FOTO POS KUPANG
/ALFRED DAMA

CINTAI BUMI--
Anak-anak dari berbagai
sekolah dasar dan taman
kanak-kanak di
Kota Kupang saat
mengikuti lomba mewarnai
cinta lingkungan di
Aula El Tari, Sabtu (28/2/2009)


SEKELOMPOK anak-anak tengah asyik memberikan warna pada media gambar yang ada di depan mereka. Ada anak mewarnai media gambar dengan beralasan meja gambar anak- anak. Ada pula yang tidur-tiduran di lantai sambil terus memberi konteks warna pada media gambar.

Asyik mewarnai, anak-anak ini tidak menghiraukan orang-orang di sekeliling mereka yang terus lalu-lalang yang mengawasi aktivitas menggambar mereka. Para orangtua pun tak kalah sibuk meski hanya bisa memperhatikan anak-anak mereka dalam lomba tersebut. Anak-anak ini adalah peserta lomba mewarnai Cintai Bumi yang diselenggarakan oleh Radio Suara Timor FM- Kupang, Sabtu (28/2/2009) lalu. Sekitar 200 anak mulai dari TK hingga SD ikut dalam lomba tentang lingkungan tersebut.

Anak-anak ini berlomba memberikan warna yang pas dengan media gambar yang ada sudah disiapkan oleh pihak penyelenggara. Gambar-gambar yang harus diwarnai untuk siswa SD adalah dua orang anak yang sedang yang sedang bermain di taman yang hijau serta di bawah sinar matahari pagi.

Sementara gambar yang harus diwarnai anak-anak TK adalah kapal laut kecil yang sedang berlayar.
Sepintas imajinasi anak-anak tersebut sangat beragam dalam berimajinasi sehingga pilihan gambar mereka bervariasi. Ada anak yang memberi nuansa kuning pada matahari serta nuansa biru pada langit.

Sementara pada gambar pohon pada umumnya memberi warna hijau, namun ada juga anak yang berani memberi warna kuning pada gambar pohon. Sementara pada gambar dua boca yang sedang bermain, para peserta pada umumnya memberi gambar yang bervariasi sesuai dengan imajinasi mereka.

Sementara di kelompok anak-anak TK, jelas tampak imajinasi yang lebih beragam. Ada anak yang berani memberi warna coklat pada air laut atau warna-warna yang tidak lazim.
Ketua panitia lomba tersebut, Audi Natalia, menjelaskan, tujuan kegiatan lomba tersebut adalah sebagai bentuk partisipasi pihaknya bersama sponsor serta peserta dalam mengkampanyekan gerakan peduli lingkungan hidup untuk mendukung pengurangan pemanasan global. Selain itu, kegiatan ini juga untuk mendidik anak-anak mencintai bumi.

Pihak penyelenggara, melalui FX Agung, yang ditemui di sela- sela kegiatan tersebut menjelaskan, tema kegiatan tersebut adalah Cintai Bumi. Ini dilakukan untuk mengajarkan dan membiasakan anal-anak sejak usia dini mengenal dan mencintai lingkungan. Dengan mewarnai, menurutnya, imajinasi anak-anak dibangun dengan konsep cinta lingkungan sehingga anak-anak nantinya tumbuh mejadi dewasa sebagai manusia yang cinta lingkungan.

Menurutnya, bila sejak masa kanak-kanak sudah diajarkan tentang cinta bumi melalui sikap cinta lingkungan, maka dengan sendirinya sikap cinta lingkungan tersebut terpatri dalam diri anak-anak tersebut. Selanjutnya sikap tersebut terbawa hingga anak-anak tersebut menapaki usia dewasa.

Dalam lomba mewarnai tersebut, kepada anak-anak juga diperlihatkan fenomena tentang bumi dalam sebua film tentang lingkungan. Usia anak-anak yang masih belia dan masih sangat polos diharapkan bisa menyimpan kisah-kisah dalam film serta gambar-gambar tentang lingkungan yang sehat dan bersih tersebut dalam memori mereka, sehingga sikap-sikap cinta bumi akan terbawa hingga mereka dewasa nanti. (alf@poskupang.co.id)


Kurangi Produksi Plastik

MENTERI Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar, akan memerintahkan pengurangan produksi kantong plastik. Cara itu diharapkan bisa menekan produksi sampah plastik. Rachmat mengatakan, pengurangan dari segi konsumen tidak mudah.

Pasalnya, ada ratusan juta orang yang berpotensi menggunakan kantong plastik. "Memang ada kelompok masyarakat sudah berusaha mengurangi penggunaan kantong plastik," ujarnya di sela-sela Peringatan Puncak Hari Peduli Sampah Nasional di Surabaya

Angka pengurangan cukup lumayan meski belum signifikan menekan produksi sampah plastik. Karena itu, harus dicegah dari sisi produsen. "Produsen akan diminta mengurangi produksi kantong plastik. Distributor juga didorong untuk mengganti kantong plastik dengan bahan lain atau memakai ulang kantong plastik," ujarnya.

Dengan cara itu diharapkan jumlah sampah plastik berkurang. Dengan demikian, beban Bumi menurun. "Setiap lembar kantong plastik butuh ratusan tahun untuk terurai dengan proses alamiah. Sebelum terurai, sampah akan menumpuk," tuturnya.

Sebelumnya, Rachmat Witoelar menjelaskan, KLH juga berencana mengeluarkan peraturan untuk membatasi penggunaan kantong plastik di Indonesia untuk mengurangi pencemaran. "Saya akan membuat peraturan yang lebih detil, termasuk insentif dan disinsentif, dimulai dari produsen kantong plastik akan terkena disinsentif," katanya

Peraturan yang akan dibuat merupakan peraturan pelaksana sebagai penjabaran dari UU No.18/2008 tentang Pengelolaan Sampah. Aebagai awal, akan diadakan gerakan pembatasan penggunaan kantong plastik di pusat perbelanjaan di Surabaya sebagai bagian dari acara Hari Peduli Sampah. "Kita akan tegakkan sekuat mungkin. Mungkin akan kita memberlakukan setahun setelah PP dari UU Pengelolaan Sampah," katanya.
Agar peraturan itu efektif, pihaknya akan memberikan disinsentif misalnya dengan mempermalukan pihak penerima itu di depan pers.

"KLH akan pakai tekanan psikologi. Kita bisa permalukan di depan pers bahwa mereka perusak lingkungan atau kita datangi sendiri bersama 70 duta lingkungan," katanya. Sedangkan bila subyeknya adalah institusi bisnis, maka KLH bisa meminta kepada perbankan untuk tidak memberikan kredit kepada mereka.

Sedangkan Plt Asisten Deputi Urusan Pengendalian Pencemaran Limbah Domestik dan Usaha Skala Kecil KLH Tri Bangun Laksono mengatakan, data KLH 2007 menunjukkan, volume timbunan sampah di 194 kabupaten dan kota di Indonesia sebanyak 666 juta liter atau setara 42 juta kilogram, dengan komposisi sampah plastik mencapai 14 persen atau 6 juta ton.
Berdasarkan produksi sampah per orang, yaitu 800 gram per hari dan dengan 220 juta jumlah penduduk maka diperkirakan jumlah timbunan sampah nasional sebanyak 176 ribu ton per hari.

Dengan angka konversi 50 kg metan per satu ton sampah organik "bio degradable" maka potensi emisi metan yang dapat meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca sebesar 745,2 giga gram.

Angka tersebut terhitung sangat kecil, kontribusi sektor sampah hanya satu persen dibandingkan potensi gas rumah kaca yang dihasilkan sektor lain seperti perubahan penggunaan lahan kehutanan, energi, transportasi, dan pertanian. Walaupun kontribusinya terhitung kecil, daya rusak gas metan terhadap lapisan ozon dua puluh satu kali lebih kuat dibandingkan gas karbondioksida. (kompas.com)


WWF Dukung

ORGANISASI konservasi WWF-Indonesia mendukung langkah Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) yang mengeluarkan peraturan pembatasan penggunaan kantong plastik untuk mengurangi pencemaran lingkungan. "Langkah KLH kita sambut baik, tapi kita minta agar pemerintah juga memperhatikan infrastruktur, monitoring dan dorongan melalui insentif dan disinsentif, karena kalau tidak kita khawatir hanya akan menjadi peraturan yang tidak bisa dilaksanakan," kata Direktur Program Iklim dan energi WWF-Indonesia, Fitrian Ardiansyah Jakarta.

Fitrian yakin aturan pembatasan penggunaan kantong plastik itu bisa dilaksanakan, karena sudah ada beberapa negara maju dan negara berkembang yang melakukannya. "Cina dan Banglasdesh sudah melakukannya," katanya. Untuk itu, dia mengatakan perlu regulasi yang mengaturnya karena apabila bergantung hanya kepada kesadaran masyarakat tidak akan berjalan.

Fitrian mengatakan agar aturan tersebut bisa dilaksanakan maka pemerintah harus membuat peraturan, alternatif pengganti kantong plastik dan adanya insentif dari pemerintah kepada perusahaan dan masyarakat yang tidak menggunakan kantong plastik. "Di Australia, pemerintah memberikan 5 sen kepada masyarakat yang mengumpulkan per sampahnya," katanya.

KLH juga harus memastikan penegakan hukum dari aturan pembatasan penggunaan kantong plastik tersebut. Selain itu, KLH juga memberikan alternatif kantong pengganti kantong plastik seperti kantong plastik biodegradable, kantong kain dan sebagainya.

WWF-Indonesia sendiri telah bekerjasama dengan beberapa pasar swalayan untuk memperkenalkan kantong belanja tanpa plastik dengan jargon green shopper.(Ant)

Pos Kupang Minggu 8 Maret 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda