Pesona Purba Anakalang


FOTI ANAKSUMBA.NL
KUBUR BATU -- Aneka kubur batu Anakalang. Kekayaan Anakalang ini terancam hilang seiring perubahan pola hidup manusia ekonomis dan praktis.

MITOLOGI suku Sumba menyebutkan bahwa leluhur (nenek moyang) orang Sumba berasal dari Semenanjung Malaka dan Singapura. Orang Sumba menyebutnya Malaka-Tana Bara. Dalam pengembaraan, leluhur orang Sumba menyinggahi beberapa tempat yang termaktub di dalam bahasa Tenda (syair berbahasa daerah).

Tempat-tempat yang disinggahi adalah Hapa Riu-Ndua, Hapan Njawa-Ndua Njawa, Rahuku-Mbali, Ndima Makaharu, Endi-Ambara, Enda-Ndau, Haba-Raih Njua (Riau, Jawa, Bali, Bima, Makasar, Ende, Manggarai, Rote, Ndao, Sawu, Raejua).
Arkeolog Dra. Jublina Tode Solo yang mengutip Beding dan Lestari (2003) yang ditemui belum lama ini di Kupang, mengisahkan, nenek moyang orang Sumba datang secara berkelompok menggunakan perahu dimana kelompok terbanyak mendarat di Tanjung Sasar yang dalam bahasa baitan disebut Haharu Malai-Kataka Lindi-Watu yaitu sebuah tanjung yang terletak di sebelah utara Pulau Sumba bagian barat. Menurut Tode Solo, berdasarkan mitologi, maksud dari bahasa baitan tersebut adalah 'jembatan batu' yang menghubungkan Pulau Sumba dengan Bima dan Manggarai, tetapi karena suatu kekuatan alam menyebabkan jembatan tersebut putus sehingga Pulau Sumba terpisah dengan Pulau Sumbawa dan Pulau Flores. Disebutkan pula, selain Tanjung Sasar, sebagian leluhur orang Sumba ini mendarat di muara Sungai Kambaniru yang dalam bahasa baitan disebut Pandawai-Mananga Bokulu. Anakalang Salah satu kawasan di Sumba Barat yang menjadi cikal bakal perkembangan kelompok suku yang cukup berpengaruh adalah kawasan Kecamatan Katiku Tana, khususnya Bukit Anakalang. Menurut Tode Solo, masyarakat Anakalang mengenal leluhur mereka yang kudus yang turun dari langit, yaitu Umbu Sudi dan Rambu Tarebi (hasil wawancara dengan Umbu Siwa Djurumana dan Umbu Sangaji/Dapa Rowa). Pasangan ini memiliki keturunan tiga orang putra dan satu putri. Disebutkan tiga putra ini bernama Umbu Sabu Anawula, Umbu Riri Analadu dan Umbu Kowalu. Dan seorang putri itu bernama Rambu Pari. Empat anak ini dikenal dengan istilah Ana Ama Ladu, Ana Ina Wula yang artinya yang lahir dari keturunan matahari dan bulan. Umbu Sabu Anawula berkedudukan di Laitarung, Umbu Riri Analadu berkedudukan di Kurubeba, Umbu Kawolu berkedudukan di Anakalang dan Rambu Pari tidak sempat bersuami karena meninggal pada usia muda. Konon, di atas makam Rambu Pari tumbuh padi pertama kali di Sumba sehingga masyarakat Sumba menyebutnya dengan nama Pari. Tode Solo yang kini menjabat Kepala UPTD Arkeologi, Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Propinsi NTT, menyebutkan, Umbu Sebu Anawalu berkedudukan di Laitarung menikah dengan Rambu Kareri (berasal dari kampung Tamenyal) dan memiliki anak bernama Umbu Dangi Loja. Selanjutnya Umbu Dangi Loja menikah dengan Rambu Lawajati dan melahirkan lima orang putra. Lima putra inilah yang menjadi cikal bakal suku- suku yang ada di Laitarung yakni Umbu Todapulung menurunkan suku Dokugawi, Umbu Marawa Kowaba menurunkan Suku Nokusaraswuwaekawolu, Umbu Nekamerasuli menurunkan Suku Kabelawuntu Wailowa, Umbu Matogul menurunkan Suku Matolang Makateri Tawupopu Anabura. Dan Umbu Kalakamoduwawi menurunkan Suku Bali Ledo Wabaga. Masyarakat Anakalang saat ini adalah keturunan ke 18 Umbu Sebu. Kelompok pertama yang mendiami wilayah dengan sendirinya menjadi tuan tanah. Dijelaskan, kepercayaan nenek moyang Suku Sumba disebut Merapu. Inti dari Marapu adalah kepercayaan adanya wujud ilahi yang berkuasa atas hidup dan matinya manusia serta seluruh alam. Karena itu semua pelaksanaan acara dan upacara ritual berpusat pada keseimbangan tata hidup alam dan harus dihormati. Merapu mengajarkan bahwa alam jagad raya ini terbagi dalam tiga tingkat yaitu atas, tengah dan bawah, yang tercermin dalam struktur bangunan rumah adat (uma happaruna dan uma marapu, uma ndewa). Bentuk rumah tersebut sedemikian rupa sehingga bagian atas (alam atas) sebagai tempat tinggal marapu (Uma Dita), bagian tengah (alam tengah) sebagai tempat tinggal manusia dan bagian bawah (alam bawah) yakni kolong rumah menjadi tempat tinggal roh, arwah jahat yakni waudil/arwah, maraungu/suanggi, mapaka bali/hantu dan makambaliku/setan. Bagian bawah ini biasa digunaka untuk tempat hewan peliharaan. Ritual menghormati marapu dalam kehidupan setiap hari bisa dilakukan pada Uma Happaruna dan bisa juga di luar rumah. Jika dilakukan di dalam rumah biasanya di lakukan di atas balai-balai besar atau kaheli bokulu dan di luar rumah biasanya di lakukan di atas katoda. Kepercayaan Merapu ini srat kaitannya dengan seluruh daur kehidupan manusia, yakni sejak masih dalam kandungan ibu, lahir, dewasa, menikah sampai meninggal dunia. Rumah dan kubur merupakan simbol kehidupan dan kematian. Jika telah selesai membangun rumah maka kubur batu pun disiapkan di depan rumah. Bagi masyarakat Sumba yang meyakini Marapu, kematian merupakan perpindahan roh dari alam fana ke alam baka karena itu dilakukan upacara yang membutuhkan hewan korban cukup banyak misalnya kuda dan kerbau. Hewan korban itu disembelih mulai dari kematian seseorang sampai pada penyiapan batu kubur dan upacara penguburan. Dijelaskan, kubur batu di Anakalang terdiri dari beberapa jenis berdasarkan perkembangan dan kemampuan ekonomi warga. Tode Solo menjelaskan, beberapa jenis kubur tersebut adalah: 1. Kurutana yaitu mayat dikubur dalam tanah tanpa batu. Biasanya mayat ditekuk dan dibungkus dengan kain tenun ikat berlapis-lapis, kemudian posisi dalam tanah miring ke kanan. Posisi ini mengikuti posisi bayi dalam kandungan. 2. Korulua yaitu mayat dikubur dalam tanah dan bagian atas ditandai dengan batu-batu kecil mengelilingi kubur tersebut. 3. Rati Manyoba yaitu dikuburkan dalam tanah dan pada bagian atas diletakkan satu lempengan batu yang telah dipahat yang berukuran sekitar satu meter. 4. Koruwatu yaitu mayat dikubur dalam enam lempengan batu pahat (dibentuk kotak persegi dalam tanah). Lempengan batu pahat pada empat sisi disebut koruatu dan satu lempengan batu penutup disebut iru ladu pada posisi di atas tanah. Posisi mayat ditekuk dan miring ke kanan. 5. Korukata yaitu dikubur dalam enam lempengan batu pahat (dibentuk kotak persegi dalam tanah). Dua lempengan batu yang bersusun diletakkan sebagai penutup pada bagian atas tanah. 6. Kabang yaitu batu berukuran besar dan dilubangi pada bagian tengah sebagai tempat meletakkan mayat dan satu lempengan batu sebagai penutupnya. Bagian bawah disebut kabeina (bei: perempuan) dan bagian atas disebut kamonina (moni: laki-laki). Bentuk kuburan ini melambangkan penyatuan antara perempuan dan wanita. Ragam hias mulai marak pada kubur bentuk ini. 7. Watu pa wisi atau dikubur dalam koruwutu dan disampingnya diberikan empat hingga enam penyangga meja batu yang berukuran kecil hingga besar. Ditandai juga dengan batu tegak pada bagian depan (menhir) dengan bentuk ragam hias. Berbagai ragam hias dan ornamen pada bagian luar batu memiliki nilai-nilai simbolis yang berhubungan erat dengan adat istiadat atau kebudayaan masyarakatnya. Seiring dengan perkembangan jaman, dewasa ini di Anakalang, misalnya Desa Kabunduk, sudah banyak ditemui kubur batu yang terbuat dari beton, beton bertulang dan adapula yang gabungan antara batu alam dan beton buatan manusia. "Pada umumnya yang terbuat dari beton bertulang adalah tiang-tiang penopang batu kubur tersebut. Pemilihan tiang beton ini merupakan pilihan praktis untuk menopang batu yang memiliki berat hingga puluhan ton," jelas Tode Solo. Dijelaskan, perubahan lebih jauh adalah kubur-kubur batu tersebut telah diganti dengan semen bahkan diberi ornamen keramik namun tetap pada model tradisional. Menurutnya, bentuk kubur batu sedapat mungkin dipertahankan sehingga nilai-nilai budaya dan nilai-nilai estetika yang terkandung di dalamnya tetap lestari dan dapat dijadikan tempat destinasi wisata. "Penggunaan bahan-bahan baru sebaiknya tidak dilakukan karena bahan baku kubur batu (batu gamping) masih banyak, namun efisiensi penggunaan tenaga manusia bisa dilakukan pada upacara tarik batu yakni dengan menggunaan alat berat atau kendaraan truk. Sedangkan upacara religius magis masih bisa dikemas tanpa menghilangkan makna dari upacara tersebut," jelasnya. Ini perlu dilakukan agar kehidupan purba Anakalang yang eksotik dan menarik tidak hilang ditelan perkembangan jaman. Namun untuk mendukung pariwisata perlu dilakukan adalah penambahan fasilitas pendukung. (alf)


Pos Kupang Minggu 15 Februari 2009, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda