Yosep Nahak dan Maria Fatimah


FOTO ISTIMEWA
Yosep Nahak bersama istri dan anak-anaknya.

Terpisah tapi Tetap Harmonis

ANAK yang bersikap jujur dan baik merupakan harapan setiap orangtua. Kejujuran merupakan hal terpenting dalam pengembangan kepribadian anak. Inilah yang mendorong keluarga Yosep Nahak dan Maria Fatimah menanamkan kejujuran pada anak-anak mereka sejak dini.

Pasangan yang menikah 17 tahun silam kini telah dikarunia anak-anak, yakni si sulung, Oktaviana Maria Virjin Nahak, lahir di Yogyakarta, 14 Oktober 1993, saat ini kelas I SMA Steladuce I Yogyakarta. Anak kedua, Alberto Diliano Novelito Nahak, lahir di Dili, 24 November 1997, saat ini Kelas VI SD Bertingkat Kelapa Lima-Kupang.

Putri ketiganya, Theresia Alisia Nahak, lahir di Kupang, 2 Januari 2002, saat ini Kelas II, SDK Don Bosco III-Kupang. Dan si bungsu, Mario Paulus Nahak, lahir di Kupang, 26 Juli 2008, saat ini baru berusia delapan bulan.

Sementara ini, keluarga ini harus tinggal terpisah. Putri sulung pasangan ini Oktaviana Maria Virjin Nahak sedang studi di Yogyakarta, sementara, sang istri dan putra bungsunya Mario Paulus Nahak tinggal di Betun- Atambua, untuk meneruskan usaha keluarga.

Sedangkan Yosep bersama dua anaknya tinggal di Kupang. Kendati keluarga ini tinggal terpisah namun mereka tetap keluarga yang kokoh dan harmonis.

Apa saja tips mereka dalan membina hubungan kekeluargaan?
Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (20/2/2009), Yoseph Nahak yang menjabat sebagai Kepala Seksi (Kasie) Pengujian Produk Terapeutik, Narkotik, OT, Kosmetik dan Produk Komplemen, Badan POM Propinsi NTT, ini berceritra banyak.

Alumnus Fakultas Farmasi Universitas Gaja Mada tahun 1993 ini mengatakan, walau terpisah-pisah tetapi keluarganya tetap selalu ada waktu untuk berkumpul bersama. Biasanya pada akhir pekan atau saat hari raya bersama atau saat bertugas ke Atambua, ia selalu meluangkan waktu untuk berkumpul bersama istri dan anak-anaknya. Selain itu, istrinya juga demikian, kalau ada waktu luang akan ke Kupang selalu berkumpul bersama.

Pasangan ini juga sangat mempercayai keputusan yang diambil si sulung di Yogyakarta. Tak ada sedikitpun kekhawatiran pada anak sulungnya yang mulai beranjak remaja dan tinggal sendirian di kota besar. Karena bagi keduanya pendidikan yang diberikan kepada anaknya sejak kecil ketika bersama di rumah, yakni kejujuran, sudah cukup sebagai bekal. Putri sulungnya memang tergolong anak yang mandiri sehingga keduanya tidak khawatir, namuan demikian tetap juga selalu dimonitor melalui kunjungan langsung maupun melalui komunikasi telepon. Kejujuruan yang ditanamkan pada diri anak tersebut membuatnya selalu percaya pada anaknya meskipun komunikasi hanya melalui telepon.

"Di sana dia tinggal di asrama yang diasuh oleh suster. Asrama tersebut memang khusus untuk anak perempuan. Selain itu, saya percaya kepadanya karena kami selalu terbuka untuk berdiskusi tentang apa saja. Karena sejak kecil saya sudah tanamkan kejujuran pada mereka. Kesalahan sekecil apapun, saya katakan kalian harus jujur. Beritahu secara terbuka kepada bapa dan mama, sehingga apapun kosekuensinya harus terima.
Itu yang namanya jujur," kata pria berkulit kuning langsat ini.

Yosep yang menyelesaikan studi Master Kesehatan (S2) di Universitas Erlangga tahun 2002 ini, mengatakan, anak-anaknya sudah terbiasa mandiri. Sejak dini anak- anaknya sudah diberitahu dan ditentukan ke mana mereka akan melanjutkan sekolah. Jadi, kalau suatu saat mereka harus jauh dari orang tua, mereka sudah tidak kaget lagi. "Mereka tahu persis kemana mereka akan melanjutkan sekolah, baik SD, SMP, SMA maupun ketika ke perguruan tinggi. Jadi, mereka pilih dan mereka tinggal sekolah saja. Itulah kebiasaan di rumah.

Makanya kalau mereka harus jauh, ya mau bilang apa. Kami orang tua tinggal saja memenuhi berbagai keubutuhan mereka," katanya.
Dikatakannya, anak-anaknya tidak dibiasakan dengan les-les privat di luar jam sekolah. Untuk itu, karena dia juga hobinya mengajar, dia mengajarkan kepada anak- anaknya beberapa mata pelajaran yang bisa ia berikan kepada anaknya di rumah, seperti IPA, matematika dan bahasa Inggris. Bakat ayahnya sebagai seorang guru ternyata ditularkan kepadanya, dan saat ini ia tularkan lagi kepada anak-anaknya.

Menurutnya, pengalaman anaknya ketika mengikuti les di luar, nilainya malah menurun, makanya saya mulai belajar dari pengalaman tersebut. Kemungkinan mereka tidak sanggup lagi menyerap pelajaran di luar karena di sekolah saja sudah full. Oleh karena itu, sepulang sekolah setelah makan, anak-anak dibiasakan istirahat siang, dan setelah saya pulang kantor pukul 17.00 Wita, barulah mereka saya berikan les di rumah.

Dikatakannya, ia selalu menolak undangan-undangan atau acara di malam hari karena hanya saat itulah ia harus memanfaatkan waktu bersama anak-anaknya. "Kami ini orang sibuk, pertemuan efektif dengan anak hanya pada sore hingga malan hari, saya biasanya memanfaatkan peluang tersebut untuk bersama anak- anak. Makanya kalau ada acara malam jarang saya hadir," katanya. (nia)


Pos Kupang Minggu 22 Februari 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda