Kursi

Parodi Situasi Oleh Maria Matildis Banda

BETAPA terkejutnya dia, setelah sadar suaranya tidak mencapai angka seratus lima puluh. Demikian pula teman lama, kakak, adik, ipar, teman seorganisasi, teman dalam kelompok doa dalam persaudaraan perempuan! Semuanya gagal total, suaranya merayap seputar seratus sampai dua ratus.

Dia menyesal bukan buatan. Kalau saja dia ikuti saran Benza, tentu hasilnya tidak seperti ini. Mereka semua terpencar ke puluhan partai. Semua egois, semua mau menang, semua merasa sudah cari suara dari pintu ke pintu, semua merasa yakin terpilih. Ternyata hasil akhirnya nol koma kosong. Gagal total dalam satu wilayah. Aduh, mukaku mau ditaruh di mana? Nona Mia terpekur tak berdaya.

Saran Benza supaya atur strategi pemerolehan suara diabaikan. Dari lima puluh orang calon perempuan dari satu wilayah, Benza hanya minta selamatkan lima kursi dengan cara, konsentrasikan pilihan kepada lima orang yang benar-benar kredibel, orang-orang yang sungguh memiliki integritas, pantas untuk mendapat kursi.

Sayangnya tidak ada seorang pun di antara mereka, terutama Nona Mia, yang lapang dada, lapang hati dan lapang pikiran untuk menerima saran penting itu. Macam-macam alasannya. Loyalitas partai, sudah buang banyak uang, sudah kepalang basah proklamirkan kemenangan, dan macam-macam alasan lain. Benza benar-benar kecewa dengan egoisme buta yang diperlihatkan Nona Mia.

"Kenapa kamu buta strategi Nona Mia? Cita-cita kalian untuk dapat tiga puluh persen suara dimana? Sayang sekali! Kamu pintar tetapi kalah!" Suara Benza terngiang-ngiang.

***
Lain halnya dengan Rara. Pasti dapat kursi dalam pemilu minggu lalu, membuat dia merasa terbang ke langit biru. Betapa tidak? Inilah satu-satunya jalan baginya untuk bilang ke teman-teman dan semua orang, "siapa berani lawan?" Ha ha ha kasian banget ya, dia keliru memberi makna pada kursi yang di dapat. Bayangkan! Dia berjalan keliling kampung sambil pikul kursi, sambil tebar senyum kambing.

"Tercapai cita-citamu, Ra!" Tanya Jaki kepadanya. Dia pun segera berhenti, meletakkan kursi di hadapan Jaki, dan dengan hati-hati duduk dengan beda gaya. Kepala di atas kursi, bokong di sandar kursi, dan kaki melayang-layang di udara.

"Aduh senangnyaaaa," Rara membuat gerakan mendayung sepeda. "Aku kejatuhan bintang, kawan! He he he cita-citaku tercapai sudah. Kalau ada pesta-pesta di kampung, aku dapat tempat duduk, lalu dimana-mana orang-orang akan menyapaku dengan selamat pagi pak, selamat sore pak, malam pak, mari, silahkan pak...He he he, aku akan punya kantor.

Biasanya tongkronganku di tikungan ronda, sambil banting kartu, rokok, dan moke, sekarang tongkronganku di gedung terhormat. Aduh maaaak betapa bahagianya aku..." Rara berbunga-bunga.
"Itu visimu, kawan?"

"Ya ialaaaaah," Rara pun terkekeh. öKamu jangan macam-macam sama saya, kawan! Pundi-pundiku bakal terisi kembali, aku jadi OKB alias orang kaya baru! Nah, siapa berani lawan!ö Rara tetap mendayung dan baru berhenti ketika Nona Mia dan Benza datang bersamaan.

"Halo Benza, kamu juga dapat kursi ya? Mana kursimu? Apa kamu tidak jalan keliling kampung untuk unjuk rasa sambil pikul kursi? Biar semua orang tahu, kawan! Aku sudah keliling, ini kursiku," Rara meoncat dari kursinya.

"Aku sudah pasti dapat kursi," jawab Benza dengan tenang. "Sebenarnya sejak beberapa bulan lalu aku sudah banyak belajar, banyak baca, banyak diskusi tentang tupoksi orang yang yang mendapat kursi. Dalam tiga bulan ke depan, sebelum dilantik, aku pun akan cari guru privat untuk peningkatan kapasitas, biar kelak ketika duduk di kursi aku tidak menjadi tong kosong nyaring bunyinya..." Jawab Benza dengan wajah serius.

"Ha ha ha e serius amat kamu, kawan!" Rara terpingkal-pingkal. "Kalau kamu bagaimana Nona Mia?"

"Aku gagal. Kualitas diriku tidak kalah dengan Benza. Jadi soal menjunjung tinggi kepercayaan rakyat akan kupegang teguh. Aku siap lahir batin, untuk menjadi pemilik kursi yang punya integritas. Sayangnya kali ini aku gagal karena kalah strategi," Nona Mia meyakinkan ketiga temannya.

"Ha ha ha Nona Mia, Nona Mia, betapa cantiknya engkau," Rara bersiul.
"Satu hal lagi," Nona Mia mengacungkan telunjuk. "Pengalaman pahit ini akan menjadi pelajaran berharga bagi kami. Kamu harus siap diganti, di PAW jika kerjamu nanti hanya lima De satu Ha alias datang, duduk, dengar, diam, duit, dan HP bermain sms sepanjang sidang!" Nona Mia anti senyum.

"Kegagalanku sekarang akan menjadi batu bertumpu untuk melontarkan aku ke planning lima tahun ke depan yang lebih strategis! Tahu kamu!" Kata-kata Nona Mia membuat Rara mundur beberapa langkah.

***
Tiba-tiba Rara menari-nari sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya. Astaga! Rara kehilangan kesadaran. Rara frustrasi. Rara sakit jiwa. Rara tidak siap mental untuk memberi makna pada kursinya.

Rara pun berjalan keliling sambil menyeret kursi. Rara berjalan keliling kampung sambil pikul kursi. Kalau lelah, dia berhenti sambil duduk dengan kepala di atas kursi, bokong di sandaran kursi, dan kaki melayang di udara sambil membuat gerakan dayung...(*)


Pos Kupang Minggu 19 April 2009, halaman 1

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda