Indahnya, Erelele O Uwi


POS KUPANG/ROSALINA LANGA WOSO
Tarian Ja'i, memeriahkan ritual Reba, di Tofa, Kelurahan Oebufu, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Jumat (20/2/2009).


DERAP langkah sepuluh pria berderak-derak di atas serbukan sisa kayu merah yang mengalasi lokasi acara Reba. Diiringi 12 pasang kaki wanita, bergerak cepat seirama musik dan lagu ja'i. Dengan bahu yang luwes, sambil memainkan 'Sau' (pedang), tarian inkulturasi ja'i, menjadi tontonan yang menarik di Tofa-Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo-Kota Kupang, Jumat (20/2/2009).

Hanya decak kagum yang keluar dari mulut para undangan. Mereka tidak lagi terpaku dalam perayaan ekaristi, yang dipimpin empat pastor, yakni Pater Markus Ture, OCD, P Oris Liko,OCD, Pater Frans Teme, SVD dan Pater Paskalis Seran,SVD. Ekaristi ini dihadiri sekitar 500 umat.

Tarian yang mengawali pesembahan itu benar-benar membangkitkan spirit umat. Diiringi merdunya puluan anggota paduan suara Tofa, hari itu, ritual Reba sangat kental dengan nuansa adat alami. Menghentak jiwa, sehati dan sesuara membangu solidaritas masyarakat Bajawa. Undangan pun tanpa sadar, ikut bergerak, bergoyang dengan hati diliputi suka cita.

Ritual Reba kali ini merupakan bagian dari agenda tetap masyarakat Ngada di Kupang. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun dan menurut rencana acara serupa akan digelar pada Kelurahan Liliba-Kupang. Reba bukanlah ritual murahan yang diselenggarakan hanya untuk menghindari kutukan leluhur. Jauh-jauh hari, panitia telah membentuk dua kelompok kerja. Ada yang menyelenggarakan diskusi panel yang membedah tentang makna Reba. Diskusi ini menampilkan, para pakar seperti Lili Nai, Tinus Loda dan Viany Watu. .

Puncak acara Reba ditandai dengan soka uwi, ritual yang mengawali tarian O Uwi. Dua pria berumur di atas empat puluh tahun berdiri di hadapan puluhan orang tua dan muda. Mereka meneriakan pantun-pantun adat, yang dijawab oleh anggota soka lainnya. Ritual megah, dengan erele-nya yang diimprovisasi. Soka, bukan hanya menimbulkan rasa kagum, ada kejenakaan yang mengundang gelak tawa para tamu, termasuk para caleg asal Ngada, seperti Guido Fulbertus, Rikardus Wawo, Ambros Awa Nai, Dedy Patywua dan Ratna Luna.

Reba pembaharuan primodial untuk berkomunitas, kesadaran untuk hidup bersama sebagai persekutuan kehidupan manusia dalam level serumah (sesao), semarga (sewoe), sekampung (semua) antara kampung (pu'u nua penua) dan selingkungan (ulueko).
Tarian o uwi, dalam ritual Reba, adalah tarian komunitas kehidupan itu. Penari saling bergandengan tangan sambil bernyanyi bersama sesuai irama hentakan kaki melambangkan kedamian dan kegembiraan.

Bentuk lingkaran o uwi menggambarkan semangat persatuan dan kesatuan komunitas kultural, dihisasi oleh relasi cinta dan kebahagian. Bulatnya peragaan o uwi hendaknya memberi pemahaman yang benar bahwa komunitas adat yang hendak dibangun adalah komunitas kosentris, bukan piramidal.

Apapun makna yang terkandung dalam ritaul Reba, masyarakat Bajawa yang tinggal di Kupang, tidak mau ketinggalan untuk bersama leluhur untuk memuja Ilahi. Pemujaan itu, tanpa mengenal ruang dan waktu. Ritual reba dengan o uwi-nya, telah menggugah hati masyarakat Ngada. Ritual ini, jangan pernah diabaikan karena sarat akan nilai yang menggugah pembaharuan kehidupan manusia, kini dan yang akan datang.

Nikolaus Nono Ago, yang mewakili para tokoh masyarakat Ngada di Kupang, menjelaskan, Reba yang diatraksikan dengan tarian o uwi-nya dikategorikan sebagai perayaan pembaharuan komunitas masyarakat Bajawa-Ngada, menyimpan makna persekutuan yang bulat, utuh dan kompak sebagai wujud memuliahkan yang Ilahi, leluhur dan sesama manusia.

Reba bukan pesta adat tetapi merupakan salah satu ritual suku Ngada yang biasanya dilakukan pada bulan Desember-Februari tahun berikutnya. Ritual Reba dalam bahasa adat disebut Gua Reba. Ritual Reba dilakukan masyarakat pada setiap sao (rumah), setiap woe (ikatan rumah) dan secara bergilir dari satu kampung ke kampung lainnya seusai kelender adat. Isi ritual Reba adalah ucapan syukur akan keberhasilan dan kegagalan selama setahun.

Melalui Gua Reba, segala yang salah, keliru diluruskan, persengketa diselsaikan dengan penuh pengertian. Lewat reba reti siwa (sekali setahun) akan terciptanya kerukunan, persatuan untuk menghadapi masa yang akan datang. Forum ritual Reba merupakan momentum pembaharuan, penyucian diri (Rasi Zia ne'e Zio Milo'. Artinya, membersihkan yang kotor, bersatu padu menghadapi hari esok yang lebih cerah karena direstui leluluhur.(rosa woso)


Reba Sebagai Ritus Konservasi Nilai
* Di Sao Bupu Mati, Woe Langa, Ngadhu Maghi

MARIA Theresia Geme, S.H, M.H, pemerhati budaya Ngada, mengatakan, Reba sebagai tahun baru adat atau reti siwa bukan sekadar dipresentasikan sebagai sebuah perayaan pesta kobe zua (dua malam) tapi adalah puncak dari sebuah proses perjalanan umat manusia selama setahun yang sarat makna. (Watu 2009, dalam "Makna Ritus reba reti siwa dan Implikasinya Bagi Pemberdayaan Komunitas Adat Orang Ngada di Wilayah Diaspora" juga Loda, 2009 dalam 'Ajaran Pokok tentang Makna dan Tata Nilai Luhur Kehidupan... Orang Ngada), mengidentifikasikan tiga makna yang terkandung dalam ritual orang Ngada yakni makna sakralitas, spritualitas dan moralitas.

Diingatkannya, dalam ajaran lelulur bahwa reba reti siwa adalah hari baik, sekali dalam setahun, jangan pernah kamu sia-siakan, (Reba...sesiswa sedeka, miu dhegha mae peta) adalah jedah dari keseharian orang Ngada dari rutinitas keragaannya, untuk mengevaluasi tingkat koherensi atau harmonisasi tiga dimensi relasi : manusia dengan manusia, manusia dengana alam, manusia dengan Sang Pencipta. Reba reti siwa adalah ekspresi kemenangan manusia (penaklukan) terhadap kesementaraan dan kefanaan badaniah juga sbagai ritus pengakuan manusia akan kekekalan Allah yang menafkai kesemestaan tersimbol dalam uwi (ubi)

Uwi yang disanjung dalam syair "sui o Uwi", menurutnya, adalah symbol yang mempresentasikan kelestarian kasih Allah, (O...Uwi, Suyi moki, moki bhai moli. Suyi koe, koe ana ko'e), Ubi...sumber pangan yang tak pernah habis. Uwi, kata Theresia, juga dimaknasi sebagai benang merah yang menghubungkan dimensi relasi manusia. Uwi, media yang mengkomunikasikan harapan-harapan manusia, alam dan Tuhan untuk soliditas keharmonisan, (O...uwi, kabu wi role Nitu, lobi wi soyi Dewa). Jika harapan orang Ngada adalah kelimpahan panenan maka syarat dalam harapan

Allah adalah kebersihan hati. Hal ini dapat disimak dalam teks ajaran : "Wasi loka oja, pei tangi lewa, raba Dewa wi dhoro dgeha" yang berarti : bersihkan tempat (hati) agar Allah datang bertandang.

Reti siwa, kata Theresia, adalah apresiasi pertanggungjawaban manusia dalam menggandakan talenta kehidupan. Makna dari teks ajaran : "Mayi ka maki nari yinu tua teme dia ; Kami ti'i miu dan mami, raba miu teza gami da ngeta; Da ngeta wi mesa, mesa wi benu kodo..." ; yang dapat diartikan : Kami mempersembahkan kepadamu Allah dan leluhur kami, apa yang telah kami hasilkan, agar Allah menambahkan kepada kami benih baru yang akan mendatangkan hasil berlimpah.

Reba adalah moment konservasi makna sakralitis, spiritualitas dan moralitas dalam bathin (waka) orang Ngada di manapun dia berada, sebagaimana termuat dalam tuturan tentang sejarah asal-usul orang Ngada dan syair-syair bermakna ajaran yang dilantunkan berulang-ulang dalam soka dan tarian "O...Uwi" diharapkan menjadi falsafah hidup dan semangat (waka) orang Ngada.

Namun, kedepannya, lanjut Theresia, orang Ngada tetap diingkatkan bahwa semeriah apaupun Reba di wilayah diaspora (persebaran/perantauan), ia masih tetap bermakna simulatif karena unsur yang paling subtansial dari reba adalah koneksitas antara ata (manusia) sua/ngia nogra (harta) dan sao ngaza/meze (rumah yang bernama/ rumah asal/rumah pokok).

Oleh karena itu, tegasnya, suatu saat entah kapan, orang Ngada di wilayah Diaspora harus sempat kembali ke reba kuwi pia puju bheka (membawa persembahan di mataraga (tabernakel) bagian rumah asal yang diyakini sebagai tempat Dewa bertahta dan lelulur berhimpun. (osa)


Pos Kupang Minggu 1 Maret 2009, halaman 11

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda