Tergores Cinta

Cerpen Marselinus Piana

AWAN hitam menyelimuti permukaan langit biru. Sinar mentari senja tak mampu menembus bumi. Rerumputan dan bunga- bunga seakan diam membisu menanti sinar mentari. Bahkan cadas-cadas di pelataran kota tempat tinggalku tampak tergolek pasrah. Tak ada angin yang berhembus, hanya bunyi kokokan ayam jantan yang membuyarkan lamunanku.

"Begini saja cukup, kak...." Lima tahun silam, kata-kata itu keluar dari mulut Mellysa. Entah mengapa, malam itu aku jadi berani. Tangan yang lembut kugapai. Gemetaran. Aku berusha tampil sejati. Tiga tahun penantian, hanya untuk bertatap muka dengan Mellysa. Mellysa tersipu malu. Senyuman khasnya menyungging dari bibirnya. Senyum seperti itulah yang membuatku terpikat.

"Hmmm...... Mellysa, aku cinta kamu," kataku gugup. Ia tersenyum sambil menunduk. Aku tak tahu bagaimana getar- getar sukmanya. Lama, ia diam.

Malam telah larut. Listrik di sekolah tempat kami belajar mulai dipadamkan. Hanya pancaran sinar bulan purnama yang masih tampak cemerlang. Waktu belajar malam usai, teman-teman kembali satu persatu. Tinggallah kami berdua. Nasehat para leluhur bila terlampau lama berduaan di tempat yang sepi, bakal setan akan memainkan perannya, bahkan bisa memporak- porandakan kesucian. Barangkali nasehat itu benar. Aku sadar akan hal itu.

"Mellysa, kamu kok diam saja? Aku kan menunggu jawaban dari kamu," kataku polos. Tiba-tiba Mellysa bersuara juga.
"Apa kak, mau melakukan dengan tulus?" Mellysa balik bertanya padaku hingga aku bingung. Kami sebenarnya sahabat karib. Namun, aku justru ingin suatu persahabatan dalam arti lain.

"Begini saja cukuk, Kak." Kata-kata itu lagi-lagi meluncur dari mulut Mellysa. Aku tetap penasaran. Namun gelembung cintaku seakan reda oleh jawaban tak pasti. Mellysa kuhantar kembali ke rumahnya dalam ketidakpuasan. Ibunya Mellysa yang terkenal disiplin membuat kami terpaksa menunda kemesraan malam itu.

Hari indah dilalui Mellysa dengan sebuah kangen pilu. Kadang ia diam. Ruangan memorinya masih terpampang peristiwa dua tahun silam. Ia merasa dinodai. Aku adalah kakak kelasnya kala itu. Teman sekelasku merayu. Keadaan itu kupergunakan tuk meluapkan perasaanku. Namun, sobit-sobitku yang nakal itu bantu meramu getaran jiwaku dalam kata dan kalimat indah dengan huruf bergaya gothik. Namun, Mellysa ternyata begitu teliti. Ia lantas tidak percaya.

"Ini penipuan," gumamnya dalam hati bagai seorang detektif. Walau demikian, di sudut hatinya masih tergulung benang- benang kerinduan yang siap dipintal. Tapi mahal. Sulit tuk diungkapkan. Itulah wanita.
Waktu berlalu, hari berganti hari, bulan bertukar, penipuan itu justru membawa berkah begiku. Mellysa selalu tersenyum setiap kali berpapasan denganku. Betapa hatiku berbunga-bunga.
"Ini kebiasaan baru," pikirku. Rasanya ada tanda-tanda baik yang menjanjikan. Namun, sebatas itu saja yang bisa kulakukan.

Aku selalu gugup tampil di depan Mellysa. Sementara Mellysa yang periang selalu disenangi banyak orang. Aku kadang cemburu. Aku merasa tak pantas memiliki Mellysa. Ah, biarlah kutinggalkan saja, kusampaikan tekad dalam hati kecilku.

Sebagai laki-laki aku tak ingin menjadi pengemis cinta. Masih ada yang lain kok. Perasaan itu selalu muncul tumpang tindih silih berganti.
Mery teman sekelasku ternyata terus mengikuti bursa cinta dalam hidupku. Ia tahu betul apa yang kualami. Tampang yang selalu berubah, elegan, penuh vitalitas membuat Mery temanku sebangku curiga. Tanpa basa-basi aku suatu ketika membuka diri. Mery benar-benar tanggap. Ah, kalau begitu dengan kawanku sajalah. Fatimah namanya. Ia juga baik ko, Mery sedikit promosi. Tanpa pikir lagi, aku mengangguk tanda setuju.

Diperkenalkannya aku pada Fatimah, ia murid baru di sekolah itu. Fatimah benar-benar lugu, pikirku dalam hati. Ini kesempatan emas buatku yang masih malu-malu juga.
Hari pertama bertemu, kutetapkan di samping sekolah. Kami benar-benar baru belajar bercinta. Kadang tak ada sepatah kata pun yang keluar. Kadang, aku hanya menatapnya tanpa berkata. Lucu. Aku seketika ingat kata-kata bijak ayahku.

"Jangan sering belajar pada orang yang masih belajar seperti engkau, karena yang kamu dapatkan hanya sebatas apa yang kamu cari bersama." Ah, ayah benar juga tidak, tidak juga tidak. Pokoknya cintaku ini tulus Fatimah, aku menjanjikan. Semakin lama kami berdua akhirnya hanyut dalam perasaan bersama. Bunga-bunga sekitar akan mekar mewangi mendukung suasana romantis sore itu.

"Aku ternyata bisa juga," gumamku bangga.
Hari itu, Sabtu. Kebiasaanku berkumpul untuk berdoa malam wajib dilakukan di rumahnya Fatimah. Taman bunga di sekolah menjadi suatu lahan indah. Kembang-kembangnya menawan. Setiap mata pasti haus tuk memandang bahkan mematikannya.

Pembicaraan tiba-tiba terputus. Aku jadi pucat pasi. Fatimah kaget. Demikian pun Mellysa. Kedatangan Mellysa membuat keadaan yang tak diinginkan. Mellysa seakan tidak percaya. Mellysa masih terus menunggu keberanian seorang diriku.

Aku sejenak teringat, rupanya malam itu Mellysa tak mampu mengungkapkan isi hatinya. Malu. Begitulah wanita. Dan aku kelihatan tidak punya usaha menyambung tali persahabatan itu.
Batal. Ia kembali. Dengan langkah terpaksa, kembang ditanam
tak sempat dijamahnya. Begitupun diriku. Bunga cinta dalam hati Fatimah tak berhasil kuraih. Kegagalan bercinta untuk kedua kalinya.

Aku kecewa. Tumpukan asa di dadaku menjadi luruh dan sirna. Aku sadar kini, kuawali goresan kekesalan dalam diary baruku. Cinta tak pernah salah. Manusialah yang seringkali menodai kesucian cinta itu. Beginilah penderitaan yang kuciptakan sendiri. Wanita yang disakiti karena ulahku. Aku telah berdosa. Tuhan ampunilah aku. Mellysa dan Fatimah kiranya memaafkan kesalahanku.

Alam episode-episode selanjutnya perasaan ketertarikanku terasa biasa-biasa saja. Hanya ada rasa bersalah yang terus menghantui diriku. Aku seakan hidup tanpa semangat dan kekuatan. Kosong. Itulah karma dari ketamakan untuk memiliki wanita lebih dari satu. Seperti kebanyakan lelaki abad ini, berlomba memiliki wanita idaman lain (WIL). Mungkin benar penyair Libanon berkata, "Siapa yang indah mampu melihat kehadiran malaikat dan iblis dalam keindahan dan kesialan hidup akan terhempas jauh dari pengetahuan dan rohnya, niscaya kosong tanpa kekuatan."

Akhirnya aku memandang keindahan lebih dalam, yang sesungguhnya. Dan kukira aku takkan salah menatap keindahan yang sempurna. Aku ingin mengalami kecantikan dan keindahan sempurna dalam diri dia yang adalah pemilik cinta. (*)



Pos Kupang Minggu 8 Maret 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda