Wanita Cantik di Tanah Gersang


















POS KUPANG/ALFRED DAMA

1. PARA CANTIK--Dari kiri, Ignatia Sabrina, Paramitha Mentari Kesuma dan Hedhy Kurnianti saat hadir dalam kampanye ppenyelamatan lingkungan di dusun Oepunu, Desa Oelnasi-Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang
2.Hedhy Kurnianti saat menanam cendana

PANAS mentari sungguh terik di Kampung Oepunu, Desa Oelnasi, Kecamatan Kupang Tengah-Kabupaten Kupang, Sabtu (14/3/2009) siang. Pemandangan hijau musim hujan sedikit memberi nuansa segar. Beberapa titik gambaran tandus di kampung yang tidak jauh dari bendungan Tilong tersebut masih bisa dilihat.

Siang itu suasana berbeda dari biasanya. Ada empat wanita cantik hadir di tempat itu. Mereka adalah artis sinetron dan bintang film, Tamara Bleszynski, dan tiga Miss Earth, yakni Miss Indonesia Earth 2008, Hedhy Kurnianti, Miss Indonesia Earth-Fire 2007,Ignatia Sabrina dan Miss Indonesia Earth-Water 2008, Paramitha Mentari Kesuma.

Mereka datang ke tempat itu bersama anggota DPR RI, Setya Novanto, dan diterima oleh Bupati Kupang, Drs.Ibrahim Agustinus Meda, serta para tokoh adat di desa itu

Para wanita cantik tersebut selain menemui warga, juga melakukan kampanye penyelamatan lingkungan. Empat wanita cantik itu juga melakukan penanaman anakan pohon cendana pada lahan kering seluas seperempat lapangan sepak bola yang sudah disiapkan. Kehadiran empat wanita cantik di lahan kering tersebut sedikit mengubah suasana yang gersang menjadi sejuk.

Aksi menanam dimulai dari Tamara. Dengan terus mengumbar senyum, jari-jari mulus Tamara mengambil sebatang anak cendana setinggi setengah meter yang masih berada dalam polibek. Perlahan ia meletakkan tanaman itu dalam lubang yang sudah disiapkan dan menutupinya dengan tanah yang dibantu salah seorang petugas. Tidak lupa, ia melempar senyum pada kameramen televisi dan jurnalis foto yang berebutan mengabadikan aksi menanam pohon tersebut.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Miss Indonesia Earth 2008, Hedhy Kurnianti, Miss Indonesia Earth-Fire 2007,Ignatia Sabrina dan Miss Indonesia Earth-Water 2008, Paramitha Mentari Kesuma. Tiga gadis cantik ini juga mendapat kesempatan menanam pohon kebanggaan masyarakat NTT ini. Dan, seperti biasanya senyum manis dari tiga wanita cantik itu terus ditunjukan kepada warga yang menyaksikan penanama itu.

Aksi menanam pohon ini merupakan bagian kampanye menanam kembali pohon cendana yang digalakan oleh Pemerintah Kabupaten Kupang. Selain melakukan penanaman, tiga wanita canti ini juga mengkampanyekan tentang penyelamatan lingkungan kepada warga sekitar.

Pesan yang disampaikan tiga wanita cantik ini sederhana untuk menyelamatkan lingkungan. Meski sederhana, dibutuhkan keseriusan dan komitmen setiap warga untuk mencintai lingkungan. (alf)


Satu Pohon untuk Nafas Empat Orang

MISS Indonesia Earth 2008, Hedhy Kurnianti saat menyapa warga Oepunu, mengatakan, menanam pohon merupakan cara yang paling sederhana untuk menyelamatkan lingkungan dan bumi. Ia pun terkesan upaya warga kampung itu untuk mau menanam kembali pohon untuk melestarikan lingkungan.

Menurutnya, gerakan menanam jati dan cendana merupakan awal yang baik untuk menciptakan lingkungan yang hijau . "Menanam merupakan langkah yang positif yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan bumi. Dan, menanam banyak memberikan manfaat," ujarnya.

Menurut dia, menanam pohon berarti juga sudah memberi kehidupan pada orang lain. Sebab, menurut berbagai penelitian, setiap pohon bila dewasa bisa memberikan kehidupan atau satu pohon bisa memberi nafas untuk empat orang dan menanam pohon sangat memberi dampak pada bumi.

Hedhy mengatakan, masyarakat Kabupaten Kupang khususnya di Desa Oelnasi bisa memulai gerakan menanam yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Kupang dengan menanam pohon di kebun atau di sekitar rumah. Bisa semua warga menanam pohon, maka jumlah pohon akan banyak. Bila pohon banyak, maka semakin baik pula lingkungan di desa tersebut.

Deforestasi
Hal yang sama juga disampaikan Miss Indonesia Earth-Water 2008, Paramitha Mentari Kesuma. Ia sangat prihatin dengan informasi yang diketahuinya tentang NTT saat ini sedang mengalami deforestasi yang cukup para. Di Pulau Sumba saja, luas tutupan hutan hanya enam persen dari luas daratan salah satu pulau besar di NTT ini mencapai 10.710 km persegi.

Saat berbincang-bincang dengan wartawan Pos Kupang di ruang redaksi, Paramitha mengatakan, berbagai upaya harus dilakukan untuk mengurangi atau mencegah proses deforestasi di NTT ini. Berbagai cara yang bisa dilakukan antara lain melakukan aksi menanam pohon oleh semua pihak.

Hutan sangat berguna untuk kehidupan, selain sebagai penghasil oksigen, hutan juga sangat membantu dalam ketersediaan air. Apalagi di NTT selalu kesulitas air dalam hampir disetiap musim. "Di sini air masih sulit, jadi menjaga hutan juga membantu dalam ketersediaan air," ujarnya.

Selain itu, aksi pembalakan liar dan pembukaan lahan dengan cara membakar hutan bukan merupakan cara yang baik dalam pengelolaan lahan. Cara-cara demikian merusak lingkungan dan akan berdampak pada ketersediaan air.

Penyampaian Paramitha benar, sebab hutan yang baik akan memberikan banyak manfaat seperti penyediaan oksigen, pencegahan banjir dan tentunya sebagai tempat penyimpanan air. Bila hutan menjadi gundul maka sungai-sungai pun akan mengering, apalagi NTT saat ini sedang dalam proses menjadi gurun. (alf)

Buang Sampah Pada Tempatnya.

MISS Indonesia Earth-Fire 2007, Ignatia Sabrina juga prihatin dengan pengelolaan sampah di Kota Kupang. Gadis cantik berdarah Amfoang-Kabupaten Kupang, ini mengatakan, ia bersama dua rekannya itu sudah mengunjungi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Alak-Kota Kupang.

Menurut Sabrina, proses pengolahan sampah di Kota Kupang belum baik. Ini dilihat dari penumpukan sampah organik dan anorganik yang masih campur baur. Padahal mestinya, sampah organik dan anorganik sudah dipisahkan sejak dari tempat sampah di rumah tangga.

Mahasiswa program magister pada London School-Jakarta ini juga melihat belum adanya pengolahan sampah anorganik, padahal sampah-sampah tersebut bisa digunakan lagi untuk kebutuhan lainnya. "Sampah anorganik di sini belum dimanfaatkan, padahal bisa di-recycle untuk sampah anorganik," jelasnya.

Menurut dia, hidup tanpa sampah nampaknya mustahil, namun pengelolaan sampah bisa diatur agar sampah-sampah tidak menjadi masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Perilaku membuat sampah pada tempatnya merupakan hal kecil yang mestinya sudah dibiasakan sejak masa kanak-kanak. Dikatakannya, membuang sampah pada tempatnya merupakan bentuk lain dari menyelamatkan lingkungan. (alf)

Pos Kupang Minggu 22 Maret 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda