POS KUPANG/ALFRED DAMA
KELILING INDONESIA--
Pengeliling Indonesia, Bambang
Pramudjianto, bersama sepedanya
di depan Kantor SKH Pos Kupang,
Rabu (22/4/2009).


HUTAN yang semakin berkurang, penggunaan bahan bakar secara tidak terkendali memberi sumbangan yang sangat besar bagi pemanasan global. Kondisi ini tidak sebanding dengan upaya konservasi dan rehabilitasi yang dilakukan setiap tahun oleh pemerintah maupun elemen masyarakat lainnya.

Penggunaan bahan bakar yang tidak terkendali juga membuat persediaan dan cadangan bahan bakar fosil ini semakin berkurang, bahkan menjelang habis. Bisa dibayangkan, bagaimana bila bahan bakar ini habis.

Memilih sarana transportasi sepeda adalah pilihan yang pas untuk menyelamatkan lingkungan. Begitulah halnya yang dilakukan Bambang Pramudjianto, seorang pengusaha tas asal Jakarta. Pria kelahiran Malang 18 September 1957 ini nekat melakukan perjalanan keliling Indonesia dengan menggunakan sepeda.

Ayah empat anak ini meninggalkan Jakarta 6 Desember 2008 dan dilepas secara resmi oleh Sekretaris Kota Jakarta Pusat, Natsir Sabarra. Dengan mengantongi kartu anggota Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI), Bambang meninggalkan ibu kota negara kemudian menuju Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur menyeberang ke Bali, NTB dan masuk ke NTT melalui Labuan Bajo pada tanggal 3 Maret lalu dan tiba di Kupang pertengahan April lalu. Bambang telah meninggalkan NTT menuju Sulawesi Selatan untuk menyusuri jalan-jalan di tanah selebes tersebut.

Saat mampir di Kantor Redaksi Pos Kupang, Selasa (22/4/2009) lalu, Bambang mengatakan, ia memang berniat mendatangi 30 propinsi di Indonesia sebagai upaya merampungkan rencana keliling Indonesia. Sejauh ini ia telah menjejak delapan propinsi, termasuk NTT.

Tujuan yang ingin dijalankan Bambang adalah, pertama, memasyarakatkan sepeda sebagai sarana transportasi yang murah dan sehat. "Kita bisa berkeringat karena bersepeda dan saat kita keringat, semua racun dalam tubuh keluar bersama keringat," jelas Bambang.

Tujuan kedua, mengajak semua pegawai, karyawan instansi pemerintah dan swasta menggunakan sepeda saat ke kantor, minimal sekali dalam seminggu. Menurutnya, dengan bersepeda juga berarti sudah menyelamatkan lingkungan sebab dengan bersepeda berarti tidak ada pembakaran dan pemusnahan bahan bakar.

Pembakaran terhadap bahan bakar biasanya menghasilkan karbon atau sisa pembakaran yang mencemarkan udara. Artinya, setiap pembakaran bukan saja menghabiskan bahan cadangan bakar tetapi ikut menyumbang terhadap pemanasan global.
Menurutnya, bila 50 juta orang di Indonesia hanya menggunakan sepeda saat ke kantor, maka begitu besar karbon yang tidak dihasilkan dalam sehari atau laju pemanasan global hari itu bisa dikendalikan. Juga bila 50 juta orang dalam sehari secara bersama tidak menggunakan kendaraan bermotor berbahan bakar bensin, maka ada 50 juta liter bensin yang dihemat, denghan asumsi satu kendaraan menghabiskan satu liter bensin.

"Anda bisa bayangkan, begitu besar penghematan yang sudah dilakukan," katanya.
Bambang juga mengatakan, dengan berkeliling Indonesia menggunakan sepeda ia bisa lebih mengenal alam dan budaya Indonesia.

Selama melintasi daratan Flores, kata Bambang, ia menemukan hutan-hutan di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur dan Kabupaten Ngada, khususnya di sekitar Kota Ruteng dan Bajawa masih terawat dengan baik. Masyarakat setempat masih menjaga agar hutan-hutan tersebut tidak rusak. Namun di beberapa titik sudah tampak bukit-bukit yang sudah mulai gundul. Ini menunjukkan kawasan hutan yang mulai rusak.

Terkait dengan perjalanan itu, Bambang berencana akan mendata beberapa lokasi yang rusak tersebut. "Saya mendata dan rencananya tahun depan saya datang lagi. Tapi datang dengan membawa bibit tanaman untuk ditanam di lokasi itu.

Bibitnya saya akan minta dari Departemen Kehutanan dan lembaga swadaya masyarakat Wahana Lingkungan (Walhi) DKI Jakarta untuk meminta tanaman itu. Nanti, saya akan ajak masyarakat untuk secara bersama menanam sekaligus menerangkan tentang pentingnya hutan bagi kelestarian kita," jelasnya.

Melestarikan lingkungan, menurut Bambang, harus dilakukan agar generasi sekarang tidak mewariskan kerusakan lingkungan untuk generasi mendatang. "Marilah mewariskan langit biru untuk generasi mendatang, jangan kita mewariskan langit yang abu-abu. Pastaskah bumi dan segala kerusakannya kita tinggalkan untuk generasi mendatang?" tanya Bambang.(alf@poskupang.co.id)


Hari Bumi, Saatnya Ciptakan Generasi Hijau

TAHUN 2009 menjadi tahun yang penting bagi bangsa Indonesia yang rentan terhadap perubahan iklim. Sepanjang tahun ini, akan diadakan serangkaian perundingan internasional untuk menetapkan kesepakatan baru mengenai penanggulangan perubahan iklim.

Perundingan diawali dengan negosiasi yang berlangsung di Bonn, Jerman, pada 29 Maret hingga 8 April lalu dan diakhiri pada bulan Desember nanti di Kopenhagen, Denmark. Selagi proses perundingan (climate change talks) berlangsung secara bertahap, Hari Bumi 2009 yang jatuh pada 22 April akan dijadikan momentum lahirnya Green Generation Campaign (Kampanye Generasi Hijau).


Hari Bumi kali ini diharapkan dapat menjadi satu hari aksi dan partisipasi setiap warga negara untuk memperjuangkan prinsip Green Generation. Prinsip Green Generation memperjuangkan, antara lain bebas emisi gas rumah kaca (GRK) pada masa mendatang dengan menggunakan energi ramah lingkungan yang menggantikan bahan bakar fosil (seperti BBM dan batu bara), komitmen setiap individu untuk menggunakan energi secara berkelanjutan dan bertanggung jawab, menciptakan ekonomi hijau (green economy) yang dapat mengangkat masyarakat dari kemiskinan dengan memberikan peluang green jobs (pekerjaan hijau), dan mengubah sistem pendidikan global menjadi sistem pendidikan hijau (green education).

Pada peringatan Hari Bumi tahun ini, Pelangi Indonesia menyatakan bahwa Generasi Hijau hanya dapat terwujud jika seluruh pihak, baik perseorangan maupun kelompok, melakukan tindakan-tindakan yang ramah lingkungan dan ramah iklim. Hal ini perlu dilakukan pula oleh para pembuat kebijakan, baik di tingkat nasional maupun internasional, yang harus membuat keputusan mengenai kesepakatan dan kerja sama untuk mengatasi perubahan iklim.

Pelangi Indonesia sebagai lembaga nirlaba yang peduli kepada pelestarian lingkungan menekankan pentingnya seluruh pemangku kepentingan di Indonesia, terutama pembuat kebijakan, untuk terlibat dalam pengurangan laju dan dampak perubahan iklim. Oleh sebab itu, penting bagi masyarakat untuk mendorong pemerintah agar berperan serta aktif di dalam proses-proses internasional dan membuat serta mengimplementasikan kebijakan tentang kegiatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. (Kompas.com)


Hutan Indonesia Sedekah buat Negara Maju


MENTERI Kehutanan (Menhut), MS Kaban, mengemukakan, Indonesia bersedekah besar menyerap emisi dari negara-negara industri dengan hutan tropis yang menyerap karbon. "Negara industri melepas CO2 yang diserap hutan di Indonesia dan negara berkembang lain, namun insentifnya belum ada, sehingga kita bersedekah besar pada mereka," katanya di Jakarta, Rabu (23/4/2009).

Berbicara sebagai pembicara kunci seminar sehari bertema "Menggalang Inisiatif Perdagangan Karbon Sukarela" yang diadakan Lembaga Ekolabel Indonesia (LEI) dan Koperasi Perumahan Wanabakti Nusantara (KPWN) Dephut, ia mengupas masalah belum seimbangnya kompensasi itu.

Menurutnya, negara industri yang banyak melepas emisi CO2 seringkali hanya menyoal deforestasi, tetapi atas usaha negara berkembang yang menjaga kelestarian hutannya belum dihargai dengan semestinya. "Mestinya aktivis lingkungan kita bisa membantu menyuarakan belum seimbangnya kompensasi karbon itu," katanya.

Karena itu, kata dia, semua pemangku kepentingan lingkungan, termasuk kehutanan dan aktivis lingkungan di Indonesia perlu mendesak negara industri bagaimana insentif dari penyerapan karbon itu.


Merujuk pada studi badan PBB, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), tahun 2006, MS Kaban mengemukakan, hutan beserta tanah di bawahnya di seluruh dunia menyimpan karbon lebih dari 1 triliun ton, yang berarti dua kali lipat jumlah karbon di atmosfer. Sedangkan kerusakan hutan, kata dia, menambah hampir 6 miliar ton CO2 ke atmosfer per tahun.

Hutan Kemasyarakatan
Di tempat lain, MS Kaban menegaskan, pengembangan hutan kemasyarakatan (Hkm) untuk pemberdayaan masyarakat sekitar hutan tak bisa berjalan sendiri-sendiri. "Program Hkm, baik di hutan lindung, maupun di hutan produksi, harus sinergi antarpihak yang terlibat dan benar melibatkan masyarakat," ujarnya saat penanaman pohon di Taman Hutan Hambalang, Bogor belum lama ini.

Menurutnya, hal pertama yang harus dijalankan adalah fungsi hutan sehingga dapat sekaligus membantu masyarakat mendapat manfaat dari program Hkm itu. Kaban juga menerangkan, ada keluhan di beberapa wilayah kalau program Hkm itu justru mengabaikan fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan masyarakat itu sendiri.

"Ada keluhan dari masyarakat Hkm di hutan lindung itu dihapuskan saja karena hutan lindungnya rusak. Saya minta Ditjen RLPS (Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial) dan Penyuluhan jangan sendiri-sendiri, harus fokus libatkan masyarakat," jelas Kaban.

Ia menambahkan, sampai saat ini belum ada perubahan perilaku masyarakat dalam program Hkm. "Saya lihat memang masyarakat masih lebih memilih lakukan budidaya non-kehutanan yang tak bisa menjaga kesinambungan fungsi hutan. Semua harus fokus sehingga ada perubahan masyarakat," katanya.

Menanggapi hal tersebut, Dirjen RLPS Indriastuti, dalam kesempatan yang sama menerangkan, hal yang disebutkan Kaban tidak terjadi di semua Hkm. "Yang tadi di-warning Pak Menteri enggak semuanya, memang saya belum pantau itu," kata Indriani. Menurut Indriani, Hkm seluas 800 ha, yang secara nasional dicanangkan oleh Wapres tahun 2007, memang harus dilakukan evaluasi tiap tahunnya. "Untuk sekarang, saya belum tahu progresnya, besok saya akan minta data-datanya," ucapnya. (ant)


Pos Kupang Minggu, 26 April 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda