang ada pada diriku, mungkin sedikit dapat mengobati kegelisahan diriku sendiri tentang yang unik darinya.

Aku mencoba mengamatinya, melihat setiap pergerakannya. Kalau mau dikatakan aku mungkin dapat disebut sebagai detektif dadakan. Dia selalu ada bersama dengan yang lain. Sebuah rentetan peristiwa yang khas manusiawi. Manusia ada sebagai ada bersama. Kebersamaannya inilah yang kudapati darinya. Itu jawaban sementaraku terhadap pergerakannya yang terlihat dalam pandangan mataku.

Aku merasa ini menjadi satu titik awal untuk memandangnya lebih jauh. Kebersamaan- kebersamaan. Apa baginya, arti kebersamaan itu. Hal ini menjadi pertanyaan lanjutanku. Aku tidak ingin berpandangan negatif tentang dirinya. Kebersamaan yang dihadirkan sebagai sebuah masyarakat yang sosialis. Itu saja. Aku tidak ingin macam-macam berpikir tentang dirinya.

Kebersamaan, menjadi suara yang khas dilantunkannya. Paduan suara yang harmonis mengandaikan adanya kebersamaan dalam team. Kekompakan dalam meng-eja kata-kata dengan suara yang khas terbentuk dalam proses latihannya. Kekompakan menjadi latar dirinya dengan sesama. Hal itu nampak. Bersama sejuta rasa duka dan bahagia. Segalanya akan terasa hampa jika tak ada orang lain dalam kebersamaan
* * *
Ada yang hilang dari pergerakannya saat ini. Menyusut. Terpilah-pilah. Ada tingkatan dalamnya. Ada struktur pemuas dahaga didalamnya. Ada target berlabel egoisme diri terkatung di dahinya. Kiri-kanannya ditatap sebagai target dari label egoisme. Kebersamaan menjadi tampilan fisik menutup isi yang menjadi inti dari petualangannya. Rapi. Tertata indah dengan rangkaian tangan-tangan indah yang berhasil merajutnya. Tak ada celah. Apa yang nampak dari hasil rajutan tadi? Pujian, hormat, pujaan menjadi bagian yang integral darinya.

Etalase dalamnya menyimpan berbagai barang yang dipertontonkan. Etalase dibuat sedemikian rupa dengan dalih menarik minat mengikuti apa yang ada di dalamnya. Etalase menjadi magnet penentu bagi orang, tanpa melihat apa yang ada dibalik etalase yang harusnya menjadi fokus kajiannya.

Dia ingin dipuja. Dia ingin dihormati. Melambangkan dirinya yang sangat ingin berada di atas. Di balik itu semua, apa yang nampak dalam keseharian. Ada yang berbicara lain. Ada suara dari balik alas kaki melantunkan madah : aku menderita, tak berdaya, miskin namun terus dimiskinkan, tak dipedulikan. Terlambat. Ada yang tetap bergelimang dalam pujaan, pujian. Bermandikan cahaya kerlap-kerlip dunia hedonis. Dipuji dalam momental berselimutkan harta duniawi.

Aku terus berpikir, merona asa yang penuh lembah, terjal, terjungkal diantara keperkasaan pemuja risih. Menoreh keringat bermandikan peluh, bilur nanah, hingga tak berdaya terkapar di ujung lembah. Ditolak oleh rerumputan yang tak sudi menerima aku dalam bentangannya tuk sejenak merasakan kesejukan. Tak ingin diusik. Aku terkapar, antara ketaksediaan rerumputan menerima tubuhku yang lemah, dan dirinya yang terlanjur dimandikan cahaya yang terus memujanya. Akhirnya akupun tak lagi bermimpi tuk bersama para ampas yang telah diteguknya, karena sekarang aku adalah ampas.

Penulis: Anggota KMK "Karang Penfui."



Pos Kupang Minggu 8 Februari 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda