Hendrik Raki dan Viktoria Siga Raki


FOTO ISTIMEWA
Hendrik Raki
bersama istri
dan anak-anaknya.












Tidak Memaksakan Kehendak


ANAK bagi pasangan Hendrik Raki dan Viktoria Siga Raki, adalah buah hati yang dianugerahkan sang Ilahi. Pasangan ini memiliki prinsip yang menjadi panduan dalam kehidupan keluarganya, yakni tidak boleh memaksakan kehendak keduanya kepada anak- anaknya.

Jendrik dan Viktoria mengakui anak memiliki gen dari bapa maupun ibunya, tetapi tidak sama persis seperti bapa dan ibunya. Karena menurut keduanya, dilihat dari warna kulit, tinggi badan, raut wajah saja tidak sama.Dari ciri-ciri ini keduanya sering berdiskusi dalam keluarga bahwa anak memiliki kehidupan dan keunikan tersendiri yang dikaruniakan Tuhan. Sehingga, pasangan ini tidak pernah memaksakan apapun kepada anak-anaknya yang masih anak-anak dan baru memasuki dunia remaja untuk sama persis seperti keduanya.

Hendrik Raki dan Viktoria Siga Raki memiliki empat orang anak. Anak sulung, Margareta de Kortora Raki, lahir di Maumere, 22 Februari 1992, saat ini kelas III SMA Frateran Maumere. Anak kedua, Gabriela Raki, lahir di Alor, 20 Janurai 1994, saat ini kelas II SMP Adi Sucipto Penfui. Anak ketiga, Bartholomeus San Putra Raki, lahir di Alor, 24 Agustus 1997, saat ini kelas VI SDI Liliba, dan putri bungsunya Agustina Putri Raki, lahir di Alor, 24 Agustus 2000, saat ini kelas III SDI Liliba Kupang.

Kepada Pos Kupang di ruang kerjanya, Jumat (27/2/2009), pria hitam manis yang menjabat sebagai Kepala Bidang Pendidikan Agama Katolik pada Kantor Wilayah (Kanwil) Dapertemen Agama (Depag) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) ini mengatakan, ia membiasakana tidak mendidik anak dengan memaksakan kehendak. Apalgi, katanya, kalau orang tua memiliki bakat dan kemampuan di bidang tertentu, kemudian mulai memaksakan anak untuk mengikuti jejak orang tuanya, bahkan ada yang harus mengkebiri waktu bermain anak dengan memberikan anak les ini dan itu atau latihan ini dan itu.

Hal lainnya adalah tidak pernah mendidik dan mengajarkan anak dengan kata-kata kasar apalagi dengan cara-cara kekerasan. Ia mengisahkan, suatu ketika ia harus menyiapkan materi untuk suatu pertemuen di kantor, tiba-tiba anak-anaknya datang dan menganggu, padahal pekerjaan itu harus segera diselesaikan karena waktunya sangat mepet. Tapi, apapun yang terjadi, semarah apapun kepada anaknya, ia sangat berat untuk mengusir anak-anaknya untuk tidak mengganggunya, ataupun mengeluarkan kata-kata kasar.

Ia hanya bisa mengambil lipatan koran dan mengibas anaknya. Apa yang terjadi, anaknya malah tertawa terbahak-bahak karena lucu dirinya memukul anaknya hanya dengan koran. Tetapi menurutnya, itulah pendidikan yang harus ia berikan kepada anaknya.
Menurutnya, apa yang diajarkan dalam keluarga itu akan terbawa ketika anak berada di luar rumah atau berada di tengah masyarakat. Karena, segala sesuatu yang dibuat anak di luar rumah adalah cerminan dari apa yang ajarkan di dalam keluarga.

"Ya, saya harus akui bahwa selama 17 tahun ini saya berumah tangga, kami berdua belum pernah melakukan hal kasar kepada anak. Inilah yang harus kami syukuri dan anak-anak kami adalah anak yang penurut," kata pria yang menyelesaikan Master Theologi (M.Th) di STFK Ledelero tahun 2006 ini.

Kebiasaan lain yang sering dilakukan di rumah adalah melakukan rekreasi bersama keluarga. Bagi pasangan ini, seminggu bisa dua kali melakukan rekreasi atau jalan bersama ke toko, mall, pante atau ke kebun bersama. Menurutnya, kegiatan berekreasi merupakan salah satu kebutuhan anak yang harus dipenuhi. Menrutnya, sebagai sorang ayah yang sibuk, ia selalu membagi waktu dengan anak-anaknya. Karena, biasanya kalau terlalu sibuk anak-anaknya selalu mengeluh.

Satu hal yang menari pada tahun 2000 ketika masih menjadi Kasubag Kepegawaian di Kanwil Depag NTT, hampir 10 hari kerja lembur di kantor karena ada penerimaan pegawai baru. Setiap hari pulang pukul 23.00 Wita, dan ketika pulang mereka sudah tidur. Ketika dirinya pulang pukul 17.00 wita, anak-anaknya berhamburan keluar dari rumah untuk menjemputnya. Di situlah ia merasakan terharu luar biasa karena anak-anak sangat membutuhkan perhatian dari orang tuanya dan membutuhkan kehadirannya di dalam rumah sebagai orang tua. (nia)

Menghadapi Perilaku Anak

TINGKAH laku dan kenakalan anak-anak di rumah kadang membuat jengkel dan stres Hendrik Raki dan Viktoria Siga Raki. Namun demikian ada tips yang biasanya dilakukan pasangan ini di rumah untuk atasi hal tersebut.
Menurut Hendrik Raki, ia dan istrinya bersepakat mengatasi perilaku anak-anak yang keduanya pusing tuju keliling adalah bersikap membiarkan anak-anak melakukan apapun sesuai kehendak anak-anak mereka tersebut.

Ternyata cara ini berhasil dan keduanya meras enjoy menghadapi perilaku "nakal" anak mereka ketika masih kecil. "Selama ini saya cari cara bagaimana untuk mengatasi anak kalau nakal, Yah, setelah saya pikir-pikir dan saya coba ternyata lebih baik saya cuek saja, dan cara ini berhasil. Setelah itu, saya kembali enjoy dengan anak-anak, karena mereka adalah anugerah terindah bagi kami berdua," katanya.

Terkadang ada pemikiran untuk mendidik anak dengan kekerasan supaya mereka tidak mengulangi perbuatannya lagi dengan main pukul atau cubit. Tetapi, saya berpikir anak sudah dianugerahkan dengan keunikan masing-masing sehingga tidak harus dididik dengan cara yang keras.

Menurutnya, dalam kehidupan bermasyarakat dan bertetangga banyak sekali komentar tidak sedap tentang keluarganya dan apa yang dijalaninya. Namun, keduanya selalu menanggapi dengan dingin karena selama ia masih jalan dalam jalan Tuhan dan sesuai dengan aturan pemerintah yang berlaku kenapa musti takut dan peduli. Makanya, anak- anaknya juga diajarkan seperti itu.

Keduanya selalu mengajarkan komunikasi yang baik dengan siapa saja kepada anak- anaknya, karena dengan komunikasi yang baik menjadi bekal bagi kehidupan masa depannya. Bagi anaknya yang sudah remaja dan tinggal jauh dari keduanya, pasangan ini percaya anaknya memiliki fondasi yang kuat dari rumah dan kedisplinan.

Untuk mempersiapkan masa depan anaknya menjadi mandiri, keduanya sejak dini sudah menerepong bakat dan minat anak. Misalnya, di bidang olah raga atau seni dan bisa pemotretan. Makanya, dengan bakat dan minat yang dimiliki anaknya keduanya hanya mengarahkannya saja. (nia)


Pos Kupang Minggu 1 Maret 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda