Bandar Kampanye

Parodi Situasi Oleh Maria Mathildis Banda

"Waduh, mereka punya uang ada berapa karung? Datang kampanye pakai pesawat pribadi!" Rara menganga tidak percaya apa yang dilihatnya. Pesawat pribadi landing di lapangan terbang kota kesayangannya. "Kaya raya betul punya! Ongkos kampanye bisa miliar-miliar. Duh, senangnya! Seandainya aku jadi orang kaya..." Rara mengkhayal tinggi.


"Mimpi jadi orang kaya? Ha ha ha... Lunasi dulu itu motor kredit! Baru pikir jadi orang kaya! Ayo, jalan. Nanti lapangan penuh sesak, kita tidak dapat tempat!"
"Kamu ada uang Nona Mia? Pinjam dulu boleh ya! Soalnya sudah dua bulan belum bayar cicil. Saya mau cari uang pakai apa, kalau sampai dealer tarik?" Rara menghidupkan motor. "Pinjam dulu ya Nona Mia. Kamu temanku yang baik sekali. Sungguh Nona Mia!"

"Ya ya ya ya," jawab Nona Mia. Dia tahu persis dua bulan belakangan ini Rara hanya sibuk urus partai sana sini, urus kampanye sana sini. Ikut semua partai dan ikut semua kampanye, hanya untuk nasi bungkus gratis dan kaus gratis dan ikut ramai.

***
Kalau ada pemilihan Raja dan Ratu Ikut Rame Kampanye, pasti kedua teman kita ini keluar sebagai juara satu. Lihat saja! Sampai hari ini keduanya sudah kumpulkan ratusan kaus oblong bermerek parpol, belum ditambah dengan oblong bermerek nama caleg. Sudah sekian puluh kali makan nasi bungkus gratis, minum aqua bebas bayar, dan yang penting nih, ikut rame-rame naik truk dari kampung menuju lapangan kampanye di pusat kampung. Nah, siapa berani lawan kedua teman kita ini? Makanya waktu Jaki ajak keduanya ikut kampanye, Nona Mia dan Rara langsung pasang perjanjian.
"Ada kaus? Ada nasi bungkus?" Tanya Nona Mia.
"Ada uang rokok? Ada kaus?" Tanya Jaki.

"Beres! Kamu dapat semua!" Janji Jaki berapi-api. "Tetapi jangan lupa, tanggal sembilan April contreng nama saya! Kalau saya menang, semua kamu punya harapan pasti terwujud segera. Ini bukan janji, bukan bukti, bukan promosi, tetapi ini harga mati!" Demikianlah, Jaki, Rara, dan Nona Mia saling menempelkan tangan, tanda perjanjian.
"Saya hanya minta satu saja! Dapat motor kredit dengan bunga rendah!"

"Itu keciiiil! Makanya pilih saya, jangan pilih caleg yang lain! Jangan pilih partai dan calegnya yang hanya janji melulu. Pilih saya yang pasti bisa wujudkan janji," Jaki membusungkan dada. Gaya Jaki persis manusia luar angkasa yang jatuh dari langit dan tidak tahu apa-apa soal sejarah. Tidak sadar diri, bahwa dirinya sendiri pun sedang buat janji palsu dengan Rara dan Nona Mia.
"Setelah kampanye di lapangan, kita keliling kota untuk unjuk kekuatan. Kamu naik apa?" Tanya Jaki.

"Gampanglah! Naik truk, bus, bemo, atau bonceng motor teman juga oke-oke saja! Yang penting supir dan penumpangnya bertanggung jawab, tahu tujuan, bensin cukup, mesin yahud, dan terutama sampai tepat pada waktunya!" Jawab Nona Mia dengan enteng.
"Kalau saya naik motorku sendiri! Motor kredit he he he," Sambung Rara. "Santai sajalah. Mau berangkat jam berapa, singgah dimana, suka-suka saya! Tetapi masalahnya, saya perlu teman perjalananan. Saya butuh Nona Mia bonceng di belakang saya. Bagaimana Nona Mia?"

"Oke deh! Bersama kita pasti bisa," jawab Nona Mia sambil meloncat dan mengikuti Rara. "Tetapi oblongmu belum diganti! Hari ini kampanye partainya Jaki, kamu jangan keliru pakai oblong partai lain. Wah, bisa gawat nih! Jaki bisa marah besar," kata Nona Mia dan Rara pun buru-buru ganti oblong.

***
"Halo Nona Mia, halo Rara!" Benza datang. "Ingat ya, besok kampanye saya punya partai! Ini kaus! Ini uang rokok! Ini uang nasi bungkus! Ini uang aqua. Ini sewa truk. Pokoknya kamu atur sedemikian rupa ya. Kerahkan massa naik truk, bus, motor, sepeda, kendaraan sendiri, atau kendaraan apa saja. Yang penting kamu kenal supirnya dan tahu tujuannya! Saya tunggu kamu di lapangan besok tepat jam sembilan pagi!"

"Oke bos!" Rara, Nona Mia, dan Benza pun saling menempelkan tangan tanda setuju. "Besok lima truk dari kampung saya, lima truk dari kampung Nona Mia. Pokoknya kita hipnotis massa untuk pilih Benza sembilan April nanti!"
Sepeninggal Benza, Nona Mia dan Rara pun mulai hitung jumlah kaus oblong. Lengkap warna pelangi, mejikuhibiniu, merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, dan warna rumpu-rampe lainnya. Semua partai ada, semua warna ada!

"Nona Mia! Setelah contreng sembilan April, saya mau buka kios kaus oblong khusus berlambang parpol dan yang bertuliskan nama caleg. Modal awalnya sudah ada, oblong kampanye ini," Rara bermimpi.
"Hebat benar!" Nona Mia dan Rara pun menempelkan tangan tanda setuju. "Itulah satu-satunya mimpimu yang dapat menjadi kenyataan," puji Nona Mia. "Kalau sudah dapat uang dagang oblong, jangan lupa cicil motor!"

"Sayangnya partai hanya tiga puluh sekian jumlahnya ya. Kalau partai ada seratus, wah, saya pasti jadi bandar kampanye dan tentu saja bandar oblong!"


Pos Kupang Minggu 29 Maret 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda