Rudizon Doko Paty

Foto Pos Kupang/
Apolonia Dhiu
















Bangun Pendidikan Dengan Hati


PERSOALAN pendidikan di NTT memang pelik. Dari waktu ke waktu mutu pendidikan di NTT bukannya meningkat, tetapi malah menurun. Padahal, dari sisi sumber daya manusia (SDM), banyak putra-putri daerah ini yang berhasil di tingkat nasional, bahkan di tingkat internasional. Keterbatasan akses informasi, keterbelakangan secara ekonomi dan masalah kesehatan menambah jumlah persoalan yang menjadi pekerjaan rumah bagi setiap pengambil keputusan di daerah ini. Setiap tahun banyak anak-anak NTT harus keluar dari daerah ini untuk mengenyam pendidikan di kota-kota besar di Jawa. Hal ini sebenarnya perlu mendapatkan perhatian dari setiap elemen pengambil keputusan di daerah ini untuk menekanya.

Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan, jika harus keluar dari NTT. Sebagai putra NTT yang memiliki komitmen untuk membangun dan memajukan daerah NTT, pria lajang ini ingin sekali bersama pemerintah dan elemen terkait membangun pendidikan di NTT. Makanya, walau banyak tantangan ia tetap berusaha untuk merintis pendirian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Surabaya Multi Kampus Kupang. Usahanya ini tidak sia-sia, karena walau baru tahun kedua, namun sudah mendapat repson luar biasa dari masyarakat NTT. Buktinya membludaknya mahasiswa yang masuk di lembaga ini dan adanya dukungan dari pemerintah Kota Kupang dan DPRD NTT. Berikut petikan wawancara wartawan Pos Kupang, Apolonia Matilde Dhiu dengan Ketua Pelaksana Harian STIKES Surabaya Multi Kampus Kupang, Rudizon Doko Patty, Jumat (30/1/2009).


Apa motivasi Anda mendirikan STIKES Surabaya Multi Kampus Kupang?
Yah, ini mungkin jalan Tuhan. Orang bilang ala bisa karena biasa. Pengalamann memang belum, tetapi saya menguasai sedikit dan saya belajar dari orang-orang yang sukses. Saat itu tanggal 31 Januari 2007, secara tidak sengaja saya dipertemukan dengan owner atau pemilik STIKES Surabaya, Drs. Marzuki Rofi, MBA. Kebetulan ia ke tempat saya. Pada awalnya saya tidak yakin karena latar belekang kehidupan masa lalu saya. Tetapi dia menguatkan saya, karena saya lama hidup di Surabaya. Saya SMA dan kuliah di Surabaya tahun 1988-2003. Sehingga beliau mengenali saya.

Tahun 2003, saya pulang ke Kupang, saya bagai orang asing di rumah sendiri karena sekian tahun di Jawa. Saya pikir orang di Pasar Inpres tahu tentang saya, apalagi di seputar Pos Kupang (kantor redaksi SKH Pos Kupang). Tetapi, pertemuan dengan Drs. Marzuki Rofi, menguburkan semua masa lalu tersebut. Saya harus bangkit untuk membagun daerah ini. Saat itu saya menyampaikan visi dan misi rencana mendirikan STIKES di Kupang. Karena sejak taun 2006, saya ingin membuka sekolah tersebut di sini, tetapi menurutnya birokrasi pengurusan ijin di sini terlalu berbelit-belit. Setelah diskusi panjang lebar, dari situ saya mendapatkan ide cemerlang. Saya akhirnya mendukung beliau untuk membangun kemajuan pendidikan di NTT. Pertama, banyak masyarakat di NTT yang trauman untuk masuk sekolah kesehatan, karena terlalu banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Kedua, pengalaman di Jawa, saya melihat STIKES di sana bagus sekali perkembangannya. Di sana sekolah kesehatan seperti counter HP saja, tetapi kenapa di sini sangat sulit? Dari diskusi ini didukung dengan studi kelayakan yang dilakukan tahun 2006, ternyata kurang lebih 4.000-an mahasiswa NTT yang belajar ilmu kesehatan di Jawa Timur (Surabaya). Dari sinilah kami mulai melihat kemungkinan cela legalitas hukum yang mendukung untuk pendirian sekolah ini.

Saya bertanya-tanya, ada apa dengan propinsi ini? Orang di Jawa cari mahasiswa susah. Mereka sudah pada taraf berpikir ekonomi praktis, sehingga sekolah tinggi ilmu ekonomi membludak di sana. Hal-hal seperti ini yang membuat saya terpacu, untuk mengembangkan sekolah tersebut di sini. Saya selalu ingat kata-kata Drs. Marzuki Rofi, MBA, bahwa 'Hidup ini indah jika kita bisa berguna untuk orang lain'.

Apa yang Anda lakukan pertama kali ketika memimpin dan memulai menjalankan Stikes di Kupang?
Pertama kali kami lakukan OSPEK kepada mahasiswa angkatan pertama dengan owner Drs. Marzuki Rofi. Kami juga mendatangkan Samuel Kristian Luan, untuk memberikan motivasi enterpreneurship. Kedua kami datangkan lagi Zulkifli dari Jawa Timur.

Anda tahu pendirian sekolah ini di NTT sulit. Tetapi Anda tetap nekad institusi pendidikan kesehatan itu sendiri?
Sebenarnya proses pendirian sebuah lembaga pendidikan pada prinsipnya tidak sulit bagi mereka yang mengerti dan akan menjadi sulit bagi yang tidak mengerti. Sebenarnya, para pendiri lembaga pendidikan ini yang rugi. Karena, sekolah mahal di bangun di tempat yang salah. Tetapi prinsipnya, pendirian sekolah harus memiliki suatu prosedur. Kami mempelajari dan mensiasati kerancuan pada beberapa aturan main yang ada. Di mana, ada satu SK Mendiknas RI mewajibkan setiap orang yang mau mendirikan sekolah baru harus ada murid. Sedangkan SK Pendidikan Tinggi (Dikti) Nomor 108, usulan pendirian sekolah baru tidak boleh melakukan publikasi terbuka dan tidak boleh ada murid. Dua SK ini bertentangan. Kalau prosedurnya begini, semua usulan diajukan ke Dikti, di sana diproses dan divistasi, setelah selesai baru direkomendasikan ke mentri. dari SK yang bertentangan ini kami mengambil jalan tengah.

Kalau tidak salah sekolah ini awalnya STIKES Nusantara.
Tepat sekali. Awalnya mau membuka Stikes Nusantara, tetapi harus punya modal besar, makanya disiasati dengan membuka STIKES Surabaya dengan pola pendamping dengan ownernya di Surabaya. Seperti Fakultas Kedokteran Undana yang menggunakan pola pendampingan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin.

Berbicara soal multi kampus atau sekolah jarak jauh, salah satu syarat utama adalah harus berbasis informasi dan teknologi (IT). Bagaimana dengan STIKES Surabaya?
Yah, metode pembelajaran kan sangat banyak. Kita memakai pembelajaran sederhana. Kalau Universitas Terbuka Indonesia (UTI) yang pakai modul saja bisa sampai ke pelosok-pelosok, kenapa kita tidak? STIKES Surabaya diakui dan akreditasinya melalui SK Mendiknas. Melalui pasal 24 UU Sisidiknas, badan penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan perguruan tinggi berlaku kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik dan otonomi keilmuan. Pengalaman kesuksesan dan keberhasilan STIKES Surabaya kita percaya bahwa lembaga ini bisa mengembangkan multi kampus di Kupang. Sehingga kita fasilitasi. Kita mencoba semua dari sisi birokrasi, detailnya seperti apa, prosedurnya seperti apa. Ternyata tidak ada kejelasan, sehingga kita lebih kuat.

Dan dari birokrasi di sini, khususnya pemerintahan perijinannya hanya ada dua, yakni pemerintah atau pemerintah daerah. Bahkan kami sudah bertemu dengan Subdin Dikti, Kadis Kesehatan, tetapi tidak ada standar baku. Jadi kami tetap merujuk pada Pasal 24 UU Sisdiknas yakni kebebasan menggunakan metode keilmuan. Persoalan bahwa ada pendidikan jarak jauh, hanya merupakan bagian dari metode. Yang terpenting intinya ibaratnya hukum ekonomi. Kita akan membuka penawaran karena ada permintaan. Ada penjual ada pembeli. Sebenarnya operasionalnya. Kita bukan sekolah ini sudah sesuai dengan kebutuhan.

Hanya sekarang mutunya yang harus dijaga dan apa yang mau dijual kepada masyarakat dan masyarakat terima atau tidak. Ini yang menjadi persoalan. Pada angkatan pertama, kami menerim 70 orang. Namun angkatan kedua membludak, yakni 750-an orang dan ada yang antri lagi, karena masih ada polemik dari instansi teknis.

STIKES sudah berjalan tahun kedua. Tetapi masih ada banyak polemik soal pengurusn ijin. Bagaimana menurut Anda?
Ah, tidak. Itu hanya polemik di masyarakat karena tidak mengerti prosedural. Jadi, legalitas sebuah perguruan tinggi sesuai penjabaran dari UU Sisdiknas pasal 24 dan 31, jelas-jelas ijin opersional adalah SK Mendiknas dan rekomendasi Menkes. Polemik yang ada karena memang ada polemik tentang pendidikan jarak jauh. Karena ada surat edaran dari Sekjen Dikti yang melarang penyelenggaraan pendidikan jarak jauh. Pelarangan kegiatan pendidikan jarak jauh sesuai surat edaran menteri adalah larangan kegiatan kuliah yang dilakukan Sabtu-Mingu atau Senin Kamis. Saya kira tidak ada masalah di sini, karena kita melakukan perkuliahan atau tatap muka full time. Dikti hanya bisa melarang kalau pelaksanaannya tidak memenuhi perysaratan, tetapi tidak bisa membatalkan SK Mendiknas. Oleh karena itu, kita selalu menggunakan acuan UU Sisdiknas ditambah dengan semangat perubahan dan semangat yang ada dalam UUD 1945 dimana pendidikan adalah hak setiap warga negera. Inilah yang menjadi alasan kenapa pendidikan tidak bisa dilarang, karena UU Sisdiknas adalah penjabaran UUD 1945. Tugas pemerintah adalah wajib memfasilitasi dan membina bukan menghalangi.

Sejauh ini apa tanggapan pemda dengan kehadiran Stikes Surabaya Multi Kampus di Kupang?
Pemerintah sangat mendukung. Wakil Kota dan Wakil Walikota sangat mendukung. Kehadiran STIKES sudah direkomendasikan oleh Walikota Kupang, Drs. Daniel Adoe, dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) NTT, Drs, Melkianus Adoe. Saya katakan kalau ada pihak-pihak yang mengatakan STIKES Surabaya ilegal silahkan tunjukkan bukti tertulis sehingga kita bermain pada area yang tepat pada ruang hukum yang tepat.

Sekolah khusus seperti kesehatan terkenal mahal. Tetapi Anda malah mengatakan di sini sangat murah. Mengapa?
Untuk kita segala usaha di bidang apa saja, kuncinya, pertama hanya pada manajerial. Bagaimana menciptakan sistim manajerial yang efisien dan efektif. Kalau sudah menciptakan sistim yang efektif dan efisien, pasti bisa menentukan harga jual yang murah. Tetapi karena misinya adalah membangun sumber daya manusia yang yang berkualitas, kita menjamin ke masyarakat bahwa kita murah tetapi tidak murahan. Karena kita punya tanggung jawab moral kepada masyarakat, sehingga harus menjawab kebutuhan masyarakat. Jika, kita datang lalu hilang, saya yang akan berada di garis depan karena saya anak NTT. Kedua, membuat birokrasi yang sederhana dan tidak banyak pihak yang dilibatkan untuk mengambil kebijakan. Bahkan kita berani menentang intervensi-intervensi yang ada.

Untuk STIKES Surabaya Multi Kelas Kupang, garis kepemimpinannya langsung ke pendiri (owner), Ketua STIKES Surabaya, Pelaksana Harian saya. Sebagai Pelaksana Harian, saya diberi kewenangan untuk langsung melihat berbagai persoalan yang ada di dalamnya dan menyelesaikanya. Karena membangun dengan hati, sehingga kepercayaan mutlak diberikan kepasa saya. Pihak STIKES Surabaya hanya mengintervensi metode penjaminan mutu dan pengelolaan keuangan. Makanya, di sini saya mengambil sikap merangkap Wakil Ketua II, III dan Pelaksana Harian. Ini dalam kaitan dengan manejerial efektif dan efisien, termasuk biro-biro yang ada, tetapi saya jamin kualitasnya dalam pelayanan kepada mahasiswa.

Berapa jumlah karyawan dan dosen di sini?
Untuk mendukung mutu pendidikan tentunya tidak terlepas dari pendidik (dosen) dan tenaga kependidikan (karyawan). Di sini karyawan sebanyak 40-an orang termasuk dosen tetap. Sedangkan dosen tidak tetap sebanyak 70-an orang. Karena ada standar akademik, sehingga kami menerima semua komponen yang berkompeten di daerah ini. Para dosen ini diambil dari dosen Fakultas Kedokteran Undana, staf dari FKM Undana, RSU dan klinik-klinik yang ada di Kota Kupang, Puskesmas dan dari universitas lain dalam kaitan Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU). Kami bekerja sama dengan dewan pendidikan Kota Kupang untuk MKDU Pancasila, staf kantor gubernur dan Unwira. Selebihnya 15 persen staf pengajar berasal dari STIKES Surabaya. Kita tahu NTT kekurangan tenaga medis dan pengajar sehingga kami merangkul semua.

Apa yang dilakukan STIKES untuk menghasilkan output yang handal di masyarakat?
Melakukan pola pendamping terpadu untuk penanganan gizi di beberapa kecamatan di Kota Kupang beberapa minggu terakhir. Memang belum mendapatkan hasil dari kajian tersebut. Selain itu, kami juga berusaha untuk memperluas kerja sama dengan semua elemen di daerah ini. Karena ini merupakan salah satu pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Saya sudah buat satu konsep bahwa mahasiswa STIKES harus siap diperlukan menjadi relawan untuk misi sosial di daerah ini termasuk menyusun lahan sebagai sarana praktek kurikulum dengan mengembalikan mereka sebagai tenaga sosial. Jadi saya buat koordinasi dengan panti jompo, dan panti-panti lainnya di seluruh NTT. Para mahasiswa ini pada akhir smester, memiliki kesempatan dua sampai tiga bulan melakukan praktek di Surabaya. Sebagai persiapan bagi mereka ketika berpartisipasi di masyarakat dengan semua elemen di daerah ini ketika membutuhkan tenaga mereka. Selain itu, di sini juga dibuat kegiatan kerohanian sehingga mahasiswa bukan saja pintar ilmu tetapi juga iman.

Anda memiliki latar belakang pendidikan ekonomi. Bagaimana Anda bisa mengelolah sekolah kesehatan dan bukannya di bidang ekonomi?
Persoalan background sebagai orang ekonomi memang benar. Saya belajar menejerial di sana dan bagaimana memenej mulai dari perencanaan sampai finishing. Saya memiliki keyakinan orang pintar itu karena tau dan orang bisa karena biasa. Untuk itu, saya mau belajar. Memang saya tidak menguasai dan mengerti seratus persen tentang ilmu kesehatan, tetapi saya mengerti metode dasar akademik. Oleh sebab itu saya membangun dan mengembangkan sistim yang ada. Kelemahan yang ada pada orang- orang kesehatan adalah sisi menejerial, padahal mereka semuanya praktisi. Di sini saya kembangkan dengan konsep enterpreneurship yang membangun mereka dari suatu keterpurukan secara psikologis. Secara psikologis, mereka dianggap orang-orang yang gagal. Pilihan masuk di Stikes Surabaya merupakan pilihan yang kedua, bukan pertama dari sekolah yang sama di sini. Kegagalan-kegagalan itu dibangun dengan konsep enterpreneurship bahwa semua orang pernah gagal, tetapi yakinlah kegagalan adalah awal dari sebuah kesuksesan yang tertunda. Persoalan saya dari ekonomi, yah seperti yang saya katakan bahwa kebutuhan akan menejerial, sehingga saya dipercaya untuk mengawal dan menjadi pelaksana harian di sini. (*)


Suka Utak Atik Komputer

SEBAGAI seorang ekonom yang memiliki kemampuan majerial yang tinggi, pria hitam manis kelahiran Kupang, 28 Mei 1973 ini ternyata memiliki hobi lain. Ia dikenal oleh lingkungan sekitarnya sebagai pakar utak-atik perangkat lunak yakni komputer. Rudizon B Doko Patty begitu nama lengkapnya, ternyata juga sebagai pakar komputer karena keahliannya dalam mengerjakan hardwear atau teknisi.

Selain sebagai teknisi, ia juga memiliki beberapa usaha toko di Surabaya dan di Kupang, yang melayani komputer. Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (30/1/2009), Rudi yang pernah menjadi guru kontrak SMP Negeri 12 Surabaya dan Konsultan Metodologi Riset Akuntansi dan Manejemen Perguruan Tinggi di Surabaya ini mengatakan, mengutak-atik komputer merupakan salah satu nilai pluss baginya. Menurutnya, masa lalunya yang kelam harus dirubah dengan menjadikan dirinya berguna bagi orang lain.

Pria lajang yang pernah menjabat Manajer Operasional Koperasi Dinamika Usaha Surabaya dan Manajer Bina Mitra Usaha Mandiri di Kupang tahun 2002-2007 ini mengatakan, kelebihannya ini tidak disimpan sendiri tetapi berusaha menuangkan ke orang lain yakni mahasiswanya di STIKES Surabaya Multi Kampus Kupang.

Ia bangga kerena bisa membagi kemampuan manajerial dan IT kepada mahasiswanya. Menurutnya, kalau sudah menguasai dua persoalan ini maka tidak susah kalau tamat nanti. Karena selain basik ilmu yang mereka dapatkan yakni kesehatan, tetapi juga memiliki keterampilan-keterampilan di bidang manajerial dan IT.

"Mungkin ini salah satu kepercayaan dari STIKES Surabaya kepada saya, karena kebetulan saya memiliki kelebihan di beberapa sisi. Karena saya otodidak dan hoby saya utak-atik komputer dan dari sisi ekonomi saya sarjana ekonomi dari Akuntasi. Sehingga tahu betul pengelolaanya di sini," kata alumnus dari STIESIA Surabaya ini. (nia)


Pos Kupang Minggu 8 Februari 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda