Menunggu

Cerpen Rm. Sipri Senda

AKU menunggu. Dia belum juga datang. Mungkin lima menit lagi. Tapi ah, rasah bosan ini sudah begitu lama mendera. Kulihat jam di tanganku. Aneh, bukan angka jam yang terlihat, tapi wajah manis seseorang yang menghadiahkan jam ini padaku. Suatu hari.

Beberapa tahun yang lalu. Di sebuah ruang tunggu. Ketika itu kami bertemu.... sama-sama menunggu. Dan ah, sekarang juga aku sedang menunggu. Kuberharap pula ada seseorang yang manis datang dan menemaniku di saat penantian ini. Tapi tak seorangpun yang muncul. Hanya wajah manis masa silam itu yang muncul dalam angan dan menggiringku ke alam mimpi..ah, seandainya kau ada di sini lagi....

Lima menit itu akhirnya lewat, tetapi yang kutunggu belum juga datang. Batas kesabaranku habis. Kuputuskan untuk pergi dari situ. Berlalu bersama waku yang mengalir. Aku pergi entah ke mana tanpa meninggalkan jejak dan pesan atau sesuatu apa yang bisa menghubungkanku dengan yang kutunggu itu. Biarlah, bila ia tiba, ia akan menemukan kekosongan seperti yang kualami. Mungkin kekosongan itulah sebuah tanda baginya bahwa aku telah pergi, dan bila dia mau bertemu denganku dia juga harus pergi dari situ.

Tapi ke arah mana dia harus menyusuliku? Aku tak meninggalkan tanda atau pesan tentang ke mana aku pergi. Ah, persetan dengan itu. Dia sudah dewasa, dan bisa mempertimbangkan arah mana yang pasti. Kalau toh dia mengambil jurusan yang lain, suatu waktu nanti kami akan bertemu. Bumi ini bulat. Dia ke barat, aku ke timur. Akan bertemu di juga di suatu tempat, titik temu antara barat dan timur.


Tanpa menoleh kuberjalan lagi, dengan kepala memenuhi segala sudut dunia dan seribu satu harapan yang melangit tinggi. Tubuhku serasa limbung. Uhf, kenapa aku seperti berada dalam ruang hampa udara? Kuhentakkan kakiku kuat-kuat di aspal dan berjalan seperti serdadu lagi berbaris. Keringat segera mengalir deras dari sekujur tubuhku. Bah, mengapa orang-orang itu memandangku dengan dahi berkerut? Bibir merekapun bergerak menggumam sesuatu entah apa. Aku tak peduli. Aku terus berjalan bak serdadu ke medan perang. Tapi tanpa tujuan yang jelas, namun arahnya jelas ke barat. Mau ke mana, aku tak tahu. Yang penting berjalan, agar hilang kebosanan menunggu.

Malam tiba. Akupun capek. Kuingin beristirahat. Kucari halte bus. Ada bangku di sana . Aku duduk dan berdiam diri. Entah sudah berapa bus yang berhenti di halte ini dan terus berjalan, aku tidak menghitungnya. Entah sudah berapa penumpang yang turun dan naik di sini, aku juga tak tahu. Sebagian orang tak peduli. Sebagian lagi heran, karena aku seperti menunggu bus, namun belum juga mengambil bus manapun.

Aku bangkit dan berjalan lagi. Berjalan tanpa berpikir. Otakku terasa kosong. Tiba-tiba aku sadar bahwa aku lupa di arah mana matahari tadi terbenam. Tak ada matahari sekarang. Cuma ada cahaya lampu jalanan. Oh, aku telah tersesat. Setelah berjalan sekian lama, akhirnya aku tiba dari jurusan lain, justeru di tempat aku menunggu tadi. Ahhh.... lega rasanya. Kurasa nyaman sekarang. Ada banyak orang di bangku-bangku. Kucari tempat kosong. Persis di ujung, ada satu tempat kosong. Ternyata di situ sudah ada dia yang kutunggu.

"Hai, kau!" teriakku menunjuk mukanya.
"Hai, kau juga!" dia melonjak berdiri, berteriak dan menunjuk mukaku juga.
Kami sama-sama tertawa lebar. Lalu berpelukan erat sambil menepuk-nepuk punggung. Orang-orang heran melihat tingkah kami. Tapi kami tidak peduli. Kami duduk dan mulai berbicara.

"Aku menunggumu tadi lama sekali," kataku memulai.
"Aku mencarimu tadi lama sekali," jawabnya.
"Karena kau tak datang-datang, maka aku pergi ke barat. Kupikir toh, kita akan bertemu nanti karena bumi bulat dan kau ada di timur."
"Karena kau telah pergi ketika aku tiba di sini, dan aku pikir kau ke timur mencariku, maka kususul ke timur."

"Tapi ternyata aku tersesat setelah matahari terbenam, dan tanpa kusadari aku justeru kembali ke tempat ini."
"Setelah lama berjalan ke timur tanpa menemukanmu, aku berpikir aku keliru, jadi kuputuskan kembali ke sini dan menggantimu menunggu di sini."
"Jadi kau mencariku dan menungguku?"

"Ya. Dan kau meninggalkanku dan menemukanku?"
"Aneh. Aku meninggalkanmu, tapi justeru kembali menemukanmu."
"Ya aneh. Aku gantian menunggu, dan justeru kau datang menemukanku."

Aku diam. Betapa aneh dialog kami. Aku merasa tersudut oleh dialog ini karena justeru akulah yang meninggalkan dia dan itu berarti aku ingkar janji. Kuingin ganti topik, tapi tak tahu harus berangkat dari mana. Dia juga diam. Dia menangkap gejolak di hatiku. Maka dia berkata: "Kau lapar. Ayo, kita cari makan.รถ Aku merasa lega, lepas dari beban. Sorot mataku menyampaikan terima kasih. Dan kami berdua beranjak dari situ.

Kami berdua makan tanpa bicara. Sepotong pizza dibagi dua. Aku mengunyah pelan-pelan sambil membayangkan perjalananku. Dia juga mengunyah pelan-pelan sambil membayangkan entah apa. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri, dunia khayalan yang diciptakan sebagai pelarian dari kenyataan yang terasa berat. Aku tahu, diapun merasa bersalah makanya dia diam saja.

Pada saat menelan kunyahan terakhir, dia memandangku, aku memandang dia. Kami sama-sama tersenyum. Ya, bagaimanapun sungguh tak enak berlarut-larut dalam kekeliruan. Kuulurkan tanganku bersamaan dengan dia mengulurkan tangannya. Kami bersijabat.

"Kau sahabatku yang baik," kataku.
"Kau saudaraku," jawabnya.
"Hanya kau yang sangat memahami diriku."

"Kau juga mengenalku dengan baik."
"Tugas kita belum selesai. Masih panjang perjalanan kita."
"Kita mampu menuntaskannya, karena kita satu hati dan satu pikiran."
"Akan ada banyak tantangan, dan yang terberat adalah dari diri kita sendiri," kataku rada cemas.

"Kita mempunyai kekuatan bersama. Semua tantangan bisa diatasi," tandasnya pasti.
"Ya, benar juga kau. Hmm... bersama kita mampu."
"Yes, we can."
"Hah, bahasa apa itu?" Aku tak mengerti apa yang dikatakannya.
"Ah, cuma bahasa sederhana, dipakai di seluruh dunia sekarang."
"Tapi bagaimana kau bisa mengetahuinya? Kau belajar dari mana?"
"Aku mengetahuinya dari televisi. Ada seseorang yang selalu bilang begitu, dan dia menang."

"Menang apa? Menang lotre?"
"Lotre urusan manusia dangkal. Dia menang dalam berjuang."
"Hmmm... inspirasi yang bagus. Kita juga akan menang dalam berjuang."
"Yes, we can!"

"Ya, aku juga mau bilang begitu, yes wi ken. Mari kita berangkat."
"Ayo, maju tak gentar."

Kami berdua pergi. Menuntaskan tanggung jawab yang kami emban. Kali ini perjalanan dengan tujuan yang pasti. Babak penantian telah dilalui. Tiada lagi yang perlu ditunggu. Kini babak penunaian tanggung jawab dengan kekuatan bersama. Dunia diam. Kami berjuang.***


Pos Kupang Minggu 1 Maret 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda