Drs. Lens Haning, M. M



FOTO POS KUPANG/
Sarifah Sifat

Drs. Lens Haning
bersama istri
















NTT Akan Dikenal Melalui Rote Ndao


SETELAH
dilantik pada Senin (9/2/2009) lalu, harapan besar masyarakat Kabupaten Rote Ndao terhadap Drs. Lens Haning, M. M dan Drs. Marthen Luther Saek selaku Bupati dan Wakil Bupati Rote Ndao 2009-2014. Kemenangan Haning-Saek

memperlihatkan kepada kita semua betapa besar dukungan sekaligus harapan masyarakat. Tentunya pemimpin yang dipercaya rakyat harus bisa memprioritaskan kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Kemajuan pembangunan dan kesejahteraan rakyat tercapai bila masyarakat juga mendukung program pemerintah.

Selain itu, bupati dan wabup yang dilantik ini bisa memegang teguh amanat dan kepercayaan rakyat dengan menunjukkan peningkatan kinerja. Untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan masyarakat, setiap langkah kebijakan yang diambil harus berorientasi pada kepentingan rakyat. Selain itu, harus selaras dengan rencana strategis yang diusung sebagai penjabaran visi dan misi bupati-wakil bupati terpilih, yakni terwujudnya kehidupan masyarakat Kabupaten Rote Ndao yang bermartabat (bertumbuh, makmur, taat dan bersahabat).

Bagaimana sepak terjang serta visi misi Bupati-Wakil Bupati Rote Ndao selama lima tahun ke depan, ikuti petikan wawancara wartawati Pos Kupang, Syarifah Sifah bersama Bupati Rote Ndao, Drs. Lens Haning, M. M di Ba'a sebelum upacara pengambilan sumpah jabatan.

Apa langkah pertama yang Anda lakukan setelah dilantik?
Sesuai janji saya, 100 hari pertama yang saya lakukan adalah membenahi aparatur. Semua jabatan harus diisi secara full sehingga proses birokrasi bisa berjalan normal. Saat ini sekitar 636 jabatan mulai dari eselon IV, III dan II lowong, belum terisisi. Kalau ini tidak diisi, para pejabat yang ada -- eselon IV, III, II -- merasa paling bisa. Karena itu, jabatan ini harus diisi sehingga ada persaingan kinerja yang sehat di antara mereka.

Apakah ini balas jasa saat pilkada lalu?
Tidak! Apa yang saya lakukan ini merupakan bagian dari pelaksanaan PP 41/2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Karena itu, konsekuensi dari aturan ini harus diterima oleh setiap aparatur. Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang harus diterima. Jika nanti ada pejabat yang terpaksa turun eselon dan ada yang harus naik eselon, itu juga bagian dari konsekuensi regulasi aturan. Untuk menetapkan siapa layak dan tidak layak memegang jabatan diatur dalam sistem yakni Baperjakat.

Apakah semua SDM yang Anda butuhkan itu terpenuhi di Rote?
Nanti kita lihat. Tapi, saya juga akan minta sebagian pejabat dari Kupang untuk mengisi lowongan yang ada. Karna saat ini kita kekurangan tenaga di eselon IV, III dan II. Kalau sepanjang tahun lowongan ini tidak diisi, maka kita akan terus kekurangan tenaga dan kita tidak bisa membangun Rote Ndao.

Apa tidak ada konsekuensi jika Anda meminta pejabat dari luar, sementara kondisi di Rote masih serba sulit seperti perumahan dan tingginya biaya hidup di Rote. Apalagi jarang pejabat yang ke Rote datang membawa keluarga sehingga sering pulang pergi Kupang dan sangat mengganggu kinerja.
Beberapa pejabat yang saya minta dari Kupang sudah siap. Saya minta mereka datang bawa keluarga. Konsekuensinya, saya harus membangun perumahan sehingga tidak membebani mereka (pejabat, Red) dan tidak sering pulang ke Kupang karena sudah membawa keluarganya ke Rote.

Kapan Anda mulai melakukan pembenahan dan penataan birokrasi itu?
Februari hingga Agustus 2009, semua jabatan sudah harus diisi mulai dari eselon IV, III dan II, termasuk usulan untuk sekretaris daerah (sekda) definitif.

Untuk jabatan Sekda, apakah SDM-nya juga diusulkan dari Kupang?
Kewenangan untuk menetapkan siapa Sekda di Rote Ndao ini adalah gubernur setelah menerima usulan dari Pemerintah Kabupaten Rote Ndao. Karena itu, kita akan lihat nanti potensi pejabat yang ada. Semua berhak untuk menempati jabatan sekda asal memenuhi persyaratan dan tidak melihat apakah orang itu orang Rote atau orang luar Rote.

Setelah membenahi birokrasi, apa program lanjutan yang Anda lakukan?
Prioritas pembangunan lima tahun ke depan adalah membangun dan membenahi infrastruktur di semua sektor dengan prioritas pada bidang perekonomian seperti bidang pertanian, perkebunan, kelautan, kesehatan, peternakan dan pariwisata. Sedangkan untuk bidang kesehatan dan pendidikan ketika ekonomi rakyat membaik, maka kesehatan dan pendidikan rakyat ikut membaik.

Di daerah ini masalah paling besar adalah ketersediaan air bersih. Bagaimana Anda mengatasi hal ini?
Kita memiliki ketersediaan air di permukaan yang cukup, tapi kita belum tahu kuantitasnya. Karena itu, ke depan pendekatan yang kita lakukan adalah persediaan embung-embung untuk mengurangi kebutuhan air di perpipaan. Kita akan mencanangkan pembangunan embung-embung secara bertahap hingga mencapai 1000 embung sesuai janji saya saat mencalonkan diri.

Apa Anda tahu dampak dari kelebihan embung-embung dapat membuat daerah ini menjadi lautan?
Kultur tanah di Rote batu berbatu, bukan tanah berbatu. Karena itu penyerapan air masuk sangat dalam ke tanah. Jadi tidak seperti yang dikhawatirkan.

Untuk bidang pertanian, apa yang Anda lakukan?
Pada zaman dahulu daerah kita sudah terkenal dengan surplus beras. Saat ini kita sudah memiliki kurang lebih lahan sawah basah dan kering sekitar 8.000 hektar. Namun, dengan jumlah lahan ini, ada peningkatan kepemilikan sekitar 25 ribu petani. Karena itu, kita akan memperluas pemanfaatan lahan tidur sehingga petani dapat mengolah lahan secara maksimal.

Setiap tahun selalu saja petani mengeluh kekurangan pupuk. Karena pupuk yang tidak baik, hasil panen mereka juga tidak maksimal. Apa yang Anda lakukan?
Soal pupuk kita perlahan-lahan mengubah kultur penggunaan pupuk dari organik ke non organik, tapi ini butuh waktu. Saat ini kita sudah punya mesin pembuat pupuk dari sampah. Tapi, mesin ini baru seberapa dan kita akan adakan lagi. Ini bukan menghilangkan sama sekali pupuk organik, namun mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk organik. Untuk tahun depan, kita akan mencoba menggunakan bibit padi dari Cina dengan harga Rp 7.500/kg. Bibit ini akan menghasilkan beras 12 ton per ha. Ini bisa berhasil jika ketersediaan tanah baik, pemupukan tepat waktu dan hujan bagus, maka hasilnya akan bagus.

Saat ini program Gubernur NTT mengarah ke makanan lokal. Salah satunya yang jadi prioritas adalah menanam jagung, bagaimana partisipasi Anda terhadap program tersebut?
Di Rote, selain persawahan, ada perkebunan. Bahkan, dulu masyarakat Rote dikenal memiliki jagung yang namanya jagung Rote. Di mana-mana orang menanam jagung Rote. Karena itu, kita akan kembalikan masyarakat ke habitat menanam jagung Rote.

Saat ini hampir semua warga di Rote lebih mengenal beras ketimbang jagung. Bahkan, jagung menjadi makanan tambahan, bukan makanan utama.
Kita akui bersama bahwa makanan lokal khususnya jagung saat ini sudah terjadi pergeseran nilai. Ini konsekuensi logis dari berkembangnya pendidikan sehingga masyarakat petani kita juga lebih berorientasi pada sawah ketimbang kebun. Padahal ini sama dengan meninggalkan budaya. Kita akan back to basic. Kita akan hidupkan kembali pangan lokal dengan mengajak masyarakat kembali tanam botok, jagung rote, padi, dan ubi. Kita akan kampanyekan kembali produk lokal rakyat.

Di Rote bukan saja susah makanan pokok, tapi makanan sampingan seperti pisang, bumbu-bumbu dapur seperti halia, kunyit, sere, kemangi, sayur-sayuran, buah-buahan dan semua jenis tumbuhan apotek hidup sulit didapatkan di Rote. Hampir semua kebutuhan apotek hidup ini didatangkan dari Kupang sehingga harga barang di Rote ini sangat mahal. Apa yang akan Anda lakukan dengan kondisi ini?
Memang masyarakat kita cenderung instant. Tapi ini juga berkaitan dengan pengetahuan. Karena itu, ke depan kita akan ubah pola hidup masyarakat yang instant menjadi lokal, yakni dengan penyuluhan tentang makanan lokal. Kita akan instruksikan kepada masyarakat untuk menanam apotek hidup di setiap rumah, juga memberi anakan buah untuk ditanam di rumah masing-masing. Untuk buah ini, kita lihat dulu kontur tanahnya, kalau cocok mangga, kita kasih anakan mangga.

Bagaimana dengan bidang peternakan, apa yang Anda kembangkan mengingat di Rote tidak terlalu banyak ternak besar seperti sapi, kerbau dan kuda.
Kita memiliki ternak besar, seperti sapi, kerbau dan kuda, walau tidak seberapa jika dibandingkan dengan ternak besar di Pulau Timor dan Sumba. Namun, di Rote terkenal dengan banyaknya domba. Domba ini mengandung jenis penyakit yang kontradiktif dengan sapi. Jika sapi makan rumput bekas, maka domba makan sapinya mati. Karena itu, untuk menghidupkan ternak besar dan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi rakyat, ke depan perlahan-lahan dengan melakukan upaya pendekatan dengan semua stakeholder di Rote, kita akan memusnahkan domba sehingga sapi bisa hidup.

Bagaimana dengan program pariwisata yang Anda dengung-dengungkan
Pariwisata dan budaya dibangun secara serempak karena budaya adalah roh dari wisata. Ke depan kita akan jadikan Rote Ndao ikonnya NTT. Jadi, orang akan mengenal NTT melalui Rote Ndao dengan kekhasan wisata yang dimiliki. Untuk menunjang itu, dari sisi budaya kita juga merencanakan membangun 1.000 gereja sehingga Rote Ndao terkenal dengan 1.000 gereja seperti di NTB yang terkenal dengan 1.000 masjid.

Ciri dari wisata adalah tumbuhnya hotel-hotel, rumah makan dan ketersediaan fasilitas umum lainnya yang memadai, sementera Rote Ndao saat ini belum memiliki fasilitas tersebut bahkan jumlah hotelnya pun baru beberapa. Bagaimana Anda menanggapi hal ini?
Rote Ndao baru dimekarkan sehingga fasilitas umumnya bisa dimaklumi. Apalagi dari sisi anggaran kita masih terbatas. Namun, ini bukan berarti kita pasrah pada keadaan. Saya yakin, banyak pengusaha yang melirik Rote Ndao, namun belum berani. Karena itu, pemerintah akan berperan mengajak pihak ketiga untuk melakukan investasi di daerah ini. Termasuk investasi di bidang perhubungan karena transportasi laut, darat dan udara mutlak untuk mempercepat pembangunan.

Tahun lalu kita dikejutkan dengan tingginya angka kesakitan pada anak, bahkan anak-anak Rote terkena penyakit busung lapar. Selain karena penyakit penyerta, juga ada yang kekurangan makanan. Apa langkah Anda untuk menghadapi ini sehingga tidak terjadi lost generation?
Memang data sementara yang kita peroleh angka penderita kesakitan pada anak-anak, ibu-ibu hamil dan melahirkan masih tinggi. Persoalannya sangat kompleks, bukan hanya kesehatan semata.

Bagaimana mengatasi kekurangan tenaga medis mulai dari dokter, bidan dan perawat?
Kebutuhan tenaga medis tidak bisa kita gantikan dengan tenaga non medis. Karena itu, kita tetap tambah tenaga medis. Jika tenaga medis saat ini masih kurang, maka kita akan lihat anak-anak Rote yang berpotensi untuk melanjutkan pendidikan di bidang kesehatan, kita akan berikan subsidi mulai dari dokter, perawat hingga bidan. Ini salah satu langkah untuk mengatasi kekurangan tenaga medis.

Selain kesehatan, di bidang pendidikan masih banyak anak-anak putus sekolah di Rote Ndao. Bagaimana anda mengatasinya?
Memang Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dengan program Wajib Belajar (Wajar) 9 Tahun yang dicanangkan bangsa ini sudah mulai digalakkan. Namun di sisi lain, bangsa kita masih memikirkan sekolah anak-anak sebatas kuantitas belum sampai pada bagaimana memikirkan kualitas pendidikan. Karena itu, pendidikan sudah diserahkan ke daerah. Karena itu, ke depan kita berikan beasiswa kepada siswa/i yang berprestasi agar mereka terus melanjutkan pendidikan. Anak-anak yang tidak mampu juga diberikan beasiswa. Pemerintah akan pikirkan bagaimana bisa membeli baju seragam untuk siswa yang orangtuanya tidak mampu.

Mewujudkan anak-anak yang berprestasi butuh sumber daya pendidik yang handal dan itu harus ditunjang dengan fasilitas sekolah, termasuk ketersediaan buku-buku. Bagaimana Anda memikirkan hal ini?
Rote Ndao baru dimekarkan karena itu kita masih memiliki sejumlah keterbatasan. Tapi, untuk fasilitas seperti buku kita akan sediakan sesuai standar kurikulum di sekolah mulai dari SD-SLTA dan kita lakukan ini secara bertahap.

Bagaimana mengatasi kekurangan guru di daerah ini?
Untuk guru, kita periksa kembali data base apakah kita kekurangan guru kelas atau guru bidang studi. Jika kita sudah memiliki data dan ternyata kurang, maka langkah kita adalah merekrut guru kontrak. Kalau guru-guru MIPA di Rote kurang, maka kita harus bisa menerima orang luar. Kita harus welcome untuk orang lain masuk ke Rote, mengingat tenaga guru di daerah ini terbatas.

Data jumlah pengangguran terbuka dan terutup di daerah ini cukup banyak. Bagaimana Anda mengatasi masalah ini?
Memang ini tidak mudah. Apalagi orientasi masyarakat kita lebih cenderung menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Namun, kita akan berusaha untuk membuat rangsangan bagi pemuda-pemuda kita terutama menciptakan iklim usaha yang kondusif di daerah ini sehingga dapat membuka lapangan kerja.

Usaha yang dimaksud seperti apa?
Potensi sumber daya alam di daerah ini cukup, namun kita belum menjamahnya secara maksimal. Di bidang pertanian dan perkebunan, peternakan, pariwisata dan sejumlah potensi alam lainnya sangat menjanjikan. Bayangkan di Pulau Jawa yang lontarnya sedikit, tapi promosi tentang hasil dari lontar seperti gula merah sangat luar biasa. Padahal kalau dibandingkan gula merah jawa dengan gula merah Rote, maka gula merah Rote lebih manis dan gurih. Ini baru salah satu. Karena itu, ke depan iklim usaha ini kita bangun.

Rote Ndao termasuk salah satu wilayah yang masih terisolasi terutama fisik. Yang dimaksud adalah ketersediaan modal angkutan udara, laut dan darat. Bagaimana Anda mengatasi masalah ini?
Saat ini kita sudah menandatangani memorandum of understanding (MoU) antara pemerintah, DPRD dan pengusaha untuk penerbangan rutin TransNusa. Ini sebuah langkah maju yang kita tempuh. Ke depan akan diusahakan penambahan kapal laut khususnya angkutan penumpang Rote-Kupang, Kupang-Rote.

Bagaimana Anda mewujudkan penerangan seperti listrik agar semua warga merasakan hal yang sama sesuai janji-janji Anda saat kampanye pilkada lalu?
Hari Jumat (27/2/2009) ini, saya ke Kupang untuk membicarakan listrik. Saya melakukan kerja sama dengan pihak ketiga khususnya listrik tenaga surya. Ini potensi di Rote. Nanti kita akan lihat hasilnya kalau pembicaraan ini sudah pada tingkat final.

Pengalaman di hampir setiap daerah bahkan di Rote sendiri, bupati-wakil bupati hanya akur di tahun pertama dan kedua atau paling lama di tahun ketiga. Tahun berikutnya setelah pandangan politik berubah sering terjadi gontok-gontokan. Bagaimana dengan duet Anda ke depan?
Saya dan pak Wakil Bupati, Marthen Luther Saek memiliki oroentasi yang sama, membangun masyarakat Rote Ndao yang menjadi lebih sejahtera. Karena itu, kita akan menjaga kemesraan ini hingga akhir jabatan kami. *


Data Diri
Nama Drs. Leonard Haning, MM
Tempat Tanggal Lahir Rote, 20 November 1954
Ayah : Bastian Haning (alm)
Ibu : Viktoria Haning-Manu (alm)
Istri : Paulina Haning-Bulu
Anak-anak Viktoria Haning
Adi Papa Haning
Fitri Haning

Pendidikan
Tamat SDNegeru Tudameda 1966
Tamat SMP Negeru Ba'a 1970
Tamat SMA Kristen Kupang 1973
Sarjana Muda Keuangan STIKEN Surabaya 1984
S1 Tata Niaga Undana Kupang 1990
Master Managemen Unika Kupang 2003

Karier
Staf Dispenda Propinsi NTT 1974
Kasi Pusat Tata usaha Cabang Dispenda Wilayah Kupang 1985-1987
Kasi Penerimaan Dinas-Dinas Tingkat I Propinsi NTT 1987-1993
Kacab Dispenda Propinsi NTT Wilayah Belu 1993-2000
Kacab Dispenda Propinsi NTT NTT Wilayah Kupang 2000-2001
Kepala UPTD Dispenda Propinsi NTT Wilayah I 2001-2006
Kepala Dinas Pariwisata Propinsi NTT 2006- 2008


Pos Kupang Minggu 1 Maret 2009, halaman 3

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda