Kampanye Sinterklas

Parodi Situasi oleh Maria Matildis Banda

"JANGAN pilih dia! Pilih saya saja! Soalnya saya ini orang baik, berpendidikan tinggi, dermawan, suka menolong, dan pokoknya segala hal yang baik itu ada pada saya.

Apalagi partai saya! Saya punya partai itu luar biasa hebatnya! Hanya partai saya saja yang benar-benar punya telinga untuk mendengar, punya mata untuk melihat, punya kaki untuk berjalan, punya tangan untuk memberi dan punya sensitivitas tinggi untuk merasakan semua problem masyarakat."

Rara benar-benar menguasai panggung kampanye. Dia membius massa dengan gayanya yang khas, yaitu "ambil kesempatan dalam kesempitan, sekaligus unjuk gigi pada saat-saat menentukan!"

"Anda mau apa? Tinggal omong saja!" Teriak Rara selanjutnya. "Saya ini sinterklas. Namanya juga sinterklas, jadi sangat murah hati. Sembako, beres! Uang bemo, oke! Mau minum moke, jadi! Asal kamu pilih saya, pilih partai saya! Sebab partai saya ini memiliki semboyan dari, oleh, dan untuk rakyat!" Rara masih berapi-api di atas panggung. "Pilih siapaaaa?"
"Sinterklaaaaas," massa menjawab serempak dan kompak.


"Pilih saya! Sebab saya memang politisi sinterklas!" Rara membusungkan dada. "Sebab saya suka bersafari dan suka bagi-bagi sumbangan!"
"Hidup Sinterklaaaaass...." teriakan membahana membuat Rara melonjak bangga.

***
Kalau saja Rara baca opini Romo Leo Mali tentang Parpol dan Politisi Sinterklas beberapa hari lalu, mungkin dia akan berpikir sepuluh kali untuk menjuluki dirinya Sinterklas. Kata Romo Leo Mali, "Rakyat pada umumnya tinggal dalam kesadaran yang naif mengenai kemiskinan mereka sebagai nasib yang harus diterima.

Sementara parpol dan politisi ada pada ruang yang lain. Akibatnya intervensi politik partai dan politisi sinterklas malah dilihat sebagai sebuah penyelamatan. Sejatinya fenomena ini merupakan manipulasi atas kondisi ketidakadilan yang tercipta. Kemiskinan rakyat dimanfaatkan sebagai komoditas politik," Benza membaca keras-keras.

"Apa kata Romo Leo?" Tanya Jaki sambil melebarkan mata.
"Kemiskinan rakyat dimanfaatkan sebagai komoditas politik!" Kata Benza. "Kamu mau kemiskinanmu dimanfaatkan Rara?" Tanya Benza dan Jaki menggeleng.
"Menurut Romo Leo, dari sisi pendidikan politik perilaku sinterklas seperti Rara itu, menjadi tantangan yang sangat mendasar. Meski tampak elegan, namun sebenarnya perilaku ini tidak berbeda jauh dari politik etisnya VOC terhadap kaum inlander. Mungkin dengan semua analogi yang agak sinis perilaku ini bisa dilukiskan seperti pinsil dengan rupa dwi fungsi.

Ujung yang satu dipakai menulis, sementara ujung yang lain dipakai menghapus!"
"Pinsil? Tulis dan hapus? Sinterklas? Apa maksudnya?" Jaki kebingungan.

"Apa kamu mau ditulis terus dihapus? Apa kamu mau dimanfaatkan?" Tanya Benza.
"Jelas tidak mau! Jadi saya harus bagaimana?" Jaki tambah bingung.

"Kritis!" Jawab Benza singkat. "Baca ini! Pada momentum pemilu, baiklah kalau rakyat diajak untuk bersikap kritis dan membangun harapan yang terukur berhadapan Rara. Kepercayaan kepada parpol dan politisi, apalagi politisi sinterklas seperti Rara harus ditakar kembali, agar orang seperti Rara menjadi lebih bertanggung jawab dalam menjalankan perannya sebagai politisi.

"Tetapi nanti bagaimana kata Rara?"
"Supaya Rara jangan asyik bermimpi dan kaget bangun dan mengigau, sepertinya dia jatuh dari langit, dan mengigau bahwa dia satu-satunya parpol yang pantas dipilih! Dia satu-satunya politisi yang layak diberi tempat. Kasihan deh Rara.

"Tetapi Rara itu Sinterklas! Saya butuh sinterklas!" Jaki mengeluh panjang.

***
"Halo, Jaki!" Rara sudah berdiri diambang pintu.
"Halo juga," Jaki dan Benza menjawab bersamaan.
"Ini sembako, uang bemo, uang saku, uang rupa-rupa!" Rara langsung menyerahkan semua bawaannya dengan gaya melempar! "Tetapi ingat, besok kamu harus ikut kampanye! Terus tanggal sembilan, pilih parpolku, dan pilih aku! Ingat itu!" Rara duduk bersandar sambil berkipas-kipas.

"Bagaimana ini, Benza?" Jaki ragu-ragu sambil memasukan semua bawaan Rara ke dalam lemari. "Terima kasih eh, terima kasih, tetapi anu anu terima kasih yaaaa..."

"Apa khabar Benza?" Rara mengangkat dagunya.
"Hebat benar kamu sudah jadi politisi sinterklas!" Jawab Benza.
"Oooh jelas dong! Pilih aku, politisi sinterklas!" Jawab Rara.

"Ini hadiahku untukmu," Benza menyerahkan opini Romo Leo untuk Rara.
"Ooooh maaf ya Benza. Saya tidak punya waktu membacanya. Maklumlah, saya sibuk kampanye."
"Kalau begitu ini saja!" Benza menyerahkan pinsil dengan dua mata. Yang satu untuk menulis dan yang satu lagi untuk menghapus.

"Nah, ini dia yang saya butuhkan untuk menghitung semua pengeluaran saya sebagai sinterklas. Terima kasih ya Benza. (*)


Pos Kupang Minggu 22 Maret 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda