Drs. Yoseph Nahak,Apt.,M.Kes

POS KUPANG/ALFRED DAMA
Drs. Yoseph Nahak,Apt.,M.Kes saat di kantornya

Masyarakat

Punya Hak Tanya

Opoteker


PERTUMBUHAN usaha jasa pelayanan apotek di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Kota Kupang, dalam beberapa tahun terakhir cukup signifikan. Semakin banyak apotik, tentu semakin banyak pula pilihan masyarakat untuk mendapatkan obat-obatan baik dengan resep dokter maupun membeli obat bebas, meskipun obat yang tersedia di masing-masing apotek pada umumnya sama.

Semakin banyak apotek tentu memberi efek penjualan obat yang kompetitif meskipun resep dokter biasanya langsung mengarah pada apotek tertentu. Meski demikian, masyarakat juga memiliki hak-hak pelayanan kesehatan yang pas dari pelayan dan pengelola apotek. Pelayanan tersebut termasuk penjelasan tentang kegunaan obat dan efek penggunaan obat tersebut.

Menurut Drs. Yoseph Nahak,Apt.,M.Kes yang kini menjabat Ketua Pengurus Daerah Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia ( PD ISFI) NTT, para apoteker di tiap-tiap apotek sedianya memberikan waktu kepada masyarakat tentang penggunaan obat di apotek.
Dalam perbincangan dengan Pos Kupang belum lama, Kepala Seksi Pengujian Terapetik, Narkotika & Psikotropika, Kometika, Obat Tradisional dan Produk Komplemen Balai Pengawasn Obat dan Makanan (POM) Kupang ini juga mengisahkan pilihannya memilih menjadi seorang apoteker.
Menurutnya, saat ini sudah banyak putra-putri NTT yang berminat dan telah menjadi apoteker. Berikut hasil perbincangan dengan Pos Kupang.

Sebagai ketua organisasi profesi apoteker di NTT, bagaimana Anda melihat pelayanan kefarmasian di NTT saat ini?
Begini, untuk memberikan pelayanan kefarmasian yang berkualitas kepada masyarakat ada beberapa hal yang harus diperhatikan . Pertama ketersediaan tenaga profesi farmasi (farmasis atau apoteker) dengan jumlah yang memadai dan terdistribusi secara baik.

Saat ini jumlah apoteker di NTT sekitar 150 orang dengan distribusi sekitar 60 orang di ibukota propinsi sedangkan sisanya terdistribusi di kabupaten-kabupaten di NTT, tapi itupun di ibukota kabupaten. Selain jumlah, hal yang juga penting adalah kompetensi atau profesionalisme Apoteker itu sendiri dalam memberikan pelayanan farmasi sesuai standar profesinya.

Kedua, ketersediaan sarana dan prasarana untuk mendukung pelayanan farmasi yang berkualitas. Saat ini pelayanan farmasi yang diberikan oleh farmasis atau apoteker tersebar di sektor privat seperti apotek, RS Swasta , klinik dan sektor publik seperti RS pemerintah, puskesmas. Pada sektor privat beberapa rumah sakit dan klinik belum menyelenggarakan pelayanan farmasi dengan baik karena belum menyediakan istalasi farmasi atau apotek dengan segala kelengkapannya sesuai ketentuan yang berlaku

Pada sektor publik keterbatasan sarana dan prasarana pendukung menjadi persoalan manakala kita dituntut untuk memberikan pelayanan farmasi yang bermutu.

Kalau berbicara pada tingkat Puskesmas saat ini sebagian besar Puskesmas belum memiliki tenaga apoteker atau farmasi sehingga Organisasi Profesi mendorong pemerintah untuk mengeluarkan regulasi sehingga tenaga Apoteker mau bertugas di Puskesmas.

Bagaimana Anda melihat pelayanan kefarmasian di apotek saat ini?
Masyarakat luas mengetahui bahwa apotek sebenarnya merupakan tempat praktek profesi seorang apoteker sesuai amanat PP 25 tahun 1980. Saat ini memang sedang dalam tahap pembahasan Peraturan Pemerintah tentang Pekerjaan Kefarmasian sesuai amanat UU no 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, yang mengatur lebih komprehensif tentang praktek profesi farmasi sehingga masyarakat diharapkan mendapatkan pelayanan yang bermutu.

Pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care) di apotek tidak dapat dilepaskan atau merupakan lanjutan dari pelayanan medis (medical care) yang diberikan oleh seorang dokter atau dokter gigi. Jadinya sangat keliru sekali kalau masyarakat setelah mendapatkan pelayanan medis dengan mendapatkan resep menganggap proses pengobatan sudah selesai tinggal diberi obat oleh apotek. Keberhasilan suatu pengobatan ditentukan oleh pelayanan medis yang bermutu dan pelayanan farmasi yang bermutu. Bisa jadi kesembuhan tidak didapat karena pasien tidak mendapat pelayanan farmasi yang baik.

Pelayanan farmasi di apotek bukan hanya penyediaan dan peracikan obat tetapi ada hal penting yang masyarakat atau pasien perlu dapat yaitu pelayanan informasi tentang obat yang akan digunakan karena hal ini sangat menentukan keberhasilan pengobatan. Karena itu masyarakat atau pasien harus menyediakan waktu untuk mendapatkan pelayanan ini dan apotek harus memberikan pelayanan ini bagi pasien karena demikian amanat Peraturan Menteri Kesehatan tentang Standard Pelayanan Farmasi di Apotek

Menurut pengamatan Anda apakah saat ini masyarakat sudah mendapat pelayanan Famasi di Apotek sesuai standard pelayanan yang ada?
Harus jujur saya katakan bahwa kita harus berbenah karena tuntutan masyarakat akan pelayanan bermutu termasuk pelayanan farmasi yang bermutu di apotek sudah sangat mendesak. Apotek tidak lagi bisa menganggap bahwa masyarakat belum mengetahui hak-haknya untuk mendapat pelayanan bermutu sehingga memberi pelayanan seadanya dan masyarakat juga kita harap untuk cerdas menggunakan hak-haknya untuk mendapat pelayanan yang berkualitas dari apotek. Pelayanan berkualitas di Apotek itukan harus dilakukan oleh orang yang berkompeten dan memiliki kewenangan untuk memberikan pelayanan sehingga patut dipertanyakan oleh masyarakat atau masyarakat jangan mau kalau pelayanan farmasi di Apotek dilakukan bukan oleh tenaga farmasi. Saya rasa apotek yang mengabaikan pelayanan yang bermutu cepat atau lambat akan ditinggal oleh pelanggannya. Oleh karena itu saya selaku ketua ISFI NTT minta kepada Penanggung Jawab Apotek yang sebenarnya adalah anggota ISFI untuk memberikan pelayanan farmasi yang berkualitas sesuai standard profesi Apoteker

Apakah ada hak masyarakat saat datang ke apotek?
Karena itu masyarakat sudah kita drive untuk mengetahui hak- haknya. Kalau ke apotik tanyakan, kalau mau berkonsultasi dengan apotekernya, dan kita sebagai organisasi profesi mendorong agar setiap apotek itu menyediakan waktu untuk konsultasi obat pada masyarakat. Anda bisa lihat di beberapa apotik-optik yang 24 jam itu sudah menyiapkan waktu untuk konsultasi obat, saya kira masyarakat bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk berkonsultasi dengan apotekernya disitu dana tidak tidak ada biaya. Dan untuk apotek yang tidak memasang jam konsultasi, masyarakat juga punya hak untuk berkonsultasi dengan apoteker. Dia bisa menyampaikan masalah-masalah apa, masalah terkait dengan pemilihan obat.

Bagamana Anda melihat masih adanya pelayanan medis dan pelayanan farmasi yang belum dipisah atau dilakukan sekaligus oleh tenaga medis?
Regulasi soal ini sudah jelas yakni bahwa untuk daerah daerah tertentu yang belum tersedia pelayanan farmasi maka pelayanan farmasi bisa dilakukan sekaligus bersamaan dengan pelayanan medis. Karena itu tidak dibenarkan kalau di daerah itu sudah tersedia sarana untuk pelayanan farmasi atau dengan kata lain kalau sarana pelayana farmasi sudah tersedia kedua pelayanan ini harus dilakukan terpisah oleh profesi yang berbeda yakni pelayanan medis oleh profesi dokter atau dokter gigi dan pelayanan farmasi oleh farmasis atau apoteker. Saya kira masyarakat harus kita didik atau kita beri pencerahan untuk menuju kesana dan masyarakat diharapkan menghindari sifat pragmatis demi mendapatkan pelayanan yang profesional dari masing-masing tenaga profesi yang ada demi kesembuhan atau peningkatan kualitas hidup yang diharapkan

Anda mengatakan pelayanan farmasi yang bermutu harus dilakukan oleh tenaga yang berkompeten dan memiliki kompetensi. Bagaimana dengan tenaga farmasi di NTT saat ini?
Begini, para apoteker atau farmasis kita tidak boleh beranggapan bahwa setelah lulus dan disumpah sebagai apoteker, maka dia sudah kompeten untuk menjalankan praktek kefarmasian. Ilmu, teknologi, regulasi di bidang farmasi berkembang sangat pesat. Seorang farmasis atau apoteker dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan-perkembangan tersebut sehingga dapat memberikan pelayanan kefarmasian dengan metode/perkembangan terkini dan tidak melanggar peraturan peruandang undangan yang berlaku.
ISFI sebagai organisasi profesi apoteker saat ini mewajibkan para apoteker mengikuti ujian kompetensi setipa lima tahun. Jadi bagi yang tidak mengikuti perkembangan yang ada tentu tidak akan lulus dan tidak dapat menjalankan pekerjaan kefarmasian. Dan untuk mengantisipasi hal terjadi ISFI telah merancang pendidikan berkelanjutan bagi para Apoteker sehingga kompetensinya tetap terjaga dan pada gilirannya masyarakat akan mendapatkan pelayanan dari tenaga profesional yang kompeten.

Bagaimana tanggapan Anda soal polemik puyer yang salah satu station TV swasta?
Polemik puyer itukan awalnya dari adanya pelayanan yang tidak sesuai standard pelayanan yang ada. Saya kira bagi profesi kesehatan hal ini dapat menjadi pelajaran untuk memacu kita sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada masyarakat. Terlepas dari dari masih adanya polemik soal itu, saya ingin menyampaikan pada masyarakat bahwa sediaan puyer atau serbuk yang umumnya untuk bayi atau anak saat ini masih sangat dibutuhkan karena kombinasi sediaan sirup yang tersedia sangat terbatas. Tenaga medis atau dokter atau dokter gigi sesuai keahlian profesional yang dimilikinya akan mendiagnosa penyakit dan meresepkan kombinasi obat puyer untuk selanjutnya apoteker atau farmasis dengan keahlian profesional yang dimilikinya harus menyiapkan sediaan puyer yang memenuhi standard mutu, keamanan dan khasiat. Jadi kalau resep puyernya didapat dari dokter atau dokter gigi kemudian pembuatan puyernya dilakukan di apotek oleh tenaga farmasi, masyarakat tidak perlu kuatir atau takut.

Jadi menurut Anda penggunaan obat puyer tidak berbahaya?
Asal itu dilakukan dengan benar di tempat yang benar. Peresepan itu kan oleh dokter, kewenangan profesional oleh dokter dan masih tetap diperbolehkan oleh departemen kesehatan, yang peracikannya dilakukan di apotek oleh tenaga farmasi di opetek. Selama itu dilakukan dengan aturan mainnya obat-obatnya dihitung dengan benar, kemudian lumpang itu dengan stamper alif dibersihkan dengan baik, kemudian dilakukan oleh tenaga farmasi yang berkompeten, saya kira masyarakat tidak perlu khawatir.

Bagamana pandangan masalah ini di kalangan apoteker?
Kita apoteker sendiri satu pemahaman, selama itu dilakukan dengan kaidah farmasi dengan etika yang benar puyer tidak jadi masalah. Masyarakat mengkhawatirkan adanya polifarmasi. Artinya sekian banyak obat tumpuk jadi satu dan dijadikan puyer. Itu memang bisa terjadi tetapi kalau dokter itu melakukan peresepan secara rasional bisa diminamilisir. Di kalangan dokter itu juga melakukan gerakan melakukan pengobatan secara profesional , tapi hanya pilihan-piliha obat yang dibutuhkan saja yang ada di dalam puyer. Di dalam kalangan farmasi, masih satu kata puyer masih layak dipakai tapi tetapdenga kaidah-kaidah farmasi dengan etika yang benar.

Apoteker bisa memformulasikan obat, apakah seorang pasien sakit bisa langsung minta obat dari apoteker tanpa harus resep dokter? Apoteker juga tahukan tentang obat dan peruntukannya..
Jadi pengaturan oleh departemen kesehatan, itu ada namanya obat bebas, obat bebas terbatas dan obat keras dan ada narkotika dan psikotropika. Itu bebas, itu bisalah di kios, di toko juga ada yang lingkaran hijau, kalau obat bebas bebas terbatas Anda bisa dapat di toko obat, di apotek tanpa harus menggunakan resep dokter. Kemudian utuk obat keras yang ada lingkaran merah dengan huruf k di tengahnya, itu ada yang bisa langsung diberikan oleh apoteker di apotek. Itu ditentukan oleh menteri kesehatan dengan jenis dan jumlah yang dibatasi. Ada obat keras yang bisa diberikan apoteker di apotek, itu jenis ditentukan oleh menteri kesehatan dan jumlahnya juga ditentukan tidak boleh di luar jenis itu dan tidak boleh melebihi kententuan Menkes. Di luar itu harus menggunakan resep dokter. Obat keras yang saya katakan tadi bisa langsung diberikan di apotek dan apoteker yang diatur itu namanya obat wajib apotek. Karena itu masyarakat bisa ke apotek bisa bertemu degan apoteker dan konsultasi dengan apoteker dan apoteker itu tahu kalau memang untuk kasus-kasus yang bagaimana dia tentu konsultasi dengan dokter.

Ada anggapan bahwa masuk ke apotek harus sama ke fakultas kedokteran, apakah sulit masuk ke jurusan farmasi?
Sekarang anak NTT banyak, dari daratan Timor kurang tapi daratan Flores relatif banyak. Dan, itu sudah sampai pada tingkat apoteker. Dulu pendidikan tinggi farmasi hanya ada di perguruan tinggi-perguruan tinggi negeri yang besar. Zaman saya itu, yang punya fakultas itu tidak sampai 10. Sekarang perguruan tinggi swasta pun sudah banyak yang membuka pendidikan farmasi, sehingga terbuka peluang itu bagi putra- putra NTT yang masuk dan sudah terasa putra-putra NTT yang lulus dari Yogyakarta dari Solo, hanya distribusi tenaga apoteker ini masih terkonsentrasi di Kota Kupang. di Kabupaten itu hanya di Kota Kabupaten semenyara dio kecamatan hampir belum ada apoteker. Kita sangat mengharapkan agar ada regulasi yang mengatur, mendorong agar apoteker itu harus ada di kecamatan. Memang di puskesmas mungkin tidak ada lima yang punya apoteker.(alfred dama)


Ingin Jadi Sarjana Teknik Nuklir

MENJADI seorang apoteker bahkan bekerja di Balai Pengawas Obat dan Makanan (POM) bukan menjadi cita-cita pria beradarah Belu ini. Penyuka pelajaran-pelajaran eksakta ini bermimpi untuk menjadi seorang sarjana teknik nuklir.
"Sejarahnya dulu saya mau teknik nuklir. Waktu saya masuk di UGM dulu, pilihan saya itu teknik nuklir. Tapi barangkalai yang di atas berkehendak lain jadi pilihan kedua saya farmasi ini," jelas ayah empat anak ini.
Suami dari Maria Fatima ini membayangkan hal yang luar biasa bila menjadi seorang sarjana teknik nuklir dan bekerja pada lembaga pengembangan tenaga atom atau nuklir. "Bayangan saya bagaimana membuat satu energi nuklir luar biasa," jelasnya. Namun setelah cita-citanya itu tidak kesampaian, Yoseph pun mengakui kalau jalan hidupnya bukanlah menjadi seorang sarjana teknik nuklir.
Masuk ke dunia farmasi juga bukan kehendaknya. Pilihan menekuni pendidikan di dunia kesehatan khususnya farmasi setelah ia mendapat arahan dari sang kakak agar ia mau menjadi seorang apoteker.
Mengapa tidak memilih menjadi dokter? Menurut Yoseph, ia memilih masuk ke dunia farmasi karena profesi dokter asal daerah Atambua-Belu telah banyak namun belum memiliki tenaga farmasi.
"Di daerah saya Atambua waktu itu banyak dokter, tapi apoteker itu tidak ada. Karena itu kakak saya bilang kita ini banyak dokter tapi tidak ada apoteker, jadi ke Yogyakarta itu ambil saja apoteker. Waktu masuk pertama bayangan saya hampir tidak ada tentang farmasi, hanya karena permintaan dari kakak saja. Saya masih ingat dulu, pelajaran eksak itu yang nilai menonjollah. Orang NTT yang masuk Sipenmaru bisa dihitung dengan jari. Kebetulan saya punya kesempatan juga," jelasnya. (alf)

Data diri

Nama : Drs. Yoseph Nahak,Apt.,M.Kes
Tempat&Tgl lahir : Atambua, 9 November 1968
Jabatan karier : Kepala Seksi Pengujian Terapetik, Narkotik dan Psikotropika, Kosmetika, Obat Tradisional dan Produk Komplemen-Balai POM Kupang
Jabatan organisasi : Ketua Pengurus Daerah Ikatan Sarjana Farmasi : Indonesia ( PD ISFI NTT)
Pendidikan * SDK Kletek lulus tahun 1981
* SMPK St. Thomas Aquino, Betun lulus tahun 1984
* SMAK Surya Atambua lulus tahun 1987
* Fakultas Farmasi dan Pendidikan Profesi Apoteker di UGM Yogyakarta lulus tahun 1993
* Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga Surabata lulus tahun 2002
Istri : Maria Fatima Kain,S.Sos
Anak-anak Oktavira Maria Virginia Nahak ( 15 Thn, SMA Stece 1 Yogyakarta)
Alberto Diliano Novelito Nahak ( 11 Thn, SD Kelas VI)
Theresia Alicia Nahak ( 6 Thn, SD Kelas I)
Mario Paulo Nahak ( 10 Bulan)



Pos Kupang Minggu 19 April 2009, halaman 3

1 komentar:

saya sangat berterima kasih karena jurnalis NTT telah mem-poskan artikel ini sehingga masyarakat mengetahui haknya dalam hal konsultasi obat...
saya adalah seorang mhasiswa farmasi yg msih mnuntut ilmu d univ.sanata dharma jogja....
saya sangat prihatin dgn masalah masih banyak puskesmas,bahkan apotik2 yg tdk memiliki apoteker..pdahal apoteker sangat diperlukan untuk memberikan informasi obat yang diperlukan oleh masyarakat..selain memberikan informasi,seharusnya apoteker jga senantiasa hrus mngntrol pemakaian obat dr pasiennya dengan mengadakan kgiatan Home care thd pasien agar tingkat kpatuhan pasien dpt lbh meningkat dan terkontrol.
wahai para apoteker jgn lupa dengan sumpah/jnji apoteker yg tlah kalian ucapkan ketika upacara pengambilan sumpah apoteker di hadapan Tuhan... dalam mengerjakan pkerjaan kefarmasian qt harus berpegang teguh pda prinsip "PATIENT ORIENTED" bukannya "MONEY ORIENTED". apoteker hanya nampang nama d apotik tapi tdk prnah ada.
mgenai msalah PUYER,saya stuju dgn pndapat p yohanes..kami sekelas pernah mendiskusikan hal ini. hal ini mrupakan btu sandungan bgi para apoteker/farmasis di indonesia.dari hasil dskusi kami mnyimpulkan bahwa puyer sebenarnya tidaklah membahayakan,selama dlm peresepan dan peracikannya tepat. alat yg dipakai pun hrus sesuai dan bersih.
selain puyer,sebenarnya konsumsi tablet yg dipotong 1/2 jga kurang benar dlm pemakaiannya..sbab blom tentu dlm memotongnya pasien,mampu membaginya dlm 2 bgian yg sama besar(berbeda-beda)sehingga dosis yg msuk pun beragam.secara tdk langsung hal ini brarti apoteker/farmasis melempar tanggung jwab kpd pasien untuk menentukan dosis yg dikonsumsi...
makasih bwd perhatiannya..jika ad ksalahan,saya mnta maaf dan mohon pencerahannya:)
sebab saya masih dlm thap belajar,masih blom terjun lngsung k masyarakat...
hidup farmasis Indonesia....
sukses sll bwd farmasis NTT......

25 April 2009 09.31  

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda