Hillary Clinton

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

HILLARY Clinton masuk Jakarta bukan sebagai first lady Amerika, tetapi sebagai Menteri Luar Negeri. Dia tampil cerdas, supel, percaya diri, dan cantik. Dia tampak matang, bukan hanya karena usianya, tetapi terutama karena kapasitas dirinya yang sudah makan garam malang melintang di dunia politik.

Kerasnya dunia politik sama sekali tidak tampak pada wajah ibu seorang putri ini. Bukan soal mudah menjadi Menlu Amrik di tengah sorotan dunia tentang berbagai kebijakan politik luar negeri Amrik yang -- selama George Bush berkuasa -- kontroversial, terutama menyangkut perang dan senjata.

Sosok Menlu menjadi sesuatu yang berat, suntuk, penuh basa- basi, cenderung mengambil jarak, dan melelahkan. Namun Hillary tampil dengan fresh dan full smile membuat citra Menlu Amrik tampak ringan bersamanya.
***
Dia bukan Bill Clinton yang jatuh cinta pada musik klasik. Hillary adalah ibu dengan selera musik berbeda. Dia pencinta The Beatles dan Rolling Stone. Konon Hillary juga jatuh cinta pada Samsons, Dewa, dan Padi. Kadang-kadang dia juga bersenandung lagu-lagunya Letto.

"Apa kamu dengar sendiri?" tanya Rara yang terkagum-kagum mendengar cerita Benza soal kunjungan Hillary Clinton ke Indonesia, wawancaranya dengan Luna Maya dan Isana Gedong Oka dalam acara "Dahsyatnya" sebuah tivi swasta Jakarta. "Hebat ya Hillary dan Amrik!" Kata Rara.

Ya, memang hebat! Pesaing berat Obama dalam pilpres Amrik beberapa waktu lalu tampak benar-benar menikmati kunjungannya ke Jakarta. Lihat saja bagaimana tawanya terbuka dengan tangan melebar, ringan, dan begitu lepas! Penampilannya memberi kesan soal-soal yang paling berat sekalipun dapat diatasi dengan nyaman dan aman bagi semua pihak!" Benza masih terus memberi pujian.

***
"Hmmm apa benar Hillary itu pesaing beratnya Obama Presiden Amrik terpilih?"
"Selama ini kamu tinggal di mana Rara? Lagi sibuk apa di hutan belantara, sampai tidak tahu sama sekali apa yang terjadi dalam berita dunia?"

"Ooooh maksud saya, saingan beratnya Obama kok bisa dipilih Obama jadi Menlu? Bukankah itu berarti Obama mempertaruhkan reputasinya sendiri? Kalau Hillary bermain udang di balik batu bagaimana? Apa yang terjadi kalau Amrik sampai runtuh karena Hillary sengaja menggoyang pemerintahannya Obama?"

"Ini Obama dan Hillary. Ini Amrik, bukan kita!" kata Benza. "Pemimpin yang matang dan dewasa itu Obama dan Hillary. Bersaing secara sehat! Selanjutnya, dengan jiwa besar mengakui keunggulan lawan politik. Dengan lapang dada menerima kekalahan.

Setelah itu berjabatan tangan untuk sama-sama membangun Amrik dan rakyatnya keluar dari berbagai kesulitan demi menyongsong masa depan yang lebih meyakinkan..."
"Oooooh begitu!"
"Ya, memang begitu!"

***
"Kalau begitu aku bisa masuk dalam kabinetnya Jaki," Rara langsung berbunga-bunga. "Walaupun dulu aku bersaing dengannya untuk mendapat kursi orang nomor satu, pasti sekarang Jaki akan berdamai denganku. Syukurlah aku bisa masuk kabinetnya Jaki!" Rara berbunga-bunga mengurut dadanya sendiri.

"Sorry besar alias maaf saja ya!" tiba-tiba Jaki menyambung. Kamu tidak akan masuk dalam kabinetku. Aku berjanji, semua pesaingku yang telah membuatku pontang panting tujuh keliling terjang sana terjang sini untuk dapat kursi nomor satu ini, tidak akan mendapat tempat dalam ka - bi- net ku. Titik!"

Aduh, tega benar kamu temanku Jaki," Rara memohon.
Kamu siap-siap saja masuk penjara!"
Aduh, ngancam nih!"

Jelas! Semua yang dulu coba-coba bersaing denganku, lewat," Jaki melakukan gerakan tangan memotong lehernya sendiri dan pergi begitu saja.
Wah, Jaki tidak sama Obama ya," Rara tampak lemas.
Amrik bukan kita," sambung Benza.

***
"Aku mau pindah Amrik, ah. Masuk Partai Demokrat. Lima tahun lagi jadi Presiden Amrik turunan Asia pertama. Apakah tidak hebat namanya? Bagaimana menurutmu Benza? Kalau aku pilih Hillary Clinton jadi wakil presidenku nanti.

Kebetulan selera musik kami sama. Aku juga suka The Beattles dan Rolling Stone. Aku juga suka Letto. Bila perlu aku ajar dia Ja'i dan Poco-poco selama kampanye nanti. Aku akan katakan pada Hillary bahwa inilah kesempatan baginya untuk tendang buang Obama. Bagaimana?"

"Tendang buang Obama? Amrik bukan kita!" kata Benza (*).


Pos Kupang Minggu, 1 Maret 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda