Ir. Umbu Pura Woha

Foto Pos Kupang/
Alfred Dama


Cari
Kepuasan
dalam Tulisan


MEMASUKI
masa pensiun bukan berarti akhir berkarya. Pensiun bukan berarti berhenti dari segala macam aktivitas. Ini pula yang menjadi pemikiran dari Ir. Umbu Pura Woha. Bagi pria kelahiran Wualanda, Mangili, Kabupaten Sumba Timur, 22 Oktober 1936 ini, sisa hidup yang masih dianugerahkan Tuhan, harus dimanfaatkan dengan berkarya untuk generasi mendatang. Dia memilih menulis sebagai karya dalam di masa tuanya. Faktor usia baginya bukan menjadi penghalang. Bahkan pengalaman semasa mengabdi baik sebagai pejabat eksekutif maupun duduk di bangku legislatif telah membuatnya banyak ide untuk mengisi masa-masa tua. Sebagai putra asal Pulau Sumba, Umbu Pura Woha memilih menulis tentang tanah asalnya. Sumba yang eksotik dan kaya akan budaya ternyata belum banyak ditulis. Kekurangan karya- karya tulis itulah yang mendorong Umbu Pura Woha menulis dua buku yakni Sejarah, Musyawarah dan Adat Istiadat Sumba Timur dan Sejarah Pemerintahan di Pulau Sumba. Bukan itu saja, sarjana pertanian pertama dari Pulau Sumba ini juga kini sedang menyusun cerita-cerita rakyat dan dongeng asal Pulau Sumba. Untuk mengetahi lebih banyak tentang sosok motivasi da tujuan menulis, berikut petikan perbincangan Pos Kupang dengan Umbu Pura Woha belum lama ini.

Anda telah menulis dua buku. Setidaknya itu menjadi referensi bagi generasi masa kini dan masa yang akan datang. Apakah sudah lama direncanakan?

Semasa masih aktif sebagai pegawai negeri sipil, saya tidak berpikir untuk menulis buku. Tapi saat memasuki masa pensiun baru terpikirkan oleh saya. Sebenarnya niat saya menulis buku ini adalah saya melihat tulisan-tulisan mengenai Sumba sangat sedikit. Dari situ saya mulai berpikir, kenapa saya tidak menulis tentang Sumba? Saya mulai dan dapat mengumpulkan banyak dokumen. Banyak dokumen terutama yang dikumpulkan bapak almarhum Dr. Umbu Hina Kapitan, maka saya pikir ada baiknya mengisi waktu itu dengan menulis. Saya mulai dengan tulisan referensi buku yang sebenarnya yang sudah umum, misalnya mengenai Sumba.
Mungkin adat istiadatnya banyak yang sudah ditulis tapi tidak utuh semua, sehingga masih tetap memegang buku Bapak Umbu Hina Kapitan. Tapi buku itu dalam bahasa Sumba. Nah, langkah awal saya adalah menerjemahkan buku karangan Bapak Umbu Kapitan. Saya terjemahkan dulu ini buku ini ke dalam Bahasa Indonesia karena buku ini orang Sumba sendiri tidak bisa baca. Pertama karena bahasa yang digunakan bahasa Sumba kambera, Sumba Wajewa dan ada beberapa bahasa sub praja di Sumba. Jadi buku tebal itu walaupun dalam bahasa Sumba, orang Sumba tidak bisa baca karena dalam bentuk bahasa baitan, kalau Sumba bisa dikatana wunan, lulun, bahasa adat sehingga memerlukan pengertian. Untungnya, Umbu Hina kapitan bisa meninggalkan untuk generasi berikut yaitu kamus Sumba Kambera ke Bahasa Indonesia dan kamus-kamus dalam bentuk ungkapan-ungkapan yang artinya lawiti yang menurut James Fox, itu bentuk pasangan atau bahasa yang berpasangan. Bahasa ini agak sulit dimengerti kalau tidak paham. Jadi pertama saya terjemahkan buku itu, lalu saya tawarkan ke Bupati, Ir. Mehang Kundang dan langsung diterima dan dijadikan satu proyek penerbitan buku.

Anda menulis tentang pemerintahan di Sumba. Dari mana Anda mendapat data-data itu?
Saya mendapatkan dari kalangan pemerintah karena mereka menyimpan arsip-arsip. Di kalangan pemerintah banyak tersimpan arsip-arsip, tapi secara terlepas-lepas. Kebiasaan menyusun suatu memori atau laporan tahunan yang mengkaitkan semua kegiatan itu dalam bentuk kegiatan terpadu sehingga menjadi dokumen itu masih kurang. Itu terjadi di kalangan pemerintah, sehingga menjadi kesulitan juga bagi orang yang membutuhkan dokumen itu. Saya juga mengalami hal yang sama. Kelemahan lain, ada kepala daerah yang memorinya di waktu selesai dia tulis dengan baik dan diperbanyak. Tapi ada juga memori yang dirangkap empat saja dan dipakai waktu serahterima saja. Serahkan satu ke gubernur, satu ke bupati dan sebagainya. Jumlahnya terbatas baik yang sudah cetak dan diperlukan menjadi dokumen dan diketahui itu bagus, sehingga mau susun satu sejarah yang dalam masa yang panjang itu tinggal baca memori-memori yang utuh menjadi satu kesatuan.

Mengapa Anda memilih menulis buku?
Nah, itu juga saya pikir ada baiknya ada waktu dan Tuhan masih memberikan kesehatan dan kesempatan maka saya berusaha menyusun. Tentu saja karena harus mencari penerbit.
Banyak juga banyak orang yang tidak suka menulis buku karena royaltinya hanya 20 persen. Sebelumnya hanya 10 persen. Tapi itu dikasih kalau bukunya sudah laku, kalau bukunya tidak laku ya tidak apa-apa. Seperti Prof. Alo Liliweri bilang, tidak ada yang kaya dengan menulis buku. Tetapi bukan kekayaan yang dikejar, tetapi kepuasan batin karena bisa meninggalkan catatan atau dokumen untuk generasi yang akan datang. Itu menurut saya yang pokok.

Apa yang paling paling membuat Anda bahagia dengan buku tulisan Anda?
Bisa menulis buku saja sudah membuat saya bahagia, apalagi kalau tulisan kita dikutip oleh penulis yang lain juga merupakan kebanggaan tersendiri, walaupun dari segi pendapatan mungkin tidak terlalu merangsang. Tapi kepuasan menulis itu yang dicari. Cuma sebenarnya kita perlu umpan balik atau tanggapan dari pembaca mengenai buku itu dan biasanya diadakan bedah buku dan sebagainya. Dari situ kita bisa dapatkan umpan balik. Tapi yang penting juga seperti dalam pengantar selalu dikatakan siap menerima kritik dan saran perbaikan. Biasanya tidak ada itu. Tapi itu baik agar cetakan berikut buku bisa lebih baik seperti perbaikan kesalahan teknis, menulis, kesalahan redaksi dan kesalahan data bisa diperbaiki untuk terbitan berikutnya.

Mengisi waktu dengan menulis juga merupakan pekerjaan yang sehat juga. Berapa lama Anda selesaikan buku ini?
Tergantung dari lengkapnya data. Kalau namanya sejarah perlu banyak dokumen, tapi banyak foto-foto itu adalah dokumen pribadi. Karena dulu waktu saya masih muda, saya selalu bawa tustel dan suka foto-foto. sehingga susudah 30 tahun kemudian foto itu memiliki nilai historis.
Tetapi kalau tidak ada tulisan juga sama juga tidak ada guna juga, ditulis sehingga diketahui oleh orang lain. Kalau masalah dokumentasi ini, kita mestinya belajar dari pemerintah penjahan Belanda dulu yang selalu mendokumentasikan setiap kegiatan atau peristiwa. Seperti ke pastor dan pendeta. Mereka itu menulis apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, apa yang mereka alami dan apa yang mereka perbuat selama melakukan perjalanan dan berada di tempat tertentu. Sehingga dalam dokumen-dokumen itu ada yang disebut laporan perjalanan. Kalau kita, hal-hal yang demikian dianggap sudah biasa, jadi seolah-olah semua sudah tahu. Tetapi setelah 50 tahun kemudian, belum tentu orang sudah tahu. Mengenai dokumentasi ini pernah disampaikan oleh Pak Ben Mboi saat ia jadi gubernur, yaitu setiap kepala dinas harus buat laporan perjalanan. Ya karena tidak ada yang baca, orang tidak menulis lagi. Padahal tidak dibaca juga tidak apa-apa yang penting menulis dan menjadi dokumen.

Butuh berapa waktu untuk menyelesaikan buku tentang Sumba?
Tidak sampai setahun. Saya mulai itu sejak Oktober 2007. Sebenarnya sudah bisa dicetak Juli 2008, tapi harus mencari dana lagi untuk mencetak buku ini.

Dalam buku ini, pesan apa yang ingin Anda sampaikan untuk masyarakat NTT?

Pertama, kaum terpelajar itu cintailah daerah sendiri dengan cara mendokumentasikan daerahnya. Sama dengan cinta tanah air. Sehingga orang kenal, orang tahu. Kalau bukan generasi sekarang ya generasi kemudian, sehingga berdasarkan itu banyak kalangan yang membeli buku ini. Buku ini baik untuk generasi muda yang mereka tidak tahu terjadi pada waktu-waktu yang lalu. Bung Karno juga pernah bilang jangan melupakan sejarah. Sehingga cetakan pertama in saya pasarkan di Kupang dulu. Karena di sini konsentrasi pelajar mahasiswa. Apakah mereka tertarik atau tidak, itu tidak jadi masalah. Dan, kalau ke toko- toko buku itu, buku ini tidak ada, jadi termasuk buku langka juga. Banyak pendapat yang bilang generasi muda harus memiliki buku ini untuk mengetahui perjalanan sejarah.

Apakah Anda hanya menjelaskan tentang Sumba dalam buku ini?

Dalam buku ini saya tidak fokus pada Sumba saja, karena ada dimensi nasional, ada sejarah Indonesia, ada dimensi sejarah regionalnya NTT, dan Indonesia bagian timur dan dimensi- dimensi lokal yakni Pulau Sumba. Dalam buku ini juga ada data mengenai gubernur-gubernur yang dilantik tanggal berapa, ada yang ditulis tanggal pelantikannya, ada yang hanya masa jabatannya. Kemudian ketua-ketua DPRD, hanya anggota DPRD Propinsi saya tidak tulis, hanya anggota DPR di Pulau Sumba ada semua. Dari daftar anggota DPRD Kabupaten itu, hanya satu masa jabatan di Sumba Timur yang saya tidak miliki data. Tapi ada yang mulai kasih tahu-kasih tahu siapa-siapa. Sumba barat itu ada tiga masa jabatan yang tidak ada yaitu 1971-1977, 1977-1982 dan lebih dulu dari itu yakni 1966-1971 juga tidak ada. Sebab sudah hampir semua sudah meninggal, ada juga yang masih hidup dan saya pernah wawancara tapi sudah tidak ingat lagi.

Anda memiliki latar belakang pendidikan pertanian, mengapa Anda tidak menulis sejarah perkembangan pertanian di NTT?

Terpikir juga, tapi saya masih kumpul data. Semasa aktif di kantor Dinas Pertanian, saya pernah diminta oleh Undana untuk menyusun kurikulum untuk Fakultas Pertanian tentang petanian lahan kering. Saya juga pernah ikut simposium internasional tentang pertanian yang digelar di Kupang oleh salah satu universitas di Salatiga.
Sebenarnya banyak hal yang saya bisa tulis, tapi saya mesti fokus. Apalagi kemajuan ilmu pertanian sangat cepat, jangan sampai ilmu saya sudah out of date. Tapi dasar-dasar ilmu itu tidak berubah. Saya punya rencana untuk tulis buku tentang sejara petanian tapi harus temukan dulu fokus apa yang mau ditulis. Mengenai pertanian itu memang, saya belum berani juga kecuali sebagai dokumen dan pengetahuan dasar karena ilmu berkembang terus dengan pesat setiap saat sekarang.

Apakah Anda masih merencanakan menulis buku lagi?
Saya mau menulis buku lagi, tetapi masih tenang budaya Sumba, saya lagi persiapkan tiga buah buku, barangkali khusus untuk Sumba, saya masih cari penerbitnya, sudah rampung masing- masing 80 persen. Ada buku yang pertama mengenai dongeng dan cerita rakyat Sumba. Kedua, dongeng asli Sumba, dan ketiga mengenai tatakrama orang Sumba.
Datanya ada dan banyak peninggalan dari Bapak Kapitan juga yang dikumpulkan bertahun-tahun. Khusus untuk dongeng asli Sumba, kalau cerita-cerita asli Sumba kalau disebut asli juga tidak karena satu dongeng bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain hanya bahasanya dan tokohnya yang disesuiakn dengan tempat. Jadi setelah satya pelajari ya begitu. Kalau dongeng yang sama diceritakan di Jawa, maka nama dan pelakunya juga orang Jawa, tapi kalau diceritakan di Sumba maka nama dan pelakiu pasti orang Sumba.

Mengapa Anda ingin membukukan dongeng dari Sumba?

Di Sumba banyak dongeng, tapi banyak yang sudah dilupakan karena banyak yang sudah tidak diceritakan lagi. Jadi kalau tidak dibukukan maka kemungkinan bisa punah atau dilupakan oleh generasi mendatang. Sekarang saya sedang kumpul. Dari Sumba Timur saja ada beberapa dongeng. Lalu Sumba Barat, yakni Anakalang, Mamboro masing-masing dengan bahasa lokal. Sekarang masih ada beberapa dongeng yang saya kasih ke orang Sumba untuk terjemahkan karena bahasanya sama seperti bahasa Mamboro. Jadi dongeng asli bahasa Mamboro tapi diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Ada juga yang mengusulkan sekaligus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Tapi saya masih berpikir.

Anda lama di pertanian. Kalau dulu progam lebih mengena dengan kebutuhan masyarakat. Misalnya dulu ada program El Tari tetang menanam. Terus ada program Ben Mboi OMN dan ONH. Sekarang jagung lagi..
Sebenarnya, setiap orang selalu mau mengikuti perkembangan atau mode. Mode ini terus berubah dan orang ingin berubah sesuai perubahan mode. Demikian juga program dalam bidang pertanian ini. Saya lihat dalam proyek-proyek sekarang pada prinsipnya sama dengan program pada pemerintahan masa lalu. Hanya istilahnya baru, sulit, tapi sebenarnya buat apa kalau mempersulit yang muda? Nanti kalau datang ini wah orang ini punya proyek berhasillah, ini terjadi kebanggaan sektoral. Tapi sebenarnya terkait.

Apa yang tidak menyenangkan kalau menulis?
Mencari penerbit atau sponsor yang bersedia menerbitkan buku ini. Tapi menulis harus cari sponsor atau penerbit dan bersedia menerbitkan. Saya tanya juga dosen-dosen, kenapa tidak tulis buku. Mereka bilang begini, banyak mahasiswa yang di muka hidung saya ini mereka memfotokopi buku itu. Jadi pembajakan secara halus pun mengurangi minat para penulis. (alfred dama)

Data diri
Nama: Ir. Umbu Pura Woha
Tempat Tanggal lahir : Kampung Wualanda, Mangili 22 Oktober 1936
Pendidikan :
Sekolah Rakyat Masehi di Ngallu selama 4 tahun (1949).
Kelas 5 dan 6 di Melolo-Sumba Timur dan tamat tahun 1951
Melanjutkan di Sekolah Agama di Mauma'ru dan melanjutkan ke SMP Payeti Waingapu (hingga kelas III bagian B) dan tamat di SMP Kristen Waikabubak 1956
SMA Kristen Salatiga, tamat tahun 1959
Fakultas Pertanian-Institut Pertanian Bogor tamat tahun 1966
Karier:
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Timur sejak tahun 1966

Wakil Kepala Dinas Perkebunan NTT sejak tahun 1971
Kepala Dinas Perkebunan Propinsi NTT sejak 1974 (selama 20 tahun)

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultira Propinsi NTT 1994.
Pensiun 1996
Istri : Rambu Lika Ana Amahu (nikah pada tanggal 10 Januari 1969)
Anak-anak : Umbu Mangu Peter, ST, Umbu Maku Hinggiranja, SE, Umbu Tay Rawambaku, SE, Umbu Hapu Amahu dan Umbu Habita Meha, SE serta Rambu Mora Lambu Emu, S.T. (alf)

Pos Kupang Minggu 22 Maret 2009, halaman 3

1 komentar:

terimakasih buat bapak Umbu Pura woha yang ingin menulis buku untk generasi brikut.saya srankan bapak, kita orng sumba ketika kita menerbitkan buku haruslah diterbitkan di sumba spaya jadi refernsi bagi genersi org sumba. di bandingkan bukunya Pak Oe. H. Kapita kita susah dapat krn diterbitkan di luar daerah. sy sndr sbagai mahsiswa mau mencri refernsi dari sumba kok slit skli,sy hanya dpt bkunya Bapak yng 2 itu(musyawarah adat istiadat di sumba timur & tata pemerintah masyarakat sumba). tetap smangat Bapak....Yanto Hambur. UNiversitas PgRI NTT

22 Januari 2010 17.53  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda