Puisi Matalim Blikuleng

Gundah Jiwaku

Ketika gundah melanda jiwa
Terkoyak perlahan dinding-dinding sukma
Tetes demi tetes duka mengalir perih
menyatu dalam alur sungai kepedihan

Ketika malam merangkak menyelimuti senja
Terkoyak perlahan lembayung senja
Sepoi-sepoi hembusan bayu
Mengantar mega malam menuju singgasananya

Hatiku gunda di saat malam meninggi
Detak jantungku seakan berpacu mengejar desiran semilir angin

Sunyi.....
Sepi....
Dingin....
Beku jiwaku

Hatiku gundah
Tatkala sukmaku menjauh
Detak jantungku terus berpacu
Mengejar desiran semilir angin

Letih....
Lelah....
Penat jiwaku....

Hatiku semakin gundah
Sukmaku semakin jauh
Jauh....
Jauh....
Jauh....



Pos Kupang Minggu 8 Maret 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda