Alya Rohali Tak Mau Paksa Anak


Foto: kompas.com
Alya Rohali
bersama anak


SETIAP orangtua hampir selalu memiliki keinginan agar anaknya kelak mengikuti jejak sukses ayah atau ibunya. Demikian juga yang diharapkan Alya Rohali. Namun, kendati memiliki bakat seni sejak kecil, Andjani Ramadina, putri pertamanya, tegas-tegas menolak.

"Sejak kecil dia senang nyanyi, tetapi dia bilang nggak mau mengikuti jejak saya sebagai artis. `Saya nggak mau kayak Mama'," tutur Alya menirukan putrinya. Karena itu, ketika ditemui Gaya Hidup Sehat (GHS) menjelang tampil bareng di acara fashion show Ibu dan Anak, ia mengaku tak mau memaksakan kehendak pada Andjani. "Saya prinsipnya mendukung apa pun yang disenangi anak, asal itu positif.

Dukungan itu penting karena membuat anak sadar kalau mereka diperhatikan dan membuatnya semakin terpacu. Soal persiapan fashion show bareng ini juga nggak ada, aku percaya dia mampu," sebut Alya sambil melirik putrinya.

Putri Indonesia 1996 ini juga berharap Diarra Annisa Rachbini, putri keduanya, berkembang normal dan sehat. Karena itu, ia memberinya ASI eksklusif. Sejauh ini buah hati hasil perkawinan keduanya itu memang sangat sehat dan aktif. "ASI eksklusif tak hanya sehat bagi anak, tetapi juga buat ibunya, lho," tambah istri dari Faiz Ramzy Rachbini ini. Betul, Bu!. (kompas.com)


Anak Berhak Belajar Secara Menyenangkan

SEMUA anak berhak mendapatkan proses belajar-mengajar di sekolah yang menyenangkan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.
Karena itu, kebijakan pendidikan yang berdampak pada anak-anak ini jangan dipenuhi dengan kepentingan politik penguasa, namun benar-benar berpusat pada kepentingan anak sebagai generasi masa depan bangsa. "Belajar itu hak. Istilah wajib belajar itu datangnya dari pemerintah. Jadi, anak-anak jangan diajak ke sekolah hanya untuk mengejar pencapaian statistik wajib belajar.

Tetapi ajakan belajar itu memang benar-benar untuk membuat anak memiliki pengetahuan dan mendorong potensi diri setiap anak berkembang secara bebas," kata Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak di Jakarta.

Menurut Seto, kebijakan pendidikan yang ada sekarang ini belum mampu menciptakan suasana belajar di sekolah yang menyenangkan untuk anak-anak. Para guru masih mendidik anak-anak secara kaku untuk menjadi penurut dengan mengekang kebebasan dan kreativitas anak.

Seto mengatakan pendidikan memang harus mampu mengantarakan anak-anak untuk mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan. Tetapi yang tidak boleh dilupakan adalah pengembangan diri anak untuk menjadi manusia yang utuh yang tidak semata-mata dinilai dari pencapaian angka-angka secara absolut.

Untuk mengubah suasana belajar di sekolah yang masih belum memenuhi harapan anak dan orang tua, kata Seto, para guru harus dibekali dengan keterampilan belajar. Pembekalan ini dibutuhkan agar guru bisa menemukan proses belajar-mengajar dengan mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak.

Sulistiyo, Ketua Umum Asosiasi Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) Swasta Seluruh Indonesia, mengakui jika guru Indonesia umumnya belum mampu memenuhi harapan masyarakat dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga belajar di sekolah menjadi pengalaman terbaik dalam perjalanan hidup seorang anak.

"Menjadi guru kebanyakan pilihan terakhir atau terpaksa. Tidak heran jika kualitas guru terus digugat. Karena itu, pemerintah harus benar-benar mendukung peningkatan kualitas guru. Lembaga pendidikan guru juga harus bertanggung jawab untuk menghasilkan guru yang sesuai dengan harapan masyarakat," kata Sulistiyo. (kompas.com)



Ajari Si Kecil Mengenal Uang

MENGAJARI anak tentang uang dan fungsinya sudah bisa dimulai sejak mereka balita. Ajari si kecil bahwa uang harus dipergunakan sebagaimana mestinya agar ia tidak mudah melakukan apa saja terhadap uang. Berikut tips mudah untuk mengenalkan anak terhadap uang.

1. Ke pasar
Belanja ke pasar tradisional akan memberi anak lebih banyak pelajaran dibanding jika Anda membawanya ke supermarket. Di supermarket anak tidak bisa melihat siapa yang jadi penjual, sebaliknya di pasar, di mana anak bisa melihat interaksi ekonomi antara pedagang dan pembeli.

Libatkan si kecil dalam transaksi belanja agar ia bisa berpraktek menjadi konsumen. Misalnya dengan membiarkan si kecil memilih wortel atau mengijinkan ia menyerahkan uang pada si penjual. Beri penjelasan dengan bahasa sederhana dari mana sayuran atau ikan yang dijual didapat, agar ia punya gambaran mengapa Anda membayar sekian rupiah untuk membelinya.

2. Menabung
Apakah si kecil merengek minta diajak ke Dunia Fantasi? Ataukah ia sangat ingin memiliki sepeda mini seperti punya temannya? Ini adalah saat yang tepat untuk mengajari pentingnya menabung. Berikan ia celengan dengan kesepakatan keinginannya akan terkabul bila celengan sudah penuh. Anda juga bisa mengajak seluruh anggota keluarga bersama-sama menabung dalam satu celengan untuk tujuan berlibur bersama, sehingga semua merasa sebagai satu tim dan terpacu untuk menabung.

3. Ikut ke Bank
Melihat transaksi yang dilakukan di bank akan membantu anak memahami makna uang. Jangan lupa untuk melibatkan anak, misalnya membiarkan anak menyerahkan buku tabungan ke kasir bank. Saat anak berusia lima tahun, Anda bisa membuatkan buku tabungan miliknya sendiri. Beri penjelasan yang logis dan positif tentang pentingnya menabung di bank agar ia memiliki kesan positif tentang uang dan bank.

4. Menyumbang
Mengajari anak bahwa sebagian orang yang hidupnya beruntung perlu membantu orang lain yang lebih susah, merupakan bagian penting dalam pelajaran tentang uang. "Keluarga bisa melakukan hal sederhana untuk menanamkan kebiasaan berbagi sejak usia dini," kata Laura Busque, dari Ohio Credit Union League.
Menyumbang sejumlah uang di rumah ibadah, atau membeli makanan untuk dibawa ke panti asuhan adalah contoh kecil yang bisa Anda lakukan bersama si kecil.

Anda juga bisa mengajari anak melakukan kegiatan sosial yang sesuai dengan minat si kecil. Misalnya bila ia pecinta binatang, ajak si kecil ke tempat penampungan hewan dan memberi binatang-binatang di sana makanan.

5. Beri Uang Saku
Memberi anak uang saku merupakan cara yang tepat agar ia belajar mengelola uang. Anak akan memahami bahwa semua orang memiliki uang terbatas dan uang yang tersisa hari ini bisa digunakan untuk besok. Ia pun akan belajar memilih barang yang akan dibeli sesuai dengan uang yang dimilikinya. (kompas.com)



Pos Kupang Minggu 15 Maret 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda