Dua Kota

Cerpen Rob Antonio Fahik

YOGYAKARTA menjadi kota yang harum. Begitu anggun seperti sultan yang diarak menuju Istana Keraton pada hari pengukuhannya. Sebaliknya Kupang menjadi kota yang busuk. Begitu menjijikkan seperti penderita kusta yang terbius di pembaringannya menanti hari kematian tiba.

Atau seperti penderita busung lapar yang tak punya kesenangan apa pun selain pengharapan akan sedekah bantuan dari pemerintah lantaran dia terlahir dalam keluarga miskin, bahkan di bawah garis kemiskinan.

Mengapa Yogyakarta? Mengapa Kupang? Kau tahu (dan semoga pernah merenungkannya), ibu kota propinsi kebanggaanmu ini beberapa waktu lalu telah dinobatkan sebagai kota terkorup di tanah air dan bekas ibu kota negara tempat belajarmu itu menjadi kota terbersih. Sedih!! Pilu!! Tragis!! Tapi itulah kenyataan yang sudah menjadi pemberitaan di berbagai media, menguak kemunafikan tanah ini seperti daging busuk yang tak bisa menghindar dari penciuman.
Joanita terkasih....

Lihatlah! Keharuman nusa cendana perlahan direnggut tangan-tangan jahil putra-putri kebanggaannya sendiri. Kalau di zaman penjajahan, kekayaan alam kita diperas habis-habisnya oleh bangsa penjajah, kini anak-anak yang terlahir dari perut bumi tanah ini sendirilah yang melahapnya dengan penuh kerakusan, bahkan akhirnya martabat kita sebagai bangsa berbudaya pun ikut terenggut. Budaya apakah ini? Korupsi?
Tidak!! Hakekat budaya ialah menghormati dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Atau adakah di antara saudara-saudarimu yang lahir dari keturunan Barbar?

Hari itu, hari ketika pemberitaan media menjadi sajian panas dan membakar, aku menangis. Bayangkanlah, seorang ayah menangisi putrinya yang di seberang batas mata. Cukup mengharukan, bukan? Aku terlalu mengingatmu. Aku hanya membayangkan di mana kebanggaanmu sebagai putri Timor di negeri yang padat dengan insan intelektual dari berbagai penjuru mata angin itu. Aku terlalu mengingat derita yang harus kau tanggung akibat ulah beberapa sesepumu di sini. Aku terlalu mengingatmu hingga hampir tak bisa menyadari lagi bahwa air mata yang berlebihan dapat menghalangi pandangan. Kesedihan tak boleh melenyapkan harapan.
Joanita terkasih....

Aku sungguh tak tahu-menahu tentang sistem birokrasi kita yang sedemikian ketat atau longgarnya hingga para penjahat kantor dengan bebas berkeliaran tanpa beban bahwa rakyatlah yang lebih membutuhkan apa yang mereka curi. Jika sistem birokrasi kita sedemikian ketat, barangkali tak akan ada koruptor.

Sebaliknya jika longgar, tak heran akan muncul lebih banyak lagi barisan koruptor di tanah tercinta ini. Tapi ada baiknya jika sistem yang ketat tak memutlakkan ketatnya sistem itu hingga terjadi bahwa orang-orang yang terangkum dalam sistem itu sendirilah yang membuat kesepakatan untuk mengambil yang bukan menjadi haknya tanpa memberi ruang bagi masuknya cahaya pencerahan. Ketat tak berarti harus menutup diri, menutup pintu, jendela, lorong serapat-rapatnya. Karena tak jarang pula kejahatan terjadi dalam ketertutupan.

Ini gurauku semata. Sekali lagi, aku sungguh tak tahu-mehanu tentang sistem birokrasi, hukum perputaran roda pemerintahan atau segala macam unsur apa pun yang bertalian di dalamnya. Tapi ketika "Kupang Terkorup, Yogyakarta Terbersih" sampai di telingaku, aku masih sempat berbisik, "Mungkin ini saatnya membuka mata. Tak perlu malu-malu mengakui kekurangan dan tak perlu malu-malu pula belajar dari orang lain.

Karena memang demikianlah adanya, tak ada kesempurnaan di dunia yang fana ini. Namun berbahagialah mereka yang terus mau bermenung dan berbenah.."
Joanita terkasih....

Adakah nuranimu pun turut tergugah sepertiku? Juga seperti sebagian besar orang di tanah lahirmu ini. Aku yakin, mereka pun turut merasakan penghinaan dan penderitaan ini. Tapi aku pernah mengatakan kepada beberapa orang, kejujuran itu bukan penghinaan. Ia bahkan sebuah pengakuan yang seharusnya membangkitkan, menciptakan gairah baru yang pada akhirnya mengangkat martabat kita sebagai manusia berbudaya yang punya kelebihan di antara ciptaan-ciptaan Tuhan yang lainnya.

Kelebihan itu tak lain ialah anugerah akal budi dan kesadaran yang dengannya kita senantiasa terpanggil untuk berbenah diri menuju hari esok yang lebih cerah. Aku berbahagia jika kesadaran ini mulai perlahan lahir dalam diri kandidat pemimpin kecil ini, putri kebanggaanku. Bahkan lebih baik lagi jika kesadaran ini menjadi milik semua orang, generasi pembaharu, generasi pemberani, generasi sejati.

Maka katakanlah kepada saudara-saudarimu, "Sejak saat ini kita sudah punya pekerjaan rumah yang tidak mudah. Kebanggaan kita seakan perlahan mulai redup oleh beberapa pendahulu. Kesalahan, kekeliruan, dosa mereka adalah warisan yang terpahat di punggung jubah kita. Semua orang membacanya.

Adakah buta mata hatimu atau tulikah telinga nuranimu hingga tak mau peduli sama sekali? Kita turut bertanggung jawab atas redupnya reputasi tanah ini. Kita mesti kembalikan kebanggaan yang telah redup itu. Tunjukkan bahwa kita orang-orang berbudaya."

Namun jika ada yang mengelakmu, seperti segelintir orang di sini, "Ah, itu hanya kabar angin. Itu lelucon. Itu rekayasa semata yang hanya mau menjatuhkan reputasi tanah kita. Tak ada barisan koruptor di sini. Semua orang di sini bersahabat.

Lihatlah, rakyat kita perlahan makmur, bukan? Hak mereka tak pernah dirampas oleh siapapun." Katakan kepada mereka, "Jangan lupa bahwa pembelaan diri tak jauh dari kebohongan dan penilaian orang lain atas diri kita adalah sebuah anugerah.

Bahwa Yang Maha Tahu sedang bertindak atas diri kita, Ia sedang melaksanakan misi cintaNya, merangkul dan menyelamatkan kita. Namun jika ini terlampau jauh dari pandangan dan kalian menganggap pikiranku hanya melayang-layang, cukuplah ingat bahwa sejak kecil kita diingatkan bahwa pisau bisa melukai, api bisa membakar dan air bisa menghanyutkan. Bukankah sangat penting sebuah pendampingan dan tak jarang peringatan dalam proses pendewasaan? Kita pun sedang berada dalam proses agung itu."
Joanita terkasih....

Belajarlah yang serius tentang berbagai ilmu. Tapi tolonglah sedikit belajar juga tentang rahasia keagungan Yogyakarta. Apa yang mengangkat martabatnya? Lalu katakan kepada orang-orangmu di sini tentang rahasia itu. Bukan tidak mungkin, itu adalah salah satu jalan terbaik untuk mengembalikan kebanggaan dan martabat kita yang redup.

Aku menantangmu sebagai generasi pembaharu. Buktikan bahwa kalian adalah generasi baru. Cukuplah malapetaka yang menimpa tanah ini. Jangan lagi menambah barisan koruptor di tanah suci ini. Bukankah kita punya agama? Dan agama manakah yang mengajarkan spiritualitas korupsi? Bukankah kita punya budaya? Dan budaya manakah yang menganjurkan orang-orangnya memeras sesama dengan mengambil yang bukan menjadi haknya?

Adakah engkau seorang pemimpin masa depan? Pemimpin sejati? Ingatlah selalu bahwa pemimpin sesungguhnya pelayan. Pemimpin yang bukan pelayan tak lebih dari kepala perampok dan perompak yang hanya menyerukan pekik kekerasan dan pemerasan bukan untuk kepentingan banyak orang tetapi hanya untuk kepentingannya dan sebagian kecil untuk orang-orang yang mencium kakinya.

Keterlaluan!! Sungguh keterlaluan jika seorang pemimpin yang punya kekayaan intelektual harus disamakan dengan para penjahat yang hanya punya kekayaan nafsu dan keserakahan tanpa kemanusiaan.

Adakah engkau pemimpin masa depan? Pemimpin sejati? Cukupilah dirimu dengan apa yang menjadi hakmu dan berikan kepada masyarakat apa yang menjadi hak mereka. Bukanlah semuanya sudah diatur secara mulia dalam sebuah undang-undang? Lalu kenapa kemuliaan undang-undang itu harus kau nodai dengan kerakusan?
Joanita terkasih....

Adakah kata-kataku ini terlampau keras dan tak bersahabat? Atau sudah berada di luar jalur kebenaran? Jika engkau merasa demikian, kuburlah gairahmu untuk menjadi seorang pemimpin masa depan. Sebab kau hanya akan menambah barisan koruptor di tanah tercinta ini.

Sekarang bangunlah dari dudukmu. Sudahi pembacaan surat usang ini. Tapi bukan dengan ketakutan atau malah kebencian terhadapku. Jika kau membacanya pada malam hari, pandanglah ke luar. Ada bintang-bintang cantik mengundangmu tersenyum bersama bulan. Itulah rahasia kebangkitan; selalu punya harapan dalam kemalangan sekalipun.

Jika kau membacanya di pagi hari, pandanglah matahari pagi yang terbit itu. Bukankah begitu agung? Ia mengundangmu untuk turut menerangi dunia dengan cahaya kebijaksanaan. Jika kau membacanya pada siang hari, ingatlah bahwa sengatan mentari mengajakmu untuk menghangatkan dan membakar dunia dengan spiritualitas cinta. Dan jika kau membacanya pada sore hari, jangan biarkan kesadaranmu turut terbenam dalam kegelapan.
Joanita terkasih....

Sampaikan salamku untuk sanak kerabatmu di kota agung itu. Sesungguhnya tidak sedikit pemimpin kita yang pernah belajar di kota itu. Tapi sayang, barangkali mereka baru hanya belajar tentang ilmu dan bukan rahasia keagungan kota itu. Kini, tugas kalian untuk meraihnya.

Kupang, Medio Maret 2009

for M.J.R.S


Pos Kupang Minggu 26 April 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda