Hutan Keluarga, Pilihan Perbaikan Hutan NTT


HUTAN MUTIS--Kawasan Hutan Mutis yang juga dijadikan lahan ternak. Ini berpotensi merusakkan hutan

KAWASAN hutan di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari tahun ke tahun terus berkurang. Luas hutan di NTT saat ini sekitar 600 ribu hektar. Tingkat rata-rata kerusakan hutan (deforestasi) NTT adalah 15 ribu hektar per tahun. Sedangkan kemampuan pemerintah merehabilitasi hutan hanya sekitar tiga ribu hektar pertahun. Sisanya menjadi tanggung jawab masyarakat dengan asumsi semua pohon yang ditanam tumbuh menjadi besar.

Dengan pertambahan lahan yang rusak di NTT sekitar 12 ribu hektar pertahun. "Itu pun kalau pohon yang ditanam dalam program perbaikan lahan itu berjalan baik, kalau pohon-pohon yang ditanam itu mati, terbakar atau dimakan ternak berarti semakin luas kerusakan hutan," kata Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) NTT, Dr. Mikael Riwu Kaho, di Kupang belum lama ini.


Menurut Riwu Kaho, berdasarkan Citra Landsat Propinsi NTT, tahun 2003 komposisi kualitas lahan di NTT adalah 98.127 ha (20,85 persen) sangat kritis, 2.255.462 ha (47,63) kritis, 1.184.665 ha (25,02 persen) agak kritis, 288.064 (5,96 persen) potensial kritis dan 23.994 ha (0,51 persen) tidak kritis.

Bila tidak ada antisipasi, maka lahan kritis di NTT akan menjadi lahan lebih kritis, lahan yang agak kritis menjadi kritis dan lahan yang potensial kritis menjadi agak kritis, bahkan lahan yang tidak kritis masuk dalam lahan yang berpotensi kritis.

Perilaku Tak Bersahabat
Hasil pengkajian Studio Driya Media (SDM) Kupang yang dituangkan dalam buku Hutan Keluarga, Menuai Kehidupan di Padang Gersang menyebutkan eksploitasi lahan hutan dan sumberdaya melalui praktik-praktik pembukaan hutan menjadi lahan pertanian, penggembalaan liar, pembakaran padang dan penebangan pohon menjadi sebab utama kerusakan ekosistem hutan. Perilaku seperti ini terus mengancam kemampuan reproduksi alamiah sumber daya hutan NTT.

Dalam buku yang ditulis, Aloysius Tao dengan tim pengkaji Aloysius Tao, Berno Watan, Yohanis Finit dan Nikson Kalikit Pari ini, dampak dari perilaku itu harus ditanggung oleh masyarakat NTT dari waktu ke waktu. Lahan yang telah terbuka (dibantu pembakaran secara periodik) menjadi mudah perpindahan humus dan agregat menuju hilir mengikuti aliran sungai.

Proses pengikisan tanah ini terjadi dari tahun ke tahun seiring dengan datangnya hujan. Dengan demikian, secara paralel pula laju pertambahan areal tanah tandus dan berbatu menjadi meningkat. Dan, proses tersebut telah menjadi siklus yang tak berujung.

Produktivitas Lahan Rendah
Sebagian besar masyarakat NTT menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Dengan demikian, tanah menjadi aset utama dalam sektor ini. Bahkan, tanah menjadi simbol status dan prestise sosial dan selalu memotivasi pertaruhan hidup untuk mempertahankan tanah.

Aset yang sangat berharga ini justru tidak diimbangi dengan perlakuan yang baik terutama dalam merawat dan memanfaatkannya secara alamiah. Indikasi nyata antara lain praktek pengolahan lahan yang dilakukan oleh hampir sebagian besar petani di wilayah NTT. Perladangan berpindah dan tebas bakar menjadi bagian dalam keseharian petani di NTT. Pola ini diyakni lebih efisien dan mudah dikerjakan oleh petani.

Kemampuan sumberdaya lahan yang semakin lemah dalam memberikan nilai-nilai ekonomi, khususnya bagi petani, menjadi salah satu persoalan yang mulai dirasakan kini. Persoalan nyata adalah semakin menurunnya produktivitas lahan dan tanaman, terutama untuk semua jenis tanaman pangan yang dibudidayakan petani.

Kekeringan dan Kesulitan
Degradasi hutan tidak hanya berpengaruh terhadap menurunnya kemampuan sumberdaya tanah bagi kehidupan ekonomi. Aloysius Tao menjelaskan, kondisi hutan berkurang secara signifikan memberi dampak serius terhadap kondisi iklim makro maupun mikro. Hal yang paling dirasakan adalah perubahan iklim secara makro yang bisa diamati dari semakin tidak menentunya cuaca dan curah hujan dari tahun ke tahun.

Dampak kerusakan lingkungan bisa dirasakan pada waktu belakangan ini. Misalnya interval waktu musim hujan semakin pendek dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Akibatnya, terjadi penurunan debit air pada sumber-sumber air dan mengeringnya sungai-sungai yang dulunya mengalir sepanjang tahun. Selain air tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pertanian, persoalan serius yang juga sering dialami masyarakat NTT adalah semakin sulitnya mereka memperoleh air bersih untuk kebutuhan-kebutuhan domestik rumah tangga (mandi, minum dan cuci), terutama sepanjang musim kemarau.

Hutan Keluarga
Kawasan hutan yang makin kecil serta dampaknya pada pertanian dan kebutuhan air bersih merupakan ancaman bagi generasi mendatang. Rekayasa hutan merupakan pilihan yang bisa dan sudah dikembangkan di beberapa daerah di NTT.

Aloysius Tao mengungkapkan, pendekatan dan teknologi hutan keluarga merupakan upaya khas memperbaiki lingkungan melalui rekayasa ekosistem hutan ke dalam lahan-lahan pertanian.

Hutan keluarga merupakan upaya kreasi budidaya tanaman pilihan petani dalam rangka diversifikasi (penganekaragaman) pendapatan ekonomi dan pelestarian sumberdaya hutan, tanah dan air.

Menurutnya, hutan keluarga bukan sesuatu yang baru dikerjakan saat ini. Model hutan ini justru ditiru dan dimodifikasi dari praktek-praktek kearifan pemulihan dan rekayasa ekosistem hutan di zona budidaya pertanian yang sudah dibangun dan dikelola oleh kelompok masyarakat tradisional di masa lalu, namun diabasikan generasi kini. Hutan keluarga mencirikan perpaduan konvensional dari unsur-unsur yang utuh dan memberikan keuntungan sosial ekonomi dan ekologis.

Proses pengembangan hutan keluarga berawal dari pembukaan ladang, kemudian ditanami tanaman pangan musiman dan pepohonan pilihan secara bersamaan pada lokasi yang sama dengan pola tanam yang direncanakan secara teratur.

Selanjutnya, terjadi evolusi penampakan fisik dan dinamika di dalamnya hingga mereplikasi sistem dan struktur hutan alam sekunder dengan suatu ciri yang sama, yaitu tidak diproduksinya bahan makanan pokok seperti padi, jagung, kacang-kacangan secara tetap. Sadar atau tidak, inisiatif ini mampu mengurangi ketergangan pemenuhan kebutuhan hasil hutan kayu maupun non kayu dari hutan-hutan alam sekitarnya.

Hasil kajian tim SDM Nusra menyebutkan, pendekatan hutan keluarga dilakukan melalui individu-individu yang memiliki kemauan yang tinggi. Kenyataannya, pendekatan ini dinilai cukup berhasil, baik dari aspek peningkatan kuantitas program individual maupun dalam aspek perluasan dan penyebaran teknologi ke individu yang lain.

Di Katikuwai-Sumba Timur, sistem hutan keluarga dikembangkan lebih menyerupai agroforestry kompleks yang memadukan sejumlah besar pepohonan, perdu dan tanaman musiman. Beragam macam tanaman pepohonan ditanam secara acak pada areal yang sama pula, yang kemudian membentuk asosiasi tanaman dengan stuktur berlapis. Banyaknya unsur pembentukan memberi kesan semrawut dan tidak bersih.

Namun sesungguhnya mengandung kekayaan komposisi jenis dengan arsitektur vegetasi yang kompleks.
Komunitas pepohonan dengan berbagai ukuran, baik yang dominan maupun yang subdominan, terlihat tumbuh alami. Formasi asosiasi pepohonan dengan konfigurasi yang lebih kompleks ini menekankan pada perlindungan sumberdaya tanah, air dan pemenuhan kebutuhan ekonomi jangka pendek maupun jangka panjang.

Pengembangan tanaman pangan musiman seperti padi, jagung, ubi-ubian dan kacang-kacangan hanya dilakukan selama satu atau dua tahun di awal pengolahan. Dengan demikian, sistim ini lebih mirip tumpangsari. Tanaman pangan tidak lagi ditanam setelah tanaman pohon menjadi dewasa.

Pada hutan keluarga di Rendubutowe dan Raja di DAS Aesesa- Flores, sistim hutan keluarga dicirikan oleh jenis vegetasi yang dominan berupa mahoni dan gamelina. Sistim yang dikembangkan lebih mencirikan model yang cenderung monokultur dan berorientasi sebagai vegetasi primer, seperti mahoni dan gamelina. Model ini dicirikan oleh pola tanam kebun (zonasi) dan pola pagar berbaris dengan jarak tanam yang cukup teratur.

Jenis vegetasi sekunder lain yang juga dibudidayakan adalah jambu mete, jati merah, ampupu, jeruk dan mangga yang ditanam secara acak dalam zona terpisah dari vegetasi primer. Ada pula yang dicampur, namun hanya sebagai tanaman sub dominan yang memanfaatkan ruang terbuka.
Selain di Rendubutowe dan Raja, beberapa hutan keluarga di Wolowea dan Gerodhere, para petani pada umumnya memilih tanaman mahoni dan gamelina sebagai tanaman pokok penghasil kayu untuk keperluan bangunan. Alasan utama adalah baik mahoni maupun gamelina merupakan jenis tanaman yang tahan panas, mudah tumbuh, cepat pertumbuhannya sehingga cocok dikembangkan di daerah itu. Khusus untuk mahoni, jenis pohon ini kurang menggugurkan daunnya pada musim kemarau.

Di samping memberi manfaat ekonomis dan pelestarian lingkungan, konsep hutan keluarga juga memberi perlindungan hak-hak kepemilikan atas tanah dan manfaat pembelajaran bagi petani lain maupun pihak lain yang berkunjung ke lokasi tersebut.

Dengan kata lain, konep hutan keluarga merupakan pilihan pas bagi penyelamatan hutan di NTT. Sebab, masyarakat yang sebelumnya dianggap sebagai perusak hutan kini bisa berubah menjadi mencipta hutan. Bila semua petani di lahan kering memiliki konsep tentang hutan keluarga, bukan mustahil semua lahan kering di NTT berubah menjadi hutan. Bila demikian, air bukan menjadi masalah di bumi Flobamora. (alf@poskupang.co.id)

Pos Kupang Minggu 29 Maret 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda