Komik

Cerita Anak Oleh Petrus Y. Wasa

"JO, kamu boleh bermain tapi jangan lupa menjaga adikmu. Jangan sampai dia keluar ke jalan. Dia sekarang sedang bermain di kamar ibu. Ibu hendak ke pasar. Kebetulan Bapak bersedia mengantar," pesan ibu sambil terburu-buru karena Bapak sudah menunggu di depan. Beberapa saat kemudian terdengar deru sepeda motor meninggalkan rumah.

Jojo melepaskan komik yang sedang dibacanya dan menuju ke kamar kedua orang tuanya. Benar kata ibu, ternyata Ino, adiknya sedang asyik bermain di kamar itu. Jojo pun kembali ke tempat semula dan melanjutkan membaca komiknya. Sementara Ino, yang baru berusia dua tahun itu, mulai bosan dengan permainannya. Dengan langkah tertatih-tatih dia keluar dari kamar.


Dengan rasa ingin tahunya yang besar dia beralih dari satu kamar ke kamar yang lain tanpa sepengetahuan Jojo. Sampai akhirnya dia tiba di ruang tamu. Melihat ada pintu yang terbuka, Ino keluar menuju halaman depan. Setelah bosan bermain di halaman, Ino beranjak menuju pintu pagar yang dibiarkan terbuka sepeninggal ibu dan bapak tadi. Kini tinggal selangkah lagi. Ino sudah berada di jalan.

***
"Jo! Jojo!" teriak Ina, pembantu rumah sebelah. Dia menggendong Ino yang sedang menangis. Tangan adiknya itu berdarah. "
"Ada apa dengan adikku?" tanya Jojo. Tangannya tidak lepas dari komik.

"Aneh, kamu ada di dalam rumah tapi tidak mengetahui adikmu keluar ke jalan. Adikmu baru saja diserempet sepeda motor. Makanya jangan membaca komik terus. Sekarang ambilkan obat luka, perban, plester juga kapas," perintah Ina. Dengan cepat Jojo mengambilnya. Ina lalu membersihkan luka di tangan Ino dengan kapas yang dicelup di air panas, memberi obat, ditutupi perban dan direkatkan dengan plester.

"Sekarang beli permen kesukaan Ino, agar dia cepat berhenti menangis," perintah Ina lagi. Ina kemudian menggendong Ino sambil berdiri. Setelah diberi permen tangis Ino berhenti dan tidak lama anak itu tertidur.

***

Ketika pulang ibu menanyakan Ino pada Jojo.
"Itu Bu, Ino.... Ino tidur, Bu," jawab Jojo gugup.
"Tidak biasanya anak itu tidur selama ini. Coba ibu lihat mungkin dia sakit," kata ibu sambil berlalu ke kamarnya. Tidak berapa lama Ibu kembali dari kamar dan menemui Jojo.

"Apa yang terjadi dengan Ino, Jo. Mengapa tangannya dibalut seperti itu?" selidik ibu.
"Ino.. Ino diserempet sepeda motor, Bu," Jojo makin gugup.
"Apa? Diserempet sepeda motor?" Ibu tidak percaya. Ibu memperhatikan Jojo dengan penuh marah.

"Lalu kamu, kamu yang ibu tugaskan untuk menjaga Ino, apa yang kamu kerja kan?" Ibu marah.
"Sa.. saya sedang membaca komik, Bu" jawab Jojo ketakutan
"Untung saja hanya mengenai tangan. Kalau saja yang terkena badan atau kepalanya, Ibu tidak tahu apa yang terjadi dengan anak itu," Ibu menangis.

"Teganya kamu Jo. Lebih mementingkan komik itu dari pada keselamatan adikmu sendiri. Sekarang juga keluarkan semua komikmu dan bakar di pembuangan sampah," perintah Ibu.
Dalam hati Jojo menyesali kelalaiannya. Kelalaian yang menyebabkan ibunya sedih. Sebagai bukti penyesalannya, dia membakar skomiknya dengan ikhlas hati. (*)


Pos Kupang Minggu 1 Maret 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda