AKBP Bambang Sugiarto


Foto ist
AKBP Bambang
Sugiarto dan keluarga















Keras Dalam Kata, Lembut Dalam Cara


NAMA Ajun Komisari Besar Polisi (AKBP) Bambang Sugiarto, dalam beberapa waktu terakhir tiba-tiba mencuat ke permukaan khususnya untuk wilayah kerja Polres Ende. Berbagai kasus kriminal berhasil diungkapkan oleh jajaran polisi di bawah pimpinan Kapolres Ende ini.

Jika dilihat sepintas, terkesan Bambang Sugiarto adalah orang yang lembut sebagaimana khas pria Jawa pada umumnya. Namun di balik kelembutannya, Bambang merupakan sosok yang tergas, terutama ketika menjalani tugas sebagai polisi. Tidaklah heran bila sosok Bambang dapat diidentikan sebagai sosok yang keras dalam kata, namun lembut dalam cara. Baginya menjadi polisi untuk melayani masyarakat.

Dengan alasan itu dia menginginkan polisi yang benar-benar bersih karena hanya pada sosok polisi yang bersih dia akan bisa melayani masyarakat. Untuk mengetahui lebih jauh tentang sosok Kapolres Ende, AKBP Bambang Sugiarto, dan bagaimana kiat-kiatnya memimpin Polres Ende, berikut wawancara wartawan Pos Kupang, Romualdus Pius, beberapa waktu lalu di ruang kerjanya.

Mengapa Anda mau jadi polisi, padahal seorang polisi dari sisi pendapatan minim namun harus bekerja keras dalam melayani masyarakat?.
Memang, sudah dari dulu saya berkeinginan menjadi tentara atau polisi karena terinspirasi dari orang tua yang seorang pejuang veteran. Kebanggaan sebagai pejuang dan abdi negara serta cerita heroisme membuat saya tertarik dan berkeinginan menjadi tentara atau polisi. Oleh karena itu, pada tahun 1985 saya mendaftar AKABRI, setelah diterima sebagai Taruna AKABRI saya masuk matra kepolisian. Pada saat itu saya sangat bangga menjadi Taruna AKPOL. Setelah lulus tentunya menjadi polisi sehingga tercapailah keinginan sebagai prajurit Polri sebagai abdi negara. Tentang pendapatan urusan belakangan yang penting adalah kebanggaan dan memperoleh pekerjaan.

Bisa diceriterakan sejarah pendidikan sehingga bapak bisa menjadi polisi seperti sekarag ini. Setelah lulus SMA saya mendaftar AKABRI, tahun 1985 menjadi Tarunan AKPOL lulus tahun 1988 kemudian penempatan tugas pertama di Polda Sulawesi Utara. Tahun 1997 mengikuti sekolah PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Di Jakarta lulus tahun 1999 ditempatkan di Polda NTT. Kemudian tahun 2000 mendapat kesempatan sekolah Pasca Serjana S-2 KIK (Kajian Ilmu Kepolisian ) di Universitas Indonesia, Jakarta lulus tahun 2002 ditempatkan di Ditlantas Mabes Polri. Pada tahun 2004 dimutasikan ke Polda Jawa Tengah, selanjutnya tahun 2007 sekolah SESPIMPOL ( Sekolah Staf dan Pimpinan Polri ) di Lembang dan lulus ditempatkan di Polda NTT, kemudian pada bulan Juni 2008 menjadi Kapolres Ende sampai sekarang ini.

Bagaimana pandangan Anda tentang figur polisi ideal? Figur polisi ideal adalah polisi yang harus profesional, proporsional yang dapat mengingat bahwa dirinya adalah insan hamba Tuhan, mempunyai rasa nasionalisme Indonesia sepanjang hidupnya dan memiliki rasa cinta persatuan, satu nusa satu bangsa dan serta satu bahasa serta harus bersikap bahwa polisi bukan alat kekuasaan dan alat politik, tetapi polisi adalah sebagai sosok pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat. Polisi harus sebagai sosok yang mampu bekerja untuk menghilangkan segala bentuk gangguan keamanan, dapat menjaga keselamatan jiwa harta benda masyarakat dan menjunjung hak azasi manusia, dapat menjamin kepastian berdasarkan hukum serta mampu memelihara rasa tenteram dan damai bagi masyarakat.

Apa pernah bermimpi menjadi polisi atau setidaknya bercita - cita menjadi polisi?. Ia, memang dulu saya menginginkan atau bercita - cita menjadi seorang tentara atau polisi sebagai abdi negara.

Ketika dipercaya menjadi Kapolres Ende apa yang Anda bayangkan tentang Kabupaten Ende dan apa pertama kali Anda lakukan? Ketika dipercaya menjadi Kapolres Ende, saya langsung melihat peta dan membayangkan tentang Kabupaten Ende. Setelah itu saya menebak bahwa daerah geografisnya pasti bergunung - gunung, daerah pantai yang panas dan mempunyai karakteristik daerah yang unik, seperti halnya daerah di Sulawesi Utara, tempat saya pernah bertugas. Adapun yang pertama kali saya lakukan setelah saya menjabat sebagai Kapolres Ende adalah segera memahami karakteristik daerah dan kondisi sosial budaya masyarakat serta kondisi kesatuan Polres. Tentu saja segera melakukan perencanaan kerja utamanya pembinaan personel dan penggunaan personel dalam pelaksanaan operasional kepolisian dengan sistem manajerial yang baik.

Setelah menjadi Kapolres Ende apa yang Anda lakukan dalam masa jabatan tersebut? Saya berupaya untuk dapat menekan angka kriminalitas dan meningkatkan penyelesaian perkara dengan target harus lebih dari 75 persen Adapun yang saya lakukan antara lain meningkatkan tugas patroli, menghidupkan kring reserse, peningkatan pembinaan penyuluhan masyarakat dengan mengedepankan kemitraan dan berpolisian masyarakat. Kemudian melakukan pelayanan publik dan penanganan perkara / penyidikan yang profesional, proporsional dengan mempedomani kebijakan pemerintah pusat, pimpinan Polri baik Polda NTT maupun Mabes Polri.

Bagaimana Anda memandang kepercayaan dari atasan untuk menjabat sebagai Kapolres Ende? Yang jelas saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa karena diberi kepercayaan oleh pimpinan untuk menjadi Kapolres Ende. Jabatan ini adalah rahmat dari Tuhan yang harus disyukuri, sehingga saya bertekad untuk dapat melaksanakannya dengan sebaik - baiknya. Saya sangat menyadari bahwa tanpa campur tangan Tuhan saya tidak dapat memperoleh kepercayaan ini dan dapat melaksanakannya dengan baik. Karena itu, kepercayaan ini merupakan amanah yang harus tetap saya laksanakan dengan rasa penuh tanggung jawab, bekerja seoptimal mungkin sesuai kemampuan saya, dan Insya Allah saya akan tetap komitmen untuk selalu berbuat yang terbaik.

Bagaimana kiat Anda dalam memimpin Polres Ende dengan berbagai latar belakang anggota yang berbeda suku, agama, pendidikan dan karakters serta kepangkatan? Saya mengharapkan prinsip-prinsip manajerial bahwa suatu pekerjaan harus diselesaikan dengan cara kerja sama untuk memperoleh hasil yang sinergis.Untuk mengatasi latar belakang yang berbeda, saya selalu memberikan pemahaman kepada mereka (anggota) bahwa kita semua adalah anggota polri yang mempunyai kejuangan dan kebanggaan, bekerja hanya untuk institusi polri, dimana polri hanya mempunyai pedoman hidup Tribrata dan pedoman kerja Catur Prasetya. Oleh karena itu, meskipun terdapat banyak latar belakang yang berbeda di Polres Ende, tidaklah menjadi persoalan yang berarti. Keragaman latar belakang justru menjadi khasana yang dapat saling mengisi terhadap kekurangan yang ada sehingga kita tetap solid. Kita semua telah memahami adanya Kode. Etik Profesi, Etika Profesi Kepolisian dan Profesi Kepolisian, disana telah dijadikan sebagai landasan Etika/ Filosofi moral perilaku, sikap, ucapan dan hal-hal yang diwajibkan, dilarang, patut tidak patut bagi anggota polri, serta semua sebagai wujud jati diri polri sebagai wujud komitmen moral anggota polri.

Bisa dipetakan tingkat kerawanan yang terjadi di Kabupaten Ende berdasarkan urutan dan bagaiman menaggulangi kerawanan tersebut. Tingkat kerawanan kriminalitas di Kabupaten Ende dapat dipetakan antara lain dengan urutan Kecamatan Ende pada umumnya, Kecamatan Wolowaru, Kecamatan Detusoko dan Kecamatan Nangapanda. Berikutnya, kecamatan lain yang pada umumnya memiliki kerawanan yang hampir sama. Untuk menaggulangi kerawanan tersebut kita lebih menekan pada kegiatan pre-emtif dan preventif, yaitu pencegahan dengan memberdayakan sumber daya potensi masyarakat yang ada (pam swakarsa,pam lingkungan ),Polmas (perpolisian masyarakat), membentuk FKPM (Forum Kemitraam Polisi Masyarakat ) dan meningkatkan patroli serta kring reserse.

Selama menjabat Kapolres Ende apa saja tantangannya?. Tantangannya adalah kondisi karakteristik wilayah, sosial dan budaya masyarakat. Dengan kondisi keterbatasan sarana dan prasarana karakteristik tersebut menjadi tantangan serius bagi Polres Ende untuk mampu memberikan pengayoman, perlindungan dan pelayanan serta sebagai penegak hukum.

Bagaimana pandangan Anda tentang partisipasi masyarakat mendukung tugas-tugas kepolisian? Partisipasi masyarakat dalam mendukung tugas-tugas kepolisian khususnya di Polres Ende cukup baik.Disamping itu, masyarakat menuntut dan mengharap terhadap Polri akan pelayanan, pengayoman, perlindungan dan penegakkan hukum yang baik, tetapi masyarakat juga mau memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun dan menginginkan Polres Ende ini untuk semakin baik. Masyarakat mau membantu memberikan informasi penting kepada Polres Ende dalam mengungkapkan kasus-kasus baik itu masalah perjudian, narkoba, illegal logging dan kasus-kasus kejahatan lainnya. Masyarakat mempunyai kemauan yang baik untuk tetap menjaga kondisi kamtibmas ketika menghadapi permasalahan sosial maupun politik.Sebagai contoh pada pelaksanaan Pilkada Bupati dan Wakil Bupati yang sudah dilaksanakan dengan aman. Hal itu berkat kerja sama yang baik antara Polres Ende dan masyarakat.

Berapa jumlah personel Polres Enda? Dan, bagaimana Anda menjalakan rencana tugas Anda dengan kondisi ini? Jumlah personel Polres Ende 476 orang yang terploting untuk masing-masing 10 Polsek dan Pos Pol di kacamatan rata-rata 15 orang. Sesuai standart PBB ratio pelayanan polisi dengan jumlah penduduk idealnya 1:400, sehingga untuk kabupaten Ende yang jumlah penduduknya kira-kira 250.133 jiwa dibanding jumlah personel Polres Ende 476 orang, maka sangat jauh sekali untuk memenuhi standart ideal. Oleh karena itu agar Kabupaten Ende tetap kondusif yang dilakukan adalah kiat-kiat berupa pemberdayaan potensi masyarakat yang ada yaitu dilakukan penerapan model perpolisian masyarakat (Polmas), membentuk FKPM (Forum Kemitraan Polri Masyarakat) untuk bersama-sama memecahkan masalah, kerjasama dengan Kesbanglinmas untuk membentuk kelompok masyarakat pemberdayaan kewaspadaan dini masyarakat di daerah dan meningkatkan patroli serta kring reserse.

Saat menjabat sebagai Kapolres Ende, Anda melakukan sejumlah gebrakan yang cukup fenomenal untuk ukuran Kabupaten Ende seperti penangkapan bandar ganja dan yang paling menghebohkan penangkapan pemain judi yang melibatkan oknum perwira polisi. Saya sebagai kapolres hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, yaitu melaksanakan perintah pimpinan, sebagaimana telah digariskan dalam kebijakan pemerintah maupun pimpinan Polri. Saya harus komitmen untuk melaksanakan kebijakan tersebut program kerja akselerasi transformasi Polri menuju Polri yang mandiri, profesional dan dipercaya masyarakat harus dilaksanakan. Saya harus berbuat dan bekerja untuk mewujudkan kamtibmas yang kondusif dan berprinsip bahwa kalau Polri menyuruh masyarakat untuk tertib, maka Polrinyapun harus tertib lebih dahulu, Polri harus memberikan contoh dan tauladan yang baik kepada masyarakat.

Ada sinyalemen bahwa di tubuh Polres Ende saat ini terdapat kelompok-kelompok diantara perwira dan anggota. Apa benar hal tersebut? Polri saat ini adalah polisi sipil dalam arti polisi sekarang adalah polisi yang harus santun dan beradap. Polri harus tetap menjunjung tinggi hirarki, dan ada kepangkatan sehingga sehingga tidak ada persaingan antara yang satu dan lainnya, semua pekerjaaan harus mencapai suatu tujuan yang sinergis untuk institusi Polri, sehingga sinyalemen tersebut tidak benar.

Mengapa Anda harus membentuk tim khusus seperti tim pemberantasan judi padahal dalam tubuh polisi sudah ada serse intel? Apa Anda kurang percaya dengan orang tersebut atau Anda punya rencana lain? Bukannya saya tidak percaya pada satuan fungsi Serse dan Intelkam. Tetapi dengan tidak mengensampingkan kedua satuan fungsi tersebut, saya menganggap bahwa kalau dibentuk tim work dengan menugaskan personel yang telah terpilih untuk melakukan pekerjaan penyelidikan, saya yakin kerjanya akan lebih optimal. Untuk tim work akan bekerja secara profesional, proporsional dan mempunyai tanggung jawab penuh serta bekerja lebih intensif dari pekerjaan rutin biasanya dengan diberikan target atau hasil yang harus dicapai. Perlu diketahui bahwa tim work dibentuk secepatnya sifatnya sementara saja dan anggotanya berganti - ganti, dan dibentuk manaka diperlukan penugasan khusus yang memerlukan penanganan intensif.
Pada tahun 2008 lalu di Ende telah dilaksanakan Pemilu Bupati dan Wakil Bupati Ende dan hal tersebut berlangsung secara kondusif hal tersebut tidak terlepas dari keamanan polisi lalu bagaimana kesiapan polisi dalam menghadapi pemilu legislatif dan pilpres 2009.
Untuk kesiapan pengamanan Pemilu Legislatif dan Pilpres 2009, persiapannya tidak jauh berbeda dengan Pilkada yang baru lalu. Satgas Operasi Polres Ende nantinya akan dibantu oleh TNI, instansi terkait serta mitra Kamtibnas lainnya. Pelaksanaan pengamanan yang akan dilakukan adalah rangkaian tahap inti Pemilu tahun 2009 selama 7 hari dari hari "H" sampai "H + 233" yang saat ini sudah berjalan. Dalam hal ini kekuatan Polri 476 personel di tambah Kompi Brimob Ende 62 personel. Untuk kesiapannya kami telah melakukan latihan operasi Mantap Brata guna memberikan bekal pengetahuan, ketrampilan anggota secara profesional dalam penanganan, pencegahan dan penanggulangan gangguan kamtibmas sebelum, menjelang dan sesudah Pemilu 2009.

Apa pesan Anda baik kepada anggota polisi dalam menghadapi Pemilu Legislatif 2009 dan Pilpres, serta kepada masyarakat Kabupaten Ende dalam menghadapi event politik terbesar di Tanah Air? Pesan saya kepada anggota polisi dalam menghadapi Pemilu 2009 agar dengan semangat melakukan tindakan antisipatif, khususnya pengamanan pada menjelang, pada saat maupun pasca Pemilu. Dalam melaksanakan tugas pam Pemilu posisi Polri harus netral tidak memihak kepada salah satu kelompok yang bertentangan atau bertikai. Polisi harus berani menindak secara tegas dengan tindakan keras namun tertukar serta sesuai dengan prosedur dan tahapan - tahapan atau urutan tindakan yang ada. Hindari sikap dan tindakan arogansi di lapangan yang dapat mengakibatkan anti pasti masyarakat dan bahkan dapat menjadi pemicu kemarahan massa yang menjurus kearah kerusuhan massal kemudian pelihara dan tingkatkan ke kompakan dan kerjasama dengan seluruh anggota pengamanan di lapangan sehingga kita merupakan tim yang sulit dan tangguh. Sedangkan kepada masyarakat Ende kami harapkan untuk dapat meningkatkan kemitraan dengan Polri dalam rangka menangani permasalahan sosial masyarakat yang terjadi. Agar masyarakat mau memberikan informasi kepada Polri oleh karenanya masyarakat harus memiliki kewaspadaan dini terhadap kondisi kepekaan, kesiagaan dan antisipasi masyarakat dalam menghadapi potensi dan indikasi timbulnya gangguan kamtibnas. (romualdus pius)


Isi Waktu Keluarga Dengan Olahraga

DI tengah kesibukanya sebagai Kapolres Ende, AKBP Bambang Sugiarto masih memiliki waktu untuk bercengkrama bersama keluarga yakni, istri Farha Mubarak dan kedua anaknya Astia Febia Wati Sugiarto dan Reananda Sugiarto. Untuk mengisi waktu bersama keluarga Bambang Sugiarto mengisinya dengan berolaraga bermain tenis lantai maupun badminton. Karena menurutnya dengan berolahraga selain dapat menjaga kebugaran tubuh juga adalah saat yang tepat untuk bercengkarama bersama keluarga. "Saya kerap mengajak istri saya untuk bermain tennis lantai ataupun badminton,"ujarnya.

Meskipun di tengah kesibuknya sebagai Kapolres Ende namun dia senantiasa meluangkan waktu untuk keluarga karena menurutnya keluarga adalah faktor utama di dalam karier dan tugas sebagai polisi. Selain itu dalam bertugas sebagai Kapolres Ende tidak ada alasan untuk menyampingkan keluarga. "Selalu ada waktu untuk keluarga karena bertugas di Ende tidak seperti di Pulau Jawa yang tingkat intensitasnya tinggi karena bagi saya bertugas di Ende akan waktu selalu untuk keluarga,"katanya.

Mengenai sang istri, Farha Mubarak, Kapolres Bambang mengatakan bahwa wanita asal Manado tersebut adalah wanita yang mandiri. Hal ini dibuktikan ketika berpindah-pindah tugas sang istrilah yang mengatur semua barang-barang dan juga kedua anak mereka. "Ketika saya dipindahkan ke tempat tugas yang baru. Istri saya yang mengatur barang-barang rumah tangga termasuk keperluan kedua anak kami,"kata Bambang. (rom)
Riwayat Hidup
1. Nama : Drs. Bambang Sugiarto, M.Si.
2. Pangkat : AKBP
3. Tempat/tgl lahir : Blora 7 Maret 1964

Ii. Pendidikan
SD Tahun 1977
SMP 1981
SMA 1984
Pendidikan Polri
AKPOL Tahun 1988
PTIK 1999
Sespim Pol 2007
Program pascasarjana (s-2) KIK (Kajian Ilmu Kepolisian) 2002

Penugasan
1989- 1995 Polda Sulut
1997 Pama PTIK (dalam rangka dik ptik)
1999 Kasat PJR Polda NTT
2000 Waka Polres Timor Tengah Utara (TTU)
2001 Waka Polres Kupang
2001 Kasubbag Dastik Bagren Setlem PTIK(dalam rangka dik 2003- 2005 Polda Jawa Tengah
2007 Pasis Sespim Polri
2007 Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda NTT
2008 Kapolres Ende hingga sekarang

Nama istri : Farha Mubarak
Tempat/tgl lahir : Manado 6 juni 1973
Nama anak :
1. Astia Febia Wati Sugiarto
Tempat/tgl lahir : Manado 23 Pebruari 1993
2. Reananda Sugiarto
Tempat/tgl lahir : Jakarta 13 April 2002

Pos Kupang Minggu 15 Maret 2009, halaman 3

1 komentar:

mantap,,,,terkadang karakter manusia memang berbeda,,,tapi yang seperti inilah yang sulit untuk membentuk nya,,,,

21 Februari 2013 19.48  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda