Daniel Tapobali dan Ny. Maria Luci

Foto istimewa
Daniel Tapobali dan Maria Luci

Investasi untuk Masa Depan Anak

BANYAK anak, banyak rejeki. Demikian pepatah lama yang dipercaya oleh masyarakat pada masa lalu. Namun di masa kini, banyak anak berati makin berat tanggung jawab orangtua untuk mendidik dan membesarkan anak- anak sampai mandiri.

Pasangan Daniel Tapobali dan Ny. Maria Luci punya pengalaman bagaimana mendidik dan membesarkan delapan orang anak mereka. Meski punya delapan orang anak, keluarga ini menyatakan siap membekalinya anak-anak mereka dengan pendidikan yang memadai sebagai bekal masa depan. Ini merupakan bentuk tanggung jawab pasangan ini pada anak-anak mereka.


Ditemui belum lama ini, Dan Tapobali mengatakan, sejak dini ia menyiapkan masa depan anak-anak dengan memberikan tabungan untuk tiap anak.

Tiap anak, katanya, juga menjadi anggota Koperasi Kredit Swastisari dan mengambil jenis tabungan masa depan anak. Sebagai seorang yang aktif di koperasi dan sebagai pengurus, pasangan ini tidak ingin menyia- nyiakan kesempatan untuk berkoperasi.


"Anak-anak harus dibiasakan sejak kecil untuk menabung. Setiap anak kami beritahu bahwa mereka punya tabungan di koperasi sehingga, mereka bisa menyisikan uang jajan mereka untuk ditabung. Biasanya saya serahkan kepada mereka, berapapun jumlahnya akan saya masukan ke dalam buku tabungan masing- masing," kata Dan yang menyelesaikan S2-nya di Universitas Muhammadyah Malang tahun 2004 ini.

Alumni FKIP Undana Kupang tahun 1989 ini, mengatakan, kehidupan keluarga dibangun dari rasa saling mengasihi antara orang tua dan rasa mengasihi ini ditandai dengan kehadiran seorang anak.

Ia meyakini, anak menjadi berkat tersendiri bagi keluarga dan dalam kenyataan ada keluarga yang hanya memiliki satu atau dua anak, tetapi ada juga pasangan yang memiliki banyak anak. Jumlah anak dalam keluarga, lanjutnya, merupakan wujud kepercayaan yang diberikan Tuhan. Ia percaya, Tuhan memberikan berkat sesuai dengan jumlah anaknya.

Kedelapan anaknya, kata dia, harus dibekali dengan pola pendidikan yang baik, mulai dari pendidikan keluarga sampai pada pendidikan formal di sekolah. Biasanya pasangan ini memberikan kebebasan kepada anak untuk menentukan keputusan tetapi selalu ada patokan.

"Saya tidak pernah mengekang, tetapi selalu ada rambu- rambu atau patokan yang harus diikuti oleh anak," katanya.

Dengan delapan anak, pasangan ini harus memanamkan rasa kasih sayang agar tidak muncul perselisihan dan permusuhan di antara anak. Hal ini ditunjukkan pasangan ini dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

"Kalau ada selisih paham dengan istri, misalnya, itu tidak boleh anak-anak tahu. Dan, kami selesaikan tanpa dilihat anak-anak Kalau kami membuat pertengkaran di hadapan anak, sama saja menunjukkan pendidikan yang tidak baik pada anak," kata Dan yang mengawali kariernya sebagai guru di SDK St. Yosep 2 Naikoten tahun 1982 ini.

Pria yang pernah menjadi guru di SMPK dan SMAK Giovanni Kupang ini mengatakan, selalu mengingatkan anak-anak yang lebih besar agar memberi contoh yang baik pada adik-adiknya.

Selain itu, katanya, yang paling dijaga adalah menjalin rasa persaudaraan ketika ada persoalan. Ia membiasakan anak-anaknya untuk duduk bersama mendiskusikan dan menyelesaikan masalah. Ia juga mengajarkan anak-anaknya untuk berani meminta maaf kalau salah.


Sedangkan untuk waktu belajar di rumah, pasangan ini menentukan jadwal bagi anak-anaknya, ada jam belajar dan ada jam untuk menonton televisi. Menurutnya, anak- anak diberikan waktu untuk menonton, tetapi setelah menonton dibiasakan untuk melakukan sharing.

Biasanya, peran-peran di dalam sinetron atau film-film yang ditonton akan disharingkan, mana yang baik untuk diikuti dan mana yang tidak baik dan harus dihindari. Kalau memang waktunya untuk belajar, biasanya disepakati untuk mematikan televisi.

Ia bersyukur, sampai pada perayaan pernikahan perak anak-anaknya termasuk anak-anak yang penurut dan cerdas. (nia)

Pos Kupang Minggu 19 April 2009, halaman 12

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda