Prof. Dr. Nabisi Lapono, M.Pd


Pos Kupang/
alfred dama

Prof. Dr. Nabisi
Lapono, M.Pd
















Meraih Cita-cita Masa Kecil


PADA tanggal 23 Desember 2008 lalu, Nabisi Lapono merampungkan cita-citanya dalam dunia pendidikan. Guru bangke (guru besar) yang mejadi keinginannya sejak kecil akhirnya tercapai. Ia dikukuhkan sebagai guru besar di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan FKIP Undana.

Bercita-cita menjadi guru besar sejak masih di sekolah dasar (SD). Cita-cita tersebut tertanam dalam sanubarinya hingga akhirnya keinginan tersebut tercapai. Namun, pemahaman awal menjadi guru besar bukanlah menjadi seorang profesor. Nabisi kecil dulu hanya berpikir bahwa guru besar adalah sosok pengajar pada perguruan tinggi atau dosen. Sebenarnya, pria sederhana yang lahir di Poso-Sulawesi Tengah ini datang di Kupang bukan merupakan bagian usahanya menggapai cita-citanya itu.

Tapi waktu kemudian yang membuktikan bahwa sebagian masa hidupnya di abdikan di Bumi Flobamora. Di sini pulalah, cita-citanya itu tergenapi.
Berikut petikan petikan perbincangan Pos Kupang dengan Prof. Dr. Nabisi Lapono, M.Pd di kediamannya di Kelurahan Oesapa, belum lama ini.

Dalam orasi ilmia pada acara pengkuhan Anda sebagai guru besar, Anda mengatakan menjadi guru besar adalah cita-cita sejak kecil.
Jadi begini. Dulu, di Poso, ada satu desa yang kesadaran pendidikannya cukup tinggi, yaitu Desa Taripa di Kabupaten Poso. Anak-anak di desa itu semuanya sekolah. Mutu sekolah di situ cukup bagus dan saya bersyukur bisa berada di desa itu. Kakek saya guru di sekolah itu. Dan, beliau jengkel melihat saya selalu memperhatikan dia. Kalau dia mengajar, kemana dia pergi, di situ saya perhatikan dan beliau menegur, tapi menegur sebagai kakek. Waktu itu tidak sebagai guru.

Dia tanya, besok kalau sudah besar mau jadi apa. Saya langsung menyebut guru bangke, dalam bahasa daerah kami yang artinya guru besar. Bukan gurunya yang saya tertarik, tapi kesempatan menjelaskan sesuatu pada orang lain, itu yang saya tertarik. Kemudian SMP, tetap perhatian saya adalah guru. Sering kali saya lihat guru di desa ambil gaji di kecamatan sementara transportasi itu masih susah dan saya SMP di kecamatan. Dan, saya kembali berpikir kalau guru cuma begini, buat apa? Kemudian SGA, lulus SGA langsung ditawari jadi guru, saya tolak. Oleh Dinas Pendidikan, saya diminta serahkan ijazah saya, tapi saya tidak mau.

Anda mendapat kesempatan kerja tapi kenapa ditolak?
Karena saya ingin sekolah. Saya mau jadi guru tapi yang dosen. Saya dapat kesempatan sekolah di Salatiga. Pulang dari Salatiga sudah gelar BA, dipaksa lagi untuk diangkat jadi guru. Saya bilang kalau cuma jadi guru kecil, saya tidak mau. Cuma saya sejak di SGA, ada pelajaran kepegawaian jadi kebetulan saya lihat ada satu buku kepegawaian saya baca. Di situ dijelaskan jadi guru bagimana, dosen bagaimana dan dosen paling enak.

Begitu lulus sarjana muda dan mau diangkat jadi guru saya tetap tidak mau. Saya katakan kepada kepala dinas (pendidikan), dia om saya, om saya tidak mau jadi pegawai negeri yang guru, saya mau pegawai negeri yang dosen. Beliau mengatakan, sombong sekali kamu. Kamu kira gampang jadi dosen. Saya bilang, memang tidak gampang. Jadi setelah selesai masa wajib kerja lima tahun, saya nekat ke Salatiga untuk studi lanjut doktoral. Dengan tekad biasa sendiri.

Lalu bagaimana Anda bisa sampai ke Kupang?
Saya punya target itu sebelum umur 40 tahun, saya sudah menjadi dosen PNS. Waktu di Salatiga saya kuliah sambil bekerja sebagai pengelola sekolah swasta milik Gudang Garam. Saya waktu itu dikontrak oleh gudang garam untuk mengelola sekolahnya. Anda tahu, pada tahun 1976, saya digaji Rp 250 ribu. Nah, waktu itu gaji PNS Rp 18 ribu. Waktu saya kelola sekolah itu saya bilang saya tidak mau jadi pegawai tetap, saya mau dikontrak pertahun.

Jadi tahun pertama gaji Rp 250 ribu, tahun 1977 dinaikkan mejadi Rp 300 ribu, tahun 1978 dinaikkan menjadi Rp 400 ribu, 1979 dinaikkan menjadi Rp 450 ribu, 1980 menjadi Rp 500 ribu. Dengan fasilitas cuti dibiayai. Saya punya hak boleh punya rumah, boleh punya mobil. Tapi rumah dan mobil saya tidak terima karena saya hanya kontrak, sebab kalau saya terima pasti ditahan. Karena target saya adalah dosen yang pegawai negeri, sambil saya bina hubungan dengan perguruan tinggi yang paling dekat dengan IKIP Malang, Satya Wacana, IKIP Singaraja. Tahun 1980, umur saya 37 tahun dan saya berpikir mulai melamar. Saya minta berhenti dari Gudang Garam tapi ditolak, sehingga saya minta cuti. Cuti diizinkan dan diberikan Uang Rp 1 juta. Itu menjadi modal saya untuk melamar kerja. Saya masukkan lamaran di IKIP Malang, saya ke Denpasar masukan lamaran di IKIP Singaraja dengan target waktu itu setelah Denpasar saya ke IKIP Ujung Pandang dan terakhir ke FKIP di Universitas Tadulako di Palu. Dengan uang Rp 1 juta, saya aman dan itu status cuti.

Setelah selesai urusan di Singaraja, saya mau cari tiket di Denpasar, sampai di kantor Merpati saya lihat ada garis merah Denpasar-Kupang-Makasar. Jadi saya berpikir lebih baik ke Kupang dulu karena salah satu orang Kupang pacaran dengan saya punya famili. Saya tiba di Penfui-Kupang tanggal 2 September 1980 dan nginap do Hotel Astiti dan langsung mengajukan lamaran ke Undana. Tanggal 3 September 1980 saya dipanggil Undana, waktu itu di Naikoten. PR II waktu itu Ibu Mia Noach, teman dari Salatiga juga. Begitu saya masuk di kantornya, langsung belia mengatakan, You kerja di sini saja. Waktu itu ada kebijakan dari pemerintah daerah yang memberikan uang biaya ganti perjalanan Rp 180 ribu. Saya diminta menerima uang itu.

Apakah Anda langsung terima?
Tidak, saya belum mau terima. Saya bergumul, saya hanya cuti dari Kediri dan sasaran saya mau pegawai negeri yang dosen. Saya omong sama Prof. Noach, dia mengatakan, sudah di sini saja, nanti diangkat di sini. Saya minta izin untuk bepikir. Dua minggu saya tidak keluar dari kamar hotel di Astiti. Berdoa. Tiba-tiba satu pagi, saya bangun, mandi dan seperti terkendali saya langsung ke Undana masuk ke ruang PR II, saya langsung bilang, saya terima.

Menurut Anda, apa yang menjadi alasan Undana langsung merekrut Anda?
Pada tahun 1979, seluruh perguruan tinggi negeri wajib melaksanakan sistem kredit semester. Saya adalah lulusan Satya Wacana yang sudah mengikuti sistem kredit semester. Jadi harapan rektor dan Ibu Mia agar saya menyiapkan aturan akademiknya.

Orasi ilmiah Anda tentang proses belajar. Apa yang menarik dari suatu proses belajar?
Saya melihat dari sekian item penyelenggaran pendidikan, terutama pendidikan formal, sangat tergantung pada proses di dalam kelas. Itu yang saya coba renungi dan dari proses di dalam kelas ini nampaknya yang paling perlu dilakukan adalah aspek belajar. Jadi, di sekolah itu, guru sebenanya hanya fasilitator. Masalah yang saya lihat, guru ini tidak menciptakan kondisi yang memungkinkan peserta didik aktif, berinisiatif sendiri. Ini yang saya coba kaji melalui pidato pengukuhan, kemarin. Memang Rektor mengatakan bahwa hasil analisis ini sifatnya subyektif, artinya itu secara subyektif mahasiwa menilai.

Dalam orasi itu, Anda mengatakan motivasi mahasiswa masih rendah?
Mungkin saya punya kajian disertasi dan kajian itu saya sudah renungkan ketika saya menemukan tahun 1980 di Undana. Ada fenomena orang NTT terdiri dari sekian etnik, ada beberapa pulau besar dan saya ambil per pulau waktu itu. Saya analisis prestasi mereka, saya temukan bahwa mahasiswa yang dari luar NTT itu prestasi akademiknya lebih tinggi ketimbang mahasiwa di NTT. Nah, perbedaan prestasi ini saya uji dan signifikan dan berarti sesuati yang harus menjadi perhatian. Ketika saya kuliah doktor dan saya ambil bidang psikologi pendidikan, saya coba kaji. Dan secara hipotetik saya mencoba mengemukan jawaban atas pertanyaan yang disampaikan tadi. Apakah karena iklim cuaca dengan suhu udara yang tinggi sehingga motivasi berprestasi itu rendah. Akhirnya saya bilang begini, ada satu kemungkinan bahwa mahasiwa NTT yang kuliah di Undana hanya sisa-sisa. Mereka yang potensial umumnya kuliah ke Jawa. Itu satu jawaban yang saya temukan, apakah itu kemudian saya usulkan, Undana coba merebut calon mahasiwa potensial dari SMA/SMK untuk datang ke Undana. Maka munculnya PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan) itu. Jadi kita mencoba memberikan kemudahan kepada lulusan SMA/SMK yang potensial untuk datang ke sini (Undana), karena saya melihat biaya dari Flores ke Jawa lebih murah dari biaya dari Flores ke Kupang. Itu sudah fenomena dari dulu, sehingga itu disetujui.
Setelah ini berjalan sejak 1987, kok sama saja. Ketika saya cari tahu mahasiswa yang berprestasi di Undana ini berasal dari luar NTT, mereka datang dari dari Bima- NTB, Bali, Jawa Timur. Ketika saya lihat kode sekolah asal mereka ternyata mereka ini bukan berasal dari sekolah- sekolah yang ada di dalam kota. Umumnya luar kota. Saya berpikir, masa orang NTT kalah dari orang pinggiran di Jawa Timur, pinggiran di Bali dan NTB. Ini yang mengganggu pikiran saya. Saya baca berbagai kajian dari berbagai segi psikologi, kuncinya pada motivasi. Jadi dalam diri manusia itu ada dorongan dalam bidang akademik, berarti berprestasi secara akademik.

Dalam orasi ilmiah, Anda juga mengatakan sebagian mahasiwa Undana tidak memiliki motivasi belajar. Mengapa?
Ketika saya melakukan penelitian desertasi itu, saya banyak wawancara dengan mahiisswa. Saya tanya, kamu kuliah mau cari apa? Umumnya jawabnya pokoknya kuliah. Saya tanya ke mahasiswa Fakultas Hukum, kamu punya cita-cita untuk apa belajar hujum?, Jawabannya 'sonde tahu, pak. Pokoknya kuliah'. Itu jawaban yang buat saya agak heran. Saya coba kondisikan agar jawaban di luar itu, tetap pada jawaban semula. Tidak adanya suatu dorongan. Umumnya mereka kuliah karena teman kuliah, maka saya harus kuliah, karena teman di Fakultas Hukum maka saya juga di situ. Jadi tidak ada motivasi. Dalam motivasi berpretasi ada satu aspek yang disebut dengan harapan kesuksesan. Kemudian saya coba kejar, masa sama sekali tidak ada harapan lain selain kuliah. Besok kalau kamu sudah dapat sarjana, kerja apa? Dijawab PNS. Ada satu yang menarik saat saya tanya mahaiswa Jurusan Perikanan dan Kelautan, waktu itu dibuka jurusan ini. Saya pernah memperhatikan mahasiwa di halte (Jalan Urip Sumoharjo-Kupang). Mahasiswa yang turun dari bis dari Undana itu tidak pulang tapi masih duduk-duduk di situ. Ketika saya dengar yang mereka obrolkan itu non akademik. Saya coba dekati dan tanya, tadi kuliah apa, kadang-kadang mereka sendiri tidak tahu, tadi itu kuliah apa. Jadi mata kuliahnya saja tidak tahu, apalagi kalau saya tanya yang dibicarakan dalam perkuliahan itu apa? Jadi itu tanda-tanda tidak ada motivasi.

Anda juga menyebutkan mahasiswa tidak terlalu mementingkan hasil kuliah.
Semua orang punya alasan, jadi dalam motivasi disebut akribusi kausal. Seringkali mahasiswa tidak mempersoalkan kalau hanya mendapat nilai C dalam mata kuliah. Saya tanya kira-kira penyebabnya apa, jawabnya 'sonde tahu, pak'. Pokoknya dikasih C diterima saja. Jadi akribusi kausal mereka sama sekali nonakademik. Mahasiswa dengan motivasi prestasi tinggi, dia akan bertanya dalam dirinya, saya dapat nilai C mungkin karena tugas aya tidak lengkap. Saya juga tanya sama mahasiswa, dosen kasi nilai A, kamu bangga atau tidak, dijawab 'sama saja'. Itu temuan saya dalam penelitian. Fenomena ini diperparah dengan aspek ketiga, dari motivasi bepretasi. Orang akan giat melakukan sesuatu bila teman-teman di lingkungannya giat.

Lalu siapa yang harus memotivasi mereka?
Ya, itu tugas dosen. Anda coba bandingkan dengan perguruan tinggi terkenal. Kita ambilah Atmajaya. Itu kalau kita lihat kedisiplinan dosen. Dosen cukup aktif, dan umumnya fakultas-fakultas, program studi yang mahasiswanya berprestasi dengan baik itu adalah fakultas, universitas, program studi yang melaksanakan proses belajar mengajar intensif.

Terkadang tingkat pendidikan dosen tidak berkorelasi positif dengan peningkatan mutu pendidikan?
Dulu ada program beasiswa dari Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan, Emil Salim. Banyak dosen Undana yang ramai-ramai ambil beasiwa itu. Orang-orang FKIP dari Program Studi Geografi ambil Kependudukan, Prodi Pendidikan juga Kependudukan, Prodi BK ke Kependudukan, dosen-dosen Fapet banyak juga yang ke Kependudukan. Ada beberapa doktor di Undana yang sarjana BK, tapi ambil S2 dan S3 Kependudukan sehingga untuk menjadi guru besar susah, karena Program Studinya Bimbingan Konseling. Nah di dalam BK tidak ada Kependudukan. Jadi ketika Anda mengatakan tingkat pendidikan tidak berkorelasi langsung itu betul karena ketika pergi sekolah lanjut itu tidak didasarkan pada keinginan saya sebagai seorang dosen mau berkembang di bidang apa. Itu masalah di Undana. Jadi diversifikasi lanjut mungkin baru Prof. Frans Umbu Datta sebagai rektor, secara sadar ketika seorang melamar untuk studi lanjut dilihat dulu bidang studinya. Tapi kalau bidang studinya mau perdalam yang sudah banyak orang pada bidang itu maka biasanya langsung tidak disetujui. Jadi bukan tidak setuju orangnya pergi studi, tapi pergilah sesuai dengan kebutuhan program studi. Jadi kita punya doktor, magister di Undana itu banyak yang tidak relevan dengan keilmuan dasar. (alfred dama)


Profesor yang Sederhana


SAAT ditemui Pos Kupang pertengahan bulan Januari lalu, Prof. Dr. Nabisi Lapono, M.Pd mengenakan kaos tipis, celana pendek dan sandal jepit. Bukan hanya penampilannya yang sederhana, kediamannya pun sangat sederhana bila dibandingkan dosen-dosen Undana lainnya. Rumah sang profesor di Jalan Dalek Esa No. 20 Kelurahan Oesapa-Kupang itu berdinding bebak dan berlantai semen kasar.

Di ruang tamu, tempat wawancara, hanya ada dua kursi kayu yang menemani satu meja. Sedikitpun sang profesor terlihat canggung dengan penampilan dan kediamannya yang sederhana tersebut.
Mengapa Anda memilih hidup sederhana, padahal Anda mampu? Dia menjawab, "Ada enam sistim nilai. Sistim yang pertama teoritik, sistim ekonomi, harmoni, sosial, politik dan keenam theologi. Setiap orang punya keenam sistim ini. Bedanya ada pada urutan. Saya mengurutkan yang paling utama adalah theologis baru teoritik, sesudah teoritik baru harmoni, sesudah harmoni baru sosial, ekonomi yang paling akhir".
Tuhan di urutan pertama dan dan ekonomi di urutan buntut. Artinya materi bukan merupakan hal utama dalam kehidupannya.
"Anak saya pernah meminta saya untuk merenovasi rumah, supaya lebih baik tapi saya bilang tidak usah. Biar saja begini, kita juga tetap bisa tinggal to," paparnya.
Sikap sederhana ini juga terbawa dalam pola hidup. Sang profesor suka berkebun "Tadi Anda menelepon saya, saya sedang membersihkan kebun. Karena saya berasal dari keluarga petani dan orangtua saya selalu mengatakan bahwa tanaman itu makluk hidup dan bisa memberikan hiburan. Saya punya rumah di Salatiga dengan lahan yang hanya 11 kali 30 meter, separuhnya itu tetap kebun," jelasnya.

Kebun kecil milik Nabisi tidak ditanam bunga, namun ditanam aneka jenis sayuran, umbi-umbian serta buah- buahan. Kerap dia bertengkar dengan istrinya, Dra. Lilian Soesilo,M.Pd yang lebih suka menanam bunga. "Kalau istri saya tanam bunga, saya cabut dan ganti dengan sayur-sayuran. Ini yang membuat kita sering bertengkar," jelasnya.

Ayah tiga anak ini juga memilih makanan yang higienis. Bahkan untuk sayuran saja tidak boleh tersentuh pisau saat proses memotong atau mengupas. "Istri saya Cina- Kediri. Ketika dia bilang mau bersuamikan saya, saya bilang boleh, tapi saya petani. Pola hidup saya pola hidup herbal, jangan kamu masakan saya masakan Cina, tapi rebuskan saya makanan rebusan. Saya dan istri sering bertengkar karena ketika mau menyiapkan masakan kangkung dia iris. Menurut orangtua saya, sayur kalau sudah kena pisau, itu berubah. Jadi harus dengan tangan, dipatah saja. Jadi sering kali istri saya kalau masak kangkung, kalau saya tidak lihat, dia iris pakai pisau, begitu saya tahu diiris maka saya tidak makan. Jadi kalau beli sayur kangkung, biasanya saya yang potong," jelasnya. (alf)


Data Diri
Nama: Prof. Dr. Nabisi Lapono, M.Pd
Tempat Tanggal Lahir : Poso 16 Desember 1943
Pekrjaan : Dosen Undana/Pengasuh Mata Kuliah Metodologi Penelitian, Pendidikan dan BK
Pendidikan : Sekolah Rakyat (SR) GKST Taripa tamat 1956
: SMP Kristen GKST Tentena 1960
: SGA Kristen GKST Tentena 1964
D3 Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga 1967 (SM Bimbingan Konseling/BK)
S1 Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga 1976 (BK)
S2 IKIP Negeri Malang 1996 (BK)
S3 Universitas Negeri Malang 2004 (Psikologi Pendidikan)
Istri :Dra. Liliana Soesilo, M.Pd
Anak : Billy Lapono, S.Kom
Laura Anastasia Seseragi Lapono, S.Si
Novalia Sesentowe Pataga Lapono, S.Si

Pos Kupang Minggu, 15 Februari 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda