Di Pengujung Tahun

Cerpen Marcello Abur

AKU tak pernah menyangka jika semuanya toh akan berubah. Sejak pertama kalinya telapak tangan kami bersentuhan dalam perkenalan dengan dara muda oleh seorang sahabat di garasi mobil milik seorang pengusaha yang tergolong sukses itu, saat itu pula ternyata tanpa terasa aku mulai membuka lahan baru dan menyemai benih persahabatan dalam tapak-tapak perjuangan kisah kami.

Aku tidak tahu ternyata semuanya itu merupakan produk persahabatan yang sebenarnya telah pupus. Sudah lama aku tersiksa, sudah lama aku tertekan, dan sudah lama pula aku mencecit kegelisahan. Semuanya lantaran kami tak pernah menyibak tirai-tirai yang lama terkubur dalam nubari masing-masing. Memang saat itu aku sadar bahwa semuanya membutuhkan waktu dan keberanian, sebagaimana kepompong membutuhkan waktu untuk berubah menjadi seekor kupu-kupu.

Demikianpun aku membutuhkan waktu dan keberanian untuk berpikir serta mangubah persahabatan ini dengan sebuah kata yang namanya "CINTA". Yah., berani untuk berusaha dan mengatakan hal yang perlu dikatakan sebagai silih atas kegelisahan. Selayaknya aku harus berusaha belajar dari seekor kepompong yang tanpa henti berusaha untuk berubah, dalam setiap perputaran waktu. Dan semuanya berputar menurut aturannya sendiri. Ia tak mampu dikendalikan oleh siapapun.

Namun apakah arti sebuah cinta? Memang, bagi orang yang mabuk kepayangan, cinta dapat didefinisikanya sendiri, bagi setiap seniman pun mempunyai jawabanya sendiri, dan setiap filsuf pun mempunyai pandangannya sendiri tentang arti dari sebuah cinta. Tetapi bagiku, cinta adalah sebuah kebahagiaan, sebab di mana ada persahabatan di situ tercium aroma, yang berujung pada sebuah kata yang jelas terukir dalam setiap lubuk. Cinta namanya.

Namun, kebahagiaan sempurna bukan terletak dalam sebuah persahabatan, yang mungkin hanya membuat gelisah dan tak puas. Kebahagiaan itu ada jika aku bisa mencintainya dan bahkan harus memilikinya, tanpa harus mengusik persahabatan itu.

Masih segar dalam ingatanku kala kau tinggal bersama seatap dan makan sehidangan denganku, berapa tahun silam. Kala itu aku dan kau sama-sama menyandang status yang sama yakni pelajar. Setiap pagi engkau berbusana putih apik, dipadukan dengan rok panjang menjulur sampai betis, meninggalkan rumah dan pulang di saat terik menyengat tubuh, dengan beberapa helai kertas digulung. Lalu kau membangun tenaga dan kembali melanjutkan aktivitas, sampai mentari merayap lelah dan pergi meninggalkanmu.


Jarang engkau betah bersama sahabat di rumah, apalagi ngobrol bersama. Engkau sungguh memikirkan bahwa waktu memang benar-benar tak akan kembali. Sampai kapan pun dan dimanapun ia tetap pergi bersama angin dan mentari yang terus bergulir. Begitulah rutinitas harianmu. Aku pun tahu dimana kau berada jikalau engkau tak ada di rumah. Dan, aku pun tahu ke mana engkau pergi walaupun kau hilang tanpa pamit. Terus terang aku begitu kagum dan tertarik pada sikapmu. Mungkin itulah rahasia kejiwaanmu. Semuanya kau lakukan dengan sadar dan sengaja demi meraih kebahagiaanmu di masa depan karena aku yakin masa depan telah menjanjikan sejuta kebahagiaan untukmu. Dan engkau tak mau membiarkan orang tuamu kecewa dengan kegagalanmu. Mataku hanya melihat namun mulut enggan melontarkan komentar tentang usahamu.

Selama itu, aku hanya membungkus seribu niat dalam sebuah tabung yang tertutup rapat dan tak mau menyimpan dalam dunia. Karena bagiku, dunia terasa kecil dan tak sanggup menyimpan rahasia yang hampir misterius itu. Dunia begitu cepat membongkar dan menyibak segala sesuatu yang ada dan terlukis padanya. Apalagi manusia, dengan keserakahan dan janji palsunya menambah niatku tetaplah sebuah yang misterius.

Mungkin dengan dukun atau ilmu sihir. Mungkin juga dengan mikroskop atau alat bantu tekhnologi lainnya yang mampu membongkar jiwa yang masih terbungkus dengan topeng. "Tidak, tidak hanya akulah yang mengetahui isi hatiku tentang dia". Itulah salah satu kehebatanku dalam rona persahabatan kami. Aku sendiri tak tahu apakah ini termasuk tindakan yang baik atau tidak baik. Padahal, sebenarnya sahabat merupakan tempat tuk berkeluh. Tapi rasanya lidah dan bibir terasa kaku untuk berkeluh. Apalagi mengatakan hal itu.

Terasa salah jika aku berterus terang pada dia, jangan sampai niatku ini tak kesampaian. Aku sendiri tak berani menyibak tirai yang ada di balik persahabatan kami. Aku pun diam dan membiarkan gelagat memberi isyarat tentang isi yang hendak tercurah.

Dulu, mungkin seorang gadis yang mencintai aku ingin mendengar bisikan hati yang terlepas dari sepasang bibir sahabatnya, dan betapa damba hatinya mendapat kasih yang tercurah pada relung hatinya, yang kian hari kian berontak. Kala itu mungkin ia ingin mendapat perhatian menuntun perjalanan di tengah hutan rimba, mengumpul kayu bakar dan mengangkat beban ke pundaknya. Dan mungkin juga saat itu, ia membutuhkan alas kaki, dalam menjejali jalan terjal bebatuan, menahan kerikil-kerikil tajam yang membuat kakinya berayun gontai, ia pula membutuhkan penutup kepala tuk menjaga kesegaran pada ubun-ubun yang kian tersengat mentari.

Walau demikian ia bukan lemah, atau tak bisa dan tak biasa, tapi sebenarnya ada sesuatu yang tidak boleh tidak peroleh di balik jerihnya. Ia membutuhkan perhatian dari orang yang ia harapkan untuk memperhatikan dia. Tapi sayang, aku tak mampu menujum fenomena yang ada di balik kecengengannya.
"Ka, please... bantuin aku, melengkapi catatanku yang tertinggal!" Ia pun kembali meminta perhatian, walaupun sebenarnya ia bisa melakukannya.

Aku pun iklas mengangkat pena dan menggurat di atas barang tabularasa itu tanpa sasuatu pun pikiran yang terlintas. Namun sekali lagi aku tak mampu menebak gejala yang ada, aku tak mampu melihat apa yang ada di balik semua yang ada ini.

Namun, semuanya menjadi kenangan tatkala perjuangan bersama kami berakhir. Aku tak mempunyai pilihan lain selain meninggalkan dia. Walaupun hati mesti tersayat dan tersiksa. Bagiku semuanya berakhir. Sejak perpisahan itu, tak lagi berharap akan memandang wajah yang persis aku lihat sebelumnya. Apalagi jarak kampung yang jauh, dan tempat kuliah yang jauh. Aku melanjutkan kuliah di kota karang sementara dia di tanah kelahiran ayahnya, Jawa. Mengontaknya tak pernah apalagi berpapas.

Sejak itu pula kegelisahanku terus mengamuk. Apalagi setelah aku mendapat informasi dari seorang teman dekatnya. Lantas aku mengutuki kerdilnya keberanianku. Aku mengutuk jiwa yang mempunyai mental krupuk. Akulah yang membuat diriku merana. Aku tambah gelisah dan tertekan, jangan sampai kehadiranku seperti seorang siswa yang datang setelah bel masuk lama dibunyikan. Mungkin dengan enteng saja ia melupakan kisah-kisah yang sebenarnya tak enteng dilupakan.

"Entah apa yang melatari semuanya ini, tak usah ditangisi yang terpenting bagaimana aku menyusun skenario sehingga membuat semuanya mulus, terkesan rapi dan berusaha memilikinya." gumamku.

Untunglah, nokia sobatku Irens, yang memperkenalkan kami di awal MOS memberi kabar. Dia memberi saksi tentang niat Laidy, yang masih terbungkus dalam bejana hati yang ternyata kian hari kian rapuh. Semula aku tak yakin akan kata-kata manis bak air yang mengalir dari bibirnya. Sesekali aku mengusap mata, sebab mungkin aku sedang bermimpi. Tapi ternyata dia memberi kesaksian yang sungguh-sungguh benar.

Menyangkal dia berarti menyangkal kebenaran yang masih ada. Dia juga penyelamat diriku yang tengah gelisah. Maka sejak saat itu aku membabtisnya dengan menyebut "panglima penyelamat kegelisahan."

Sayangnya, pemilik pipi lesung dan berparas ayu ini tak lagi mengenal siapa yang masih gelisah. Ia tetap berjubel tanpa merespon isi SMS-ku. Malah ia berpikir ini adalah message dari teman sekampusnya. Aku pun tahu, tapi mungkin aku adalah Joy yang kelima setelah keempat teman di kampusnya. Namun akhirnya, ia tahu bahwa ia ternyata melupakan nama yang sebenarnya tidak layak untuk dilupakan. Ia ternyata melupakan nama dan sosok sahabat masa lalunya. Lantas, ia dengan gampang mengubur sosok itu bersama masa lalunya.

Syukurlah, 30 hari kemudian, berkat sony ericsonnya, kami pun saling menyapa di penghujung tahun yang kedua setelah kami berpisah tahun 2006 yang silam. Dari jarak yang jauh serentak kami kembali ke masa lalu. Dan membongkar seluruh cerita yang telah melilit jiwa kami. Masa yang penuh kenangan, masa yang membuat jiwa bergetar, dan nadi memompa kencang. Dia pun tak kuasa membendung segala beban yang membuat jiwanya memberontak. Membongkar dan membanjiri seluruh pertemuan kami.

Dengan suara serak-serak basah tanpa ragu ia membeberkan semua kegelisahan yang lama merasuk hingga hatinya tersiksa dan luka.
Kini hatinya bersih, bertaut bersama jiwa. Bersulam dan mengukir kisah yang menggayut pada seuntaian kata yang disebut CINTA.

Namun, sekali lagi apakah arti cinta itu? Aku pun paham apa yang dikatakan oleh ANIS MANSUR sang pencari cinta:
"Cinta adalah kata-kata yang tak terucapkan! Bila kau mencintai, jangan katakan. Bila kau menangis jangan ada seorang pun yang melihatmu, dan bila kamu bersedih hendaklah wajahmu bersenyum. Orang yang mencintai adalah orang yang membuat hidupnya sebuah tafsiran dari kelima huruf "C I N T A" yang tidak sempat kau ucapkan." (*)

Pos Kupang Minggu 22 Maret 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda