Pesona Arsitektur dan Megalitik Bena


POS KUPANG/ARIS NINU
Kampung tradisional Bena, pesona bagi para wisatawan.

KAMPUNG adat Bena ada dalam wilayah Desa Tiworiwu, Kecamatan Jerebu'u, Kabupaten Ngada. Kampung tradisional ini begitu orisinil menyimpan warisan leluhur. Berusia sekitar 1.200 tahun, pesona kampung tradisional ini sangat kental terasa melalui arsitek kuno bangunan rumah-rumahnya dan budaya megalitik.

Arkelog, Dra.Jublina Tode Solo dalam artikelnya berjudul, Bena, Arsitektur dan Megalitik Menggugah Kunjungan menyebutkan pembangunan rumah adat di Bena selalu dilatarbelakangi oleh rasa hormat pada leluhur yang merupakan inti dari budaya megalitik dalam sistem permukiman, pemujaan dan penguburan.
Rumah adat Bena terbuat dari kayu, bambu dan alang- alang berderet rapi pada sisi kiri dan kanan berhadapan dengan halaman tengah berbentuk segi empat yang disebut kisanata. Hubungan harmonis terjalin antar klan yang mendiami rumah berarsitektur tradisional dalam sistim matrilinear. Rumah adat di Kampung Bena terdiri dari tigas jenis bangunan utama yaitu sao saka puu, sao saka lobo dan sao wua ghao serta bangunan pendukung lainnya yakni ngadhu, bhaga, sao kaka dan wekawoe. Sao saka puu lebih bersar dari sao saka lobo dan sao wua ghao. Sebagai tempat utama, sao saka puu harus menempatkan miniatur bhaga (simbol perempuan) di atapnya. Sedangkan sao saka lobo identik dengan ngadhu. Jublina menjelaskan, pola permukiman dan arsitektur tradisional masyarakat Bena dilandasi pola pemikiran tradisi megalitik yang sudah diwarisi leluhur mereka, pakem dan kepercayaan tersebut berlaku universal karena ditemukan juga di sejumlah daerah. Indikasi ini merupakan benang merah keberadaan arsitektur nusantara. Hubungan vertikal degan sistem pola kekerabatan antar klan yang ada di Bena berlangsung harmonis dengan model Kampung Bena yang memiliki halaman kisanatha bersama menunjukan kesetaraan antar suku. Kearifan peradaban pada arsitektur tradisional Bena ini adalah setiap kegiatan yang akan dilaksanakan di Kampung Bena selalu didasari pada kepercayaan terhadap leluhur serta menghargai keberadaan alam, sehingga setoap kegiatan diusahakan meminimalisasi eksploitasi alam dan lingkungan. Bangunan arsiktur Bena tidak hanya merupakan hunian semata namun memiliki fungsi dan makna yang mendalam yang mengandung kearifan yang masih relevan diterapkan masyarakat pada masa kini dalam pengelolaan lingkungan binaan yang ramah lingkungan. "Bila diperhatikan, proses pembuatan rumah adat Bena mulai dari pemilihan lokasi sudah berdasarkan pakem serta perhitungan tertentu. Misalnya, gerbang masuk kampung dibuat dengan struktur susunan batu yang tinggi, suasana kampung tidak terlihat kecuali menapaki tangga masuk paling atas," jelas Jublina. Lahan kampung yang berkontur tanah berbukit tersebut sengaja dipilih untuk kepentingan keamanan kampung. Nilai yang dapat diketahui bahwa masyarakat Bena tidak mengekploitasi lingkungannya ia lahan permukiman yang dibiarkan sesuai kontur asli tanah berbukit. Bentuk Kampung Bena menyerupahi perahu karena menurut kepercayaan megalitik bahwa perahu dianggap mempunyai kaitan dengan wahana bagi arwah yang menuju ke tempat tinggalnya. Namun nilai yang tercermin dari perahu ini adalah sifat kerjasama, gotong royong dan mengisyararkan kerja keras yang dicontohkan dari leluhur mereka dalam menaklukan alam mengarungi lautan sampai tiba di Bena. Jublina juga menuliskan, nilai kerja keras dalam melaksanakan kewajiban terbersit pula dalam tradisi pemberian sua yang dilakukan bagi penerus keluarga. Pemberian sua itu dimaksud untuk membagi tanggung jawab dalam kehidupan yang dikenal dengan sika gaa ngana sega kodo manu dengan tujuan semoga keturunan keluarga dapat memperoleh kemakmuran. Pengertian sua diidentikan dengan tanah garapan yang berarti dalam membangun rumah, tidak cukup hanya membangun fisik semata namun rumah diharapkan mampu memberi kenyamanan dan kesejahteraan keluarga atau penghuni. Sejak keluarga menerima sua, mereka menyadari bahwa kepadanya diberikan hal dan kewajiban. Haknya menggunakan warisan berupa tanah sedangkan kewajibannya adalah menegakan kewibawaan orangtua, leluhur serta seluruh kesatuan masyarakat. Untuk itu, penerima sua harus bekerja keras guna memperoleh sumber kehidupan dengan menggunakan warisan berupa lahan dengan tenaga sendiri bugu wai kungu uri wai logo, yang berarti harus dengan hasil karya tangan serta kekuatan tenaga sendiri untuk mendapat hasil. Dan, adanya tradisi dalam pendirian rumah adat hanya bisa dilakukan bagi mereka yang sudah memiliki sua. Sua ini diharapkan dapat menopang kehidupan keluarga. Ada unngkapan masyarakat setempat yakni, rawa su mara mau, kamu leza mara beza artinya kerja itu mulai dari munculnya embun pagi sampai matahari terbenam. Ungkapan itu mengajak seluruh masyarakat bekerja keras. Mengingat Jasa Leluluhur Tradisi megalitik yang berkembang di Bena dan di Ngada umumnya nampak pada sisa-sisa peninggalan seperti rumah adat tradisional dan monumen-monumen terhadap arwah leluhur. Tradisi megalitik ini maikin dipertegas oleh keseharian hidup mereka yang memuja arwah leluhur, seperti tercemin pada setiap upacara antara lain mendirikan rumah adat (kasao), upacara reba dan upacara kematian (ngekumato). Keberadaan turesa barajo atau kuburan leluhur maupun para tokoh kampung di depan rumah pada ruang publik dimaksudkan agar warga kampung mengingat jasa leluhur yang berjuang kera membuat perkampungan tersebut. Jublina menjelaskan, salah satu upacaya mencega keaslian wilayah ini dan terhidanr dari modereninsasi adalah dengan melarang masuknya jaringan listrik ke wilayah itu. Masyarakat kampung Bena benar-benar bertekad untuk mempertahankan keaslian kampung mereka. Semua rumah dibangun menyerupai rmah adat dan tidak didizinkan membangun rumah dengan campuran yang bergaya modern. Ini sengaja dikondisikan untuk mempertahankan citra perkampungan adat tersebut sesuai sejarah pembangunan kampung tersebut. Nilai peninggalan Pesona arsiketur rumah adat Bena bukan saja pada fisik rumah, namun satu kesatuan antara rumah, kawasan perkampungan, bentuk kampung hingga lingkungan sekitar kampung. Perpaduan dan keselarasan bentuk rumah, lingkungan dan alam dan syarat dengan makna merupakan pesona tersendiri bagi perkampungan ini. Pesona aritektur Bena telah dikenal luas hingga manca negara. Dan, sudah selayaknya masyarakat Bena menikmati peninggalan leluhur tanpa harus meninggalkan ajaran-ajaran para leluhur yang terus diyakini hingga kini. Untuk menumbuhkan ekonomi kreatif, menurut Jublina, perlu diadakan penataan dan memprioritaskan kebersihan kampung, serta meningkatkan sumber daya manusia masyarakat setempat untuk nantinya dapat diberdayakan dalam pengembangan kawasan wisata minat khusus. Wisata Kampung Bena merupakan aset daerah yang tak ternilai harganya, Kabupaten Ngada bisa mengandalkan Bena sebagai objek wisata unggulan, apalagi warga kampung Bena juga sangat ramah terhadap pendatang atau pengunjung. "Wisatawan dapat leluasa bertanya- tanya tentang budaya yang mereka miliki dan akan dijelaskan dengan sangat baik oleh masyarakat setempat. Ini merupakan nilai yang sangat bagus karena membuat wisatawan merasa lebih diterima," jelas Jublina. Selain itu, fasilitas dan akomodasi pendukung wisatawan haruslah disiapkan dengan baik. Fasilitas tersebut tidak perlu dibangun dalam kawasan kampung Bena, tetapi bisa di sekitar atau di Kota Bajawa. Namun akses tranportasi ke Bena haruslah baik. Bila pemandangan alam sangat indah, maka wisata budaya dan wisata alam dipadukan menjadi satu kesatuan objek unggulan yang sangat menarik bagi wisatawan mancanegara. Satu hal yang harus dijaga adalah pembangunan pariwisata Bena harus tetap merangkul, melibatkan dan menghormati kearifan masyarakat setempat, untuk menghindari kesan bahwa masyarakat ini bukan saja sebagai obyek tapi ikut juga merasakan keberadaan destinasi wisata di wilayahnya. (alf)


Pos Kupang Minggu 22 Februari 2009, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda