Anti Mati Gaya

Parodi Situasi Maria Matildis Banda

BAGAIKAN iklan di tivi, Jaki yang lesu darah akibat kalah bersaing dalam pemilu, bangkit lagi. Anti mati gaya! Percaya diri tinggi dan full smile. "Buat apa susah," demikian pikir Jaki. Bayangkan! Jaki, kakaknya Jaki, adiknya Jaki, sepupu Jaki, iparnya Jaki, mertua Jaki, famili dekat dan famili jauh, tetangga, teman seperkumpulan, kawan seperjuangan, adu tanding melalui berbagai partai, dalam satu wilayah yang sama. Sayang sekali tidak ada yang dapat kursi. Tersungkur tanpa tedeng aling-aling. Gagal tolal. Selanjutnya Jaki pun coba melihat ke dalam sambil bertanya, apa sesungguhnya yang terjadi?

***
"Saya tim sukses yang gagal! Sayang sekali, gara-gara saya, kamu kalah !" Begitulah Rara menyesal tidak sanggup mengantar Jaki memperoleh kursi di DPRD.
"Maaf ya, teman! Apakah saya tidak salah dengar? Kamu tidak salah! Kami yang salah. Bayangkan satu keluarga, satu tubuh, tetapi semua mau maju bersaing. Suara pendukung akhirnya terpencar tidak karuan," Rara menenangkan Jaki. Wah, Rara sungguh tampil beda. Rara yang biasanya temperamen tinggi, sungguh berusaha tampil bijaksana. Orang seperti inilah -yang mau menerima kenyataan dengan lapang dada- adalah orang yang sungguh-sungguh diharapkan

"Yang berpeluang paling besar hanya kamu, Rara! Kamu yang paling pas! Harusnya kamu dapat. Ini semua karena aku tidak bekerja optimal. Mestinya aku yakinkan segenap anggota keluarga sabahat kenalan sanak famili untuk pilih kamu..." Rara kecewa berat.
"Lapang dada, teman! Mungkin ini saat yang tepat untuk analisis kesalahan, cari jalan keluar, dan terutama atur rencana strategis untuk lima tahun ke depan," Jaki si caleg yang gagal ini sungguh-sungguh lapang.
***
Ternyata Nona Mia juga sanggup menerima kekalahannya dengan penuh senyum. Meskipun sempat mati gaya beberapa saat setelah tahu suara untuknya sangat rendah, tetapi Nona Mia cepat menguasai diri.

"Apa saja yang terjadi Benza? Mengapa saya kalah?" Tanya Nona Mia.
"Kamu tidak kalah, sayang... Sudah banyak hal yang saya lakukan untukmu, sebab kamu perempuan berkualitas. Saya yakinkan semua orang bahwa mereka tidak akan kecewa memilihmu. Sayangnya... orang-orang kita ternyata bisa dibelokkan untuk membelot pada saat-saat terakhir... Orang-orang kita begitu mudah dibayar untuk bermuka dua..."
"Bukankah, sudah kuyakinkan berkali-kali agar memilih dengan hati nurani?" Nona Mia berusaha melonggarkan kesesakan di hatinya.

"Apa itu hati nurani?" Benza tertawa mentah. "Sebenarnya kriteria caleg yang kredibel dari segala aspek menjadi alat ukur untuk meyakinkan hati nurani menentukan pilihan. Ha ha sayangnya hati nurani sekarang identik dengan sembako dan uang sekian puluh ribu persuara. Orang kita murah sekali harganya ya? Gampang terkena serangan fajar..."
"Ada politik uang maksudmu?" Nona Mia terbelalak.

"Ya, ialah. Apa kamu tidak tahu? Demo terjadi di mana-mana soal beli suara. Teman kita dari Pulau Nusa Penida Bali, bahkan datang ke KPU Klungkung dengan beberapa truk lengkap dengan barang bukti beli suara. Tetapi KPU tolak mentah-mentah dengan jawaban jitu. Sudah terlambat, protes hanya boleh diajukan dalam tiga hari setelah pemilu! Urusan selesai..."
***
Tiba-tiba terjadi keributan besar. Keluarga Jaki saling tuding mempersalahkan satu sama lain. Kakak Jaki mencak-mencak sambil berteriak keras, "Coba kalau semua pilih saya!" Adik Jaki, sepupu Jaki, ipar Jaki, mertua Jaki, dan semua caleg dari keluarga dan lingkungan sosial seputar Jaki mulai saling berteriak merasa lebih unggul dari yang lain, merasa lebih pantas dari yang lain. Benza dan Nona Mia geleng-geleng kepala menyaksikan perkelahian dalam keluarga Jaki. Apa boleh buat sejak awal pencalonan, memang keluarga Jaki diam-diam sudah membangun permusuhan terselubung. Saling menjatuhkan satu sama lain.

"Anti mati gaya," Jaki menari-nari berlari kian kemari persis iklan di tivi. Entah sadar atau tidak sadar, entah stres atau tidak, Jaki sebenarnya tidak siap kalah. Multi partai dan suara terbanyak ternyata menyakitkan bagi Jaki. Lebih dari setengah juta orang maju untuk rebut 30 kursi dan seratus dari setengah juta itu adalah keluarganya, orang-orangnya. Sayang, semuanya gagal total.

"Tetapi buat apa susah?" Jaki berusaha menenangkan keluarganya.
"Ya, buat apa susah," sambung Nona Mia sambil ikut menari. Rara dan Benza pun ikut menari. Semuanya gembira.

"Tunggu lima tahun lagi, Nona Mia! Lima tahun itu waktu yang sangat lama kalau kita tidak melakukan apa-apa. Tetapi akan menjadi waktu yang cukup singkat jika kita dapat melakukan banyak hal untuk mendapat satu kursi..." kata Benza menghibur hati Nona Mia dan Rara. (*)



Pos Kupang Minggu 26 April 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda