H. Muhammad Saleh dan Wiwi Muawiyah

FOTO ISTIMEWA
H. Muhammad Saleh
bersama keluarga


Tanamkan Nilai
Agama Pada
Anak Sejak
Kecil


SEBAGAI umat yang taat beribadah dan selalu bersyukur kepada rahmat dan berkat yang diberikan Yang Maha Kuasa, pasangan H.Muhammad Saleh dan Wiwi Muawiyah, mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh cinta kasih.

Pasangan ini berusaha tidak gegabah dengan menerapkan perilaku yang pantas buat anak-anak mereka dan mereka sepakat untuk menanamkan nilai-nilai agama kepada anaknya sejak kecil. Keduanya yakin dengan dasar yang kuat, anak-anaknya akan bertumbuh menjadi anak yang patuh, cerdas dan sukses di kemudian hari.

Kepada Pos Kupang di kediama mereka, Rabu (18/3/2009), H.Muhammad Saleh, yang alumnus Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan Yogyakarta tahun 1995 ini mengatakan, mendidik dan membesarkan anak merupakan tugas mulia karena orang tua adalah perpanjangan tangan Sang Pencipta di dunia ini. Untuk itu, segala sesuatu yang disampaikan kepada anak haruslah sesuai dengan ajaran-Nya.

Pasangan yang menikah tahun 1998 ini, telah dikarunia dua anak, yakni Sultan Agung Bimantoro, saat ini kelas IV SDN Bonipoi Kupang dan anak kedua, Nabila, saat ini berusia empat tahun. Sedangkan sang istri adalah ibu rumah tangga yang setia menemani anak-anaknya jika berada di rumah.

Saleh menuturkan, kesibukannya dengan berbagai macam organisasi tidak membuatnya lupa pada anaknya. Ia selalu menyempatkan diri bersama kedua anaknya. Namun demikian, ia mengakui bahwa sang istrilah yang lebih banyak wakatu dan mengambil peran dalam membimbing dan membesarkan kedua anaknya.

Kepala Bidang Organisasi Kerukunan Keluarga Bima-Dompu (KKBD) ini mengatakan, nilai-nilai agama yang ditanamkan antara lain mengajarkan anak untuk belajar membaca dan menahami Kitab Suci Al Qur'an dan mengajarkan tata cara beribadah dan sholat. "Inilah hal-hal dasar yang kami ajarkan agar anak bisa mengetahui secara benar ajaran agamanya sejak kecil," ujarnya.

Pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Propinsi NTT dan Bendahara IPSI Kota Kupang ini mengatakan, usia anaknya yang masih membutuhkan bimbingan dan kasih sayang orangtua tidak ingin dicemarinya dengan memaksakan kehendak kepada anaknya. Makanya, segala bentuk pendidikan dan ajaran yang diberikan kepada anak selalu disesuaikan dengan perkembangan usia anak. Baginya, memaksakan kehendak orang tua kepada anak, sama saja dengan melanggar hak-hak anak. Menuru dia, usia anak-anak adalah usia bermain sehingga ia selalu mengajarkan sesuatu secara alamiah.

Dikatakannya, walau nilai agama yang selalu ditanamkan kepada anaknya, namun pendidikan di sekolah tetap yang utama dan pertama. Sehingga, tidaklah heran jika setiap sore atau malam, ia selalu mengevaluasi dan menanyakan kepada anaknya yang sulung apa yang didapatkan di sekolah.

Bila anak-anak memiliki permasalahan di sekolah, menurutnya, orang tua wajib memberikan pemahaman dan perhatian kepada anak. Ia selalu memberikan pemahaman kepada anaknya bahwa apa yang dilakukan oleh guru-guru di sekolah tidak lain adalah ingin menjadikan anak-anak menjadi pintar dan sukses. "Kalau anak saya memiliki masalah di sekolah, saya berusaha memberikan pemahaman kepadanya. Bahwa apa yang dibuat oleh bapak atau ibu guru adalah yang terbaik. Dengan demikian anak tidak merasa takut atau risih ke sekolah," kata pria kelahiran Bima, NTB tahun 1969 ini.

Untuk mendukung kegiatan belajar anak di sekolah, keduanya, seringkali menyertakan anaknya mengikuti les-les privat. Tetapi menurutnya, karena usia anak yang masih usia bermain, seringkali dihentikan. Namun demikian, di rumah anaknya tetap dibimbing, terutama oleh ibunya.

"Ibunya yang paling banyak membimbing anak di rumah. Misalnya, membantu menjelaskan kepada anaknya jika ada yang belum dimengerti atau tidak tahu. Anak saya memang pernah ikut les privat, tetapi kadang ikut kadang berhenti. Makanya kami tidak mau paksakan. Kalau dia bilang mau kami antarkan ikut privat, kalau tidak yah distopkan. Kami tidak mau memaksakan anak," kata Kepala Bidang Antar Organisasi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Propinsi NTT ini.

Untuk menyiapkan anaknya menjadi mandiri ketika dewasa, pria yang malang melintang di berbagai organisasi masyarakat ini mengatakan, tidak memaksakan karena jarak antara anak pertama dan kedua memang cukup jauh. Makanya, anak pertamanya sampai saat ini belum bisa menghilangkan kebiasanya manjanya. Namun demikan, saat ini keduanya mengajarkan untuk melakukan hal-hal sederhana di rumah seperti membereskan kamar, membuat mie instan sendiri atau menggoreng telur dadar sendiri dan makan sendiri.

"Ini hal-hal sederhana di rumah yang kami ajarkan kepada anak sulung karena dia yang sudah agak besar. Untuk saat ini kami masih mengajarkan hal-hal sederhana dan kami tidak ingin memaksakan kehendak kepada anak. Biarkan dia berkembang secara alami dan mandiri," katanya.


Untuk itu, pria yang pernah menjadi Konsultan Perencana di NTB ini mengatakan, keduanya harus mengetahui watak dan perilaku masing-masing anak. Misalnya, kalau kedua anaknya mengeluhkan sesuatu bahkan protes. Keduanya berusaha memberikan arahan dan mengkomunikasikanya dengan bahasa yang mudah dimengrti anak. Suami istri ini selalu menghindari jangan sampai terjadi kekerasan terhadap anaknya.

"Biasanya anak sulung yang selalu protes, bahkan marah balik kalau kami memarahinya. Namun sebagai orang tua jangan sampai merasa tersinggung dengan sikap anak tersebut, sebaliknya kami menanyakan apa yan diinginkanya. Dengan demikian kami tahu betul apa yang menjadi keinginan anak," katanya.
Menurutnya, di sinilah akan sendirinya muncul komunikasi yang baik antara anak dan orang tua. (nia)


Pos Kupang Minggu 22 Maret 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda