Ketapel, Kado Buat Aku

Cerpen Walter Window

SUBUH sunyi, agung, dan membuat hati damai. Lagu- lagu gereja yang dinyanyikan umat saat misa pagi menambah suasana tersebut. Aneh! Di antara suara-suara itu masih dikatakan sunyi dan agung. Angin pagi juga memapah bunyian azan magrib yang kedengaran dari kejauhan lewat jelah-jelah dedaunan pohon.

Saat-saat seperti ini biasanya aku sadar dari tidur. Aku sadar karena bunyi-bunyian itu. Tapi mataku tetap tertutup rapat. Taka ada bunga tidur yang masih menghiasi tidur malam. Aku takut suasana di sekitarku yang masih gelap. Aku merasa sendirian di tengah bentangan jagat ini. Detak jantungku makin jelas rasanya. Padahal saat-saat seperti ini aku mampu merasa dan menangkap sesuatu yang membuat aku hidup. Detak jantung dan nafas yang selama ini tak pernah dirasakan.


Telinga pun tak pernah tidur. Kurasa ia sangat sensitif mengindrai situasi sekitar. Diriku seperti berada di setiap bunyi-bunyian. Melayang ke arah sumber bunyi dan merasakan kekuatannya. Kekuatan itu mengalir dalam diriku. Aku merasakan itu namun tidak pernah bisa menjelaskan bagaimana itu bisa terjadi. Kudengar suara Ine batuk. Sebentar lagi Ine dan Ame1 akan bangun dan mereka sama-sama mengikuti misa pagi di sebuah biara yang jaraknya tidak jauh dari rumah kami.

Ine dan Ame sangat menekankan misa pagi. Bukan hanya misa yang sangat diperhatikan tetapi juga kehidupan doa. Mereka katakan bahwa doa dan misa merupakan pusat hidup orang Kristiani. Tapi aku belum merasa itu penting. Seperti kebanyakan anak yang masih duduk di kelas dua SD, pusat hidupku adalah gelang karet . Batu -batu kecil di saku kiri dan kanan. Ketapel di tangan, menjadi kegiatan setiap hari sesudah pulang sekolah. Aku merasa sangat senang bila batu-batu kecil yang dilesatkan dari ketapel mengenai seekor burung.

Burung -burung malang yang menjadin korban dikumpulkan lalu aku amati pada bagian mana batu berhasil membuat merka tak berdaya. Kegiatan seperti itu aku ulangi besok pagi saat Ine masih belum pulang misa pagi. Aku merasa senang. Entah kenapa aku merasa demikan ketika melihat darah burung yang sudah membeku dan luka yang masih ada disana. Kekaguman itu mengalir tanpa aku sadari. Dan inilah yang kukatakan hidup masa kecilku karena aku dapat merasakan secara langsung.

Pernah satu kali saking senangnya karena mendapat banyak. Aku lupa berapa ekor pipit yang berhasil ditaklukan. Aku berlari mendapatkan Ine yang masih membersihkan alat makan di dapur dengan sejumlah pipit malang di tangan. Dengan bangga aku menyergap Ine dengan pelukan.

" Ine,......!", sambil mengangkat burung yang sudah mati tinggi-tinggi.
" Aduh Roy, ini kamu tangkap di mana?"
" Di belakang,_"
" Di belakang mana..?"

" Itu di belakang pohon Jambu air." Aku melihat perubahan raut wajah Ine ketika mengamati burung-burung malang yang sudah Ine ambil dari tanganku. Beberapa ekor tidak mempunyai kepala lagi. Darah segar mengalir dari leher yang tidak berbentuk. Banyak buluh yang terkulai jatuh dari sayap-sayap yang tidak pernah kokoh lagi seperti mereka mengepakkan sayap terbang melintasi angkasa. Aku melepaskan pelukan dan mundur bebera[a langkah dari hadapan Ine. Suasana jadi hening. Sunyi lagi sepi di antara kami.

Cuma detak jantungku yang berlari cepat takut dimarahi. Entah apa yang Ine pikirkan. Satu hal yang bisa aku rasakan dari raut wajah ini yaitu sedih. Dan bisa juga ngeri. Ine pasti kasihan melihat burung-burung itu mati secara mengenaskan. Mereka mati karena tingkah putranya. Aku melihat butir-butir kristal bening mengalir dari kedua bola matanya. Mata yang biasa memandang aku dengan cinta dan kebaikan, tetapi kini menumpahkan air mata kesedihan. Aku tidak kuat lagi melihat Ine menangis. Tanpa sadar aku kembali memeluk Ine.

" Ine maaf, Roy janji tidak lagi tembak burung-burung itu."
" Burung- burung ini sudah tidak ada lagi dan kamu tidak lagi menemukan mereka. Hanya hari ini yang bisa kamu lihat mereka terkulai. Besok mereka tidak ada lagi. Anjing-anjing akan datang ke sini karena darah burung-burung ini yang membuat mereka lapar."

" Roy juga janji tidak akan tembak burung yang lain.", Aku rasakan tangan Ine memeluk tubuhku yang kecil dan mengusap rambut sambil mendekap erat dalam pelukannya seolah ada sesuatu yang ditakuti.

" Roy Ine jadi takut melihat darah burung-burung ini, " Aku merasakan tubuh Ine menggigil setelah meyampaikan kalimat ini.
" Ine takut kamu tidak menghargai kehidupan." Aku tidak bisa menangkap apa arti dari kata-kata itu. Namun suatu hal yang menjadi janjiku adalah aku tidak lagi mengulangi hal yang sama. Dengan demikian ketapel ini akan aku singkirkan dan tidak lagi membuat Ine menangis.
***
Matahari menatapku senyum di balik awan yang kelihatan memerah. Senja merayap perlahan sambil mengantar matahari ke balik bukit. Saat ini situasi senyap di sekeliling perkuburan. Burung-burung pipit terbang kian kemari mencari tempat aman untuk persembunyian istirahat malam. Aku tersenyum melihat ulah mereka. Dengan ketapel di tangan aku mengamati bentuknya dengan teliti, mungkin masih ada darah yang masih membekas di gagangnya.

Aku masih menemuksn sisanya. Darah tergortes dengan warna yang hampir tak kelihatan lagi. Sudah belasan tahun aku menyimpannya di dalam lemari dan tidak pernah menggunakannya setelah kejadian itu. Dan aku tidak akan lagi menggunakannya. Kubiarkan ketapel ini menjadi kenangan dan saksi bisu suara Ine yang ketakutan membayangkaen nasib anaknya. Ine takut kalau aku menjadi manusia yang menakutkan. Manusia yang membenci kehidupan.

Emaku mati terbunuh ketika aku dan Ine pergi ke kampung mengunjungi Ebu2 yang sakit. Waktu itu Ine sempat mengurung niatnya untuk tidak menjenguk Ebu. Dua hari sebelumnya Ame sempat ribut-ribut dengan tetangga sebelah soal tanah perbeatasan pekarangan rumah. Namun Ame meyakinkankan Ine bahwa ia tidak apa-apa sendirian di rumah.

Baru dua hari di kampung ada panggilan dari pihak kepolisian yang mengatakan bahwa ada mayat yang diidentifikasi sebagai Ameku. Setelah sampi di rumah Ine begitu shock melihat tubuh Ame yang bersimbah darah. Kelihatan pembunuh menggorok leher Ame entah pake apa. Aku melihat semuanya. Waktu itu umurku baru sepuluh tahun. Darah mengalir dari leher Ame yang tergeletak di lantai rumah.

Badanku kesemutan, dingin mengalir sekujur tubuhku melihat keadaan itu. Ada sesuatu yang berkejamuk dalam diriku. Aku tidak mengerti apa itu.

Pihak kepolisian mengatakan bahwa ameku mati dibunuh, namun sampai sekarang mereka tidak mampu mengungkapkan motif kematian Ame apalagi menangkap pelaku. Kematian tinggalah sebuah misteri yang bisa dan terus melahirkan tanya yang tak berkesudahan. Cerita seputar Ame menjadi warisan sejarah dan tonggak yang tak pernah punah sampai kapanpun. Darah kebencian terus mengalir dalam tubuh keluarga kami tapi bukan aku.

Kini di hadapan pusara Ine dan ame aku menatap mereka dengan haru. Lidahku kelu memandang kubur yang bisu, tempat mereka berbaring selamanya. Sekarang aku sebatang kara, namun aku yakin mereka memandang aku dari dekat. Sehingga aku berani katakan ini kepada mereka dalam diam.

" Ine trimakasih atas darah kasih yang engkau tanamkan dalam diriku. Engkau tahu kalau ada dendam kesumat yang semakin menggunung dalam diri masa kecilku. Ketika ada perasaan suka terhadap darah segar yang mengalir dari burung-burung pipit malang. Naluri keibuanmu menangkap jelas lewat sorot mataku bahwa ada bahaya yang sedang mengintip di balik tingkahku.

Dan engkau berhasil menghilangkannya. Air matamu membahasakan bahwa hanya dengan bahasa cinta yang mampu menaburkan keharumkan dalam jagat ini. Itulah kekuatan yang engkau peroleh lewat doa dan misa setiap hari. Kekuatan itu masih ada dalam diriku walaupun engkau telah tiada.

Ame, darah dibayar dengan darah namun darahmu takkan pernah haus darah. Aku tak mampu melakukan itu. Ine telah menuntun aku untuk mencintai kehidupan. Dan aku yakin Ame pasti tidak menuntut itu. Aku bangga dengan Ame yang telah berdiri di atas tanah milik kita sampai darahmu menjadi saksi kebenaran. Aku mengingini kegigihanmu namun bukan korban.

Semoga teladan hidupmu melapangkan jalan menuju rumah Bapa. Doakan anakmu yang masih mengembara di dunia yang fana ini"

Ledalero, 0804

Pos Kupang Minggu, 5 April 2009,halaman 6

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda