Ibuku Adalah Seorang TKW?

Cerpen Christo Ngasi

HATIKU iba melihat dua orang bocah dengan seragam sekolah sedang memikul karung yang berisi plastik sisa minuman. Tampak juga seorang yang lebih usia dari mereka sedang menarik sebuah seng bekas yang terhimpit pada pagar rumah.

Aku menatap mereka dan mencoba untuk mendekati, namun mereka lari dan seorang meninggalkan karungnya. Aku tak ingin katakan bahwa mereka adalah pemulung atau anak jalanan, tapi aku ingin bersuara untuk mereka sebagai seorang anak bangsa yang kurang mendapat perhatian dari yang berkuasa.

Termenung aku memikirkan nasib anak-anak itu, tapi aku tak bisa berbuat banyak untuk mengubah kehidupan mereka untuk lebih layak dari apa yang aku lihat. Satu kerinduanku untuk kembali bertemu dengan mereka tapi tak tahu harus kemana kutelusuri luasnya kota propinsi ini.

Tak aku banyangkan bahwa mereka harus berada di sekitar kediamanku, apakah ini karena ketertutupan sehingga aku tak tahu bahwa mereka adalah tetanggaku, ataukah karena kehidupanku yang tak dapat melihat orang seperti mereka yang kecil, miskin dan terlantar.

Di atas bukit yang hijau dari kejauhan tampaklah nuansa kehidupan para kaum terpanggil yang sedang bergelut dengan kerohanian. Dua bocah yang pernah aku jumpai, kini tampak di hadapanku sedang memungut sisa plastik minuman. Kali ini aku mencoba membantu dan mendekati mereka. Cukup bersahabat dengan keadaan sehingga aku dapat berbicara dengan mereka.

Kepolosan seorang anak dengan ingus yang menghiasi pipinya menandakan kejujuran bahwa mereka sedang diserang sakit, namun keadaan memaksa untuk tidak memanjakan diri layaknya seorang anak pejabat. Mereka diam ketika aku bertanya nama dan tempat tinggal mereka. Aku serasa berbicara dengan anak bisu. Permen adalah penawar untuk mereka dapat bersuara.

"Nama kamu siapa?" aku bertanya dengan memposisikan diriku layaknya anak seusia mereka.
"Yanto, adikku Lili!" aku kembali bertanya.
"Kalian tinggal di mana dan siapa nama orangtua kalian?"
Mereka malu, tapi Lili dengan semangat menjawab. Namun bukan dengan suara tapi dengan jarinya menunjuk ke arah utara seakan mengatakan bahwa rumahnya tidak jauh dari sini.

Aku tersenyum dan menangkap maksudnya. Lili kecil kemudian dengan kaget mengatakan bahwa ayahnya sudah meninggal sehingga ibunya pergi ke Malaysia. Tiba-tiba Yanto sang kakak menutup mulut adiknya. Yanto sedikit dewasa dari adiknya dan sudah cukup mengerti akan keadaan keluarga mereka jadi rasa malu yang membuatnya untuk diam tapi sebuah realitas akan menampakkan keadaan yang sebenarnya.

Lili seakan menjadi narasumber dalam pembicaraan kami. Aku mengambil roti untuk mengelabui mereka guna dapat bercerita lanjut tentang keluarga mereka. Namun aku harus butuh waktu untuk menaklukkan Yanto supaya dapat bercerita, gelisah dan mau kembali untuk mencari hasil rezeki itulah yang tergambat dalam suasana Yanto namun Lili tampak tenang dan tersenyum menyantap roti yang aku berikan. Tangan Yanto sedang memutar puntung rokok dan ingin mengisap namun ia malu karena aku terus memandanginya.

Satu kesalahan padaku ketika itu terpancing untuk memberikan rokok guna mendapat cerita tentang keluargannya. Aku sadar akan kesalahan ini, namun bukan untuk mencampuri urusan keluarganya tapi ini adalah keadaan yang sejujurnya tentang keadaan anak bangsa yang lagi murung.

Suasana sore seakan mendukung untuk mengungkapkan kembali akan kenangan indah ketika mereka masih bersatu sebagai sebuah keluarga utuh dan harmonis kenang Yanto ketika mengisahkan kepadaku.

***
Ayah adalah tulang punggung untuk keluarga itu adalah pepatah lama tapi dunia seakan mengubah kehidupan Yanto dan Lili bahwa tulang punggung keluarga adalah nenek dan kakeknya. Ayah yang diharapkan kini telah tiada, tapi tak ada bukti yang bisa ditinggalkan sebagai seorang ayah layaknya ayah-ayah lain.

Ayahku seorang pemabuk lagi pencuri dan ibuku adalah seorang tukang cuci pakaian. Saat aku berada di bangku kelas empat SD, ayah meninggal karena kecelakaan lalu lintas, kenang Yanto sambil menarik rokok. Sejak ayah meninggal, ibu sendiri dengan aku dan nenek. Namun selang beberapa bulan Ibuku kembali menikah dengan seorang sopir tempat di mana ibuku bekerja sebagai tukang cuci. Pernikahan ibu membuat keluarga kami waktu itu diusir oleh tetangga dan harus mengungsi di rumah sekarang ini.

Aku kemudian bertanya tentang Lili. Yanto mengatakan bahwa Lili adalah anak dari tante yang dipelihara oleh neneknya. Sekarang dalam satu gubuk tinggal aku, Lili dan nenekku, sedangkan kakekku tidak tahu ke mana. Kalau ibuku sudah cerai dengan om sopir itu. Seketika mukanya turun dan menunduk. Yanto malu untuk mengatakan tentang keadaan sebenarnya.

Aku berikan kekuatan dan ia pun melanjutkan dan mengatakan bahwa ibunya kedapatan sedang berselingkuh dengan majikan dari om sopir. Hal inilah yang membuat ibu diceraikan. Saat itu aku sudah cukup mengerti. Perbuatan ibu sangatlah tidak terpuji dan aku lari dari rumah. Namun aku kembali karena tidak bisa hidup sendiri di kota ini. Tapi hingga sekarang aku sangat membenci ibu walaupun ia sudah berada di Malaysia.

Aku bertanya kepada Yanto, kenapa sampai kamu membenci ibumu, padahal ia yang melahirkanmu. Kali ini Yanto seakan mendapat kekuatan untuk melepaskan semua rasa sakit hatinya. Dengan bibir gemetar, anak manusia mengatakan akan realitas hidupnya di kota ini. Ibuku bukan saja sebagai seorang tukang cuci tapi juga sebagai seorang....!

Yanto terdiam seketika. Ibuku untuk kedua kali kedapatan berselingkuh dengan suami orang dan dimuat dalam surat kabar sehingga semua orang tahu. Aku malu kak, memiliki seorang ibu sepertinya. Keluarga kami menjadi buah bibir di tengah masyarakat. Perbuatan ibuku membuat aku harus berhenti di bangku kelas VI SD tanpa mendapatkan ijasah.

Aku rindu seperti kawan lain yang bersekolah, tapi kerinduanku terjawab dengan keadaaku seperti saat ini. Aku tak tahu ibu sebenarnya berada di mana. Kata nenek dan tetanggaku bahwa ibuku sudah pergi bekerja di Malaysia. Namun menurut paman, ibuku pergi ke Arab menjadi seorang TKW bersama dengan beberapa orang perempuan lainnya. Paman menambahkan bahwa ia bertemu ibu terakhir kali ketika berada di pelabuhan.

Aku tak tahu yayasan mana yang membawa ibu. Sejengkel-jengkelnya aku pada ibu, aku juga kasihan kalau mendengar di TV ada TKW yang dijadikan pelacur di negara lain. Aku selalu memikirkan ibu. Aku takut kalau ibuku menjadi seorang....!

Yanto tak dapat melanjutkan. Ia terdiam dan aku menatap air matanya membasahi pipinya. Badannya gemetar dan terisak-isak. Yanto sungguh sedih. Aku memegang punggungnya memberikan kekuatan kepadanya.

***

Rasanya waktu mengatur semuanya untuk aku dapat bertemu dengan mereka ini. Aku mendapat satu kisah dari kepolosan anak-anak bangsa yang murung kan masa depan. Memiliki tujuan dan motivasi kedepan namun seakan dihambat oleh keadaan keluarga yang menghancurkan masa depan mereka.


Yanto kembali mengusap air matanya, membereskan karung tempat menampung sisa plastiknya dan hendak pergi dariku. Aku seketika menahan tangannya memandanginya dan menyodorkan selembar uang kepadanya jumlahnya kecil tapi begitu besar bagi mereka yang hanya mendapat seberapa dari hasil pencarian.

"Yanto maaf kalau aku menanyakan keadaan keluargamu. Aku harap kamu tidak marah kepadaku."
"Tidak apa kakak. Saya hanya mau berterima kasih karena kakak mau mendengarkan keadaan keluarga saya. Saya senang karena kakak juga memberikan saya kekuatan." Omongan kejujuran dari Yanto.

"Sekarang kalian berdua mau kemana lagi???" tanya perpisahan dariku.
"Pulang rumah Ka...." Lili kecil dan jujur itu berucap sambil tersenyum dengan gigi depan ompong.
Aku seketika tersenyum dan mereka berlalu dariku. Pergi dengan keadaan yang sampai mana akan mengubah mereka? Itu adalah tanda tanya bagiku dan bagi kamu yang memasukkan posisimu sebagai sang penguasa.

Cobalah lihat orang seperti mereka yang lagi murung menjadi seorang anak bangsa. Ini bukan saja aku yang mendengar tentang mereka tapi bukalah matamu untuk melihat seperti mereka yang berada di trotoar dan lorong-lorong pertokoan yang megah di kota ini. Lihatlah mereka sebagai anak bangsa yang sedang menanti sesuatu untuk masa depan.

Sanggar Sastra Homerus St. Mikhael Penfui-Kupang
Akhir Agustus 2008


Pos Kupang Minggu 29 Maret 2009, halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda