Ikan Mati dan Pencemaran Lingkungan

FOTO IST
IKAN MATI--Dua boca di Pantai Lewoleba ini sedang melihat dari dekat ikan-ikan yang mati di sepanjang pantai Lewoleba pada pertengahan Maret lalu

DUA bocah laki-laki yang sedang berjalan di pantai Lewoleba-Kabupaten Lembata tidak bisa menahan bau busuk yang menyengat di sepanjang pantai itu pada pertengahan bulan Maret lalu. Keduanya terpaksa menutup mulut dan hidung dengan tangan mereka. Dan, mata mereka sesekali melihat ikan-ikan yang mati di sepanjang pantai itu.

Meski mengetahui sumber bau itu dari ikan-ikan yang mati, keduanya tetap mendekati sumber bau itu untuk melihat dari dekat bangkai yang sudah membusuk tersebut.
Sumber bau itu berasal dari ribuan ikan yang secara tiba-tiba mati dan terdampar di sepanjang tepi pantai Teluk Lewoleba-Kabupaten Lembata. Berbagai ikan mati tersebut, terdampar di sepanjang pantai Lewoleba mulai jenis tembang hingga beberapa jenis ikan kecil lainnya.


Salah seorang warga di Lembata, Vincent Making, kepada Pos Kupang menjelaskan selama seminggu dirinya berada di Lewoleba pada bulan Maret lalu. Ia menyaksikan ribuan ikan mati baik yang sudah terdampar maupun masih terapung di sepanjang perairan dan pantai Lewoleba.

"Selama seminggu ini, ada banyak sekali fenomena alam yang membuatku sedkit kaget. Salah satunya adalah banyaknya ikan yang mati. Ikan-ikan ini terbawa arus dan terdampar di sepanjang pantai tempatku bermain pada masa kecil. Aromanya sangat tajam, mengocok isi perut dan menyebabkan pening yang teramat sangat," jelas Vincent Making dalam emailnya kepada Pos Kupang.

Hamparan pasir putih yang dahulunya indah kini sudah penuh dengan tumpukan ikan-ikan busuk. Jenis ikan ini beragam, namun yang lebih banyak adalah ikan tembang minyak. Hampir di sepanjang pantai tersebut terdapat bangkai ikan, bahkan bukan di tempat itu saja. Ikan-ikan mati juga terapung-apung hingga satu kilometer ke tengah laut.

Menurutnya, pemandangan ini merupakan peristiwa yang kedua. Tahun lalu juga terjadi pada bulan-bulan yang sama. "Dari dulu sebenarnya hal seperti ini tidak pernah terjadi. Ini baru terjadi tahun lalu. Tepatnya pada bulan Desember (2007) hingga akhir Maret. Dan, tahun ini terulang seperti tahun lalu," jelasnya. Informasi ini diketahui dari orangtuanya.

Ikan-ikan yang mati tersebut menyebabkan aroma yang menyengat di sepanjang pantai tersebut. Menurut penjelasan Kepala Dusun IV Desa Laranwutun yang dikutip Vincent, aroma tersebut baru hilang dalam waktu dua hingga tiga minggu atau setelah bangkai ikan benar-benar hilang dari pantai tersebut.

Dia menduga, bangkai-bangkai ikan tersebut bukan mati secara alamiah, tetapi dibuang oleh beberapa kapal penangkap ikan berukuran besar. Kemungkinan ikan- ikan tersebut merupakan beban lebih atau muatan lebih di kapal ikan atau tangkapan lebih sehingga harus buang.

Ternyata bukan hanya ikan tembang saja yang menjadi sasaran. Pada musim ikan tongkol, ikan ini juga diperlakukan sama seperti ikan tembang.

Mahasiswa semester akhir Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang ini mengungkapkan, mestinya pemerintah menjalankan fungsi pengawsan terhadap kelestarian dan kebersihan pantai sehingga tidak ada ikan- ikan yang dibuang seenaknya saja. Selain itu, pengawasan perlu dilakukan untuk membatasi penangkapan ikan sehingga tidak terjadi penangkapan yang berlebihan dan harus dibuang ke laut. (alf)


Tahun 2100, Bumi Akan Panas Sekali

ANCAMAN pemanasan global masih dapat dihilangkan dalam jumlah sangat besar jika semua negara memangkas buangan gas rumah kaca, yang memerangkap panas, sampai 70 persen pada abad ini, demikian hasil satu analisis baru.

Meskipun temperatur global akan naik, sebagian aspek perubahan iklim yang paling berpotensi menimbulkan bahaya terhadap, termasuk kehilangan besar es laut Kutub Utara dan tanah beku serta kenaikan mencolok permukaan air laut, dapat dihindari.
Studi tersebut, yang dipimpin oleh beberapa ilmuwan dari National Center for Atmospheric Research (NCAR), direncanakan disiarkan pekan depan di dalam Geophysical Research Letters. Penelitian itu didanai oleh Department of Energy dan National Science Foundation, penaja NCAR.

"Penelitian ini menunjukkan kita tidak lagi dapat menghindari pemanasan mencolok selama abad ini," kata ilmuwan NCAR Warren Washington, pemimpin peneliti tersebut. Temperatur rata-rata global telah bertambah hangat mendekati 1 derajat celsius (hampir 1,8 derajat fahrenheit) sejak era pra-industri. Kebanyakan pemanasan disebabkan oleh buangan gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, terutama karbon dioksida.



Gas yang memerangkap panas itu telah naik dari tingkat era pra-industri sekitar 284 bagian per juta (ppm) di atmosfer jadi lebih dari 380 ppm hari ini. Sementara penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pemanasan tambahan sebesar 1 derajat celsius (1,8 derajat fahrenheit) mungkin menjadi permulaan bagi perubahan iklim yang berbahaya, Uni Eropa telah menyerukan pengurangan dramatis buangan gas karbon dioksida dan gas rumah kaca. Kongres AS juga sedang membahas masalah itu.

Guna mengkaji dampak pengurangan semacam itu terhadap iklim di dunia, Washington dan rekannya melakukan kajian superkomputer global dengan menggunakan Community Climate System Model, yang berpusat di NCAR.

Mereka berasumsi, tingkat karbon dioksida dapat dipertahankan pada angka 450 ppm pada penghujung abad ini. Jumlah tersebut berasal dari US Climate Change Science Program, yang telah menetapkan 450 ppm sebagai sasaran yang bisa dicapai jika dunia secara cepat menyesuaikan tindakan pelestarian dan teknologi hijau baru guna mengurangi buangan gas secara dramatis.

Sebaliknya, buangan gas sekarang berada di jalur menuju tingkat 750 ppm paling lambat pada 2100 jika tak dikendalikan. Hasil tim tersebut memperlihatkan kalau karbon dioksida ditahan pada tingkat 450 ppm, temperatur global akan naik sebesar 0,6 derajat celsius (sekitar 1 derajat fahrenheit) di atas catatan saat ini sampai akhir abad ini.

Sebaliknya, studi itu memperlihatkan, temperatur akan naik hampir sebesar empat kali jumlah tersebut, jadi 2,2 derajat celsius (4 derajat fahrenheit) di atas catatan saat ini, kalau buangan gas dibiarkan terus berlanjut di jalurnya saat ini. Menahan tingkat karbon dioksida pada angka 450 ppm akan memiliki dampak lain, demikian perkiraan studi contoh iklim itu.

Kenaikan permukaan air laut akibat peningkatan panas karena temperatur air menghangat akan menjadi 14 sentimeter (sekitar 5,5 inci) dan bukan 22 sentimeter (8,7 inci). Kenaikan mencolok permukaan air laut diperkirakan akan terjadi karena pencairan lapisan es dan gletser.

Volume es Kutub Utara pada musim panas menyusut sebanyak seperempat dan diperkirakan akan stabil paling lambat pada 2100. Suatu penelitian telah menyatakan, es musim panas akan hilang sama sekali pada abad ini jika buangan gas tetap pada tingkat saat ini.

Pemanasan Kutub Utara akan berkurang separuhnya sehingga membantu melestarikan populasi ikan dan burung laut serta hewan mamalia laut di wilayah seperti di bagian utara Laut Bering. Perubahan salju regional secara mencolok, termasuk penurunan salju di US Southwest dan peningkatan di US Norhteast serta Kanada, akan berkurang sampai separuh kalau buangan gas dapat dipertahankan pada tingkat 450 ppm.

Sistem cuaca itu akan stabil sampai sekitar 2100, dan bukan terus menghangat. Tim penelitian tersebut menggunakan simulasi superkomputer guna membandingkan skenario peristiwa biasa melalui pengurangan dramatis buangan karbon dioksida yang dimulai dalam waktu sekitar satu dasawarsa.

Penulis kajian tersebut menegaskan, mereka tidak mengkaji bagaimana pengurangan seperti itu dapat dicapai atau menyarankan kebijakan tertentu. "Tujuan kami ialah menyediakan bagi pembuat kebijakan penelitian yang sesuai sehingga mereka dapat membuat keputusan setelah mendapat keterangan," kata Washington.

"Studi ini menyediakan suatu harapan bahwa kita dapat menghindari dampak terburuk perubahan iklim, jika masyarakat dapat mengurangi buangan dalam jumlah besar selama beberapa dasawarsa mendatang dan melanjutkan pengurangan utama sepanjang abad ini." (ant/kompas.com)


Pos Kupang Minggu 19 April 2009, halaman 14

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda