Suara-Suara Dalam Gelap

Cerpen Fabio H. Seran

GELAP tidak selamanya hening. Gelap bukanlah jahat. Bisa saja ia dikonotasikan dengan semua yang jahat, tapi ia bukan kejahatan itu sendiri. Ia bukan pula sumber keseraman. Gelap punya jiwa yang sepi!

Suara-suara itu nyaris tak terdengar. Menghidupkan malam yang sedang terlelap dalam tidur. Ikut menyemarakkan malam dan dunianya; meninabobokan bumi yang masih bermimpi. Suara-suara itu memberi sekeping jiwa pada gelap yang bisu.

Sudah lama sudut kamar itu gelap. Gelap yang dibuat-buat tempat sebuah jiwa sedang menanti dalam gelisah. Jiwa yang bertuankan seorang penghuni planet bumi yang lagi berharap dengan sangat. Ia berharap tetapi juga gelisah. Sungguh sebuah jiwa yang ambivalen. Kemarin dia bilang bahwa di ujung tahun ini dia tidak ingin lagi untuk mati.


Meski sekarat namun ia masih mau hidup. Terutama hidup di tahun yang baru ini. Ia tahu bahwa tahun silam baru saja pergi meninggalkan bekas-bekas luka yang belum tersembuhkan. Air mata barusan terhapus. Ia telah cukup kenyang dengan hadiah tahun lalu yang kalau dihitung-hitung, ada banyak dukanya. Ada banyak derita, kegagalan dan kehancuran yang ia alami. Ia bersyukur karena di sudut ruang yang masih berselimutkan gelap ini, ia masih sanggup tersenyum. Dia mau memaknai tahun ini; dia mau menjadi lebih berarti dan bernilai di tahun ini.

Sejam lalu suara-suara itu menghidupi pekatnya ruangan tersebut. Sahut-menyahut via pesawat handphone, masih terdengar hingga kini.
"Mila...", kata sang pemilik jiwa itu berbisik. Malam masih saja sunyi. Karena itu, ia tidak ingin berisik. "Kau hadir saat tahun akan berganti. Aku pernah bilang padamu kan bahwa kehadiranmu merupakan kado Natal buatku. Perkenalan kita terjadi justru pada saat aku merasa duniaku sepi. Ketika aku dijauhi oleh orang-orang terdekatku lantaran aku seorang bekas napi dan pecandu narkoba.

Waktu pijar-pijar cinta dari keluargaku hampir lenyap. Saat hatiku mulai runtuh dan larut dalam putus asa yang berkepanjangan. Waktu kugulati itu semua dengan cuma mengandalkan sepotong jiwa yang telah retak, Mila, kau jamu aku dengan perhatianmu yang penuh simpati. Sungguh kaulah sebelahan jiwaku yang rela mengerti tentang aku dan menerima aku apa adanya. Adanya aku kembali di pentas kehidupan ini tidak terlepas dari pada dirimu yang lagi berada. Kasmila, Aku sudah berusaha menjadi pribadi yang selalu ingin untuk bersyukur."

Mendengarkan itu terkadang punya daya yang menyembuhkan. Kasmila masih terus mendengar. Barangkali ia tahu bahwa berhadapan dengan orang-orang seperti ini, siapa pun dia termasuk dirinya, mesti sabar dan setia mendengarkan.
"Fa_aku tidak pernah menyangka bahwa kita akan bertemu. Kita telah berada dalam suatu situasi yang tidak jauh berbeda. Bagiku, Fanes, menjumpaimu adalah sebuah takdir dan membuat hari-harimu kembali cerah merupakan tanggungjawabku. Aku juga pernah dilukai dan luka itu sudah terobati. Dan sembuh. Kesembuhanku menjadi mungkin karena aku sempat berada di antara cinta dan kepedulian sesamaku." Sahut Mila dari seberang.

Mila bukanlah pakar terapi. Dia bukan pula seorang psikolog. Dia hanyalah seorang sahabat baru bagi Fanes yang sedang mengandung jiwa yang sekarat. Getirnya kehidupan masa silam mampu mendorong dia untuk belajar mengobati orang lain seperti halnya ia dulu pernah diobati.

"Kasmila, apakah kesembuhan total mungkin bagiku? Aku sudah sangat lemah. Rasa-rasanya tahun ini tidak akan aku alami sampai selesai. Tetapi kamu bilang cinta dan kepedulian bisa memungkinkan kesembuhan itu terjadi. Betulkah itu?"
"Fa.." seperti itulah Kasmila mengakrabi Fanes. "Aku kan sudah kasih tahu kamu. Apa yang kamu alami tidak jauh berbeda dengan apa yang telah aku alami. Terkadang orang begitu menderita karena mereka tidak diperhatikan. Cinta bukanlah suatu ungkapan perasaan yang kadang hampa namun cinta itu memungkinkan segalanya. Cinta itu menyembuhkan. Dan aku telah merasakannya."

"Mila, aku membutuhkan dirimu. Aku butuh kehadiran dan perhatianmu. Aku kesal pada hari-hariku yang sudah-sudah. Aku mencari perubahan di tahun yang baru ini. Aku mengimpikan perubahan itu datang dari dirimu juga dari orang-orang terdekatku" pinta Fanes.

Kasmila menyanggupi permintaan Fanes. Ia kenang kembali saat-saat pahit kala ia berada dalam posisi yang persis sama dengan yang dialami teman bicaranya itu. ia tulus membantu Fanes `tuk menggapai kemilau jiwanya yang telah lama pergi.
Gelap adalah kepunyaan malam. Sudah lama hati Fanes dikuasai oleh kegelapan. Dalam rentang waktu itu, ia seakan tidak lagi kenal dengan yang namanya terang.

Situasi batinnya diusik malam dan kelamnya. Malam telah menjadi dunianya sejak seberkas cahaya seolah pergi menjauhi dirinya. Lingkungan di sekitarnya telah menggelapkan dunia milik Fanes. Namun gelapnya malam ini benar-benar bermakna baginya. Ia tidak mengartikan malam ini seperti malam-malam yang telah ia lalui. Malam ini memang beda. Ia perlahan menanggalkan identitasnya yang lama.

Suara-suara dalam gelap malam ini membangunkan kembali jiwa seorang anak manusia. Telah terukir sejarah baru dalam hidup Fanes. Ia mulai mengerti bahwa hidup tidak sekadar dihidupi tapi dimaknai. Meski sering hidup terasa mati tapi ia mau agar hidupnya tetap hidup. Ia ingin untuk tetap ada bagi dunia ini. Lebih dari itu, ia mau agar hidupnya tidak menjadi ancaman buat dunia. Karena itu, ia perlu perubahan untuk menjadi berarti lagi di mata dunia. ***
Vocationary Santa Familia-Nita, Februari 2009.



Pos Kupang Minggu 15 Maret 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda